Dunia Islam,  Tasauf

TAKZIM, SANTRI DAN ASHABUL KAHFI

Memberi penghormatan kepada yang lebih tua, lebih berilmu atau kedudukannya lebih tinggi di dalam masyarakat, apakah pemimpin biasa, seorang Raja atau tokoh spiritual merupakan hal yang wajar berlaku diseluruh dunia terutama di dunia belahan timur.

Bagi orang Jepang, membungkukkan badan mereka lakukan setiap hari. Anak-anak melakukannya kepada guru, sambil mengatakan “ohayou gozaimasu” atau “selamat pagi” di awal setiap hari sekolah. Pertemuan bisnis juga tidak bisa dimulai sebelum orang membungkukkan tubuh secara formal.

Staf di toko, kondektur kereta api, pekerja hotel, tukang bersih-bersih, dan pengantar paket juga membungkukkan badan kepada orang-orang yang mereka layani. Itu bentuk sapaan yang sopan. Namun bagi orang Jepang, gerakan tubuh itu juga memberikan informasi, setiap variasi nuansanya berbeda dan menyampaikan pesan yang berbeda pula.

Dalam keyakinan Buddha, membungkukkan badan hingga sekarang tetap menjadi tanda pemberian hormat dan kesalehan, yang kemudian diadopsi untuk menunjukkan hormat kepada masyarakat Jepang yang sangat hirarkis.

Di Jepang, ada 3 jenis membukkan badan :

“Eshaku” adalah tipe pemberian hormat yang tidak resmi. Misalnya antara orang berstatus sama, atau jika formalitas tidak terlalu penting. Untuk itu orang hanya perlu membungkuk sekitar 15° selama beberapa detik.

“Keirei” adalah tipe paling umum di dunia bisnis Jepang. Untuk itu orang membungkuk sekitar 30° dan melihat ke tanah dengan jarak sekitar satu meter dari kakinya. Ini digunakan untuk menyapa klien, ikut rapat, atau saat interaksi dengan atasan.

“Saikeirei” adalah indikasi rasa hormat yang mendalam. Untuk itu orang membungkukkan badan dari pinggang sekitar 70° selama beberapa detik untuk menunjukkan kejujuran. “Saikeirei” diberikan kepada orang yang sangat penting, misalnya anggota keluarga raja, untuk mengekspresikan penyesalan, atau meminta sesuatu yang penting.

Jika pria melakukan Saikeirei, maka kedua tangannya harus berada di samping kaki, sedangkan perempuan biasanya menumpukkan kedua tangan di depan tubuh.

“Zarei” adalah tipe membungkukkan tubuh saat duduk, biasanya di atas tikar tatami dalam acara tradisional, misalnya upacara minum teh atau turnamen dalam seni bela diri. Untuk itu orang harus duduk di atas kedua betis, dalam posisi berlutut. Tangan ditempatkan di atas kedua paha.

Cara menghormati raja di dunia Barat meliputi membungkuk atau memberi hormat saat bertemu, menjaga kontak mata yang sopan, dan menggunakan sapaan hormat seperti “Your Majesty”. Dalam acara formal, anggota keluarga kerajaan yang lebih rendah juga diharapkan memberi hormat kepada raja dan ratu, seringkali diwujudkan dengan membungkuk atau hormat saat pertama kali bertemu di suatu acara. 

Jika di dunia timur, menatap mata seorang yang dihormati seperti Raja merupakan suatu pantangan dan dianggap tidak sopan, di Barat justru harus menatap mata Raja untuk menunjukkan sikap menghormati.

Cara menghormati raja di Afrika sangat beragam tergantung pada suku dan wilayahnya, seperti bertepuk tangan dengan cara berbeda di Zimbabwe (perempuan dengan tangan tertangkup, laki-laki dengan tangan lurus) atau meludah (sebagai tanda hormat dan keberuntungan) di antara suku Maasai di Kenya dan Tanzania. Bentuk penghormatan spesifik lainnya dapat berupa membungkuk, memberikan hormat dengan posisi tangan atau gerakan tubuh tertentu, atau mengikuti protokol adat istiadat setempat. 

Pada zaman pra-Islam di Arab, cara menghormati raja (atau pemimpin suku) tidak melalui membungkukkan badan secara harfiah seperti sujud atau bersujud, tetapi lebih melalui penghormatan verbal, pemberian hadiah, dan menunjukkan loyalitas. Membungkuk badan secara berlebihan seperti yang terlihat dalam kebudayaan lain bukanlah praktik umum untuk menghormati raja Arab saat itu. Penghormatan lebih ditunjukkan dengan menunjukkan kekuasaan melalui kepemilikan, kekayaan, dan keturunan yang kuat. 

Maka memang ada hadist Nabi SAW yang melarang untuk membungkukkan badan ketika bertemu, juga melarang berpelukan, hanya berjabat tangan saja, karena Nabi SAW menyesuaikan dengan budaya zaman itu, Nabi mengikuti gaya hidup sesuai dengan zamannya.

Hadist itu tentu saja bersifat umum, hubungan sesama ummat Islam, tapi ummat dan sahabat memperlakukan Nabi tentu saja berbeda, tidak seperti memperlakukan orang biasa.

Banyak hadist yang menceritakan sahabat mencium tangan dan kaki Nabi, begitu juga sahabat mencium tangan dan kaki sahabat yang lain. Ibnu Mas’ud dan Sayyidina Ali pernah mencium tangan dan kaki Abbas Paman Nabi.

Riwayat ini berasal dari Ahmad Ibnu Hamdun Al-Qashar bahwa Imam Muslim pernah mendatangi Imam Al-Bukhari untuk bertanya tentang hadis mu’allal. Ketika bertemu, beliau langsung mencium kening gurunya dan berkata.

دعني حتى أقبل رجليك يا أستاذ الأستاذين وسيد المحدثين وطبيب الحديث في علله

Artinya, “Biarkan aku mencium dua kakimu wahai mahaguru, pemuka ahli hadis, dan pakar dalam kajian ‘ilal hadits.”
Ada satu kelompok dalam Islam yang selalu menghubungkan antara penghormatan terhadap Ulama atau orang yang dihormati dengan menyekutukan Allah (Musyrik). Memang risiko jika kita tidak mengenal Allah dengan benar, akan selalu timbul rasa was was untuk menyekutukan-Nya. Tapi jika kita telah mengenal Allah dengan benar, tentu kita bisa membedakan dengan jelas mana Allah dan mana pula makhluk sehingga hidup lebih indah, tidak khawatir jika kita menghormati sesuatu nanti itu bisa menjurus kepada menyekutukan Allah.

Menghormati ulama atau di sebut Takzim adalah hal yang lazim dikalangan ummat Islam, lebih khusus lagi di kalangan pengamal tarekat. Seorang santri menghormati ustad atau Kiayi nya sebagai wujud rasa saya dan cinta kepada orang yang telah berjasa memberi pelajaran, begitu juga seorang murid menghormati Guru Mursyidnya sebagai wujud rasa sayang dan terima kasih kepada Gurunya.

Kehidupan Nabi bersama dengan para sahabat kemudian diteruskan oleh para ulama bersama ummat atau muridnya, antara Kiayi/Ustad dan Santri, antara Guru Mursyid dan Para Murid, inilah Manhaj Nabawiyah, ajaran Nabi yang wajib kita laksanakan agar kita semua senantisa terbimbing.

Nabi SAW bersabda, “Barang siapa mengunjungi orang alim maka seolah-olah dia mengunjungiku. Barang siapa berjabat tangan dengan orang alim maka seolah-olah dia berjabat tangan denganku. Barang siapa duduk-duduk bersama orang alim maka seolah-olah dia duduk-duduk bersamaku di dunia, dan barang siapa duduk-duduk bersamaku di dunia maka aku tempatkan dia bersamaku pada hari kiamat”.

Dari Anas bin Malik RA. “Bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Barang siapa ziarah kepada orang alim maka sungguh ia (sama seperti) menziarahiku, barang siapa menziarahiku maka seharusnya ia mendapat syafaatku, dan setiap langkahnya diganjar pahala mati syahid”.

Abu Hurairah berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa mengunjungi orang alim maka aku tanggung ia masuk surga”.

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa ziarah (ke makam) orang alim kemudian membaca ayat-ayat alqur’an di sisi makam itu, maka Allah akan membangunkannya gedung di surga sebanyak langkah kakinya, dan setiap satu huruf yang ia baca di atas makam (orang alim itu) akan di ganjar oleh Allah satu gedung dari emas di surga”. (Imam Nawawi dalam Riyadlus Shalihin).

Pada umumnya orang suka menilai sesuatu yang tidak dia pahami. Seorang santri begitu bahagia bekerja di rumah Kiayinya, bahkan dengan rasa bangga, bukan keterpaksaan apalagi perbudakan. Jika memang disebut perbudakan, bukankan Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan, “Aku adalah hamba atau budak bagi siapapun yang mengajarkan ilmu kepadaku, walau hanya satu huruf.

Dunia santri dan juga termasuk dunia sufi didalamnya bukanlah dunia yang bisa dipahami hanya dengan melihat dari luar. Ini adalah dunia Gua (Ashabul Kahfi), orang dalam Gua paham apa yang dialami, hal yang tidak mungkin diketahui oleh orang luar gua, apalagi sampai ke tahap dipahami.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca