Motivasi,  Tasauf

PARADOKS SORITES

Supartono atau akrab di sapa dengan Mbah Tono adalah orang paling bahagia karena masuk kedalam salah seorang calon jamaah Haji yang berangkat tahun 2024 ini. Mbah Tono berprofesi sebagai pemulung dengan pendidikan tidak tamat SD. Bukan seorang yang kaya apalagi dapat warisan, dari profesi sebagai pemulung dengan penghasilan sangat kecil dan tidak menentu, dia menyisihkan penghasilannya tiap hari. Kata Mbah Tono “Kadang Rp 3 ribu rupiah per hari. Kadang Rp 5 ribu. Paling banyak pernah menabung Rp 15 ribu,”. Setelah 26 tahun istiqamah, Mbah Tono berhasil mencapai impiannya yaitu menunaikan ibadah haji. Apa yang dilakukan dan dialami oleh Mbah Tono ini dikenal dengan Paradoks Sorites

Ada kisah Yunani kuno yang dikenal sebagai Paradoks Sorites. Sorites dalam bahasa Yunani diturunkan dari kata soros yang berarti tumpukan. Jelasnya , paradoks Sorites mengatakan bahwa sesuatu yang kecil / sedikit jika hanya sekali atau dua kali terjadi maka tidak akan terlihat dampaknya. 

Dalam satu rumusan paradoks itu adalah sebagai berikut: Dapatkah sebuah koin menjadikan seseorang kaya? Bila Anda memberi seseorang setumpuk koin bernilai 1.000 rupiah, Anda tidak akan mengatakan bahwa ia kaya. Namun, bagaimana jika Anda menambah setumpuk lagi? Setumpuk lagi? Dan setumpuk lagi? Terus seperti itu. Pada suatu ketika Anda harus mengakui bahwa tak seorang pun dapat menjadi kaya kecuali koin dapat menjadikan demikian. (Atomic Habits, James Clear).

Jika dilihat besarnya biaya Haji, mustahil Mbah Tono bisa menunaikan ibadah haji. Bermula dari mimpi tangannya digandeng seseorang mengelilingi ka’bah tahun 1998, disitu Mbah Tono mempunyai semangat naik haji karena dia merasa dirinya dipanggil untuk kesana. Impian itulah yang membuat Mbah Tono sabar dan tekun menabung.

Tidak ada yang menyangka kalau seorang anak dianggap paling bodoh di pinggir sungai Nil Mesir kemudian menjadi ulama paling cerdas di zamannya, Beliau adalah Ibn Hajar Al Asqalani. Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian). Tetesan Batu yang mampu melengkungkan batu lah yang membuat Beliau tersadar di suatu ketika.

Karena sering dianggap bodoh, Beliau putus asa dan akhirnya memutuskan untuk pulang meninggalkan sekolahnya. Di tengah perjalanan pulang, dalam kegundahan hatinya meninggalkan sekolahnya, hujan pun turun dengan sangat lebatnya, mamaksa dirinya untuk berteduh didalam sebuah gua. Ketika berada didalam gua pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang menetes sedikit demi sedikit jatuh melubangi sebuah batu, ia pun terkejut. Beliau pun berguman dalam hati, sungguh sebuah keajaiban. Melihat kejadian itu beliaupun merenung, bagaimana mungkin batu itu bisa terlubangi hanya dengan setetes air. Ia terus mengamati tetesan air itu dan mengambil sebuah kesimpulan bahwa batu itu berlubang karena tetesan air yang terus menerus. Dari peristiwa itu, seketika ia tersadar bahwa betapapun kerasnya sesuatu jika ia di asah trus menerus maka ia akan manjadi lunak. Batu yang keras saja bisa terlubangi oleh tetesan air apalagi kepala saya yang tidak menyerupai kerasnya batu. Jadi kepala saya pasti bisa menyerap segala pelajaran jika dibarengi dengan ketekunan, rajin dan sabar.

Mbah Tono dan Ibnu Hajar adalah dua contoh dari manusia yang keluar dari keterbatasannya karena istiqamah, melakukan secara terus menerus akhirnya membuahkan hasil. Begitu juga dengan zikir atau ibadah lainnya, bisa berwujud hasil setelah dilakukan secara terus menerus tanpa berhenti sehingga membuahkan hasil.

Suatu ketika Guru Sufi berkata, ”Ilmu ini (tarekat) ibarat tanaman tua, kelapa, setelah ditanam 7 tahun baru berbuah dan nanti setelah berbuah dia tidak akan berhenti berbuah”. Jika hasil zikir itu berwujud mengenal Allah, hati tenang dan bahagia dunia akhirat, maka dibutuhkan kesabaran untuk secara istiqamah melakukannnya, terus, terus dan terus tanpa berhenti. Allah sendiri telah menjamin bahwa amalan paling disukai adalah amalan yang sedikit namun dilakukan secara terus menerus.

Melaksanakan Zikir, Tawajuh, Suluk, Ziarah dan Ber’ubudiyah secara istiqamah dan nanti menjadi kebiasaan yang dilakukan secara otomatis tanpa terbeban. Apa yang dilakukan secara otomatis tanpa terbeban itu dalam bahasa agama disebut TAQWA. Paradoks Sorites dengan penjelasan tumpukan koin uang tadi bisa juga dalam bentuk non materi yaitu energi zikir. Zikir yang istiqamah laksana genarator pembangkit energi listrik, Frekwensi zikir seseorang makin lama makin jauh dan nanti pada akhirnya akan berbuah, bersinar, mampu menyelamatkan dirinya dan lingkungannya, membawa misi dari Nabi SAW yaitu menjadi Rahmatan Lil ’Alamin.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca