Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Guru Mursyid”

MENG-KAJI TASAWUF TIDAK MEMBUAT ANDA BER-MAKRIFAT

Munculnya fenomena kecenderungan masyarakat kepada tasawuf merupakan hal positif dan memang dunia saat ini menuju kesana, memasuki wilayah spiritual yang selama ini ditinggalkan. Muncul aliran wahabi adalah puncak dari kekeringan Islam yang telah dimulai sejak abad ke 7 hijriah dimana orang berlomba lomba meneliti hukum (fiqih) dan melupakan spirit (tasawuf). Seluruh pasantren di Indonesia kalau kita teliti semuanya mengajarkan kitab-kitab fiqih karena memang itu diperlukan ditengah masyarakat. Munculnya pasantren atau lembaga sejenis diawalnya adalah untuk menjawab kebutuhan akan ahli hukum untuk memberikan bimbingan kepada masyarakat akan hukum-hukum Islam. Sedikit sekali pasantren yang fokus kepada tasawuf dalam arti tasawuf praktek. Pasantren suryalaya salah satu yang sejak awal berdiri bertujuan agar tarekat bisa diamalkan dengan tenang. Para Guru Mursyid di tempat lain membimbing para murid tidak melalui lembaga resmi, mereka menyebutnya Surau atau Langgar dimana disana tidak ada ikatan waktu bagi siapapun yang ingin belajar.

Baca selengkapnya…

PARTAI ALLAH

Saya sedikitpun tidak tertarik untuk membahas politik di ruangan ini, di sufimuda.net apalagi membahas partai politik. Publik di tanah air dihebohkan atas pernyataan Amin Rais tentang Partai Allah (Hizbullah) dan Partai Setan (Hizbusy Syayathin) sehingga banyak yang merasa tersinggung. Di awal tulisan ini saya menegaskan bahwa Hizbullah di dalam surat Al Maidah 56 tidak ada hubungan sama sekali dengan partai politik yang kita kenal sekarang walaupun itu sebuah partai Islam. Baca selengkapnya…

SALAH MINUM OBAT (Bag. 2)

Di pagi Jumat penuh berkah ini saya ingin melanjutkan tulisan yang pernah saya tulis setahun yang lalu tepatnya 19 Maret 2017 dengan judul Salah Minum Obat. Salah Minum Obat adalah tulisan yang membahas tentang bagaimana seorang bisa menjalankan Tasawuf dengan benar. Tasawuf bisa menjadi hanya sekedar ilmu teori, membacanya kemudian melaksanakan apa yang tertulis untuk mengubah akhlak manusia menjadi lebih baik karena inti ajaran tasawuf adalah untuk menjadikan manusia berakhlak mulia sebagaimana yang di cita-citakan oleh Nabi Muhammad SAW. Baca selengkapnya…

Setelah Shalat Subuh (10)

Nabi Muhammad SAW tidak meninggalkan harta warisan kepada ummat tetapi Beliau mewariskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman ummat Islam sampai akhir zaman. Al-Qur’an sendiri terdiri dari unsur zahir dan unsur bathin dimana untuk mengambil salah satu atau keduanya harus memiliki rumus sama seperti rumus dipakai oleh Nabi dan para Sahabat Beliau agar memperoleh hasil yang sama pula. Baca selengkapnya…

Jangan Kau Potong Besi Memakai Dzikir!

Ilmu di dunia ini bersifat universal artinya siapapun dengan sungguh-sungguh menekuni akan mencapai hasil sesuai dengan tujuan ilmu tersebut. Fakultas Kedokteran hadir untuk mencetak manusia menjadi dokter sedangkan fakultas Teknik dibuat untuk mencetak manusia menjadi seorang Insyiur, ahli teknologi. Akan keliru jika orang bercita-cita menjadi dokter masuk ke Fakultas Teknik, sesunguh apapun usahanya tidak akan membuat dia menjadi seorang dokter. Pernah suatu hari sambil guyon Guru berkata, “Jangan kau potong besi memakai dzikir!”. Baca selengkapnya…

Setelah Shalat Subuh (9)

Syariat dan hakikat tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lain. Kita tidak bisa mengambil salah satu kemudian meninggalkan yang satunya. Syariat ibarat jasad sedangkan hakikat ibarat ruh tentu keduanya harus ada dalam waktu bersamaan. Syekh Muhammad Hasyim al-Khalidi mengibaratkan hakikat seperti badan sedangkan syariat seperti pakaian. Badan tanpa pakaian menjadi telanjang sedangkan pakaian tanpa badan tidak bermanfaat sama sekali. Baca selengkapnya…

Nasehat Imam al-Ghazali

Jika sampai saat ini masih ada orang yang menolak Tasawuf dan segala praktik dzikir dalam Tarekat adalah hal yang wajar karena ilmu dalam agama tersebut berlapis atau bertingkat. Antara satu tingkat dengan tingkat lain kelihatan berbeda namun pada hakikatnya sama. Anak kelas 1 SD berhitung dengan memakai jari tangan karena jumlah hitungan masih bisa dihitung oleh tangan, cara ini tidak lagi diperlukan oleh anak SMP karena hitungan mereka sudah lebih banyak dan rumit. Cara membaca anak SD dengan suara keras dan nyaring tidak berlaku di SMP apalagi di Perguruan Tinggi tapi tujuannya sama yaitu membaca agar memperoleh ilmu. Baca selengkapnya…

Post Navigation