Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?

Diantara tuduhan yang dilontarkan kepada kaum Sufi, bahwa dalam tasawuf, seorang Sufi itu tidak mau syurga dan tidak takut neraka. Padahal Rasulullah pernah berharap syurga dan dihindarkan dari neraka. Rasulullah paripurna saja masih demikian, kenapa kaum Sufi enggan dengan syurga dan tidak takut neraka?
Tuduhan dan pertanyaan berikutnya seputar syurga dan neraka, bahwa kaum Sufi dalam tujuannya untuk beribadah hanya kepada Allah, tidak menuju syurga dan tidak menghindar dari neraka, dianggap sebagai akidah yang salah. Padahal dalam ayat Al-Qur’an disebutkan, “Makan dan minumlah (di syurga) dengan nikmat yang disebabkan oleh amal yang telah kamu kerjakan di hari-hari yang lampau….” (al-Haaqqah, 24) . Jadi kaum Sufi pandangannya bertentangan dengan ayat tersebut.

JAWABAN
Dalam Al-Qur’an dan Hadits soal syurga dan neraka disebut berkali-kali dalam berbagai ayat dan surat. Tentu saja, sebagai janji dan peringatan Allah swt. Namun memahami ayat tersebut atau pun hadits Nabi saw, harus dilihat dari berbagai sudut pandang, tidak sekadar formalisme ayat atau teks hadits saja.
Contoh soal rasa takut. Dalam Al-Qur’an disebut beberapa kali bentuk takut itu. Ada yang menggunakan kata Taqwa, ada yang menggunakan kata Khauf dan ada pula Khasyyah, dan berbagai bentuk kata yang ditampilkan Allah Ta’ala yang memiliki hubungan erat dengan bentuk takut itu sendiri, sesuai dengan kapasitas hamba dengan Allah Ta’ala. Makna takut dengan penyebutan yang berbeda-beda itu pasti memiliki dimensi yang berbeda pula, khususnya dalam responsi psikhologi keimanan yang berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan frekwensi dan derajat keimanan seseorang.

Begitu juga kata Jannah dan Naar, syurga dan neraka. Penekanan-penekanan kata Naar dalam Al-Qur’an juga memiliki struktur hubungan yang berbeda. Naar disebutkan untuk orang kafir, memiliki tekanan berbeda dengan orang munafik, orang fasik, dan orang beriman yang ahli maksiat. Itu berarti berhubungan dengan kata Naar, yang disandarkan pada macam-macam ruang neraka: Ada Neraka Jahim, Neraka Jahanam, Neraka Sa’ir, Neraka Saqar, Neraka Abadi, dan penyebutan kata Naar yang tidak disandarkan pada sifat dan karakter neraka tertentu.
Jika Naar kita maknai secara gradual, justru menjadi zalim, karena faktanya tidak demikian. Hal yang sama jika para Sufi memahami Naar dari segi hakikatnya neraka, juga tidak bisa disalahkan. Apalagi jika seseorang memahami neraka itu sebagai api yang berkobar.

Kalimat Naar tanpa disandari oleh Azab, juga berbeda dengan Neraka yang ansickh belaka. Misalnya kalimat dalam ayat di surat Al-Baqarah, “Wattaqun Naar al-llaty waquduhannaasu wal-Hijarah” dengan ayat yang sering kita baca, “Waqinaa ‘adzaban-Naar,” memiliki dimensi berbeda. Ayat pertama, menunjukkan betapa pada umumnya manusia, karena didahului dengan panggilan Ilahi ”Wahai manusia”. Maka Allah langsung membuat ancaman serius dengan menyebutkan kata Naar. Tetapi pada doa seorang beriman, “Lindungi kami dari siksa neraka,” maknanya sangat berbeda. Karena yang terakhir ini berhubungan dengan kualifikasi keimanan hamba kepada Allah, bahwa yang ditakuti adalah Azabnya neraka, bukan apinya. Sebab api tanpa azab, jelas tidak panas, seperti api yang membakar Ibrahim as.

Oleh sebab itu, jika seorang Sufi menegaskan keikhlasan ubudiyahnya hanya kepada Allah, memang demikian perintah dan kehendak Allah. Bahwa seorang mukmin menyembah Allah dengan harapan syurga dan ingin dijauhkan neraka, dengan perpekstifnya sendiri, tentu kualifikasi keikhlasannya di bawah yang pertama. Dalam berbagai ayat mengenai Ikhlas, sebagai Ruh amal, disebutkan agar kita hanya menyembah Lillahi Ta’ala. Tetapi kalau punya harapan lain selain Allah termasuk di sana harapan syurga dan neraka, sebagai bentuk kenikmatan fisik dan siksa fisik, itu juga diterima oleh Allah. Namun, kualifikasinya adalah bentuk responsi mukmin pada syurga dan neraka paling rendah.
Semua mengenal bagaimana Allah membangun contoh dan perumpamaan, baik untuk menjelaskan dirinya, syurga maupun neraka. Kaum Sufi memilih perumpamaan paling hakiki, karena perumpamaan neraka yang paling rendah sudah dilampauinya. Sebagaimana kualitas moral seorang pekerja di perusahaan juga berbeda-beda, walau pun teknis dan cara kerjanya sama.

Orang yang bekerja hanya mencari uang dan untung, tidak boleh mencaci dan mengecam orang yang bekerja dengan motivasi mencintai pekerjaan dan mencintai direktur perusahaan tersebut. Walau pun cara bekerjanya sama, namun kualitas moral dan etos kerjanya yang berbeda. Bagi seorang direktur yang bijaksana, pasti ia lebih mencintai pekerja yang didasari oleh motivasi cinta yang luhur pada pekerjaan, perusahaan dan mencintai dirinya, disbanding para pekerja yang hanya mencari untung be laka, sehingga mereka bekerja tanpa ruh dan spirit yang luhur.

Karena itu syurga pun demikian. Persepsi syurga bagi kaum Sufi memiliki kualifikasi ruhani dan spiritual yang berbeda dengan persepsi syurga kaum awam biasa. Hal yang sama persepsi mengenai bidadari. Bagi kaum Sufi bidadari yang digambarkan oleh Al-Qur’an dan Sunnah, adalah Tajalli (penampakan) sifat-sfat dan Asma Kemahaindahan Ilahi, yang tentu saja berbeda dengan kaum awam yang dipersepsi sebagai kenikmatan bilogis seksual-hewani.

Syurga bagi kaum Sufi adalah Ma’rifatullah dengan derajat kema’rifatan yang berbeda-beda. Karena nikmat tertinggi di syurga adalah Ma’rifat Dzatullah. Jadi kalimat Rabi’ah Adawiyah tentang ibadah tanpa keinginan syurga adalah syurga fisik dengan kenikmatan fisik yang selama ini kita persepsikan. Dan hal demikian memang bisa menjadi penghalang (hijab) antara hamba dengan Allah dalam prosesi kema’rifatan.

Bahkan Allah pun membagi-bagi syurga dengan symbol berbeda-beda, ada Jannatul Ma’wa, Jannatul Khuldi, Jannatun Na’im, Jannatul Firdaus, yang tentu saja menunjukkan kualifikasi yang bersifat lahiriyah maupun bathiniyah. Bagi orang beriman yang masih bergelimang dengan nafsunya, maka perspesi tentang nikmat syurga, adalah pantulan nafsu hewaninya dan syahwatnya, lalu persepsi kesenangan duniawi ingin dikorelasikan dengan rasa nikmat syurgawi yang identik dengan syahwatiyah.

Rabi’ah Adawiyah dan para Sufi lainnya ingin membersihkan jiwa dan hatinya dari segala bentuk dan motivasi selain Allah yang bisa menghambat perjalanan menuju kepada Allah. Dengan bahasa seni yang indah dan tajam, mereka hanya menginginkan Allah, bukan menginginkan makhluk Allah. Amaliyah di dunia sebagi visa syurga hanyalah untuk menentukan kualifikasi kesyurgawiannya, bukan sebagai kunci masuk syurganya. Karena hanya Fadhal dan RahmatNya saja yang menyebabkan kita masuk syurga. “karena Fadhal dan Rahmat itulah kamu sekalian bergembira…” Demikian dalam Al-Qur’an. Bukan gembira karena syurgaNya.
Syurga dan neraka adalah makhluk Allah. Apakah seseorang bisa wushul (sampai kepada) Allah, manakala perjalanannya dari makhluk menuju makhluk? Apakah itu tidak lebih dari sapi atau khimar yang menjalankan roda gilingan, yang berputar-putar terus menerus tanpa tujuan?

Nah anda bisa merenungkan sendiri, betapa tudingan-tudingan mereka yang anti tasawuf soal persepsi syurga dan neraka ini, bisa terbantahkan dengan sendirinya, tanpa harus berdebat lebih panjang.

Hanya mereka yang tolol dan bodoh saja, jika ada ucapan seperti ini dikecam habis, “Tuhanku, hanya engkau tujuanku, dan hanya ridloMulah yang kucari. Limpahkan Cinta dan Ma’rifatMu kepadaku…” Ucapan yang menjadi munajat para Sufi. Lalu mereka mengecam ucapan ini, sebagai bentuk anti syurga dan tak takut neraka?

 

Sumber : Sufinews.com

Single Post Navigation

69 thoughts on “Orang Sufi anti Syurga dan Tidak Takut Neraka?

Comment navigation

  1. Puntodewo on said:

    Terima kasih untuk kang siliwangi semoga kami tetap diingatkan oleh gusti alloh lewat saudara2 kami semua jikalau kami salah dan hilaf maupun ujub dihati kami semakin meninggi. Demi terwujudnya islam yang rahmatallilalamin penuh kedamaian

  2. Yang terpenting tetap membumi mas puntodewo karena Rosulullah pun tetap membumi dgn kemanusiawiannya. Semoga apa yang mas cari bisa d capai sebelum ajal menjemput . Salam hangat dari saudaramu siliwangi pajajaran.

  3. Allah SWT Maha Hidup (Hayat) dan Maha Kuasa ( Qudrat ), Maha Perkasa yang tidak kenal keterbatasan dan kelelahan, tidak kenal kantuk dan tidur , tidak kenal kehausan (fana ) dan kematian. Dia-lah pemilik kerajaan, alam malakut, keagungan dan alam jabarut. Dia-lah Yang memiliki kekuasaan, kekuasaan untuk bisa memaksa, penciptaan dan titah perintah. Langit dilipat dengan “Tangan Kanan”-Nya, seluruh makhluk terpaksa dalam “genggaman” – Nya. Dia sendirian dalam mencipta, membangun dan berkreasi. Dia menciptakan makhluk-Nya dan seluruh perbuatan mereka, menetapkan rezeki serta Ajal (batas waktu ) mereka. Segala yang telah ditakdirkan tidak ada yang lepas dari “genggaman” – Nya. Segala pelaksanaan seluruh masalah tidak ada yang luput dari kekuasaan-Nya. Seluruh apa yang ditadirkan-Nya tidak bisa dihitung, apa yang Dia ketahui tidak pernah berakhir.

    Dikutip dari kitab Qawaa’idul “Aqaaid Fit-tauhid Karya Imam Al-Ghazali.
    (TAUHIDULLAH, Penerbit Risalah Gusti, Surabaya)

  4. waduuuuh, sudah mempertuhankan surga y?

    katanya ikhlas untuk masuk surga dlm tulisan anda tapi anda mengajarkan untuk tidak ikhlas kenapa?

    ingat pencipta surga itu siapa? kalau anda saja sudah memiliki isteri lalu istri anda hanya menginginkan uang or harta anda bagaimana perasaaan anda kalau tahu itu?

    Yang jadi masalah ini bukan anda tapi Allah SWT loooh yang anda permainkan…. dengan berfokus pada surga

    kenapa anda ingin surga? pasti karena enaknya khan tapi kita gak mau neraka karena tidak enak khan?

    coba bayangkan kalau neraka didinginkan lalu surga dibakar, pasti pilihan anda akan neraka khan?

    coba bayangkan ketulusan anda apabila surga dan neraka itu gak ada? apa gak malu ?????????????

    http://fusion-kandagalante.blogspot.com/2008/09/tuhan.html

  5. dengan menyayangi, kita akan disayangi
    dengan memberi kita akan diberi
    dengan mengasihi, kita juga akan dikasihi.
    kira2 begitu hukum sebab akibat……….

    dengan kita beribadah kepada ALLAH,
    menyatakan rasa cinta kepada ALLAH
    maka ALLAH pun akan mengasihi kita.
    dengan kata lain, kita tidak perlu khawatir atas imbalan ALLAH yang akan diberikan kepada kita.selama kita patuh kepadaNYA, dan menjauhi larangannya
    inget…….ALLAH MAHA TAHU

  6. hamba Allah on said:

    surga dan neraka hanyalah iming2an bagi manusia agar mereka melakukan perintah2 Allah dan menjauhi larangan Allah.maka dari itu manusia banyak yg berbondong2 berbuat kebaikn,menjalankan perintah-Nya,menjauhi larangan-Nya hanya utk mengharap pahala surga dan terhindar dari neraka.seandainya surga dan neraka tdk pernah ada,apa mereka masih melakukan shalat dll?kehidupan setelah kematian ada sama seperti kehidupan sekarang hanya bedanya bila dikehidupan sekarang manusia itu berbuat jahat maka setelah ia meninggal kehidupan dia susah.

    • dari komentar anda sy tau anda seorang Salik dan sy juga pernah mendengar kata-kata seperti itu dari salah seorang saudaraku.

      Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan sejelas-jelasnya” (QS. An Nur: 54)

      Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (an-nahl 104. )

      jadi anda meragukan itu (Syurga/Neraka)?

      “Sesungguhnya dalam PENCIPTAAN LANGIT dan BUMI, dan silih BERGANTINYA MALAM dan SIANG terdapat TANDA-TANDA bagi orang-orang yang berakal, (QS Ali Imron: 190-191)

      Cobalah menegadah ke Atas dan lihatlah Langit, Langit pertama (dihiasi dengan bintang-bintang) yang sebegitu besar dan luasnya dibuat hanya untuk menunjukkan Kebesaran dan Kehebatan-Nya! jangan lagi bahas langit ke 2 ampe ke 7.

      “KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN ADA SAMA SEPERTI KEHIDUPAN SEKARANG”

      Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan memungkiri janji-Nya? (Al-baqarah;80)

      “Tunjukanlah bukti kebenaranmu, jika kamu memang orang-orang yang benar.” Q.S. An-Naml 27 : 64

      “Sebenarnya pengetahuan mereka (mu) tentang akhirat tidak sampai, malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta dari padanya.”
      Q.S. An-Naml 27 : 66

      Rosul, Nabi n Warasatul Ambia (mursid) di utus untuk menyampaikan ini
      (Al-Quran)!!!

      “Setiap umatku akan masuk surga, kecuali orang-orang yang enggan untuk memasukinya. Ada seseorang yang bertanya, siapakah orang yang enggan tersebut wahai Rasulullah ? Beliau bersabda, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk surga, barangsiapa tidak taat kepadaku sungguh dia orang yang enggan masuk surga“

      Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasehat- menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran. (al-‘Ashr: 1-3)

      bertobatlah (istiqhfar) saudaraku dari keyakinanmu itu (surga n neraka tidak ada).

      karena Tuhan tidak perduli walau engkau anak seorang Nabi sekalipun!

      jangan sampai ayat ini berlaku untukmu;
      “Pergilah, barangsiapa di antara mereka yang mengikuti kamu, maka sesungguhnya neraka Jahannam adalah balasanmu semua, sebagai suatu pembalasan yang cukup. (al-isra’ 63.)

      • Ruslianto on said:

        Maaf,… Saya engga ngebayangi gimana gitu, si hamba Allah berkoment 14 des 2008 dan si bocah mengomentarinya 12 okt 2016….. he h e he he

        • bang rusli.. sy pernah baca tulisan anda “mursidku selalu membayangiku….. ” apa iya? apa beliau tidak menasihati anda sewaktu mau koment seperti itu pakai “….. he h e he he ” (karena itu ada kesan …… ).

          “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas”,
          (QS. Al ‘Alaq. 6).
          “karena dia melihat dirinya serba cukup” (hebat/pintar/alim) (QS. Al ‘Alaq. 7).

          sy tdk tau si hamba Allah masih idup apa tidak, sy harap saudaraku itu masih hidup dan berkesempatan membaca tulisan itu (sebagai nasehat) agar sempat bertobat dari keyakinnanya itu.

          atau paling tidak bermanfaat untuk pembaca yang lain!

          “Ya Rabb Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka. (QS. Ali Imran: 191-192)

          salam 😀

          • Ruslianto on said:

            Maaf(lagi) anda tersinggung? ‘ kan saya udah pakek kata maaf sebelumnya,….Smoga si Hamba Allah masih di beri umur dan membaca koment 8 tahun yg lalu itu.
            Maaf,… Wassalam

          • Ruslianto on said:

            Maaf (lagi) anda tersinggung?
            ‘Kan saya udah pakai kata maaf sebelumnya,… Smoga si Hamba Allah masih di beri umur dan membaca koment 8 tahun yg lalu itu.
            Maaf,… Wass.

            • Hati-hati Bang Rusli….

              Belakangan ini banyak yg sering kutap-kutip ayat…
              Kalo tersinggung, juga kutap-kutip ayat…

              Kuatirnya kalo dia tersinggung, nanti Allah tersinggung juga…. 🙂

              • God Mesej on said:

                saya tidak tersinggung bang RUSLI, n anda tidak perlu meminta maaf, emang kesalahan apa yang anda lakukan? sy hanya;

                Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan,… (huud;88)

                “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.”

                buat bung ARKANA;

                “Janganlah kamu terlalu bangga (mentang2 ikut thariqat n merasa paling benar n merasa selamat sendiri); sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al Qasash;76)

                “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”
                (Al-Mu’minun;27)

                Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu.
                Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat
                akan hamba-hamba-Nya.” (Al-Mu’minun;44)

                Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (muhammad;14)

                Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ? (muhammad;29)

                Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan (atau tulisan) mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (muhammad;30)

                Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya). (QS. muhammad;31)

                Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[saudara sesama muslim] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[contoh;hai fasik, hai kafir dan sebagainya.] dan barangsiapa
                yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (muhammad;11)

                Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (muhammad;12)

                salam…. balik buat kalian ber 2

                (ketahuilah…. aku juga saudaramu jika kalian tidak tau, karena gurumu adalah guruku juga :D)

              • Back to Qur'an on said:

                saya tidak tersinggung bang RUSLI, n anda tidak perlu meminta maaf, emang kesalahan apa yang anda lakukan? sy hanya;

                Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan,… (huud;88)

                “Sesungguhnya aku (ini) tidak lain hanyalah salah seorang pemberi peringatan.”

                buat bung ARKANA;

                “Janganlah kamu terlalu bangga (mentang2 ikut thariqat n merasa paling benar n merasa selamat sendiri); sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.” (Al Qasash;76)

                “Sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari berhisab.”
                (Al-Mu’minun;27)

                Kelak kamu akan ingat kepada apa yang kukatakan kepada kamu.
                Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat
                akan hamba-hamba-Nya.” (Al-Mu’minun;44)

                Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Rabbnya sama dengan orang yang (shaitan) menjadikan dia memandang baik perbuatannya yang buruk itu dan mengikuti hawa nafsunya? (muhammad;14)

                Atau apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka ? (muhammad;29)

                Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan (atau tulisan) mereka dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu. (muhammad;30)

                Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya). (QS. muhammad;31)

                Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[saudara sesama muslim] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman[contoh;hai fasik, hai kafir dan sebagainya.] dan barangsiapa
                yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (muhammad;11)

                Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (muhammad;12)

                salam…. balik buat kalian ber 2

                (ketahuilah…. aku juga saudaramu jika kalian tidak tau, karena gurumu adalah guruku juga :D)

  7. memang manusia ini suka berniaga dengan TUHAN…….

    selama manusia masih suka berniaga dengan TUHAN, mak sebenarnya mereka belum punya rasa cinta pada TUHAN pencipta alam semesta.

  8. sufi baru on said:

    itu tidak bisa di jadikan ukuran mas azis…
    dalam hadist qudsi dikatakan ” sebaik baik berniaga adalah berniaga dengan ALLAH”….itu artinya DAKWAH.!!!

    dan untuk mempunyai rasa cinta kepada allah…
    kita harus mengerti dulu apa syarat nya untuk mencintai tersebut..: harus ada dan nampak yang dicintai tersebut..
    kalau kita mengaku cinta allah dan rasul apakah kita sudah pernah melihatnya..? he he
    atau masak kita mencintai yang tidak kelihatan..?
    berarti nggak lengkap rukun dan syaratnya..batal dong…

    makanya yang paling penting itu mengenal dulu siapa yang akan kita cintai itu…
    ya …kayak kita pacaran lah tentu kita harus tahu siapa yang akan kita cintai itu,,sebut2 namanya …atau kalau perlu kirim surat segala,,lalu datangi DIA kalau perlu bawa bunga atau buah atau persembahan lainnya…dan yang paling penting ucapkan perasan cinta itu kepadanya…agar dia tahu kalau kita mencintainya…itupun kita belum yakin apakah cinta kita tadi di terima atau ditolaknya..

    demikian juga halnya dengan berketuhanan…

    ibarat fatwa sang GURU ”

    “tak tahu maka tak kenal”
    “tak kenal maka tak sayang”
    “tak sayang maka tak cinta”
    “tak cinta maka tak kasih”

    sama dengan kita pacaran tadi…kalau ingin pacar kita makin sayang pada kita maka kerjakanlah apa yang di senanginya maka pasti dia akan bertambah sayang pada kita…

    dan salah satu upaya utk mendapatkan rasa cinta dari ALLAH tadi adalah mengerjakan apa yang di senangiNYA salah satunya adalah..dengan BERNIAGA DENGAN ALLAH tadi..
    (dakwah)

    itulah hubungannya…

    semoga berkenan…

  9. وما خلقت الجن والإنس الا ليعبدون

    Tugas kita hanya satu, “MANEMBAH PASRAH”.

    Urusan surga dan neraka bukan wilayah kita. Itu HAK ALLAH SEMATA. So, kita gak usah ikut-ikut ngurusi dech……… Ntar nyesel lo…

    Nuwun.

  10. kita melihat sendiri dan menyaksikan dengan seksama berbagai ayat al Qur’an dan riwayat hadits yang telah kami kemukakan di atas, ini menunjukkan bahwa seluruh ajaran agama ini mengajak setiap hamba untuk mencari surga dan berlindung dari neraka-Nya. Dalil-dalil tersebut juga menunjukkan bahwa para rasul, para nabi, para shidiq, para syuhada’, para malaikat dan para wali Allah yang mulai, mereka semua beramal karena ingin meraih surga dan takut akan siksa neraka. Mereka adalah hamba Allah terbaik, lantas pantaskah mereka disebut pekerja yang jelek?!
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

    “Meminta surga dan berlindung dari siksa neraka adalah jalan hidup para Nabi Allah, utusan Allah, seluruh wali Allah, ahli surga yang terdepan (as sabiqun al muqorrobun) dan ahli surga pertengahan (ash-habul yamin).”

    Salah Paham dengan Kenikmatan di Surga dan Siksa Neraka

    Mengenai perkataan sebagian sufi,

    “Aku tidaklah beribadah pada-Mu karena menginginkan nikmat surga-Mu dan takut pada siksa neraka-Mu”, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah memberikan jawaban,

    “Perkataan ini muncul karena sangkaannya bahwa surga sekedar nama tempat yang akan diperoleh berbagai macam nikmat. Sedangkan neraka adalah nama tempat yang mana makhluk akan mendapat siksa di dalamnya. Ini termasuk mendeskreditkan dan meremehkan yang dilakukan oleh mereka-mereka karena salah paham dengan kenikmatan surga. Kenikmatan di surga adalah segala sesuatu yang dijanjikan kepada wali-wali Allah dan juga termasuk kenikmatan karena melihat Allah. Yang terakhir ini juga termasuk kenikmatan di surga. Oleh karenanya, makhluk Allah yang paling mulia selalu meminta surga pada Allah dan selalu berlindung dari siksa neraka.”

    Melihat wajah Allah di akhirat kelak, itulah kenikmatan yang paling besar dan istimewa dari kenikmatan lainnya. Dari Shuhaib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    “Jika penduduk surga memasuki surga, Allah Ta’ala pun mengatakan pada mereka, “Apakah kalian ingin sesuatu sebagai tambahan untuk kalian?” “Bukankah engkau telah membuat wajah kami menjadi berseri, telah memasukkan kami ke dalam surga dan membebaskan kami dari siksa neraka?”, tanya penduduk surga tadi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah pun membuka hijab (tirai). Maka mereka tidak pernah diberi nikmat yang begitu mereka suka dibanding dengan nikmat melihat wajah Rabb mereka ‘azza wa jalla.”

    Siksaan di neraka yang paling berat adalah karena tidak memperoleh nikmat yang besar ini yaitu melihat Allah Ta’ala. Orang-orang kafir tidak merasakan melihat wajah Allah yang merupakan nikmat terbesar yang diperoleh oleh penduduk surga. Inilah kerugian dan siksaan bagi mereka. Allah Ta’ala berfirman,

    “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar tertutup dari melihat wajah Tuhan mereka. ” (QS. Al Muthaffifin: 15).

    Imam Syafi’i berdalil dengan mafhum (makna tersirat) ayat ini,

    هذه الآية دليل على أن المؤمنين يرونه عز وجل يومئذ

    “Ayat ini adalah dalil bahwa orang-0rang beriman akan melihat Allah ‘azza wa jalla pada hari itu (hari kiamat).”

    Inilah yang membatasi kenikmatan di surga hanya dengan merasakan berbagai nikmat, seperti sungai, bidadari, buah-buahan, namun ada nikmat yang lebih daripada itu yaitu nikmat melihat Allah Ta’ala.

    Kesimpulan

    Yang namanya ikhlas adalah seseorang beramal dengan mengharap segala apa yang ada di sisi Allah, yaitu mengharap surga dengan segala kenikmatannya (baik bidadari, berbagai buah, sungai di surga, rumah di surga, dsb), termasuk pula dalam hal ini adalah ingin melihat Allah di akhirat kelak. Begitu pula yang namanya ikhlas adalah seseorang beribadah karena takut akan siksa neraka. Inilah yang namanya ikhlas.
    Jika seseorang tidak memiliki harapan untuk meraih surga dan takut akan neraka, maka semangatnya dalam beramalnya pun jadi lemah. Namun jika seseorang dalam beramal selalu ingin mengharapkan surga dan takut akan siksa neraka, maka ia pun akan semakin semangat untuk beramal dan usahanya pun akan ia maksimalkan.

    Semoga Allah senantiasa menganugerahkan kita keikhlasan dalam beramal, harapan yang kuat untuk meraih surga-Nya dan rasa takut akan siksa neraka-Nya.
    Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

  11. oy btw nama sufi itu dalilnya dari mana ya??ada yg mo bagi tahu??

  12. SAPIHITAM on said:

    sampean ini apa to kus-kus..
    ada pepatah ada kera sedang cari belalang.
    tangkap satu diselipkan diketiak dan tangkap lagi berikutnya. tak terasa belalang yang mereka tangkap hilang saat menyelipkan belalang berikutnya.

    salam kenal

  13. nanang sunarya on said:

    Kita mengharap masuk surga karena Alloh telah ridho dengan siapapun penghuni surga,kita takut neraka karena Allah murka pada siapapun penghuni neraka.Kita tidak berani membayangkan yang tidak-tidak seolah2 ada surga yang dimurkai Alloh atau neraka yang diridoi Alloh.Sampai detik ini tidak ada ayat yang menyatakan Alloh tidak ridho pada pengharap surga dan ridho pada pendosa yang tidak takut neraka.

  14. Orang sufi itu bukan seperti yg kalian maksud..

  15. waduh jangan salah kaprah memahami sufisme…. carilah referensi sirrul ikhlas.

  16. Adi Lesmana on said:

    Jadi ingat reff lagu yang dilantunkan Chrisye:
    “Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkan kau bersujud kepada-Nya.
    Jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau menyebut nama-Nya.”

    Semoga kita termasuk hamba-hamba yang dirahmati Allah SWT. Aamiin.

  17. Mohamad Effendy on said:

    kita menyimaknya hrs dgn hati dan fikiran yg JERNIH dan LUAS, kalimat/ statement tsb adalah sebuah karya seni, yg memupakan “PERUMPAMAAN/ IBARAT” dgn maksud menggabarkan suasana “KEIKHLASAN” hatinurani sang Sufi krn begitu sgt amat cintanya Kpd Allah SWT, jadi bknlah krn anti pada firman Allah SWT yg menyatakan kebenaran keberadan Dimansi Surga dan Neraka di dimensi alam Akhirat …

  18. Arif'MZ'Setiawan on said:

    Awwaluddin Ma’rifatullah (Awal Agama Mengenal Allah)…!
    Rasulullah, SAW. Selama 13 tahun 6 bulan 23 hari mengajarkan Tauhid (Mengenal Allah) dulu kepada Murid-muridnya baru mengajarkan Shalat (Mi’raj dulu baru Shalat), supaya Penyembahannya jelas arah dan tujuannya yaitu semata-mata kepada Allah. Karena kalau Menyembah selain daripada Allah maka itu adalah Syirik (Menyekutukan Allah) sebagaimana di perintahkan dlm Al-Qur’an; 20. Thaahaa: 14 {Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka Sembahlah Aku dan Laksanakanlah Shalat untuk Mengingat Aku}.
    Jadi kalau Kita mengaku Umat Rasulullah, SAW. Contohlah Beliau sebagaimana di perintahkan dlm Al-Qur’an; 33. Al-Ahzaab: 21 {Sungguh, telah ada pada (Diri) Rasulullah itu Suri Teladan yg baik bagimu (yaitu) bagi orang yg mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yg banyak Mengingat Allah}.
    Allah bukanlah nama-nama…! Setiap ada nama pasti ada yg punya nama…! Barangsiapa Menyembah nama-nama maka itu adalah Syirik sebagaimana di perintahkan dlm Al-Qur’an; 12. Yuusuf: 40 {Apa yg Kamu Sembah selain Dia, hanyalah nama-nama yg Kamu buat-buat, baik oleh Kamu sendiri maupun oleh Nenek Moyangmu. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang hal (nama-nama) itu. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar Kamu tidak Menyembah selain Dia. Itulah Agama yg lurus, tetapi kebanyakan Manusia tidak mengetahui}.
    Intinya: Saya pribadi tidak mau Menyembah Allah kalau Saya tidak mengenal Allah karena berdasarkan Al-Qur’an; Menyembah selain Allah adalah perbuatan Syirik dan perlu Kita ingat bahwa Allah selalu bersama Diri setiap Manusia cuman kebanyakan Manusia tidak mengetahuinya, sebagaimana dlm Al-Qur’an; 50. Qaaf: 16 {Dan sungguh, Kami telah menciptakan Manusia dan mengetahui apa yg dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya}.
    Firman Allah dalam Hadits Qudsi; Man ‘Arafa Nafsahu Faqad ‘Arafa Rabbahu {Barangsiapa yg mengenal akan Dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya}.
    Jadi Pahamilah Al-Qur’an dan Al-Hadits secara Hakikat…! Jangan semata-mata dimaknai secara Syariat karena bisa saja Ahli Kitab menjerumuskan Manusia kedalam perbuatan Syirik dan berada dalam kesesatan. Merasa sudah Beriman padahal sebenarnya Kafir.
    Al-Qur’an; 98. Al-Bayyinah: 1-4 {1. Orang-orang yg Kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang Musyrik tidak akan meninggalkan (Agama Mereka) sampai datang kepada Mereka bukti yg nyata, 2. (Yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yg membacakan lembaran-lembaran yg suci (Al-Qur’an), 3. Di dalamnya terdapat (isi) Kitab-kitab yg lurus (benar). 4. Dan tidaklah terpecah belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada Mereka bukti yg nyata}.
    Next…Di lain waktu…!!!

  19. jeribarond on said:

    orang yg sudah bersih hawa nafsunya tidak mengharapkan surga fisik yg slama ini terlintas di pikiran org yg mengikuti hawa nafsu….cerita surga yg di beritakan alquran seperti bidadari , sungai mengalir , makanan enak…sbenarnya itu bukan surga fisik yg selama ini dibayangkan oleh pengikut hawa nafsu…itu adalah kiasan saja …benarlah kata rabiah al adawiyah beribadah itu bukan karna mengharapkan kenikmatan fisik seperti yg dbayangkan oleh hawa nafsu…benarlah jika surga ditafsirkan sebagai kenikmata

  20. Surga itu Ridlo Allah Neraka itu Murka Allah, bila kita mencintai Allah tentu mengharapkan ridlo nya dan khawatir akan murka nya

  21. Bayurekso on said:

    Ya sependapat.tingkatan Sufi memusatkan sifat utama iklas tanpa mengharapkan apapun kecuali Allah. Melakukan perbuatan dengan harapan surga atau takut neraka sudah diluar koridor iklas.(ADA udang dibalik batu).

  22. Siti jenar on said:

    Surga neraka tempat nya dimana mas?

  23. wongcielieklo on said:

    semua benar menurut Iman , Tauhid ,Taqwa , tingkat ,. pemahaman dan kapasitas masing-masing

Comment navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: