Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Sufi Kota Mencari Tuhan

NAMANYA Rumi Cafe. Berlokasi di Jalan Iskandarsyah yang mengarah ke Kemang, kawasan elite di Jakarta Selatan, ia diharapkan menjadi tempat hangout terbaru untuk kaum belia Ibu Kota. ”Saya berniat menjerat anak muda masuk surga,” kata Arief Hamdani, Presiden Haqqani Sufi Institute of Indonesia, sembari tertawa.

Rumi Cafe memang bukan seperti kafe biasa. Tempat ini tidak menyediakan minuman beralkohol. Namun nuansa tenang dan damai langsung menyapa siapa saja yang datang. Hot spot ini digadang-gadang Arief sebagai tempat bertemu, berdiskusi, sekaligus menikmati sema atau whirling dervishes, tarian sufi yang berputar-putar itu, yang diperkenalkan Jalaluddin Rumi, sufi agung abad ke-13.

Kafe kaum spiritualis ini menempati sebuah rumah toko berlantai dua. Dinding interiornya dicat abu-abu tua. Sejumlah buku dan foto tokoh sufi, termasuk Rumi, dipajang berjajar di etalase. Begitu hendak menaiki tangga, ups, ada manekin pria berbusana whirling dengan topi khas, sorban, dan jubah hitam. Setiap akhir pekan, di sini dipera­gakan tari whirling. ”Siapa pun yang terjebak macet pasti ingin tahu sajian kami,” kata Arief.

Rumi, whirling, tasawuf? Inilah gejala sosial yang pada Ramadan ini kian marak: sufi perkotaan. Tak usah berburu jauh-jauh ke Bagdad atau Istanbul untuk asyik-masyuk dengan dunia kaum sufi yang menjanjikan kedamaian dan cinta ini. Cukuplah nikmati cara baru berzikir dan ”mencari Tuhan” di Jakarta. Ini tentu saja tak lepas dari gaya hidup para eksekutif, konsumen utama gejala urban ini.
Coba lihat di Padepokan Thaha atau Majelis Taklim Misykatul Anwar di Jalan Senopati, Jakarta. Di situ, pekan lalu, Anand Krishna menyampaikan pikirannya tentang sufisme dewasa ini. Di dalam ruangan 10 x 10 meter persegi yang penuh pendengar serius, penulis puluhan buku spiritual itu ber­ujar, ”Sufi harus berani hadir ke pasar, ke market place.” Malam itu, Anand didaulat sebagai pembicara tamu di Padepokan Thaha.

Ia membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang memancing: mengapa kaum sufi gagal membuat dunia semakin damai? Ya, Anand tidak lagi berbicara tentang tasawuf sebagai jalan pembebasan individual, melainkan pembebasan pada tingkat sosial politik. Ia berbicara tentang gerakan-gerakan yang kehilangan toleransinya terhadap perbedaan pandangan di kota-kota besar, tentang langkah mereka yang agresif, dan pentingnya kaum sufi bangkit dengan pesan damai.

Anand seolah berbicara kepada para penghuni kota besar yang bosan dengan dugem, yang tidak sanggup melepaskan diri dari belitan masalahnya. Pengajian itu tertuju pada para seeker yang tak kunjung menjumpai kebenar­an di jalan-jalan dan bangunan kota yang riuh rendah, atau yang sekadar menunggu redanya lalu lintas macet. Semua digiring dan dihimpun pada malam-malam tertentu ke sejumlah titik di Ibu Kota.

Mereka para profesional, para eksekutif, yang senantiasa ada di sekitar kita dan tak mencolok mata. Berpakai­an laiknya orang kantoran, dengan kemeja lengan panjang dan pantalon gelap, seperti biasa, penampilan fisik mereka tak hendak mewakili identitas kelompok pengajian—yang biasanya berpakaian serba putih, baju koko, plus songkok putih pula.

Lihatlah Ahmad Rizal Tarigan, 39 tahun. Presiden Direktur PT Penta Manunggal Mandiri ini rajin mengunjungi zawiyah (padepokan) tarekat Naqsabandiyah Haqqani setiap Kamis malam. ”Dengan berzikir, kita mengendalikan ego,” katanya. Rizal hanya berbaju batik, tidak berjanggut, dan tak ada simbol-simbol tarekat, tulisan Allah ataupun Muhammad, pada mobil Nissan X-Trailnya.

Identitasnya sebagai pengikut tarekat Naqsabandiyah Haqqani baru ”terbongkar” bila kita mengunjungi kantornya yang terletak di daerah elite Jalan Sudirman, Jakarta, atau rumahnya di kawasan Kayu Putih, Pulomas. Foto yang sama terpajang apik di dua tempat itu: foto ketika ia bersama Syekh Nazim Kabbani, tokoh spiritual gerakan tarekat ini. Rizal memilih tarekat ”tradisional” di puncak karier.
Tapi ada pula Saraswati Sastrosatomo, 36 tahun, Senior Council Chevron Indonesia Company, yang masuk tarekat Qadiriyah di kawasan Ciawi, Bogor. Alkisah, Saraswati, yang begitu mudah memperoleh segala yang diinginkannya dari dunia profesional dan akademis, akhirnya suatu kali jatuh terduduk. ”Saya pernah bekerja di lembaga bantuan hukum, law firm, hingga corporate. Sekolah ke Amerika dan Belanda pun sudah saya jalani. Pokoknya, dunia bagi saya sudah cukup. Lantas apa lagi?” tuturnya.

Perempuan yang menamatkan pendidikan S-1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan pendidikan pascasarjana di Universitas Leiden ini pun sudah jenuh dengan jalan keluar selepas kerja: clubbing di klub malam Ebony, Dragonfly, dan banyak lagi.

Enam tahun silam, ia mencoba sesuatu yang baru: bergabung dengan klub kajian Paramadina dan kajian tasawuf Tazkiya. Dan rupanya itulah mukadimah dari sesuatu yang hingga kini tak pernah lepas dari hidupnya. Ia melebur dalam tarekat. Tiap akhir pekan kita bisa mendapati Saraswati bertafakur di padepokan syekhnya. ”Saya butuh charge setelah Senin hingga Jumat berurusan dengan dunia,” katanya. Di dinding apartemennya di Puri Casablanca, Kuningan, Jakarta, terpampang sembilan potret idolanya, Wali Songo. Di samping mereka, terdapat foto Syekh Abdul Qadir Jaelani dan Sunan Kalijaga.

Tarekat Naqsabandiyah Haqqani dan Qadiriyah sama-sama ”tradisional”. Keduanya ditopang lima komponen dasar tarekat: mursyid (guru), murid, wirid, tata tertib, dan tempat. Dua dasawarsa silam, masyarakat kota lebih bisa menerima tasawuf kontemporer seperti yang ditawarkan Paramadina dan Tazkiya ketimbang pola-pola peng­ajaran tradisional di pesantren, di desa-desa.

Baiat atau komitmen spiritual yang mengikat dan kemudian mengukuhkan hubungan hierarkis mursyid-murid mungkin tak menarik bagi orang kota yang demokratis. Uzlah alias mengundurkan diri dari dunia orang banyak justru menumbuhkan waswas bahwa tasawuf sama saja dengan mengasingkan diri. Dan zuhud atau asketisisme, pantangan terhadap kesenangan duniawi, tentu saja terlalu jauh dari gaya hidup hedonis orang kota.

Kini dunia kita seakan berubah. Ungkapan tasawuf yes, tarekat no yang demikian tepat mewakili periode itu seakan sudah berlalu. Dan mungkin tasawuf yes, tarekat yes cukup mengena di hati orang kota.

Di Padepokan Thaha, setiap usai tausiyah, para murid langsung menyerbu sang mursyid, Syekh Sayid Hidayat Muhammad Tasdiq, yang biasa dipanggil Kiai Rahmat. Dalam suasana yang cair, masing-masing murid mengungkapkan rasa takzim dengan mencium tangan guru yang karismatis dan berilmu itu. ”Beliau mudah tune-nya,” kata Pardamean Harahap, salah seorang pengurus padepokan itu, menjelaskan karakter sang guru yang komunikatif. Kamis malam itu, di padepokan, Kiai Rahmat mengenakan baju hem putih tanpa dasi dengan balutan jas biru dan celana biru. Ia memakai peci hitam dengan renda air emas di sekeliling; suaranya ringan seperti beraksen Sunda, kulitnya agak gelap.

Bayang-bayang suram hubungan mursyid-murid yang menuntut kepa­tuhan total sang murid sesungguhnya belum juga terbang jauh. Menurut Jalaluddin Rakhmat, dosen komunikasi Universitas Padjadjaran yang ikut melahirkan pengajian Tazkiya, kelompok pemujaan atau cult sering kali membungkus niat buruknya dengan aksesori tasawuf. Lalu murid yang silau dengan penampilan luar itu pun kerap menjadi korban penipuan. Memakai istilah sufi seperti hakikat dan makrifat, sang guru menawarkan paket-paket instan yang tak masuk akal. seperti ”bertemu Tuhan dalam seminggu”.

Namun coba bedakan dengan tarekat Akmaliyah. Tarekat yang berada di Kota Malang ini mengambil jalan pintas: memangkas pendek hubungan mursyid-murid yang sangat berat sebelah. Gerakan sufi yang meneruskan ajaran Syekh Siti Jenar dan kemudian dipopulerkan oleh Sultan Hadiwijoyo (alias Joko Tingkir, Raja Pajang) ini berangkat dari pemikiran tunggal: setiap manusia berhak bertemu dengan Tuhannya.

Akmaliyah tak mengenal mursyid (guru) sebagaimana aliran tarekat lain, melainkan sekadar sosok koordinator belaka. Lelakunya ringan, jumlah zikirnya tak dibatasi bilangan, cukup disesuaikan dengan kemampuan. Tarekat ini juga tidak mengenal tradisi pemondokan dan baiat. Setelah berdiskusi dengan koordinator untuk meluruskan persepsi, jemaah bisa membaca wirid sendiri di rumah.
Tasawuf perkotaan kontemporer selama dua dekade telah menyodorkan jalan lebih ”aman”, tapi dengan pendekatan yang mengingatkan kita pada kursus body language, bahasa Inggris tiga bulan lancar, dan ­sejenisnya. Ada pelatihan salat khusyuk, lokakarya tiga jam untuk mengalami hakikat syahadat tanpa tarekat, dan masih banyak lagi.

Instan memang. Bahkan, menurut Bambang Pranggono, dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, gejala ini memperlihatkan ”indikasi betapa materialisme merasuk ke dalam semua sendi keislaman, ketika semua harus dinilai dengan uang, dari syahadat, salat, hingga haji”—seperti tertulis dalam makalahnya, ”Sufisme Perkotaan”, yang dibacakannya pekan lalu di Bandung.

 

DI sebuah hotel di Jalan Pelajar Pejuang, Bandung, anak-anak muda pengikut pengajian tasawuf berkumpul untuk menyambut sesuatu yang besar: lailatul qadar. Ritual yang berawal pada pukul 21.00 itu ditutup dengan doa Kumail (doa khusus Nabi Khaidir), lalu Jausyan Kabir pada pukul 02.00, hanya beberapa saat menjelang sahur.

Tasawuf, yang selama beratus tahun divonis sebagai sumber keterbelakangan, kini memiliki citra yang baru—ia wisdom dari desa yang kemudian dimodifikasi sesuai dengan selera kota. Tiga tahun mengikuti Paramadina, Rara Rengganis Dewi, 45 tahun, yang menyukai musik Scorpion, Queen, Hadad Alwi, dan Opick, membuat kesimpulan menarik. ”Saya lebih mampu berbahagia dan menikmati kehidupan,” katanya. Rara, yang tinggal di Jakarta dan gandrung tasawuf, mengambil magister Islamic Mysticism ICAS (Islamic College for Advanced Studies).
Melalui kajian yang sama, Arief Aziz, 25 tahun, kemudian memahami perbedaan antara Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi. Anak muda ini mengenal sejumlah nama besar dengan gagasan besar: Rabiah al-Adawiyah, Rumi, Arabi, juga martir yang kontroversial seperti Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Arief juga mengaku menerapkan zuhud dalam kehidupan kesehariannya. Memakai telepon seluler tua, ia berpegang pada asas manfaat dan menolak ikut latah.

Sufisme perkotaan merupakan anak modernisme. Kehadirannya ­ber­­dam­ping­­an dan berinteraksi ­dengan produk-produk modernisme lain: ­liberalisme, ateisme, feminisme, konsu­merisme, materialisme, dan sebagainya. Ada yang berdiri dalam tarekat tradisional, ada pula yang tanpa tarekat. ”Semua bisa kita pahami dengan penuh empati sebagai kegelisahan setetes air yang rindu akan kebahagiaan, bersatu lagi dengan lautan,” demikian Bambang Pranggono mengakhiri makalahnya.

Idrus F. Shahab, Sita Planasari, Munawwaroh, Iqbal Muhtarom, Alwan Ridha Ramdan

Sumber : Tempointeraktif

 

 

 

Single Post Navigation

100 thoughts on “Sufi Kota Mencari Tuhan

Comment navigation

  1. Assalamua’alaikum Wr. Wb.

    @Sufi Muda

    Bismillahirrohmanirrohim,

    Terimakasih anda telah mengingatkan saya, memang syi’ah terdiri dari berbagai macam sekte dalam perjalanan sejarahnya. Akan tetapi saya mengikuti / memahami perkembangannya sampai saat ini.

    Kalau kita mau melihat dan memperhatikan perkembangan umat Islam sedunia. Negara manakah yang siap berjuang dan membela kepentingan umat Islam dengan syariat Islamnya dari penjajahan Amerika dengan sistim embagonya melalui PBB dan dalangya Yahudi ? Siapa yang berjihad di Palestina melawan penjajahan Yahudi dengan Zionismenya (penguasa thagut) ?

    Setelah saya mempelajari/mengkaji dan memahami hadist-hadist mengenai Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw. Ternyata isinya hanyalah mengajak umat Islam untuk bersatu. Syariat Islam adalah untuk mengatur segala / seluruh sendi kehidupan manusia dalam bermasyarakat, berarti Islam adalah agama politik. Tetapi kenapa di Indonesia partai Islamnya berbeda-beda ?

    Nah, disinilah saya mengajak kepada seluruh umat Islam di alam semesta ini, supaya bersatu dengan mempelajari / mengkaji Al Qur’an dan hadist-hadist dari Ahlul Bait Nabi Muhammad Saw. Kembalilah kepada yang Fitri / yang murni. Insya Allah tidak akan ada perselisihan / pertentangan di dalamnya.

    Setelah Rasulullah Wafat, banyak sudah terjadi fitnahan, hasutan, propaganda, pembunuhan dll. Dan sudah terlalu banyak umat Islam yang tidak berdosa menjadi korban. Yang telah ditebarkan oleh musuh-musuh Islam, sehingga kita secara sadar maupun tidak sadar telah terjerumus di dalamnya. Salah satu contohnya adalah terjadinya perselisihan dan perdebatan diantara Mahzab / Golongan / Thariqat dll. Seperti anda mengatakan dengan hadist ” Umat Islam akan terbagi menjadi 73 golongan, yang masuk syurga hanya satu golongan ”

    Memang kita janganlah berharap bisa masuk syurga, tapi kita takut akan azabnya neraka. Mungkin dalam menyikapi hadist tersebut ada hubungannya dengan Shalawat Nabi ” Ya, Allah, sampaikanlah salam sejahtera kepada Muhammad dan keluarga Muhammad “. Dan dalam shalat ada hadist yang mengatakan ” Tidak syah shalatnya seseorang, apabila tidak membaca shalawat ” Dalam salah satu ayat di dalam Al Qura’an ” Allah dan Malaikat juga bershalawat kepada Nabi Saw ” Dan dalam tulisan selalu nama Muhammad disandingkan dengan Saw. Secara sadar maupun tidak sadar kita diwajibkan untuk banyak membaca Shalawat kepada Nabi Saw dan Ahlul Baitnya.

    Tasawuf adalah bagian dari agama Islam yang mempelajari hubungan vertikal kepada Allah Swt, sehingga hasilnya membentuk akhlak yang mulya. Akan tetapi janganlah terjebak dalam memahami perkembangan yang ada dalam dunia Islam.

    Demikianlah, semoga menjadi bahan renungan dalam mencari kebenaran menuju ma’rifatulah dan kebenaran yang hakiki, sehingga mencapai Insan Kamil Mukamil.

    Sampaikan salam hormat saya kepada seluruh Musyid anda dan saudara-saudara sekalian para ahli sufi. Semoga kita semua selalu ada dalam taufik dan hidayah Allah Swt.

    Apabila ada kata-kata / tulisan yang salah, saya mohon ma’af yang sebesar-besarnya. Mohon ma’af lahir dan bathin.

    Wallahu’alam Bishawab.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  2. Amien, semoga Islam benar-benar menjadi rahmatan Lil ‘Alamin,
    Marilah kita memperkuat tali silaturahmi dalam bingkai Islam Muliya Raya sehingga menjadi kokoh dan kuat dalam menghadapi berbagai macam tantangan…

  3. @ajak-ajak

    Buat saya yang paling membuat saya gembira adalah saat bertemu Tuhan. Dan itulah yang saya ceritakan. Tidak percaya? Tidak setuju? terserah… Toh saya yang butuh Tuhan, saya yang merasakan keindahan itu, saya yang menciumi Tangan dan Kaki Nya, saya yang ditepuk2 pundaknya saat menangis meminta ampunan. Itulah warna-warni yang tidak dipercayai kaum burung hantu.
    —————————
    Alhamdulillah…, mas telah bertemu dengan Tuhan anda, semoga tidak salah dalam menyikapinya. Saya percaya dan setuju. Hal inilah yang harus direalisasikan dalam kenyataan. Sesungguhnya umat Islam dengan lainnya bersaudara. Dalam suatau hadist disebutkan ” Islam adalah ibarat tubuh manusia, apabila salah satunya sakit maka yang lainnya juga akan merasakannya ”
    Saya sangat sayang dan peduli kepada anda atau kepada yang lainnya yang telah disatukan dalam sebuah agama yaitu Islam. Makanya saya sekuat tenaga baik lahir maupun bathin berjuang untuk tegaknya Syariat Islam, karena baik secara ikhlas dan rido atau terpaksa, kita harus kembali kepada ajaran yang murni yaitu Al Qur’an dan ‘Itrah Ahlul Bait Nabi Saw ( baca hadist Tsaqalin dan Ghadir Kum ).
    =========
    Saya memang tidak pernah bisa dan juga memang tidak mau mengukur tingginya gunung, luasnya samudra, sebab kerjaan saya sudah cukup banyak. Lagian gak ada pentingnya buat saya. Daripada capek2 ngukur tinggi gunung dan luas samudra, mending tanya langsung sama yang nyiptain gunung dan samudra.
    ——————
    Lho, mas knp jadi begitu ? kan itu peribahasa dari ahli sufi. Maksudnya kita harus banyak belajar, sebab ilmu pengetahuan bisa dicapai dengan akal dan fikiran manusia. Janganlah kita merasa lebih tahu akan sesuatu hal, sehingga kita tidak mau belajar lagi baik lahir maupun bathin. Kadang yang kita anggap kecil dan sepele, itu akan membawa hidayah kepada Allah Swt.
    ==========
    Bukannya mau melempar batu sembunyi tangan, tapi setahu saya, anda duluan yang mulai:
    ———————
    Yang mengatakan peribahasa, kan anda yang duluan. Jadi saya ikut-ikutan. Yah, belajar dari hikmak yang ada. Gitu lho !
    ===========
    Ilmu rahasia selamanya tetap jadi rahasia yang dipegang teguh oleh orang-orang yang MEMANG MAU menuju ke Yang Maha Rahasia. Itu ga bisa dirubah dan ga ada yang berani merubahnya. Kalo iklannya mah sudah ada dari dulu. Malah yang ngiklanin dari kalangan Ahlul Bait sendiri.
    Eh, asep kenal betul kan sama Ahlul bait?? Wah,, saya jadi seperti ngajarin ikan berenang dong,, ma’af yah sep.
    ——————-
    Iya, memang betul tasawuf dari kalangan Ahlul Bait. Saya kenal hanya sebagian kecil dan sedikit. Ajarin dong yang lebih banyak. Kadang yang ngajarin berenang suka kram, jadi aja tenggelam. Yah, dima’afkan. Saya juga, ma’af yah jak !

  4. ajak-ajak on said:

    @asep

    Saya sangat-sangat setuju dengan perjuangan anda untuk tegaknya Syariat Islam dan persatuan di kalangan umat islam. Malah saya pun sejak dulu juga berusaha seizin Allah untuk bisa menjadi bagian dari itu. Alhamdulillah akhirnya kita bertemu. 🙂

    Mengenai urusan ukur mengukur, saya minta maaf kalau salah mengartikan maksud asep. Tadinya saya fikir itu mengenai keilmuan yang dimiliki seseorang, saya tidak perduli dengan itu. Sebab saya diwajibkan mengenal diri saya dulu daripada mengukur orang lain. Ternyata maksudnya asep adalah mencari ilmu toh? hehehe itulah bodohnya saya, jadi salah nangkep kan. Kalau itu saya juga setuju, sebab ilmu tanpa amal akan jatuh fasiq, sedang amal tanpa ilmu akan tersesat.

    Nah kan sudah kenal meskipun sebagian kecil dan sedikit, berarti tinggal dibesarin dan dibanyakin aja tuh. Kalau saya yang ajarin, wataaa,,, hehehehe ,, saya saja perlu waktu cukup lama untuk mencari Guru yang bisa membimbing saya lahir-bathin. Mana bisa saya ngajar? Untuk urusan berenang, sebenernya saya ga bisa berenang, makanya saya pakai pribahasa itu, masa ga bisa brenang mau ngajarin ikan berenang. hehehe (kidding sep)
    Sama-sama coy!

  5. @sufimuda @ajak-ajak @semuanya

    Alhamdulillah…, kita telah dipertemukan, walaupun hanya di dunia maya. Saya yakin hanya dengan ijin Allah Swt kita bertemu disini. Semoga tali silaturakhmi ini akan kekal sampai akhir jaman. Marilah kita tegakkan Syariat Islam di alam semesta ini.

    Solawat Allah, Salam Allah atasMu wahai Tooha, Rasulullah
    Solawat Allah, Salam Allah bagiMu wahai Yaasin, kekasih Allah
    Kami bertawassul dengan Asma Allah kepada Haadi Rasulullah
    dan kepada para Mujaahidin Badar

    Ya Allah,
    Selamatkanlah umat ini dari derita dan bencana,
    dari belenggu yang mengungkungnya,
    dari kebekuan yang mencekamnya,

    Yaa Allah,
    tolaklah keburukan dari para pembuat kerusakan dan maksiat,
    dari segala wabah dan musibah,
    demi Para Mujaahidin Badar.

    Yaa Allah,
    Ampunilah kami, mulyakanlah kami, kabulkanlah permohonan kami,
    Cegahlah tragedi atas kami, demi para Mujaahidin Badar.

    Yaa Allah,
    Pemilik Kelembutan, Pemilik Keutamaan dan Kasih,
    Berapa banyak bencana yang telah Engkau singkirkan,
    demi Para Mujaahidin Badar.

    Solawaatlah atas Nabi Pelaku Kebajikan,
    Solawaat yang tiada henti-hentinya dan tiada terbilang banyaknya,
    Juga bagi Ahli BaitNya yang wajahnya senantiasa berseri,
    Bersama Para Mujaahidin Badar, Yaa…. Allah.

  6. ajak-ajak on said:

    Amiin Yaa Allah, Amiin Yaa Robbal Alamiin.

  7. Ass,wr,wb
    @ asep

    Bismillahirrocmannirrochim

    terima kasih atas semua pernyataan anda
    semoga dengan perbedaan pola fikir memberikan suatu rocmat bagi semua penganut ajaran baik itu syari,at ataupun tareqot

  8. @asep
    Memang untuk thareqat perlu faham dulu tentang syariat, terutama tentang tauhid, sifat Allah, bisa wudhu, shalat dll.
    Kalau melakukan olah fikir sebaiknya di ranah, syariat. sedangkan kalau ‘memanajeen hati’ mestinya dengan tarekat/tasawuf. TArekat dengan banyak debat hanyalah terlalu banyak bacot, artinya nggak ngamalin apa-apa kebanyakan omong.
    Salah satu pintu tercepat mencapai Allah adalah dengan menghinakan diri, merendahkan diri di hadapan Allah swt. Berdzikir nggak bisa terlalu banyak bacot

  9. @asep

    Al-Adabu fauqol ‘ilmi…..

    Lakum dinukum waliyadin….

    Barokallah…

  10. raguragu mundurr on said:

    AKU (TUHAN) sebagaimana sangka hamba-KU

    kalau disangka seperti batu, berarti berTuhan pada Batu
    dan lain-lain

    kalau tidak berani merasakan pedasnya cabai,jangan ngomong tentang cabai.. rasakanlah dahulu pedasnya cabai baru kita bisa mengutarakan rasa cabai yang sebenarnya 😉

    selamat mencoba

  11. QA management on said:

    Siapa tak kenal DIA……Siapa tak kenal DIA….. 😉

  12. assalamua’alaikum salam damai buat semua, maaf saya baru bergabung, dari yang saya baca kok rasa rasanya ada pemaksaan kebenaran ya (mohon diluruskan kalau salah) takutnya nanti jadi pembenaran (pembenaran oleh nafsu kita, ego, oleh pengetahuan kita yang mungkin gak seberapa). maaf buat mas asep anda seorang ahlul bait, tetapi kok selalu mengedepankan akal dan rasio anda, hati-hati mas kaum mu’tazilah jg begitu lho. Smg para sufi (siapapun itu/ dr golongan manapun selalu memenuhi jagad yang tua ini dengan keberkahan mereka maaf sebelumya

  13. Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

    @andik

    Salam kenal

    Terimakasih atas perhatiannya. Bukannya ada pemaksaan, akan tetapi ajaran Ahlulbait Nabi Saw telah mengajarkan kepada seluruh umat Islam untuk bersatu dalam menegakkan ‘ Syariat Islam ” di alam semesta ini dengan garis Imamah yaitu setelah Rasulullah Saw wafat dilanjutkan oleh para Imam dari Ahlulbait Nabi Saw sampai kehadiran Imam Mahdi Afs yang dinantikan/dijanjikan, sehingga akan mencapai kesejahteraan bagi umat manusia seluruhnya ( untuk semua agama yang di alam semesta ini ), diantara jin dan manusia.

    Silahkan baca komentar saya di blog syi’ah sunni.

    Was. Wr. Wb

  14. brainwashed on said:

    halo…

    sudah ketemu Tuhan blom?….hehhee

    salam

  15. Nama:robby3762@yahoo.com
    Password:123456
    @sufimuda
    @habib
    @abahselatan
    @sufiwanita
    yang terhormat
    @sang pengembara Jiwa
    @ semuanya deh

    TANDA CINTA ADALAH RIDHO

    Bismillah…
    Asallamualaikum wr.wb. wahai pencinta2 Ar Robb..yang Insya Allah di naungi cintaNya…

    Bagigenerasi muda yang senang lagu-kesufian, coba dengerin dengan spenuh jiwa nyanyian group musik sufi Debu, ada album mabukcinta lagu mabuk..mabuk asyik loh buat yang gila Allah. Album makin mabuk, dan album nyawa dan cinta (album terbaru)
    bagi yang senang musik tentang cinta, imajinasi kan dengan sepenuh jiwa kita persembahkan untuk Dia dan Rosulnya,seperti lagu2 dewa : satu, arjuna dsb.kalo yang lagi ngetren perselingkuhan kita imajinasi kan perselingkuan kita dari Allah, yang memuja thogut2 entah Agama, duit, hawa nafsu dst. Kita gembirakan Sayyidina Muhammad Rosulullah SAW yang mungkin lagi sedih melihat, MEMIKIRKAN umatNya yang pada tulalit…tulalit..tulalit, dililit dosa,hawa nafsu,setan, sihir, tabiat buruk dst….mintalah pada Al Mujib Jala Jala Luhu, agar kita dililit haufik dan hidayahNya, lilitlah hati kita dengan iman dan taqwa, Insya Allah kesulitan apapun pasti ada jalan keluarnya Pantang bagi muslimin dan muslimam, mukminin danm mukmunat putus asa. HARAM PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH….

    Belajar memahami apa yang kita baca baik bacaan sholat, usahakan telinga kita mendengarkan bacaan kita, sambungkan kehati dengan pemahaman dalam bahasa kita, Mari kita doakan negara kita Republik Indonesia, kita doakan mejadi Ridho Illahi dalam jiwa kita umat islam diNKRI (Negara Kesatuan Ridho Ilahi) memohon keberkahan, taufik dan hidaya Nya. Ayolah kita saling mujahadah dan muhasabah, belajar jadi muslim (berserah diri) dulu, lalu tingkatkan ibadah kita menjadi mukmin (orang yang beriman)lalu jadi mukmin yang muklis, (ikhlas) s/d marifatullah dalam lautan syariatullah menuju mahabah’tullah Insya Allah sampai pada taraf tertinggi TAQWABILLAH (itu menurut pendapat saya bukankah yang paling mulia disisi Allah adalah orangyang bertaqwa) semuanya itu butuh proses ruang waktu, makin kita cinta makin diuji oleh UjianNya apakah kita benar2 tulus. Ikhlas hanya untukNya atau untuk nikmat, Kebanyakan dari kita siapapun yang dicari adalah nikmat, gima kalo ketulusan cinta kita Pada Dia dan Rosulnya diuji dengan hilangnya nikmat ibadah baik zikir maupun sholat dan amalan lain apakah masih terus slalu ingat pada Nya. Kita harus terus berusaha memerdekakan diri untuk Dia Allah SWT. Mintalah agar kita dijajah oleh Allah dan Rosulnya, Al Quran dan Sunah rosul, kita doakan umat Islam dimana saja berada terutama diNegeri Ridho Ilahi (R.I) ini agar kita sampai difinal yanitu dijajah oleh Allah & Rosulnya. Kalo niat awalnya baik akhirnya pasti baik.Sesungguhnya ujian tiap orang Islam makin beriman makin dahyat ujianNya. Mari bersama siapapun yang ada diforum sufi, blog sufimuda berdoa agar kita menjadi orang yang murad2, atau murid/salik carilah mursyid mukamil wa Rahmatullah, Bagi siapapun juga yang baca pendapat saya ini mari kita mohon keberkahan Allah agar idiom sufi bahwa Belajar jalan sufi tampak guru, maka gurunya adalah iblis (saya terkena itu), idiom itu harus kita rubah wahai wali2 Allah, sahabat, Allah, mujahid2 sufi dimana saja, idiom itu kita jangan sampai terjadi lagi cukup saya dan beberapa orang yang tersesat dalam lautan kerinduan akan Mursyid yang Arifbillah (Sungguh ga gampang nemuain Mursyid arifbillah, kalo ga ketemu blajar dari buku agama dengan memahami dan niatkan dalam hati (nawaitu lillahi ta’ala) ingin mencari ilmu. Bukankah ayat yang pertama kali turun pada semulia-mulianya manusia Rosulullah SAW adalah iqro bismirobbika/bacalah dengan nama Tuhanmu. Latih diri kita dengan doa2 dari RosulUllah SAW dengan bahasanya usahakan kita membaca dengan telinga memahami dengan bahasa RI, atau bahasa yang kita pahami. Wahai Auliya2Nya mari kita niatkan agar kemanjuran kata2 auliya2Nya dahulu mejadi Belajar Agama (entah jalan sufi, jalan dai dll) tanpa guru, Insya Allah gurunya adalah Kitabullah dan Sunah Rosul (Allah danRosulNya) kalo blom sangup minta dijajah Allah minta dijajah oleh MAlaikat2Nya yang mulia,selama ini kita dijajah oleh setan, jin, sihir, hawa nafsu dstnya.

    Slalu makmurkan RumahNya (masjid, mushola, surau) dalam menjalankan lima waktu. Bagi saya yang hinadina ini ISLAM adalah sholat wajib. yaitu sholat Isa, Subuh, Lohor (Zuhur), Ashar dan Magrib, bukankah urutanya tidak tebalik balik, namun mungkin arti sebenarnya adalah berserah diri kepada Tuhan kita Allah SWT.
    Pikirkan yang pertama dari Pancasila, bukankah ketuhanan Yang Maha ESa.

    Salam damai penuh cinta untuk umat Rosulullah SAW yang merindukan kejayaan umat Islam dimana saja…
    |
    Wasallam

    hambaNya yang hinadina, fakir cuma tukang ojek, Alhamdulillah slalu dicukupkan Allah

    hina kelana uda juga

    Ps : Kalo belum ketemu mursyid mukamil yang Arifbillah, dawam kan aja apa yang dibilang salah satu AuliyahNya Kang Lukman Hakim si Cahaya Sufi yang Insya Allah dicintaiNYA. biasakan zikir allah..allah dalam hati. Tarik napas…Allah Keluar napas Allah, imajinasi kan nafas yang kita isap adalah rahmat, taufik hidayahNya maunahNya, kalo keluar kita imajinasikan jin, setan, sihir, kegelapan hati dosa kita sambil muhasabah diri. saat kita keluarkan nafas kalo bisa sampai bisa secara otomatis bunyi sendiri sambil berdoa agar dipertemukan dengan al Mursyid yang benar2 Arifbillah…

  16. saya ikut gabung y..
    di sekitar sy sepi orang yang suka kesufian. cuma kluarga saya aj…
    so…gabung y…
    aku pengen ngajak temen2 untuk mempertahankan ajaran sufi… Allahu Akbar!!!

  17. Silahkan bergabung grey 🙂

  18. santri majnun on said:

    SUFI KOK PAMER!!! INI SUFI ATO ARTIS!!!! GURU DATANG DISAMBUT DGN UPACARA BENDERA SEGALA!! ADAB DIBUAT-BUAT. INI TAREKAT ATO KUMPULAN ARISAN IBU-IBU PEJABAT… PUIH!! GELI.. AKU!!!

    KETAHUILAH MAWLANA SEBENARNYA DALAM HATI TIDAK MENYUKAI POLAH TINGKAH LAKU KALIAN!!!

    SAYA CINTA MAWLANA… TAPI TIDAK MENYUKAI HAQQANI BENTUKAN KALIAN… PUIH… !!!! AMAL KALIAN MANA!!!! PAMERRRRRRR…..

    • mulutmu harimau mu.. apa yang keluar dari mulut itu cerminan hati

    • johnismail on said:

      Saudaraku yang baik hatinya. Saya yakin anda tau benar bahwa sejatinya amal manusia hanya Allah SWT dan org itu sendiri yang tau. Yg lainnya yaahh gak bakal tau, dan satu hal lagi, bukankah diajarkan oleh Rasul kita bahwa sesekali kita harus memamerkan diri dengan niat mengajak seseorg agar selalu mengiat Allah? Bila saat jaman Nabi, Abu bakar tidak memamerkan diri dengan tubuhnya, jiwanya, ilmunya, dan hartanya, apakah saat itu akan ada org lain yg masuk islam setelah beliau?? Abu bakar ra memamerkan tubuhnya selalu mengikuti langkah Rasul, hartanya untuk umat yg mengikuti Rasul, jiwanya untuk Allah dan RasulNya, ilmu untuk selalu membenarkan apa yg di ucapkan Rasul, sampai dia mendapatkan gelar As Sidiq (Si Jujur)
      Bila saya disalahkan terhadap penyampaikan rentetan sejarah ini maka sejatinya kalian yg menyalahkan ini juga telah menyalahkan Allah dan RasulNya, dikarenakan ilmu ini saya dapatkan dari Al Quran dan Hadist
      Terima kasih, semoga Allah SWT selalu menyertai kita semua 🙂

  19. koq terkesan latah dan mau yg instan2 ya..
    apa iya pencerahan spiritual bisa tercapai semudah itu? (diluar dari faktor ‘hadiah tuhan’)
    meski begitu saya turut berdoa semoga semua berakhir baik , semua pencari menemukanNya dan dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin. amin baik dalam proses maupun setelah sampai..
    indonesia bangkit!!

  20. terima kasih atas link webbloknya dan semoga informasi terus masuk di blog saya trim. Abang

  21. andai saja manusia tidak membudayakan salah sangka sebelum dicari kebenarannya tentu tidak akan ada dualisme antara tasawuf dan tarekat. sesungguhnya banyak pelajaran yang bisa didapat dari para ahli agama dan para sufi, tetapi rasa kepercayaan diri seseorang untuk memahami sesuatu seringkali tidak didiskusikan kebenarannya, sehingga kadangkala timbul salah persepsi. dan ini yang banyak ditemukan orang-orang kota. namun, pada intinya tasawuf bisa diaplikasikan dalam berbagai kehidupan ini, termasuk melalui tarekat karena tasawuf mengajarkan manusia bagaimana tata krama dan sopan santun kepada selain dirinya: allah swt, rasul, sesama manusia dan sesama mahluk allah swt. sehingga dengan tasawuf inilah, kehidupan yang harmoni bisa dibangun ditengah-tengah masyarakat yang liberalisme, ateisme, feminisme, konsumerisme, materialisme dsb.

    • johnismail on said:

      Saya setuju bang, Rasullah SAW mengajarkan kita untuk saling mengasihi dan menyangi, sama dengan intisari Al quraan yakni “dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”
      Allah SWT sudah memberikan kita begitu banyak pengetahuan hidup, tapi kenapa kita sebagai saudra saling menjatuhkan? Bukankah sesama saudra haru saling mengasihi dan menyayangi?

  22. marjani on said:

    kangen ma Bapak sang guru

  23. Kafe sufi di surabaya ada gak ?

Comment navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: