Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the tag “Hakikat”

BIARLAH ENGKAU TAHU SENDIRI

Hadist sampaikanlah dakwah walau satu ayat tentu anjuran ini berhubungan dengan ilmu zahir (syariat) sedangkan di lain kesempatan Nabi menasehati kita untuk hati-hati dalam menyampaikan ilmu-ilmu khusus, “Sampaikanlah menurut kadar si penerima”. Islam itu berlapis dan tentu saja ilmu tentang Islam itu juga berlapis baik yang zahir maupun yang batin.

Baca selengkapnya…

HIJRAH

Saat ini kita telah memasuki tahun baru 1440 hijriah, artinya lebih kurang sudah begitu lama Nabi Muhammad SAW meninggalkan kita secara jasmani dan Islam juga telah melewati rentang waktu yang lama pula. Kebanyakan orang Islam di 1 Muharam memperingati tahun baru dengan mengenang peristiwa hijrah Nabi, anak-anak melaksanakan karnaval, berjalan dalam jarak tertentu agar mereka ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Nabi 14 Abad yang lampau. Akan tetapi kita juga tahu bahwa Nabi berhijrah dari Mekkah ke Madinah bukanlah di bulan Muharam, tapi di bulan Rabiul Awal tepatnya tanggal 2 Rabiul Awal dan sepuluh hari kemudian tanggal 12 Rabiul Awal, Beliau bersama dengan Abu Bakar Shiddiq tiba di kota madinah. Peristiwa itu juga bertepatan dengan 16 September 622 M. Jadi kalau memakai perhitungan kalender Masehi maka Nabi Hijrah di bulan September, persis bulan yang sedang kita jalani saat ini. Baca selengkapnya…

Setelah Shalat Subuh (9)

Syariat dan hakikat tidak dapat dipisahkan antara satu dengan lain. Kita tidak bisa mengambil salah satu kemudian meninggalkan yang satunya. Syariat ibarat jasad sedangkan hakikat ibarat ruh tentu keduanya harus ada dalam waktu bersamaan. Syekh Muhammad Hasyim al-Khalidi mengibaratkan hakikat seperti badan sedangkan syariat seperti pakaian. Badan tanpa pakaian menjadi telanjang sedangkan pakaian tanpa badan tidak bermanfaat sama sekali. Baca selengkapnya…

Setelah Shalat Subuh (8)

Hakikat dengan ilmu hakikat adalah dua hal berbeda, yang satu berhubungan dengan “rasa” dan Maqam (kedudukan rohani) sedangkan satu lagi berupa pelajaran. Pengalaman tokoh sufi ditulis dalam banyak kitab di dunia ini tidak akan bisa mewakili hakikat yang sesungguhnya, itu hanyalah ilmu memudahkan orang untuk mengenal hakikat. Sama hal nya ilmu tentang masakan tidak akan membuat lidah kita merasakan nikmatnya makanan sampai kita memakannya.

Baca selengkapnya…

Khidir dan Musa Dalam Perspektif Sufi

IMG_9488Kisah berguru Nabi Musa kepada Nabi Khidir akan menjadi pedoman dan rujukan bagi segenap manusia yang ingin menempuh jalan kepada Allah SWT lewat bimbingan seorang Guru yang paham Agama secara zahir dan bathin. Ilmu apa lagi yang harus diajarkan Khidir kepada Musa, sedangkan Musa adalah seorang utusan Allah juga, luas pengetahuannya baik tentang agama maupun tentang dunia. Musa tidak akan mungkin bisa menjadi murid Khidir selama dia masih membawa pengetahuan yang pernah dia dapat. Pengetahuan Musa baik tentang agama maupu tentang dunia menjadi penghambat baginya dalam berjalan menuju kepada Hakikat Ilmu. Baca selengkapnya…

ANGGUR

anggur-okMenyebut nama anggur maka persepsi orang terbagi dua, kepada buah dan kepada minuman (wine). Anggur dalam persepsi kedua sering dihubungkan dengan mabuk dan menjadi tabu dikalangan ummat Islam. Anggur dalam makna minuman terkadang dijadikan simbol dikalangan sufi untuk menjelaskan hakikat Ketuhanan, hakikat Rasa dalam berTuhan. “Seribu gelas anggur tidak akan memabukkan sampai engkau meminumnya”, demikian salah satu ungkapan dikalangan sufi. Baca selengkapnya…

Belajar Terakat Harus Umur 40 Tahun?

sujud1Saya membaca ulang tulisan berjudul Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat adalah SATU yang saya tulis 25 April 2013 dan ingin melanjutkan pembahasan tentang isi tulisan tersebut karena ini merupakan hal yang pokok di dalam kita menjalankan agama.

Sebagian kita pernah mendengar nasehat tentang kehati-hatian di dalam melaksanakan tarekat dan hal-hal yang berhubungan dengan mistisme Islam. Sebagian memberikan nasehat agar kita mencukupkan umur dulu sampai 40 tahun baru kemudian menekuni tarekat agar lebih serius dalam menjalankannya sementara ada yang berpendapat seseorang harus sempurna terlebih dahulu syariatnya baru kemudian dia menekuni tarekat agar dalam melaksanakan amalan tarekat tidak menyimpang dari ajaran Agama. Baca selengkapnya…

Post Navigation