Tasauf

Setelah Shalat Subuh (19)

Dalam biografi tentang `Abdullah Al-Qurasyi dijelaskan bahwa suatu saat murid-muridnya memintanya untuk menyampaikan secuil tentang ilmu hakikat. Menanggapi permintaan murid-muridnya, dia lalu mengatakan pada murid-muridnya itu, “Berapa jumlah kalian saat ini?” Murid-muridnya menjawab, “Ada enam ratus orang.”

Pilih seratus orang yang terbaik di antara kalian,” begitu pinta sang guru. Mereka lalu memilih seratus orang terbaik. “Dari seratus itu, ambil dua puluh orang yang terbaik,” sang guru menyaring lagi. Mereka lalu memilih dua puluh orang yang terbaik. “Seleksi lagi empat orang terbaik dari dua puluh itu,” kata sang guru meneruskan seleksinya.

Lalu mereka memilih empat orang terbaik itu, karena hanya empat orang itulah sesungguhnya yang mempunyai kemampuan kasyf dan makrifat. Tapi menariknya, Muhammad Al- Qurasyi lalu berkata, “Sekiranya aku sampaikan semua pengetahuan tentang hakikat (`ilm al-haqa’iq) dan pengetahuan tentang semua misteri / rahasia ( ‘Um al-asrar) itu pada kalian, niscaya orang pertama yang menjatuhkan vonis kafir kepadaku adalah empat orang ini.”

Apa yang terlintas dalam pikiran anda, dari 600 murid, dipilih dan diseleksi tinggal 4 orang dan ternyata jika rahasia Hakikat dan Rasa itu diungkapkan maka mirip pilihan itu justru yang memvonis kafir kepada Gurunya.

Maknanya bahwa ilmu-ilmu itu tidak bisa disampaikan lewat akal, lewat penuturan, lewat kajian dan ceramah karena akal mempunyai keterbatasan yang tidak mampu menampung segala Hakikat Tuhan. Akal akan membandingkan dengan apa yang pernah diterima sebelumnya, karena Hakikat itu sesuatu yang belum pernah masuk di dalam akalnya makanya pasti akan ditolak. Sifat akal itu senang membandingkan sedangkan hakikat tidak ada perbandingan, ketika dibuat perbandingan menjadi menyalahkan.

Allah SWT telah mengingatkan manusia bahwa alam ini tidak mampu menampung Dzat-Nya, termasuk juga akal fikiran manusia. Hanya Qalbu yang telah disucikan dan memiliki sifat pasrah, patuh dan berserah diri bisa menampungnya.

Orang yang menekuni tasawuf HANYA dengan membaca kitab-kitab tasawuf atau mendengarkan ceramah bahkan mengambil studi sampai strata 3 bidang tasawuf di Universitas tidak akan sampai ke tahap apa yang dirasakan dan di pahami oleh para syekh terdahulu termasuk yang mengarang kitab itu sendiri karena RASA tidak bisa dipindahkan. Maka tidak mengherankan sebagian orang yang menekuni tasawuf lewat membaca tanpa sungguh-sungguh berguru dan mendapat bimbingan justru pada akhirnya dia menyalahkan ajaran tarekat sebagai pelaksanaan praktik dari tasawuf itu sendiri.

RAHASIA yang terdapat di dalam qalbu orang-orang pilihan Allah sejak zaman setelah Nabi sampai saat sekarang ini hanya bisa ditransfer lewat qalbu dan itu tetap menjadi rahasia tersimpan dalam qalbu sepanjang zaman. Sebagaimana nasehat dari salah seorang imam tasawuf  Junaidi al-Bahgdadi kepada Al-Syibli, “Jangan sekali-kali Anda membuka rahasia Allah Swt. pada mereka yang terhalang oleh tirainya sendiri (al-mahjubin) .”

Demikian

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca