Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Hakikat”

Khidir dan Musa Dalam Perspektif Sufi

IMG_9488Kisah berguru Nabi Musa kepada Nabi Khidir akan menjadi pedoman dan rujukan bagi segenap manusia yang ingin menempuh jalan kepada Allah SWT lewat bimbingan seorang Guru yang paham Agama secara zahir dan bathin. Ilmu apa lagi yang harus diajarkan Khidir kepada Musa, sedangkan Musa adalah seorang utusan Allah juga, luas pengetahuannya baik tentang agama maupun tentang dunia. Musa tidak akan mungkin bisa menjadi murid Khidir selama dia masih membawa pengetahuan yang pernah dia dapat. Pengetahuan Musa baik tentang agama maupu tentang dunia menjadi penghambat baginya dalam berjalan menuju kepada Hakikat Ilmu. Baca lebih lanjut…

ANGGUR

anggur-okMenyebut nama anggur maka persepsi orang terbagi dua, kepada buah dan kepada minuman (wine). Anggur dalam persepsi kedua sering dihubungkan dengan mabuk dan menjadi tabu dikalangan ummat Islam. Anggur dalam makna minuman terkadang dijadikan simbol dikalangan sufi untuk menjelaskan hakikat Ketuhanan, hakikat Rasa dalam berTuhan. “Seribu gelas anggur tidak akan memabukkan sampai engkau meminumnya”, demikian salah satu ungkapan dikalangan sufi. Baca lebih lanjut…

Belajar Terakat Harus Umur 40 Tahun?

sujud1Saya membaca ulang tulisan berjudul Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat adalah SATU yang saya tulis 25 April 2013 dan ingin melanjutkan pembahasan tentang isi tulisan tersebut karena ini merupakan hal yang pokok di dalam kita menjalankan agama.

Sebagian kita pernah mendengar nasehat tentang kehati-hatian di dalam melaksanakan tarekat dan hal-hal yang berhubungan dengan mistisme Islam. Sebagian memberikan nasehat agar kita mencukupkan umur dulu sampai 40 tahun baru kemudian menekuni tarekat agar lebih serius dalam menjalankannya sementara ada yang berpendapat seseorang harus sempurna terlebih dahulu syariatnya baru kemudian dia menekuni tarekat agar dalam melaksanakan amalan tarekat tidak menyimpang dari ajaran Agama. Baca lebih lanjut…

…Ibarat Bawang…

bawangTulisan Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat itu Satu yang pernah saya posting disini dan saya masukkan sebagai salah satu dari 40 tulisan terbaik di buku “Perjalanan Sufimuda Menemukan Tuhan Dalam Keseharian” kiranya bisa menjawab pertanyan-pertanyaan tentang perlu atau tidaknya seorang yang telah mencapai makrifat melaksanakan syariat atau sebaliknya perlu atau  tidaknya seorang yang telah paham tentang syariat melaksanakan tingkatan selanjutanya yaitu tarekat. Ke-empat unsur tersebut sebenarnya tidak bisa dipisahkan sama sekali, ibarat bawang dengan kulit bawang.

Baca lebih lanjut…

Memahami Hakikat Tuhan Lewat Kelapa

air kelapaSebenarnya tidak ada bahasa yang bisa mengungkapkan misteri tentang Tuhan dan tidak ada pula pembahasan yang bisa dengan sempurna menggambarkan hakikat Tuhan. Tuhan, dalam sepanjang sejarah peradaban manusia akan menjadi misteri dan akan terus misteri kalau proses pencariannya hanya dengan menggunakan ilmu akal semata. Untuk memudahkan manusia memahami hakikat Tuhan, maka di dalam kitab suci Tuhan memberikan perumpamaan-perumpamaan agar manusia lebih akrab mengenal-Nya.

Baca lebih lanjut…

Pentingnya Ilmu Tarekat

Dalam tulisan Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat itu SATU telah saya uraikan tentang begitu pentingnya ilmu Tarekat sebagai metodologi pelaksanaan teknis dari syariat, aturan-aturan baku yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Sejak kecil kita semua sudah mengetahui bagaimana cara shalat, jumlah raka’at dan bacaan yang wajib serta sunnat dibaca, dari sejak kecil sampai dewasa kita telah mahir melaksanakannya, lalu dimana bedanya?
Baca lebih lanjut…

Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat itu SATU

Saya seringkali dapat pertanyaan lewat email tentang hubungan antara syariat dan hakikat. Pada kesempatan ini saya ingin sedikit membahas hubungan yang sangat erat antara keduanya. Syariat bisa diibaratkan sebagai jasmani/badan tempat ruh berada sementara hakikat ibarat ruh yang menggerakkan badan, keduanya sangat berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan. Badan memerlukan ruh untuk hidup sementara ruh memerlukan badan agar memiliki wadah.

Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi guru Mursyid dari Ayahanda Prof. Dr. Saidi Syekh Kadirun Yahya MA. M.Sc mengibaratkan syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan. Dalam beberapa pantun yang Beliau ciptakan tersirat pesan-pesan tentang pentingnya merawat tubuh sebagai perhatian utama sedangkan merawat baju juga tidak boleh dilupakan.
Baca lebih lanjut…

Post Navigation