Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Di Level Spiritual Anda Jangan Bertanya

Allah SWT menciptakan alam ini sedemikian sempurna dan teratur tanpa pernah bertabrakan satu sama lain. Siang dan malam, bumi dan langit, planet-planet yang beredar pada orbitnya dengan tepat juga susunan sel manusia dan makhluk hidup lainnya, sedemikian teratur, tuntuk pada hukum yang diciptakanNya yang kita sebut sebagai Sunatullah. Semakin kita renungkan dan teliti terhadap kesempurnaan alam maka akan semakin kagum kita kepada Sang Pecipta dan manusia mau atau tidak mau akan mengakui adanya kekuatan diatasnya yang mengatur semua dengan begitu sempurna.

Allah telah memberikan Firman-Nya kepada alam ini yang disebut dengan Firman Afaqi sehingga gerak seluruh alam ini akan tunduk kepada-Nya, tanpa pernah membantah. Kenapa alam tunduk begitu sempurna kepada-Nya karena alam ini memang terbit dari kehendak-Nya dan senantiasa berzikir/bertasbih memuji-Nya. Hal ini terdapat di dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra ayat 44, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.

Karena alam ini tunduk dan berzikir kepada Allah maka manusia yang istiqamah zikir juga memiliki sifat ketundukan, penghambaan dan berserah diri kepada-Nya. Islam sendiri dalam makna lain adalah berserah diri kepada Allah, tunduk kepada hukum-hukum-Nya baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

Manusia yang tunduk dan patuh adalah manusia yang menggunakan qalbu sebagai sarana untuk berzikir dan lewat qalbu dia menerima getaran Ilahi yang menggetarkan seluruh badan bahkan jiwanya dan secara otomatis seluruh geraknya adalah gerak dari Allah, senantasa berada pada hukum-hukum-Nya, tidak pernah melanggar sedikitpun.

Di sisi lain manusia diciptakan akal untuk berfikir, menelaah dan menganalisa apapun yang ada di alam ini, maka dengan kecerdasan yang mengagumkan itu kita melihat hasil karya manusia yang luar biasa bahkan hal yang tidak pernah terfikir sebelumnya.

Allah SWT memberikan kesempatan dan kebebasan seluas luas nya kepada manusia untuk meneliti semua ciptaan-Nya akan tetapi Allah mengingatkan manusia akan keterbatasan akal yaitu dia tidak bisa menjangkau Dzat-Nya, sampai disini akal akan lumpuh, tidak berdaya sama sekali. Akal sifatnya baharu (diciptakan) tidak mungkin bisa menjangkau yang Qadim (pencipta).

Maka pencarian Tuhan lewat akal pasti mengalami kebuntuan, meskipun merujuk kepada kitab suci sekalipun, membaca segala macam buku, baik agama maupun umum, tidak akan bisa mencapai tahap mengenal-Nya dengan sempurna. Pencarian Tuhan lewat akal, baik lewat pelajaran agama di pasantren maupun pengetahuan umum hanya  sampai tahap yakin bahwa Tuhan itu ada, tidak akan sampai kehadirat-Nya.

Beda pelajaran akal dengan pelajaran qalbu adalah dipelajaran akal anda harus banyak bertanya agar mengetahui banyak hal akan tetapi dipelajaran qalbu anda harus banyak melakukan dan tidak bertanya sama sekali. Maka orang yang menekuni tarekat di bawah bimbingan Guru Mursyid pasti awalnya akan kaget karena metode belajarnya sangat berbeda. Anda bertanya berarti anda ragu kalau anda ragu kenapa harus berguru? Itulah sebabnya para Syekh zaman dulu menyaring muridnya dengan berbagai cara. Syekh Abdul Qadir Jailani baru menerima murid setelah mereka mengemis 3 tahun, sebagai media menyaring murid-murid yang sungguh-sungguh sehingga sudah langsung masuk ke level yakin untuk kemudian dibawa ke level rasa yaitu Haqqul Yakin.

Kenapa di dalam pengajaran Tarekat tidak boleh banyak bertanya karena iotu sudah masuk level spiritual, di level spiritual Anda bertanya, justru memberatkan diri Anda dalam pengamalan. Seperti dalam kisah penyembelihan sapi betina dalam Q.S. Al-Baqarah : 67-73. Melalui Musa A.S. kaum Israel ditugasi menyembelih seekor sapi betina, mereka bertanya, “Sapi betina yang seperti apa?” Dijawab oleh Musa, “Sapi betina yang tidak tua dan tidak muda, pertengahan di antara itu.” Mereka tanya lagi, “Apa warnanya?” Dijawab oleh Musa, “Yang kuning. Yang kuning tua. Dan menyenangkan orang yang memandangnya. Mereka tanya lagi, “Kesimpulannya sapi betina bagaimana? Kami tambah bingung.” Dijawab oleh Musa, “Sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, dan tidak ada belangnya.” Dan semua jawaban Musa itu jawaban dari Allah melalui mulut Musa.

Anda bayangkan repotnya kaum Israel. Andai begitu ditugasi menyembelih sapi betina langsung yakin, “Iya,” resikonya tidak membesar, bebas mau menyembelih sapi bagaimana asalkan sapi betina. Gara-gara otak mereka bertanya, kriteria sapi betina yang diminta Allah menjadi lebih berat, yakni sapi betina tidak tua tidak muda, warna kuning, kuning tua, menyenangkan orang jika dipandang, ditambah tidak pernah dipakai membajak, mengairi tanaman, tidak cacat dan tidak ada belangnya. Jadi repot, bukan?

Ketika diberikan amalan zikir anda hanya melaksanakan saja, nanti setelah dilaksanakan akan dapat bimbingan baik secara langsung ataupun tidak langsung dan ketika anda memperbanyak bertanya maka level anda turun dari spiritual kepada akal dan langkah anda menuju kesana kepada TUJUAN akan terhambat.

Seperti kami uraian di awal tulisan bahwa HATI itu sifatnya tunduk, pasrah karena itulah Allah memilih Hati sebagai sarana untuk bisa mendekatkan diri kepada-Nya. Sifat hati itu mengikuti tidak membantah. Laksana alam yang demikian teratur, ketika anda berzikir maka hidup anda juga akan teratur dan selaras dengan alam ini.

Menutup tulisan pertama setelah lama tidak menulis dengan Surat al Baqarh 152, “Dzikir kamu kepada-Ku, niscaya Aku Dzikir kepadamu.” . Berikan dzikir mu kepada-Ku lewat saluran yang benar (wasilah) maka AKU turunkan dzikir yang asli dari sisi-Ku, zikir yang membuat hidup mu selaras dengan alam, hidupmu bahagia sejak dunia sampai akhirat.

Single Post Navigation

6 thoughts on “Di Level Spiritual Anda Jangan Bertanya

  1. Mohon ijin menyadur. Semoga manfaat dari artikel ini lebih luas diterima masyarakat.

  2. Sahrul Roji on said:

    Masya Alloh …🙏🙏

  3. Sahrul Roji on said:

    Masya Alloh ..
    Akhirnya Syaikh SM nulis lagi pencerahan nya…
    Jazakallah Khairan katsyron…

  4. amrullah pagala on said:

    Untuk “hadir” di hadiratNya, tidak cukup melalui perantaraan akal pikiran, dibutuhkan hati. tetapi hati saja juga belum cukup. lantaran hati itu mustilah lebur dalam Aku. Inilah diri yang sebenarnya diri dan ini pula zikir yang sebenarnya zikir. Al lisanu tarjumanil qalbi wa qalbi tarjumanil Hidayah minnurril qadim

  5. Terimakasih Yang Mulia Tuan Guru. Allahumma shali ala saidinna Muhammad waala aali saidinna Muhammad.

  6. jamilmarantau@gmail.com on said:

    Luar biasa pencerahannya.. Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: