Pendapat Imam Al Ghazali Tentang Pentingnya Mursyid
Bergabung dengan kalangan sufi adalah fardhu ‘ain. Sebab tidak seorangpun terbebas dari aib dan kesalahan kecuali para Nabi. (Imam Al-Ghazali)
Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’I dikenal dengan nama Imam al Ghazali lahir tahun 450 H/1058 M di propinsi Khurasan Irak. Beliau mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah sehingga digelar sebagai hujjatul Islam. Diantara banyak karya tasawuf yang beliau karang yang sangat terkenal sampai sekarang adalah Ihya Ulumuddin (Kebangkitan ilmu-ilmu Agama).
Imam al Gahazali pada mulanya bukanlah pengamal tasawuf bahkan beliau tidak begitu mempercayai penomena-penomena kekeramatan yang di alami oleh orang-orang shaleh sampai Allah memberikan petunjuk kepada beliau sebagai mana yang beliau ceritakan berikut yang kami kutip dari buku Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf :
Pada awalnya aku adalah orang mengingkari kondisi spiritual orang-orang shaleh dan derajat-derajat yang dicapai oleh para ahli makrifat. Hal ini terus berlanjut sampai akhirnya aku bergaul dengan Mursyid-ku, Yusuf an Nasaj. Dia terus mendorongku untuk melakukan mujahadah, hingga akhirnya aku memperoleh karunia-karunia ilahiyah. Aku dapat melihat Allah dalam mimpi. Dia berkata kepadaku, “wahai Abu Hamid, tinggalkanlah segala kesibukanmu. Bergaullah dengan orang-orang yang telah Aku jadikan tempat untuk pandangan-Ku di bumi-Ku. Mereka adalah orang-orang yang menggadaikan dunia dan akhirat karena mencintai Aku.” Aku berkata, “Demi kemulyaan-Mu, aku tidak akan melakukannya kecuali Engkau membuatku dapat merasakan sejuknya berbaik sangka kepada mereka.” Allah berfirman, “Sungguh Aku telah melakukannya. Yang memutuskan hubungan antara engkau dan mereka adalah kesibukanmu mencintai dunia. Maka keluarlah dari kesibukanmu mencintai dunia dengan suka rela sebelum engkau keluar dari dunia dengan penuh kehinaan. Aku telah melimpahkan kepadamu cahaya-cahaya dari sisi-Ku Yang Maha Suci.” Aku bangun dengan penuh gembira. Lalu aku mendatangi Syekh-ku, Yusuf an Nasaj, dan menceritakan tentang mimpiku itu. Dia tersenyum sambil berkata, “Wahai Abu Hamid, itu hanyalah lembaran-lembaran yang pernah kami peroleh di fase awal perjalanan kami. Jika engkau tetap bergaul denganku, maka matahati mu akan semakin tajam.”
Pengalaman Imam Al Ghazali berjumpa dengan Allah dalam mimpi atas bimbingan Guru Mursyidnya menyebabkan beliau sangat yakin dengan ilmu tasawuf yang selama ini tidak menjadi perhatiannya. Pengalaman yang tidak pernah Beliau alami sebelumnya walaupun telah hapal Al Qur’an, ribuan hadist dan berbagai karya ulama-ulama besar. Dan dari keterangan Guru Mursyid beliau ternyata perjumpaa dengan Allah dalam mimpi yang dialami oleh Imam Al Ghazali itu hanyalah fase awal dari perjalanan rohani. Tentu saja pengalaman-pengalaman spiritual yang dialami oleh Imam al Ghazali bisa juga dialami oleh orang lain asal memenuhi rukun dan syaratnya.
Imam al Ghazali berpendapat bahwa sangat penting bagi seseorang yang menempuh perjalan rohani mempunyai seorang Guru Mursyid yang membimbing agar tidak tersesat sebagaimana yang beliau kemukakan :
“Di antara hal yang wajib bagi para salik yang menempuh jalan kebenaran adalah bahwa dia haru mempunyai seorang Mursyid dan pendidikan spiritual yang dapat memberinya petunjuk dalam perjalanannya, serta melenyapkan akhlak yang tercela. Yang dimaksud pendidikan di sini, hendaknya seorang pendidik spiritual menjadi seperti petani yang merawat tanamannya. Setiap kali melihat batu atau tumbuhan yang membahayakan tanamannya, maka dia langsung mencabut dan membuangnya. Dia juga selalu menyirami tanamannya agar dapat tumbuh dengan baik dan terawat, sehingga menjadi lebih baik dari tanaman lainnya. Apabila engkau telah mengetahui bahwa tanaman membutuhkan perawat, maka engkau akan mengetahui bahwa seorang salik harus mempunyai seorang mursyid. Sebab Allah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk membimbing mereka ke jalan lurus. Dan sebelum Rasulullah SAW`wafat, Beliau telah menetapkan para Khalifah sebagai wakil Beliau untuk menunjukkan manusia ke jalan Allah. Begitulah seterusnya, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, seorang salik mutlak membutuhkan seorang Mursyid.”
Menurut Imam al Gahazali, pada umumnya manusia tidak bisa melihat penyakit-penyakit jiwa mereka sendiri kecuali orang-orang yang telah terbuka hijabnya dan telah tercerahkan lewat bimbingan Mursyid. Seseorang hanya dapat melihat korotan saudaranya tapi dia tidak bisa melihat kotorannya sendiri. Seorang Mursyid atas karunia Allah mengetahui penyakit-penyakit hati manusia. Oleh karenanya kata Imam Al Ghazali apabila menusia ingin mengetahui penyakit-penyakit jiwanya hendaknya dia duduk dihadapan Mursyid yang mengetahui penyakit-penyakit jiwa dan menyingkap aib-aib yang tersembunyi. Dia harus mengendalikan hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk Mursyidnya itu dalam melakukan mujahadah. Inilah sikap seorang murid terhadap mursyidnya atau sikap seorang pelajar terhadap gurunya. Dengan demikian, Mursyid atau gurunya akan dapat mengenalkannya tentang penyakit penyakit yang ada dalam jiwanya dan cara mengobatinya.
Zaman sekarang orang menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu-ilmu yang tidak berhubungan dengan dirinya sendiri dan melupakan tentang ilmu mengenal diri. Tasawuf adalah ilmu untuk penyucian hati dan ilmu untuk mengenal diri agar bisa mengenal Tuhan. Tasawuf bukan sekedar ilmu yang dibaca dan dihapal lalu dipraktekkan menurut selera masing-masing. Tasawuf pada intinya adalah ilmu kerohanian yang membutuhkan seorang Master yang ahli untuk membimbing manusia kepada Tuhan. Dialah Mursyid yang bukan hanya mengatakan bahwa Allah itu Esa dengan segala sifat-sifat-Nya tapi juga bisa mengantarkan muridnya langsung bertemu dengan Allah sebagaimana pengalaman Imam Al Ghazali diantarkan kehadirat Allah oleh Guru Mursyidnya.
Saya selalu bersyukur kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya yang tidak terhingga dengan diperkenalkan saya dengan salah seorang Auliya-Nya. Beliau lah yang membimbing saya kehadirat Allah SWT menemukan cahaya dalam kegelapan hati. Tanpa Mursyid, sungguh saya hanyalah seorang hamba baca yang merasa tahu tanpa bisa merasakan apa-apa.
Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim akan selalu mengekalkan kita dalam karunia-Nya bersama dengan kekasih-Nya di muka bumi, memberikan kesempatan untuk terus menyaksikan keindahan wajah-Nya, mengizinkan kita untuk terus mendengar firman-Nya yang Maha Menggetarkan. Semoga!
208 Comments
Orong Orong njebluk
maklum kang lanang uteku lagi njebluk ya kayak gini ……..
gak njebluk aja kayak gitu apa lagi njebluk ya…..
dasar njebluk, ngalor ngidul yo njebluk.
Insyaallah Masuk surga n neraka itu bekan tujuan pengembaraan ku….(hi…hi…)
serius amat
Semua itu kan tergantung niat
Kalo niatnya mangawulo (Pengapdian) ya terserah TUANNYA mau dimasukkan surga atau neraka
kenapa harus mempertanyakan
Surga dan neraka kan juga ciptaannya…
Jikalau masuk surga (itu saya anggap rahmat atau bonus dari sang pencipta)
Kalo masuk neraka (karena kasih sayangnya Sang Pencipta )
mungkin hati ini masih kotor,perlu dibersihin lagi di neraka
Bukan kah akhir tujuan kita ini kembali ke sang pencipta (Inalillahi wainailaihirajiun)
kenapa harus berpaling ke yang lain…
Alhamdulillah disini saya menemukan banyak guru (SM,Ajak2,10,dan semuannya)
Mohon do’a nya Njebluk bisa istiqomah didalam pengapdiannya dan mohon pencerahannya jikalau njebluk ini salah pengertian atau salah jalan.
tolong
buat kang njebluk..(duh melase..)
setuju kang..
bagi saya,
surga itu rahmat, neraka itu juga rahmat..
maksud saya begini, misalkan kita sudah menjalankan apa kehendaknya dan menjauhi semua larangannya dengan hati penuh ikhlas menurut aturan dari-Nya. toh, akhirnya kita masuk ke neraka menurut kehendaknya. Jadi terima saja, karena semua yang di anugrahkan tuhan kepada kita adalah yang terbaik menurutNya. seng penting RidhoNya..
menurut saya adalah sesat taqwa terhadap tuhan karena ingin masuk sorganya.
Lambang
Ass Wr Wb Mas Sufi Muda,
Kembali ke
laptopjudul dan isi postingan, supaya comments tidak terkesan nggladrah.Mohon penjelasan lanjutan, dengan mengacu pada kalimat "tidak seorangpun terbebas dari aib dan kesalahan kecuali para Nabi", apakah Guru Mursyid itu termasuk "tidak seorangpun" atau termasuk "Nabi"?
Terima kasih sebelumnya atas penjelasannya.
Salam.
Lambang
Ass Wr Wb Mas Sufi Muda,
Kembali ke judul dan isi postingan, supaya comments tidak terkesan nggladrah.
Mohon penjelasan lanjutan, dengan mengacu pada kalimat “tidak seorangpun terbebas dari aib dan kesalahan kecuali para Nabi”, apakah Guru Mursyid itu termasuk “tidak seorangpun” atau termasuk “Nabi“?
Terima kasih sebelumnya atas penjelasan Mas Sufi Muda.
Salam.
adinata
waaahh,, kang Njebluk, maafin saya ya.
Mungkin ada kata2 saya yang terlalu keras atau kasar, meskipun sejauh ini setelah saya baca2 lagi koment saya biasa2 aja (mungkin kalo dibaca org lain baru kerasa salahnya).
Tapi toloooong,, jangan bilang saya guru dooooonk,, , pliiiisss
Kita jadi temen diskusi dan curhat aja. Guru nya biarlah Mursyid kita masing2 aja. Toh kata2 saya masih banyak bgt yg salah, yg tidak sesuai dgn yg dimaksud dan sejuta satu kekurangan2 lain.
Jauuuuuh deh dari kata2 seorang guru.
Meskipun saya bercerita tentang cerita guru, banyak yang
adinata
waaahh,, kang Njebluk, maafin saya ya.
Mungkin ada kata2 saya yang terlalu keras atau kasar, meskipun sejauh ini setelah saya baca2 lagi koment saya biasa2 aja (mungkin kalo dibaca org lain baru kerasa salahnya).
Tapi toloooong,, jangan bilang saya guru dooooonk,, , pliiiisss
Kita jadi temen diskusi dan curhat aja. Guru nya biarlah Mursyid kita masing2 aja. Toh kata2 saya masih banyak bgt yg salah, yg tidak sesuai dgn yg dimaksud dan sejuta satu kekurangan2 lain.
Jauuuuuh deh dari kata2 seorang guru.
syaipullah
kok pro syiah di blog ini???
ken
he he he nyang penting semua masih dalam koridor menjaga adab/akhlak baik pada diri sendiri manusia lain pada alam terutama pada Allah SWT masih bisa kok dipertimbangkan he he he
salam damai buat saudara saudara semua
hyperdrive
@syaipullah
bukan, mas. Ini blog ahlussunnnah wal jamaah.. tukang komennya yang bukan ahlussunnnah wal jamaah trus berusaha mengacaukan..
lagian, mas, soal aqidah bukan masalah pro atau kontra, tapi aqidahnya apa? golongan yang mana?
begitu menurut saya, mas.
@ken
ya ga lah…
Ini blog ahlussunnnah wal jamaah..
semua yang bukan ahlussunnah wal jamaah dengan hasad dengkinya berusaha ingin merusak blog ini…
ken
@hyperdrive
klo punya adab/akhlak kan gak mungkin ngerusak blog ini bukan begitu mas ?????
Nabi kita dipuji Allah karena akhlaknya bukan begitu mas
begitu juga semua mursyid pasti mempunyai akhlak yang baik
salam damai selalu
sufi
ini ga ada hubungannya sih…
untuk obat hati saja….
[b]Berkat Tawakal Si Anak Kecil[/b]
Zunnun Al Mishri, seorang ahli sufi terkenal, pergi menjala ikan di laut bersama-sama anak gadisnya yang masih kecil. Setelah bersusah payah menebarkan jala beberapa lama, akhirnya beliau berjaya menangkap seekor ikan. Anak gadisnya melihat mulut ikan itu bergerak-gerak seperti sedang berzikir, lalu dia mengambil ikan itu dan mencampakkannya ke laut semula.
Zunnun terkejut dan heran. “Mengapa kau membuang rezeki yang kita perolehi?” tanyanya.
Anak itu menjawab: “Saya tidak rela makan makhluk yang berzikir kepada Allah. Ayah, marilah kita bertawakal kepada Allah semoga Dia merezekikan kita benda yang tidak berzikir kepada-Nya.”
Kedua-duanya pun balik dengan tangan kosong. Setelah petang mereka belum juga mendapat sesuatu untuk dimakan sedangkan perut sudah mulai lapar. Apabila malam, tiba-tiba turunlah hidangan dari langit yang terdiri daripada berbagai jenis makanan. Maka makanlah keduanya dari rezeki itu. Keadaan itu berlangsung sampai lebih kurang 12 tahun.
Zunnun menyangka bahawa kurnia dari Allah itu adalah disebabkan dirinya yang banyak beribadah dan berdoa kepada Allah. Sehinggalah suatu hari anak perempuannya itu meninggal dunia. Ternyata hidangan dari langit tidak turun lagi berikutan kematian anaknya itu. Barulah Zunnun sedar bahawa kurnia Allah itu disebabkan ketinggian tawakal anak perempuannya yang sudah mati itu.
kur
Apa Sufi ini ajarannya yang diajarkan oleh para rasul ????
Rasul hanya membawa kabar gembira (Surga) dan Ancaman (neraka) dan hanya beribadah kepada Allah Semata.
BAGAIMANA BILA MURSYID MELAKUKAN KESALAHAN…. SIAPA YANG MENEGUR ????
Gampangnya Bos…Bos…Bos Mursyid atau atasan paling tinggi Mursyid deh… Apakah dia terbebas dari dosa & tidak pernah melakukan dosa?????
Berkaca donk mas, manusia itu tak lepas dari salah dan dosa…ok????
10
BISMILLAHIRROCHMANIRROCHIM
@ kur
saya jawab gampang2an juga bos kalo anda jadi kepala keluarga/seorang suami siapa yang menegur anda ketika anda berbuat kesalahan di keluarga kecil anda?
jawabanya ada 3?
a. ditegur anak anda(di tegur teman sesama kyai)
b.di tegur istri anda( hati nurani kyai itu sendirii)
c.di tegur mertua/orang tua anda(di tegur oleh alloh)
gw
@kur
Anak SD bilang:
BODOH, MANA BISA LIMA DIKURANG TUJUH!!
DASAR BEGO !!
Anak SMP:
BISA, BEGO!!
ELO YANG BLOM BLAJAR!!!
Anak SMA:
YA BISALAH, DEK. MASA YA BISA DONK.
SINI ABANG AJARIN.
Anak SD lagi:
OGAH !! MANA MAU DIAJAR SAMA ORANG BEGO!!
Orang Tua:
(geleng-geleng kepala sambil mikir: “Gimana lagi cara mendidik anak-anakku ini?”)
Gua (ambil sikap anak SMP):
DASAR BEGO LOE!!
GA TAU, MALAH SOK NGASIH TAU!!
OTAK LOE DAH PINTER YA?
Kang Klipper
Hmmmm, kayanya ngga ada yang bisa di klipping nih.
Highly stressed environment …..
(*** kabur…….***)
Ujang
Kang Klipper…………. you have been error landing…………. this environment not (condusive) for you………. not for the clippers ….maybe you not understand about…………….
very sorry…………
gw
permohonan maaf saya kepada bang Sufi Muda atas komen-komen saya yang sangat tidak sopan kepada para wahabiers and salafiers di blognya bang Sufi Muda.
Mereka semua merusak irama blog ini. Mereka perusak agama. Padahal menurut saya blog ini lebih ditujukan kepada orang-orang yang belum tahu (awam) agar mereka tidak ikut jalan wahabiers dan salafiers.
Para salafiers dan wahabiers yang bilang tasauf tidak ada dalam ajaran ISLAM. Mereka rusak dan merusakkan. Namun saya pun ikut rusak (begitu marah pada mereka) karenanya.
Saya merasa bersalah dan mohon maaf yang sebesar-besarnya….
Mohon dimaafkan lahir dan bathin….
Wassalam
SufiMuda
@Lambang
Seorang Anak Manusia ketika belum menduduki Maqam Nabi/Wali maka termasuk dalam “Tidak seorangpun”. Karena dia masih orang biasa.
Hal tersebut tidak berlaku laku setelah dia menduduki Maqam Nabi/Wali
SufiMuda
@GW
Terkadang dakwah itu dengan jalan lembut, tapi mungkin tidak akan berlaku untuk yang telah “tertutup hatinya”.
Kadangkala perlu sedikit keras agar mereka tersadarkan….
sufi gila
salam cinta dan damai saudaraku di manapun berada
setiap diskusi haruslah merujuk pada kesepakatan kesepakatan yg berurutan … masalah yg menjadi diskusi ini semakin tidak kondusif adalah belum adanya kesepakatan tentang asal muasal segala kejadian yaitu tentang Allah sendiri
Allah adalah Tuhan yg Maha Esa Kuasa Berencana Tahu dll sebagainya … itu harus kita sepakati dulu …. adakah yg tidak sepakat ??????
maka termaktublah sebuah ayat mengatakan bahwa setiap daun yg jatuh adalah dalam pengetahuan Allah atau dalam rencana Allah apalagi gerak hati pikiran dan akal kita …. maka seharusnya kita sepakat bahwa apa yg akan kita lakukan satu detik ke depan bahkan 10 tahun ke depan bahkan kondisi akhir hayat kita maka Allah juga telah menggariskan dalam rencanaNya … dan sungguh tiada kuasa kita untuk memilih karena sebenarnya pilihan itu tidak ada cuma hasil rekayasa otak kita dan yg ada hanyalah rencana Allah
contoh : di detik 1 menurut otak, kita mempunyai pilihan A, B, C, D, E … tapi apakah Allah tidak mengetahui apa yg kita pilih ? semisal ternyata di detik 2 pilihan yg kita ambil adalah D …. sungguh Allah sangat mengetahui bahwa D adalah yg kita ambil karena kita telah sepakat bahwa ALLAH MAHA BERENCANA MAHA KUASA MAHA TAHU … maka sesungguhnya A B C dan E adalah tidak ada cuma semu/ilusi otak kita hehehehe
maka untuk mencapai sebuah pemahaman tersebut maka Allah akan merencanakan model pendidikan bagi tiap2 pribadi …. dengan fase dan tahapan yg terstruktur seperti yg telah diungkapkan oleh yg telah menjalani tahapan tersebut di atas yg kita sebut para Mursyid… masalah kapan kita akan diperjalankan oleh Allah itu hanyalah rahasia Allah …. karena Allah tahu kapan waktu yg terbaik untuk memperjalankan setiap pribadi melewati tiap tiap tahapan atau station atau kondisi atau MAQOM ….
maka tugas mereka yg diutus Allah adalah menceritakan tahapan2 tersebut sebagai dasar ilmu bagi yg akan menjalani tahapan2 tersebut … memang sangat rumit rencana Allah … kalau nggak rumit bukan Tuhan namanya hehehehe
dan yang perlu diingat adalah otak hanya mampu menjelaskan dalam batas kita lahir hingga mati … Qolbu akan menjelaskan yang awal sampai akhir rencana Allah …. Meditasi / Semedi / Perenungan / Dzikr dalam pembimbingan Jibril atau utusan Allah itulah tahapan awalnya
panjaaaaaaaaaaang kalau mau dijelasin heheheheheheeh … nggak cukup kayu sebagai penanya dan lautan sebagai dawatnya untuk menjelaskan seluruhnya ….. yg penting awalnya harus bener dulu ….. ingat Allah yg merencanakan hidup kita bukan otak kita akal kita ataupun kekuatan kita
Lambang
@sufi gila:
Misal ada 2 profesor yang memiliki kemampuan menciptakan boneka-boneka hidup.
Profesor A bisa menciptakan boneka-boneka hidup. Setiap apapun yang dilakukan oleh bonekanya, digerakkan langsung oleh prof A ini. Sejak bernafas, berjalan, kesandung, kebentur, makan, minum, keselek, dll. Prof A berperan sebagai penggerak setiap detik kehidupan. Termasuk menggerakkan jantung, paru-paru dan semua organ tubuh boneka. Dia sangat sibuk menggerakkan jutaan bahkan milyaran sel kehidupan. Kalau ada boneka yang mohon dengan khusyuk, prof A ini akan me-review dan mengabulkan atau menolak permohonan sang boneka tersebut.
Profesor B sama, bisa menciptakan boneka-boneka hidup juga. Tetapi dia tidak mengontrol langsung semua ciptaannya. Dia hanya memberikan hukum alam, hukum sebab-akibat, dan hukum-hukum ini yang mengontol kehidupan semua bonekanya. Pernafasan, jantung dan organ tubuh lainnya bergerak sesuai dengan hukum alam tadi (tepatnya hukum biologis). Prof B hanya bertindak sebagai supervisor saja. Semua kehidupan berjalan sesuai dengan hukum ciptaannya. Kecuali jika para boneka ada yang memohon dengan khusyuk, maka hukum alam dan hukum sebab-akibat bisa disesuaikan dengan keinginan boneka tersebut, atau ditunda jika tidak memungkinkan.
Pertanyaannya :
1. Kira-kira lebih pandai profesor yang mana dalam hal planning and design?
2. Kira-kira lebih pandai profesor yang mana dalam hal improvisasi kehidupan?
3. Kira-kira teknologi yang dilakukan oleh profesor yang mana yang jauh lebih rumit dan super kompleks?
4. Selanjutnya, kira-kira Tuhan dapat dianalogikan dengan profesor yang mana? Maaf, sekali lagi ini hanya analogi, dalam rangka pembelajaran dan pemahaman.
Salam.
sufi gila
salam cinta dan damai
@lambang
Allah adalah dzat yg dapat dianalogikan dengan segala hal tetapi dengan syarat dimensi dari analogi tersebut adalah dapat diubah menjadi tak berhingga …. Dia lah yg merupakan unlimited dimension …. maka akan terlalu sederhana bila kita andaikan dengan profesor yg hanya mampu berbuat dengan sangat sederhana … tapi apabila kita memakai analogi cahaya/energi maka akan jauh lebih mengena … Dia lah yg meliputi segala sesuatu … kita dan semua mahluk adalah partikel Nya …. dan bahwa kita adalah di dalam keberadaan Nya … sedangkan analogi yg saudaraku berikan tidak mampu menjangkau keberadaan Allah karena antara sang profesor dengan bonekanya adalah terpisah secara dzat … sedangkan Allah meliputi segala sesuatu termasuk dzatNya meliputi dzat kita
akan lebih mengena apabila kita analogikan bahwa sebenarnya setiap sesuatu adalah bentuk energi yg berasal dari suatu energi murni atau awal energi yg tak berhingga ….. Dia lah Allah, maka setiap sesuatu adalah merupakan peluruhan energi yg berubah dari satu bentuk energi ke bentuk energi lain yg mengikuti hukum energi yaitu energi tidak bisa musnah hanya berubah bentuk …. dan kita adalah secuil energi yg mengejawantah dalam bentuk manusia …..
dalam hukum logika bila ada dua pernyataan saling menegasikan maka pernyataan tersebut adalah SALAH … dan bahwasanya pernyataan saudara telah menganulir atau menegasi pernyataan bahwa Tuhan adalah satu2nya pemilik rencana yg MAHA atau dimensinya tak berhingga dengan mengatakan bahwa ciptaanNya berkehendak atas dirinya …
Tuhan adalah Maha Segalanya (pernyatan 1) dan Tuhan menciptakan mahluk yg merdeka dari kehendak Tuhan (pernyataan 2)…. pernyataan 1 BENAR dan pernyataan 2 berlawanan atau SALAH maka hasilnya SALAH … Jadi saya tidak akan menjawab pertanyaan yg SALAH
semoga bisa menjawab
Lambang
@sufi gila:
Terima kasih atas jawabannya.
Mengenai “pernyataan 2” dianggap SALAH, untuk sementara boleh dianggap demikian.
Sekarang mari kita masuk ke bahasan selanjutnya.
Quote: “Dia lah yg meliputi segala sesuatu … dst s/d termasuk dzatNya meliputi dzat kita.”
Kalimat ini menegaskan bahwa kita adalah bagian dari Allah. Lebih global lagi, segala sesuatu adalah bagian dari Allah. Termasuk setan, jin dan malaikat.
Setan bagian dari Allah? Benarkah demikian? Jawaban ya atau tidak terhadap pertanyaan ini, akan menimbulkan kontradiksi yang berkepanjangan.
Jika ya, berarti ada sifat ketidak sempurnaan dalam dzat Allah.
Jika tidak, berarti ada dzat lain diluar dzat Allah.
Seandainya kita adalah bagian dari Allah, lalu kenapa Allah menghargai (pahala) atau menghukum (dosa) bagian dari dzat-Nya. Allah menghukum bagian dari dirinya sendiri. Benarkah kita tidak mempunyai kehendak bebas sama sekali? Semua sudah diatur dari zaman azali? Seseorang masuk surga atau neraka sudah ditentukan dari awal sebelum lahir? Bukankan ini justru akan melecehkan Allah dan menganggap-Nya sebagai “Tuhan yang Semau Gua”.
Kembali ke masalah penciptaan (dengan analogi professor tadi).
Apakah Bapak pernah mendengar ciptaan Allah yang tidak sempurna? Misalnya ubi singkong yang tumbuh kerdil? Atau kambing yang hanya berkaki dua? Atau bayi kembar siam dengan kepala tunggal?
Allah-kah yang menciptakan ini secara langsung atau semua ini terjadi karena adanya pengaruh alam (evolusi) dari nenek moyang dan lingkungannya? Hukum alam. Hukum sebab-akibat. Teori kekekalan enerji Newton.
Jika jawabannya ya, berarti Allah tidak selamanya mencipta dengan sempurna. Dia juga menciptakan sesuatu yang buruk. Menciptakan manusia yang cacat, yang mengalami kesalahan genetika. Menciptakan sesuatu yang mengalami kegagalan. Padahal Allah adalah Maha Sempurna dan tidak pernah gagal.
Jadi, pertanyaannya sekarang, apakah “pernyataan 2” masih dianggap SALAH?
Semoga bapak sufi gila berkenan menjawabnya.
Salam.
Wedok
@LAMBANG
seandainya ada hukum alam……………………
siapa yang menciptakan alam ya….?
Terus profesor A dan Profesor B siapa yang membuat ya…?
sufi gila
salam cinta dan damai saudaraku
kesempurnaan adalah bahasa lain dari keseimbangan atau equilibrium …. kalau kita jadikan Allah sebagai lambang kebaikan maka sesungguhnya kita telah membuat dualisme Tuhan …. Kerajaan Allah adalah meliputi segalanya baik kerajaan Iblis/Jabarrut ataupun Kerajaan Jibril/Malakut … Iblis adalah lambang negatif dan Jibril adalah lambang positif …. Maka Allah yg meliputinya sehingga terjadi keseimbangan di alam ini bahasa umat Buddha adalah Yin dan Yang … bahasa ilmiahnya Allah adalah mencakup “-Tak Berhingga” serta “+Tak Berhingga” dan segala hal adalah Dia ….
dalam sebuah pembahasan janganlah kita campur adukkan antara pemahaman awam dengan pemahaman tingkat lanjut … bila saudaraku masih memikirkan tentang pahala serta dosa padahal itu hanyalah pengertian awal yg disampaikan untuk manusia awam …..bagi yg telah paham tentang Tuhan maka baginya sudah tiada lagi bahasa seperti itu … karena baginya prinsip “Tiada Daya Upaya Kecuali Upaya Allah” telah kuat tertanam dalam sanubari … dan semua dikembalikan pada pemilik bumi dan langit termasuk dosa dan pahala
bagi lulusan SD maka matematika adalah tambah kurang bagi kali … tapi ternyata kebenaran akan berubah saat dia SMP yaitu ada trigonometri begitu juga seterusnya kalkulus dll sebagainya sampai pada tingkat tertinggi bahwa sebenarnya hitungan itu tidak lagi berfungsi kalau berbicara tentang takdir Tuhan …..
otak hanya akan mampu membahas dimensi waktu sejak lahir hingga terakhir kita hidup … padahal banyak jawaban pertanyaan yg berada dalam rentang waktu sebelum lahir dan sesudah mati …. maka pertanyaan itu hanya bisa terjawab dalam dimensi Qolbu melalui meditasi/dzikr
maaf kalau saya tidak sanggup menjelaskan dengan lebih detail … karena keterbatasan dimensi fisik kita …. cari tahu di dalam dzikr dan masuklah dalam dimensi Tuhan maka engkau akan paham tanpa kata2
sufi gila
salam cinta dan damai saudaraku
@lambang
sedikit ada yg kelupaan … betul bahwa Tuhan juga menciptakan sesuatu baik yg baik ataupun yg buruk … itulah tanda kesempurnaan Tuhan bahwa ternyata alam ini sangat kompleks dan beragam …. kalau menurut anda bahwa sempurna harus selalu seperti manusia lalu kenapa kok mahluk itu beragam ? itulah sempurnanya sandiwara agung Allah dengan mampunya Allah mencipta beragam jenis mahluk dari yg antagonis sampai protagonis, dari pemakan rumput sampai pemakan bangkai, dari yg baik hingga yg buruk, kerajaan Iblis dan kerajaan Jibril … begitu sempurna penciptaanNya …
Lambang
@ sufi gila:
Yth Bapak Sufi Gila,
Bahasan semula adalah tanggapan saya tentang takdir yang bapak contohkan :
Quote: “…di detik 1 menurut otak, kita mempunyai pilihan A, B, C, D, E … dst ….sungguh Allah sangat mengetahui bahwa D adalah yg kita ambil …..”
Kemudian saya mengambil contoh dengan professor, untuk menunjukkan bahwa meskipun Allah Maha Mengetahui, tetapi apa yang terjadi adalah kehendak bebas dari setiap manusia. Detik ini saya mau minum kopi, ya langsung minum. Tidak ada keterlibatan kehendak Tuhan di sini. Manusia bebas memilih.
Bapak kemudian menjawab dengan penjelasan tentang energi dan masalah negasi.
Saya jawab lagi dengan contoh tentang anak yang cacat.
Bapak jawab lagi dengan masalah SD dan tingkat lanjut. Dan kemudian ada tips “cari tahu di dalam dzikr dan masuklah dalam dimensi Tuhan maka engkau akan paham tanpa kata2”.
Kalau jawaban-nya seperti ini, ya sudah, diskusi selesai. Tidak perlu kita lanjutkan lagi karena menurut Bapak, orang yang masih SD tidak akan nyambung kalau diskusi dengan yang sudah tingkat lanjut. Padahal yang kita bahas ini adalah masalah spiritual, yang jauh beda dengan pendidikan formal SD, SMP, SMA, S1, S2, S3. Di ranah spiritual ini tidak ada pembuktian secara fisik. Pembuktiannya yang ada hanyalah berupa pengalaman batin, rasa, dan rahsa yang tentunya akan berbeda untuk setiap orang.
Ada baiknya kita buka topik baru yang lebih sederhana, mengacu pada komen bapak yang terakhir.
Pada saat kita berdzikr dengan khusyu’, terpusat pada satu tujuan, pasti akan muncul rasa atau angan-angan yang berupa lintasan, bayangan, kilatan, khayalan, bisikan, desiran, suara, ekstasi, kenikmatan atau apapun yang muncul dalam kehusyukan tersebut.
Pertanyaan saya sekarang :
“Apakah semua yang muncul itu tidak dianalisa lagi oleh nalar atau logika pikiran kita?”
Kalau ya, berarti kita masih menggunakan nalar dalam mempersepsikan hal-hal spiritual.
Kalau tidak, berarti kita menerima masukan spiritual tanpa berpikir lagi.
Apapun jawabannya, bisa benar dan bisa salah, karena tidak bisa dibuktikan.
Barangkali bapak ada pendapat lain, silahkan……
Salam.
NB: Mas Sufi Muda, numpang diskusi di sini. Kalau di blog saya masih sepi. Kalau di sini kan banyak ahli surga yang bisa bantu kasih masukan.
@wedok:
Hukum alam siapa yang mencipta? He.. he.. mosok nanyanya kaya gitu. Kaya nanya ke anak TK aja…. 🙂
Saya sudah SD lho…… pingin belajar tingkat lanjut seperti pak Sufi Gila.. …
Didiet513
Ass wr wb………..
Hmmmmmmmmmmmmmm……………………..
hmmmmmmmmm……..hmmmmmmmmmmm………
(lagi mikir…….. mo main paksa atau sukarela, ya…… hmmmmmmm……)
Wass wr wb
ajak-ajak
hehehe,,
toh kata Guru Islam bukan agama paksaan. Masuk tarekat pun bukan paksaan. MauNya sama mauku belum tentu sama.
Kita ceritain yang kita rasa ajalah. Toh bagi yang juga pernah merasakan akan faham maksudnya. Dan bagi yang belum mudah2an jadi segera kepingin
heuhuehuehuhe
sufi gila
salam cinta dan damai saudaraku
@lambang
sekedar menanyakan bukan untuk berdebat apakah persepsi kita tentang Tuhan berbeda ? bahwa Allah adalah Tuhan yg maha yg tidak ada batas kekuasaan ? saat anda memberi pernyataan bahwa manusia lepas dari kehendak Allah maka anda sudah membuat dualisme Tuhan …. tiada satupun yg mampu lepas dari kehendak Allah … tiada satu mahluk pun yg merdeka dari kehendak Allah … dan saat anda mengatakan :
“Detik ini saya mau minum kopi, ya langsung minum. Tidak ada keterlibatan kehendak Tuhan di sini. Manusia bebas memilih”
saat rasa ingin minum kopi tersebut muncul itulah kehendak Allah dan bukan Tuhan namanya kalau tidak merencanakan anda minum kopi … Tuhan terlibat dalam semua aktifitas … tapi jangan anda persepsikan keterlibatan Tuhan seperti keterlibatan sang professor tadi … saat ada pergerakan setiap anggota tubuh maka tidak akan mungkin dikatakan itu hanya gerak tangan atau kaki … tapi gerak tangan si Fulan dan kehendak si tangan tiada lepas dari kehendak si Fulan … mungkin analogi ini menjadi lebih mudah dicerna walau tidak mungkin persis sama dengan dzat Allah … tiada kata yg mampu menjelaskan dengan tepat … maaf
pertanyaan selanjutnya tentang nalar dan logika
apakah anda tidak sadar bahwa apapun yg telah kita rekam dalam bentuk informasi sehingga terproses oleh akal pikiran sejengkal demi sejengkal adalah rekayasa Tuhan ? bahwa Dia lah yg menggiring diri kita sedikit demi sedikit untuk dapat memahami segala hal …. tiada yg kebetulan semua adalah rencana Allah …. saat ini kita berdiskusi adalah rencana Allah untuk memberikan informasi dan pendidikan bai terhadap anda, saya, ataupun yg membaca diskusi kita
itu pemahaman saya …. tidak harus sepakat … karena kata sepakat nanti akan lakukan dalam perjalanan hdup … melalui perjalanan spiritual dan kehidupan segalanya akan terjawab
Lambang
Pak Sufi Gila,
Saya sepaham dengan Bapak.
Lepas dari kehendak Allah pada komen sebelumnya maksudnya adalah manusia diberi kebebasan untuk memilih. Mau menjadi kiai atau menjadi preman, itu adalah pilihan. Bukan Allah yang menggerakkan kita untuk memilih, walaupun semuanya tetap ada dibawah kendali dan supervisi Allah sebagai Sang Maha Pencipta.
Nah, seandainya dalam hidup ini kita selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah, maka Allah akan menggiring kita kearah yang lebih benar, walupun semula pada zaman azali kita sudah ditakdirkan menjadi preman dan mucikari.
Semua yang di atas ini adalah pendapat saya.
Sekarang kita menuju ke pendapat Bapak.
Menurut Bapak, niat dan usaha untuk mendekatkan diri ini berasal dari kehendak Allah. Dengan kata lain, seseorang akan menjadi preman seumur hidup atau menjadi kiai seumur hidup juga sudah ditentukan oleh Allah. Hal semacam ini pernah ditanyakan juga oleh para sahabat kepada Nabi, dan jawaban Nabi terkesan agak ambigu.
=====================
Yang menjadi pertanyaan besar dalam diri saya, sama dengan pertanyaan para sahabat tadi: “Kalau semua sudah ditentukan dari awal, lalu apa gunanya kita berusaha? Karena apapun usaha kita pasti akan didahului oleh takdir.”
Kalau pertanyaannya saya lanjutkan lagi, “Lalu apa bedanya umat manusia dengan makhluk lain misalnya tumbuh-tumbuhan, kalau ternyata semua sudah ditentukan dari awal?”
Bukanlah manusia dilebihkan dari makhluk lain karena memiliki akal. Akal ini diciptakan oleh Allah sebagai bekal manusia dalam perannya sebagai khalifah di muka bumi ini. Akal ini juga perlu digunakan untuk memahami Sang Pencipta. Ada beberapa ayat yang menyebutkan bahwa Allah menyukai orang-orang yang menggunakan akalnya. Tetapi ada hadits yang menyebutkan bahwa sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang sederhana dalam pemikirannya.
Memang banyak kontradiksi yang perlu pemahaman dengan renungan yang lebih mendalam.
Akan lebih kompleks lagi kalau mencoba memahami penciptaan setan, Nabi Adam, dan kitab suci.
Kesimpulan akhirnya, yah, begitulah. Kita jalani saja apa yang menurut kita benar. Apa yang menurut saya benar, belum tentu untuk orang lain. Demikian juga sebaliknya. Toh Allah sendiri juga sudah berfirman “Aku akan menampakkan diri sesuai dengan persangkaan hamba-hamba-Ku”.
Salam.
Lambang
@ Didiek513:
Hai Mas Didiek, apa kabar? Kayanya tangannya udah gatel mau kasih komen. Silahkan…
@ Ajak-Ajak:
Hai Mas Ajak-Ajak, apa kabar juga nih? Lagi garuk-garuk kelihatannya….. gatel juga…..
Hayo… hayo rame-rame kasih komen ke saya…..
(** kabuuur …… takut di komen balik berjamaah…..**)
sufi gila
salam cinta dan damai saudaraku
@lambang
memang banyak ayat dan hadits yg kesannya ambigu bahkan malah kadang saling mempersalahkan … itu dikarenakan Rasul menerangkan pengajaran pada berbagai maqom jiwa … contoh apakah benar mengerjakan yg lima rukun islam pasti masuk surga ? dan apakah surga itu ? maka untuk yg awam Rasul memberikan pemahaman awal yaitu tentang surga neraka tentang usaha dll … tapi bila untuk yg selanjutnya ternyata pemahaman bergeser dengan sendirinya
contoh : AIR BERSIH kata kerbau air kubangan … kata orang desa air sumur … kata orang kota air PDAM … kata dokter air destilasi / aquadest … kata Rasul walau racun tetap saja diminumnya ….. adakah hukum ? aturan ? yg ada adalah Tuhan memperjalankan kita dalam keadaan orang kota maka persepsi akan berubah dengan sendirinya itulah sunnatullah
Didiet513
Ass wr wb ……….. to semuanya……….
belum ada koment cuma mo sedikit cerita…………
…….. suatu ketika hujan mengguyur kota termasuk pabrik tempat kami bekerja. Sesuai aturan pekerja field dilarang melakukan aktivitas diluar ruangan/workshop. Akhirnya terkumpullah kami diruang minum……. Dan cerita punya cerita sampai juga akhirnya masalah keagamaan. Takdir………!!!!
Salah seorang teman yang jadi anggota pengajian disuatu tempat berkata, “Yang namanya semua kejadian, baik yang lalu ataupun yang akan datang sudah dalam pengaturan Allah. Kita tidak mengubahnya. Semua berjalan atas kehendak-Nya. Kita manusia, tiada daya dan upaya melainkan upaya Allah semata.”
Semua sempat diam, maklum kami bukanlah orang yang berpendidikan tinggi tapi juga tidak acuh dengan agama.
Mulai ada koment;
“Kalau saya sangat haus, ambil air bersih dalam gelas bersih tapi kemudian tidak saya minum apakah akan hilang haus saya?” katanya, “apakah ini juga sudah digariskan Allah. Kemudian saya bertahan tidak minum sampai ajal menjemput saya, apa ini sudah maunya Allah”
“Ya, memang begitulah hukum yang sudah tertulis di Lauh mahfuz”.
Yang bertanya bengong. Yang lain nyeletuk…………
“Kalau saya tampar bapak saya berarti tidak salah dong. Lalu bapak saya balik menampar saya, dia juga ga salah. Akhirnya kita berkelahi. Maka dua2nya benar…………. karena kami berkelahi adalah karena kehendak Allah”.
“Wuih, kalau begitu kacau bener, ya…!! Tuhan kok suka bikin yang aneh aneh tanpa kita sebagai hambaNya diberi kesempatan sedikitpun untuk memilih.”
Si Jaim juga ngomong, “Syurga dan neraka itu buat apa ya dibikin kalau toh maunya Tuhan kita ditaro dimana ya suka suka Dia….. orang Dia sudah atur ya ikutin aja nasib lo”.
“Eeh, sebentar,” dari pojokan Ipunk teriak, ” ……. naaaa……. terbuktikan gua gak salah kalo gak pernah shalat……… ”
“Nyebutlah kau, Punk….” timpal bang Tagor.
Cerita tidak selesai sampai hujan reda.
Karena ceritanya ga selesai maka tidak usah dikomentarin, ya………..
@Lambang
0 sampai 9 kalau dikombinasikan ada berapa, ya?
Saya serahkan Mas Lambang mo ambil kombinasi yang mana…………. silakan…….
Wass wr wb
Lambang
Ass wr wb,
Memang kalau memahami takdir ini akan menjadi rumit.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa takdir sebuah atom-pun sudah ditentukan dari jaman azali. Semua bergerak mengikuti irama ilahi. Adam, setan, agama, kiamat, surga, neraka, keyakinan dan lain-lain itu adalah properti-properti Allah yang digunakan untuk melengkapi sandiwara besar bernama kehidupan. Allah merangkap sebagai The Grand Designer dan The Grand Executor. Hal ini disebutkan juga dalam Al Qur’an. Kalau mengikuti pemahaman ini, manusia cukup hanya pasrah saja dalam mengikuti kehidupan ini. Tidak ada gunanya berandai-andai tentang amal, surga, rahmat, hidayah. Semua sudah ditentukan. Jalani saja sambil memuji Allah. Tidak perlu berdo’a. Titik.
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa takdir itu adalah seperti what-if analysis. Kalau Anda loncat dari gedung lantai 12 ke jalan raya, dijamin mati atau luka parah. Kalau Anda beriman dengan baik, mungkin bisa masuk surga mungkin ngga. Kalau Anda jadi pembunuh, dijamin masuk bui dan dijamin disiksa di neraka. Hakekat seperti ini tercantum dalam Al- Qur’an. Dalam hal ini Allah tidak berperan full sebagai The Grand Executor. Manusia diberi hak untuk menjalankan sebagian kecil porsi Executor tersebut. Allah mengamati semua ciptaannya yang seharusnya bergerak mengikuti hukum alam ciptaan Allah. Sekali-kali porsi Executor-nya dijalankan kalau ada do’a orang-orang yang sholeh.
Kalau mengikuti faham ini, manusia boleh berusaha semampunya. Kalau usahanya kurang keras, ya hasilnya hanya seperti yang telah digariskan di awal. Tapi kalau usahanya keras, ada dua kemungkinan, tetap belum berhasil juga sampai mati, atau garis hidup dan akhiratnya berubah. Jadi, selalu berusaha, memuji Allah dan berdo’alah kepada Allah.
Mana yang benar? Wallahu ‘alam bissawab. Dua-duanya bisa diperdebatkan berkepanjangan. Semua bisa mengacu ke Al Qur’an karena dua-duanya disebutkan di sana.
Mengenai pertanyaan 0 sampai 9, bagi saya ada 3 jawaban:
1. Dari sudut syariat, 0 sampai 9 bisa menghasilkan deretan permutasi angka yang tak terhingga
2. Dari sudut hakikat, 0 sampai 9 hanyalah notasi untuk memudahkan perhitungan
3. Dari sudut ma’rifat, 0 sampai 9 tidak ada apa-apanya. Nol. Suwung. Ning unang aning.
Yang belum jelas, arah pertanyaan ini mau kemana. He..he.. jangan-jangan cuma mau nguji pemahaman nih.
Jangan gitchu lah, ilmu Allah kan seluas samudera. Takdir dan makrifat itu kan hanya setitik ilmu Allah. Saya bisa tahu beberapa titik aja udah syukur alhamdulillah. Lha kalau ilmunya saja seluas samudera, materi untuk test pemahaman-nya jelas perlu kira-kira 10% luas samudera juga.
Maaf kalau ada kata yang kurang berkenan.
Wass wr wb.
Didiet513
Ass wr wb
@Mas Lambang
Subhanallah………. tidak terlintas sedikitpun untuk menguji karena saya bukanlah orang yang pantas untuk itu apalagi untuk bersombong diri dengan ilmu pengetahuan yang secuil.
Tapi saya terus terang sangat setuju dengan ke 3 jawaban tersebut.
Arah pertanyaannya memang sangat gak jelas…………
Kalau ditambah begini bagaimana;
“Qadar” bertemu dengan “qadar” sama dengan “Taqdir”
Ada seseorang (manusia bukan jin) pernah mengatakan begini bahwa (menurut pemahaman dia) , “Taqdir itu bersifat formulatif”. Artinya sejumlah qadar yang tak terhingga jumlahnya (dari Allah tentunya) adalah seperti alam yang menyediakan bahan mentah dan manusia berperan sebagai chef untuk mengolah dan memasaknya sesuai selera. Mau enak atau menjijikan semuanya diserahkan kepada dia. Si Tukang Masak dengan hasil olahannya dipersilakan untuk memakan atau memberikannya kepada orang lain. Atau tidak memakannya sama sekali karena gosong Gagal). Dan seterusnya dst dst berjalan sampai langit digulung dan bumi diratakan.
Begitulah katanya, hanya Allah yang mengetahui kebenaran yang hakiki. Kita hanya manusia baharu dan tidak sempurna maka nilai kebenaran yang ada pada kitapun tentu sangat relatif.
Maaf kalau ada yang kurang berkenan….
Wass wr wb