Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Menyongsong Perdamaian Dunia Dengan Sufisme Islam

Dunia sufi, sebagai inti sari Islam, sebenarnya berpotensi besar untuk berkontribusi bagi terciptanya perdamaian dunia. Dengan menyelami sufisme, umat Islam diharapkan tidak lagi mencerna suatu masalah dari apa yang tampak di permukaan, tetapi dapat memandang segala sesuatunya dari sisi hakikat. “Melalui sufisme, manusia diajak untuk berserah diri secara total kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa,” ujar KH Luqman Hakim (46), pembimbing dan pengajar dunia sufi di Jakarta.

Bagi sufisme, proses menjalani takdir kehambaan merupakan hal penting. Ketika nilai-nilai sufisme sudah dipraktikkan dalam diri, seseorang bisa menjadi semakin spiritualis. “Ia tidak lagi akan kaku di dalam memandang segala persoalan,” tutur Kiai Luqman, yang juga menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Majalah Sufi serta jadi pengasuh majelis pengajian sufi di Jabodetabek. Kelenturan di dalam memandang suatu persoalan itulah yang pada akhirnya diharapkan dapat berkontribusi bagi upaya-upaya menciptakan perdamaian dunia.

SP berkesempatan berbincang dengan KH. Luqman Hakim di The WAHID Institute, seusai pengajian “Sufi Islam dan Perdamaian Dunia” yang diselenggarakan untuk menyambut ulang tahun ke-4 The WAHID Institute, Senin (8/9) malam.

Apa inti sari pengajaran di dunia sufi, berikut wawancara khusus SP dengan KH. Luqman Hakim, sang mursyid sufisme.

Mengapa tertarik menekuni sufisme?

Sufisme adalah pilihan yang tidak ditekuni banyak orang. Dunia sufi itu sebenarnya soal nucleus, yakni inti sari Islam itu sendiri. Spiritnya. Kami mencoba membangun sumber-sumber air yang lebih jernih di Jakarta sebagai wilayah perkotaan, supaya keterasingan seseorang dalam kehidupan per- kotaan tidak membikin dia kian gersang secara spiritual.

Ada ayat yang sering dikutip kaum pluralis, yakni, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al-Hujurat:13)”.

Isilah li ta’arafu dalam ayat itu maknanya banyak sekali. Tetapi, dalam perspektif sufi, li ta’arafu bukan sekadar kenal-mengenal dan saling mencerdaskan, melainkan juga saling mengenalkan kemakrifatan Allah kepada sesama.

Untuk mengatasi kegersangan jiwa, apa yang bisa dilakukan dengan sufisme?

Ketika jiwa gersang, manusia sedang melesat keluar dari orbit spiritnya. Dia mencoba membangun kerajaan sendiri, atau planet-planet sendiri, di dalam hidup ini. Manusia kemudian terlepas dari fitrahnya.

Dunia sufi adalah dunia paling primordial dalam spirit dunia Islam, yang sebenarnya sudah ada sejak zaman Nabi Adam hingga Nabi Muhammad, yang kemudian disempurnakan para sufi. Saya hingga sekarang masih optimistis, nilai-nilai sufistik adalah nilai-nilai yang bisa mendamaikan dunia. Sebab, sufi memandang segala sesuatu tidak dengan kaku. Misalnya, kotoran bagi orang-orang syariat tentu dipandang sebagai najis yang harus disingkirkan. Tetapi, sufi tidak memaknai kotoran cuma dengan cara seperti itu. Bagi penganut sufisme, kotoran tidak semata-mata dipandang najis, tetapi bisa juga untuk pupuk.

Bisa disimpulkan sufisme memandang segala sesuatu tidak dari tampilan permukaan, tetapi dari hakikat?

Dalam wacana sufi ada pengungkapan yang berbunyi semacam ini, “Cahaya para sufi mendahului wacananya”. Sementara itu, para ulama cenderung punya pendekatan, “Wacana para ulama dan cendekiawan mendahului cahayanya”. Jadi, para sufi berpendapat, bukan karena adanya dorongan ‘oh, enaknya saya berkata seperti itu’ lalu ia berkata seperti itu, tetapi memang karena sudah seharusnya ia berbicara seperti itu.

Munculnya wacana menjadi bagian sistematik kosakata yang bergantung pada kebiasaan-kebiasaan intelektual seseorang. Kalau dia seorang penyair, kalimat-kalimatnya menjadi syair yang indah. Wacana hanya menjadi semacam screen.

Banyak ulama berpendapat, tasawuf hendaknya didalami jika telah memiliki fondasi syariat yang kuat. Anda sepakat?

Sufisme tidak melakukan pemosisian semacam itu. Manusia kenyataannya adalah satu kesatuan organisme, sehingga baik hakikat maupun syariat, harus berjalan berbarengan. Bagi sufi, manusia mempunyai aspek lahiriah dan batiniah. Apabila berpuasa, misalnya, kita harus ikhlas. Salat juga harus khusyuk. Bagi saya, sufisme berada di wilayah khusyuk, ikhlas, dan rela.

Mendalami sufisme tidak harus dihadapkan pada persoalan manakah yang harus didahulukan, apakah hakikat ataukah syariat. Maka, dibutuhkan seorang mursyid, sang pembimbing yang bisa menata perilaku pertumbuhan batin seseorang dengan Tuhannya, Allah. Di bawah bimbingan seorang mursyid, diharapkan tidak ada konflik antara pikiran dan hati.

Tetapi, bagaimana kita bisa mendalami hakikat sesuatu apabila syariat saja belum sempurna dilaksanakan?

Sepanjang manusia masih terikat ruang dan waktu, aspek lahiriah berupa pelaksanaan syariat memang harus semacam itu. Kalau manusia tidak kenal ruang dan waktu, oleh syariat dia tidak diwajibkan. Misalnya, orang gila, pingsan, atau tertidur, tidak diwajibkan salat.

Kesadaran ruang dan waktu pasti hubungannya dengan aspek fisikal. Tuhan mewajibkan orang salat karena manusia masih berada di dunia. Alam fisikal semesta ini bergantung pada orang salat. Tidak heran apabila ada ungkapan bahwa kiamat akan ditunda sepanjang ada manusia masih menyeru, “Allah, Allah, Allah!”

Salat berbentuk sujud dan rukuk karena memiliki makna-makna luar biasa yang berhubungan dengan gerak-gerik kosmologis dan astrologis, yaitu semesta raya ini. Kalau umat Islam sepakat, bahwa untuk selama satu jam seluruh umat Islam di bumi ini berhenti salat, saya yakin planet-planet di seluruh alam semesta ini akan bertubrukan. Sebab, salat memang aspek lahiriah yang harus ditunaikan. Sufisme itu sendiri hanya ingin mengantarkan, supaya ketika orang salat secara lahiriah, batin dia juga harus ikut salat.

Pencapaian apa yang diharapkan bisa diraih dengan mendalami sufisme?
Sufisme sebenarnya hanya untuk memosisikan kembali bahwa kita, manusia, adalah hamba dengan segala haknya, dan Allah adalah Tuhan dengan segala hak-Nya. Jadi, jangan sampai ada lagi pertanyaan ketika manusia menghadap Tuhan nanti. Sebab, ketika besok kita menghadap Allah, tidak akan ada lagi pertanyaan dari diri kita begitu sampai di hadapan Dia. Yang ada hanya “bengong abadi” dalam transformasi kenikmatan yang terus-menerus.

Penyadaran-penyadaran itu perlu mendekonstruksi cara pandang kemudian. Misalnya, mayoritas umat Islam selalu mengandalkan amal kebajikan. Seakan-akan amal kebajikan itu paspor untuk masuk ke surga. Dunia sufi membongkar hal-hal semacam itu. Dinolkan kembali. Jadi, yang diandalkan manusia itu seharusnya yang menciptakan amal kebajikan, yakni Allah. Yang diandalkan bukanlah amal kebajikan semata.

Penyerahan diri secara total kepada Tuhan apakah tidak cukup dilakukan dengan syariat?

Tidak. Ada kalimat Imam Maliki yang mengatakan, “Siapa yang melakukan syariat tanpa tasawuf, dia bisa fasik”. Artinya, dia menjadi orang yang keras kepala, sombong, merasa paling hebat dan benar sendiri. Sebaliknya, “Siapa yang bertasawuf tanpa bersyariat, dia akan zindiq“. Di situ, kehadiran Tuhan hanya dipersepsikan secara kebatinan belaka. Cuma semata-mata berbekal eling. Sufisme berupaya memosisikan kembali, bahwa jika manusia mengenal Tuhan itu Maha Esa, maka apa hubungan diri dia dengan keesaan Tuhan itu sendiri.

Saya berpendapat, sufisme mengalami penyimpangan kalau dia meninggalkan syariat. Memang, ada orang yang kelihatan tidak bersyariat. Tetapi, hal itu karena dia sudah melesat dari batasan-batasan ruang dan waktu. Ada suasana ekstase. Tetapi, suasana ekstase itu pun merupakan proses, dan bukan sesuatu yang bersifat final.

Bagaimana sufisme Islam bisa berkontribusi bagi perdamaian dunia?
Sufisme adalah salah satu nilai yang kalau dipraktikkan seseorang, maka dia bisa semakin spiritualis apa pun profesinya. Sebab, di dalam sufisme, ada proses perlawanan terus-menerus terhadap diri sendiri. Dari sinilah seseorang membangun paradigma atau cara pandang hidup yang sering kali jadi berbeda.

Ada berbagai nilai yang ingin saya kembangkan dalam literatur-literatur komunitas sufi, misalnya “Doa lebih utama daripada dikabulkan”, “Berjuang lebih utama daripada sukses”, dan “Beribadah lebih utama daripada pahala”. Sebab, orang-orang sering hanya mencari ijabah, pahala, dan sorga. Itu semua adalah nafsu. Bagi sufisme, yang terpenting adalah proses menjalani takdir kehambaan.

Dari sudut pandang sufisme, bagaimana Anda memandang umat Islam di Indonesia saat ini?

Ada posisi umat Islam di negara ini yang mirip orang “kebelet” mau ke kamar kecil. Saking tidak sabaran, ia menggedor-gedor pintu. Islam “kebelet” ini dengan modal pengetahuan dia yang sedikit tentang Islam, ingin agar segala sesuatunya selesai atas nama Islam.

Nah, setelah masuk ke bilik air, ada yang namanya Islam “ngeden” (mengejan, Red). Ia paksakan segala sesuatunya atas nama Islam, tetapi sesungguhnya itu nafsu belaka.

Para sufi sering kali menganjurkan anekdot itu. Ketika ingin menghadap Tuhan, jangan kita seperti orang “ngeden“. Orang yang sangat ingin cepat selesai, kepingin instan. Ada ayat yang sering diklaim oleh para penganut Islam “kebelet” ini, yaitu “Masuklah Islam secara kaffah“. Tetapi, bagi para sufi, lebih tepat jika anjuran yang disampaikan kepada manusia adalah “Masuklah ke dalam perdamaian secara total”.

Mengapa konflik kekerasan banyak terjadi di negara-negara Islam, padahal tidak sedikit di antara mereka yang mengenal sufisme?

Harus diingat, perdamaian semu juga sedang berkembang pesat. Artinya, perdamaian hipokrit. Seakan-akan ada perdamaian. Ini sama halnya dengan demokrasi semu, yakni seakan-akan berdemokrasi. Di dunia Islam juga ada hal-hal semu semacam itu. Maka, saya cenderung menyebutkan, “Masuklah dalam perdamaian secara total”, dan bukannya “Masuklah dalam Islam secara kaffah (total, Red)”.

Di sini, paradigma perdamaian dalam dunia sufi mengacu pada perilaku. Sebab, hal ini yang akan membangun sebuah peradaban atau kultur. Hal ini harus dibangun melalui pendidikan tentang hak-hak kehambaan. Sebab, dengan kesadaran hak-hak sebagai seorang hamba, manusia akan punya “perasaan memiliki”, yang pada akhirnya memunculkan perasaan cinta secara terus-menerus bersama Tuhan. Melalui kebersamaan dengan Tuhan, kehidupan secara organis akan proporsional. Kalaupun terjadi sesuatu yang menyangkut tindak kekerasan atau antiperdamaian, semuanya akan diselesaikan dengan cara-cara seperti paradigma sufi.

 

PEWAWANCARA: ELLY BURHAINI FAIZAL

(Suara Pembaruan, Ahad, 14 September 2008)

 

Single Post Navigation

13 thoughts on “Menyongsong Perdamaian Dunia Dengan Sufisme Islam

  1. mohdhazren on said:

    Assalamu’alaikum Wr, Wb.

    Ingin ketemu Mursyid di Malaysia/Singapura ?
    Bisa membantu ??

  2. seliparmalaysia on said:

    askum en mohdhazren

    anda dri malaysia atau singapura…???

    kami d malaysia ini hanyalah murid kepada Mursyid…

    kami mengalu-alukan kehadiran anda.’

    sekiranya anda d malaysia dan berminat untuk mengenali & ketemu mursyid disamping mempelajari ilmu2 tasawuf, sila hubungi Ustaz Mohd Fauzi 013-2525974 untuk maklumat lanjut. Beliau merupakan Ketua Pemimpin di malaysia..

    Salam perkenalan & semoga bertemu di suatu hari nanti…dari kami anak murid-NYA…

  3. mohdhazren on said:

    di Selatan Semenanjung Malaysia

  4. Assalamualaikum Wr. Wb.

    – Apakah Anda ingin mengetahui penyebab hancurnya sistem kapitalis?
    – Apakah Anda ingin mengetahui lebih jauh tentang situasi dan kondisi masyarakat saat ini secara global?
    – Apakah Anda ingin mengetahui tentang sistem apakah yang bisa memecahkan berbagai persoalan dalam situasi dan kondisi saat ini?

    Apabila Anda menjawab “ya!”, maka hadirilah undangan…

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    Liqo’ Syawal Umat Islam 1429 H
    Bersama Hizbut Tahrir Indonesia

    dengan tema,
    – “Saatnya Kapitalisme Hancur dan Khilafah Tegak”

    yang Insya Allah akan dilaksanakan pada,
    – hari____: Ahad
    – tanggal_: 26 Oktober 2008
    – pukul___: 08.30-11.00
    – tempat__: Masjid Al-Akbar, Surabaya

    yang diselenggarakan oleh,
    – HTI DPD Jawa Timur

    contact Person
    – Anwar Jabir (081 13465967)

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*

    …yang Insya Allah akan mampu menjawab pertanyaan Anda mengenai ketiga hal di atas.

    Terima kasih atas perhatian yang telah Anda berikan.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

  5. tawakallah kepada Allah niscaya kaudapati Dia menuju kearahmu

    ********313*********
    Diantara bentuk kebahagian adalah kemampuan untuk mengatasi rintangan dan kesulitan. Nikmatnya kemenangan tidakl bisa dibandingkan dengan kenikmatan apapun, dan kegemibiraan yang disebabkan oleh keberhasilan tidak bisa disamakan dengan kegembiraan mana pun
    *******3333i3**************

    4 perkara yang mendatangkan kebahagian, buku yang bermanfaat, anak yang baik akhlaknya, isteri yang ia cintai dan teman bergaul yang shalih..

    ****3Anomali kejadi ke 4 hukum sebab akibat********

    Istri cantik yang bertaqwa, rumah yang luas, rezeki yang cukup dan tetangga yang shalih, adalah nikmat yang tidak diketahui oleh banyak orang…

    ***0123,45679*********

    “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan )surat (Asy-Insyirah : 5)
    Setelah kemiskinan ada kekayaan, setelah sakit ada sehat,setelah sedih ada gembira, setelah kesempitan ada kelapangan, setelah penjara ada kebebasan, dan setelah lapar ada kenyang..

    “Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan” (q.s. Ath-Thallaq : 7)

    Oleh Allah, simpul itu akan terurai, tali akan putus, pintu akan terbuka, hujan akan turun, yang hilang akan datang dan keadaan akan membaik….

    “Cukuplah Allah sebagai penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik pelindung “(q.s Ali Imran : 173)

    Allah akan melepaskan semua kesulitan yang ada, menghilangkan semua bencana, mengampuni semua dosa, memperbaiki hati kita dan menghilangkan semua aib yang ada pada kita….

    * Diambil dari buku “MENJADI MANUSIA PALING BAHAGIA” karya al mukarom DR. A’idh Al-Qarni

    ***********4567891011 free 123/merdeka10987654321 zero————–kosongkanlah pengetahuan kita untuk diisi kembali dengan ilmu yang kita blom pelajariahli sufi belajar menjadi Majlis Tablig Majlis Tablig belajar jalan kesufian, harus tukar menukar posisi agar kita tidak bosan, NU dan Muhammadiyah dipersatukan Allah di hati kita masing2 saling harga menghargai kalo digabung menjadi Nadhlatul Ulama or Umat Muhammadiyyah (Kebangkitan ulama/umat Muhammad saw******************

  6. sufimuda on said:

    Terimakasih atas komentar nya, semoga Allah akan menyatukan kita semua dalam Rahman dan Rahim-Nya, Amien

  7. Ass. Wr. Wb.

    @semuanya

    Setelah membaca dan memahami isi tulisan posting diatas, untuk melangkah kearah menongsong perdamaian dunia dengan sufisme Islam. Sepertinya terlalu sukar untuk dimengerti oleh semua lapisan umat Islam. Karena mayoritas yang awam akan menuruti para alim ulamanya. Sedangkan sufisme sendiri masih menjadi polemik di tengah umat Islam.

    Menurut hemat saya lebih baik dan bijaksana, apabila para alim ulama harus membenahi dahulu mengenai pemahaman tentang Islam. Kenapa kita beragama Islam ? Kemana arah dan tujuan kita beragama Islam? Sehingga umat Islam tidak bingung untuk melangkah lebih jauh dalam kehidupan beragamanya.

    Seperti pernyataan dibawah ini,

    “Melalui sufisme, manusia diajak untuk berserah diri secara total kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa,” ujar KH Luqman Hakim (46), pembimbing dan pengajar dunia sufi di Jakarta.

    Menurut saya “Melalui Islam, manusia diajak untuk berserah diri secara total kepada Allah Swt, Tuhan yang maha Esa ” ujar Asep yang awam.

    Tentunya judulnya juga harus dirubah yaitu ” melangkah kearah menongsong perdamaian dunia dengan Islam”.

    Jadi Islam lah yang harus dikedepankan ditengah-tengah ulama dan umat manusia seluruhnya.

    Kadang kita melupakan hal kecil dan sepele. Apakah Islam itu ?

    Silahkan anda berkomentar.

    Wass. Wr. Wb.

    Nb : Kpd mas sufimuda, saya ikut nebeng nih, boleh kan ?

  8. sufimuda on said:

    Silahkan Mas Asep memberikan komentar untuk menambah wawasan kita semua.

    K.H Lukman Hakim ingin mengajak seluruh ummat Islam untuk memperdalam Tasawuf, yang akan membawa kepada kedamaian.

    Karena selama ini kita lihat wajah Islam begitu sangar, muncul2nya Islam Puritan yang kaku dan keras sehingga Islam diidentikkan sebagai agama teroris.
    Kenapa? karena yang dipraktekkan selama ini adalah masih pada tataran syariatnya. Untuk mengubah akhlak manusia haruslah dengan memperbaiki dari dalam diri, harus HATI yang dibersihkan terlebih dahulu barulah akan keluar sikap2 terpuji.
    Kita tidak bisa mengubah sifat kebinatangan kita kecuali Allah sendiri yang mengubah.

    Dengan ber zikir maka dimaksukkan unsur2 Ketuhanan kedalam diri manusia dengan itulah maka seluruh gerak kita akan menjadi di ridhai Nya.

    Kalau K.H. Lukman Hakim mengajak untuk menyongsong perdamaian dunia dengan sufisme Islam tentu yang lain akan mengikuti dengan ilmu dan pemahamannya masing-masing. Kalau seluruh aliran dalam Islam ini bersatu dengan tujuan bersama pasti akan berhasil.

    Salam

  9. @sufimuda,

    Memang benar apa yang mas katakan, ada golongan yang ekstrim dalam memahami Islam, sehingga Islam menurut pandangan dunia tampak sangar dan kaku, bahkan disebut teroris. Mungkin mereka tidak menyadari perbuatannya, karena memang sudah banyak sekali hadist-hadist palsu yang telah beredar di tengah-tengah umat Islam sepeninggal Rasulullah Saw, sehingga sulit membedakan yang satu dengan yang lainnya.

    Kadang alim ulama kita juga tidak menyadari akan hal itu, karena sudah terbiasa sejak turun temurun dalam menjalankan syariat Islamnya menurut yang mayoritas. Sedangkan dalam praktek ibadahnya selalu saja ada perselisihan, seperti didaerah saya. Mahzab satu dengan yang lainnya selalu ada saja perbedaannya. Sampai satu mesjid yang berdekatan punya jemaah masing-masing. Mungkin juga didaerah lainnya di Indonesia seperti itu.

    Demikian juga halnya dengan tasawuf, ada saja perbedaan yang satu dengan yang lainnya. Karena tentu saja dipengaruhi oleh banyaknya hadist-hadist palsu.

    Saya sedih dan prihatin sekali dengan keadaan tersebut. Bagaimana umat Islam akan bersatu kalau pemikirannya seperti itu? Makanya saya ingin menegaskan supaya kembali lagi kepada yang suci, mungkin mas lebih tahu kemana arah pembicaraan saya. Seperti komentar saya kepada si Mbah mengenai pemahaman Islam, secara tidak langsung supaya dipahami oleh yang hadir di blog ini khususnya dan umumnya umat Islam sedunia.

    Demikian, semoga menjadi bahan renungan dan intropeksi.

    Wass. Wr. Wb.

  10. Wuaaaa… ha..haha….haha….ha..ha
    Salamlekum
    numpang lewat geser dikit dong laper niih aus nih

  11. assalamualaikum wrr.. wbb …
    maap mas, boleh tau alamat bpk. KH. Luqman Hakim, ato gak mungkin ada nomer yg saya bisa hubungi ke beliau …..
    terima kasih.

  12. mas, ntar kalo ada kabar minta tolong di kirimkan ke iwane.mbozo@gmail.com.
    terima kasih.

  13. Ping-balik: Menyongsong Perdamaian Dunia Dengan Sufisme Islam | almananumahmud's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: