Nasehat,  Pemikiran

DISTORSI

Pada dasarnya orang tidak sepenuhnya menolak keberadaan Tuhan, pada umumnya kalangan atheis atau agnostik bingung dengan berbagai konsep Ketuhanan yang begitu banyak di dunia ini. Mereka tidak menemukan Hakikat Tuhan di dalam hidup. Hal sama sebenarnya dirasakan oleh sebagian orang beragama, hanya meyakini Tuhan, hanya itu tanpa bisa mengenal secara utuh. Bedanya, kalangan atheis lebih jujur mengakui sedangkan kalangan orang beragama tidak mau jujur mengakui. Mereka tidak mengakui bahwa yang diyakini selama ini bukan Tuhan tapi dogma tentang Tuhan. Atheis tidak menolak keberadaan Tuhan, tapi mereka menolak konsep Tuhan yang telah ter-Distorsi dengan dogma-dogma sehingga Sang Ilahi hilang dari kesejatiannya.

Idealnya manusia menemukan Tuhan melewati proses, tahap demi tahap sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim as. Beliau pernah meyakini matahari sebagai Tuhan, ketika matahari tenggelam timbul keraguan. Kemudian meyakini bintang-bintang di malam hari sebagai Tuhan, ketika bintang itu hilang, timbul keraguan di dalam hati Nabi Ibrahim. Secara akal hal ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin Ibrahim sebagai calon Nabi harus meyakini matahari dan bintang sebagai Tuhan padahal keduanya juga sudah disaksikan sejak Ibrahim lahir. Al-Qur’an selalu menceritakan sesuatu dalam bentuk metafora agar akal manusia mau berfikir.

Ibrahim meyakini matahari sebagai Tuhan adalah sebagai simbol awalnya Beliau menerima konsep Tuhan yang disimbolkan. Jika zaman sekarang, Ibrahim akan meyakini akan konsep Yesus dan Krisna sebagai Tuhan. Ka’bah sebagai rumah Allah dan beribadah menghadap sajadah dan dinding tanpa kehadiran Ilahi, beginilah awalnya keyakinan Ibrahim. Para agnostik dan atheis sebagian menolak Tuhan bukan karena mereka menolak sosok super di luar manusia tapi mereka menolak konsep Tuhan yang di sodorkan kepada mereka oleh beberapa agama. Kemudian Ibrahim menolak Tuhan dalam wujud apapun, karena Tuhan terbebas dari itu semua.

Ibrahim kemudian menganut paham ”Malam”, meyakini bintang sebagai Tuhan. Nabi Ibrahim kalau hidup zaman sekarang mengalami fase meyakini lewat melatih Kesadaran (conciousness) dengan meditasi dan kontemplasi akan mengantarkan kepada Sang Maha Kesadaran, mengantarkan kepada Realitas sesungguhnya. Ibrahim sebagai Bapak Tauhid awalnya meyakini bahwa lewat mengukur level kesadaran, dia setahap demi setahap akan mencapai tahap penyatuan dengan Sang Ilahi. Ibrahim kemudian menjadi bingung, kenapa Level of Consciousness (LOC) sering kali dinaik turunkan oleh gurunya. Ibrahim berulang kali harus membayar uang dalam jumlah tertentu kepada pelatihnya atau Guru Spiritualnya agar LOC nya terus naik dan naik.

Di lubuk hati paling dalam sebenarnya Ibrahim merasakan ada yang tidak beres dengan apa yang dipelajari selama ini. Hidup semakin berantakan sementara janji, janji dan terus janji diberikan. Jika level kesadarannya tinggi hidupnya akan baik akan tercerahkan. Akan tetapi yang dirasakan Ibrahim justru sebaliknya, hidup semakin terpuruk. Ibrahim merasakan keanehan, kenapa semakin tinggi kesadaran semakin muncul iri dengki, hanya kayakinannya yang paling benar. Jika ajaran kesadaranya dikritik sedikit saja, mengamuk sampai ke langit ketujuh, padahal jika agamanya dihina dia tenang saja.

Jangan-jangan Tuhan yang saya cari dalam diri adalah tuhan versi Fir’aun, menuhankan diri sendiri, semua merasa menjadi tuhan, tanpa disadari. Jangan-jangan ajaran Kesadaran yang selama ini saya pelajari adalah cara terampuh merusak keaslian ajaran yang telah saya jalani selama ini dan telah terbukti.

Kemudian Ibrahim menjadi sadar bahwa Level Kesadaran itu hanya konsep karangan manusia yang bingung dengan keberadaan Tuhan, sama bingungnya dengan dia sendiri yang selama ini mencari Tuhan. Ibrahim menjadi sadar bahwa konsep Kesadaran itu hanya cocok dengan penganut Budha yang memang tidak mengenal Tuhan, hanya mengenal kesadaran. Seorang penganut Budha bermeditasi untuk mencapai pencerahan, hanya mengamati gerak naik turun nafas, fokus pada itu, melupakan apapun. Ibrahim begitu bingung ketika mata terpejam, muncul percikan cahaya seperti bintang yang disuruh yakini itu sebagai proses melewati dirinya, menemukan diri yang sejati. AKU bukan aku, dan Ibrahim pun meninggalkan ajaran seperti itu.

Ibrahim yang Islam tentu berbeda dengan pemahaman Budha. Islam agama dialogis sedangkan Budha adalah agama meditatif. Semakin tenang, pengamal Budha akan semakin mencapai pencerahan sementara Islam dalam berbagai ibadah memang ”ribut”, bukan hanya Tahlil dan bacaan shalat yang ”ribut”, shalat dalam kesendirian juga ”ribut”, terjadi dialog antara hamba dengan Tuhan.

Ibrahim akhirnya berjumpa dan mengenal dengan Tuhan yang menciptakan dia, menciptakan seluruh alam ini setelah mengalami ditipu oleh tuhan-tuhan palsu, baik tuhan terang (disimbolkan matahari) maupun tuhan gelap (disimbolkan bintang). Ibrahim telah melewati fase menyembah tuhan terang diluar dirinya dan menyembah tuhan gelap di dalam fikirannya. Ibrahim baru sadar, baik yang diluar maupun di dalam diri yang dicari lewat konsep kesadaran itu keduanya palsu.

Ibrahim telah melewati fase Tuhan yang telah ter-distorsi oleh fikiran sempit manusia. Andai hidup dizaman sekarang, jika tidak  menemukan Hakikat Tuhan bisa jadi Ibrahim akan bernasib seperti Friedrich Nietzsche yang berseru… Gott ist tot!, ”Tuhan telah mati!”.

Jika al-Qur’an adalah Firman Allah yang abadi maka segala kisah di dalamnya juga akan abadi, akan terulang sepanjang zaman berbeda. Ibrahim akan berwujud dalam sosok apapun yang sangat ingin mengenal Tuhan-Nya. Ibrahim bisa meninggalkan tuhan Matahari dan tuhan Bintang karena dia tidak mengingkari hati nuraninya yang menolak segala bentuk ketidak-aslian. Ibrahim bisa berwujud sosok yang taat mengikuti aturan agama tapi belum merasakan kehadiran Tuhan di dalam hidupnya.

Semua manusia pernah salah, semua pernah mengalami distorsi. Begitu Rahman dan Rahim Allah sehingga selama setahun diberikan 1 bulan yang penuh berkah dan rahmah untuk kita kembali kepada keaslian Islam.  

Semoga kita semua mendapat kesempatan untuk memperbaiki…

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca