Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Khidir dan Musa Dalam Perspektif Sufi

IMG_9488Kisah berguru Nabi Musa kepada Nabi Khidir akan menjadi pedoman dan rujukan bagi segenap manusia yang ingin menempuh jalan kepada Allah SWT lewat bimbingan seorang Guru yang paham Agama secara zahir dan bathin. Ilmu apa lagi yang harus diajarkan Khidir kepada Musa, sedangkan Musa adalah seorang utusan Allah juga, luas pengetahuannya baik tentang agama maupun tentang dunia. Musa tidak akan mungkin bisa menjadi murid Khidir selama dia masih membawa pengetahuan yang pernah dia dapat. Pengetahuan Musa baik tentang agama maupu tentang dunia menjadi penghambat baginya dalam berjalan menuju kepada Hakikat Ilmu.

Tapi Musa memang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT menjadi murid Khidir dan begitu juga Khidir telah ditakdirkan menjadi Guru Musa, keduanya memang sudah berjodoh. Khidir tidak mengajarkan apapun kepada Musa, tidak memberikan ceramah, wejangan, tidak satu kitab pun diberikan kepada Musa. Khidir hanya menghancurkan “Perahu” pengetahuan Musa agar tidak ada lagi keterikatan dengan lautan, sementara daratan sudah menanti untuk menerima hal yang sama sekali baru.

Khidir juga membunuh “anak kecil” pada diri Musa, tanda-tanda melekat di badan yang akan menyeret Musa kepada pengingkaran dan itu tidak di sadari oleh Musa. “Anak Kecil” itu hanya bisa dilihat oleh Khidir, Sang Guru Sejati yang mengambil ilmu dari Samudera Ilmu Allah SWT. Tindakan Khidir tentu saja tidak bisa diterima oleh Musa, hati Musa bergolak menyaksikan hal tidak lazim itu.

Di akhir perjalanan, Khidir mengajak Musa untuk memperbaiki rumah yang sudah hampir hancur agar isi rumah berupa harta tak ternilai tidak dicuri orang. Perjalanan berguru Musa kepada Khidir yang dikisahkan dalam al Qur’an itu akan terus berlangsung sepanjang zaman dalam kondisi berbeda tanpa menghilangkan cita rasanya.

Jangan pernah berguru setengah perjalanan karena engkau tidak akan mendapatkan apa-apa selain kebenaran semu yang akhirnya hilang di telan angin malam. Kalau berhenti pada fase “Perahu” engkau akan menjadi orang yang suka menyalahkan, bahkan Guru mu pun engkau salahkan. Tetap dalam perahu, mengikuti hembusan angin dan hempasan ombak pada akhirnya seluruh kisah tentang tenangnya daratan akan engkau ingkari.

Jika perjalanan berhenti pada “Membunuh Anak Kecil” maka engkau seolah olah menjadi Tuhan untuk dirimu sendiri. Haram kau sebut halal dan malas kau sebut ibadah. Engkau akan menjadi tukang bantah dan merasa pengetahuanmu lah teramat tinggi. Pada akhir perjalanan nanti seluruh pengetahuan yang kau dapat tidak bermanfaat sama sekali dan saat itu lah engkau menjadi ragu.

Maka, buatlah bangunan itu dengan rapi dan indah bersama Guru, amanah menjaga diberikan kepada murid, jangan pernah sekalipun kau ceritakan tentang harta tersimpan di dalam karena bagi orang kaya dermawan itu tidak diperlukan karena mereka juga mempunyai hal yang sama tapi untuk orang bodoh dan jahat, harta itu nanti akan dipakai untuk merusak.

Jika rumah telah didirikan, engkau tidak akan tersingung jika disebut bodoh, tidak akan marah disebut jahat dan tidak akan terluka jika disebut sebagai penghuni neraka. Junjungan kita Rasulullah SAW diakhir hayat juga memberikan wasiat yang sama, menjaga rumah itu agar harta di dalam tidak hilang. Allah SWT memberikan tanda-tanda bahwa rumah itu telah selesai dengan sempurna, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah kuridhai Islam itu sebagai agamamu.” (QS. Al Maidah 3).

Jika ada orang mengaku memiliki harta terpendam itu sementara dia tidak memiliki rumah maka sesungguhnya dia adalah pendusta…

sMoga Bermanfaat…

Single Post Navigation

13 thoughts on “Khidir dan Musa Dalam Perspektif Sufi

  1. Ping-balik: Khidir dan Musa Dalam Perspektif Sufi | abd6296's Blog

  2. Pelajaran baru.di tahun baru.selamat tahun baru.semoga kita semua menjadi jiwa jiwa yang baru..SELAMAT TAHUN BARU 1 hijriah MUHARAM 1438H.

  3. Isuh Hada on said:

    Assalamualaikum wr. wb. Abang Sufi Muda yang saya hormati, terima kasih sebelumnya atas tulisan2 abang, saya banyak mendapatkan pencerahan tentang pencarian saya tentang Allah, namun saya masih sangat jauh dari kata paham, saya masih sangat memerlukan bimbingan dan nasehat buat saya dari abang Sufi Muda untuk saya supaya bisa melihat dengan hati dan mengasah rasa, mohon informasi juga dari bang SM seorang mursyid yang kamil mukammil di wilayah Balikpapan atau Kalimantan Timur. Terima kasih banyak sebelumnya Wassalam..

    Imam Suhada

  4. Ibnu Achmad on said:

    semoga bisa menemukan–menyadari guru tersebut

  5. reknowingone on said:

    bang sufimuda, maaf kalo pertanyaan ini tidak sesuai dengan artikel yang ini.

    saya lulusan sekolah milik prof. kadirun. jadi sejak smp dan sma saya cukup sering mendengar dan bertanya tentang tarikat. walaupun akhirnya saya menyadari bahwa ilmu yang satunya ini tidak untuk dipertanyakan atau diperbincangkan, tapi untuk dirasakan langsung. namun sampai saya berumur 24 thn pun saya beberapa kali dihadirkan teman berbincang untuk ilmu ini. sekadar berbincang dengan orang yg sudah merasakannya.

    akhirnya saya sampainke satubtitik dalam hidup saya yang menunjukkan betapa tidak kuasanya saya akan apa pun di dalam diri dan dunia saya betapa tidak berhaknya saya atas apa pun yang ada pada diri saya. saya mulai merasa semua adalah kerjaan tuhan. bahkan ketika saya melihat, bergerak, atau apa pun, sering saya merasa seolah olah saya sedang melihat diri saya dari sudut pandang langit, sebelah, dan lain-lain. tapi saya blm juga dihidayahi untuk masuk tarikat.

    saya mulai sadar saya selalu diperhatikan oleh allah, dia selalu bersama saya. saya mulai menerima bahwa hanyalah allah yg ada. dan semua yang saya lakukan adalah karena dan untuk allah. saya hanya diadakan.

    lantas pemikiran baru mulai terbentuk di saya, bahwa kusyuk dan tidak kusyuk pun saya shalat, atau perumpamaan nyelenehnya bahkan ketika saya menghadap ke hal hal kotor dan jahat pun yg saya hadapi adalah allah. bukan setan atau yg lainnya. karena allah tidak pernah luput akan saya dan saya tidak akan pernah bisa menuju kepada selain allah

    yg jd kebimbangan saya. apalah bedanya org yg mulai bisa menerima dia diperhatikan allah, digerakkan allah, dan berhadapan dgn allah ke mana pun dia pergi/melihat dengan orang yang masuk ke dalam tarikat?

    apakah bedanya seperti perumpamaan dua org di bawah ini:

    1. orang buta yang tersenyum/menangis di depan orang yang sangat dicintainya. dia tau orang yg dicintainya itu selalu memerhatikannya, menjaganya, mendengarnya, tak pernah luput darinya.

    2. orang yang bisa melihat orang yang sangat mencintainya?

    saya anggap contoh kebutaan di atas maksudnya buta “rasa” ya bg. “rasa” yang sering saya dgr dari bbrp tmn pengikut tarikat ketika bertanya ini itu kepada mereka.

    saya di tahap percaya bahwa “rasa” yang disebut sebut itu memang ada.

    apakah terletak di “rasa” itu bedanya? orang orang yang hanya shalat tanpa tau hakikatnya, tanpa melihat wajah allah, bukankah sama saja? karena kan tidak mungkin menghadap ke selain allah?

    maafkan keterbatasan saya yang bertanya. bg sufimuda mohon memberikan jawaban yg lembut, sabar, dan tidak memperjelas kebodohan saya dan org org seperti saya yg awam dgn mengatakan “BODOH” seperti di balasan komen komen abang pada artikel yg lain.

    Thank you

    • Back to Qur'an on said:

      “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu.
      (QS. Yusuf;83)

      “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah;100)

      Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya… (QS. fatthir;8)

      …dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
      (Al Qashash;56).

    • “tapi saya blm juga dihidayahi untuk masuk tarikat”.

      JAGAN SALAH MEMAHAMI TENTANG HIDAYAH!

      HIDAYAH ITU “PETUNJUK”!!!

      dan Anda sudah sering diberi Petunjuk! Tapi ketika petunjuk itu datang Anda sendiri yang Enggan menerimanya!

      Kasus anda mirip dengan cerita ini yg hanya rekaan belaka, kalau di dunia nyata mungkin mirip-mirip cerita Mbah Marijan (Juru Kunci Gunung Merapi klu ga salah ya :D).

      Hujan lebat sudah seharian, di sebuah rumah duduklah seorang Pak Tua. Wajahnya tetap tenang, meskipun rumahnya dan rumah lainnya sudah terendam air hingga Lutut. Lalu datanglah Tetangganya menghampiri Pak Tua itu.

      “Mari Pak Tua, kita pergi ke tempat yang aman, menutur informasi yang saya dapat tempat kita bakal kebanjiran, karena Bendungan Jebol” kata tetangganya

      “Tidak perlu anak muda, kau pergilah, aku yakin Tuhan pasti menolong aku!”

      Tetangganya itupun pergi

      1 jam kemudian datang lagi perahu dari tim SAR, “Pak Tua, air banjir sudah hampir menutupi seluruh atap rumah, segeralah naik ke perahu kami untuk menuju ke tempat aman.”

      “Tidak usah menolongku anak muda, aku yakin Tuhan pasti akan menolongku.”

      Perahu Team SAR ini pun berlalu.

      Satu jam berlalu, dan kini air benar-benar sudah menutupi semua atap rumah. Kali ini Team SAR datang dengan Halikopter karena diinformasikan oleh Team SAR yang lain karena masiha ada Kakek Tua yang perlu diselamatkan. dari halikopter dengan menggunakan corong Team Sar memanggil “Pak Tua, aku diberi tahu tim sebelumnya, anda tidak mau diselamatkan. Kini semua warga sudah selamat hanya tinggal anda sendiri. Jika tidak ikut Helicopter kami sekarang, kami tidak bisa berbuat apa-apa lagi, banjir semakin tinggi dan arus semakin deras.”

      dengan berteriak Kakek Tua menjawab “Jangan khawatir anak muda, pergilah, kau tak perlu menolong aku karena aku yakin Tuhan pasti akan menolongku.“

      Akhirnya Helicopter ketiga ini pun berlalu juga.

      Karena air semakin meninggi, arus air makin deras, dan hawa dingin yg menggigit, Pak Tua itu pun tak sadarkan diri.

      Tiba-tiba terjagalah pak Tua ini
      “Lho Aku Dimana? seingatku tadi aku kebanjiran?”

      Disebelahnya ada yang menjawab (malaikat) “Kamu Sudah MATI!!!”

      Kakek Tua terkejut “wah aku tidak terima, ini tidak adil namanya. Setiap hari aku rajin beribadah dan beramal baik pada orang di sekitarku. Ketika aku mengalami kesulitan, kenapa Tuhan tidak menolongku?”

      Malaikat menjawab, “Tidak menolong bagaimana? Bukankah Tuhan mengirimkan Tetanggamu untuk memberi peringatan!, kemudian Team SAR membawakanmu perahu penyelamat, sampai-sampai Helicopter dikirimkan sama Tuhan kamu tetap saja tidak mau diselamatkan!”.

      Dengan gregetan malaikat menyentil kepala Kakek Tua itu dengan kakinya, sambil berkata “KAMU ITU MAUNYA APA SIH!!!”.

      MASA TUHAN SENDIRI DISURUH DATANG MENOLONG KAMU?!

      EMANG KAMU ITU SIAPA?!

      NGACA DONK!?

      DASAR GA PUNYA OTAK (tidak tau diri)!!!

      …dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
      (Al Qashash;56).

  6. Terima kasih buya..

    @

  7. Ping-balik: Khidir dan Musa Dalam Perspektif Sufi | daunjatuh

  8. Mohon izin ikut belajar..salaam

  9. salikin satu on said:

    assalamualaikum…
    sufi muda, tolong kasih tau JUDUL ARTIKEL yang dahulu awal mulanya (menceritakan) sufi muda ber- “TAREKAT” dahulu sufimuda masih ada keraguan mengikuti TAREKAT, lebih kurang hampir satu tahun kalau tidak salah sufimuda dalam keraguan. namun tetap sufimuda jalani itupun karena ajakan teman, hingga sampai ahirnya sufimuda seperti sekarang ini.
    maaf saya lupa judul nya. saya cari tidak ketemu, tulisanya banyak banget he he.. saya ingin sekali membacanya lagi. mks.
    wsslm..

  10. assalamualaikum…
    sufi muda, tolong kasih tau JUDUL ARTIKEL yang dahulu awal mulanya (menceritakan) sufi muda ber- “TAREKAT” dahulu sufimuda masih ada keraguan mengikuti TAREKAT, lebih kurang hampir satu tahun kalau tidak salah sufimuda dalam keraguan. namun tetap sufimuda jalani itupun karena ajakan teman, hingga sampai ahirnya sufimuda seperti sekarang ini.
    maaf saya lupa judul nya. saya cari tidak ketemu, tulisanya banyak banget he he.. saya ingin sekali membacanya lagi. mks.
    wsslm..

    • Wa’alaikum salam
      Saya juga lupa judulnya, udah coba cari belum nemu.
      Coba di ketik kata “Tarekat” di bagian pencarian, nanti dibaca artikel2 yang berhubungan dengan tarekat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: