Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the category “Motivasi”

SADAR HAMBA (Bag. 2)

Begitu mudah kita menyebut diri sebagai hamba Allah namun pernahkah kita bertanya dalam hati apakah Allah mengakui kita sebagai hamba-Nya? Atau pertanyaan lain apa kriteria sehingga kita bisa menjadi seorang hamba Allah. Pada tulisan Sadar Hamba yang saya tulis setahun lalu telah diuraikan secara lengkap bagaimana seorang bisa menjadi hamba Allah dan sadar akan kehambaannya maka pada tulisan ini kami mengutip beberapa hadist dan riwayat orang-orang yang mendapat ujian atau cobaan berat sebagai wujud dari Penghambaannya kepada Allah SWT.

Untuk menjadi seorang tentara, tahap awal diseleksi dari sekian banyak warga negara kemudian dipilih orang-orang berkualitas untuk di tempa menjadi seorang tentara yang hebat. Di dalam pendidikan tersebut berbagai macam ujian diberikan dengan tujuan agar mendapatkan hasil yang baik dan lulus menjadi seorang tentara untuk mengabdi kepada Negaranya. Tidak ada bedanya dengan menjadi Hamba Allah, tentu juga diseleksi sedemikian ketat dari sekian banyak manusia, kemudian diberi ujian dan cobaan, dan yang lulus akan menjadi hamba Allah. Allah telah berfirman: “Apakah manusia mengira bahawa mereka akan dibiarkan mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji?” (QS Al-Ankabut:2-3). Baca lebih lanjut…

“SETAN…Terimakasih Ya!”

Suatu hari Guru Sufi berkata, “Suatu saat nanti kau akan berterimakasih kepada setan”. Ucapan yang terasa asing dan aneh bagi saya. Menjadi bahan renungan dan terus terang awal mendengarnya saya kaget. Kenapa harus berterima kasih kepada makhluk yang di kutuk oleh Tuhan, menjadi musuh abadi manusia sampai akhir zaman. Saya mencari makna lain ucapan Guru, biasa nya seorang Wali Allah berbicara dalam bahasa kias yang memiliki makna lain.

Baca lebih lanjut…

..Dan Batu pun Bisa Berlobang..

tetesanAir mengalir setetes demi setetes akan mampu melobangi batu, namun jika diganti dengan air satu drum atau jumlah yang sama dengan yang telah menetes tapi dituang sekaligus, tidak akan mampu melobangi batu, itulah hebatnya istiqamah.” (Guru Sufi). Baca lebih lanjut…

SADAR HAMBA

sadar-hambaNabi Muhammad SAW mengisi malam-malam yang Beliau lewati dengan ibadah tanpa henti, baik shalat maupun dzikir kepada Allah, hal ini yang membuat ‘Aisyah menjadi heran. Sebagai istri tentu Aisyah ingin suaminya beristirahat ketika malam datang layaknya manusia yang lain karena siang hari Nabi juga tidak sempat beristirahat, mengajar dan membimbing para sahabat jika memang tidak dalam kondisi perang. Ketika perang Nabi sering berada di garis depan, ikut serta bersama kaum muslim berjihad membela agama Allah.

Melihat Nabi sangat tekun beribadah dan seolah-olah melampaui kemampuan fisik Beliau, maka suatu malam  ‘Aisyah berkata, “Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?” Jawab baginda dengan lunak, “Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur. Baca lebih lanjut…

Menghargai Manusia Dengan Keunikannya (3-Selesai)

menikmati-lelahMenghargai setiap keunikan manusia akan membuat diri kita menjadi arif bijaksana dalam bersikap dan bertindak. Anda tidak mungkin menuduh orang lain sombong dan angkuh ketika anda menyadari keunikan ini. “Inggris kita Linggis, Amerika kita Setrika!” diucapkan Bung Karno dengan suara lantang, apakah Bung Karno Sombong dan Angkuh? TIDAK, Beliau sedang membangkitkan semangat untuk rakyatnya.
Baca lebih lanjut…

Menghargai Manusia Dengan Keunikannya (2)

tipe-manusiaCoba anda bayangkan di dunia ini tidak ada amuba, golongan yang tugasnya menghabiskan sisa sampah apapun tanpa dipilah dan dipilih, semua dilahapnya. Tanpa mereka maka dunia dalam sebulan akan dipenuhi dengan sampah dan tidak bisa diuraikan. Berkat kehadiran mereka, sisa makanan yang anda buang dan hewan pun tidak sanggup menghabiskan dengan senang hati dilahap sampai habis oleh amuba atau bakteri penghancur makanan. Baca lebih lanjut…

Menghargai Manusia Dengan Keunikannya

menikmati-lelahTuhan menciptakan manusia dengan berbagai macam sifat dan karakter berbeda yang kesemua itu memiliki fungsi berbeda pula. Orang-orang berani dan tegas akan lebih cocok menjadi pemimpin dalam komunitas tertentu sedangkan orang penakut dan peragu akan cocok pada tempat yang lain pula. Ketika ingin berhjrah, Nabi SAW dan Abu Bakar Shiddiq ra memilih cara diam-diam tanpa diketahui oleh kaum Qurays.

Namun hal berbeda dengan Umar bin Khattab ra,  Ali ra. berkata,” Pada mulanya semua orang Islam yang akan hijrah,mereka melakukan dengan sembunyi-sembunyi. Namun ketika Umar berniat untuk hijrah, dia menggantungkan pedang dilehernya sambil memegang busur panah ditangannya dilengkapi dengan anak panah yang banyak. Pertama-tama dia mendatangi mesjid dan melakukan tawaf dengan tenangnya dan Khusu’. Setelah itu dia mendatangi perkumpulan orang-orang kafir,lalu berkata,”Barang siapa ingin ibunya menangisi kematian anaknya, istrinya menjadi janda, anak-anaknya menjadi yatim, maka keluarlah dan hadapi aku untuk bertempur”. Dia pun mendatangi perkumpulan lainnya sambil berkata seperti tadi. Tetapi tidak ada satu orang kafir pun yang berani menghadapi tantangannya. Baca lebih lanjut…

Post Navigation