Motivasi,  Nasehat

Setelah Shalat Subuh (20)

Dari seluruh agama di dunia ini, Budha adalah agama yang paling sulit bagi pemeluknya untuk masuk surga atau mencapai nirwana. Membutuhkan waktu ribuan tahun, mati dan lahir kembali sampai dia bisa menyelesaikan tugasnya. Level tertinggi di dalam ajaran Budha adalah seseorang yang sebenarnya sudah mencapai Nirwana namun dia menunda untuk kesana, dia kembali ke dunia untuk membantu orang agar bisa mencapai seperti yang dia capai, inilah disebut Bodhisattva. (Tulisan ini tidak bermaksud membanding-bandingkan agama satu dengan lain, hanya untuk contoh agar mudah di pahami).

Islam tidak mengenal re-inkarnasi dan juga tidak mengenal karma. Seseorang ketika meninggal dunia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia tanpa diberi kesempatan kedua apalagi ketika, semua diselesaikan dalam satu kehidupan dan memang hanya diberikan sekali saja.

Banyak keistimewaan orang yang hidup sezaman dengan Rasulullah SAW, salah satunya mereka diberi informasi tentang siapa saja orang yang di jamin masuk surga. Ada 10 orang sahabat Nabi yang dijamin masuk surga, orang yang masih hidup akan tetapi kehidupan setelah kematian sudah diberi jaminan oleh Allah SWT, lewat Rasul-Nya. Jika merujuk kepada ajaran Budha, 10 orang ini bisa disebut sebagai Bodhisattva, orang yang sudah mendapat jaminan surga namun masih hidup di dunia untuk membimbing orang agar mencapai surga. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa’ad di surga, Sa’id di surga, dan Abu Ubaidah bin Jarrah di surga.”

Nabi diberi ke-istimewa-an oleh Allah untuk memberikan syafaat atau pertolongan kepada seluruh ummat Islam, sejak dari dunia sampai di akhirat. Nabi SAW bisa memasukkan orang ke Surga dengan syafaat Beliau tersebut. Disamping Nabi, ada dua golongan lagi yang diberi ke-istimewa-an, yaitu Syuhada dan Ulama.

Selama kita bergaul di dunia ini, tentu saja kita tidak tahu level keimanan seseorang, bisa jadi orang yang diberi hak untuk memberi syafaat itu salah satu teman kita atau orang yang kita kenal.

Ibnul Jauzi berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Jika kalian tidak menemukan aku di surga, maka tanyakanlah tentang aku kepada Allah. Ucapkan: ‘Wahai Rabb kami, hamba-Mu fulan, dulu dia pernah mengingatkan kami untuk mengingat Engkau.

Hasan al-Bashri berkata: “Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman, karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat.

Dalam hadis, Nabi SAW bersabda, “Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat. Mereka memohon: ‘Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji’.”

Dijawab: “Keluarkan (dari Neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka. Para mukminin ini pun mengeluarkan banyak saudaranya yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah: “Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dikeluarkan dari Neraka sudah tidak tersisa.” Allah berfirman: “Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar. Maka, dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka…” (HR Bukhari).

Cara paling bijaksana dalam hidup disamping memberbanyak ibadah kepada Allah, juga memperbanyak kebaikan dan membina hubungan baik dengan sesama manusia, bisa jadi salah seorang yang kita kenal di dunia, menjadi teman kita, kelak dia lah yang membantu kita di akhirat…

One Comment

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca