Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the category “Tasauf”

ZIARAH

Ziarah dikalangan umat Islam merupakan tradisi yang sudah ada sejak zaman sahabat Nabi SAW yaitu berziarah ke makam Nabi dan kemudian dilanjutkan oleh generasi sesudahnya sampai saat sekarang. Ziarah dalam pandangan pengamal Tarekat memiliki makna yang dalam dan ini merupakan bagian dari Adab berguru. Dari Anas bin Malik ra., bahwasanya Rasulullah bersabda : “Barangsiapa mengunjungi orang alim berarti ia mengunjungi aku, barangsiapa mengunjungi aku maka ia wajib memperoleh syafa’atku, dan setiap langkah memperoleh pahala orang mati syahid.” (Kitab Tanqihul Qaul)

Orang Alim (Ulama) yang dimaksud adalah orang yang mewarisi ilmu Rasulullah SAW baik zahir (syariat) maupun bathin. Ulama yang silsilahnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Baca selengkapnya…

Jika Engkau Ada Maka AKU Tiada…

Mengenal Allah itu memiliki tingkatan atau tahapan dimana setiap tahapan memiliki perbedaaan. Ketika masih kecil kita mengenal Allah dengan sangat awam, hanya sebetas mengenal nama-Nya, sesuatu yang berada di atas kita dalam segala hal. Setelah memiliki cukup akal (dewasa) kita mengenal Allah lewat pelajaran sekolah/pasantren maka ilmu itu pun meningkat, mengenal sifat-sifat-Nya. Di sadari atau tidak bahwa pengetahuan kita tentang Allah yang diserap oleh akal sampai akhir hayat hanya sampai ke tahap pengetahuan akan nama dan sifat-Nya. Pengetahuan tentang Dzat-Nya tidak akan tersentuh sama sekali karena DIA berada diluar jangkauan akal manusia. Baca selengkapnya…

DAHULUKAN ADAB-MU SEBELUM BER-AMAL (Bag 2)

Di dalam tarekat, adab menempati kedudukan yang sangat tinggi bahkan melebihi kedudukan ilmu dan karomah itu sendiri. Keseluruhan ajaran Islam yang diturunkan dari Allah SWT melalui Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW adalah adab, hanya itu. Maka diperlukan waktu sampai 13 tahun bagi Nabi untuk menerapkan adab kepada kaum Jahiliyah barulah kemudian Nabi memperkenalkan ibadah-ibadah termasuk shalat.

Tarekat adalah metodologi atau cara atau jalan untuk bisa melaksanakan al-Islam yang sangat hebat ini, tanpa tarekat maka Islam hanya menjadi sebuah formalitas saja, menjadi sebuah budaya dan identitas tanpa memiliki getaran dan ruh nya. Ibarat orang mati, apa sih yang bisa diharapkan dari sebuah mayat? Hanya bisa menghias fisiknya, tidak lebih dari itu. Baca selengkapnya…

ORANG KAYA

Sejak menekuni tarekat sampai saat sekarang ini, hal menarik yang saya perhatikan di komunitas tarekat adalah mereka tidak pernah membahas pahala. Kebalikan dari kelompok-kelompok diluar tarekat yang sangat bersemangat mengejar pahala. Tidak mungkin anda menemukan orang-orang tarekat sibuk membahas pahala shalat subuh, pahala shalat tahajud apalagi pahala zikir. Kenapa demikian? Baca selengkapnya…

Kenapa Harus Ber-Tarekat?

Pertanyaan ini sering dilontarkan oleh orang yang belum menekuni tarekat, bukankah Allah dan Rasul telah mewajibkan kita ibadah dalam rukun Islam, kenapa harus ditambah dengan tarekat?. Lebih ekstrem lagi mereka seperti protes, “Kalau kami tidak bertarekat, apa kami tidak masuk surga?”. Bukan hanya itu, orang yang terlanjur membenci tarekat karena ketidaktahuannya kemudian mencari-cari salah. “Orang tarekat tidak bersyariat”, “Pengkultusan kepada manusia”, “amalan mereka bid’ah” dan berbagai tuduhan lain yang tidak pernah bisa dibuktikan, karena memang tidak demikian. Baca selengkapnya…

QADIM

Tarekat tidak lain adalah metodologi warisan Nabi untuk melaksanakan hukum-hukum Allah (syariat) agar sesuai dengan standar yang di inginkan oleh Allah terutama dalam hal ibadah. Segala sesuatu yang dihasilkan oleh manusia akan berada pada dimensi manusia tidak mungkin sampai pada dimensi Allah yang Maha Gaib dan Maha Tak Terjangkau. Memakai bahasa tasawuf, “Segala yang keluar dari baharu tetap menjadi Baharu tidak mungkin menjadi Qadim, hanya yang berasal dari Qadim lah apapun menjadi Qadim”. Ketika Allah SWT berkata-kata maka itu menjadi firman dan bersifat qadim karena berasal dari qadim sedangkan firman Allah yang di ucapkan oleh mulut manusia tetap menjadi baharu, tidak menjadi qadim.

Baca selengkapnya…

Doa Yang Tidak Terkabul

“Ya Allah aku berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak khusuk, dari nafsu yang tidak pernah puas dan dari doa-doa yang tidak terkabul” (HR. Muslim)

Doa adalah ibadah dan doa juga merupakan senjata orang beriman, demikian Nabi menjelaskan dalam beberapa hadist. Sebagaimana senjata pada umumnya, doa harus di riset atau di uji coba berulang kali agar benar-benar menjadi sejata yang ampuh dan mujarab. Ketika doa tidak terkabul dan tidak dijawab artinya doa tersebut tidak menjadi senjata.

Baca selengkapnya…

Post Navigation