Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Orang Bodoh (Bag. 2)

SD, SMP, SMA, Universitas (S1, S2, S3) adalah tingkatan pendidikan akal, termasuk pasantren dan IAIN. Pendidikan akal tidak akan mungkin bisa mensucikan qalbu yang membuat batas antara manusia dan Allah terbuka. Sampai kapanpun, selama apapun pendidikan akal yang kita tempuh tidak akan membuat kita bermakrifat kepada Allah. Silahkan belajar di al-Azhar kairo 7 tahun atau di Universitas di Madinah 12 tahun, selama itu pendidikan akal, anda tidak akan pernah bisa mengenal-Nya.

Maka Nabi mengingatkan umatnya, “Semakin bertambah ilmu mu tanpa bermakrifat kepada Allah maka tidak ada yang bertambah dalam ilmu mu itu kecuali bertambah jauh engkau dari Allah”. Jadi selama manusia tidak mengenal Allah (Makrifatullah) segala ilmu yang dipelajarinya akan membuat dia semakin jauh dari Allah. Maka mengenal Allah secara hakiki tidak bisa lewat akal, kecuali kita hanya sampai ke tahap mengenal nama dan sifat-Nya saja. Baca lebih lanjut…

SUFI YANG TERBUANG

Saya menekuni tarekat sejak umur 21 tahun dan sampai saat ini masih istiqamah menjalankan dzikir dan amalan yang diajarkan oleh Guru kepada saya. Beliau sering mengatakan, “Dzikir itu tidak enak tapi hasilnya yang enak”. Melaksanakan dzikir dalam waktu tertentu dan lama membuat kita bosan dan juga menyakitkan, karena itu memang dzikir tidak menyenangkan. Tapi hasil dari dzikir berupa ketenangan hati, kesehatan jiwa dan raga dan diselesaikan segala persoalan hidup adalah “buah” dari istiqamah berdzikir. Setelah melewati suluk demi suluk akan sampai kepada tahap yang diimpikan oleh seluruh manusia sejagad, yaitu berjumpa dengan Allah SWT. Baca lebih lanjut…

ORANG BODOH

 

Melanjutkan apa yang sudah kami tulis di Facebook kemarin tentang orang bodoh dan memang sangat menarik untuk dibahas. Pada dasarnya manusia ingin pandai, pintar dan cerdik dan lebih khusus lagi mereka ingin menampilkan kecerdasannya kepada orang lain. Begitulah sifat dasar manusia yang sulit untuk di ubah.

Baca lebih lanjut…

SIAPAKAH DIA?

Sesungguhnya Aku hanya menerima shalat dari orang-orang yang merendah diri (tadarruk) karena keagungan-Ku dan tiada menyombongkan dirinya di atas makhluk-Ku, tiada terus menerus bermaksiat kepada-Ku, menghabiskan masa harinya berdzikir kepada-Ku, berbalas kasih kepada orang miskin, orang musafir-ibnu sabil, perempuan janda dan orang yang terkena musibah. Ia memancarkan cahaya laksana matahari. Aku lindungi ia dengan Kebesaran-Ku dan memerintahkan malaikat-Ku menjaganya. Aku berinya cahaya dalam menerangi hidupnya. Ia diantara makhluk-makhluk-Ku laksana “Firdaus” gemerlapan di antara barisan surga-surga-Ku. (HR. Bazzar dari Ibnu Umar RA).

Baca lebih lanjut…

Setelah Shalat Subuh (15)

Perlu di kaji secara mendalam oleh segenap umat Islam di seluruh dunia kenapa Nabi menyebut perjuangan melawan hawa nafsu sebagai Jihad Akbar atau perang besar. Perang yang lebih berbahaya dan lebih besar dari perang manapun di dunia. Bukankah perang-perang fisik yang pernah dilalui Nabi sedemikian beratnya sampai pernah gigi Nabi patah di dalam perang tersebut. Tidak kurang ribuan nyawa melawang termasuk orang-orang yang sangat dekat dengan Nabi.

Baca lebih lanjut…

Setelah Shalat Subuh (14)

Hijab (tirai penghalang) terbesar antara manusia dengan Allah adalah dirinya sendiri. Hawa nafsu yang cenderung membawa manusia kepada kesesatan. Pembagian jenis hijab ini telah kami uraiankan dalam tulisan terdahulu (Setelah Shalat Subuh, 13), silahkan di baca. Begitu beratnya manusia melawan dirinya sendiri maka Rasulullah SAW menyebut sebagai Jihad Akbar, atau perang besar dan dalam dunia tasawuf dikenal sebagai Mujahadah (berjihad secara terus menerus melawan hawa nafsu).

Baca lebih lanjut…

Ketika Syekh Ibrahim bin Adham Terusir dari Mesjid

Syekh Ibrahim bin Adham berniat menginap di masjid ketika dingin malam menusuk tulang-tulangnya. Tapi tak diangka, selepas shalat Isya’, saat jamaah yang lain pulang semua, tiba-tiba ia dihampiri seorang imam dan memintanya keluar.

“Saya orang luar. Saya berencana menginap malam ini di masjid,” Ibrahim bin Adham menjelaskan.

“Tidak ada alasan!”

Sufi zuhud itu pun terlibat obrolan panjang dengan si imam, hingga akhirnya kakinya diseret lalu melemparkan tubuhnya ke tempat pembuangan sampah. Pintu masjid pun ditutup.

Baca lebih lanjut…

Post Navigation