Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

SEKULER VS SEKULER TERSELUBUNG DALAM TERIAKAN NYARING: “Ulama Jangan Berpolitik” (2)

saudiokKedua system ini disodorkan kepada kita atas dua dasar sifat manusia, mencari nikmat dan menghindari sengsara. Sebagian orang menganggap system sekuler turki itu baik karena Negara tidak mengintervesi ranah pribadi warga Negara yaitu sikap keshalehan dalam beragama. Sebagian setuju dengan system Arab Saudi, kehidupan beragama warga di atur oleh Negara bahkan cara beragama secara detail dibuat petunjuk jelas, berbeda mazhab pun dilarang. Kelihatan indah dan islami tapi kenyataannya itu semua semu, karena pemerintahannya sama sekuler dengan Turki, Cuma secara terselubung. Kelompok pendukung satu diberi lebel Liberal, kelompok diseberang diberi Lebel Fundamentalis dan pencipta keduanya senyum senyum diluar sana.

Kita bersyukur hidup di Indonesia, sebuah negeri yang di bangun atas perjuangan para syuhada dan doa sekalian ulama sehingga berdiri sebuah Negara kesatuan yang kokoh dan kuat. Namun sejak reformasi, Indonesia mulai dirayu oleh kekuatan raksasa diluar sana untuk menjadikan sebagai Turki yang sekuler atau Arab Saudi yang Sekuler Terselubung. Saya menduga, sekali lagi menduga, bahwa yang merancang Negara Turki sekuler dan Arab Saudi Sekuler Terselubung adalah kelompok yang sama.

Daerah-daerah di Indonesia dengan otonomi daerah sedang menuju kepada dua jalan, namun jalan yang paling banyak dan menggiurkan adalah kepada SEKULER TERSELUBUNG, mencontoh Arab Saudi. Pemimpin tidak perlu pandai, cerdas dan paham agama, yang penting bagaimana dia bisa tampil “agamis” dalam kehidupan sehari-hari karena orang tidak akan menanyakan tentang kemiskinan dan ketidakadilan tapi orang menyakan bagaimana “keshalehan” pemimpinnya. Maka berlomba-lomba lah pemimpin daerah membuat acara-acara seremonial agama, pengajian besar-besaran dan membangun mesjid besar dan megah, karena memang itu yang bisa dijadikan sarana untuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam memimpin.

Masyarakat yang protes dan tidak sepaham dengan mereka diberi lebel “Penentang Syariat Islam”, atau “Penentang Hukum Allah”, itulah yang dipraktekkan oleh Arab Saudi sejak Negara ini diciptakan oleh kelompok itu. Di Arab Saudi, perbedaan dirubah dari rahmat menjadi bala. Apapun yang tidak sesuai dengan paham wahabi akan digusur dan dimusnahkan. Pada akhirnya sikap kritis sebagai sifat dasar manusia kian lama kian melemah dan pada akhirnya hilang sama sekali.

Dalam Sistem Sekuler Terselubung, ulama diberi tempat terbatas, hanya mengisi ceramah-ceramah agama, pengajian dan membina pasantren dalam ruang lingkup terbatas. Ketika ulama yang memiliki kemampuan mempimpin mencoba untuk mengubah keadaan agar menjadi lebih baik, maka secara serentak, akur tanpa sikap kritis mereka berteriak, “Ulama Jangan Berpolitik”. Kalau ditanya darimana sumber ucapan tersebut, mereka tidak bisa menjawab, yang penting ulama tidak boleh berpolitik. Apakah ummat Islam tidak sadar bahwa kata-kata “Uama Tidak Boleh Berpolitik” itu adalah pesan-pesan yang di ciptakan oleh Kaum Orientalis yang telah meneliti ratusan tahun bagaimana cara melemahkan ummat Islam. Cara paling mudah adalah membatasi orang-orang yang paham agama dalam sebuah kerangkeng, sehingga mereka tidak bebas mengatur masyarakat.

Orang yang suka berteriak, “Ulama Jangan Berpolitik” barangkali lupa membaca sejarah Islam. Orang-orang yang mengisi pemerintahan di zaman Khulafaur Rasyidin kesemuanya adalah orang-orang yang paham tentang ilmu Agama. Abdullah bin Mas’ud atau Ibnu Mas’ud menjabat sebagai Gubernur Kufah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Kenapa dijadikan Gubernur, karena Beliau paham agama dan baik akhlaknya. Masyarakat Kufah mengakui bahwa ia adalah orang yang sangat baik akhlaknya: “Kami tidak melihat ada orang yang melebihi Ibnu Mas’ud dalam mengajar.” Saidina Ali bin Abi Thalib pun memuji Ibnu Mas’ud, “Ia adalah orang yang membaca al-Qur’an dengan baik. Menjaga dan memenuhi halal dan haram al-Qur’an. Ia adalah seorang fakih dan alim terhadap sunnah Rasulullah Saw.

Begitu banyak sahabat-sahabat Nabi yang ditujuk menduduki jabatan karena mereka sangat paham akan agama dan memiliki akhlak yang baik, lalu kenapa kita percaya dengan selogan, “Ulama Tidak Boleh Berpolitik”. Slogan itu sangat ampuh untuk Arab Saudi karena mereka khawatir kekuasaan klan nya tergeser dengan muncul orang-orang cerdas dan berkhualitas serta kritis dalam pemerintahan.

Setelah kita diberi keyakinan bahwa dalam politik tidak ada kawan abadi yang ada hanya kepentingan abadi, politik menjadi kotor, maka sangat masuk akal dimasukkan ide berikut, “Ulama Jangan Berpolitik”, karena nanti akan ikut menjadi kotor.

Apakah tugas ulama (orang berilmu) hanya menjadi tukang ceramah tanpa bisa merealisasikan isi ceramahnya? Apakah mereka hanya bisa berkata mari berbuat baik, mari hidup lebih sejahtera tanpa bisa berbuat apa-apa? Sementara yang mengatur mereka adalah orang-orang yang hatinya 100% hanya untuk dunia.

Apa yang terjadi ketika zaman Belanda dulu seluruh orang berkeyakinan bahwa ulama jangan masuk ranah politik, cukup dipasantren saja, sudah pasti sampai sekarang kita terjajah. Oleh karena sekelompok ulama yang keluar dari slogan itulah kemudian hari membentuk organisasi NU, Muhammadiyah, Serikat Islam dan membentuk pergerakan-pergerakan, inilah cikal bakal gerakan global di seluruh Indonesia  yang membuat kita bisa menikmati kemerdekaan saat ini.

Ketika sebagian ulama terjun langsung dalam perang mengorbankan semangat jihad, saat itu pasti juga ada sekelompok orang yang berteriak dengan suara berbeda, “Ulama Jangan Berpolitik” nanti hatinya menjadi kotor. “Ulama Jangan Berperang Karena Jihad Hanya ada di zaman Nabi”. Namun para ulama, Guru Guru kita yang mulia atas petunjuk dari Allah SWT tetap meneruskan perjuangan karena mereka tahu kalau mereka diam dan berhenti maka masyarakat akan tenggelam ke dalam neraka dunia.

Karena manusia diberi pilihan oleh Allah, maka semua kembali kepada diri kita masing-masing, apakah tetap membiarkan politik menjadi kotor dan licik, ulama dikurung dalam ruang terbatas ataukah politik kita Islamkan sebagaimana hidup kita keseharian menjadi Islam, sehingga dunia politik menjadi rahmat bagi sekalian alam sebagaimana tujuan sejati dari Islam itu sendiri.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika tulisan ini tidak berkenan di hati, terutama para penggemar Turki dan Arab Saudi…

 

sMoga bermanfaat…

Single Post Navigation

28 thoughts on “SEKULER VS SEKULER TERSELUBUNG DALAM TERIAKAN NYARING: “Ulama Jangan Berpolitik” (2)

  1. Bang SM….
    sepertinya tulisan ini akan ramai komentar… 🙂

    Abang, kalo boleh sedikit kritis… apakah tulisan Abang kali ini ada kaitan nya dengan aktivitas politik yang dilakukan oleh pengurus Dayah Sufimuda?

    terus terang saya masih skeptis dengan sikon perpolitikan di negri kita ini…

    • Pasti ramai karena yang kita kritik Arab Saudi, tapi kan harus disampaikan.

      Tulisan ini untuk umum karena kalau skala nagan raya akan kurang tepat sasaran kecuali kita tulis di koran lokal.

      Hampir merata di tanah air kasusnya sama. Orang tidak paham agama kemudian memakai baju alim. akhirnya membuat tindakan berlebihan. Sama dgn pucuk pimpinan RI ketika dipegang non militer dulu, kejam nya melebihi orang militer.

      Tulisan2 spt ini mudah2an akan ada yg menulis untuk kalangan lebih serius (akademik), sehingga bisa dijadikan seminar dll.

      Tasawuf/tarekat harus bisa mewarnai keseharian masyarakat termasuk dalam pemerintahan. Karena kalau tidak mewarnai pasti akan diwarnai.

      Runtuhnya Turki, berdirinya Saudi adalah simbol hilangnya warna tasawuf dalam pemerintahan di seluruh dunia. Tasawuf tinggal di pinggir2 saja, ada yg bertahan namun banyak mati perlahan.

      Saya terinspirasi dgn Gullen, dakwah tasawuf lewat pengabdian bidang pendidikan. Dimulai dari distrik kecil kemudian menyebar ke seluruh turki. Gullen telah ikt mewarnai politik turki walaupun sekarang Beliau sedang di warnai..

      Tapi…yang pasti sufimuda gk bakal terjun langsung ke politik, cukup sebagai pengamat dan pemberi saran saja 🙂

      • mengerti, Abang …. terima kasih

        “….Tasawuf/tarekat harus bisa mewarnai keseharian masyarakat termasuk dalam pemerintahan. Karena kalau tidak mewarnai pasti akan diwarnai….”

        saya jadi ingat peristiwa pemilu 1999, partai Cinta Damai… salah satu pelajaran yang bisa saya ambil dan baru saya sadari belakangan ini…

        • Betul, saya ingat x saat2 itu, tahun 1999 sy termasuk salah satu caleg PCD, niat hanya patuh aja. Walaupun tidak berhasil mendapatkan kursi, saya sangat bahagia sampai detik ini karena saya masih “dipakai” oleh Nya…

          Begitulah Ujian Guru itu sangat halus…karena itu PATUH adalah maqam yg tinggi sebelum mencapai DISAYANG…DICINTAI…DIKASIHI..

        • iwak peyek on said:

          Dari Abdullah bin Amr bin Ash ra bahwa Rasulullah SAW bersabda ;
          “ Bagaimana denganmu jika kamu berada di tengah kekacauan, janji janji dan amanat mereka abaikan, kemudian mereka berselisih seperti ini ?” Lalu, beliau menyilangkan antara jari jari. Abdullah bin Amr bertanya,” Lalu , dengan apa engkau menyuruhku?” Beliau menjawab, “Jagalah rumah, keluargamu, lidahmu, dan lakukanlah apa yang kamu tahu dan tinggalkan yang mungkar, serta berhati hatilah dengan urusanmu sendiri, lalu tinggalkanlah perkara yang umum “ (HR Abu Daud dan Nasa’i)

          Nenek Guru mendirikan partai itu (Partai Cinta Damai) cuma ngetes murid2-nya doang, apakah mereka menjalankan HADAP (ke 1) apa tidak, cuma sampai disitu doang, yang keterusan berpolitik KASIHAN 😦

          Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
          “Barangsiapa mendengar (keluarnya) Dajjal hendaknya menjauh darinya. Demi Allah, sungguh ada seorang yang mendatanginya merasa dirinya beriman tapi kemudian mengikuti Dajjal dikarenakan syubhat-syubhat yang dilontarkan Dajjal.” (HR. Ahmad).

  2. belajar sufi on said:

    Subhanallaah.. pemaparan yg jelas masalah wahabi masalah sekuler masalah ulama yg tdk boleh berpolitik…islam jd statis d akhir zaman ini…bukankah islam rakhmatan lil’alamin…n untuk segala zaman …jangankan sesama manusia …dg ciptaan allah swt yg lain kt hrs berbagi kebahagiaan..sekarang para ulama banyak yg hanya mengutamakan dunia…dulu d sebut alim ulama sekarang d panggil para ulama….Ty SM

    • Di Arab Saudi, urusan Kerajaan tidak boleh dicampuri oleh ulama. Fatwa2 ulama hanya untuk orang awam saja.
      Kalau kerajaan perlu fatwa tinggal dipesan ke ulama.
      Sebenarnya zaman Orde Baru mirip spt itu juga, MUI didirikan thn 1976 untuk tujuan yg sama.

  3. nuril musthafa on said:

    menambah wawasan berpikir

  4. tasawuf bukan utk diperbincangkan,

  5. benar Bang SM, Tasauf menjadi perwarna di komonitas yang berbeda Tasauf cinta perdamaian .

  6. Innalillahi wainnailaihi raaji’un, dunia sudah diakhir zaman, kalo melihat kehidupan manusia di zaman skrg, hati ini rasanya ngeriii dan sedih bang, krn demi dunia, sebagian mrk rela menggadaikan imannya, nauzubillah. Smg kita semua dihindarkan dari fitnah dunia. Laa haula walaquwata ilabillah…..

  7. Hadewh… ujung2 nya yg Disindir Wahabi juga… inilah ulama yg tidak faham Agama… perbedaan di dalam islam itu adalah Rahmat.., wahabi kek. NU kek. Muhammadyah kek atau Parsi sama aja semasih yg diperdebatkan masalah Khilafiyah… persatuan Islam lebih pentig daripada omong kosong yg memecah belah Agama… mohon di buka Lagi surst Al An’am 259 agarlebih faham ya…

  8. Assalamualaikum abang SM, terimakasih atas tulisannya..
    Tulisan abang sungguh enak dibaca,..
    Tetep hati2 bang, karna fans kedua negara yang abang sebut diatas ‘selalu’ mengawasi abang.. Hehe 😀

    • Wa’alaikum salam wr. wb.
      Terimakasih.
      Tentu fokus saya menulis tentang tasawuf sebagai makanan utama, sekali kali membahas hal spt diatas ibarat makanan tambahan, sejenis rujak 🙂

  9. itulah mengapa pentingnya kita harus memilih pemimpin yang islam dan alim itu..

    • Ruslianto on said:

      Lho,.. Pemimpin yang islam dan alim yang mana ? TAU KAH anda TENTARA Kerajaan Saudi Arabia menyerang negeri Yaman ‘bertepatan’ dengan Bulan Haram, dan dalam Islam yang terang dan jelas DILARANG ALLAH BERPERANG pada bulan-bulan tersebut, Lihat Qur,an Surah At Taubah ayat 36.
      Dan {maaf] itu ber-arti anda kurang jeli memaknai artikel diatas. [Sekuler itu benar-benar terselubung].

      Wass.

    • Abangda…

      Saya pernah mengirimkan email pada Abang yang bertanya tentang kepemimpinan dalam islam.
      Saya sengaja tidak bertanya di forum ini karena kuatir pertanyaan saya itu menimbulkan debat kusir panjang…
      Tapi senada dengan artikel ini, izinkan saya ulangi pertanyaan di email itu…

      Di artikel “AHLI SILSILAH THAREQAT NAQSYABANDIYAH”, Abangda menulis:

      Ati’ullaha wa ati’ur rasula wa ulil amri minkum” (An-Nisa’ 59).

      Ta’atilah Allah dan Rasulullah serta para pemimpin kalian.

      Dengan mematuhi Rasulullah SAW, berarti kita mematuhi Allah . Oleh sebab itu jagalah agar Tuhan dan Rasulullah selalu berada dalam hatimu, dan bila kalian mematuhi gurumu, berarti kalian mematuhi Rasulullah SAW…

      Saya pahami bahwa yang dimaksud dengan ‘ulil amri minkum’ sebagai contoh, tidak lain adalah Wali Allah seperti Ayahanda Guru… karena hanya kepada Beliau, ketaatan memiliki nilai yang selevel dengan ketaatan kita kepada Allah dan Rasul Nya.

      Selain ayat di atas, ada beberapa ayat Alquran lain yang belakangan waktu ini jadi popular disebut-sebut orang…. terkait dengan politik pilkada,
      Ayat itu antara lain adalah:
      Ali Imron 28; An Nisa 144; Al Maidah 51, 57; At Taubah 23, dll..

      Secara umum terjemahan ayat-ayat itu memiliki kesamaan arti yang kurang lebih adalah: Allah melarang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin.

      Kesamaan lain dari ayat-ayat tersebut adalah Alquran menggunakan kata ‘Wali’ yang secara umum diterjemahkan menjadi ‘pemimpin’.

      Abangda,
      Pertanyaan saya, apakah menurut Abang kata Wali yang disebut dalam banyak ayat tersebut adalah juga Wali Allah sebagaimana Abang maksud dalam ayat An Nisa 59 di atas tadi?

      terima kasih, Abangda…

      • Mohon Maaf Bang Arkana krn emailnya blm saya balas krn udah lama gk buka email.

        Tentang makna “Wali” di ayat2 di atas menurut saya sama dgn yg di Surat Al Kahfi 17 yaitu Wali yang membimbing kepada Allah.

        Tafsir ini lebih tepat karena larangannya bersifat mutlak. Jangan sampai ummat ini menjadikan orang non Muslim (yahudi, nasrani, budha dll) sebagai Guru Spiritual atau pembimbing rohani.

        Jangan dijadikan Mursyid orang yang tidak jelas keimanannya krn akan terjebak di jalan sesat.

        Kemudian orang memaknai “Wali” di ayat itu sebagai pemimpin biasa (Raja, presiden, kepala daerah) itu wajar2 aja sama tafsir Waliyamursyida di surat al kahfi 17 di artikan pemimpin.

        Kenapa makna wali itu sebagai pemimpin rohani atau Wali Allah, sebab kalau diartikan pemimpin biasa akan berdosa orang2 Islam yg tinggal di negeri kafir.
        Zaman Nabi ada sahabat yg hidup di negeri2 yg pemimpinnya non muslim, brati mereka berdosa?

        Orang Muslim yang tinggal di Negeri yang pemimpinnya non Muslim wajar2 saja selama mereka masih diberi kesempatan beribadah dan tidak diganggu.

        Maka menurut saya pribadi kurang tepat kalau ayat2 tentang “wali” itu diartikan sebagai pemimpin biasa.

        Surat al maidah 51 ada juga yg menafsirkan berhubungan dgn pasca perang, dilarang orang2 Islam membelot berlindung kepada orang yahudi dan nasrani.

        Dizaman serba akhir ini (apalagi berhubungan dgn pilkada) begitu banyak tafsir dan fatwa mungkin saatnya kita berpedoman kepada nasehat Nabi, “…mintalah fatwa kepada hati mu”

        Inilah yang dilakukan orang2 sufi, meminta fatwa kepada hati di alam Muraqabah, tentu setelah hatinya lembut dan tenang melewati suluk demi suluk. Jika tidak melewati tahap ini maka fatwa dari hati tidak akan berlaku krn setan juga berfatwa dari hati manusia.

        Dan bertanya kepada “Ahli Dzikir” agar menemukan jawaban pasti. Ahli Dzikir tentu saja Guru Mursyid. Lewat “berlama lama” dalam Dzikir akan menemukan jawaban apapun yg tidak terpecahkan..

        Syukur alhamdulillah Bang Arkana telah berada disana, bersama Auliya Akbar…

        Demikian Bang Arkana, mohon maaf kalau uraian ini kurang lengkap dan kurang pas…

        • Abangda,

          Terima kasih atas penjelasan nya…dan terima kasih juga telah diingatkan hidayah Allah terbesar dalam hidup saya… “…Bang Arkana telah berada disana, bersama Auliya Akbar…”

          Saya tidak mendukung dan bukan partisipan siapa pun dalam pilkada di daerah saya….
          saya hanya merasa tidak terima dengan tindakan yg menyalahgunakan ayat ayat Alquran tadi untuk kepentingan politik…
          Itu akan semakin menjauhkan umat Islam dari para Wali Allah dan meniadakan keberadaannya…

  10. putra galunggung on said:

    semoga para ulama kita tetap menjadi pewaris kangjeng nabi,bukan beralih jadi mantan pewaris kangjeng nabi

  11. Berebut jalan yang lurus, KEBENARAN dalam lingkup PRESEPSI manusia namun saling memperebutkan karena tak ingin dianggap SESAT.

    Lebih baik mencari ILMU agar mampu mengatakan orang lain SESAT, dibanding mencari ILMU agar dirinya tak tersesat..!!!

    • “Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa KEBENARAN; siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri, dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian) dirinya sendiri” (Az Zumar;41)

      karena banyak juga yang membaca Al-quran (untuk mencari petunjuk) tapi
      ketika diberi (ketemu) petunjuk-Nya;

      Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari Al Quran ketika Al Quran itu datang kepada mereka, (mereka itu pasti akan celaka), dan sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. (Fushilat;41)

      Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.
      (Al Qashash;56)

  12. izin share gan

  13. Andi Hakim on said:

    Saya setuju dgn pemaparan artikel ini, krn Islam melingkupi seluruh aspek kehidupan, termasuk politik.
    Saat ini kondisi negeri Rajawali ini, mngkin sdh masuk siaga 1 ,, saat ini, sdkit demi sdikit pergerakan dari para tasawuf dan tarekat akan dimulai, utk menegakkan pondasi dan mengembalikan negeri ini ke jalurnya, sesuai dgn amanah.
    Pada saatnya nanti semoga saya mendapatkan kesempatan utk ambil bagian dlm perjuangan tersebut.

    Amin Allahuma Amin,
    Laa hawula wala quwwata illa billah
    Alhamdulillah

  14. Ping-balik: SEKULER VS SEKULER TERSELUBUNG DALAM TERIAKAN NYARING: “Ulama Jangan Berpolitik” (2) | (ASSUFIMED) Beranda Sufi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: