Tasauf

Sufi Kota Mencari Tuhan

NAMANYA Rumi Cafe. Berlokasi di Jalan Iskandarsyah yang mengarah ke Kemang, kawasan elite di Jakarta Selatan, ia diharapkan menjadi tempat hangout terbaru untuk kaum belia Ibu Kota. ”Saya berniat menjerat anak muda masuk surga,” kata Arief Hamdani, Presiden Haqqani Sufi Institute of Indonesia, sembari tertawa.

Rumi Cafe memang bukan seperti kafe biasa. Tempat ini tidak menyediakan minuman beralkohol. Namun nuansa tenang dan damai langsung menyapa siapa saja yang datang. Hot spot ini digadang-gadang Arief sebagai tempat bertemu, berdiskusi, sekaligus menikmati sema atau whirling dervishes, tarian sufi yang berputar-putar itu, yang diperkenalkan Jalaluddin Rumi, sufi agung abad ke-13.

Kafe kaum spiritualis ini menempati sebuah rumah toko berlantai dua. Dinding interiornya dicat abu-abu tua. Sejumlah buku dan foto tokoh sufi, termasuk Rumi, dipajang berjajar di etalase. Begitu hendak menaiki tangga, ups, ada manekin pria berbusana whirling dengan topi khas, sorban, dan jubah hitam. Setiap akhir pekan, di sini dipera­gakan tari whirling. ”Siapa pun yang terjebak macet pasti ingin tahu sajian kami,” kata Arief.

Rumi, whirling, tasawuf? Inilah gejala sosial yang pada Ramadan ini kian marak: sufi perkotaan. Tak usah berburu jauh-jauh ke Bagdad atau Istanbul untuk asyik-masyuk dengan dunia kaum sufi yang menjanjikan kedamaian dan cinta ini. Cukuplah nikmati cara baru berzikir dan ”mencari Tuhan” di Jakarta. Ini tentu saja tak lepas dari gaya hidup para eksekutif, konsumen utama gejala urban ini.
Coba lihat di Padepokan Thaha atau Majelis Taklim Misykatul Anwar di Jalan Senopati, Jakarta. Di situ, pekan lalu, Anand Krishna menyampaikan pikirannya tentang sufisme dewasa ini. Di dalam ruangan 10 x 10 meter persegi yang penuh pendengar serius, penulis puluhan buku spiritual itu ber­ujar, ”Sufi harus berani hadir ke pasar, ke market place.” Malam itu, Anand didaulat sebagai pembicara tamu di Padepokan Thaha.

Ia membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang memancing: mengapa kaum sufi gagal membuat dunia semakin damai? Ya, Anand tidak lagi berbicara tentang tasawuf sebagai jalan pembebasan individual, melainkan pembebasan pada tingkat sosial politik. Ia berbicara tentang gerakan-gerakan yang kehilangan toleransinya terhadap perbedaan pandangan di kota-kota besar, tentang langkah mereka yang agresif, dan pentingnya kaum sufi bangkit dengan pesan damai.

Anand seolah berbicara kepada para penghuni kota besar yang bosan dengan dugem, yang tidak sanggup melepaskan diri dari belitan masalahnya. Pengajian itu tertuju pada para seeker yang tak kunjung menjumpai kebenar­an di jalan-jalan dan bangunan kota yang riuh rendah, atau yang sekadar menunggu redanya lalu lintas macet. Semua digiring dan dihimpun pada malam-malam tertentu ke sejumlah titik di Ibu Kota.

Mereka para profesional, para eksekutif, yang senantiasa ada di sekitar kita dan tak mencolok mata. Berpakai­an laiknya orang kantoran, dengan kemeja lengan panjang dan pantalon gelap, seperti biasa, penampilan fisik mereka tak hendak mewakili identitas kelompok pengajian—yang biasanya berpakaian serba putih, baju koko, plus songkok putih pula.

Lihatlah Ahmad Rizal Tarigan, 39 tahun. Presiden Direktur PT Penta Manunggal Mandiri ini rajin mengunjungi zawiyah (padepokan) tarekat Naqsabandiyah Haqqani setiap Kamis malam. ”Dengan berzikir, kita mengendalikan ego,” katanya. Rizal hanya berbaju batik, tidak berjanggut, dan tak ada simbol-simbol tarekat, tulisan Allah ataupun Muhammad, pada mobil Nissan X-Trailnya.

Identitasnya sebagai pengikut tarekat Naqsabandiyah Haqqani baru ”terbongkar” bila kita mengunjungi kantornya yang terletak di daerah elite Jalan Sudirman, Jakarta, atau rumahnya di kawasan Kayu Putih, Pulomas. Foto yang sama terpajang apik di dua tempat itu: foto ketika ia bersama Syekh Nazim Kabbani, tokoh spiritual gerakan tarekat ini. Rizal memilih tarekat ”tradisional” di puncak karier.
Tapi ada pula Saraswati Sastrosatomo, 36 tahun, Senior Council Chevron Indonesia Company, yang masuk tarekat Qadiriyah di kawasan Ciawi, Bogor. Alkisah, Saraswati, yang begitu mudah memperoleh segala yang diinginkannya dari dunia profesional dan akademis, akhirnya suatu kali jatuh terduduk. ”Saya pernah bekerja di lembaga bantuan hukum, law firm, hingga corporate. Sekolah ke Amerika dan Belanda pun sudah saya jalani. Pokoknya, dunia bagi saya sudah cukup. Lantas apa lagi?” tuturnya.

Perempuan yang menamatkan pendidikan S-1 di Fakultas Hukum Universitas Indonesia dan pendidikan pascasarjana di Universitas Leiden ini pun sudah jenuh dengan jalan keluar selepas kerja: clubbing di klub malam Ebony, Dragonfly, dan banyak lagi.

Enam tahun silam, ia mencoba sesuatu yang baru: bergabung dengan klub kajian Paramadina dan kajian tasawuf Tazkiya. Dan rupanya itulah mukadimah dari sesuatu yang hingga kini tak pernah lepas dari hidupnya. Ia melebur dalam tarekat. Tiap akhir pekan kita bisa mendapati Saraswati bertafakur di padepokan syekhnya. ”Saya butuh charge setelah Senin hingga Jumat berurusan dengan dunia,” katanya. Di dinding apartemennya di Puri Casablanca, Kuningan, Jakarta, terpampang sembilan potret idolanya, Wali Songo. Di samping mereka, terdapat foto Syekh Abdul Qadir Jaelani dan Sunan Kalijaga.

Tarekat Naqsabandiyah Haqqani dan Qadiriyah sama-sama ”tradisional”. Keduanya ditopang lima komponen dasar tarekat: mursyid (guru), murid, wirid, tata tertib, dan tempat. Dua dasawarsa silam, masyarakat kota lebih bisa menerima tasawuf kontemporer seperti yang ditawarkan Paramadina dan Tazkiya ketimbang pola-pola peng­ajaran tradisional di pesantren, di desa-desa.

Baiat atau komitmen spiritual yang mengikat dan kemudian mengukuhkan hubungan hierarkis mursyid-murid mungkin tak menarik bagi orang kota yang demokratis. Uzlah alias mengundurkan diri dari dunia orang banyak justru menumbuhkan waswas bahwa tasawuf sama saja dengan mengasingkan diri. Dan zuhud atau asketisisme, pantangan terhadap kesenangan duniawi, tentu saja terlalu jauh dari gaya hidup hedonis orang kota.

Kini dunia kita seakan berubah. Ungkapan tasawuf yes, tarekat no yang demikian tepat mewakili periode itu seakan sudah berlalu. Dan mungkin tasawuf yes, tarekat yes cukup mengena di hati orang kota.

Di Padepokan Thaha, setiap usai tausiyah, para murid langsung menyerbu sang mursyid, Syekh Sayid Hidayat Muhammad Tasdiq, yang biasa dipanggil Kiai Rahmat. Dalam suasana yang cair, masing-masing murid mengungkapkan rasa takzim dengan mencium tangan guru yang karismatis dan berilmu itu. ”Beliau mudah tune-nya,” kata Pardamean Harahap, salah seorang pengurus padepokan itu, menjelaskan karakter sang guru yang komunikatif. Kamis malam itu, di padepokan, Kiai Rahmat mengenakan baju hem putih tanpa dasi dengan balutan jas biru dan celana biru. Ia memakai peci hitam dengan renda air emas di sekeliling; suaranya ringan seperti beraksen Sunda, kulitnya agak gelap.

Bayang-bayang suram hubungan mursyid-murid yang menuntut kepa­tuhan total sang murid sesungguhnya belum juga terbang jauh. Menurut Jalaluddin Rakhmat, dosen komunikasi Universitas Padjadjaran yang ikut melahirkan pengajian Tazkiya, kelompok pemujaan atau cult sering kali membungkus niat buruknya dengan aksesori tasawuf. Lalu murid yang silau dengan penampilan luar itu pun kerap menjadi korban penipuan. Memakai istilah sufi seperti hakikat dan makrifat, sang guru menawarkan paket-paket instan yang tak masuk akal. seperti ”bertemu Tuhan dalam seminggu”.

Namun coba bedakan dengan tarekat Akmaliyah. Tarekat yang berada di Kota Malang ini mengambil jalan pintas: memangkas pendek hubungan mursyid-murid yang sangat berat sebelah. Gerakan sufi yang meneruskan ajaran Syekh Siti Jenar dan kemudian dipopulerkan oleh Sultan Hadiwijoyo (alias Joko Tingkir, Raja Pajang) ini berangkat dari pemikiran tunggal: setiap manusia berhak bertemu dengan Tuhannya.

Akmaliyah tak mengenal mursyid (guru) sebagaimana aliran tarekat lain, melainkan sekadar sosok koordinator belaka. Lelakunya ringan, jumlah zikirnya tak dibatasi bilangan, cukup disesuaikan dengan kemampuan. Tarekat ini juga tidak mengenal tradisi pemondokan dan baiat. Setelah berdiskusi dengan koordinator untuk meluruskan persepsi, jemaah bisa membaca wirid sendiri di rumah.
Tasawuf perkotaan kontemporer selama dua dekade telah menyodorkan jalan lebih ”aman”, tapi dengan pendekatan yang mengingatkan kita pada kursus body language, bahasa Inggris tiga bulan lancar, dan ­sejenisnya. Ada pelatihan salat khusyuk, lokakarya tiga jam untuk mengalami hakikat syahadat tanpa tarekat, dan masih banyak lagi.

Instan memang. Bahkan, menurut Bambang Pranggono, dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Bandung, gejala ini memperlihatkan ”indikasi betapa materialisme merasuk ke dalam semua sendi keislaman, ketika semua harus dinilai dengan uang, dari syahadat, salat, hingga haji”—seperti tertulis dalam makalahnya, ”Sufisme Perkotaan”, yang dibacakannya pekan lalu di Bandung.

 

DI sebuah hotel di Jalan Pelajar Pejuang, Bandung, anak-anak muda pengikut pengajian tasawuf berkumpul untuk menyambut sesuatu yang besar: lailatul qadar. Ritual yang berawal pada pukul 21.00 itu ditutup dengan doa Kumail (doa khusus Nabi Khaidir), lalu Jausyan Kabir pada pukul 02.00, hanya beberapa saat menjelang sahur.

Tasawuf, yang selama beratus tahun divonis sebagai sumber keterbelakangan, kini memiliki citra yang baru—ia wisdom dari desa yang kemudian dimodifikasi sesuai dengan selera kota. Tiga tahun mengikuti Paramadina, Rara Rengganis Dewi, 45 tahun, yang menyukai musik Scorpion, Queen, Hadad Alwi, dan Opick, membuat kesimpulan menarik. ”Saya lebih mampu berbahagia dan menikmati kehidupan,” katanya. Rara, yang tinggal di Jakarta dan gandrung tasawuf, mengambil magister Islamic Mysticism ICAS (Islamic College for Advanced Studies).
Melalui kajian yang sama, Arief Aziz, 25 tahun, kemudian memahami perbedaan antara Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi. Anak muda ini mengenal sejumlah nama besar dengan gagasan besar: Rabiah al-Adawiyah, Rumi, Arabi, juga martir yang kontroversial seperti Al-Hallaj dan Syekh Siti Jenar. Arief juga mengaku menerapkan zuhud dalam kehidupan kesehariannya. Memakai telepon seluler tua, ia berpegang pada asas manfaat dan menolak ikut latah.

Sufisme perkotaan merupakan anak modernisme. Kehadirannya ­ber­­dam­ping­­an dan berinteraksi ­dengan produk-produk modernisme lain: ­liberalisme, ateisme, feminisme, konsu­merisme, materialisme, dan sebagainya. Ada yang berdiri dalam tarekat tradisional, ada pula yang tanpa tarekat. ”Semua bisa kita pahami dengan penuh empati sebagai kegelisahan setetes air yang rindu akan kebahagiaan, bersatu lagi dengan lautan,” demikian Bambang Pranggono mengakhiri makalahnya.

Idrus F. Shahab, Sita Planasari, Munawwaroh, Iqbal Muhtarom, Alwan Ridha Ramdan

Sumber : Tempointeraktif

 

 

 

100 Comments

  • hamba'79

    Di saat orang baru memulai dan memahaminya…kita sudah merasakannya…disaat orang baru mulai membicarakannya..kita hanya diam dan berkata OH YA….

    hehehe…selamat buat yang sudah merasakannya…dan wellcome to club untuk yang baru memulainya…

    dunia indah, damai dan penuh dengan kecintaan hanya dalam dzikir dan larut bersama-NYA….

    hehehe….

    ^__^V
    PiiISS

  • aden

    akhirnya datang juga … selamat buat para sufi muda kota pencari Tuhan…

    Sang Maha Guru Besar Thareqat sering berfatwa:
    “kejar dunia, lupa akhirat”
    “kejar akhirat, tinggal dunia”
    “Kenapa gak kejar Pemilik kedua-duanya aja”???

    hee hee

    mumpung lg muda knapa hrs nunggu tua buat “nyufi” ala modern yg tetap berpegang teguh kepada Alquran dan Hadist, dengan ketetapan dan ketentuan yg tidak pernah berubah sejak dari zaman Rasulullah hingga skrg…

    met nyufi….
    :-))

  • asep

    Ass. Wr. Wb.

    Tasyawuf, sufi, sufisme, suluk, serambi suluk, atau apapun istilah yg semisal itu, adalah semua jalan menuju Allah Swt dan RasulNya, tapi kelihatannya egois ya, hanya mementingkan sekelompok umat aja, hanya ke Mursyid aja, mbok ya yg sdh merasakan, berbagi rasalah dengan yg lain? emangnya masakan. Dunia tak sedaun kelor. Yah, mungkin tasyawuf sebagian dari agama Islam yg sulit dicerna oleh sy yg awan ini. OH YA…

    Wass. Wr. Wb.

  • hamba'79

    @ mas Asep..

    ””Tasyawuf, sufi, sufisme, suluk, serambi suluk, atau apapun istilah yg semisal itu, adalah semua jalan menuju Allah Swt dan RasulNya, tapi kelihatannya egois ya, hanya mementingkan sekelompok umat aja, hanya ke Mursyid aja, mbok ya yg sdh merasakan, berbagi rasalah dengan yg lain? emangnya masakan. Dunia tak sedaun kelor. Yah, mungkin tasyawuf sebagian dari agama Islam yg sulit dicerna oleh sy yg awan ini. OH YA…”’

    menurut saya mas asep sederhana saja…
    Tak ada seorangpun yang bisa menceritakan tentang bagaimana pedasnya rasa cabe..bahkan seorang profesor pun saya rasa tidak bisa membuat buku tebal yang mampu menceritakan “”pedasnya rasa cabe “”

    Begitu juga dengan dzikir..( gampang aja mas asep )

    yang paling enak adalah..ambil cabe..gigit dan makan..rasakan sensasi pedasnya rasa cabe..

    Begitu juga dengan Dzikir ( gampangkan mas asep )

    …….saya hanya segelintir orang yang ingin berbagi rasa tentang nikmatnya berdzikir…dzikir sebetul-betulnya dzikir…dzikir yang di amalkan oleh sejak zaman Rasul sampai sekarang..tidak dirubah dan tak seorangpun yang berani mengubah….

    untuk penjelasan selanjutnya silahkan mas asep tanyakan ke pengelola blog ini ..Mas Sufi Muda…( maaf ilmu saya terlalu dangkal untuk menceritakan dan menjawabnya..)

    ^__^ V
    PiissSS

  • asep

    Ass. Wr. Wb.
    @hamba79 & @sufimuda @ semua yg diblog

    Sy mau tanya nih, bagi siapa saja yg punya mursyid , sudi kiranya berbagi utk menuliskan/melinkan atau dilinkan dlm blog ini SILSILAHNYA, katanya sampai ke Rasul Saw. Dzikir yg diamalkam sejak zaman Rasul Saw sampai sekarang itu bagaimana contohnya? biar sy bisa merasakan nikmatnya berdzikir, trmksh sebelumnya.

    Wass. Wr. Wb.

  • Rindu Damai

    Kang Asep…

    Silsilah itu memang harus sampai ke Rasulullah SAW sebagai salah satu syarat Tarekat itu muktabarah…
    Kalau mau tahu Silsilah lengkap sampai ke Rasulullah dan Guru nya adalah Wali Qutub (pemimpin para wali) Coba klik Disini

  • kang kolis

    Kang Jalal, dalam Islam Alternatif, membangun sebuah hipotesis bahwa makin terbenam orang dalam pekerjaan intelektual, makin rindu ia kepada kehangatan mistikisme. Kegersangan rasionalisme malahan mendorong orang untuk mencari keseimbangan dengan menghadirkan sufisme.

    Go a Head….

  • asep

    Ass. Wr. Wb.

    @Rindudamai
    Terimakasih infonya telah sy baca, tapi kenapa Sayyidina Ali Ra “tidak ada”. Dalam hadist-hadist sunni, syiah, atau golongan lainnya dalam Islam dikatakan ” Nabi adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya “. Nah ini membuktikan bahwa tasawuf, sufi, sufisme, suluk, serambi suluk ataupun apa yg semisal dgn itu, patut dipertanyakan kembali kebenarannya. Coba dikaji dan direnungkan kembali, wahai orang-orang yang berfikir !

    Wass. Wr. Wb.

  • ajak-ajak

    hehehe,, asep pernah baca pujian rasulullah SAW kepada sahabat2 lain selain Ali kwh? misalnya ke Abu Bakar r.a, ke Umar r.a, Usman r.a, dll?
    coba cari deh

  • asep

    Salam kenal,

    @ajak-ajak
    Gimana ya? hemm…. sdhkah anda baca link dr mas rindudamai ? sy bicara masalah itu dan hadist ” Nabi kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya ” disepakati oleh semua mahzab dan golongan, jadi sudah bersifat umum. Makanya sy katakan tasawuf perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, klo tidak bermuara kpd hadist tsb. Menurut anda apa saja pujian-pujian kpd Abu Bakar Ra, Umar Ra, Utsman Ra dll, bisa disebutkan hadistnya?

  • Rindu Damai

    Kang Asep…
    Saya pikir anda adalah seorang yang benar-benar ingin mencari seorang Wali Allah, maka saya memberikan salah satu wasilah Tarikat Naqsyabandi yang menurut pengalaman saya benar, tapi ternyata anda hanya sekedar ingin tahu dan adu argumen saja (mudah2an pandangan saya terhadap anda salah).

    Kalau anda ingin nama Saidina Ali dicantumkan dalam silsilah maka cari Tarikat Qadiriah, samaniah, sattariyah dan beberapa Tarekat lain yang silsilahnya bersambung kepada Ali.

    Semua Tarekat di dunia ini bersambung kepada dua sahabat Nabi yaitu Abu Bakar dan Saidina Ali.

    Kalau anda ingin beradu argumen tentang sahabat Nabi yang mana paling utama saya kurang berselera karena menurut saya semua sahabat Nabi itu terutama sahabat 4 adalah orang2 terbaik setelah Nabi. Merekalah orang2 yang paling mengerti tentang Islam.

    ” Nabi adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya “. Nah ini membuktikan bahwa tasawuf, sufi, sufisme, suluk, serambi suluk ataupun apa yg semisal dgn itu, patut dipertanyakan kembali kebenarannya

    Hanya karena satu hadist itu lantaran anda meragukan kebenaran tasawuf menurut saya justru itu sangat keliru.
    Lagi pula sebuah hadist kan tidak bisa dipahami begitu saja…
    Tidak ada yang menyangkal bahwa saidina Ali adalah pintu ilmu akan tetapi kenyataannya pada zaman nabi hidup cuma Abu Bakar yang diizinkan Nabi menjadi Imam…

    Pujian nabi terhadap sahabat2 lain itu banyak, silahkan anda telusuri sendiri, tapi kalau anda berpaham syiah saya menganjurkan anda tidak usah mencari kebaikan pada sahabat nabi yang lain, cukup Imam Ali saja….

    Salam Damai

  • asep

    @Rindu Damai

    Hadist tsb sudah diakui oleh berbagai mahzab dan golongan, jadi kenapa mesti diragukan lagi kebenarannya? sy cuma minta disebutkan puji-pujian Nabi Saw kepada sahabat lainnya menurut hadist satu atau dua saja. yah… kita diskusikan saja, apa salahnya. Klo pemahaman Syiah silahkan mengunjungi blog secondprince.

    Salam Damai juga

  • Jafar Hasan

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuhu
    Bismillah Khairil Asma
    Allahumma Shalli ala Muhammad wa ala Aali Muhammad

    Buat kang Asep, bang Rindu Damai, dan semuanya silakan buka blog kami,
    http://www.hasanhusein.blogspot.com

    Antum semua bisa membaca dan mempelajari mengenai Tasawuf, Ahlulbait, Imam Ali, dsb.

    kalau antum ingin bertanya lebih jauh, silakan hubungi saya 🙂

    email : angga@awp.component.astra.co.id
    No.Tlp ; 0817 851 082

    Ma’a Salamah.

    Sufi Muda :
    Wa’alaikum salam wr. wb
    Salam Kenal untuk Bang Jafar Hasan, terima kasih atas infonya, blog nya bagus dan mencerahkan, semoga kita bisa saling bersilaturahmi
    Kalau Bang Jafar Hasan punya YM kita bisa chat, Ym saya
    Terimakasih atas kunjungannya,

    salam

  • ajak-ajak

    hehehehehe,, kok malah saya yang disuruh nyebutkan? kan saya nanya anda sudah pernah baca atau belum? kalau belum pernah, ya koment anda sah-sah saja *m*
    Saya memuja Keempat Khalifah (Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali r.a) karena masing-masing dari mereka memiliki keistimewaan dalam perjuangan Islam di masa itu.

    Tapi kalau untuk komen tambahan mas yang:
    “” Nabi kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya ” disepakati oleh semua mahzab dan golongan, jadi sudah bersifat umum. Makanya sy katakan tasawuf perlu dipertanyakan lagi kebenarannya, klo tidak bermuara kpd hadist tsb. ”
    boleh saya tahu dari mana anda memutuskan bahwa tasawuf perlu dipertanyakan ?
    atau dengan kata lain, darimana keputusan bahwa tasawuf harus bermuara pada hadis tsb?

    Sejujurnya, bagi saya bersumber dari sahabat yang manapun (Abu Bakar Ali atau lainnya) bukan masalah selama bermuara pada Rasulullah SAW.
    Sebab kita mencontoh Nabi dari Guru yang berguru yang berguru yang berguru,,, pada sahabat Nabi yang berguru pada Muhammad SAW. Selama itu jelas dan bisa dipertanggung jawabkan, ya sudah.
    Ma’af sebelumnya,, saya juga baru belajar tasawuf kok setelah sekian lama tertipu. hehehehe,,,,

  • asep

    Ass. Wr. Wb.

    @ajak-ajak

    Hemmm…gimana ya? mikir dulu…lama juga, mungkin begini……..
    Kalo masalah keutamaan Khulafur Rasyidin sudah biasa ditemukan dan dibahas di majelis taklim, ditv, di radio dsb. Tapi kenapa kalo berbicara keutamaan Sayyidina Ali Kw, selalu menjadi polemik? padahal beliau menurut tarikh Islam hidup bersama Nabi Saw diangkat anak dari semenjak kecil umur 5 thn, kemudian dinikahkan dengan puterinya Fathimah Ra., sedangkan Nabi Saw bagaikan Al Quran yang berjalan, setiap gerak langkahnya selalu dibimbing Allah Saw, berarti Rasul Saw tidak sembarang mengangkat menantu, pasti ada campur tangan Allah Swt, makanya ada hadist “Nabi kota ilmu, Ali adalah pintu gerbangnya ”
    menurut ahli hadist dari berbagai mahzab/golongan tingkatanya shoheh dan mutawatir. Hemmm…apalagi ya? oh iya, saya minta satu aja hadist puji-pujian Abubakar Ra dll supaya diskusi ini berimbang hehehe……juga.
    Oh iya lupa satu lagi, tasawuf perlu dipertanyakan apabila tidak merujuk kpd hadist tsb. Yah, mungkin anda tertipu hehehe ….lagi.
    Dima’afkan juga sesudahnya.

    Wass. Wr. Wb.

  • 10

    Ass.Wr. wb

    @Asep

    yang anda mau yang bagaimana? apa kalo semua faham toreqoh tidak melalui silsilah syayidina ali toreqoh tersebut batal/haram/kafir ya ndak usah di pelajari tha mas…..( gitu aja koq repot )
    apakah semuanya ilmu yang anda amalkan semua dari syayidina ali/kulafaur rasidin? apakah sampean tiru bukan tidak mungkin dalam keseharian kita (anda dan saya ) juga meniru orang2 nasroni koq mas contoh: dlm islam hari jumat adalah hari yang agung/unggul tapi kenapa koq anda, mungkin saudara anda, ato saya koq ya…. ikut2an libur bukan kah hari minggu harinya umat nasroni untuk ke tempat ibadahnya bukankah negara kita, ato kita sendiri memberikan kesempatan untuk beribadah kaum selain kita ato dengan kata kasar sang KXXXR,kalo anda bukan orang munafik tentu anda larang, anda halang2i ato kalo ndak mau yo di pateni ae mas he..he..he

    saya juga pengin tau koq mas? bagaimana cara KENTUT YANG BAIK DAN BENAR menurut ajaranya syayidina ali biar ibadah saya ndak keliru, sampean mempelajari ilmu apa minta di bukakan pintu perdebatan……….

    perlu diketahui mas PER ERAT PERSAMAAN & FAHAMI PERBEDAAN tidak semua koq mas yang berbeda haram/najis/kafir bagi sampean

  • asep

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

    @tanpa nama
    Salam kenal. Aneh juga ya? tanpa nama, mungkin takut belangnya kali. Lambangnya kebetulan merah lagi = hawa nafsu, iya cocok sekali. Setelah dibaca komentar anda, hemmm…gimana ya? mikir … justru anda membuka pintu perdebatan, kalo saya ingin kejelasan ( gitu aja kok repot!!! ) untuk menambah wawasan. Pateni bae sekarepe sampean (teu paruguh maksudna, jadi lieur ka uingna). Katanya per erat persamaan dan fahami perbedaan, tapi anda mengatakan haram/najis/kafir, ya seliro to mas. Siapa yg menanam, dialah yg menuai. Senjata makan tuan. Ngerti to mas ! Saya yakin anda bukan ahli tasawuf. Diskusilah secara baik-baik. Kritik memang pedas, tapi kita bisa mengambil hikmah dibalik semua itu. Apabila komentar saya ada yg kurang berkenan, mohon dima’afkan.

    Wass. Wr. Wb

  • 10

    Ass.wr.wb

    @ kang asep

    coba di amati baik baik di situ ada lambang 10 khan dan yang kasih logo khan admin/ masak yao saya yang berkehendak! tentang mengenai tuding anda saya bukan ahli tasawuf = itu ter serah anda toh derajat saya bukan dari pengakuan anda
    Mengenai tudingan anda TAKUT KATAHUAN BELANGNYA + sapa takut mas tidak ada gading yang tak retak DAN dari RETAKNYA itulah yang menunjukkan kesliannya okey
    kalo anda ingin kejelasan memang tidak harus sekarang bos belajar dulu………. anda merasa cocok baru anda cari silsilahnya umpama anda sakit berobat ke dokter Obatnya anda minum dulu ATO buatan pabrikannya yang anda teliti dulu??? kadang suatu jalan kebenaran tidak harus datang dari profesor khan mas

    Anda udah di kasih tau ama temen sufi mengenai silsilah mursyid2 mereka tapi anda menilai kalo ilmunya tidak lewat pintu gerbang ilmu karena tidak melalui SYAYIDINA ALI maka patut di pertanyakan: YG DI PERTANYAKAN APANYA

    #sahnya ……,legalitasnya…..,ijasahnya…….# anda masih menganut paham ijazaisme……? ada banyak koq mas di indonesia sarjana tapi kemampuan memble, ada banyak koq mas yang ijazah hanya SMU kemampuan/otak SARJANA

    buat sampean mas pertanyaannya= syayidina ALI dikatakan pintu gerbang ilmu? ilmu apa aja tho mas dan difinisi ilmu apa tho mas? ilmu itu ada yang dhohir ada yang bathin dan sekarang anda bertanya kepada yang ahli2 tasawuf apakah anda mengerti hakikatnya tasawuf ndak tho?

  • 10

    Ass Wr.Wb
    @kang asep

    di lanjut bos sorry tadi putus: anda bertanya kepada ahli2 tasawuf
    ” Nabi adalah gudangnya ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya “. Nah ini membuktikan bahwa tasawuf, sufi, sufisme, suluk, serambi suluk ataupun apa yg semisal dgn itu, patut dipertanyakan kembali kebenarannya”
    Yang saya tanyakan kebenaran dari sisi yang mana DHOHIRNYA ato BATHINNYA

    wasalam

  • asep

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

    @10
    Kirain ga ada namanya, baru tahu nih kalo adm yg kasih nomor, kenapa anda tdk kasih nama sendiri ? Bukannya menuding, tapi seliro kok bahasanya kurang pd tempatnya, ada bahasa bau segala. Lahir menampakkan bathin. Kalo tasawuf yang saya pelajari bahasanya indah dan menawan, tapi anda? Wajar kalo perlu dpertanyakan lagi, karena selama ini menjadi polemik. Sebagian besar para ahli tasawuf bermuara kepada Sayyidina Ali Kw spt komentar saya buat @ajak-ajak ( silahkan baca lagi ). Hemm…mikir…. Oh iya, mengenai tasawuf kan ada syariat, thariqat, hakikat dan ma’rifat, itu harus berkesinambungan/berhubungan satu sama lain, tahap demi tahap yg harus disertai ilmu dhohir dan bathin, yg wujud dan maujud, yang nampak dan ghoib, yang ada dan tiada, yang asalnya tidak yakin menjadi yakin, ‘ainal yakin haqul yakin, kata lahir yakin kata bathin juga yakin akan kehadiran Allah Swt. Apalagi ya ? hemm…biasa mikir. Saya ingin penjelasan dhohir dan bathinya menurut anda, terima kasih.

    Wass. Wr. Wb.

  • 10

    ass wr.wb
    @ kang Asep

    ternyata anda juga mempelajari tasawuf tho? kirain hanya mencari kelemahan ilmu tasawuf aja,maaf2 mas sesudahnya soalnya tasawuf sering di sesat2kan,di zindiq2kan,di bid’ah2kan oleh ahli2 kitab dan ahli2 dalil yang hanya menggunakan fikiranya aja tapi tidak dengan hatinya( bathinya)

    mengenai pernyataan sampean
    Lahir menampakkan bathin.= oh belum tentu mas!?!?!?! perampok badanya sehat tapi hati sakit,jasmani manusia tapi kelakuannya lebih rendah daripada hewan(lho koq gitu) terus yang sakit yang mana kata anda lahir menampakkan bathin

    Kalo tasawuf yang saya pelajari bahasanya indah dan menawan, tapi anda?=sudah saya jawab diatas sendiri

    penjelasan saya mengenai dhohir dan bathin?
    dhohir adalah jasmani/nyata/ada/ tampak/terlihat dengan mata lahir itulah dhohir mas sedangkan bathin adalah ruhani/goib/ghoibul ghoib/tidak nyata=hanya mampu dilihat dengan dengan mata bathin sedangakan mata lahir …..? tidak bisa melihat mas, nah ilmu juga ada 2 ilmu tatalahir/dhohir & ilmu tata bathin, apakah keduanya bisa disatukan secara ilmunya?jawabnya tidak bisa karena ada sekat sekatnya satu contoh# PRJALANAN NABI MUSA AS BERGURU DENGAN NABI KHIDIR AS# NABI MUSA AS ahli dalam bidang ilmu tata lahir sedangkan NABI KHIDIR AS ahli dalam bidang ilmu TATA BATHIN apakah keduanya bisa akur? mana menurut anda yang tinggi derajat ilmunya, semoga anda dapat memilah mana dhohir mana bathiniah okey,karena ilmu lahir itu bersanding denga ilmu bathin sama sekali tidak mas!!!!! cara pengamalannya juga beda2 koq

    apakah anda mengerti hakikatnya tasawuf ndak tho?ilmu tasawuf itu apa tho mas?

  • asep

    Ass. Wr. Wb.

    @10
    Oh iya lupa, ada yg belum dikasih tanggapan mengenai hadist ” Nabi kota/gudangnya ilmu, Ali adalah pintu gerbangnya ” tidak ditujukan kepada sahabat lainnya, sedangkan Nabi Saw seorang yg maksum, tentu saja tahu persis ahlak Sayyidina Ali Kw, sedangkan tasawuf yg diutamakan adalah ilmu, entah itu pengertian lahir maupun bathin. Jadi jelas Tasawuf dll patut dpertanyakan lagi, apabila tidak bermuara kepada hadist tsb diatas. Bukannya saya berpaham ijazaisme, tapi hadist tsb yang mengatakannya adalah Nabi Muhammad Saw.
    Demikian, mohon maklum adanya.

    Wass. Wr. Wb.

  • asep

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

    @10
    Dalam kisah perjalanan Nabi Khidir As dan Nabi Musa As. Hal tsb memberi pelajaran/hikmah kepada kita selaku umat Islam bahwa hanya dengan kekuasaan Allah Swt semua bisa terjadi, Kun Fayakun. Terlepas keduanya mempunyai ilmu lahir maupun bathin, keduanya juga merupakan hamba Allah Swt. Siapa yg lebih tinggi derajatnya ? hanya Allah Swt yang tahu. Lahir menampakan bathin disini, kan tulisan anda ada yg kurang pada tempatnya dalam menyikapi hadist tsb. Masa masalah kentut pake bawa-bawa Sayyina Ali Kw? Janganlah kata-kata itu dikemukakan disini, orang lainpun pasti akan menilai, sampai seberapa jauhkah anda dalam mengaku ahli tasawuf.
    Hakikat tasawuf, hemmm…mikir dulu….seperti yang diatas itu tadi mas, mengenai syariat, thariqat, hakikat dan ma’rifat. Ke 4 (empat) unsur tadi haruslah berkesinambungan/berhubungan satu dengan yang lainnya. Apabila disertai dengan ILMU maka yang asalnya tidak tahu menjadi tahu, yang asalnya tidak merasakan menjadi dapat merasakan, yang asalnya tidak yakin menjadi yakin akan keberadaan, kekuasaan Allah Swt selalu ada dalam kehidupan/aktifitas sehari-harinya baik lahir maupun bathin.
    Ma’af kepada penulis blog ini, apabila kehadiran saya telah membuat gaduh suasana.
    Demikian, agar menjadi maklum.

    Wass. Wr. Wb.

  • 10

    Ass Wr,Wb

    @kang Asep
    tentang pernyataan saudara
    ” Nabi kota/gudangnya ilmu, Ali adalah pintu gerbangnya ” tidak ditujukan kepada sahabat lainnya, sedangkan Nabi Saw seorang yg maksum, tentu saja tahu persis ahlak Sayyidina Ali Kw, sedangkan tasawuf yg diutamakan adalah ilmu, entah itu pengertian lahir maupun bathin. Jadi jelas Tasawuf dll patut dpertanyakan lagi, apabila tidak bermuara kepada hadist tsb
    ==========================================
    kenapa koq ndak saya jawab2 karena pengertian ILMU di sini LUAS kang? anda belum serberapa ngerti apa itu ilmu? jadi ya mohon maaf……
    memang tidak dapat di pungkiri jikalau syayidina ali menjadi pintu gerbangnya,nabi mengatakan tersebut pasti ada kurun waktunya anda ngerti tanggal berapa ngomongnya,bulan apa, tahun berapa nabi ngomong begitu? anda sebagai manusia (tahu letak kemanusiannya) dlm memahami hadist koq ya hanya terpaku pada satu satu dasar aja ingat kang pada waktu peristiwa isro’ & mi’roj!!!! kalo benar SYAYIDINA ali pintu gerbang ilmu kenapa koq ya syayidina ABU BAKAR ASH SHIDIQ yang pertama di certain dan orang yang pertama kali mengimaninya….? maka dia di beri gelar ASH SHIDDIQ= pintu kebenaran, maka hadist yang akang kemukan di fahami oleh mursyid2 tarekot bahwa pintu gerbang ilmu bukan hanya dari syayidina ALI aja kang itu menerangkan orangnya bukan menerangkan sesungguhnya arti ilmu itu sendiri kang? sahabat lainnya juga mempunyai kelebihan masing koq ilmu juga lain2koq,karena pengertian orang tasawuf mengartikan ilmu tidak seperti yang anda bayangkan!!! maka perlu anda pikir lagi dalil anda yang buat dasar2,

    pernyataan anda
    Dalam kisah perjalanan Nabi Khidir As dan Nabi Musa As. Hal tsb memberi pelajaran/hikmah kepada kita selaku umat Islam bahwa hanya dengan kekuasaan Allah Swt semua bisa terjadi,
    Kun Fayakun
    ==========================================
    he.he…hee..ternyata pemahaman anda cuma ampe segitu aja menfsirkan ayat ini, ketahuilah ayat itu hanya penyataan,penggambaran,pengakuan, kebesaran aja bukan proses terjadinya( bingung kang?!?) sesungguhnya proses adalah terletak pada ayat BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM (lho koq) wah panjang banget kalo tak ceritain
    BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM menjadi pintunya ilmu kenapa? hadist nabi dlm kitab jami as shoghir mengatakan’tiada kalimat pertama yang di sampaikan jibril kepadaku melainkan : BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM maka para mursyid torikoh meyakini:
    kalo surat surat dalam al qur’an sebagai gudangnya ilmu maka BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM adalah pintunya ilmu lain lagi khan pemahaman anda dengan saya mengenai ilmu kalo dibahas perhuruf tidak akan ada habisnya kang membahas pengertian ini okey, sedangkan pemahaman anda tentang hakikat tasawuf aja keliru kang makanya kang jangan hanya berpeganga akan satu pengertian aja biar ndak sempit tu pemahamaman anda, cobalah untuk menerima kang dan membandingkan

    demikian,wasalam
    salm fi sabilillah

  • asep

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

    @10
    ‘kenapa koq ndak saya jawab2 karena pengertian ILMU di sini LUAS kang? anda belum serberapa ngerti apa itu ilmu? jadi ya mohon maaf……’
    Jawab:
    Lho kok tidak bisa menjawab? sebelum pengertian bathin harus dulu dicari dulu pengertian lahirnya, sebelum mengetahui yang gdoib harus dulu mengetahui yang dhohirnya. Lahir dan bathin harus di implementasikan dalam perbuatan. Jawab aja walaupun hanya garis besarnya, kenapa sulit?. Kewajiban seorang muslim adalah amal ma’ruf nahi munkar, sampaikan walau 1 (satu) ayat. Kalo tidak disampaikan, mana mungkin orang lain tahu akan ilmu anda?

    ‘memang tidak dapat di pungkiri jikalau syayidina ali menjadi pintu gerbangnya,nabi mengatakan tersebut pasti ada kurun waktunya anda ngerti tanggal berapa ngomongnya,bulan apa, tahun berapa nabi ngomong begitu? anda sebagai manusia (tahu letak kemanusiannya) dlm memahami hadist koq ya hanya terpaku pada satu satu dasar aja ingat kang pada waktu peristiwa isro’ & mi’roj!!!! kalo benar SYAYIDINA ali pintu gerbang ilmu kenapa koq ya syayidina ABU BAKAR ASH SHIDIQ yang pertama di certain dan orang yang pertama kali mengimaninya….? maka dia di beri gelar ASH SHIDDIQ= pintu kebenaran, maka hadist yang akang kemukan di fahami oleh mursyid2 tarekot bahwa pintu gerbang ilmu bukan hanya dari syayidina ALI aja kang itu menerangkan orangnya bukan menerangkan sesungguhnya arti ilmu itu sendiri kang? sahabat lainnya juga mempunyai kelebihan masing koq ilmu juga lain2koq,karena pengertian orang tasawuf mengartikan ilmu tidak seperti yang anda bayangkan!!! maka perlu anda pikir lagi dalil anda yang buat dasar2, pernyataan anda ‘
    Jawab :
    Bagi pemahaman saya hadist tsb sangatlah penting dalam seluruh kehidupan dunia dan akkhirat, karena dengan ilmu kita dapat mencapai ma’rifatullah. Kalo kita mengkaji dan menelah sejarah/tarikh Islam, Sayyidiana Ali Ra hidup bersama Nabi Saw diangkat anak dari semenjak kecil umur 5 thn selalu ada dalam bimbingan Nabi Saw dan laki-laki pertama yg masuk Islam dan dalam setiap peperangan selalu ikut bersama Nabi Saw, kemudian dinikahkan dengan puterinya Fathimah Ra., sedangkan Nabi Saw adalah seorang yang maksum bagaikan Al Quran yang berjalan, setiap gerak langkahnya selalu dibimbing Allah Saw, berarti hadist “Nabi kota ilmu, Ali adalah pintu gerbangnya ” pasti ada campur tangan Allah Swt, karena itu adalah perkataan Nabi Saw yg oleh ahli hadist dari berbagai mahzab / golongan tingkatannya shoheh dan mutawatir.
    Mengenai peristiwa Isro mi’raj dan penyataan dari Sayyidina Abubakar, itu kan masih menjadi polemik dari para ahli hadist dari berbagai mahzab / golongan, jadi masih diragukan lagi kebenarannya. Masa kita merujuk kepada hadist yang masih diragukan kebenarannya ?

    ‘he.he…hee..ternyata pemahaman anda cuma ampe segitu aja menfsirkan ayat ini, ketahuilah ayat itu hanya penyataan,penggambaran,pengakuan, kebesaran aja bukan proses terjadinya( bingung kang?!?) sesungguhnya proses adalah terletak pada ayat BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM (lho koq) wah panjang banget kalo tak ceritain
    BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM menjadi pintunya ilmu kenapa? hadist nabi dlm kitab jami as shoghir mengatakan’tiada kalimat pertama yang di sampaikan jibril kepadaku melainkan : BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM maka para mursyid torikoh meyakini:
    kalo surat surat dalam al qur’an sebagai gudangnya ilmu maka BISMILLAHIRROCHMANNIRROCHIM adalah pintunya ilmu lain lagi khan pemahaman anda dengan saya mengenai ilmu kalo dibahas perhuruf tidak akan ada habisnya kang membahas pengertian ini okey, sedangkan pemahaman anda tentang hakikat tasawuf aja keliru kang makanya kang jangan hanya berpeganga akan satu pengertian aja biar ndak sempit tu pemahamaman anda, cobalah untuk menerima kang dan membandingkan’
    Jawab :
    Hemmm….mikir dulu. Kan udah saya ceritakan proses terjadinya hadist tersebut, bahwa Nabi Saw seorang yang maksum selalu membimbing Sayyidina Ali Kw dari semenjak kecil ( silahkan baca lagi ) Jadi tidak mungkin salah mengenai “Nabi gudang/kota ilmu, sedangkan Ali pintu gerbangnya” Oh itu sangat luas sekali pengertiannya mas, kalo kita ingin memasuki kota, tentu saja harus lewat gerbang, sedangkan Nabi Saw merupakan manifestasi Al Qur’an. Dalam menyikapi pemahaman Al Qur’an, saya juga punya pemahaman/sumber yang bisa menafsirkan Al Qur’an dari sisi lahir maupun bathin. Jadi tidak usahlah menilai orang sempit pemahamannya, mungkin mas sendiri yang sempit? hehehe…

    Wass. Wr. Wb.

  • Aria

    tak perlu berdebat, semua soal rasa. air bersih aja beda versi kerbau, orang kampung, orang kota dan anak sekolah. kalau kerbau menganggap air kubangan bersih bagi dia biarkanlah, toh dia tidak sakit dengan berendam disitu,malah enak. tidak masalah anda percaya kepada apa, katakanlah anda mengganggap batu sebagai tuhan, asal anda tidak mengambil batu itu dan memaksa orang lain menuhankannya. kalau mau berdebat soal dalil apalagi sejarah, hampir satu milenium sudah nabi meninggalkan kita, semua bisa diputarbalikkan dan dipropaganda. tak usahlah 700 tahun, suharto yang berkuasa 32 tahun aja udah buat sejarah indonesia menjadi ga jelas. jadi, kembali lagi ke soal rasa. apa gunanya membaca ratusan buku,menghafal ratusan hadits kalo belum berjumpa TUHAN? haree genee?? sebagai seorang salik,kita sudah tau bahwa bukan bacaan atau hafalanlah yg mengantarkan kita kepada TUHAN, tapi TUHAN lah yang menjumpai DIA sendiri. so, kalau ada ‘sedikit’ saja TUHAN di diri kita, maka tak perlu berdebat, allright?

  • asep

    Salam kenal

    @Aria
    Bila anda sudah berjumpa Tuhan dan merasakannya, tolong kasih tahu gimana bentuknya, warnanya, tinggi, pendek dll. Ada nash yang menyebutkan, sampaikanlah walau satu ayat. Bisa membuktikannya? biar tidak ada perdebatan/diskusi. Hebat euy !!!

    Wassalam

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca