Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Pendapat Imam Al Ghazali Tentang Pentingnya Mursyid

Bergabung dengan kalangan sufi adalah fardhu ‘ain. Sebab tidak seorangpun terbebas dari aib dan kesalahan kecuali para Nabi. (Imam Al-Ghazali)

 

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’I dikenal dengan nama Imam al Ghazali lahir tahun 450 H/1058 M di propinsi Khurasan Irak. Beliau mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah sehingga digelar sebagai hujjatul Islam. Diantara banyak karya tasawuf yang beliau karang yang sangat terkenal sampai sekarang adalah Ihya Ulumuddin (Kebangkitan ilmu-ilmu Agama).

Imam al Gahazali pada mulanya bukanlah pengamal tasawuf bahkan beliau tidak begitu mempercayai penomena-penomena kekeramatan yang di alami oleh orang-orang shaleh sampai Allah memberikan petunjuk kepada beliau sebagai mana yang beliau ceritakan berikut yang kami kutip dari buku Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf :

Pada awalnya aku adalah orang mengingkari kondisi spiritual orang-orang shaleh dan derajat-derajat yang dicapai oleh para ahli makrifat. Hal ini terus berlanjut sampai akhirnya aku bergaul dengan Mursyid-ku, Yusuf an Nasaj. Dia terus mendorongku untuk melakukan mujahadah, hingga akhirnya aku memperoleh karunia-karunia ilahiyah. Aku dapat melihat Allah dalam mimpi. Dia berkata kepadaku, “wahai Abu Hamid, tinggalkanlah segala kesibukanmu. Bergaullah dengan orang-orang yang telah Aku jadikan tempat untuk pandangan-Ku di bumi-Ku. Mereka adalah orang-orang yang menggadaikan dunia dan akhirat karena mencintai Aku.” Aku berkata, “Demi kemulyaan-Mu, aku tidak akan melakukannya kecuali Engkau membuatku dapat merasakan sejuknya berbaik sangka kepada mereka.” Allah berfirman, “Sungguh Aku telah melakukannya. Yang memutuskan hubungan antara engkau dan mereka adalah kesibukanmu mencintai dunia. Maka keluarlah dari kesibukanmu mencintai dunia dengan suka rela sebelum engkau keluar dari dunia dengan penuh kehinaan. Aku telah melimpahkan kepadamu cahaya-cahaya dari sisi-Ku Yang Maha Suci.” Aku bangun dengan penuh gembira. Lalu aku mendatangi Syekh-ku, Yusuf an Nasaj, dan menceritakan tentang mimpiku itu. Dia tersenyum sambil berkata, “Wahai Abu Hamid, itu hanyalah lembaran-lembaran yang pernah kami peroleh di fase awal perjalanan kami. Jika engkau tetap bergaul denganku, maka matahati mu akan semakin tajam.”

Pengalaman Imam Al Ghazali berjumpa dengan Allah dalam mimpi atas bimbingan Guru Mursyidnya menyebabkan beliau sangat yakin dengan ilmu tasawuf yang selama ini tidak menjadi perhatiannya. Pengalaman yang tidak pernah Beliau alami sebelumnya walaupun telah hapal Al Qur’an, ribuan hadist dan berbagai karya ulama-ulama besar. Dan dari keterangan Guru Mursyid beliau ternyata perjumpaa dengan Allah dalam mimpi yang dialami oleh Imam Al Ghazali itu hanyalah fase awal dari perjalanan rohani. Tentu saja pengalaman-pengalaman spiritual yang dialami oleh Imam al Ghazali bisa juga dialami oleh orang lain asal memenuhi rukun dan syaratnya.

Imam al Ghazali berpendapat bahwa sangat penting bagi seseorang yang menempuh perjalan rohani mempunyai seorang Guru Mursyid yang membimbing agar tidak tersesat sebagaimana yang beliau kemukakan :

“Di antara hal yang wajib bagi para salik yang menempuh jalan kebenaran adalah bahwa dia haru mempunyai seorang Mursyid dan pendidikan spiritual yang dapat memberinya petunjuk dalam perjalanannya, serta melenyapkan akhlak yang tercela. Yang dimaksud pendidikan di sini, hendaknya seorang pendidik spiritual menjadi seperti petani yang merawat tanamannya. Setiap kali melihat batu atau tumbuhan yang membahayakan tanamannya, maka dia langsung mencabut dan membuangnya. Dia juga selalu menyirami tanamannya agar dapat tumbuh dengan baik dan terawat, sehingga menjadi lebih baik dari tanaman lainnya. Apabila engkau telah mengetahui bahwa tanaman membutuhkan perawat, maka engkau akan mengetahui bahwa seorang salik harus mempunyai seorang mursyid. Sebab Allah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk membimbing mereka ke jalan lurus. Dan sebelum Rasulullah SAW`wafat, Beliau telah menetapkan para Khalifah sebagai wakil Beliau untuk menunjukkan manusia ke jalan Allah. Begitulah seterusnya, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, seorang salik mutlak membutuhkan seorang Mursyid.”

Menurut Imam al Gahazali, pada umumnya manusia tidak bisa melihat penyakit-penyakit jiwa mereka sendiri kecuali orang-orang yang telah terbuka hijabnya dan telah tercerahkan lewat bimbingan Mursyid. Seseorang hanya dapat melihat korotan saudaranya tapi dia tidak bisa melihat kotorannya sendiri. Seorang Mursyid atas karunia Allah mengetahui penyakit-penyakit hati manusia. Oleh karenanya kata Imam Al Ghazali apabila menusia ingin mengetahui penyakit-penyakit jiwanya hendaknya dia duduk dihadapan Mursyid yang mengetahui penyakit-penyakit jiwa  dan menyingkap aib-aib yang tersembunyi. Dia harus mengendalikan hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk Mursyidnya itu dalam melakukan mujahadah. Inilah sikap seorang murid terhadap mursyidnya atau sikap seorang pelajar terhadap gurunya. Dengan demikian, Mursyid atau gurunya akan dapat mengenalkannya tentang penyakit penyakit yang ada dalam jiwanya dan cara mengobatinya.

Zaman sekarang orang menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu-ilmu yang tidak berhubungan dengan dirinya sendiri dan melupakan tentang ilmu mengenal diri. Tasawuf adalah ilmu untuk penyucian hati dan ilmu untuk mengenal diri agar bisa mengenal Tuhan. Tasawuf bukan sekedar ilmu yang dibaca dan dihapal lalu dipraktekkan menurut selera masing-masing. Tasawuf pada intinya adalah ilmu kerohanian yang membutuhkan seorang Master yang ahli untuk membimbing manusia kepada Tuhan. Dialah Mursyid yang bukan hanya mengatakan bahwa Allah itu Esa dengan segala sifat-sifat-Nya tapi juga bisa mengantarkan muridnya langsung bertemu dengan Allah sebagaimana pengalaman Imam Al Ghazali diantarkan kehadirat Allah oleh Guru Mursyidnya.

Saya selalu bersyukur kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya yang tidak terhingga dengan diperkenalkan saya dengan salah seorang Auliya-Nya. Beliau lah yang membimbing saya kehadirat Allah SWT menemukan cahaya dalam kegelapan hati. Tanpa Mursyid, sungguh saya hanyalah seorang hamba baca yang merasa tahu tanpa bisa merasakan apa-apa.

Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim akan selalu mengekalkan kita dalam karunia-Nya bersama dengan kekasih-Nya di muka bumi, memberikan kesempatan untuk terus menyaksikan keindahan wajah-Nya, mengizinkan kita untuk terus mendengar firman-Nya yang Maha Menggetarkan. Semoga!

 

 

Single Post Navigation

207 thoughts on “Pendapat Imam Al Ghazali Tentang Pentingnya Mursyid

  1. sufi gila on said:

    salam cinta dan damai saudaraku

    @lambang @didiet513
    tuh kan emang bener kita ini bisanya cuma ngomong aja … cerita aja … masalah mau dipakai terserah yg mendengar … mulai dunia terkembang sampai detik ini nggak akan mungkin sedunia satu pemikiran … pasrah semua nggak mungkin … itulah salah satu fungsi tools Tuhan yaitu gesekan antar manusia …. agar setiap pribadi berkembang …. apa nggak bisa Tuhan bikin semua kayak Nabi dan Rasul yg nggak butuh apapun di dunia ini … bisa aja sih … tapi kenapa kok nggak ? hehehehehe itulah misteri …. cari tahu silahkan … kalau aku ya udah suka2 Dia ajalah …. 1.000 atau 1.000.000 orang dikumpulkan terus didoktrin dengan cara yg sama perlakuan yg sama pasti hasilnya beda … tul kan ? buktinya kita nggak ada yg sama hasil perjalanannya … itulah hebatnya Tuhan memikirkan naskah dari sekian banyak mahluk ….

    coba bayangkan bila kita lagi diam merenung …. pasti banyak khayalan yg kita ciptakan …. dan kita sedang berada dalam khayalan Tuhan yg lagi mencipta atau menghayal hehehehheeh … walah maaf kalau ngelantur hehehehehe … udahlah ini cuma ilusi kehidupan …. kenyataan itu ada dalam alam matimu …. masuklah dan ikuti alam itu maka pasti akan kita temukan alam Tuhan itu hehehehehe …. pusinggggg kalau dipikr pakai otak hehehehe … otak nggak akan sanggup berpikir serumit itu karena memang Tuhan menciptanya ada batasan … jangan pakai otak deh pakai qolbu aja … pasti kejawab …. dijamiiiiin 100 % … kalau gak percaya ya udah … percaya tanpa dijalani ya percuma hehehehe … mungkin semua ini adalah menjadi sebab atau stimulan bisa juga tidak terserah Tuahn aja deh … ngomong aja hehehehehe

    • Nur tauhid Manado on said:

      kamu gak sadar kalimat-kalimat kamu menggambarkan hijab (pembatas) yang ada pada diri kamu..maaf dengan kata lain keterbatasan kamu dalam mengolah pemikiran..dan menggambarkan tinggkat ketidak inginan seorang mahluk untuk mencari jalan menuju ALLOH, maaf atau dengan kata lain kemalasan kamu.

      Minallahi djilma’arijh.. (Q.s Al ma’arij), sesungguhnya ALLOH memiliki tangga-tangga naik… yang diterangkan lagi dalam AL Qur’anulkarim …..ILLA BISULTHONI.. (kecuali dengan kekuatan…) dimana-mana yang namanya tangga (mengacu pada ayat di atas) dinaiki..kemudian tanpa ada kekuatan..maka kamu tidak akan mampu naik tangga tersebut.
      ini adalah tamsil secara maknawiah yang insyaALLOH kamu bisa sampai kemampuan pola pikir kamu dengan faham ini..
      kemudian untuk Sampai kepada ALLOH sesuai dengan pola pikir anda yang maaf…saya katakan tumupul itu, kamu telah membatalkan beberapa ayat di AL-QURAN..
      di surat AL fatiha saja ada doa seorang hamba untuk ALLAH menunjukan kita ke jalan yang lurus…. secara kajian ilmu tafsir,, harus temui dulu puntu hidayah.. atau dengan bahasa lain asbab,sebab dan musabab..baru bisa masuk ke dalam pintu hidayah…karna ALLAH pernah berfirman di dalam hadist Qudsi ‘ barang siapa yang telah aku bukakan satu pintu hidayah kepadanya, maka AKU akan membukakan 1000 pintu hidayah kepadanya…
      setelah kita melali proses itu, baru kita akan berjumpa dengan yang namanya jalan yang lurus menurut Surat AL fateha tersebut…
      semua itu melalui proses..bung!!!! dan kamu tidak akan Tuhan beritahu secara langsung di mana alamat rumah teman baru kamu tanpa ALLAH beri perantara orang lain yang beri petunjuk

      mudah-mudahan pola pikir kamu bisa imbangi maksud saya…ASSALAMUALAIKUM WR>WBKT

  2. @sufi gila @Mas Didiet
    Yah, emang saya ini cuma bisa ngomong doang … ngoang… Dari ngomong-ngomong ini saya bisa memahami bagaimana pemahaman orang lain dan membandingkannya dengan pemahaman saya. Bahasa nggedebusnya Studi Komparasi.
    Kalau ada yang lebih bagus, saya ambil. Kalau ada yang kurang bagus, ya dipoles dikit biar agak bagus, terus dikantongi lagi. Kalau kantongnya penuh, ya cari kantong lain atau diseleksi biar masih ada tempat kosong lagi dalam kantong.
    Yang agak repot kalau kantongnya bolong, terpaksa mulai dari nol lagi dan penuhnya bakalan lama.
    Demikian seterusnya… kehidupan tetap berjalan seperti biasa…. ada yang bunuh-bunuhan di sana, ada yang berzina di sana, ada yang ngaji di sini….
    Teruuuus berputar…… bertawaf……

    Salam.

    • Nur tauhid Manado on said:

      banar…. tapi saya usulkan jika di terima… perbanyak DZIKIR YA ALIM.. berulang-ulang.. sebab Rasulullah adalah UMI atau buta huruf ..tetapi dengan FITRAH ALLAH, didukung dengan ketidak adanya hijab pemikiran dan duniawi pada diri Rasul, Beliau mampu berda’wah bahkan sampai ke negri China

  3. ajak-ajak on said:

    halo lambang.
    Sorry baru ngeh kalo diminta ngomentar.
    Kmaren ga sempet buka artikel ini jadi kelewat deh,, hehehehe,,,,

    Jangan sakit hati kalau tebakan lambang salah.
    Saya ga lagi garuk2 kok,, jg lagi gak gatel. huheuheuhuehueue…

    Dulu waktu SD saya diajarin guru agama tentang rukun iman. Yang kelima katanya beriman akan Qada dan Qadar Allah. Sampai lulus SD saya masih blom ngeh apa itu Qada, apa itu Qadar.

    Masuk SMP, saya baru saya denger ada temen bertanya bedanya. guru agama SMP jawab: Qada itu ga pake r kalo qadar pake. huehuehueueuueehehehehe……
    Nggak deng, itu mah saya yang barusan iseng.
    Kata guru SMP kalo Qada itu berhubungan dengan kehidupan makhluk sedang qadar terkait dengan keserasian makhluk (yang hidup dengan yang mati)

    Beranjak SMA ada teman lain yang bertanya pas pelajaran Fisika (loh,, kok bisa ya? hehehe guru Fisika SMA ku kebetulan seorang ustadz). Dijawab agak menjelaskan si guru SMP tadi. Qada terkait dengan dinamika yang masih bisa berubah, sedangkan qadar cenderung ke dimensi statis yang sudah permanent.

    Kebetulan setelah lulus SMA saya agak sering melanglang ke beberapa tempat pengajian agama dan menerima masukan lagi ttg 2 hal tadi. Ada hal2 yang ditetapkan Allah yang mungkin bisa berubah baik qualitas maupun quantitas tergantung dari aksi makhlukNYA. Dan ada hal2 yang tidak bisa berubah2 lagi dan terimalah dengan bersyukur padaNYA.

    Setelah sekian lama saya masih juga tidak menanyakan perbedaan Qada dan Qadar (selalu ‘keduluan’ orang lain sih hihihi….) tapi ternyata sudah terlalu banyak ilmu tentang qada dan qadar yang saya terima. Cuma terlalu telat nyadarnya karena kebodohan saya bermain otak,,,,

    Yang saya tahu:
    – Dia Paling Sabar Menunggu
    – Dia gak pernah ingkar janji
    – Dia Maha Detail
    – Dia Maha Pencemburu
    – Dia Maha Suka-suka
    – Dia Maha Romantis
    – Dia Maha Sutradara
    – Dia Maha Dibutuhkan
    – dan semuanya

    Untuk memahami Qada dan Qadar Allah ternyata cukup Liat aja caraNya tertawa, gayaNya waktu bercanda, santunNya saat berbicara, tatapanNya kala Marah, kelembutanNya jika merayu, gagahNya ketika berjalan, SempurnaNya Dia setiap kita menghadap.

    So,, kembali ke topik artikel,, bagaimana pentingnya mursyid,, kalau sudah ketemu, segala qada dan qadar dah gak perlu terlalu dipikir. Sebab semua memang sudah mauNYA, tinggal bagaimana kita melayani mauNYA Allah SWT.

    Wah,, jadi gatel neh,, 😀

  4. Nah kan, udah mulai gatel……
    Sekarang kita garuk lagi, biar makin gatel……….

    Quote: “Sebab semua memang sudah mauNYA, tinggal bagaimana kita melayani mauNYA Allah SWT”

    Apakah maksudnya kita cukup menjadi manusia yang pasif saja terhadap kehidupan dunia? Dunia yang saya maksud di sini bukan memburu duniawi tapi kehidupan dunia yang sudah sangat morat marit ini. Tentu kita ingin agar dunia menjadi tenteram dan damai.

    Contoh sederhana: Kalau semua memang maunya Tuhan, berarti orang ngga perlu teriak-teriak menghujat Israel. Orang ngga perlu protes kalau BBM naik. Orang ngga perlu protes kalau sistim keadilan di Indonesia sudah sangat bobrok.
    Kalau sudah maunya Tuhan, apalah yang bisa dilakukan oleh kita sebagai mahluk yang sangat lemah dan sangat bodoh ini dihadapan-Nya.

    Apakah begitu penjabarannya mas Ajak-ajak?
    Silahkan dilanjut….. 🙂

    Salam.
    (* semoga makin gatel biar saya mendapat masukan yang bisa membuat saya makin paham *)

  5. sufi gila on said:

    @lambang @ajak-ajak

    yg bikin mereka protes juga Tuhan ….. yg bikin mereka rusak juga Tuhan …. karena ini semua dalam skenarioNya ….. sungguh sangat sombong bila kita merasa merdeka dari kehendak Tuhan …. saya memberi komentar juga kehendak Tuhan … anda berkomentar juga kehendak Tuhan …. kita bergesekan juga kehendak Tuhan ….. ada skenario berbabak babak dalam kehidupan …. dan itu kehendak Tuhan semua …

    kalaupun @ajak-ajak sekarang melayani mau Nya Allah sebenarnya bukan melayani kata yg tepat tapi anda digiring Tuhan untuk melayaniNya … kalaupun @lambang merasa berkehendak sebenarnya yg benar anda sedang digiring Tuhan untuk berkehendak hehehehe …

    pusiiiing kan

    • Nur tauhid Manado on said:

      apa barometer anda…jika benar-benar anda telah mengikuti skenario TUHAN..??????? ingat!!!! seorang sutradara akan marah besar jika artis atau aktornya berlakon tidak sesuai skenario…

      sekarang…dari kaki sampai ujung rambut , luar,dalam pada diri kamu semuanya milik tuhan…tapi ingat ada satu milik hamba….. anda harus tahu…justru itu anda butuh merubah pola pikir untuk siap belajar mencari petunjuk/ ilmu ALLAH melalui seorang Guru atau MURSYD sesuai dengan Q.S AL-KAHFI ayat 29 yang menerangkan tentang Walian Mursydah…

      PR untuk anda…apa yang milik hamba yang sekarang sangat menonjol pada diri kamu…????????????????

  6. Nah, Mas Sufi Gila ikutan gabung…..
    Dikasih pertanyaan baru lagi, biar sama-sama pusing…..

    Soal sombong menyombong itu ada baiknya dipendam dulu. Kita semua sudah tahu bahwa kita ini hanyalah hamba yang tidak ada apa-apanya terhadap Allah. Jadi ga mungkin bisa dan mampu sombong-lah.

    Kita semua juga sudah tahu bahwa apapun yang ada di alam ini diliputi oleh dzat Allah dan ada di bawah pengamatan / supervisi Allah. Semua makhluk bertasbih kepada Allah.

    Yang masih jadi pertanyaan saya, apa benar manusia (kalau globalnya ya seluruh makhluk) sama sekali tidak diberi hak untuk berkehendak sendiri dalam menjalankan fungsinya sebagai khalifah di muka bumi ini?

    Menurut saya, berdasarkan penalaran saya yang cuma anak SD ini, Allah sama sekali tidak menggiring apapun kalau kita tidak berdzikir atau memohon. Kecuali kalau kita memohon dengan bersungguh-sungguh atau berdzikir setiap saat, baru akan digiring oleh Allah ke jalan yang benar.

    Lha kalau semua makhluk digiring (digerakkan, disetir, dijadikan boneka, ditentukan harus berbuat dan berpikir seperti yang dimaui Allah), maka cerita dari para kiai, ustadz, pastur, dan pendeta tentang berbagai hal seperti:
    – manusia sebagai khalifah
    – Adam dihukum untuk turun ke bumi
    – Setan yang dikutuk karena keangkuhannya
    – Ibadah manusia untuk menyembah Allah
    – Sejarah para Nabi
    – Kitab suci dan Hadist Nabi
    – dan lain-lain hal tentang agama
    akan menjadi tidak ada artinya, dan bisa dianggap hanya sebagai dongeng anak sebelum tidur. Ngga ada gunanya manusia diwajibkan untuk mencari jalan kebenaran karena sudah disetir oleh Allah. Bahkan jalan pikirannyapun juga sudah disetir dari Allah. Murni menjadi boneka tanpa akal, tanpa akhlaq, tanpa kehendak, walaupun sudah diberi akal dan kalbu. Kalbu atau hati ini sebenarnya ya ada dalam pikiran/otak juga, hanya saja sering diartikan berbeda oleh sebagian orang.

    Termasuk juga cerita seperti yang ada di judul artikel ini.

    Benarkan demikian Pak Sufi Gila? Bagaimana dengan kawan-kawan yang lain, apakah ada yang memiliki pendapat yang berbeda?

    Maaf kalau ada yang kurang berkenan….
    Salam sejahtera untuk semua.

  7. sufi gila on said:

    salam cinta dan damai saudaraku

    @lambang
    ————————————————————
    Lha kalau semua makhluk digiring (digerakkan, disetir, dijadikan boneka, ditentukan harus berbuat dan berpikir seperti yang dimaui Allah), maka cerita dari para kiai, ustadz, pastur, dan pendeta tentang berbagai hal seperti:
    – manusia sebagai khalifah
    – Adam dihukum untuk turun ke bumi
    – Setan yang dikutuk karena keangkuhannya
    – Ibadah manusia untuk menyembah Allah
    – Sejarah para Nabi
    – Kitab suci dan Hadist Nabi
    – dan lain-lain hal tentang agama
    —————————————————————————
    inilah cara Allah untuk menggiring pemikiran manusia … dan semakin menunjukkan bahwa begitu sempurnanya rencana Allah …. dan bahwa keberadaan manusia dengan segala kelebihan yg dianugerahkan oleh Allah tetap tidak mampu melawan kehendak Allah

    baiknya saya terangkan dengan cerita :
    Adam turun ke bumi karena melanggar aturan ? di sini ada 3 kacamata yg bisa dipakai sebagai sudut pandang :
    1. kacamata hitam : semua yg dilihat hitam begitu pula dengan perbuatan Adam …. maka responnya adalah syukurin luh namanya orang salah ya harus dihukum … dasar bodoh enak2 di surga malah minta turun
    2. kacamata merah : semua yg dilihat berwarna merah shg responnya adalah nabi kok masih bisa melanggar yah … kasihan deh Adam
    3. kacamata bening : pandangannya bening shg responnya semua adalah rencana Allah

    sekian

  8. Hm… ini adalah termasuk kepada masalah Aqidah. Masalah aqidah sebenarnya bukanlah masalah “bagaimana pendapatmu? begini pendapatku”.

    manusia diberi pilihan. apa artinya kita berusaha mati-matian untuk mendapat surga Allah, jika kita sudah ditetapkan oleh Allah masuk neraka?? Apa artinya surga dan neraka Tuhan ciptakan??

    Dalam aqidah Ahlussunnah wal jamaah perkara-perkara seperti ini “telah dijelaskan”. “Penjelasan” ini harus dipahami dan diyakini tanpa ada sedikit pun rasa ragu di hati. Aqidah men-sahkan iman seseorang. Jika ada sedikit saja ada keraguan dalam perkara aqidah, maka tidak sahlah iman seseorang. Orang ini bisa jatuh kafir.

    berbeda paham (apa yang diyakini) dalam soalan ini berarti berbada AQIDAH!! telah disebutkan oleh Rasul saw, bahwa umatnya akan terpecah-pecah menjadi 73 firkah, 72 firkah adalah ahli neraka. Firkah-firkah ini dilihat dari AQIDAH-nya.

    Seperti contohnya: dalam perihal Israk Mi’rajnya Rasul saw. Ahlussunnah wal jamaah meyakini bahwa: Rasul saw mi’raj dengan berikut dengan tubuhnya. Ada yang bilang bahwa Rasul saw mi’raj hanya dengan rohnya. Maka orang ini telah salah aqidahnya. Tidak sahlah imannya. Begitu menurut hukum agama.

    berikut ini saya coba sampaikan bagaimana pegangan Ahlusunnah wal jamaah soal berusaha (ikhtiar) dan pilihan:

    Tak ada usaha manusia yang memberi bekas.Kita ingin memotong sebuah kue. Jika kita memotong kue menggunakan pisau, bukanlah kuasa pisau itu yang memotong kue, tp Allah-lah yang memotong kue tersebut. Kita hanya melahirkan usaha: memotong kue dengan pisau. Apakah kue itu akan terpotong atau tidak, itu putusan Allah. Jika kue itu terpotong, bukanlah karena pisau itu, tp Allah-lah yang memotong kue tersebut. Sunatullahnya: Jika ingin memotong, pakailah pisau. Terpotong atau tidak, itu Allahlah yang berbuat. begitu juga pada hal-hal lainnya

    Jika kita ingin pandai, kita harus belajar. Jika kita belajar, Allah akan beri ilmu-Nya pada kita. begitulah sunatullahnya. namun ada orang yang belajar mati-matian, namun tetap saja ia tidak bisa menguasai sebuah ilmu. Allah tunjukkan kuasa-Nya bahwa Dia-lah yang punya kuasa memberi ilmu atau tidak kepada seseorang. Bisa juga Tuhan beri langsung ilmu kepada seseorang padahal orang itu tidak pernah belajar. Namun yang begini hanya Tuhan beri kepada hamba-hamba special, hamba-hamba yang bertaqwa.

    Contohnya juga dalam hal kesehatan. Berapa banyak kita temui orang yang begitu menjaga kesehatannya, olahraga setiap hari, menjaga makanannya namun dia mendapat sakit. namun anehnya ada orang yang biasa-biasa saja, olahragapun tidak tidakpernah pula sakit.

    Ini menunjukkan bahwa bukanlah sebuah ikhtiar yang punya kuasa menjadikan sesuatu namun Allah yang punya kuasa.

    – – – –

    Kesimpulannya di sini ialah: yang bersifat Qudrah atau yang berkuasa di atas segala sesuatu hanyalah ALLAH SWT. Sembarang makhluk lain tidak mempunyai kuasa. Artinya, sembarang makhluk tidak bisa memberi bekas. Karena itu, bisalah kita katakan yang usaha-usaha kita tidak bisa memberi bekas; belajar kita tidak bisa memberi bekas, bekerja kita tidak bisa memberi bekas, berjuang berjihad kita tidak bisa memberi bekas, dan seterusnya apa saja yang kita lakukan tidak bisa memberi bekas. Sebabnya, yang memberi bekas hanyalah zat ALLAH SWT yang bersifat Qudrah.seterusnya.

    Jadi apabila kita hendakkan sesuatu itu, kita mesti berusaha. Dan berusaha kita itu adalah karena mengikuti perintah ALLAH yang mengatakan bahwa jika kita maukan sesuatu, hendaklah kita berusaha dan berikhtiar. Tetapi usaha dan ikhtiar kita itu tidak bisa memberi bekas.

    Jadi, kalaulah demikian keadaannya, apa gunanya pula kita berusaha? Dan tentu jugalah tidak ada gunanya kita belajar atau bekerja atau berjuang berjihad, dan sebagainya. Karena, setiap apa yang kita lakukan itu tidak akan memberi bekas; yang memberi bekas hanyalah ALLAH SWT.Tetapi mengapa pula kita lihat manusia ini terus berikhtiar sedangkan kita tahu usaha ikhtiar kita itu tidak bisa memberi bekas? Mengapa tidak manusia ini menunggu saja atau menyerah saja?

    Sebenarnya, berusaha dan berikhtiar itu adalah sebagai menurut perintah ALLAH. ALLAH memerintahkan kita supaya berusaha dan berikhtiar iaitu ALLAH memerintahkan kita supaya belajar, ALLAH memerintah kita supaya berusaha mencari rezeki, ALLAH memerintah kita supaya berusaha mencari kesihatan badan, berusaha untuk maju, berusaha mendapatkan sesuatu, dan seterusnya. Jadi apabila kita hendakkan sesuatu itu, kita mesti berusaha. Dan berusaha kita itu adalah karena mengikut perintah ALLAH yang mengatakan bahwa jika kita maukan sesuatu, hendaklah kita berusaha dan berikhtiar. Tetapi usaha dan ikhtiar kita itu tidak bisa memberi bekas.

    Seperti ALLAH perintahkan kita supaya mencari ilmu kalau hendak menjadi pandai, atau supaya kita bekerja keras kalau hendak menjadi kaya, atau kita kawin kalau hendakkan anak, atau kita disuruh makan kalau lapar, atau kita disuruh jaga makan kalau hendak badan sehat, dan seterusnya bagi perintah-perintah yang lain. Semua-nya itu mesti kita lakukan karena ALLAH sudah memerintahkan demikian. Cuma usaha dan ikhtiar kita itu tidak bisa memberi bekas karena yang bisa memberi bekas hanya zat ALLAH Taala yang bersifat Qudrah. Namun kita mesti berusaha ikhtiar bagi mendapatkan sesuatu.

    Mengapakah kita diperintah supaya melahirkan usaha dan ikhtiar sedangkan usaha dan ikhtiar itu tidak bisa memberi bekas? Sebabnya, ALLAH hendak jadikan sesuatu itu dengan bersebab. Misalnya, jadi pandai sebab nya rajin belajar, jadi kaya sebabnya rajin berusaha, dapat anak sebabnya berkahwin, badan sihat sebabnya menjaga makanan dan riadah. Dan begitulah seterusnya bagi tiap-tiap suatu itu; masing-masing ada bersebab.

    Setiap Kejadian Mesti Bersebab?

    Mengapakah keadaannya demikian; iaitu mengapakah tiap-tiap suatu itu terjadi dengan bersebab? Ini adalah karena sudah menjadi peraturan yang ALLAH tetapkan. Memang sudah ALLAH tetapkan peraturan demikian, dan tidak ada siapa pun yang bisa menghalang ALLAH untuk menetapkan apa corak peraturan sekalipun. Macamlah juga dengan kita yang mana dalam rumah-tangga kita pun tentunya ada peraturan, dan peraturan ini tidak bisa dihalang oleh orang lain. Begitu jugalah dengan peringkat negara; ia juga ada peraturan-peraturan tertentu.

    Jadi, dalam soal ini, ALLAH sudah menetapkan sebab yang membawa akibat ini sebagai peraturan ALLAH atau dinamakan Sunnatullah. Dan apa yang ALLAH sunnahkan, tidak akan berubah. Firman ALLAH:

    Terjemahannya: Sesungguhnya kamu tidak akan mendapati apa yang disunnahkan ALLAH itu berubah. Sekali-kali kamu tidak akan mendapati apa yang telah disunnahkan oleh ALLAH itu bertukar ganti.
    (Fathir: 43)

    Jelaslah kepada kita bahwa sebab bersebab di dalam usaha ikhtiar itu memang sudah disunnahkan oleh ALLAH SWT. Artinya, tiap suatu yang hendak kita capai itu mesti kita lahirkan sebabsebabnya karena itu sudah menjadi perintah ALLAH. Firman ALLAH:

    Terjemahannya: Kami datangkan setiap sesuatu itu ada sebabnya.
    (Al Kahfi: 84)

    Dengan yang demikian, adalah salah bagi kita kalau kita tidak mau melahirkan usaha ikhtiar bagi mendapatkan sesuatu karena memikirkan yang usaha ikhtiar kita tidak bisa memberi bekas. Walaupun memang usaha ikhtiar kita tidak bisa memberi bekas, tetapi ALLAH sudah memerintahkan kita supaya melahirkan sebab-sebab. Dan ini adalah Sunnatullah.

    Namun demikian, ALLAH begitu mengasihi umat ini. ALLAH mengetahui bahwa sekiranya sebab membawa akibat ini dibiarkan demikian berterusan, nanti akan ada umat ini jatuh kepada syirik. Artinya, kalau setiap usaha ikhtiar yang manusia lakukan menghasilkan sesuatu yang hendak dicapai itu, sungguhpun pada hakikatnya bukan usaha ikhtiar manusia itu yang memberi bekas, nanti umat akan jatuh syirik karena dia merasakan usahanya memberi bekas, kuasanya memberi bekas, kawin bisa beri bekas, derajat serta pangkat bisa memberi bekas, uang bisa memberi bekas, dan seterusnya.

    Ada Kejadian Tidak Bersebab

    Karena itu, ALLAH bantu umat ini bagi menyelamatkan aqidah mereka agar mereka tidak syirik dengan usaha, tidak syirik dengan pangkat dan darjat, tidak syirik de ngan harta dan kekayaan, dan sebagainya, iaitu dengan ALLAH melakukan sesuatu itu tanpa sebab. Ini akan dapat menyedarkan umat bahwa kuasa ALLAH itu mutlak karena tanpa sebab pun sesuatu itu bisa ALLAH lakukan. Cuma sudah memang Sunnatullah yang tiap sesuatu itu terjadi dengan bersebab, maka itu perlulah dilahirkan usaha ikhtiar. Namun untuk menunjukkan yang kuasa ALLAH itu mutlak, maka sekaliaekala ALLAH jadikan sesuatu itu tanpa sebab.

    Contohnya ialah mengenai kejadian Nabi Isa a.s. yang tanpa bapa, cuma ada ibu. Sedangkan bagi kebanyakan orang, lahirnya ke dunia ini disebabkan adanya bapa. Kalaulah sekali-sekala ALLAH tidak lakukan demikian, nanti orang-orang yang jahil atau orang awam akan mengatakan yang kalau tidak ada sebab, ALLAH tidak bisa lakukan. Nanti mereka akan merasakan yang hanya dengan ada sebab sajalah baru ALLAH bisa jadikan sesuatu. Orang ini jatuh syirik. Karena itu, sekali-sekala ALLAH jadikan sesuatu tanpa sebab karena kasih sayang-Nya kepada makhluk agar makhluk tidak terjebak kepada syirik.

    ======================================

    Jadi kita diberi pilihan. kita bisa memilih. Orang yang bilang manusia tidak punya pilihan sebenarnya adalah orang yang menyalahkan Tuhan.

    pilihlah:
    kasih sayang dan rahmat Allah atau neraka Allah. Jika inginkan kasih sayang dan rahmat Allah, Allah perintahkan supaya kita berusaha untuk mendapatkannya.

    Kita berusaha tidak boleh karena yakin bahwa usaha kita akan memberi hasil, memberi bekas, namun kita berusaha karena Tuhan buat peraturan: jika kamu ingin pandai, belajarlah, jika kamu ingin kaya berusahalah, dan lain-lain. Apa yang Allah beri, sabar atau redholah dengannya. Maha Suci Allah daripada menzalimi hamba-hamba-Nya.

    maaf, panjang sekali. namun inipun belum cukup. bukalah kitab aqidah dan perdalam ilmu agama. agar kita tidak tersesat. Orang berilmu saja bisa tersesat, apalagi tidak berilmu….

    saia juga….
    ampun maaf…

    Nabi Adam as buat kesalahan. sehingga ia dikeluarkan Allah dari syurga. nabi Adam kemudian bertaubat dan Allah menerima taubatnya.

  9. adefadlee on said:

    intinya, selalulah kita merintih agar kita selalu dalam pemeliharaan ALLAH, serta selalu dipimpin hati dan perasaan kita di jalan yang benar…!

    @ mas lambang
    memang semuanya sudah dalam ketentuan dan kehendak ALLAH, tapi jangan kita berfikir kalau begitu buat apa berusaha? Kita berusaha karena ”BERUSAHA ITU ADALAH PERINTAH ALLAH”. Jadi kita berusaha itu karena semata-mata MENURUTI Perintah ALLAH, tapi bukan usaha kita itu yang memberikan hasil, ALLAH lah yang menjadikan hasil.

  10. Yth Pak gw,

    Kalau boleh saya rangkum pendapat Anda di atas adalah sbb:

    1. Setiap kejadian selalu ada sebab-musababnya
    2. Sunatullah = hukum sebab akibat, sebagai dasar item no 1 di atas. Sunatullah ini hukum dari Allah.
    3. Manusia boleh berusaha tetapi Allah yang menentukan
    4. Ada beberapa kejadian tanpa sebab, dan ini menjadi hak prerogatif Allah
    5. Manusia yang aqidahnya tidak benar, masuk ke dalam 73 firkah yang golongan ahli neraka.

    Mari kita lanjutkan diskusi no 1 s/d 3 saja. No 4 dan 5 telalu jauh diluar konteks bahasan.

    Saya memang setuju bahwa manusia memiliki hak untuk memilih. Kalau mau pintar ya belajar. Ini kan pilihan hidup. Kalau saya tidak belajar, kemungkinan besar ya jadi bodoh. Menjadi bodoh atau menjadi pintar itu sudah termasuk dalam takdir Tuhan sesuai sunatullah tadi. Bisa dilihat kembali bahwa dari awal komen saya juga sudah mengarah ke sana.

    Masalahnya, Pak Sufi Gila, yang saya anggap mewakili kelompok kesufian tertentu, mengatakan bahwa keinginan untuk belajar tersebut merupakah hasil giringan Allah. Nah ini yang saya kurang setuju. Karena kalau semua pemikiran dan keinginan kita digiring Allah, apa bedanya dengan boneka hidup?

    Kenapa saya menanyakan hal ini, karena saya ingin mengetahui bagaimana sih sebenarnya pandangan golongan (atau pibadi) pak Sufi Gila terhadap takdir ini?

    Ternyata saya mendapat jawaban yang sepaham dari Anda, yang masuk dalam golongan Ahlussunnah wal jamaah.

    Ada baiknya kita tunggu bagaimana jawaban dari golongan lainnya.

    ===========================================

    Yth Mas adefadlee,

    Yang Anda sebutkan itu pada dasarnya sama dengan yang saya sampaikan pada awal komen. Itu kalau menyangkut usaha, yang rentang waktunya bisa berhari-hari atau bertahun-tahun.

    “…Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk meniupkan ruhnya dan mencatat empat perkara: rizki, ajal, sengsara, atau bahagia… .” (HR Bukhari)

    Bagaimana dengan aktivitas yang rentang waktunya hanya beberapa detik saja? Yang saya contohkan dengan minum kopi di komen sebelumnya.
    Apakah telah ditentukan di zaman azali bahwa saya akan minum pada jam menit dan detik sekian, kemudian kalau setelah minum lalu tersedak lalu pingsan apa juga sudah dituliskan di zaman azali?

    Saya berpendapat tidak demikian. Urusan yang remeh temeh seperti ini hanya mengikuti hukum alam saja (identik dengan sunatullah tadi). Bisa menjadi bagian dari Takdir Yaumi bisa juga tidak. Wallahu ‘alam.

    Kalau kita sering dzikir, mudah2an walaupun minumnya sambil tiduran pun tidak akan tersedak. Kalau jarang dzikir, ya hukum alam yang berlaku, tersedak dan mungkin malah pingsan.

    Dzikir atau tidak, murni pilihan kita sendiri. Bukan hasil giringan Allah agar kita berdzikir, tetapi Allah Maha Mengetahui apakah kita akan berdzikir atau tidak.

    Analoginya tentang giring-menggiring ini: Kalau memang Allah selalu menggiring semua mahluk-Nya sesuai dengan yang dikehendaki-Nya, maka keangkuhan setan tidak sujud ke Nabi Adam juga hasil giringan Allah. Jelas salah kan? Tidak sesuai dengan kitab.

    Tentang Kita berusaha karena ”BERUSAHA ITU ADALAH PERINTAH ALLAH” saya ngga mau komen, karena nanti diskusinya bisa nggladrah kemana-mana.

    Silahkan dilanjut…

    Salam.

  11. Menurut Ahlusunnah wal jamaah:

    Dalam rentang waktu sedetik kedepan pun Tuhan sudah mengetahui apa yang hendak kita kerjakan, apa yang terdetik dihati, apa akan kita ucapkan. Semuanya telah tertulis di lauh mahfuz.

    Apa itu takdir? Takdir adalah sesuatu yang sudah terjadi. Telah terjadi pada kita maka baru kita mengetahui inilah takdir kita. Namun hal belum terjadi itu belum takdir namanya. Walau semuanya telh tertulis di Lauh Mahfuz. Karena, apa yang tertulis di lauh mahfuz itu Allah masih bisa ubahkan untuk kita jika kita mau berusaha. (Ini bukan bermaksud: jika kita tidak berusaha maka Allah tidak punya kuasa mengubah apa yang telah ditulis-Nya di Lauh Mahfuz. Jangan salah.)

    Karena kita tidak mengetahui apa kesudahan kita, maka disinilah letak pilihan dan usaha… Jika di lauh mahfuz telah tertulis kita akan masuk neraka, maka kita akan berusaha agar itu tidak terjadi (berharap Allah mau ubahkan nasib kita). Jika telah tertulis kita akan masuk surga, kita tetap akan berusaha mati-matian agar itu memang itu terjadi. Jangan sampai Tuhan ubahkan untuk kita karena kita lalai.

    Soal perkara yang baik atau yang buruk, maksud para sufiers disini adalah ini:

    Artinya: Apa yang mengenai engkau daripada kebajikan maka iaitu daripada ALLAH dan apa yang mengenai engkau daripada kejahatan maka iaitu daripada engkau sendiri.
    (An Nisa 79)

    Nah, jelas Tuhan sebutkan bahwa jika sesuatu yang baik ada pada kita, kita beramal, kita bersedekah, kita shalat, kita berdzikir, kita berusaha, dan lain-lain ,sebenarnya itu dari Allah.

    Detikan hati yang mendorong tangan untuk bersedekah, menolong orang (melakukan khidmat masyarakat), siapa yang mengingatkan dan mendorongnya? Diri kita atau Tuhan yang menciptakannya?

    Tentulah hati menjawab ALLAH-lah yang menjadikan semuanya. Sekaligus milik-Nya. Kalaupun lahimya manusia mampu beramal banyak, beribadah banyak, tapi itu semuanya adalah hidayah dan dorongan dari ALLAH, yang tanpanya tentulah mereka tidak akan beramal dam beribadah.

    Dan, sekalian yang buruk itu datangnya dari kita sendiri, dari hawa nafsu.

    Itulah mahalnya hidayah. Karena itulah kita akan berusaha mati-matian tuk selalu mendapat hidayah dari-Nya. Senantiasa memohon meminta-minta hidayah dan taufik dari Allah. Karna jika bukan karna hidayah dan taufik darinya, dengan dorongan hawa nafsu dan syeitan, kita pasti akan terjun ke neraka.

  12. ajak-ajak on said:

    @lambang
    saya quote pernyataan saya:
    ,,bagaimana pentingnya mursyid,, kalau sudah ketemu, segala qada dan qadar dah gak perlu terlalu dipikir. Sebab semua memang sudah mauNYA, tinggal bagaimana kita melayani mauNYA Allah SWT.

    Key nya: kalau sudah ketemu (Mursyid).

    Pun melayani Allah tentunya harus sesuai dengan izin dan keinginanNya seperti yang sufigila katakan. Bagaimana caranya? Tentunya dengan menggunakan segala yang dititipkanNya pada kita. Jasad, tenaga, akal fikiran, hasrat dan nyawa kita padukan untuk melayaniNYA. Jadi gak mungkin pasif kan? Sudah tentu kita perlu mengolah dan mengaktifkan kinerja diri kita lahir-batin untuk melayani mauNYA. Dan ini perlu usaha/pilihan dari diri kita sendiri.

    Sekali lagi yang diperlukan pertama adalah menemukan channel Nya yaitu Sang Mursyid. Dengan bimbingan Mursyid baru kita bisa mengetahui mauNYA dan barulah kita bisa mengoptimalkan seluruh yang ada pada diri kita untuk melayaniNYA seperti tujuan diciptakannya kita (menjadi hambaNYA).
    Kalau lambang berkenan bisa membaca2 lagi artikel2 mengenai mursyid di blog ini tentang apa, siapa, bagaimana, kenapa dan dimana mursyid itu.

    Bagaimana kita bisa tahu kehendakNYA kalau kita belum menerima frekuensiNYA? Bagaimana kita bisa mendengarkan siaran radio A kalau radio kita di stel ke channel radio Z? Sedekat apapun radio kita dengan station radio A tetap saja perlu disetel ke channel radio A supaya bisa menangkap dengan jelas. Kalau tidak ya mustahil.

    Pertama-tama mari berusaha mencari channel Nya dulu. Channel itu bukan datang dengan sendirinya, perlu sebab dari kita seperti yang ‘gw’ ceritakan.
    Allah tidak merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu merubah nasibnya sendiri.

    —-

    Mengenai takdir/keputusan Allah, saya setuju dengan sebab-akibat. Allah Maha Berkehendak dan Memutuskan segala sesuatu, tapi mungkinkah Allah mengingkari janjiNya? (see comment nya gw diatas)

  13. sufigila on said:

    salam cinta dan damai saudaraku

    @semua
    maaf kalau sepertinya ada kesalah pahaman dalam memahami tulisan saya … saya memahami bahwa semua yg digariskan Allah adalah yg TERBAIK untuk setiap pribadi … masalahnya pemahaman yg telah diberikan Allah terhadap kita belum mancukupi untuk mengatakan bahwa semuanya adalah baik .. dan diskusi ini adalah cara Allah menggiring dan mengajarkan sesuatu pada kita bersama … jadi konsep awalnya tidak ada takdir jelek … kenisbian otak yg menyatakan bahwa ada takdir baik dan jelek tapi itupun karena spec otak terbatas hanya sampai di situ … maka ada saatnya Allah akan mengajarkan segala hal melalui qolbu bukan otak

    dan saya sepakat dengan semua bahwa pendapat kita bukanlah ukuran kebenaran … yg saya rasakan dan saya jalani yg saya tuliskan ….. hidup ini adalah indah apabila kita menyerahkan segalanya pada Allah … anda sepakat atau tidak pada tulisan ini Allah pun sudah tahu karena Allah Maha Menghitung … jadi sebelum anda berfikir pun Allah sudah tahu hasil proses fikir kita sesuai dengan berapa banyak data yg telah diinputkan Allah pada kita … sehingga sampailah pada masa di mana kita disadarkan untuk meletakkan pikir dan menggunakan qolbu sebagai pemroses data sehingga terciptalah suatu pilihan .. dan itu semua bukan pilihan tetapi suratan

    contoh

  14. Salam kang sufigila, kang ajal-ajak, kang gw, kang adefadlee dan bp mytrav (dari Malaysia?).

    Kadang pemahaman dan cara penyampaian bisa menghasilkan pengertian yang berbeda. Kang sufigila (atau yang lainnya) maksudnya A, tapi menjelaskannya B, ketangkep sama saya C. Ngga nyambung babar pisan.
    Kalau saya jadi juri, yang dapat nilai agak lumayan adalah bp mytrav. Maaf yang lain mesti bawa koper… he.. he…

    Anak SD koq berani-beraninya jadi juri…..

    Jadi lebih baik kita belajar bagaimana cara menulis yang baik agar orang lain dapat lebih mudah memahaminya.
    Kesampingkan juga emosi dalam berdiskusi.
    Jangan juga mengakhiri komen dengan “makanya bermursyid dulu”. Itu akan menciptakan tembok penghalang dalam diskusi. *halah… *

    Masalahnya akan lain kalau blog ini hanya khusus untuk kaum sufi. Kan ngga ada warning-nya bahwa blog ini eksklusif untuk sufi.

    Info untuk rekan-rekan komentator:

    Ada 2 buku menarik yang membahas tentang agama, logika dan takdir:

    1. “Logika Agama” oleh Quraish Shihab, 2005. Membahas bagaimana cara menalar agama dengan akal dan dimana batasan-batasannya.
    2. “Dua Wajah Tuhan” oleh Markaz Ar Risalah, 2005. Membahas Al Amru baina al Amrain (Perkara diantara dua perkara). Berisi tentang determinisme illahi yang terdiri dari jabariyah dan kasb, yang meliputi qadha’ dan qadr.

    Dua buku ini referensinya cukup banyak, jadi kalau mau membantah, silahkan adu argumen dengan penulis bukunya. Tapi hati-hati, kemungkinan memang akan tipis karena mereka jago nulis, he… he…

    Berhubung saya sudah mendapatkan pencerahan dari dua buku tersebut, maka sudah waktunya mengundurkan diri dari diskusi takdir ini. Nanti kalau ada topik lain yang cukup hangat, kita buat lagi agar makin hot.

    Salam damai dan sejahtera untuk semua rekan2.

  15. anak tk ikut nonton………………
    kalo gak salah…………..
    kenapa anak tk ada gurunya ya……………………….?
    kanapa gak bljar dari buku,kan banyak tu……………………
    ingin tahu rasa jaruk kok baca………………….
    sampai mati pun gak bakalan ngasain jeruk ……………………
    kalo mo cuap cuap………………..
    ya makan jeruk dulu……………
    belum tentu yang kita pilih sesuai dengan keinginan kita……………….
    asem,manis,asin,hambar ……………lah
    kita sendiri yang ngasain……………
    selamat yang sudah ngrasain rasanya,menihmati kelezatannya………….
    mbuh di rasakke dw2 ya

    Shollu’ala nabi muhammad

  16. ajak-ajak on said:

    Lambang,,
    liat nick saya diatas, kok ajal ngajak2,, hehehe.
    Enaknya nulis koment di blog ya begityu ityu. Bebas semau nya selama moderatot / yg punya blog ga ngedelete ya sutralah. Toh yang mempertanggungjawabkannya kita terhadap Tuhan kita. Ada yang sepemahaman atau bertentangan juga biasa2 aja.

    Blog milik bang Sm memang bukan khusus para sufi. Tapi untuk membahas tentang dunia sufi /tasawuf dari segi manapun. Coba kalau tulisan2 disini beserta koment2nya di tulis di blog wahabi atau syiah atau ahmadiyah atau non muslim, tentunya bisa lambang bayangkan sendiri perbedaan ceritanya.
    Dan merujuk pada artikel diatas, JELAS-JELAS menjelaskan tentang PENTINGNYA MURSYID.

    Quote artikel:
    ………….Sebab Allah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk membimbing mereka ke jalan lurus. Dan sebelum Rasulullah SAW`wafat, Beliau telah menetapkan para Khalifah sebagai wakil Beliau untuk menunjukkan manusia ke jalan Allah. Begitulah seterusnya, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, seorang salik mutlak membutuhkan seorang Mursyid.”……………………
    …………..Tasawuf adalah ilmu untuk penyucian hati dan ilmu untuk mengenal diri agar bisa mengenal Tuhan. Tasawuf bukan sekedar ilmu yang dibaca dan dihapal lalu dipraktekkan menurut selera masing-masing. Tasawuf pada intinya adalah ilmu kerohanian yang membutuhkan seorang Master yang ahli untuk membimbing manusia kepada Tuhan. Dialah Mursyid yang bukan hanya mengatakan bahwa Allah itu Esa dengan segala sifat-sifat-Nya tapi juga bisa mengantarkan muridnya langsung bertemu dengan Allah sebagaimana pengalaman Imam Al Ghazali diantarkan kehadirat Allah oleh Guru Mursyidnya………………….

    Jadi mbang,
    Mudah2an masih dianggap wajar dan tidak menjadi dinding setipis apapun kalau ada yang berkoment: selamat berusaha menemukan Mursyid agar bisa jelas dan pasti mengetahui MauNYA

  17. I’m curious:
    bagaimana kita tahu bahwa mursyid itu ditunjuk oleh Allah?
    Apa yang bisa kita jadikan jaminan?
    Apa cuma trial dan error?

    any answer?

  18. sufi gila on said:

    salam cinta dan damai saudaraku

    @curious
    ya iya lagi semua adalah trial and error lah … prinsip hidup bagiku bila sang Guru tidak bisa menjadi juru selamat bagiku maka wajib hukumnya bagiku untuk mencari Guru yang lain …. masalahnya sampai detik ini kehadiran Guruku di alam keruhanian adalah selalu beserta Allah yg ditandai dengan pemberian petunjuk atas segala pertanyaan, menyelamatkan jiwa di saat sedang gelisah dan ragu, mencerahkan di manapun kami berada dalam situasi apapun …. jadi hebatlah sang Guru karena disertai yg Maha Hebat yaitu Allah yg ghoib wujudnya

    tapi sebagai tolok ukur awal adalah pengijazahan oleh Guru sebelumnya yg ditandai dengan urut2an silsilah keguruan hingga sampai kepada Rasulullah … dan yakinlah Allah akan selalu membimbing kita semua untuk menemukan pembimbing yg diutus Allah khusus untuk kita dan yg paling sesuai dengan karakter kita masing2

    tolok ukur selanjutnya buktikan sendiri melalui perjalanan spiritual …. apakah telah diberi kemampuan oleh Allah Sang Guru untuk menjadi Jibril dalam perjalanan spiritual kita sehingga paling enggaknya kita mengalami walau secuil perjalan isra’ dan mi’raj

  19. curious on said:

    sufi gila,
    Ma’af kalau ada pertanyaan kecil untuk anda. Hanya karena saya tergelitik membaca nick yang manis itu. Kenapa bukan Gila Sufi? Mudah-mudahan anda tidak menganggap sebagai konfrontasi, saya benar-benar mau tahu.

    Untuk komentar anda,
    Saya sudah browsing (thanks for this unreal world) banyak aliran sufi, tarekat, thareqat, toriqoh, tasawufan, dsb (dalam bendera Islam) dan hampir semuanya menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan yang sampai ke Rasulullah SAW (diistilahkan oleh sebagian dengan kata’silsilah’ atau ‘tali kemursyidan’ atau ‘jalan ijazah’).

    Setelah tolok ukur awal sudah saya temukan (belum saya tentukan apakah benar semua atau hanya sebagian atau hanya satu yang benar) saya juga mengerjakan sholat istiqoroh minta petunjuk dan bimbingan Allah SWT agar ditunjukkan yang mana yang harus saya ikuti. Dari trial dan eror yang saya lakukan, kok saya menemukan banyak eror nya ya? Sudah beberapa kali saya tidak menemukan yang sesuai dengan karakter saya.
    Apakah petunjuk-petunjuk Allah yang saya terima kurang tepat, atau memang seharusnya saya ikuti saja semuanya?

    Justru untuk tolak ukur terakhir lah yang sering saya hadapi, bahkan sebelum saya berusaha mencari. Beberapa perjalanan spiritual saya alami, tapi tidak bersama Guru yang berubah menjadi Jibril. Jadi saya urung menyatakan bahwa saya pernah mengalami Isra’ dan mi’raj. Apakah itu juga termasuk perjalanan spiritual dengan Jibril yang masih terlihat Ghoib bagi saya?

  20. @curious

    Saya ga ngerti dengan cerita sampeyan diatas. (Bingung saia…. Saia orang awam… Hehe…)

    Tetapi saia tahu satu hal: kebenaran itu hanyalah satu. Kebanaran itu akan mengena di hati. Pasti hati akan menyetujui dan tidak akan bisa memungkiri jika telah bertemu dengannya.

    Jika kita memang mencari-cari kebenaran — kebenaran dari Tuhan — dan kita merasa masih belum menemukannya, teruslah mencari. Pasti akan diberi juga akhirnya oleh Tuhan. YAKINLAH! Karena itu adalah janji Tuhan.

    Namun, jika telah bertemu, belum tentu kita akan mengikuti, mungkin saja kita akan menentangnya.

    Seperti pada zaman Rasul saw. Semua kafir qurasy, sekalian orang yahudi dan nasrani di zaman Rasul saw sebenarnya tahu dan mengakui di hati mereka bahwa apa yang dibawa Rasulullah adalah kebenaran. Namun mereka malah menentang dan tidak mau mengikutinya. Kenapa?? Ga usah dipikir deh.. Mending kita berdoa kalo kita bertemu kebenaran, kita bukan di posisi Abu Lahab dan para kafir Qurays lainnya, namun kita seperti para sahabat Rasul saw yang menerima kebenaran itu.

    Jika mas curious memang ingin mendapatkan kebenaran yg haqiqi, saya turut mendoakan agar mas diberi-Nya petunjuk. Untuk diri saya sendiri juga.. Amieenn…

    NB:
    Jangan cari di internet aja, mas. (Walau mgkin bisa ketemu…). Carilah di dunia nyata. Lihatlah bagaimana orang-orang yang mengikutinya.

    Salah satu ciri-ciri jemaah kebenaran adalah mereka melahirkan kebenaran, bukan hanya memperkatakannya. Mereka hidup dengan cara Islam. Cara berekonomi, berbudaya, bermasyarakat, berpendidikan, membangun peradaban, mencapai kemajuan, dan di semua segi kehidupan mereka adalah Islam.

  21. Mohon pencerahannya, Bang Sufimuda.

    Setahu saya menurut aqidah ahlusunnah wal jamaah, tidak ada seorangpun yang bertemu Tuhan / melihat Tuhan di dunia. Bahkan satu malaikat pun belum pernah bertemu Tuhan. Hanya Rasulullah S.A.W saja yang pernah bertemu langsung dengan-Nya. Namun, orang-orang yang dimasukkan Allah ke dalam surga nanti akan bisa bertemu dengan-Nya.

    Saya baca kisah Imam Ghazali diatas, juga di artikel lain dan komen-komen diblog ini sering disebut “bertemu dengan Tuhan” atau dapat melihat Allah. Apa maksud bertemu disini adalah bertemu dengan zat-Nya atau melihat zat-Nya? Atau maksud “bertemu” disini lain? Kalau iya, apa maksudnya?

    Mohon diterangkan kepada saya. Hal ini bikin saya bingung….

    Saya sangat menunggu jawaban dari Bang sufimuda atau siapapun yang bisa menerangkannya dari sudut pandang Ilmu Aqidah…..

    • didi andi maggu on said:

      Assalamu alaikum warahmatuLLahi wabarakatu.

      Manusia adalah makhluk yang paling mulia di alam ini. yang dimaksud dgn
      alam ialah segala “sesuatu ” selain Allah. dengan kata lain “alam”ialah ciptaannya Tuhan YME. Tuhan tidak berdimensi ruang dan waktu.atau apapun yang terlintas dalam pikiran manusia.tidak ada samanya dan tidak da perumpamaannya. SifatNYA abadi..,kekal….. kalau “memikirkannya ” saja kita tidak mungkin apatah lagi melihat.,bertemu dsb,menurut pikiran manusia. “pertemuan” hanya bisa terjadi bila kedua belah pihak berada dalam suatu ruang,tempat,waktu dan wadah yang sama…Tuhan tidak mempunyai ruang ,tempat,waktu ,wadah dsb… lalu ketemunya dimana???????….syukurlah bahwa kita mempunyai wadah keyakinan.hati ” Nur”ani yang masih jernih, jernih karena tidak berbuat dosa, yang mudah-mudahan dgn perangkat itu “RASA” bertemu,dan “RASA”Melhat Tuhan setiap detiknya ada pada diri kita. Aminnnn……dunia ini atau alam ini adalah cerminan Tuhan…..tanda bahwa Sang pencipta itu ada…jadi kalau mau bertemu atau mengerti sedikit tentang Tuhan bercerminlah ke dunia/alam ini …. kalau kita bercermin di depan kaca nampak bayangan kitan kan..?????…nyata tapi “SEMU” ada tapi tiada…dimengerti tapi tak terjangkau…jadi???? hanya dengan mata hati dan hati “NUR”anilah yang dapat membahasakannya dan memahaminya ataupun memakluminya (keyakinan) karena lidah takkan mampu menjabarkannya dalam bentuk kata-kata……. Kemudian Ingat karena “kesalahan” (dosa) nabi Adam lah (yg telah diampuni ALLAH) sehingga manusia ada di bumi ini. Jadi baru “Dosa” nya Nabi Adam saja kita sudah merasakan kehidupan di dunia ini. Bagaimana sekiranya Nabi Adam diturunkan kebumi karena Amalnya..??????.Jadi alam ini (termasuk manusia kan?) dimata ALLAH tidak ada artinya …Trus untuk apa Tuhan menciptakannya….mau maunya “ALLAH SWT”..protes????cari dunia/alam yang lain…Mengenai bertemunya Nabi Muhammad SAW.dengan ALLAH SWT itu Langsung ..utuh tubuh dan Jiwa Rasulullah SAW… bagaiman bisa????.tentu bisa atas kuasa ALLAH SWT dimana Rasulullah SAW dimasukkan dalam ruang , waktu, tempat dan wadah kekuasaan ALLAH SWT.

  22. sufi gila on said:

    salam cinta dan damai saudaraku

    @curious @ahmad
    sufi gila adalah kondisi dari para sufi secara umum …. kegilaan mereka pada Tuhan dan kekasih Nya …. kegilaan mereka dalam mengekspresikan rasa yg dialaminya …. dan segala hal tentang kegilaan yg bisa kita rasakan dalam karya2 mereka …. karena tanpa rasa gila atau ke luar dari kesadaran jasmani menuju keadaran spiritual maka semua sia2 saja

    dan mas curious bila anda belum bisa berhubungan secara ruhani dengan sang Guru itu sangat wajar … bagaimana dapat isi hatinya bila tidak pernah melayani jasmaninya … anda undang ruhani Guru yg suci tapi dengan jiwa yg sombong ???? undanglah dengan penuh harap dengan cinta yg bukan saja dalam kata2

    Allah itu ghoib/nggak ada bentuknya maka Dia akan datang dengan membawa kekasih Nya agar kita mampu melihat tolok ukur hadirnya Allah karena Allah dan kekasihNya tiada bercerai berai …. jadi mas ahmad kosakata melihat, bertemu Tuhan itu bukan dzatNya tapi bertemu dan melihat kekasihNya (yg pasti Allah menyertainya) di dalam perjalanan spiritual sampai kemudian kita di puncak perjalanan lebur dalam hakikat Allah … jadi memang benar nggak ada yg mampu melihat dzatNya kecuali yg memang diijinkanNya

  23. Mas Ahmad,
    Terimakasih atas kunjungan dan pertanyaannya.
    Masalah melihat Allah sudah banyak dibahas disini, salah satunya https://sufimuda.wordpress.com/2008/07/02/seputar-masalah-melihat-allah/
    Yang jelas ada 3 pendapat tentang melihat Allah,
    1. Tidak Bisa dilihat sama sekali
    2. Dilihat di akhirat
    3. Dilihat di dunia dan akhirat.

    Kalau Nabi Muhammad SAW bisa melihat Allah sudah pasti apabila orang memakai rumus yang sama dengan Nabi Muhammad akan mendaapatkan hasil yang sama pula.

    Imam Ghazali bisa melihat Allah dengan memakai rumus yang sama, kita pun Insya Allah bisa.

    Untuk apa kita diciptakan Tuhan? untuk menyembahnya.
    Bagaimana menyembah sesuatu yang tidak kita kenal sama sekali?

    Salam

  24. curious on said:

    SufiMuda,
    Mohon ijin ikut dalam diskusi anda dan ahmad.
    Kalau boleh saya mau tambah satu pertanyaan,
    rumus yang mana yang sama dengan Nabi Muhammad agar dan Imam Ghazali hasil nya sama? Dimana saya bisa dapatkan rumus itu? Harus belajar puluhan tahun dulukah? Kalau dilihat dari sejarah, Nabi Muhammad setelah sekian tahun sejak diangkat menjadi Nabi baru bisa isra’ mi’raj. Dan imam Ghazali pun setelah sekian puluh tahun baru bisa sholat khusyuk. Tidak masalah sebenarnya. Tapi yang pertama tadi, dimana saya bisa dapatkan rumus yang sama itu? Kalau sudah dapat, saya yakin waktu bukanlah penghalang lagi.

    Salam

  25. bung gw,
    mungkin anda jelaskan dulu di cerita mana yang anda bingungkan.

    Saya yakin akan kebenaran syang satu itu, karena itulah saya masih berusaha..
    Mudah-mudahan kalau sudah bertemu saya akan mudah mengikutinya.

    untuk NB anda,
    adakah yang lebih mudah dan cepat di zaman sekarang untuk mencari informasi selain dengan browsing internet? Salahkah?
    Saya sudah mencari di dunia nyata dibeberapa lokasi di Jawa – Sumatra. Bahkan sampai ke malaysia karena mendengar ada satu bendera yang katanya menjalankan Islam secara kaffah seperti yang bung gw descripsikan diatas.
    Tapi tetap belum memuaskan karakter saya (meminjam istilah sufigila)

  26. curious on said:

    sufigila
    Makna yang unique dari nick anda. Semoga ekstasitas anda semakin meningkat dalam keabadian Robbani.

    Keberadaan jiwa saya saat bersama guru-guru saya dulu sama sekali tidak saya ketahui apakah ada sombongnya atau tidak. Selama ini saya selalu berusaha merendah dengan meminta tolong guru-guru saya dulu agar bisa menjalin hubungan ruhani yang romantis dan harmonis. Tapi ,, yah siapa tahu hati seseorang. Mungkin Sayanya yang masih belum bisa membedakan antara takjub akan kehebatan guru dan sombong dalam diri saya sendiri.

    Mohon ma’af sebelumnya saya mau mengkomentari komentar anda terhadap ahmad.
    Dari gambaran sufigila tentang wujud Tuhan yang tak berbentuk tapi selalu beserta kekasihNya, saya kok jadi ingat narasi tentang Lord Voldermot di ceritanya Harry potter ya (tidak bermaksud joke loh)? Apa mirip seperti itu? Selalu menumpang dan berpindah ke tubuh-tubuh yang dikehendakiNya?
    Atau memang sudah ada dalam tubuh semua hambaNya?
    Mohon lebih diperjelas lagi agar saya pribadi bisa lebih mudah mencerna dan memahami maksudnya.

  27. @sufimuda dan sufi gila

    Terima kasih sebelumnya.

    Saya baru saja membaca artikel yang Bang Sufimuda lampirkan. Menurut saya i’tiqad ahlusunnah wal jamaah adalah yang kedua. Yang ketiga juga bisa sih. Namun hanya untuk Rasulullah saw saja, yakni ketika peristiwa Isra’ Mi’raj.

    Saya belajar ilmu usuluddin Ahlusunnah wal jamaah (baru sedikit sekali), dan saya dapatkan adalah begini:

    Allah itu wujud (ada). Soal apakah Allah bisa dilihat atau tidak? Jawabannya adalah BISA. Penjelasan dengan dalil akalnya adalah: sesuatu yang ada pasti bisa dilihat. Tidak mungkin sesuatu yang ada tetapi tidak bisa dilihat. Dalil Al Quran ttg Allah itu ada dan bisa dilihat banyak disebutkan di AlQuran (tidak saya sebutkan disini, Insya Allah bang Sufimuda juga telah mengetahui dalilnya).

    Di dalam Al Quran juga Tuhan sebutkan bahwa di Akhirat nanti manusia bisa melihat Allah (setelah masuk surga).

    Begitu yang saya dapatkan.

    Namun ttg persoalan “melihat zat Allah ketika di dunia” yang saya dapatkan adalah bahwa tidak satupun manusia yang telah melihat Allah di dunia kecuali Rasulullah saw. Tidak ada yang lain selain Rasulullah saw.

    Jadi yang saya persoalkan disini adalah makna kata bertemu/melihat Allah. Saya menafsirkan kata bertemu atau melihat Allah itu adalah makna secara lahir/harfiah. Bukan makna secara perumpamaan.

    Menurut mas sufigila:

    “bertemu Tuhan itu bukan dzatNya tapi bertemu dan melihat kekasihNya (yg pasti Allah menyertainya) di dalam perjalanan spiritual sampai kemudian kita di puncak perjalanan lebur dalam hakikat Allah … jadi memang benar nggak ada yg mampu melihat dzatNya kecuali yg memang diijinkanNya”

    saya bersetuju dengan mas sufigila dalam soalan ini karena beginilah ilmu yang saya dapatkan dan kepahaman yang saya yakini.

    Jadi, pertanyaan saya itu adalah apakah makna bertemu/melihat Allah pada kisah Imam Ghazali dan lain-lain kisah yang ada disini maksudnya seperti yang mas sufigila sebutkan atau bertemu dalam makna yang lahir/harfiah?

    Anyway, saya merasa sangat senang membaca artikel-artikel di Blog Bang Sufimuda ini. Sangat memberi manfaat besar pada diri saya. Perkara yang saya tanyakan ini adalah untuk meyakinkan saya saja karena saya sering bingung dengan gaya bahasanya para sufi.

  28. “LAU KAANA KHAIRAN LASABAKUUNAA ILAIHI”

    “Apabila suatu perbuatan itu baik, tentu para sahabt telah mendahului kita”.

    Sekiranya TASAWUF ini adalah ajaran ISLAM,
    dan merupakan maslahat. Pasti para sahabat berduyun-duyun melakukannya.
    Sebaliknya, jika itu adalh perbuatan Bid’ah
    yg berarti menentang SUNNAH Rasululloh,
    maka dengan serta merta mereka (para sahabat)
    akan meninggalkannya, bahkan menjauhi orang2 yg mengamalkan bid’ah tersebut.

    • bertarekat on said:

      dari mana nt berpendapat bahwa Tasawuf adalh bid’ah,
      bukankah semua terekat bermuara ke Imam Ali (sahabat, Amirul Mukminin, Pintu Ilmu Rosulullah), para ahli silsilah selalu taat dan patuh pada Ajaran Rasulullah, yg diajarkan ulang ke Imam Ali-, diajarkan ke Salman – diajarkan ke murid-muri-murid……… bukankah itu bukti nyata bahwa ajaran tasawuf adalah berasal dari Rasulullah.
      dan kata tarekat juga ada dlm al-Quran,
      mana ada di Quran kata salafy/Wahabi,…????

      jadi jangan sok paling ngerti agama dengan membidahkan tasawuf, jika silsilah keilmuan kami lebih jelas dari pada ulama salafu yg gak jelas silsilah kegurunnya.

      WASPADA BAHAYA LATEN SALAFY WAHABI DIINDONESIA
      Mari Kita pegang para Ahli Silsilah yang tentunya bermuara kepada Rasulullah saw

  29. ILMU YANG DITURUNKAN NABI MOHAMMAD ITU DI IBARATKAN ADA DUA KARUNG. SATU KARUNG DISEBARKAN KE SEMUA UMAT TANPA PANDANG BULU. SATU KARUNG LAGI HANYA SEBAGIAN KECIL UMAT YANG MAMPU MEMPELAJARINYA, KARENA ILMU INI APABILA DI SEBARKAN KESEMBARANG UMAT, NISCAYA UMAT YANG MEMPELAJARINYA AKAN DI SEBUT KAFIR DAN MURTAD. DIATAS LANGIT MASIH ADA LANGIT. MOHON KITA TIDAK MEMBICARAKAN YANG KITA TIDAK TAHU AKAN ILMUNYA (MEMUTUSKAN BENAR DAN SALAHNYA). ILMU ALLAH ITU SANGAT LUAS SEKALI. UMAT YANG MEMPELAJARI ISLAM ITU BANYAK SEKALI JUMLAHNYA, PERBEDAAN PENDAPAT ITU PASTI ADA. YANG PENTING KITA TETAP MEMEGANG TEGUH ” LAA ILLA HA ILALLAH, MOHAMAD RASULULLAH”

  30. MELIHAT ALLAH??? KUTIPAN : “APABILA HAMBAKU BERTANYA TENTANG AKU, MAKA JAWABLAH BAHWA AKU LEBIH DEKAT DARI PADA URAT NADIMU SENDIRI” – “MANUNGGALING KAWULO GUSTI (MENYATUNYA ALLAH DAN HAMBA)” – “TIDAK AKAN KENAL HAMBAKU DENGAN AKU KECUALI HAMBAKU MENGENAL HAKIKAT DIRINYA SENDIRI” – “KOSONG ITU BERISI, BERISI ITU KOSONG”. MOHON MAAF, BUKANKAH KITA SETIAP HARI SUDAH DI AJARKAN CARA UNTUK MELIHAT ALLAH??? SILAHKAN DICERMATI PADA SAAT ADA AZAD, INSYA ALLAH HIJAB KITA SEMUA DAPAT DI BUKA OLEH ALLAH. AMIEN. YAA ALAH SESUNGGUHNYA ENGKAU YANG MAHA TAHU, KAMI ADALAH ORANG-ORANG YANG SANGAT BODOH, ILMUMU SANGAT LUAS, MAKA KARUNIAKANLAH KAMI ILMU YANG BAIK DAN BERMANFAAT BAGI KAMI.

  31. setuju mas ari,benar atau salah bukan manusia yg berhak memutuskan krna semuanya itu hak Allah saja..meski kadang manusia terlupa merasa sudah sempurna iman islamnya padahal yang bersangkutan sendiri tak tahu kan di terima atau tidak segala amalannya……..tertipu dengan angan2x- sendiri.Namun berbahagialah orang2x yang telah menemukan hakikat dirinya sendiri sehingga mampu menyatukan dirinya dengan Tuhannya(kosong berisi,berisi itu kosong..nang,ning,nung)

  32. kang ari n kang koe

    Baru nonton film sunggokong yah?? Monyet cina ?
    dia itu temannya anoman kalau jawa.
    Mintalah kepadaKu. pasti akan kukabulkan permohonanmu.
    ( Tentu you harus ngerti rukun dan syaratnya )
    Tak akan aku turutkan kehendakmu, akan rusaklah dunia ini.
    Jadi kehendak manusia tak akan diturti oleh Allah. kalau dituruti akan hancur dunia ini.
    Satu sisi manusia disuruh minta pasti akan dikabulkan.
    Artinya semua yang terkait dengan Allah tidak sembarangan kita menggunakan atau memnfaatkan kau harus ijin dan mohon kepadaNya. “baru diberi”.
    Kalau you sudah minta tapi ndak diberi itu bukan kehendak Allah.
    Allah tidak pernah berkehendak atau berencana .. untuk apa Allah bekehendak atas manusia ? tidak istilah rencana Allah.
    Allah berkehendak agar dunia ini tidak hancur . Mekanismenya Manusia!!
    Mekanisme salah salah rusaklah dunia ini. setelah dilihat manusia banyak yang merusak diutuslah rasull ( kholifah Fil Ard. )
    Makanya kita sebagai umat manusia yang benar, janganlah punya jiwa merusak. jagalah hati ini jagalah semuanya. kalau satu sama lain saling merusak dan merasa benar dari yang lain apalah arti kitab ini dan kebenaran itu sendiri.
    Kebenaran itu hanya Milik ALlah. .. Yang lain tidak..
    Apalagi manusia ini Kebenaran apa yang dia miliki?
    Wasslam.

  33. salam tuan rumah..
    blog ynag cantik..
    terima kasih atas perkongsian ilmu tersebut..
    Imam al-Ghazali sememangnya idola saya.

    boleh kita link ??

    • SAPIHITAM on said:

      Ass. wr.wb.
      Salam kenal Ibu Suri
      pantas kalau ibu mengidolakan Imam Al-Ghozali, bahkan banyak yang mengidolakannya.
      Contohnya saya ,mengidolakan tapi tak pernah ngerti hehe…
      terlalu tinggi kali ilmunya ??
      Ngomong-ngomong ,mengidolakan Imam Al-Ghozali ibu ari sampai sejauh mana Yaa??
      Memang ilmu para sufi ini indah dan menarik sekali yah??
      Sampai sekarangpun aku sangat senang kok dengan ilmu para sufi. Ternyata ilmu para sufi dari dulu hingga sekarang tetap dan tak berubah keasliannya.
      Bu Tolong sampaikan salam buat imam Al-Ghozali dan para penerusnya.
      Wasalam.

  34. didi andi maggu on said:

    ASSALAMU ALAIKUM WR.WBR.

    Memang benar bahwa untuk mempelajari suatu ilmu haruslah ada gurunya (mursyid?) yang punya legalitas,kompetensi tentang apa yang diajarkannya…kemudian sebagai murid yang akan belajar ilmu tersebut haruslah terdaftar/mendaftarkan diri dan membuat pernyataan ataupun menyetujui peraturan tentang hak dan kewajibannya…. kalau ilmu-ilmu dunia saja (selain ilmu agama) sebegitu formal persyaratannya apatah lagi ilmu-ilmu agama sebagai bekal kita di akhirat kelak…..bahkan (hadis?) yang mengatakan bahwa apabila seseorang tidak mempunyai guru(ilmu agama) maka gurunya adalah syetan,!!!!!. Boleh-boleh saja kita membaca. mempelajari buku-buku agama yang jumlahnya jutaan judul..namun yakinkah kita bahwa pengertian kita .penjabaran kita. penalaran kita. sudah sempurna???? karena perlu diketahui bahwa ilmu agama yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. adalah penjabaran dari Alqur’an dan Hadis-Hadis Rasulullah.SAW. Sabda Rasulullah.SAW..” ikuti apa yang saya perbuat dan apa yang saya katakan”dan apa yang dilakukan oleh para sahabat saya (tolong koreksi kalau salah)..Jadi mengikut (belajar) ilmu agama sesuai yang dicontohan oleh Rasulullah SAW ada 3(tiga) bagian besar ,…1.perkataannya..2.perbuatannya…3.apa yang dilakukan oleh Para sahabat Beliau……Rasulullah SAW adalah “contoh dan teladan yang sempurna….ingat,!!!!!!! yang namanya “contoh atau teladan” tidak boleh ada yang salah sedikitpun!!!!…bahkan bila ada kekeliruan menurut manusia awam mengenai perkataan ataupun perbuatan Rasulullah SAW itupun bahkan merupakan suatu ajaran yang sempurna karena Rasulullah SAW adalah manusia paripurna. Benar yang dikatakan sdr.Ari. bahwa tidak semua ilmu dapat diberikan ,dipelajari oleh semua orang. ada tahapan-tahapan tertentu yang harus dilalui. misal SD. SMP. SMA.dsb..Kesimpulannya memang kita harus belajar.belajar.belajar. dan belajar… pembaca yang budiman saya sangat bersyukur bisa ketemu web ini dan ini kesempatan saya yang pertama kali menulis surel. apalagi tulisan-tulisan di sini punya nuangsa tasawwuf. Kembali ke topik mempelajari ilmu agama…..Bahwa dalam belajar ilmu agama mutlak kita harus punya guru (mursyid) dimana ilmu yang diajarkannya punya silsilah sampai kepada RasulullahSAW…. contoh kecil saja…. pertama kali saya berguru, barulah saya tahu bahwa pada tahiyyat akhir jari.telunjuk barulah diturunkan apabila atau setelah salam yang kedua (memalingkan)muka ke kiri sebagai akhir dari suatu rangkaian shalat dimana selama ini sebelumnya baru salam yang pertama kali (memalingkan muka ke kanan) jari telunjuk sdh saya turunkan…ini versi guru saya…wassalam

  35. SAPIHITAM on said:

    WA’LAIKUMSALAM WR.WB

    Salam kenal buat bung didi andi maggu

    Ulasan bung sangat indah dan saya tertarik mengenahi guru (mursyid) lantas pengertian guru (mursyid) itu bagaimana ?
    1. Legalitas atas apa?
    2. Daftarnya Bagaimana ? Dimana Alamatnya ?
    3. Siapa Guru ( Mursyid ) itu ?
    4. Namanya Siapa ?
    5. Syaratnya apa ?
    6. Apakah saya bisa jadi Muridnya ?

    Kutunggu bung didi yah….. Semoga kita bisa bertemu lagi.

  36. Bang Buan on said:

    Sungguh menarik tulisannya. Memang benar sekali, takkan mungkin mempelajari ilmu tanpa guru. Saya sendiri adalah pengamal Thariqot Naqsyabandiyah, dibawah bimbingan Guru Mursyid saya, yang saya hormati dan saya muliakan, Saidi Syekh H. Amir Damsar Syarif Alam, QS.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: