Motivasi,  Nasehat

VIBRASI – ZUHUD

Sudah tertanam di dalam fikiran orang secara umum gambaran seorang sufi adalah orang yang meninggalkan kehidupan duniawi, hidup miskin, berbaju penuh tambalan dan hidup dalam keterasingan dunia. Hal ini disebabkan oleh beberapa litaratur klasik tentang kehidupan sufi yang digambarkan dengan sikap menjauhi dunia, salah satu contohnya Rabi’ah al-Adawiyah. Satu sisi gambaran kesederhanaan sufi itu ada benarnya karena kehidupan sufi di fase awal perkembangan Islam memang sebagai bentuk perlawanan terhadap gaya hidup hedonis yang dipraktekkan oleh penguasa Islam zaman itu, kehidupan yang sangat berbeda dengan cara hidup Nabi SAW.

Akan tetapi kesufian tidak identik dengan kemelaratan, anda miskin dan melarat tidak otomatis menjadi sufi begitu juga kalau anda kaya karena kesufian itu terletak di hati. Di dalam beberapa tulisan saya tulis disini tentang zuhud telah saya jelaskan tentang hakikat zuhud yaitu terlepasnya hati manusia kepada selain Allah, bukan ketiadaan harta.

Kehidupan sufi adalah kehidupan yang dinamis dan optimis, mereka hidup dengan mandiri tanpa mengharapkan belas kasian orang lain. Jadi kalau ada seorang pengemis datang meminta minta kepada anda, sudah pasti dia bukan sufi.

Orang mengenal nama Mansur al-Hallaj sebagai tokoh sufi yang kontroversi dengan ucapannya “Ana al-Haqq” namun sedikit yang tahu makna dari ujung namanya, Al-Hallaj yang artinya Pembersih kulit kapas sebagai sebuah profesi. Disamping Al-Hallaj ada profesi lain seperti  Al Qashar (Tukang Penatu), Al Waraak (Tukang Kertas), Al Kharraaz (Penjahit Kulit Hewan), Al Bazzaaz (Perajin Tikar Daun Kurma), Az Zujaaji (Pengrajin dari kaca) dan Al Farraa’ (Penyamak Kulit). Hal ini menggambarkan bahwa para sufi zaman dulu dan sampai sekarang adalah orang-orang yang tidak melepaskan diri dari kehidupan normal, tetap berusaha.

Disamping kehidupan miskin dan melarat dijadikan gambaran mewakili kehidupan sufi, banyak tokoh sufi terkenal yang hidup dengan kemewahan, mereka sangat kaya. Imam Ghazali sendiri menerangkan dalam “Bab Zuhud” di Ihya’ Ulumuddin bahwa zuhud pada hakikatnya adalah sikap tidak bergantung kepada dunia. Bukan sikap meninggalkan dunia sepenuhnya. Zuhud adalah mengendalikan dunia dan tidak dikendalikan oleh dunia.

Ketika bersama Guru, Beliau pernah membahas tentang Zuhud…

Zuhud itu seperti Guru mu (maksudnya kondisi seorang zuhud seperti kehidupan Beliau)”. Zuhud itu Beliau terangkan adalah kondisi seseorang tidak mencari uang tapi uang mendekati orang. Kondisi ini bisa dicapai lewat membangun bisnis yang sungguh-sungguh selama bertahun-tahun (Beliau mempopulerkan Pensiun setelah 5 tahun) kemudian nanti tidak lagi perlu bekerja karena bisnis yang dibangun bisa menghidupinya. Contoh mudah, seorang yang memiliki beberapa rumah yang bisa disewakan, harga sewa itu bisa untuk memenuhi kebutuhannya, artinya dia mendapat penghasilan dari Pasif Income.

Bisa juga orang yang dengan ketaatannya kepada Allah, menjadi bernilai sehingga alam ini melayani dia dengan penuh hormat, inilah maqam para wali dan orang-orang shalih. Allah menciptakan manusia untuk mengabdi kepada-Nya, hanya itu. Ketika manusia fokus kepada pengabdian kepada Allah maka alam ini akan mengabdi pula kepadanya. Mengabdi dengan menyembah itu dua hal yang berbeda, mengabdi dilakukan secara terus menerus, proses menjadi hamba yang baik itu tidak bisa dengan waktu yang cepat.

Sesuai dengan hukum alam (sunatullah) yang begitu adil diciptakan oleh Allah, siapapun memakai hukum tersebut, memenuhi rukun dan syaratnya maka dia akan mencapai posisi yang di inginkan, termasuk menjadi orang shaleh yang dicintai oleh Allah, dimana segala yang ada di dunia ini akan melayani dia dengan baik.

Di dalam dunia kesufian ada sebuah nasehat, ”Jika kau kejar dunia maka akhirat luput (tertinggal), jika kau kejar akhirat maka duniamu luput (tertinggal)”. Maksudnya jika kita fokus mengejar duniawi maka akhirat akan tertinggal karena itu dua hal berbeda begitu juga sebaliknya. Maka nasehat terakhir adalah.. ”JIka kau kejar (dekati) yang punya dunia akhirat (Allah) maka keduanya akan ikut (bersamamu)”.

Saya tutup tulisan ini dengan nasehat yang terkenal dalam dunia sufi…

Teruslah melayani Tuhanmu, kelak dunia akan datang menghampiri mu dengan penuh hormat dan akhirat akan mendatangimu dengan penuh kerinduan

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca