Nasehat,  Pemikiran,  RAMADHAN,  Rasulullah

Ramadhan Bermula Dari Menyaksikan

Seluruh ummat Islam selama sebulan penuh melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan. Untuk mengetahui apakah sudah saatnya puasa dimulai adalah dengan nampaknya Hilal. Hilal dalam Bahasa Arab terdiri dari 3 Huruf, Ha-Lam-Lam bisa diartikan nampaknya bulan sabit di awal bulan. Ketika kita menyaksikan dengan mata munculnya bulan sabit, maka saat itulah kita bisa melaksanakan puasa. Hilal sebagai syarat memulai puasa dalam makna hakikat bisa diartikan menyaksikan Keagungan-Nya. Hanya orang yang sudah mengenal-Nya di-izin-kan untuk berpuasa karena tanpa itu nanti puasa hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi SAW.

Tentang Hilal sebagai petunjuk untuk memulai dan mengakhiri puasa Ramadhan, Nabi SAW bersabda “Sesungguhnya Allah telah menetapkan hilal itu sebagai pertanda waktu bagi kepentingan manusia, maka berpuasalah karena melihatnya (hilal bulan Ramadhan) dan berbukalah kalian karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika tidak kelihatan, maka hitunglah ia (bilangan bulan Sya’ban atau bulan Ramadhan) menjadi 30 hari.”

Sebenarnya bukan hanya puasa sebagai level lebih tinggi dari ibadah dalam Islam mempunyai syarat menyaksikan atau mengenal untuk bisa melaksanakan dengan sempurna, shalat, zakat dan menunaikan haji pun memiliki syarat utama itu yaitu mengenal (makrifat) setelah berulang kali menyaksikan (musyahadah).

Syarat utama orang bisa ber-Islam sehingga bisa melaksanakan segala kewajiban di dalamnya adalah MENYAKSIKAN atau Syahadah. Tanpa Syahadah segala apapun akan tertolak dan tidak diterima sama sekali. Bermula dengan mengucapkan Dua Kalimah Syahadah sebagai syarat ”mendaftar” masuk Islam, begitu mudah dilakukan karena hanya berupa ucapan. Orang kafir dibelahan dunia manapun jika di tuntun, dalam hitungan menit bisa meniru ucapan Dua Kalimah Syahadah tersebut. Ibarat masuk Universitas, mengucapkan dua kalimah syahadah ibarat mendaftar masuk dengan syarat sedemikian gampang, sedangkan menjadi Islam, menjadi Muslim adalah ibarat menjadi Sarjana dan level berikutnya ibarat melanjutkan lagi pendidikan ke strata lebih tinggi; menjadi Mukmin, Muttaqin, Mukhlisin dan seterusnya.

Sama halnya kita menempuh pendidikan di Universitas, proses menjadi Sarjana itu setelah menyelesaikan kurikulum yang telah ditetapkan, terjadi proses repetisi (pengulangan) yang terkadang sangat membosankan tapi itu harus kita lewati. Datang ke kampus, dengarkan kuliah dari dosen, mencatat, melaksanakan tugas, ujian dan itu terus menerus di ulang. Pernahkah kita membayangkan bahwa ber-agama juga seperti itu sampai kita mencapai tahap ber-Islam, total berserah diri kepada Sang Pencipta?

Terlalu naif rasanya meyakini bahwa Islam itu seperti apa yang kita dapat sejak umur 10 tahun, shalat, puasa Ramadhan, zakat dan itu terus menerus di ulang tanpa menemukan makna spiritual sama sekali. Apa beda Al-Fatihah yang kita baca ketika remaja dengan Al-Fatihah ketika sudah uzur, apakah tetap sebagai bacaan atau sudah sampai ke tahap dialog?

Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat setelah mengalami fase dakwah 13 tahun lamanya, lalu ibadah apa yang dikerjakan Beliau dan sahabat dalam fase sebelum shalat itu turun? Nabi melaksanakan shalat setelah berjumpa dan menyaksikan Tuhannya di malam Mi’raj dan shalat memang dilaksanakan untuk mengenang, mengingat kembali momen perjumpaan itu. Shalat tujuannya untuk mengingat Allah, tersambung atau terkoneksi kepada Allah, itulah sebabnya shalat menduduki posisi ibadah paling penting di dalam Islam.

Ketika koneksi tidak terjadi maka secara otomatis jiwa kita akan terkoneksi kepada gelombang lain yaitu gelombang al-Iblis yang sangat berbahaya yang menyesatkan jiwa manusia. Itulah sebabnya shalat dilaksanakan 5 kali dalam sehari semalam, ditambah dengan shalat-shalat sunnat agar KONEKSI itu terjadi. Mungkin kita tidak ter-koneksi (khusuk) di shalat subuh, diulang dishalat zuhur dan seterusnya bahkan ada shalat tahajud yang kemungkinan terkoneksi lebih mudah karena dalam suasana hening bening sehingga lebih mudah kita memutuskan keterikatan dengan hal-hal duniawi.

Nabi berdakwah selama 23 tahun, dan 13 tahun Beliau habiskan hanya untuk mengenalkan manusia dengan Sang Pencipta yaitu Allah. Sisa umur Nabi (10 tahun) mengenalkan 4 rukun Islam lainnya. Nabi memfokuskan Iqra’ (Zikir) untuk menanamkan kalimah Allah ke dalam dada sahabat karena itu merupakan hal teramat pokok. Jika kalimah Allah itu sudah tertanam maka sah kita melakukan ibadah-ibadah lain. Tanpa kalimah Allah di dalam diri, tanpa cahaya-Nya maka ibadah hanya gerak fisik semata. Shalat itu boleh dilakukan dengan sempurna memenuhi rukunnya; berdiri, rukuk, duduk dan sujud, tapi juga bisa dilakukan hanya duduk (jika sakit) bahkan bisa dengan berbaring dan dengan isyarat mata jika badan sudah sedemikian lemah, artinya inti shalat itu bukan pada gerakan fisiknya tapi pada KONEKSI nya.

Maka dalam proses Nabi berkhalwat di guha hira, koneksi itu tentu saja sudah terjadi dan sahabat yang mengikuti metode Nabi juga mengalami hal yang sama. Tidak mungkin para sahabat bisa sampai ke tahap IMAN tanpa menyaksikan tanpa merasakan. Iman itu sendiri adalah perbuatan hati, perbuatan jiwa dan hanya bisa terjadi setelah kita menyaksikan. Jika tidak maka iman kita hanya dogma saja, hanya mengikuti nasehat orang tua atau ucapan ulama tanpa sampai ke tahap RASA.

Puasa itu untuk-Ku” demikian Allah mengingatkan kita betapa khususnya ibadah ini. Bisa dibayangkan kita ingin mempersembahkan sesuatu tapi tidak tahu kepada siapa kita harus persembahkan karena tidak mengenal sama sekali. Atas dasar inilah berulang kali kami tulis disini bahwa hal terpokok dari semua adalah mengenal Allah (Makrifatullah) setelah mengalami proses menyaksikan (musyahadah). Puasa yang dilakukan tanpa mengenal, tanpa ada kalimah Allah di dalam dadanya maka hasilnya adalah hanya merasakan lapar dan dahaga saja sebagaimana sabda Nabi “Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” 

Karena ”Puasa itu untuk-Ku” maka Dia Yang Maha Esa, Maha Sendiri tidak mungkin menerima apapun dari makhuk dalam bentuk apapun. Jadi puasa harus dari Dia sendiri baru bisa diterima disisi-Nya. Sehebat apapun manusia berpuasa, tidak makan dan minum, menjaga lisan dan memperbanyak ibadah tetap saja dimensi ibadahnya pada dimensi manusia tidak akan sampai kepada dimensi Ilahi. Maka caranya adalah menemukan koneksi kepada-Nya, dengan ketersambungan itu dalam proses puasa, Allah senantiasa hadir, tersambung maka pada hakikatnya Puasa itu adalah dari Dia, Oleh Dia dan Untuk Dia, ini yang sebenarnya.

Puasa tahap ini yang mendapat dua kenikmatan, Berjumpa dengan-Nya dan berbuka (dengan makanan yang enak). Jika tidak maka hanya satu kenikmatan yang kita dapat yaitu kenikmatan jasmani dimana saat berbuka bisa makan makanan enak dan minum minuman enak sedangkan jiwa tidak merasakan apa-apa tetap gersang tanpa kehadiran-Nya.

Puasa bulan Ramadhan itu sebenarnya adalah puasa latihan agar kita bisa melewati 11 bulan berikutnya dalam kondisi bertaqwa, terasa ringan dan gembira dalam melaksanakan segala perintah-Nya. Puasa sebenarnya justru setelah bulan Ramadhan, dalam bulan-bulan selanjutnya. Ramadhan ibarat puasa anak-anak, apalagi kita tinggal di daerah mayoritas muslim, semua dimudahkan. Orang akan memilih puasa bisa jadi karena tidak ada restoran yang buka, andai berani buka langsung digerebek. Anak-anak memang senang dimanja, dihormati dan diberi fasilitas. Kita juga akan mudah melaksanakan shalat malam karena berjamaah, termasuk membaca al-Qur’an karena sudah menjadi tradisi dilaksanakan di semua mesjid. Pertanyaannya apakah semua itu mampu kita lakukan dibulan lain? Apakah kita mampu puasa diam-diam, disaat makanan berlimpah dan orang bebas makan? Saat itulah sebenarnya kita berpuasa, melaksanakan puasa-puasa sunnah yang beratnya lebih berat dari puasa bulan Ramadhan.

Kita telah melewati puluhan Ramadhan dan bisa jadi kita melakukan puasa hanya pengulangan saja tanpa mencapai hakikat puasa. Kita hanya mampu melihat Hilal zahir untuk memulai puasa tanpa mampu melihat hilal bathin yaitu menyaksikan Allah sebagai syarat sah kita melaksanakan puasa.

Ibarat masuk universitas, bisa jadi walaupun umur sudah 60 tahun dan tamat kuliah universitas al-azhar mesir, bisa jadi dalam ber-Islam, kita hanya baru sampai tahap mendaftar tanpa pernah ikut kuliah apalagi menyelesaikan. Kita hanya bisa mengisi formulir mendaftar (syarat paling mudah) tanpa pernah mengalami proses perkuliahan. Nabi menyebutkan “Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” Allah Ta’ala menyebut Islam sebagai “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam…

Dalam surat Ali Imran, 85 “Dan barangsiapa mencari agama selain agama Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi.”

Begitu tinggi, begitu mulia, begitu luar biasa dan HANYA Islam agama yang di terima disisi-Nya, pernahkah kita renungi jangan-jangan kita belum ber-Islam jika memakai standar di atas. Bisa jadi kita hanya mengenal Islam secara kelembagaan (formalitas) tidak pernah mengenal Islam secara spiritual. Kita mengenal Islam secara zahir yang dipelajari oleh akal tapi tidak pernah bisa mengambil Islam dari sisi-Nya, Islam yang hadir di dalam dada Nabi SAW yang ditransfer dari sisi Allah SWT.

Sama halnya belajar di Universitas, dibutuhkan ketekunan, kesabaran dan keuletan, mengulang hal yang mirip tapi tanpa sadar terus bertumbuh. Kita wajib me-Riset, meneliti keaslian dari Islam kita dengan pembuktian sehingga menjadi haqqul yaqin, bukan ikut-ikutan. Jika memang Islam itu sangat luar biasa, sangat hebat maka dibutuhkan seumur hidup untuk bisa mencapai tahap SARJANA nya. Tentang ini Nabi bersabda, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga liang lahat”.

Syarat semua itu tentu kita harus menemukan Professor yang ahli sebagai pembimbing kita. Guru Besar yang telah teruji dan terbukti agar kita bisa menjadi SARJANA dan tingkatan selanjutnya. Jika kita tidak mengalami pengalaman spiritual sama sekali sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam al-Qur’an, seperti ucapan Nabi dalam hadist atau sebagaimana karya-karya ulama dalam berbagai kitabnya, bisa jadi selama ini kita belum berjumpa dengan Sang Profesor tapi hanya sampai tahap mendaftar, duduk di meja pendaftaran yang dilayani dan dibimbing oleh pegawai magang….

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca