Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Menyembah Ka’bah Bag-2

Kalau di Undang Oleh Allah, kenapa tidak berjumpa?

ka'bah

Menarik untuk dibahas, bahwa haji sebagai puncak ibadah ummat Islam, tempat seluruh manusia berkumpul, melaksanakan ibadah dengan satu tujuan agar bisa merasakan kedekatan dengan Allah, bisa berjumpa dengan Allah. Wukuf di Arafah bukan sekedar menunggu kekosongan, bukan menunggu waktu habis, tapi menunggu turun nur Allah SWT yang Maha Agung.

Kalau kita diundang oleh Bupati misalnya, yang membuat undangan bupati, di undang ke pendopo atau rumahnya, tentu bisa dipastikan kita akan berjumpa dengan bupati. Begitu juga kalau kita diundang oleh Presiden, yang membuat undangan presiden dan itu merupakan undangan resmi dan kita di undang ke istana negara, bisa dipastikan bahwa kita akan berjumpa dengan presiden. Kita tidak berjumpa dengan presiden ada kemungkinan undangan yang kita terima palsu, presiden tidak pernah mengundang kita atau kita tidak mengenal sama sekali sosok presiden.

Sama halnya dengan menunaikan ibadah haji menemui undangan Allah, berapa banyak di antara jamaah haji yang konon kabarnya memenui undangan Allah tapi tidak pernah berjumpa dengan Allah disana. Dimana salahnya?

Apakah undangan yang kita terima palsu atau kita tidak mengenal Allah sama sekali. Bisa jadi kedua-duanya benar. Orang yang memenuhi undangan Allah, datang sebagai tamu Allah di Baitullah tentu akan disambut oleh Allah dengan suka cita, Allah akan memperlakukan tamu-Nya dengan sangat baik. Permohonan para tamu akan dikabulkan sebagai wujud kasih dan sayang-Nya. Namun dari seluruh orang yang menunaikan ibadah haji, berapa orang yang benar-benar memiliki pengalaman berjumpa dengan Allah, berdialog dengan sang pemilik ka’bah, TUAN yang dituju oleh segenap hamba.

Seluruh orang yang datang menunaikan ibadah haji tentu saja akan disambut oleh Allah SWT tanpa kecuali. Tapi pertemuan dengan Allah antara satu dengan lainnya memiliki tingkatan yang berbeda. Sebagian merasakan Allah begitu dekat ketika mereka berdekatan dengan ka’bah, ketika mencium hajarul aswad atau ketika berada di padang arafah, mereka menangis merasakan kehadiran Allah. Perasaan itu yang sulit untuk dijelaskan tapi semua meyakini dan merasakan akan perasaan tersebut. Bagi yang sudah mencapai tahap makrifat kepada Allah, perasaan itu bukan sekedar perasaan tapi bisa berupa kepada pertemuan yang begitu di dambakan.

Harus di ingat bahwa Allah itu tidak berada di ka’bah, tidak berada di mesjid atau tempat suci lainnya di muka bumi, dia berada di hati hamba-Nya yang lembut dan tenang. Dia bersemayam dalam diri hamba yang dikasihi-Nya, disanalah Dia berada.

Kiblat ada 4

Tentang Kiblat atau arah pandangan dalam beribadah memiliki 4 tingkatan yang berbeda :

Kiblat Syariat adalah Ka’bah, kesana seluruh muslim menghadapkan wajah ketika beribadah.

Kiblat Tarikat adalah Qalbu, disamping menghadapkan wajah kepada ka’bah, seorang yang telah menekuni tarekat, menemukan metode untuk menyebut nama Allah, maka Qalbu menjadi kiblatnya, dari sana terpancar cahaya Allah yang terus menerus dirasakannya. Dalam Qalbu yang berada dalam dirinya tersebut dia menemuka Sang Maha Sempurna. Benar ucapan Rasulullah SAW, “Barang siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya”. Barangsiapa yang telah mengenal dirinya, telah mengetahui letak Qalbunya, kemudian dari sana dia menyebut nama Allah maka dia telah mengenal Tuhannya secara perlahan-lahan.

Kiblat Hakikat adalah Mursyid. Disamping menghadapkan wajah kepada ka’bah sebagai syarat utama di dalam syariat dan merasakan getaran Ilahi di dalam Qalbu, maka seorang yang ingin memasuki alam hakikat wajib memiliki pembimbing rohani, wajib memfokuskan pandanganya kepada Mursyid yang membimbing rohaninya menuju kehadirat Allah SWT. Junaidi Al-Baghdadi berkata, “Makrifat kepada Guru Mursyid adalah mukadimah Makrifat kepada Allah”, mengenal Guru Mursyid adalah awal atau pembuka dalam mengenal Allah SWT.

Berzikir tanpa adanya pembimbing maka seseorang tidak akan sampai kepada alam hakikat, akan tersesat ditengah perjalanan. Abu Yazid mengingatkan akan bahaya orang yang menuntun ilmu hakikat tanpa memiliki guru, hanya dengan membaca atau mendengar.  “Barangsiapa yang menuntun ilmu tanpa memiliki Syekh, maka wajib setan Syekh nya”.

Guru dan Mursyid itu sebenarnya dua unsur yang terpisah, yang satu berhubungan dengan jasmani dan yang satu lagi berhubungan dengan rohani. Guru akan membimbing jasmani para murid, mengajarkan tentang kebaikan, memberikan arahan tentang tata cara ibadah yang benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Mursyid adalah pembimbing rohani murid. Mursyid adalah rohani Guru yang telah diberi izin oleh Guru sebelumnya dan jalur keguruannya bersambung sampai pada Rasulullah SAW sehingga hakikat izin yang diterima oleh Guru Mursyid adalah berasal dari Rasulullah langsung untuk membimbing ummat menuju kehadirat Allah swt. Mursyid ini sering disebut sebagai khalifah Rasul, yang melayani ummat dengan membimbing mereka secara zahir dan bathin.

Karena Guru dan Mursyid itu berkumpul dalam satu pribadi maka sering disebut dengan Guru Mursyid atau Syekh Mursyid. Guru Mursyid sudah pasti harus mempunyai kualitas seorang Wali Allah, dan seorang Wali Allah belum tentu mempunyai kualitas sebagai Mursyid, banyak Wali Allah yang ilmu diperolehnya bukan untuk disebarkan tapi cukup untuk diamalkan sendiri.

Imam al Ghazali berpendapat bahwa sangat penting bagi seseorang yang menempuh perjalan rohani mempunyai seorang Guru Mursyid yang membimbing agar tidak tersesat sebagaimana yang beliau kemukakan :

Di antara hal yang wajib bagi para salik yang menempuh jalan kebenaran adalah bahwa dia harus mempunyai seorang Mursyid dan pendidikan spiritual yang dapat memberinya petunjuk dalam perjalanannya, serta melenyapkan akhlak yang tercela. Yang dimaksud pendidikan di sini, hendaknya seorang pendidik spiritual menjadi seperti petani yang merawat tanamannya. Setiap kali melihat batu atau tumbuhan yang membahayakan tanamannya, maka dia langsung mencabut dan membuangnya. Dia juga selalu menyirami tanamannya agar dapat tumbuh dengan baik dan terawat, sehingga menjadi lebih baik dari tanaman lainnya. Apabila engkau telah mengetahui bahwa tanaman membutuhkan perawat, maka engkau akan mengetahui bahwa seorang salik harus mempunyai seorang mursyid. Sebab Allah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk membimbing mereka ke jalan lurus. Dan sebelum Rasulullah SAW`wafat, Beliau telah menetapkan para Khalifah sebagai wakil Beliau untuk menunjukkan manusia ke jalan Allah. Begitulah seterusnya, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, seorang salik mutlak membutuhkan seorang Mursyid.

Tentang kriteria dan syarat Guru Mursyid serta pentingnya Guru Mursyid di dalam menempuh jalan kepada Allah serta dalil-dalil al-Qur’an dan Hadist yang menjelaskan panjang lebar tentang Mursyid bisa anda baca di 9 tulisan yang sudah pernah saya tulis di bawah ini :

Syarat dan Kriteria Guru Mursyid

Pendapat Imam Al-Ghazali Tentang Pentingnya Mursyid

Berwasilah Kepada Mursyid

Siapa Yang Tidak Memerlukan Mursyid?

Lebih Dalam Tentang Mursyid dan Wasilah

Lebih Dalam Tentang Mursyid dan Wasilah-2

Rabithah Mursyid

Berguru Kepada Mursyid

Urgensi Kemursyidan

Tentang Kiblat ke empat yang sangat penting untuk kita ketahui dan menjadi kunci dalam beribadah akan saya uraikan pada tulisan berikutnya. Silahkan anda baca dulu 9 tulisan di atas yang menjelaskan secara lengkap tentang Guru Mursyid dan Hakikat Ibadah. Semoga Allah senantiasa menuntun dan membimbing kita ke jalan-Nya yang lurus dan benar, Amin.

Bersambung…

Single Post Navigation

13 thoughts on “Menyembah Ka’bah Bag-2

  1. Riswan tomi on said:

    Asa.W.W….Adem….Izin share bangda……Kgkgkgkgkgk….:)…….Wass…….

  2. @admin SM
    Assalamu ‘alaikum wr.b.
    Ada satu hadits yg konon ada di Jami’ Shohih Bukhary dan Muslim (maaf tak sempat ngecek) yg bunyinya :
    ( لعن اللهُ اليهود والنّصارى اتّخذوا قبور أنبيائهم مساجد ) menurut admin @SM seperti apa maksud hadits ini?.
    Krn sy kira artikel ini (bag. 1& 2) jawaban dari coment sy di artikel “Setelah Sholat Shubuh (2)’ sblmnya. Tapi maaf sy belum menemukan relevansinya antara sujud menghadap Ka’bah ketika sholat ( yg jelas ada dalilnya) dgn tulisan admin @SM ” Jadi kalau hidup anda sudah sedemikian rumit, kegelisahan melanda hati, bayangan akan dosa-dosa yang telah anda lakukan menghantui siang dan malam, barangkali tidak salah mencoba rahasia yang diberikan Allah kepada Musa, tapi anda jangan mencari kuburan Nabi Adam yang sampai sekarang tidak diketahui, berziarah dan sujudlah ke Makam Rasulullah saw yang keutamaan Beliau di atas Nabi Adam as”. Mohon tanggapan @admin SM. wassalam

    • @admin SM
      Assalamu ‘alaikum wr.wb.
      maaf sbelumnya mas SM, sy menulis coment di atas dan jg sebelumnya (menurut niat awal sy, sy tak jamin niat ini masih murni) yaitu ingin “mengoreksi” tulisan di artikel antum “sujudlah ke Makam Rasulullah saw”, karena dlm pemahaman sy agak ganjil dan musykil. Ya.. tak masalah klu @admin SM tak bersedia melanjutkan dialog (bukan jidal) ini dan tak bersedia menghapus tulisan itu di artikel sebelumnya (klu itu benar dlm keyakinan @admin). Perlu @admin ketahui sy bukan pengikut “firqah” yg membida’ahkan tashawwuf justru sy ingin ber-tashawwuf dgn ditandai menjadi murid. Cuma ini blm kesampaian dan di daerah sy sepengatahuan sy saat ini blm ada yg berwenang memberi ijazah wirid thariqah. Suatu saat insya-Allah semoga Allah izinkan sy berjumpa dgn seorang mursyid. Semoga Allah selalu memberi kita taufik, hidayah, inayah dan berkah-NYA. amin…Dan sy mohon maaf …. Wassalam

  3. luluk Rahayu on said:

    bagaimana cara menemukan mursyid yang pas ya….?? apakah hrs mondok????

  4. teguh keling on said:

    Pertanyaannya barangkali, dengan bertambahnya umat manusia apakah sebanding juga dengan pertambahan mursyid yang ada, karena secara matematis bila jumlah mursyid nya tetap berarti semakin sedikit jumlah orang yg bisa berkesempatan bertemu dengan mursyid, lalu bagaimana nasib mereka di akherat nanti ? seperti saya contohnya, saya sangat berharap di tulisan berikutnya juga disertakan bimbingan untuk bertemu dengan mursyid, jadi biar tuntuas ngaji nya, maksih

    • Tulisan2 yang saya buat untuk menggugah orang mencari Guru untuk membimbing mereka kepada Allah swt.
      Di dunia ini banyak Guru Mursyid yang dgn ikhlas selalu siap membimbing orang2 yang sungguh2 mencari.
      Saya tidak menunjuk A guru mursyid atau B guru mursyid, masing2 sudah ditentukan oleh Allah siapa yang akan membimbingnya.

  5. aslmualaikum’ bg SM sya mau brtnya’ sya hnya orng biasa’ stiap gru mursyid psti mmpuyai ilmu ma rifat yg tinggi ‘ & pasti sdh d kenal’ tp stiap guru mursyid’ zman skrng slit untuk d tmui’ apa lg gru sdh terkenal’ pstisulit untk brttp muka apalgi brdialog lngsung’ nah apakh bisa sya orng yg biasa ini bertmu scra rohaniah’ scra hakikat’ dengan apa cara nya’ agr beliau tau bahwa sya ingin bljr & brtmu.mhon ptunjk.

  6. aslmualaikum bg Sm tnya lgi ni’ brarti hakikat kita saat dlm shlat kita hrus mengingat wjah gru kita itu’ & klo sya mngal beliau dn bliau tdk mngnl sya apakh itu sma sja hakikat nya’
    krna stiap gru bsar atau mrsyd kn byk pngikut nya’ sprti ddlm mjlis kn stiap guru hanya mmbca kn kitab2 sja’ tdk mungkikn bliau brknln stu perstu’kpd mrka’
    mksd sya tnpa brtmu dn brttp muka lngsng dngn beliau & hnya mngingt bliau apakh sah sja hakikat nya dlm sholat krna sya ykin bliau mursyd

  7. ade slamet on said:

    bolehkah saya tau siapa guru mursyid tuan dari ilsilah keberapaka? dan guru mursyid saya adalah syekh gazali an naqsabandi silsilah ke 36
    http://www.jabalqubis.org

  8. jika kanda mencari guru mursyid yang absah silakan kanda cek di http://www.jabalqubis.org silsilah ke 36….

  9. Assalammu alaikum wr wb,
    Sedikit penyimpangan atas pernyataan diatas, ; “Harus di ingat bahwa Allah itu tidak berada di ka’bah, tidak berada di mesjid atau tempat suci lainnya di muka bumi, dia berada di hati hamba-Nya yang lembut dan tenang. Dia bersemayam dalam diri hamba yang dikasihi-Nya, disanalah Dia berada”.

    Kalau anda beraggapan bahwa Allah adalah Tuhan yg disembah manusia, bukan sebagai nama NYA, . maka akan memunculkan pengertian bahwa tuhan tdk esa, karena ada dlm dada manusia.
    Sebaliknya bila menyakini Allah adalah nama tuhan yg disembah manusia, maka DIA tetap esa, karena yg ada di dalam dada manusia yg beriman kpd NYA, tidak lain dan tidak bukan adalah “PERINTAH NYA” , sebagaimana ada salah satu ayat di AlQur’an ; sebut sebut lah NAMA_KU di dalam dirimu, dari pagi hingga petang, baik dlm keadaan berdiri, duduk maupun berbaring, dan janganlah engkau termasuk org yg lalai.

    MENYEBUT nama, . . .dimisalkan ada 40 org MENYEBUT nama saya, dan yg 40 org tsb menyebutnya berkali kali, .. . namun sosok saya tetap satu, sekalipun mrk nyebutnya ribuan kali, . . .

    Nama tuhan dan tuhan adalah dua unsur yg sangat beda, . . Jadi siapa tuhan kita ? Jawabannya adalah ” Yang Punya Nama” , yaitu MAHA DZAT yg menciptakan manusia dgn tujuan “mengabdi kpd NYA” .
    Jadi bisa dinyatakan bahwa Allah adalah nama tuhan yg kita sembah, dan menyebut namanya sebanyak mungkin (dzikran qasira) adlh pengabdian utama kpd NYA.
    Namun bila pemikiran kjta atau pemahaman kita bahwa Allah itu tuhan, dan tuhan itu ada di dalam dada manusia, maka batal lah hukum ke ESA an nya, karena ada sktr 1 milliar kaum muslim dunia, kan ga mumgkin tuhan ada 1 milliar pula, ?
    “Kalau ada yg bertanya tentang KU ya Muhammad, katakanlah “itu” urusanKU, hanya sedikit yg kuberikan ilmu ttg KU, . .ada ayat nya di AlQuran, semoga tuan sufi muda di izinkanNYA utk cross-check di kitab suciNYA (ALQURANUL KARIM)
    Sufi Besar Syeikh Junaed Al Baghdadi merupakan penerima pewarisan ke 5 dari garis silsilah Sayidina Ali ra, .dan pewarisan yang ke 17 diperoleh Syeik Tajul Khalwati, putra Goa Sulsel, yg dibuang Belanda ke Afrika Selatan, .Silahkan dilihat dilampiran pd buku Wiridan dan Shalawat Surau Baitul Ibadah – Perguruan Tareqat Saman dan Naqsabandi, . yang diterbitkan oleh Almukaram Syeikh Abuya Ibrahim Bonjol yg atas izin Allah Azza wa Jala menerima wasilah dari Tuanku Balubus di Payakumbuh Prov Sumbar, yg beliau pun mendapatkan wasilah pewarisan tugas kerasulan baginda rasulullah Muhammad SAW dari mursyid beliau, yakni Inyiak Kumango di Sumbar juga, .
    Saya yg hina ini mendapatkan ilmu agama melalui bai’at yg sakral .dari Ayahanda Guru Dornes Burhan Tuanku Mudo, . .murid dari Buya Ibrahim Bonjol, .
    Semoga bermanfaat kupasan sederhana dari seorang hambaNYA yg hina, . wassaalam mualaikum wrwb

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: