Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Kebijaksanaan Sufi diantara Wahabi dan Ahlussunah

Dalam menempuh perjalanan kepada-Nya (Thareqatullah) diperlukan seorang pembimbing yang telah benar-benar ahli untuk bisa membawa para murid sampai selamat kehadirat-Nya, sosok ini kita kenal sebagai Mursyid. Seorang Mursyid minimal dia harus seorang Wali Allah (kekasih Allah), artinya tidak semua Wali Allah bisa menjadi Mursyid dan kalau memakai logika ini Mursyid yang tidak mencapai kualifikasi seorang Wali Allah akan menjadi Mursyid syariat saja, mengajarkan tasawuf tapi tidak bisa membawa rohani murid untuk sampai kehadirat Ilahi. Tidak sedikit orang yang hanya bermodal banyak membaca kitab tasawuf, paham maqam-maqam di tasawuf, mengerti definisi yang sering dipakai dikalangan sufi kemudian dengan berbekal ini dia menceritakan ilmu yang dibaca kemudian orang-orang secara bertahap menjadikannya sebagai Mursyid.

Baca selengkapnya…

MEMANEN APA YANG DITANAM

Mungkin diantara kita pernah mengalami suatu masa dimana sial datang silih berganti dalam hidup, belum selesai masalah yang satu timbul masalah yang lain. Ada berupa masalah rumah tangga (pertengkaran bahwa perceraian), penyakit atau masalah ekonomi. Biasanya orang hanya melihat masalah itu dari satu sisi yaitu yang muncul kepermukaan dan jarang sekali orang melihat sampai ke bawah mencari akar permasalahan.

Baca selengkapnya…

JANGAN MEMIKIRKAN HASIL

مِنْ عَلاَمِة الاِعْتِمِاد على العَمَلِ نُقْصانُ الرجَّاءِ عِند وَجُودِ الَّزلَل

“Tanda seseorang bergantung pada amal dan karyanya adalah bahwa dia akan cenderung pesimis, kurang harapan manakala dia mengalami kegagalan.” (Ibn ‘Athaillāh)

Di awal saya berguru, kira-kira baru 1 tahun, saya membawa seorang teman beragama Kristen Protestan kepada Guru saya. Sebelumnya sudah banyak diskusi yang saya lakukan dengan dia sampai kemudian tertarik dengan tarekat dan ingin berjumpa dengan Guru saya. Saya memperkenalkan dia kepada Guru dan setelah Guru ceramah kira-kira 15 menit, saya disuruh membawa kawan ini masuk ke dalam surau untuk diperlihatkan silsilah Tarekat Naqsyabandi. Silsilah ini menunjukkan bahwa dari Guru sekarang bersambung kepada Nabi Muhammad SAW.

Baca selengkapnya…

Di Level Spiritual Anda Jangan Bertanya

Allah SWT menciptakan alam ini sedemikian sempurna dan teratur tanpa pernah bertabrakan satu sama lain. Siang dan malam, bumi dan langit, planet-planet yang beredar pada orbitnya dengan tepat juga susunan sel manusia dan makhluk hidup lainnya, sedemikian teratur, tuntuk pada hukum yang diciptakanNya yang kita sebut sebagai Sunatullah. Semakin kita renungkan dan teliti terhadap kesempurnaan alam maka akan semakin kagum kita kepada Sang Pecipta dan manusia mau atau tidak mau akan mengakui adanya kekuatan diatasnya yang mengatur semua dengan begitu sempurna.

Baca selengkapnya…

Memandang Dari Dalam

Kalau anda ke Jakarta dan menyempatkan diri lewat di depan Istana Negara, tempat kediaman Presiden Republik Indonesia maka anda akan melihat bangunan putih dengan pilar tersusun rapi di depannya. Dari dulu sampai sekarang bangunan tersebut tidak berubah, jika anda memandang dari luar. Jika anda berkesempatan untuk masuk di dalamnya maka pandangan luar itu akan hilang, berubah total karena isi dalam istana sangat berbeda dengan diluar. Pandangan dinding putih dengan pilar itu akan hilang sama sekali, anda akan melihat karpet merah, ada kursi cantik perpaduan china dan jepara, tidak lupa pula akan lukisan-lukisan bagus terpampang di dinding istana bagian dalam.

Baca selengkapnya…

KALIMAH ALLAH

Pesan Guru yang selalu saya ingat adalah tentang dahsyatnya bala bencana di kurun ke 15 dan kita sekarang sedang menjalani kehidupan kurun 15 Hijriah, sudah berjalan 41 tahu. Bala bencana, huru hara dan fitnah silih berganti datang dan sudah menjadi ketetapan Allah yang harus diterima oleh segenap manusia di dunia ini. Sebagai orang beriman tentu saja Allah telah memberikan senjata tak terkalahkan untuk membentengi diri dari segala macam huru hara dan bencana tersebut.

Baca selengkapnya…

Dunia Sufi Yang Misteri (Bagian 3)

Sudah tertanam di dalam fikiran orang secara umum gambaran seorang sufi adalah orang yang meninggalkan kehidupan duniawi, hidup miskin, berbaju penuh tambalan dan hidup dalam keterasingan dunia. Hal ini disebabkan oleh beberapa litaratur klasik tentang kehidupan sufi yang digambarkan dengan sikap menjauhi dunia, salah satu contohnya Rabi’ah al-Adawiyah. Satu sisi gambaran kesederhanaan sufi itu ada benarnya karena kehidupan sufi di fase awal perkembangan Islam memang sebagai bentuk perlawanan terhadap gaya hidup hedonis yang dipraktekkan oleh penguasa Islam zaman itu, kehidupan yang sangat berbeda dengan cara hidup Nabi SAW.

Akan tetapi kesufian tidak identik dengan kemelaratan, anda miskin dan melarat tidak otomatis menjadi sufi begitu juga kalau anda kaya karena kesufian itu terletak di hati. Di dalam beberapa tulisan saya tulis disini tentang zuhud telah saya jelaskan tentang hakikat zuhud yaitu terlepasnya hati manusia kepada selain Allah, bukan ketiadaan harta.

Baca selengkapnya…

Post Navigation