Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Tarekat”

Kenapa Harus Ber-Tarekat?

Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh orang yang belum menekuni tarekat, bukankah Allah dan Rasul telah mewajibkan kita ibadah dalam rukun Islam, kenapa harus ditambah dengan tarekat?. Lebih ekstrem lagi mereka seperti protes, “Kalau kami tidak bertarekat, apa kami tidak masuk surga?”. Bukan hanya itu, orang yang terlanjur membenci tarekat karena ketidaktahuannya kemudian mencari-cari salah. “Orang tarekat tidak bersyariat”, “Pengkultusan kepada manusia”, “amalan mereka bid’ah” dan berbagai tuduhan lain yang tidak pernah bisa dibuktikan, karena memang tidak demikian. Baca lebih lanjut…

QADIM

Tarekat tidak lain adalah metodologi warisan Nabi untuk melaksanakan hukum-hukum Allah (syariat) agar sesuai dengan standar yang di inginkan oleh Allah terutama dalam hal ibadah. Segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia akan berada pada dimensi manusia tidak mungkin sampai pada dimensi Allah yang Maha Gaib dan Maha Tak Terjangkau. Memakai bahasa tasawuf, “Segala yang keluar dari baharu tetap menjadi Baharu tidak mungkin menjadi Qadim, hanya yang berasal dari Qadim lah apapun menjadi Qadim”. Ketika Allah SWT berkata-kata maka itu menjadi firman dan bersifat qadim karena berasal dari qadim sedangkan firman Allah yang di ucapkan oleh mulut manusia tetap menjadi baharu, tidak menjadi qadim.

Baca lebih lanjut…

RISET (Bag 2)

Bagi yang beragama hanya pada tataran kulit atau Syariat sangat aneh menerima pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut. Sama halnya dengan pendidikan sebelum universitas, disana hanya ada dogma saja, meyakini tanpa harus perlu susah payah membuktikan. Hapal semua rumus-rumus kemudian diberi ujian berupa rumus hapalan itu juga, tanpa pernah membuktikan kebenaran rumus tersebut.

Bagi yang beragama hanya pada tataran kulit atau Syariat sangat aneh menerima pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut. Sama halnya dengan pendidikan sebelum universitas, disana hanya ada dogma saja, meyakini tanpa harus perlu susah payah membuktikan. Hapal semua rumus-rumus kemudian diberi ujian berupa rumus hapalan itu juga, tanpa pernah membuktikan kebenaran rumus tersebut.

Tarekat ibarat pendidikan universitas, kelanjutan dari pendidikan Dasar dan Menengah. Di Universitas tidak lagi berlaku dogma-dogma, keyakinan tanpa bisa dibuktikan. Seorang Mahasiswa harus bisa menemukan kebenaran dari setiap teori yang telah di hapal di sekolah. Untuk bisa membuktikan kebenaran teori itu harus dibimbing oleh seorang Profesor ahli yang telah berulang kali melakukan riset sehingga nanti hasilnya bisa sama dengan teori tersebut.

Baca lebih lanjut…

RISET

Riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis, yang bertujuan untuk menemukanmenginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwatingkah lakuteori, dan hukum, serta membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan tersebut. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan suatu koleksi informasi menyeluruh mengenai suatu subjek tertentu, dan biasanya dihubungkan dengan hasil dari suatu ilmu atau metode ilmiah. Kata ini diserap dari kata bahasa Inggris Research yang diturunkan dari bahasa Perancis yang memiliki arti harfiah “menyelidiki secara tuntas”. (wikipedia) Baca lebih lanjut…

Setelah Shalat Subuh (9)

Syariat dan hakikat tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lain. Kita tidak bisa mengambil salah satu kemudian meninggalkan yang satunya. Syariat ibarat jasad sedangkan hakikat ibarat ruh tentu keduanya harus ada dalam waktu bersamaan. Syekh Muhammad Hasyim al-Khalidi mengibaratkan hakikat seperti badan sedangkan syariat seperti pakaian. Badan tanpa pakaian menjadi telanjang sedangkan pakaian tanpa badan tidak bermanfaat sama sekali. Baca lebih lanjut…

Berdamai Dengan Diri

IMG_9495Malam selasa penuh berkah dimana para pecinta bergegas penuh semangat mendatangi Sang Kekasih, sebagian menyebut sebagai “Pelepas Rindu”, sebagian lain menyebut “Mengambil Berkah”, tidak salah juga kalau ada yang menyebut “sebagai wujud patuh” dan pada umumnya menyakini sebagai tradisi tarekat yang sudah ada sejak zaman Nabi yaitu dzikir berjamaah setelah shalat Isya di malam Selasa dan malam Jum’at.

Dzikrullah atau mengingat Allah adalah amalan yang tidak terhingga nilainya, disebut dalam al-Qur’an dan Hadist. “Berdzikirlah (Ingatlah) kamu pada-Ku, niscaya Aku akan ingat pula padamu! ” (Al–Baqarah :152). Makna ayat di atas apabila seorang hamba berdzikir (ingat) kepada Allah dengan metodologi yang tepat, maka Kalimah Allah yang asli berasal dari Allah akan diberikan dan turun kepada si hamba, barulah dia memperoleh kemenangan dunia akhirat. Dzikir tanpa metodologi akan menjadi sekedar menyebut saja, tanpa ada power sama sama sekali. Baca lebih lanjut…

Proses…

photo-1Di dunia ini semua mengalami proses, baik proses kepada kesempurnaan atau pun proses kepada kehancuran atau kebinasaan. Manusia sejak lahir mengalami proses menjadi balita kemudian menjadi anak-anak, selanjutnya menjadi remaja dan sempurna menjadi dewasa. Setelah dewasa umur 40 tahun, siklus nya menjadi terbalik, secara perlahan menuju kepada ketiadaan, akhirnya meninggalkan dunia.

Seluruh manusia menginginkan hidup sehat, panjang umur bahkan andai Tuhan mengizinkan, mereka ingin hidup selamanya. Keinginan manusia untuk hidup abadi kemudian tertuang dalam berbagai macam cerita mitos, tentang “Air Kehidupan”, “Air Keabadian”, apabila manusia meminumnya maka dia akan hidup abadi. Baca lebih lanjut…

Post Navigation