• Pemikiran,  Tasauf

    Dimensi Manusia dan Dimensi Tuhan

    Seorang perempuan menjadi seorang ibu melewati perjuangan panjang bisa dikatakan tidak mudah. Mengandung anak selama 9 bulan dengan susah payah kemudian membesarkan anaknya sampai sang anak mengenal ibunya, barulah dia sempurna menjadi seorang ibu. Ketika mengandung dan membesarkan anaknya, tidak pernah terfikir bagi ibu untuk mendapat jasa atau penghargaan dalam wujud apapun, dilakukan dengan ikhlas lebih tepat dilakukan dengan cinta. Cinta lah yang membuat dia mampu melewati masa masa kritis di dalam proses mengandung dan membesarkan anaknya.

  • Tasauf

    Solusinya Adalah DIAM

    Pelajaran paling penting di dalam menempuh jalan kepada Allah (thareqatullah) disamping mengamalkan zikir adalah belajar DIAM. Zikir pun di laksanakan dalam kondisi diam, hanya qalbu yang berzikir sedangkan mulut terkunci. Zikir yang dilaksanakan secara diam ini memiliki nilai 70 kali lebih baik dari pada zikir yang bersuara (zahar). Hal ini ditegaskan dengan hadis dari al-Baihaqi: “Dzikir yang tak didengar para malaikat pencatat lebih bertambah pahalanya 70 kali daripada dzikir yang didengar oleh para malaikat.” (ar-Ramli, Nihayat al-Muhtaj Ila Syarh al-Minhaj, III, 182). 

  • Tasauf

    Al-Qur’an, Warisan Yang Tidak Diwariskan…

    Semua ummat Islam sudah sering mendengar kisah-kisah mukjizat yang terjadi di zaman dulu, baik terekam di dalam al-Qur’an, hadist maupun riwayat para ahli sejarah. Kejadian diluar akal manusia itu berlangsung selama ribuan tahun dari sejak zaman Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad SAW. Sebagian besar meyakini bahwa kejadian itu memang ada, sebagian menganggap itu hanya sebuah kisah untuk dijadikan bahan pelajaran bagi generasi selanjutnya.

  • Tasauf

    ISLAM BERLAPIS (Bag 2)

    Seorang profesor dalam bidang komputer yang sudah pasti sangat ahli harus terus menerus belajar, meng-upgrade dirinya agar ilmu yang dimiliki bisa mengikuti perkembangan zaman. Profesor ahli kedokteran tidak akan berhenti belajar dan meneliti agar ilmunya bisa menyesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan zaman. Kesamaan dari para ahli itu adalah rasa rendah hati, mengakui bahwa ilmu itu terus berkembang, hal yang mereka anggap saat ini benar bisa jadi nanti akan berubah, menjadi tertolak. Untuk ilmu yang sama, keahlian yang sama, seorang sangat ahli pun harus belajar terus, tentu untuk ilmu yang berbeda jenisnya akan diperlukan kerendahan hati yang lebih agar mau belajar hal yang memang tidak diketahuinya.

  • Tasauf

    HATI, AKAL DAN RASA

    Hati, tentu yang dimaksud bukanlah dalam wujud fisik sebagai salah satu organ tubuh manusia, walaupun hati fisik itu begitu penting juga di dalam tubuh manusia. Nabi memudahkan manusia memahami dengan menyebut hati sebagai segumpal daging, lebih mengarah kepada hati fisik, juga agar manusia lebih mudah memahami.

  • Tasauf

    Setelah Shalat Subuh (18)

    Manusia secara garis besar terdiri dari 2 unsur yaitu jasmani dan rohani. Jasmani apa yang terlihat, bisa dirasakan dan dikenali dengan mudah sedangkan rohani adalah spirit yang menggerakkan raga kita dan usianya tidak dibatasi oleh waktu tertentu, sudah ada di alam lain dan akan menuju ke alam berikutnya. Kelak yang mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama di dunia ini adalah ruh bukan jasmani oleh karena itu tugas kita hidup di dunia ini adalah menjaga kesucian ruhani agar ketika berpindah ke alam berikutnya (mulai dari alam barzah) tetap dalam kondisi awal sebelum ruh itu masuk ke dalam jasad.

  • Pemikiran,  Tasauf

    KITA PERLU KEINDAHAN

    Syekh Said Bonjol baru selesai tawajuh zuhur, duduk santai dengan Syekh Kadirun Yahya diteras surau sederhana. Syekh Said Bonjol berkata, “Inilah kehidupan saya, di depan sawah, diujungnya ada gunung, kadang saya berfikir apa Allah Ta’ala sudah lupa menjemput saya”. DI usia yang mendekati 120 tahun, tentu sambil bercanda disebutkan jangan-jangan Allah sudah melupakan saya, sudah lupa mencabut nyawa saya, begitulah candaan Beliau. Suatu saat Syekh Kadirun Yahya menceritakan kepada muridnya dalam sebuah acara, “Baru kali ini Ayah dengar ada Auliya berkata bahwa Allah memiliki sifat Lupa”, Beliau tertawa dan murid yang mendengar pun tertawa.