Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

SURAT ANDA

 

Assalamu’alaikum. Wr.Wb.

 

Bang Sufimuda, pertama saya mohon maaf menulis email ini secara pribadi ke email Anda, membuat Anda repot membuka, membaca dan insya Allah membalas email saya ini. Saya bermaksud mohon bimbingan dari Anda agar saya sedikit demi sedikit bisa memasuki dunia tasawuf karena saya yakin melalui jalur inilah saya dapat benar-benar bertobat atas semua dosa-dosa saya yang Bang Sufimuda pasti akan ngeri apabila saya ceritakan satu per satu. Kalau boleh saya ibaratkan saya ini sudah seperti binatang. Tidak ada satu dosapun yang belum saya lakukan. Astagfirullah… Astagfirullah. Sayapun tidak tahu apakah istigfar saya diterima Allah atau tidak. Saya merasakan tidak satupun doa-doa saya yang dikabulkan Allah. Sepertinya Allah sudah benar-benar berpaling dari saya. Saya takut… takut sekali. Usia saya sudah memasuki usia senja (49 th). Saya harus segera menemukan jalan yang benar. Tobat yang benar. Sujud yg benar. Bimbinglah saya untuk menuju kesana Bang. Apa yg harus saya lakukan. Mulai dari mana. Siapa yg harus saya tuju. Mohon bimbinglah saya.

Semoga bimbingan Bang Sufimuda dibalas oleh Allah SWT. Amin

 

Wass,

Sufi Bayi

————————————

 

Assalamualaikum.

 

 

Salam kenal dari saya. Langsung saja, saya tertarik artikel anda di web anda tentang tarekat, terutama tentang naqsyabandiyah, saya juga (insya Allah) seorang pelaku tarekat, dari tarekat qadiriyah, artikel anda sangat bagus, menggugah semangat jiwa tasawuf, begitu jelas, langsung, dan mudah di pahami. Saya rasa tak ada perbedaan antara kita yg terlalu jauh, karena tujuan kita sama. Hanya saja, maaf, boleh saya ajukan pertanyaan, kalau kita lihat seringkali tayangan di berita di televisi tentang tarekat naqsyabandiyah, menonjolkan unsur perbedaan yg sangat jauh. Misalnya kita ambil contoh pada hari raya idul adha kemarin, secara perhitungan rukyat ataupun hilal , hari raya tsb jatuh pada hari senin, tapi kenapa jamaah marsnaqsyabandiyah merayakan idul adha pada hari sabtu, atau 2 hari sebelumnya. Apakah ini hanya suatu perbedaan ciri saja atau suatu hal yg memang harus berbeda secara mendasar. Sifat berbeda dari tarekat naqsyabandiyah membuat saya khawatir atas tanggapan masyarakat umum, yg menganggap tarekat itu aneh, nyeleneh, atau kadang menganggap tarekat sebagai sebuah aliran sesat. Sayapun memahami kalau terjadi hal demikian. Mungkin menurut saya ini adalah pr buat para pelaku tarekat, agar tasawuf kembali diminati masyarakat umum, dan kembalinya kejayaan islam. Demikian dari saya . Atas perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Assalamualaikum.
Dede Iskandar ditaruma@gmail.com

 

——————————————–

assalamu alaikum wr.. wb

semoga kita semua dalam keadaan sehat dan trus

diberikan kesempatan utk menyebut nyebut namaNYA dan

selalu dalam bimbingaNYA untuk terus lurus berguru.

AMIN..

saya punya masukkan bagaimana kalau tulisan yang ada

diblog sufimuda dinaikkan disurat kabar. seperti

dibatam yaitu harianbatampos.

http://www.batampos.co.id

epaper.batampos.co.id

email: redaksi@batampos.co.id

telp 0778 – 460-000 ext 237

Demikian masukkan dan ide dari saya, karena saya yakin

batampos mau menaikkan tulisan yang ada diblog

sufimuda.

 

Assalamualaikum

 

Manobatam manobatam@yahoo.com

——————————————

 

 

Surat dari miyono_epambudi@yahoo.com ke <sufimuda@gmail.com>

 

Kepada Yth :

SUFI MUDA

Di –

            Tempat.

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Pertama-tama aku memohon kepada Allah swt. agar senantiasa membimbingku dijalan yang diridloiNya, dan memenuhi hatiku dengan cahaya ilmuNya agar hatiku senantiasa bisa menjadi kendaraan akal dan fikiranku didalam berjalan diatas muka bumiNya. Amin. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada jujungan kita nabi besar Muhammad SAW, keluarga, dan para sahabatnya.

Kedua, aku tertarik dengan dunia sufi ketika aku membaca Kumpulan Puisi Sufi, kemudian aku membaca buku Faridudin Attar : Musyawarah Burung, dan Al-Hikam Athailah as Sakandary. Inti dari buku itu , kalau saya tidak salah dalam menyimpulkan, bahwa manusia terikat oleh kehendak Allah , dan oleh karenanya manusia harus senantiasa mencurahkan seluruh hidupnya untuk selalu beribadah kepada Allah . dan dalam beribadah itu manusia harus membersihkan hatinya dari segala berhala : baik itu harta benda, wanita, dan tahta. Barulah manusia itu bisa sampai menyatukan dirinya dengan Tuhan ( Allah swt. ) , bukan bertemu dengan Allah sebagaimana yang Saudara tadi sebut dalam berchating dengan saya : “Soefi Moeda: Ya, kita harus berbaiat kepada Guru Mursyid jika kita ingin benar2 merasakan perjumpaan dengan Tuhan…Dulu Almarhum bapak saya pernah bilang seperti itu. Kira-kira begini : kalau kamu sudah cukup berpuasa, dan hatimu bersih, engkau akan merasakan kehadiran Allah swt. dalam hatimu. Kamu bisa bertemu dengan seseorang yang mirip dengan kamu. Saat itulah kamu bisa merasakan kedamaian dan ketenangan yang luar biasa. “ kira – kira begitu kurang lebihnya. Tapi itu terjadi dalam mimpi. Alasan Almarhum bapak, karena hal yang ghaib tidak mungkin hadir dalam diri seseorang dalam keadaan terjaga. Karena bentuk lahiriah manusia itu kotor, dan Yang Ghaib itu suci . Oleh karena itu dibutuhkan hati yang suci dan bersih dari segala nafsu.

Sayangnya, waktu itu aku tidak terlalu yakin dengan penjelasan alm. Bapak saya, karena aku anggap hal itu mustahil. Awal tahun 2006, Bapak saya meninggal. Aku pulang kampung. Aku bertanya pada saudara saya , bagaimana bapak meninggal. Saudara saya bilang, semua anaknya pagi itu dipanggil kerumah, kecuali saya yang berada di Jakarta. Beliau minta pada kakak pertama saya pengin makan bubur. Lalu dimasakkan bubur. Selesai makan, jam orang mau berangkat sholat jum’at, bapak minta supaya dibiarkan tidur. Semua saudara saya keluar dari kamarnya. Tak beberapa lama, adik saya masuk untuk melihat Bapak . Dari situlah ketahuan bapak meninggal. Dulu Bapak memang pernah bilang : kalau orang itu sudah cukup puasanya dan hatinya benar-benar bersih, dia bisa kembali kepada Yang Maha Kuasa sebagaimana yang diinginkan, asal syarat yang dipakai untuk kembali menghadap Allah swt. tidak bertentangan dengan keadaan yang sedang menghimpit hidupnya. Itu sama dengan bunuh diri, katanya. Harus dalam keadaan ihklas dan tidak dalam tekanan persoalan hidup.

Pada waktu itu ada kejadian aneh yang kualami. Aku pulang bersama anak dan istriku. Istriku lagi hamil sembilan bulan, dan anakku sakit panas. Sudah tigakali berobat ke dokter dan bidan. Tapi panasnya belum turun juga. Pas malam ketujuh bapak meninggal, besok sorenya kami mau balik ke Jakarta, sakit panas anakku belum turun juga. Sehabis tahlilan tujuh hari aku pulang ke mertua. Tengah malam sekitar jam satu, aku terbangun. Kuraba dahi anakku. Panas sekali. Aku kompres pakai air hangat. Tiba-tiba suasana takut menyelimuti diriku. Pikiran dan perasaanku kehal-hal yang tak masuk akal. Karena aku tak percaya dengan hantu tetek-bengek, aku paksakan diri keluar rumah berkeliling rumah, untuk memastikan benarkah kalau tujuh hari orang yang sudah meninggal mengunjungi anak-anaknya ? ternyata tak ada apa-apa. Aku masuk kembalike dalam rumah. Kuraba dahi anakku anakku, masih panas. Tak ada sepuluh menit. Antara tidur dan melek, aku mimpi ketemu bapak . aku seperti mengeluh kepada bapak: ” malah Anggit badannya panas sekali, besok tahu bisa balik ke jakarta atau tdk, kataku. Bapak menjawab : Kamu orangnya tak percaya sama hal ghaib. Aku percaya, Pak. Kataku. Sudahlah nanti juga sembuh. Hati-hati, kata bapak.”  Aku terbangun. Kuraba dahi anakku. Alhamdulillah. Anakku sudah sembuh. Ini sungguh diluar nalar dan akal manusia. Aku bangunkan istri saya dan kuceritakan memipiku itu. Diraba dahi anaknya. Benar sudah tidak panas lagi.

Peristiwa itulah yang membuatku kembali membuka-buka kembali buku – buku tasawuf. Dari situ aku mencoba belajar untuk bisa memahami dan mengamalkan sesuatu yang baik untuk kehidupan. Kenapa bapak saya bilang aku tidak percaya hal-hal ghaib ? karena selama ini aku lebih sering mengedepankan logika dalam menghadapi kehidupan. Dari situlah saya sering berselisih faham dengan bapak.

Almarhum bapak saya orang Islam , tapi tak pernah mengerjakan sholat. Persis apa yang diucapkan Syeh Siti Jenar : Shalat , puasa , tak ada gunanya, sampai kelimis jidatmu, kau tak akan mendapatkan apa-apa. ( Syeh siti Jenar, dalam buku Wali Songo ) . Inilah yang aku tak sependapat dengan almarhum bapak. Tapi yang diajarkan bapak, nabi dan malaikat sebagaimana yang diyakininya adalah nabi dan malaikat dalam islam. Setiapkali membaca do’a selalu berawal dengan Basmalah, dan kadang Syahadat. Inilah yang membuatku tak habis mengerti.

Itulah sekelumit kisah mengenai kehidupan yang membentuk pribadiku. Setelah sekian tahun aku mendengar pengajian Al-Hikam Drs. Imron Djamil, diantaranya berkata : untuk bertemu dengan Allah swt, kenapa harus menunggu sampai nanti. Kapan saja diinginkan bisa bertemu dengan Allah. Dari sinilah aku teringat dengan ucapan Bapak. Benarkah ? bagaimana rasanya ? bagaimana wujudnya Allah ? Benarkah manusia bisa bertemu dengan Allah selagi masih hidup ?

Menurut cerita bapak, gurunya dulu seorang kyai yang banyak mempelajari kitab-kitab agama. Namun sang guru tak menemukan apa yang dicari . kemudian Sang guru berpuasa mutih, sebanyak ia dikandung oleh ibunya : sembilan bulan sepuluh hari. Dari situlah gurunya mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa, dan memperoleh kehidupan bathin. Namun gurunya terus tidak melaksanakan sholat lima waktu sebagaimana seorang muslim melakukan kewajiban sholatnya.

Apakah Guru ini termasuk seorang sufi ?

Dan dari cerita, memang sang Guru dan beberapa muridnya memiliki kelebihan. Tapi bukan itu yang menjadi tujuan pengajaran sang Guru. Gurunya mengajarkan tentang kebaikan sebagaimana Islam mengajarkan kebaikan. Kelebihan itu relatif, tergantung Yang Maha Kuasa. Bukan mengajarkan tentang kekebalan, karena menurut sang guru, tak ada manusia yang kebal senjata, jika orang itu mengerti akan hakekat penciptaan manusia yang terdiri dari tulang dan daging dan karena kuasa Allah orang itu bisa hidup. Inilah yang membuatku jadi bingung. Dalam beberapa riwayat Rasulullah SAW, terluka dalam pertempuran. Begitulah Sang Guru mengajarkan.

Pertanyaan saya :

  1. Apakah Sang guru dari guru bapak saya itu belajar tasawuf dan kesufian ?
  2. Lantas apa bedanya ilmu kebathinan orang jawa yang sering disebut Manunggaling Kawula dan Gusti Allah itu sama denga ajaran Sufi dari Ibnu Arabi dalam Fuushul al-Hikamnya tentang wahdat al-wujûd ?
  3. Kenapa orang belajar sufi harus memiliki Guru / Mursyd ?
  4. Seandainya dia tak memiliki guru/ mursyd , dan menjadikan ajaran Rasulullah SAW, para Ulama dan Guru-guru Sufi yang tertulis dalam kitab-kitab yang pernah ditulisnya menjadi bagian dari gurunya dan menjadikan Allah swt sebagai penuntun jalan untuk menuju kepadaNya, apakah itu salah ?

Sebelumnya, kami mengucapkan terima kasih untuk jawabannya. Semoga Allah swt selalu memberikan ridlo dan hidayahNya, agar kita dijauhkan dari prasangka-prasangka buruk, dan dari perbuatan fitnah yang keji.Amin. Sekiranya ada perbedaan mohon kita bisa menjadikan perbedaan itu sebagai satu Karunia dari Allah yang mengandung hikmah dan pelajaran untuk kebaikan kita semua.

Wasalaamu’alaikum Wr.Wb

Jakarta , 30 Oktober 2008.

 

miyono_epambudi@yahoo.com

===================================================================

 

 

 

 

 

Assalamu’alaikum Wr, Wb.

Alhamdulillah….., Wabillah….., Waminallah…..Wala hawla wala Quwwata illa billah…..
Asholatuwassalamu ‘alaika Ya Sayyidii Ya Rosulullah, KHuzbiyadii Qolat Hillati Adriknii…….
Salam dan berkah buat Saudaraku Sufi Muda……….
 
 
 
 

 

Untuk yang pertama kalinya Saya menanyakan kepada Saudara, Bagaimana kabar Anda Saudaraku…?

Do’a Saya semoga Anda tetap di dalam Naungan Kesehatan dan Keselamatan, serta yang terlebih penting lagi…. Ditetapkan Pendirian, Istiqomah dalam Iman dan Yakin, dibukakan segala rahasia Ilmu hingga sampai kepada “Mukassyafaturrobbanii……..”
Wahai Saudaraku……..
 
 
 
 

 

Perkenankan Saya menulis Email ini untuk Anda, sebab jika Saya tulis di Blog Sufi Muda, itu adalah suatu perbuatan yang tidak beradab. Lain Halnya jika sebatas menyapa, menambahkan, ikut berbagi saya rasa memang sangat tepat ditulis di blog sufi muda.

Wahai Saudaraku………

Benarlah apa yang sudah ditetapkan bahwa untuk menuju kepada Maqom Ma’rifatullah itu kita harus melewati Mursyid yang membimbing mulai dari Syari’at lalu naik kepada Thoriqot kemudian menuju kepada Hakikat. Kemudian pada Hakikat itulah berkah dari pada Nurun Ala Nurin menyinari Qolbu menembus kepada Sir Otak pada Akal lalu terbukalah Sir Ma’rifat pada Diri.
Di Maqom Ma’rifat itu Qolbunya lebih Dominan daripada Akalnya, Akal berperan mengikuti Suasana Qolbunya.
 
 
 
 

 

Katakanlah apa yang saya tulis ini hanya sebagai Sharing untuk sama-sama berbagi pengetahuan yang pada Hakikatnya Pengetahuan Ilmu itu hanyalah milik Allah Swt. Dan tidaklah di Dunia yang Fana ini kita adalah Saudara se Iman dan se Keyakinan yang walaupun mungkin ada beda pendapat tetapi tujuannya tetap SATU dan kembali kepada yang SATU. Dan juga saya harap Saudaraku Sufi Muda juga tidak segan-segan untuk memberikan masukkannya kepada Saya, itulah hikmahnya sebagai Saudara saling isi mengisi. Karena pada Zahirnya manusia itu ada kekurangan dan kelebihannya.
Wahai Saudaraku…………
 
 
 
 

 

Engkau telah mengatakan bahwa Posisi Mursyid itu sangatlah penting bagi sang Salik untuk mendapatkan Pencerahan Nur Muhammad Saw, sehingga wajib bagi kita untuk ta’at, hormat, tunduk, cinta, memuliakan dll kepada Mursyid. Karena dengan keta’atan kepada Mursyid sama halnya ta’at kepada Rosulullah Saw dan Ta’at kepada Rosulullah Saw sama halnya kita Ta’at kepada Allah Swt.
Jika kita kembali kepada Sejarah bahwa sebagian Sufi ada yang mendapatkan Pencerahan itu melalui Mursyid yang mempunyai silsilah Ilmu (mata rantai) seperti yang Anda kupas di Blog Sufi Muda. Tetapi kita tidak bisa membantah bahwa ada juga sebagian para Sufi yang mendapatkan Pencerahan itu tidak melalui Mursyid yang mempunyai Silsilah Ilmu (Mata Rantai),  akan tetapi dengan Kepasrahan diri serta keikhlasan diri maka mereka juga mendapatkan Pencerahan di Dirinya.
 
 
 
 

 

Bagi Saya itu menunjukkan Maha Adil dan Maha Bijaksanya Allah Swt. Kebenaran itu di dapat tidak hanya melalui Mursyid yang mempunyai Silsilah Ilmu melainkan juga melalui Mursyid yang mempunyai silsilah Spiritual/Rasa. Walaupun sekilas sama antara Silsilah ilmu dengan silsilah Spiritula/Rasa akan tetapi ada perbedaan yang sangat tipis diantara keduanya.
Kemudian Naiknya Maqom seseorang menuju Alam Robbani/Alam Lahut tentu ia melalui pendidikan/sekolah dengan Mursyid yang berbeda secara Zahir tetapi pada Hakikatnya Satu.
 
 
 
 

 

  1. Awalnya kita memandang kepada Mursyid Zahir, sebagaimana yang dikatakan Imam Al-Ghozali bahwa jika Engkau tidak bisa mengingat Allah Swt maka ingatlah engkau kepada Guru yang sangat berpengaruh di jiwamu maka hakikat gurumu itu akan menyampaikan ke hadirat Allah. Lalu apakah kita hanya stop sampai disitu saja? Tentu tidak! jika kita hanya sebatas Poin ke-1, dari sisi “kacamata” Spiritual itu masih Sekolah Dasar (SD) walaupun dari sisi “kacamata” orang Awam itu sudah luar biasa tingkatannya. Pada Maqom ini menurut Silsilah Spiritual adalah “MAQOM THORIQOTULLAH”.
  2. Pada Posisi ini Ia tidak menuntut Ilmu kepada Mursyid Zahir lagi tetapi kepada Sir yang pada Mursyid (Rosulullah). Pandangan Zahirnya ia tetap menghormati Mursyid Zahirnya layaknya seorang Anak kepada Orang Tuanya tetapi Pendiriannya sudah tidak kepada Mursyid itu lagi tetapi kepada Rosulullah. Syekh Abdul Qodir Al-Jailani dalam Kitab Fathul Ghoibi mengatakan : “Bahwa pada diri Nabi dan Rosul itu ada suatu Rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun begitu juga pada diri seorang Murid terkadang menyimpan suatu Rahasia yang tidak diketahui oleh Gurunya, sebaliknya Sang Guru pun menyimpan suatu rahasia yang tidak diketahui oleh Muridnya walaupun Maqom Sang Murid telah hampir sampai kepada Maqom Sang Guru. Tatkala Maqom si Murid sampai kepada Maqom Sang Guru maka tahulah ia akan Rahasia Gurunya. Lalu Tuhan mengatakan pada dirinya ; Aku putuskan dirimu dengan segala Makhluk, dengan segala isi dunia ini, dan juga Aku putuskan dirimu dengan Gurumu, Cukuplah Engkau berdialog dengan Tuhanmu Saja”. Pada Maqom ini Guru/Mursyid Zahir tak ubahnya hanya sebagai  Inang Pengasuh saja yang jika telah sampai umur 2 tahun maka ia tidak menyusu lagi kepadanya. Dan dipandangnya Sir pada Mursyid zahirnya tadi ada pada dirinya, yang Hidup di diri Mursyid itu adalah yang Hidup di Dirinya Juga. Karena itu Fokus pandangannya tidak kepada yang diluar dirinya lagi melainkan pandangannya tertuju kepada yang Hidup yang ada pada Dirinya. Itulah Hakikat Muhammad pada Diri. Itulah Maqom menurut Silsilah Spiritual adalah “MAQOM HAKIKATULLAH”.
  3. Jika ia sudah tidak memandang dan tidak memfokuskan Qolbunya kepada Mursyid Zahir lagi dan hanya tertuju kepada Hakikat Muhammad yang ada pada Diri terus dan terus dan tetap di dalam Musyahadahnya (tapi bukan berarti ia cuek kepada mursyid zahirnya, Tidak! Ia tetap cinta dan hormat kepadanya tetapi hanya sebatas Zahir layaknya anak kepada orangtuanya) maka Allah Swt akan membukakan Tirai/Hijab yang sangat halus sekali sehingga akan diketahuinya dan dikenalnya serta dirasakannya Tuhan sebenarnya Tuhan atau Allah “Baqobillah”. Pada Maqom ini menurut Silsilah Spiritual adalah “MAQOM MA’RIFATULLAH”.

Itulah perjalan Spiritual yang sebenarnya dan seharusnya di ikuti bagi mereka-mereka yang menuju kepada Allah Swt.

Ma’afkan saya jika Saya terlalu lancang menguraikan ini kepada Saudaraku Sufi Muda……….. tidaklah apa yang saya sampaikan ini melainkan saya berposisi sebagai saudara Anda untuk saling isi mengisi, dan saya rasa Anda sudah lebih cukup paham tentang ke Ilmuan ini dari pada Saya, karena itu Saya mohon Ma’af jika terlalu Otoriter dari apa yang saya sampaikan. Sesungguhnya Saya ini tidak berilmu dan Bagi Allah Swt saya ini adalah Fakir di Mata Nya.


Terimakasih sebelumnya dan semoga Allah Swt selalu memberkati dalam keberkatan Rosulullah Saw.

Aamiin
Wassalamu’alaikum Wr, Wb.
 
 
 
 

 

NB:
      Saya tunggu ya….. masukan dari Saudaraku Sufi Muda.
 
 
 
 

 


Salam Hangat,

Achmad Yusuf (yusuf6463@yahoo.com)
 
 
 
 

 

========================================================================== 

Wa’alaikum salam,
Terimakasih sekali atas masukannya, dan saya sangat senang telah menerima email ini sebagai bagian dari silaturahmi yang merupakan sunnah nabi kita…
Saat membaca email ini kabar saya baik-baik saja, dan kebetulan juga saya membalas email ini dalam berpuasa, semoga Allah akan menuntun saya kejalan-Nya. Saya membuat 7 point menanggapi apa yang saudaraku sampaikan

  1. Banyak sekali para penempuh spiritual tersesat ditengah rimba belantara hakikat dikarenakan dia tidak mempunyai seorang pembimbing rohani yang disebut Mursyid, saya senang sekali saudaraku punya prinsip yang sama yaitu kita harus berguru kepada seorang Mursyid yang akan membimbing kita ke jalan-Nya.
  2. Perbedaan antara Mursyid zahir dengan mursyid rohani (nur Muhammad atau nur ala nuri) itu terletak pada pemahaman seseorang. Dalam bahasa ilmu Kiblat kita itu ada 4 yaitu : ka’bah (syariat), Qalbu (Thariqat), Mursyid (hakikat) dan Allah (makrifat).
  3. Rohani dari Mursyid yang saudara sebutkan sebagai Mursyid zahir itulah yang disebut dengan NUr Muhammad karena nur itu akan menempati seperti wadah nya. Ketika NUr Muhamammad itu berada dalam diri Muhammad bin Abdullah maka NUr itu pun menyerupai wajah Muhammad Bin Abdullah, ketika Nur itu pindah ke Avu Bakar menyerupai wajah Abu baker dan ketika NUr itu pindah kepada Mursyid kita maka akan menyerupai wajah Mursyid kita.
  4. Guru itu makan, tidur, punya istri dan punya anak seperti manusia biasa, tapi Mursyid itu kan tidak seperti itu, Rohani Mursyid itu terbit dari zat dan sifat Allah SWT. Sama juga dengan Rasulullah itu (NUr Muhammad) tidak makan dan tidak tidur, akan tetapi Muhammad bin Adulllah tidak berbeda dengan kita. Yang membuat berbeda karena dalam diri Beliau ada Nur Muhammad.
  5. Memisahkan antara Rasulullah (Nur Muhammad) dengan Muhammad bin Abdullah suatu hal yang tidak mungkin. Ketika kita menghormati Muhammad bin Abdullah maka otomatis kita menghormati Rasulullah, dan ketika kita menyakiti/memusuhi Muhammad bin Abdullah maka secara otomatis Nur Muhammad tersakiti. Harus di ingat, yang disakiti oleh Abu Lahab dan musuh2 Islam itu adalah Muhammad bin Abdullah, tapi karena dalam diri Beliau ada Nur Muhammad maka secara otomatis ikut tersakiti dan Allah melaknat mereka.
  6. Menurut saya, Guru Mursyid itu secara manusianya tidak ada beda seperti kita, Cuma saya tidak bisa memisahkan antara zahir dan bathin Beliau. Wal awalu wal akhiru wa zahiru wa bathinu… itulah hakikat Mursyid. Yang kita ingat dan kita jadikan rabitah adalah Nur Muhammad, bagaimana bentuknya? Yang menyerupai wajah Mursyid. Karena itu wajah Mursyid itu tidak bisa ditiru oleh syetan.
  7. Dalam beberapa sejarah sufi yang saya baca, seorang murid itu tidak pernah durhaka kepada gurunya, walaupun guru nya itu hanyalah sebagai zahir pembawa Nur Muhammad. Kita sebenarnya tidak memerlukan kawat, yang kita perlukan adalah listrik, tapi bagaimana kita bisa memisahkan antara kawat dengan listrik?

Akhirnya, saya berkesimpulan, saya setuju seperti yang saudaraku katakan, bahwa Guru Mursyid itu seperti inang pengasuh yang akan membawa kita kepada ke ALAM RABBANI, setelah kita sampai kealam sana maka yang menjadi guru itu adalah ALLAH SWT, inilah tauhid yang benar.

Seperti yang saya kemukakan pada point 2 (dua) bahwa kiblat makrifat itu adalah ALLAH SWT, apabila kita telah bermakrifat, guru kita telah mengantar kita kehadirat-Nya maka pandangan kita tidak berpaling sedikitpun selain kepada DIa, hanya Allah semata yang wajib kita sembah dan guru tetap kita hormati sebagai orang yang telah berjasa membimbing kita.

Kalau saudaraku telah sampai kepada-Nya, jangan palingkan sedikitpun harapan selain kepada-NYa

 

Demikian tanggapan dari saya, semoga saudaraku berkenan.

 

 

Wasalam

 

Sufimuda

================================================================== 

Assalamu alaikum. .

 

Sufimuda. . maaf nita baru sempat balas emailnya. .

Sebenarnya banyak hal yang ingin diceritakan, tapi susah untuk dibicarakan. .

Nita belum terlalu Paham tentang “Ahli Silsilah” apa bisa dijelaskan lagi biar nita bisa mengerti?

Sufimuda pernah bilang tentang Pembimbing Spiritual apakah yang Sufimuda maksud itu adalah “Ahli Silsilah”?

Apa nita bisa jadi salah satu orang yang mendapat bimbinganNya?

Sufi. . .terimakasih sebelumnya

 

Wasalam

Yoanita Putri

 <yoanitasuroyo@yahoo.com>

 ==========================================================================

Jawaban 

Wa’alaikum salam….

Pembimbing rohani di dalam thariqat disebut Mursyid, sebenarnya Mursyid itu bukanlah zahirnya guru tapi adalah rohani nya yang terdiri dari Zat dan Sifat Allah SWT, Rohani Rasulullah berupa Nur Muhammad itulah yang diturunkan kepada Guru Thareqat yang Haq.

Nah Ahli Silsilah adalah kumpulan (mata rantai) para Guru pilihan yang merupakan wali utama di zamannya (setiap zaman ada 1 orang wali utama/wali qutb)

Antara satu guru dengan guru yang lain itu saling berhubungan, pernah berjumpa dan hubungan antara murid dengan Guru, sehingga apa yang disampaikan oleh guru terakhir tidak lain adalah amanah dari guru pertama.

Setiap orang yang telah berjumpa dengan seorang guru Mursyid yang Kamil Mukamil sudah pasti dia telah mendapat petunjuk.

 

Silahkan baca keterangan lengkap  tentang ahli silsilah dan mursyid di artikel dengan judul AHLI SILSILAH THARIQAT NAQSYABANDIYAH dan URGENSI KEMURSYIDAN.

Makasih atas pertanyaannya

 

Salam

 

 BAGAIMANA SHALAT MENJADI KHUSUK?

Pada 6 Mei 2008 21:34, alim madahin kawanku_nemo@yahoo.com.my

assalammualaikum tuan ustaz,saya dari sabah malaysia,

1.   saya ingin bertanya bagaimana kita mengenal diri,orang kata kalau kita tidak mengenal diri kita solat dan amalan kita tidak betul atau tidak diterima Allah.

 

2. Bagaimana saya belajar ilmu-ilmu atau amalan dalam solat supaya saya dapat merasakan kusyhuknya solat saya dan manisnya iman itu.

 

saya berharap ustaz dapat memberi nasihat atau doa buat diri saya yang sangat dhoif lagi jahil ini.

 

wassalam

dariku yang jahil

alim bin madahin 

sabah.

============================================================

Jawaban

Wa’alaikumussalam Wr. Wb

Salam kenal untuk saudaraku Alim bin Madahin di Sabah Malaysia, semoga rahmat Allah senantiasa menyertai disetiap derap langkah dan disetiap denyut jantung, ternyata jarak tidaklah menghambat kita untuk saling kenal, di dunia ini tidak ada yang kebetulan, semua telah diatur olehNya. 

Terimakasih atas penghargaannya telah memanggil kami dengan panggilan ustad, kami hanya seorang hamba Allah dalam setiap keluh kesah dan kegembiraan hati berusaha untuk selalu dalam dekapan-Nya, kami hanyalah bayi dipangkuan-Nya, hanyalah sebutir pasir di hamparan sahara-Nya, setetes air di samuderanya nan tak berhingga.

izinkan kami memberikan jawaban mudah-mudahan Allah SWT akan memberikan tuntunannya disetiap kata yang kami tulis dalam jawaban ini.

  1. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa, “Barangsiapa mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya“. Kebanyakan orang mengartikan diri sebagai badan yang nampak, tapi menurut ilmu tasauf diri itu adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan, sesuatu dititipan dari-Nya yang kemudian akan kembali lagi kepadaNya, “innalillahi wa inna ilaihiraji’un“. Maha Guru ke-36 berfatwa, “Kenalilah dirimu rata-rata maka engkau akan mengenal TUHANmu yang amat NYATA

Dalam ilmu Thareqat mengenal diri mempunyai proses panjang, melalui tahapan-tahapan, melewati pos-pos rohani (Maqam) tentu harus mempraktekkannya di Laboratorium Kerohanian yang kita sebut dengan iktikaf/suluk sehingga akan melewati 3 alam, yaitu:

  • Alam JABARRUT,

  • Alam MALAKUT dan

  • Alam RABBANI. 

Di alam Rabbani lah kita bisa berjumpa dengan-Nya. Bagaimana cara kita bisa masuk ke alam Rabbani? bukankah alam Rabbani itu Maha Gaib? sementara kita ini tidak gaib?

Jawabannya, tentu kita harus gaib dulu baru berjumpa dengan yang Maha Gaib, maka dalam sebuah hadist desebutkan: “Matikanlah dirimu sebelum engkau mati“. Menurut Syariat pengertian mati itu nafas berhenti, tapi menurut tasauf mati itu adalah mematikan otak kita, mematikan fikiran kita akan fokus dalam bermunajat kepada-Nya, karena sesungguhnya otak itu sifatnya BAHARU, sedangkan Allah adalah QADIM, menurut ilmu Tauhid tidak akan mungkin yang BAHARU bisa berjumpa dengan QADIM

Allah SWT Maha Gaib, Maha Rahasia, karena Dia adalah Maha Rahasia maka tidak semua orang bisa ke alam-Nya kecuali mengikuti metodologi (At-Thariqat) yang telah diberikan kepada Para Nabi/Rasul diteruskan oleh para khalifah Rasul, diteruskan oleh Ulama warisatul Anbiya sampai saat ini.

Saudaraku, singkatnya semua pertanyaan itu hanya bisa terjawab setelah kita masuk Thareqat dibawah bimbingan seorang guru MURSYID yang kamil Mukamil.

Di awal masuk Thariqat sudah di ajarkan cara mematikan diri, diberitahukan dimata letak QALBU sebagai media penangkap sinyal Allah SWT, dari sanalah terbuka pinta alam gaib, terbuka hijab kita sehingga seluruh yang Maha Gaib akan menjadi nyata, dalam ilmu matematika berlaku rumus :

+ x – = – artinya NYATA X GAIB = GAIB, tidak akan ketemu dengan gaib.

untuk bisa ketemu gaib harus memakai rumus: – x – = +, artinya GAIB x GAIB = NYATA, gaibkan diri kita maka seluruh persoalan GAIB menjadi NYATA, menjadi KONKRIT.

Satu hal yang amat keliru dipahami oleh sebagian besar ummat Islam bahwa ilmu Thariqat itu adalah ilmu hapalan seperti ilmu fiqih, TIDAK, ilmu Thariqat merupakan TEKNIK BERMUNAJAT, merupakan ilmu METAFISIKA EKSAKTA, merupakan TEKNOLOGI AL QUR’AN yang maha dasyat, dengan Ilmu Metafisika Eksakta inilah mampu dijelaskan dengan gamblang bagaimana ilmiahnya proses nabi Musa membelah laut, nabi Isa menghidupkan orang mati, berbagai mukjizat nabi dan kekeramatan wali. Sungguh keliru kita menempatkan ilmu Thariqat sebagai ilmu hapalan sehingga berpuluh tahun mengikuti thariqat tidak mendapatkan apa-apa, karena kita tidak pernah masuk ke Laboratorium (Suluk) yang benar dibawah bimbingan seorang Ahli (Mursyid) yang Kamil Mukamil. Para Nabi/Wali bukan hanya ahli hukum, mereka merupakan para TEKNOLOG yang mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan nyata yang oleh sebagian kita hanya mampu menghapal, mengalun-alunkan dengan indah tanpa mampu mengaplikasikannya.

Semua orang pasti ingin shalatnya Khusuk, kenapa? karena kalau shalat tidak khusuk di ancam oleh Allah dengan NERAKA WAIL, sungguh sia-sia orang yang puluhan tahun shalat ternyata hasilnya masuk neraka. Menurut orang awam tidak lalai dalam shalat itu adalah shalat tepat waktu, misalnya dhuhur jam 12.45 harus tepat pada jam itu, kalau menurut tasauf sedetik hati lupa kepada-Nya itu sudah tergolong lalai. Kenapa shalat kita tidak khusuk? karena dalam diri kita masih bersemayam was-was, gangguan, syetan. Gelombang iblis selalu mengkacaukan konsentrasi kita kepada-Nya.

Guru kami pernah mengatakan, “jangan engkau tanyakan bagaimana shalat bisa khusuk, tapi carilah apa penyebab shalat itu tidak khsusuk” .Pengalaman kami sejak sekolah dasar (umur 6 tahun) tidak pernah meninggalkan Shalat, tapi sampai umur 20 tahun tidak pernah merasakan yang namanya khusuk dalam shalat, artinya 16 tahun ibadah yang kami lakukan tidak lain hanya menyembah tikar sembayang dan menyembah dinding semata, Na’uzubillah min zalik sampai kami berjumpa dengan seorang guru Mursyid AHLI SILSILAH THARIQAT NAQSYABANDI ke-36, yaitu SAIDI SYEKH DERMOGA BARITA RAJA MUHAMMAD SYUKUR, berkat bimbingan Beliau lah kami menemukan keajaiban-keajaiban, barulah kami merasakan betapa MAHA HEBATNYA ALLAH, betapa indahnya beribadah.

Alamat Beliau ada di Indonesia di kota Batam,

Yayasan Kiblatul Amin Dua Komplek Perumahan Cendana Batam Centre

Di Malaysia banyak sekali murid-murid Beliau, Beliau pernah menyelenggarakan SEMINAR INTERNASIONAL di Malaysia, yang dihadiri oleh berbagai kalangan baik pengamal tasauf maupun bukan.

Bila saudaraku tertarik, di malaysia ada beberapa orang Khalifah Beliau yang telah di izinkan untuk menurunkan amalan Thariqat :

Ustad ARIF AHMAD FAUZI No hp +60132525974 

Demikian saudaraku, jawaban yang kami berikan hanyalah terori belaka, walau kami menjelaskan beribu lembar halaman tentang manisnya buah mangga tidak akan bisa saudaraku merasakan manisnya, ambillah buah mangga itu kepada Maha Guru ke-36, setelah merasakannya, nanti kita Cuma bisa saling tersenyum, tidak ada kata, tidak ada puisi yang bisa mewakili keindahan-Nya.

Di lubuk hati nan paling dalam, kami ikut mendo’akan agar saudaraku dibukakan hijab, batas antara Dia dengan kita, Amin ya Rabbal ‘Alamin

 

Wasalamu’alaikum wr. wb

 

 

Sufimuda

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

439 thoughts on “SURAT ANDA

Comment navigation

  1. Assalamualaikum Bang Sufi Muda,

    Saya murid dari tarekat dan guru yg sama dengan abang,
    apakah saya bisa temu kenal dg Abang di surau ?

    Terimakasih sebelumnya
    Rina

  2. Aji Subhan Fahroni Nur on said:

    Assalamu’alaikum. Wr.Wb.

    Bang Sufi Muda ada 3 hal penting yang ingin saya tanyakan :

    1.Syarat Lokasi atau Tempat untuk Fana Billah itu bagaimana?

    2.Mengingat Guru Mursyid yang sulit dicari, apakah boleh berguru/tawassul minta bimbingan kepada Wali yang sudah meninggal?

    3.Bagaimana cara menyiapkan diri dan keluarga dalam melaksanakan jalan untuk mencapai derajat Wushul?

    Kalau ada yang salah saya mohon maaf dan terima kasih yang sebesar2nya.

    • sy coba jawab

      1. syaratnya harus ikut thariqat (thariqat yng benar/real/orisinil), mengenai Fana Billah itu bagaimana? itu adalah wilyah otoritas rasa yang mengetahui. “bagaimana sy menjelaskan nikmatnya bercinta bagi orang yang belum pernah menikah” dan kata2 yang tepat cuma WAH POKOKE UENAK TUENAN klu tau kek gini dari dulu saya menikah he he he

      2. tergantung, boleh jika The Lingk masih hidup, dalam artian mungkin keturunan/ muridnya sudah ada yg masuk drajat Kamil Mukamil, Tidak Boleh walau dia masih hidup tapi Link Terputus ( dan itu buanyak ).

      3. ibarat orang yang terseret arus disungai, bagaimana kita mau menolong orang lain sedangkan dirikita juga terseret arus dan tidak bisa berenang pula!, logisnya kita selamatkan dirikita dulu, kalu sudah save baru kita tolong yang lain, entah cari tali/kayu atau call 911 klu anda di amerika itu yg logis.

  3. Abah Anom Q S Mursid Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah:” Gus Dur Ditalqin Langsung Oleh Syekh Abdul Qadir Jilany”,Ini Ceritanya !!

    Dikisahkan dalam sebuah lawatan ke Baghdad, Irak, Gus Dur yang memiliki kegemaran berkunjung ke makam-makam ulama dan waliyullah, juga berkunjung ke makam Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Dalam keadaan antara sadar dan tertidur, Gus Dur didatangi Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. dan Tuan Syekh mentalqin Gus Dur. Dalam tarekat, talqin bukan sekedar pembelajaran dzikir, tetapi juga merupakan pengakuan seseorang sebagai murid tarekat dari tarekat yang dianut pentalqin.

    Dengan demikian, pada talqin dzikir yang dilakukan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Gus Dur telah resmi menjadi pengikut tarekatnya.

    Setelah kembali ke Indonesia, Gus Dur berkesempatan untuk silaturrahim ke Syekh Shohibul Wafa Tajul Arifin q.s. yang akrab dipanggil Abah Anom, Mursyid Tarekat Qadiriyiah Naqsyabandiyah (TQN) Suryalaya.

    Gus Dur minta untuk ditalqin oleh Abah Anom, tetapi Abah Anom mengatakan bahwa Gus Dur tidak perlu ditalqin lagi karena sudah ditalqin oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani q.s. Cerita ini populer di kalangan murid TQN Suryalaya, baik yang langsung menyaksikan peristiwa ini ataupun tidak.

    Demikianlah Gus Dur, sosok yang telah mengetahui bahwa seorang muslim haruslah bertarekat, menempuh suluk dengan berguru kepada guru-guru rohani, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Terlebih bagi seseorang yang mempunyai posisi penting dan diamanahkan untuk memimpin umat dan bangsa ini seperti dirinya.

    Gus Dur sudah sampai pada maqam yang membuktikan bahwa orang-orang shalih, para syuhada, para kekasih Allah, mereka tidak mati; yang mati hanya jasadnya, tetapi ruhnya tetap hidup. Hanya kepada orang-orang yang memiliki akhlak dan kecintaan kepada para kekasih Allah inilah, mereka dapat saling berkomunikasi dan memberikan ilmu, bimbingan dan nasehat. Maka inilah yang harusnya ditiru oleh umat Islam, khususnya para pemimpinnya.

    Sumber:Muslimoderat.com

    • Assalamu’alaikum saudaraku?
      Bismillahirrahmanirrahim,,,
      ada apa dengan diriku ini saudaraku?
      Tidak sedikitpun aku takut akan neraka dan tidak sedikitpun pula aku ingin masuk surga?
      Dalam hatiku aku hanya ingin menjadi hambaNya yang setia kalaupun aku dituntun menuju dosa dan aku juga rela dan ikhlas kalau harus mati dalam keaadaan hina.
      Aku tau bagi kalian pecinta surga dan pencari rahmad yang kuasa kalian juga butuh sosok nyata akan perihnya siksa Allah yang maha kuasa bagi hambanya yang tidak tau caranya bersyukur.
      Aku ikhlas dan ridhoe karnaNya.
      Karena aku yakin Allah punya rencana lain dibalikNya.
      Wallahu’alam,,,

      inilah ungkapan hatiku dalam kalimah Lailahillah,,,tanpa ada keraguan dibaliknya.
      Tegur aku kalau aku salah dan bimbing aku wahai saudaraku?
      Sungguh aku tidak takut akan kematian tapi aku takut kalau Allah tuhanku tidak menganggapku sebagai hambaNya.
      Ya Allah ya Rahman ya Rahim,,,
      tiada apa yang kuminta selain Ridhoemu kepada hamba.

    • apa anda yakin yang membaiat GusDur itu Syeh abd kadir?

      IBLIS jg bisa!

      jgnkan jadi Syeh Abd Kadir, mengaku jadi Tuhanpun pernah dlm wujud cahaya untuk menipu Syeh Abd Kadir.

      Apa alat ukurnya GusDur?

      klu Syeh abd Kadir sendiri punya tekhnik/jalan (thariqat) untuk mendeteksi itu iblis atau Tuhan karena dia orang Thariqat

      Dia sudah bisa membedakan itu Tuhan / Setan?

      kan dia (maaf) cacat ga bs liat

      atau malah jangan2 salah liat dikirain Syeh abd Kadir 😀

      Pisssss

  4. Assalamualaikum Wr.Wb.
    Sufi muda. tergetar hati saya ketika membaca blog ini yg banyak saudara2 penyimak blog yang mngharapkan karunia Allah untuk bertemu dengan Mursyidnya.
    1. Apa saya salah ketika saya mau saudara sufi muda menjadi jalan dari Allah untuk mempertemukan saya dengan seorang Mursyid Kamil Mukamil.
    2. Apa sama bertemu seorang Mursyid secara zahir dengan bertemu melalui batiniyyah.

    Terima kasih.
    Saya dari Cianjur – Jawa Barat

    • Wa’alaikum salam wr. wb
      Terimakasih banyak atas kunjungannya..
      1. Alhamdulillah dengan senang hati.
      2. Wajib berguru secara zahir agar bisa dibimbing secara zahir bathin. Guru Mursyid atas kudrah dan iradah dari Allah akan membimbing seluruh murid2 kapan saja dan dimana saja secara rohani sehingga murid selalu dpt pelajaran.

      Demikian

  5. pencari tuhan on said:

    mohon info alamat kajian wirid yang di wilayah cibubur/cikeas. terimakasih

  6. to the point aja nih bang SM
    satu pertanyaan yg ingin sekali saya ketahui, apakah bang SM masih menjalankan sholat 5 waktu layaknya muslim-muslim lainnya?
    mohon dijawab secara rahasia dan langsung ke email pribadi saya
    terima kasih

  7. siti laila on said:

    Assalamualaikum sufi muda.. Saya seorang ikhwan tarekat naqsabandiyah al khalidiyah bermursyid kepada Kakek Guru YM Prof. Dr. Kadirun yahya. Saya sangat cinta sejarah,, saya tertarik dg sosok soekarno.. Ingin bertanya sebenarnya seberapa dekat dan bgmn hubungan Kakek guru dg Soekarno??.. Saya harap sufimuda mengetahui, karena saya sangat penasaran.. Trimakasih

  8. assalamu’alaikum. mau tanya kalau org non muslim apakah di akherat di neraka meskipun dia org baik secara kemanusiaan dan mengakui adanya Tuhan semesta alam dg agamanya? terima kasih

Comment navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: