Tokoh Sufi

Selamat Jalan Habib…

Tadi pagi tiba-tiba Saya teringat Habib Abdurahman ( Al- Habib Abdurrahman bin Syech bin Salim Al-Attas) karena ucapan Beliau tentang syafaat Nabi. Saya baru tahu ternyata Beliau sudah wafat 5 Juli yang lalu, semoga Allah merahmati Beliau. Dalam usia 86 tahun (tahun 2014), Beliau masih sangat segar, sanggup naik turun bukit di Yaman. Tadi pagi Saya ingat momen ketika selesai sarapan di kota Tharim, Yaman, Beliau berkata, “Syafaat Nabi itu di khususkan untuk ummatnya yang berdosa, ibadahnya kurang, untuk yang rajin ibadah dan rajin shalawat, syafaat tidak diberikan kerena memang tidak diperlukan”. Sering kali Habib Abdurahman berbagi makanan kepada Saya ketika makan bersama dan pernah satu ekor ayam dibagi dua, ukuran persis sama, untuk Beliau dan untuk Beliau. Saya tidak pernah menanyakan kenapa Beliau selalu berbagi makan hanya untuk Saya, sedangkan untuk yang lain tidak.

Salah satu hal paling menarik dari sosok Habib Abdurahman adalah Akhlak, Adab dan sopan santun Beliau. Ketika Habib Salim As Syatiri ceramah duduk di kursi, Habib Abdurahman duduk di bawah dengan posisi duduk tawaruk (duduk zikir) mendengarkan dengan seksama setiap kata yang di ucapkan oleh Habib Salim As Syatiri. Beliau bahkan melayani Habib Salim As Syatiri dengan baik, menyiapkan air minum, memberikan apa yang dibutuhkan oleh Habib Salim As Syatiri. Satu hal yang menarik adalah Habib Abdurahman tidak pernah berguru kepada Habib Salim, tapi kepada ayahnya yaitu al-Ḥabīb al-Ḥasan bin ‘Abdillāh bin ‘Umar As Syatiri. Kepada anak Gurunya pun Beliau sangat menaruh hormat, bisa dibayangkan bagaimana Adab Beliau kepada Gurunya sendiri.

Ketika berada di Yaman lah Saya menyadari bahwa tasawuf lewat praktik tarekat adalah ilmu yang benar-benar murni, warisan Nabi. Salah satu hal pokok diwariskan adalah Adab, sopan santun baik kepada Guru maupun kepada sesama. Yaman mengajarkan Saya tentang rendah hati…

Syafaat Nabi ditujukan kepada pendosa dan ibadahnya kurang” hal yang menarik untuk ditelaah. Nabi mengharapkan ummatnya mempunyai ketersambungan kepada Allah sehingga ibadahnya bernilai, diterima oleh Allah dan dosanya otomatis terhapus. Jika hubungan dengan Allah itu ibarat Cahaya, dosa ibarat gelap, maka kegelapan otomatis hilang jika ada Cahaya. Namun jika ada orang yang masih gelap, Syafaat atau Cahaya tambahan dari Nabi diperlukan agar si pendosa itu terang kelak di akhirat. Syafaat itu ibarat Grasi, Amnesti atau Abolisi yang diberikan oleh Presiden kepada warga negara, itulah hal Istimewa seorang Presiden.

Ada dua orang Habib yang Saya sulit lupakan karena ucapan bercanda Beliau. Pertama Habib Luthfi bin Yahya. Suatu ketika di kamar Beliau, sambil minum kopi, Saya tanya kenapa Habib Luthfi makan daging kambing tiap hari, pagi siang dan malam, apa tidak takut kena penyakit (tinggi kolestrol). Habib Luthfi bilang, ”Kambing itu satu-satu nya hewan yang dibawa oleh Malaikat Jibril (diberikan kepada Nabi Ibrahim pengganti Ismail), kalau dibawa oleh Malaikat itu sudah pasti baik”, kami pun tertawa semua.

Habib Abdurahman bercanda dengan hal yang mirip, tentang makanan. Beliau cerita bahwa Sayyidina Ali pernah mengalami masalah tentang hubungan suami istri. Nabi memberikan resep, merendam daging kambing sangat muda, usia 3 bulan, dalam madu dalam waktu tertentu. Saya iseng nanya, ”Bib, kenapa kambing usia 3 bulan?”, cepat sekali Beliau menjawab, ”Karena belum ada dosa nya!”, kami pun tertawa.

Pertemuan terakhir Saya dengan Habib Abdurahman, di Bandara Sukarno-Hatta, sepulang dari Yaman, penghujung bulan Sya’ban tahun 2014. Sejak itu tidak pernah jumpa lagi.

Selamat Jalan Habib, terimakasih atas ilmunya, suri tauladannya, terimakasih telah memperkenalkan Saya dengan dunia Yaman, dengan Segenap Ulama dan Auliya Yaman, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, Semoga Allah senantiasa melimpahkan kasih sayang-Nya kepada Habib…

2 Comments

  • Mustari

    Pada tahun 1980-an, di daerah kami di tanah Bugis ada seorang mursyid yang dikenal dengan nama Sayyid Muhammad. Beliau dikenal sebagai sosok yang sangat tawadhu, sopan, dan santun dalam tutur kata maupun sikap. Meski dihormati banyak orang, beliau selalu merendah dan tidak pernah merasa lebih tinggi dari siapa pun.

    Setiap kali berpapasan dengan orang, Sayyid Muhammad selalu lebih dulu memberi salam dan penghormatan. Beliau menundukkan kepala dengan anggukan hormat sambil menyilangkan kedua tangan di depan pusar. Sikap ini beliau lakukan kepada siapa saja, bahkan kepada anak-anak yang sedang bermain di pinggir jalan. Jika melewati mereka, beliau akan lewat dengan gaya menunduk seperti sedang rukuk sambil meminta permisi dengan lembut.

    Beliau tidak pernah membiarkan tangannya dicium, bahkan oleh murid-murid atau orang-orang yang sangat menghormatinya. Setiap kali ada yang mencoba mencium tangannya, beliau segera menariknya dengan halus dan tidak membiarkan itu terjadi.

    Yang juga sangat dikenang adalah sikap kasih sayang dan kepeduliannya, termasuk kepada orang gila. Pernah beberapa kali terlihat, jika bertemu orang gila di jalan, Sayyid Muhammad tak segan melepas baju atau sendalnya lalu memberikannya kepada orang tersebut. Tidak pernah tampak ada rasa jijik atau takut di wajah beliau.

    Beliau selalu berjalan sendirian tanpa pengawalan, tidak pernah diiringi murid atau orang-orang di sekitarnya. Pandangan matanya saat berjalan selalu tertuju ke bawah, tidak pernah menatap tinggi atau dengan kesan angkuh.

    Ada satu pesan beliau yang masih diingat oleh banyak orang, beliau melarang memetik daun dari pohon jika tidak ada keperluan. Menurutnya, setiap helai daun sedang bertasbih, dan jika dipetik sembarangan, maka akan mengurangi zikir yang sedang dilantunkan oleh makhluk Allah itu.

    Suatu hari, beliau membeli pisang dari pasar dan menggantungkannya di sepeda ontel miliknya namun seekor sapi memakan sebagian pisang itu. Beliau tidak marah, justru melepas seluruh pisang tersebut dan memberikannya kepada sapi itu.

    Pernah juga beliau membeli buah-buahan untuk anak-anaknya. Namun dalam perjalanan pulang, buah itu direbut dan diambil habis oleh anak-anak lain di jalan. Beliau tidak memarahi mereka, malah kembali ke pasar untuk membeli buah yang baru.

    Yang paling dikenang masyarakat adalah ketika terjadi musim kemarau panjang. Warga meminta beliau memimpin sholat minta hujan (istisqa) di lapangan. Beliau memenuhi permintaan itu dan memimpin sholat dengan khusyuk. Tak lama setelah beliau menyelesaikan doa, langit yang sebelumnya cerah berubah menjadi mendung. Ketika beliau berdiri hendak meninggalkan tempat duduknya, gerimis mulai turun, lalu disusul hujan deras.

    Itulah sosok Sayyid Muhammad yang kami kenal. Sederhana, rendah hati, penuh kasih, dan dekat dengan semua makhluk.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca