Kehendak-Nya

Suatu ketika Guru berdiri lama di jendela Surau, menatap keluar tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Saya duduk di belakang Beliau, kira-kira 15 menit Beliau berucap dengan suara pelan, “Tidak ada rencana pribadi aku, hanya rencana Tuhan saja aku ikuti”. Hanya kata itu terucap dari mulut Beliau dan kemudian Beliau masuk kembali ke kamar.
Pada kesempatan lain ketika menerima salah seorang murid Beliau berkata, ”Aku sedang berfikir, apa maunya (kehendak) Tuhan dengan datang kau kemari”. Maksudnya Beliau sedang merenung kenapa Tuhan mengirim murid itu kepada Beliau, kira-kira pesan apa yang harus dipahami dan pelajaran apa yang bisa diambil dari pertemuan Beliau dengan muridnya.
“Pada akhirnya Allah Ta’ala akan mengajari kita lewat alam, ibarat tinta sebagai pena dan seluruh rantinf kayu di dunia ini jadi pena tidak akan cukup untuk menulis firman-Nya di alam ini”, begitu Beliau sering memberi nasehat, menyampaikan firman Allah dalam bahasa sederhana.
“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. Lukman, 27)
Seorang Nabi sebagai manusia terpilih memiliki Guru (Jibril AS) untuk membimbing Beliau agar mengenal Allah dan kemudian bisa memahami kehendak-Nya, baik lewat firman langsung maupun tidak langsung. Jibril AS yang menjelaskan kepada Nabi hal yang terkadang tidak dipahami Nabi sebagai manusia biasa yang memiliki keterbatasan. Nabi juga memahami kehendak-Nya lewat Firman fil Nafsil Insan, Kalam Allah yang langsung kedalam jiwa Nabi, Kalam inilah yang bersifat abadi, sesuai dengan sifat Allah Maha Berkata-kata (Al-Kalam), Dia akan Berkalam selamanya.
Manusia dalam pencarian untuk memahami kehendak-Nya, apa sesungguhnya yang Tuhan inginkan secara spesifik kepada dirinya membutuhkan waktu dan secara bertahap-tahap. Lewat memahami ayat-ayat Allah yang telah tersurat di dalam Al-Qur’an, dari sekedar bisa membaca, mengerti arti sampai memahami tafsir dan tertinggi bisa paham yang tersirat dan tersembunyi dari makna al-Qur’an itu sendiri.
Dalam perkambangannya, Ilmu memahami kehendak-Nya itu berkembang menjadi ilmu Tauhid; Ilmu Kalam (Ilmu teologi dari sudut pandang logika), Ushuluddin dan lain sebagainya. Iman yang awalnya hanya dipahami sederhana lewat rukun íman kemudian berkembang menjadi ilmu tentang sifat Allah dan menguraikan tentang nama-nama Allah (Asmaul Husna).
Orang yang tidak mencapai tahap Makrifat Dzat, memahami Allah lewat nama dan sifat-Nya sudah sangat membantu. Kekurangan orang yang mahir ilmu Kalam dan Ilmu Tauhid ini terkadang menjadi manusia sok tahu, merasa paling paham tentang Tuhan tapi tidak pernah sampai kepada esensi-Nya. Pemahaman diputar-putar di dalam fikirannya tentang sifat Tuhan, tentang pancaran kemahakuasaan Tuhan di alam. Pada akhirnya menjadi aneh, merasa dalam dirinya ada Tuhan dan dalam praktek yang ekstrim tidak lagi melaksanakan ibadah-ibadah pokok karena dia merasa yakin bahwa Tuhan ada dalam dirinya. Kesalahan dalam memahami Wahdatul Wujud Ibnu ‘Arabi juga berujung seperti ini
“Gila” ilmu Kalam ini mirip dengan ”Gila” orang yang tidak sempurna belajar ilmu Nahwu. Setiap hari hanya sibuk memahami makna kata dan definisi sampai ajal menjemput. Laksana Gasing yang berputar kencang tapi tidak pernah sampai kemana pun, hanya berputar-putar di tempat.
Bersyukur bagi siapapun yang mempunyai Guru Mursyid yang senantiasa menbimbing jasmani dan rohani dalam menuju kehadirat Allah, bukan di bimbing oleh akal fikirannya yang sangat mudah disusupi syetan. Mursyid itu sudah berulang kali kami jelaskan bukanlah fisik yang nampak tapi Al-Wasilah, segala sesuatu yang berasal dari sisi-Nya. Jibril As yang membimbing Nabi juga sosok Ruh Qudus, Jiwa yang suci yang berasal dari sisi-Nya, pun Rasulullah SAW membimbing dengan Al-Wasilah tadi, segala sesuatu dari-Nya, dengan itulah Beliau disebut sebagai utusan.
Memahami kehendak-Nya kepada manusia secara umum sudah sangat jelas tercantum di dalam Al-Qur’an, menjadi Abdi-Nya, menjadi hamba-Nya yang segala gerak gerik siang dan malam sepanjang hidup tidak lain sebagai hamba-Nya.
Memahami kehendak-Nya secara spesifik itu membutuhkan bimbingan karena Tuhan tentu saja tidak berkalam begitu saja kepada manusia secara umum.
Kira harus memiliki kerendahan hati yang lebih untuk menyadari bahwa Kalam Allah, Firman-Nya yang maha tinggi tidak akan mungkin dengan mudah dipahami. Al-Qur’an sebagai firman Allah yang tertulis pun tidak akan mudah kita pahami. Seorang anak SD mungkin bisa membaca tulisan seorang Profesor tapi untuk bisa paham sebagaimana yang dipahami professor tentu tidak mudah. Konon lagi kalam Allah yang Maha Tinggi dan Maha Tak Terhingga. Untuk memahami Firman dalam bentuk getaran Maha Dahsyat itu, Allah menurunkan utusan untuk bisa menyampaikan maksud dan kehendak dari Tuhan, menyampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami manusia, itupun tidak dengan mudah.
Maka dalam tradisi tarekat, seorang murid belajar patuh dan tunduk kepada apa yang disampaikan oleh Gurunya, agar dia bisa lebih sempurna dalam memahami. Bimbingan secara spesifik itu pada akhirnya akan sampai kita ketahap memahami Kehendak-Nya secara spesifik pula, kehendak-Nya kepada diri kita pribadi masing-masing.
Ibarat sepasang kekasih yang saling jatuh cinta, lirikan mata dan anggukan kepala akan dengan mudah dipahami keduanya, hal yang tidak dipahami oleh orang lain. Maka tidak akan mungkin seseorang bisa melakukan hal-hal diluar kehendak-Nya, melanggar apa yang sudah ditetapkan-Nya, karena segala geraknya sudah begitu harmonis.
Hal ini terekam begitu indah didalam hadist Qudsi, “Apabila telah-Ku cintai, Mata-Ku ketika dia melihat, Tangan-Ku ketika dia memegang, kaki-Ku ketika dia berjalan, dan segala permohonannya Ku kabulkan”.
Dewa 19 menuangkan dalam lirik lagunya, “SATU’
Aku ini adalah dirimu, Cinta ini adalah cintamu
Aku ini adalah dirimu, Jiwa ini adalah jiwamu
Rindu ini adalah rindumu, Darah ini adalah darahmu
Tak ada yang lain selain dirimu, Yang selalu kupuja
Dengan tanganmu aku menyentuh
Dengan kakimu aku berjalan
Dengan matamu ku memandang
Dengan telingamu ku mendengar
Dengan lidahmu aku bicara
Dengan hatimu aku merasa
Tak ada yang lain selain dirimu
Yang selalu kupuja