Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Tasawuf”

QADIM

Tarekat tidak lain adalah metodologi warisan Nabi untuk melaksanakan hukum-hukum Allah (syariat) agar sesuai dengan standar yang di inginkan oleh Allah terutama dalam hal ibadah. Segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia akan berada pada dimensi manusia tidak mungkin sampai pada dimensi Allah yang Maha Gaib dan Maha Tak Terjangkau. Memakai bahasa tasawuf, “Segala yang keluar dari baharu tetap menjadi Baharu tidak mungkin menjadi Qadim, hanya yang berasal dari Qadim lah apapun menjadi Qadim”. Ketika Allah SWT berkata-kata maka itu menjadi firman dan bersifat qadim karena berasal dari qadim sedangkan firman Allah yang di ucapkan oleh mulut manusia tetap menjadi baharu, tidak menjadi qadim.

Baca selengkapnya…

TAUHID, PENDANGKALAN AKIDAH DAN TASAWUF

Jika diberikan pertanyaan apa itu Tauhid, maka ini pertanyaan yang paling mudah dijawab oleh segenap umat Islam diseluruh dunia. Tauhid adalah pokok ajaran Islam, keyakinan utama, bahwa yang disembah dan diyakini sebagai Tuhan hanyalah satu yaitu Allah SWT. Dalam persoalan Tauhid tidak akan terjadi perbedaan pendapat, seluruh ummat Islam berbagai macam aliran akan memberikan jawaban yang sama, inilah akidah ummat Islam, Menuhankan yang Satu.

Bicara tentang Tauhid tidak terlepas dari Syariat Islam itu sendiri, karena ajaran Tauhid berada pada tahap syariat level akal karena itu memang yang paling fokus kepada masalah Tauhid adalah kelompok yang hanya mengkaji Islam dari tataran zahir (syariat) termasuk wahabi dan kelompok sejenis mereka. Isu “Pendangkalan Akidah” juga kerap kita dengar dari kelompok sejenis, tujuan baiknya tentu untuk menjaga umat Islam agar tidak keluar dari agamanya dan rusak akidahnya. Tujuan sempitnya kadang sebagai barang dagangan agar ceramahnya di dengar lebih seru dan orang hanya ikut apa yang dia kampanyekan. Isu “Pendangkalan Akidah” yang kita juga tidak bisa ukur seberapa standar Dalamnya akidah yang dimaksud memang sangat laku di masyarakat, membangkinkan semangat beragama dan disisi lain terkadang meresahkan, karena isu “Pendangkalan Akidah” ini terkadang mirip dengan isu penculikan anak yang memang tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Baca selengkapnya…

Tertinggal 1000 Tahun

Imam Al Ghazali pernah menyindir orang-orang yang terlalu terpaku dengan bacaan tanpa mau naik ke level berikutnya yaitu mempraktekkan apa yang telah dibaca. Beliau berkata, “Kitab ibarat tongkat untuk membantu engkau berjalan, ketika engkau telah pandai berjalan maka tongkat itu justru menghambat mu untuk melakukan perjalanan”. Ungkapan al Ghazali itu lebih khusus ditujukan kepada orang-orang yang mencari kebenaran lewat membaca apakah filsafat atau ilmu lainnya dan hanya bersandar kepada dalil-dalil dimana suatu saat dia sendiri akan ragu dengan dalil-dalil yang dimilikinya, seiring berjalannya waktu.

Kita harus akui bahwa puncak peradaban Islam ini berada pada saat 1000 tahun lalu, dimulai dengan kesempurnaan ilmu fiqh yang disusun oleh 4 mazhab besar (dari kalangan suni) dan juga fiqh di kalangan Syiah, kemudian dilanjutkan dengan ilmu Tauhid, ilmu Kalam dan kemudian juga melahirkan mazhab-mazhab tersendiri, ada yang bertahan sampai sekarang namun ada juga yang hilang di telan zaman.

Begitu sempurnanya ilmu fiqh yang digali oleh ulama-ulama yang hidup 1000 tahun lalu sehingga dizaman berikutnya hanya mengulang atau meng “copy paste” saja karya-karya tersebut untuk digunakan sesuai kebutuhan zaman. Ilmu Fiqh yang berisi hukum-hukum tentu saja lebih abadi sifatnya karena hukum bersifat mutlak. Hanya perlu sedikit saja modifikasi agar bisa menjawab tantangan zaman, tapi intinya fiqh itu bersifat statis.

Berbeda dengan Tasawuf yang merupakan ilmu praktek dan bersifat dinamis, benar-benar harus sesuai dengan perkembangan zaman. Karya-karya Ibnu Arabi di bidang tasawuf seperti Wahdatul Wujud dan beberapa ungkapan unik Beliau di zaman itu (lebih kurang 1000 tahun lalu) sangat relevan karena disaat itu merupakan puncak dari tasawuf, semua masyarakat mengamalkan dan apa yang Beliau tulis sangat sesuai dengan zamannya.

Begitu juga al-Hikam, sebuah karya Agung dari Ibnu Athaillah as-Sakandari, merupakan rujukan utama para pengamal tasawuf diseluruh dunia disamping kitab Ihya ‘Ulumuddin Karya Imam al-Ghazali.

Kitab-kitab yang dikarang oleh ulama 1000 tahun lalu tentu membawa suasana 1000 tahun lalu juga termasuk bahasa yang digunakan, dan akan sangat sulit dicerna oleh manusia yang hidup di zaman sangat modern sekarang ini.

Membaca kitab-kitab klasik itu secara sadar atau tidak sadar akan membawa si pembaca kepada kehidupan masa lalu nun jauh disana, 1000 tahun lampau yang tidak mungkin dijangkau lagi. Karena itu khusus Tasawuf harus bisa dijelaskan dengan ilmu-ilmu terkini agar bisa menjawab segala tantangan zaman.

Kita telah hidup dizaman sangat modern, teknologi mencapai puncak, manusia hidup dalam zaman serba cepat, tentu agama Islam khususnya Tasawuf harus bisa menyesuaikan, paling tidak perumpamaan-perumaaan untuk memudahkan manusia memahami harus juga sesuai dengan kondisi zaman.

Bagaimana cara agar kita tidak tertinggal 1000 tahun?

Tentu harus ada orang yang bisa mengilmiahkan ayat-ayat al Qur’an yang 1000 tahun lalu telah berhasil dijelaskan dengan memakai ilmu sosial, dan sekarang harus bisa dijelaskan dengan ilmu Teknologi pula karena kita hidup di zaman teknologi.

Allah SWT menciptakan alam ini bukan sekedar untuk alam, bukan juga hanya untuk manusia tapi tujuan tertinggi penciptaan alam adalah untuk Men-Tauhid-Kan asma-Nya. Listrik, TV, Satelit dan teknologi tertinggi hadir dizaman sekarang tentu saja untuk men-Tauhid-Kan Dia, itulah tujuan hakiki dari semua itu.

Di era serba cepat ini tidak mungkin semua orang memiliki waktu 7 tahun hanya untuk mengkaji satu kitab Tasawuf dan setelah dikaji pun belum tentu bisa dipraktekkan. Harus ada satu metode cepat sehingga siapapun manusia di muka bumi ini bisa bertasawuf, merasakan kehadiran Allah di dalam hatinya, tanpa harus terikat oleh tempat dan waktu.

Kitab yang di tulis 1000 tahun lalu itu walau bagaimana pun sempurna tetaplah sebuah bacaan, tidak menghasilkan apa-apa tanpa bimbingan Sang Master yang ahli di bidangnya. Seperti ucapan Imam al-Ghazali, “Membantu untuk berjalan”, tapi terkadang anehnya, banyak orang yang memakai tongkat sampai ajal menjelang, tidak pernah bisa berjalan sama sekali.

Tulisan ini adalah pembuka untuk tulisan-tulisan berikut setelah lama saya tidak menulis. Tulisan-tulisan saya di web tidak lagi saya share otomatis ke Facebook, siapa yang membagikan dipersilahkan. Saya tetap fokus menulis tentang tasawuf, tidak akan tergoda untuk menulis tentang politik dengan hiruk pikuk yang membuat hati jadi keruh.

Di akhir zaman ini, marilah kita memperbanyak dzikir mengingat Allah, karena hanya itu benteng kita dalam mengaruhi kehidupan akhri zaman yang penuh fitnah dan bala bencana ini.

sMoga Allah SWT melindungi kita semua…

RISET (Bag 2)

Bagi yang beragama hanya pada tataran kulit atau Syariat sangat aneh menerima pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut. Sama halnya dengan pendidikan sebelum universitas, disana hanya ada dogma saja, meyakini tanpa harus perlu susah payah membuktikan. Hapal semua rumus-rumus kemudian diberi ujian berupa rumus hapalan itu juga, tanpa pernah membuktikan kebenaran rumus tersebut.

Bagi yang beragama hanya pada tataran kulit atau Syariat sangat aneh menerima pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut. Sama halnya dengan pendidikan sebelum universitas, disana hanya ada dogma saja, meyakini tanpa harus perlu susah payah membuktikan. Hapal semua rumus-rumus kemudian diberi ujian berupa rumus hapalan itu juga, tanpa pernah membuktikan kebenaran rumus tersebut.

Tarekat ibarat pendidikan universitas, kelanjutan dari pendidikan Dasar dan Menengah. Di Universitas tidak lagi berlaku dogma-dogma, keyakinan tanpa bisa dibuktikan. Seorang Mahasiswa harus bisa menemukan kebenaran dari setiap teori yang telah di hapal di sekolah. Untuk bisa membuktikan kebenaran teori itu harus dibimbing oleh seorang Profesor ahli yang telah berulang kali melakukan riset sehingga nanti hasilnya bisa sama dengan teori tersebut.

Baca selengkapnya…

Selamat Dan Sukses

Azyumardi“Tasawuf/Sufisme merupakan bagian integral ajaran normatif dan praksis Islam. Meski sepanjang sejarahnya, Sufisme sering digugat kaum literalis/puritanis, Sufisme tetap bertahan ; bahkan terus menemukan momentum dalam zaman Globalisasi sekarang, khususnya di Indonesia. Kehadiran majalah Sufimuda sangat tepat waktu dan dapat memberi kontribusi bagi pemahaman lebih benar dan akurat tentang Sufisme” (Prof. DR. Azyumardi Azra, CBE, Guru Besar, Direktur Pasca Sarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Council of Religions dan World Economic Forum Davos)

FRanz magnisSaya menyambut gembira terbitnya majalah SUFIMUDA. Ajaran tasawuf mengantarkan manusia ke lapisan dalam jiwa di mana ia bersentuhan dengan Tuhan, dasar eksistensi segala-galanya. Karena dasar yang sama itu, meskipun pandangan keagamaan barangkali berbeda, manusia bisa bersatu. Dan karena itu mereka berdamai dan saling menghormati dalam perbedaan. Semoga majalah SUFIMUDA mengantar banyak pembaca ke keluasaan hati yang mau berdamai dengan semua orang apa pun kekhususan keagamaannya. (Franz Magnis Suseno SJ, Rohaniawan Katholik Guru Besar STF Driyarkara Jakarta)

abuya“Majalah ini ditulis dengan bahasa yang sangat mendalam dan indah sekali. Bahasa seperti ini hanya bisa ditulis oleh orang yang sangat paham tasawuf dan mempraktekkan tasawuf secara mendalam. Begitu tahu majalah ini terbit, saya langsung berlangganan selama satu tahun . Buku Perjalanan Sufimuda juga telah saya baca sampai habis, isinya sangat sesuai dengan ajaran taswuf sebenarnya (Abuya Syekh Amran Waly Al-Khalidy, Guru Mursyid, Pimpinan Tasawuf Tauhid Aceh).

nur ichwan

Selamat atas terbitnya majalah sufimuda. kalau distribusinya nasional, ini sangat luar biasa dan akan jadi majalah pertama aceh yang skop-nya nasional, smoga sukses”.

(Dr. Moch. Nur Ichwan, M.A) Ketua Program Studi Agama dan Filsafat Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

 

“Kehadiran Majalah Sufi Muda ini patut disambut dengan suka cita. Sufisme mempunyai akar yang sangat kuat di kalangan Muslim Indonesia. Sayangnya Mohammad iqbaldiskursus keagamaan belakangan lebih banyak menampilkan dimensi legal-formal dan politik yang tidak jarang berkelindan dengan perebutan kekuasaan antar kelompok masyarakat. Majalah ini bisa berperan penting dalam mengangkat kembali nilai-nilai kebijaksanaan  dalam tradisi tasawuf yang sangat dibutuhkan dalam menumbuhkan semangat persaudaraan, perdamaian dan sekaligus menjadi fondasi nilai bagi pengelolaan keragaman agama”.

Dr. Mohammad Iqbal Ahnaf, Sekretaris Program Studi Agama dan Lintars Budaya Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada- Yogyakarta

aan anshoriSebagai jembatan mendialogkan filsafat dan dunia realitas , majalah ini layak diapresiasi.  Kehadirannya akan merangsang tumbuhnya sikap menghargai keragaman yang mulai tergerus oleh gerakan intoleransi diIndonesia. Selamat untuk majalah Sufimuda .

(Aan Anshori  Koordinator Presidium Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIaD) Jawa Timur dan Koordinator Jaringan Gusdurian Jawa Timur) Baca selengkapnya…

Keutamaan Wali di atas Alim

Penghargaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan sangatlah tinggi. Setinggi penghargaan mereka terhadap para pemiliknya (ulama). Betapa taat dan ta’dhimnya para santri kepada para ulama dapat dilihat ketika mereka berbondong-bondong mendengarkan petuah, pengajian dan ta’limnya. Hal ini sesuai dengan petunjuk agama untuk menghargai ilmu dan para pemegangnya.

Baca selengkapnya…

Islam Berlapis… (2)

Kalau hanya mengandalkan asfek zahir Agama, maka kita hanya bisa mengajarkan agama kepada akal fikiran manusia dan manusia yang melaksanakan asfek zahir (syariat) agama maka manusia tersebut menjadi Islam secara zahir, baik akhlaknya dan sesuai perbuatannya dengan perbuatan Nabi. Namun untuk meng-Islam-kan rohani manusia, tentu tidak cukup dengan pengajaran zahir, diperlukan metode yang berbeda, zahir mengajarkan zahir sedangkan rohani harus diajarkan oleh rohani pula.

Baca selengkapnya…

Post Navigation