Motivasi,  Nasehat,  Pemikiran

Beserta YANG MAHA MENANG

Sejarah mencatat bahwa Nabi Muhammad SAW telah melakukan 27 kali peperangan yang langsung Beliau pimpin dan 47 peperangan yang tidak langsung Beliau pimpin dan kesemuanya memperoleh kemenangan. Berdasarkan penelitian Ibnu Qayyim dalam Kitab Zadul Ma’ad dan pendapat Mahmud Syit Khathab, terdapat 27 perang yang dipimpin langsung oleh Rasulullah. Penelitian mendalam Muhammad Sulaiman al-Manshurfuri dalam Kitab Rahmatan Lil Alamin, menemukan bahwa Nabi Muhammad SAWmengirim utusan dan ekspedisi militer (tidak memimpin langsung) sebanyak 60 kali, tetapi tidak semuanya terjadi pecah pertempuran.

Menjadi bahan renungan kita bersama, Nabi dengan keterbatasan sumber daya saat itu mampu memenangkan hampir semua pertempuran, ada apa?

Jika kita merujuk kepada al-Qur’an, ada janji Allah disana untuk selalu memberikan kemenangan kepada Rasul-Nya, kepada kekasih-Nya.

كَتَبَ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ اِنَّ اللّٰهَ قَوِيٌّ عَزِيْزٌ

Allah telah menetapkan, “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang.” Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Q.S. Al-Mujadalah, 21).

Kemudian Nabi Muhammad SAW sering kali membaca doa..


بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Dengan menyebut nama Allah yang dengan sebab nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat membahayakan (mendatangkan mudharat), dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Doa tersebut berasal sebuah hadist dari Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah seorang hamba mengucapkan setiap pagi dari setiap harinya dan setiap petang dari setiap malamnya kalimat: Bismillahilladzi … (dengan nama Allah Yang dengan nama) sebanyak tiga kali, maka tidak akan ada apa pun yang membahayakannya.” (HR. Abu Daud, no. 5088; Tirmidzi, no. 3388; Ibnu Majah, no. 3388)

Jika merujuk kepada Surat al-Mujadalah 21, ada GARANSI sangat pasti dari Allah, bahwa kemenangan PASTI diberikan kepada Rasul-Nya, akan dimemangkan di setiap pertempuran, dimenangkan dalam segala hal. Kemudian Sejarah mencatat bahwa setelah Nabi wafat, kemenangan-kemenangan itu masih diperoleh oleh para sahabat dan generasi setelahnya sampai kemudian garansi itu meredup kemudian padam, puncaknya ketika pasukan Mongol meluluhlantakkan pusat peradaban Islam di Baghdad, pada 10 Februari 1258.

Jika kita lihat kondisi ummat Islam saat ini, abad ke-21, sangat memprihatinkan. Ummat Islam seperti tidak berdaya sama sekali menghadapi kekuatan besar dunia. Negara Islam cenderung hanya berperan pengamat, senang berada pada zona nyaman yang sebenarnya tidak nyaman sama sekali. Indonesia sebagai negara mayoritas ummat Islam hanya sampai ke tahap ”menghimbau”, ”memohon” dan paling keras ”mengutuk” jika ada ummat Islam yang diserang atau dibunuh.

Kemampuan hanya sebatas mulut ini wajar karena kita bukan negara besar dan kuat. Arab Saudi paling nyaman berada di posisi sekarang, terlindungi oleh Amerika dan sekutunya, tentu mereka tidak ingin negara mereka terusik. Hanya Iran dan Yaman yang berani bertindak, dan kemampuan mereka pun jika dikeroyok oleh Amerika dan sekutu juga akan segera terbungkam, saudara-saudara Islam sudah pasti tidak akan bantu. Ibarat ada kawan kita dipukul oleh sekelompok preman, hanya bisa melihat, tidak berani melerai apalagi menyerang preman terebut karena kondisi kita lemah, cara terbaik yang hanya melihat dari jauh, paling hanya bisa berdoa dan memanjangkan bacaan Qunut yang tidak berefek apa-apa kepada musuh.

Mudah-mudahan pemimpin Islam diseluruh dunia bisa sadar dan sedikit rendah hati, merenung sejenak kenapa? Kenapa jaminan kepada Rasul untuk memperoleh kemenangan itu tidak berlanjut ke zaman sekarang? Ataukah kita sudah tidak tersambung sama sekali dengan Rasul yang beserta dengan Maha Menang itu?

Hari Jum’at penuh berkah ini saya tidak ingin membahas geopolitik tapi jika kita tarik kepada kehidupan pribadi, apakah garansi kemenangan diberikan Allah dalam surat al-Mujadalah, 21 dan hadist Nabi itu telah berlaku dalam kehidupan pribadi kita? Apakah kita misalnya bisa memenangkan ”peperangan” ekonomi agar kehidupan keluarga menjadi lebih baik? Ataukah kita masih berperang disana, untuk mempertahankan hidup.

Kemenangan itu sejatinya dimulai dari dalam diri, inilah yang ditanamkan oleh Nabi sejak awal, menjadi bekal kepada generasi-generasi setelah Beliau. Membawa Sang Maha Menang di dalam diri inilah kunci dari kemenangan apapun baik dunia maupun akhirat. Nabi SAW selama 13 tahun memperkuat pondasi Tauhid, mengekalkan Kalimah Allah di diri para sahabat, baru di sisa kehidupan Beliau lebih kurang 10 tahun, 4 rukun Islam lain dilaksanakan. Jadi, 13 tahun HANYA untuk Kalimah Allah, dan sisanya untuk 4 rukun lain, menandakan bahwa mengekalkan kalimah Allah dalam diri itu adalah pekerjaan sangat penting dan sangat pokok.

Dalam surat al-Hadid ayat 4, Allah berfirman

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: ”Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Tingkatan وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ (..dan Dia Bersama kamu di mana saja kamu berada) tentu tidak dicapai dengan serta merta, harus dengan perjuangan dan menggunakan metodologi (Thareqatullah) yang diwariskan oleh Nabi SAW, sehingga benar kita senantiasa disertai-Nya. Jika Allah Yang Menang, Maha Perkasa menyertai kita, mungkinkah kita kalah?

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca