• Nasehat,  Pemikiran,  RAMADHAN,  Rasulullah

    Ramadhan Bermula Dari Menyaksikan

    Seluruh ummat Islam selama sebulan penuh melaksanakan puasa di bulan suci Ramadhan. Untuk mengetahui apakah sudah saatnya puasa dimulai adalah dengan nampaknya Hilal. Hilal dalam Bahasa Arab terdiri dari 3 Huruf, Ha-Lam-Lam bisa diartikan nampaknya bulan sabit di awal bulan. Ketika kita menyaksikan dengan mata munculnya bulan sabit, maka saat itulah kita bisa melaksanakan puasa. Hilal sebagai syarat memulai puasa dalam makna hakikat bisa diartikan menyaksikan Keagungan-Nya. Hanya orang yang sudah mengenal-Nya di-izin-kan untuk berpuasa karena tanpa itu nanti puasa hanya akan mendapatkan lapar dan dahaga sebagaimana yang telah disampaikan oleh Nabi SAW.

  • Tasauf

    Syahid

    Tewasnya Santoso di tangan TNI di hutan poso Sulawesi meninggalkan pertanyaan besar dikalangan ummat Islam, apakah Santoso tergolong mati syahid atau tidak. Ada yang meyakini bahwa Sontoso adalah syahid, tentu surga tempatnya dengan berbagai alasan. Orang yang berkeyakinan bahwa Santoso mati syahid salah satunya Jonru. “Santoso boleh dituduh teroris. Namun fakta pada video yang saya temukan pada akun FB seorang teman ini justru membuktikan hal yang berbeda. Terus-menerus berkeringat, tubuh lemas tidak kaku, dan wajah tersenyum, adalah beberapa ciri dari orang yang meninggal sebagai syuhada,” tulis Jonru seperti dikutip, Senin, 25 Juli 2016.

  • Tasauf

    BUTA MATA HATI

    Kita bisa melihat benda disekitar karena ada cahaya, kalau siang ada cahaya matahari dan kalau malam ada cahaya bulan atau lampu. Tanpa cahaya maka pengliatan kita tidak berfungsi sama sekali. Namun demikian, pada orang-orang tertentu yang cacat matanya (buta) walaupun diberi cahaya terang benderang tetap tidak bisa melihat apa-apa, tetap berada dalam kondisi gelap gulita. Sama halnya dengan mata hati (Qalbu) fungsinya untuk bisa menyaksikan (Musyahadah) Allah SWT. Penyaksian itu bisa terjadi dengan adanya cahaya-Nya yang menyinari hati, dengan sinar yang Maha tersebut maka manusia bisa sampai ke Maqam Musyahadah sehingga tanpa ragu dan bimbang sedikitpun dia berucap (setelah menyaksikan), “Aku Bersaksi (Bermusyahadah) tiada Tuhan selain Allah”.