Tasauf

Pendapat Imam Al Ghazali Tentang Pentingnya Mursyid

Bergabung dengan kalangan sufi adalah fardhu ‘ain. Sebab tidak seorangpun terbebas dari aib dan kesalahan kecuali para Nabi. (Imam Al-Ghazali)

 

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi’I dikenal dengan nama Imam al Ghazali lahir tahun 450 H/1058 M di propinsi Khurasan Irak. Beliau mempunyai daya ingat yang kuat dan bijak dalam berhujjah sehingga digelar sebagai hujjatul Islam. Diantara banyak karya tasawuf yang beliau karang yang sangat terkenal sampai sekarang adalah Ihya Ulumuddin (Kebangkitan ilmu-ilmu Agama).

Imam al Gahazali pada mulanya bukanlah pengamal tasawuf bahkan beliau tidak begitu mempercayai penomena-penomena kekeramatan yang di alami oleh orang-orang shaleh sampai Allah memberikan petunjuk kepada beliau sebagai mana yang beliau ceritakan berikut yang kami kutip dari buku Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf :

Pada awalnya aku adalah orang mengingkari kondisi spiritual orang-orang shaleh dan derajat-derajat yang dicapai oleh para ahli makrifat. Hal ini terus berlanjut sampai akhirnya aku bergaul dengan Mursyid-ku, Yusuf an Nasaj. Dia terus mendorongku untuk melakukan mujahadah, hingga akhirnya aku memperoleh karunia-karunia ilahiyah. Aku dapat melihat Allah dalam mimpi. Dia berkata kepadaku, “wahai Abu Hamid, tinggalkanlah segala kesibukanmu. Bergaullah dengan orang-orang yang telah Aku jadikan tempat untuk pandangan-Ku di bumi-Ku. Mereka adalah orang-orang yang menggadaikan dunia dan akhirat karena mencintai Aku.” Aku berkata, “Demi kemulyaan-Mu, aku tidak akan melakukannya kecuali Engkau membuatku dapat merasakan sejuknya berbaik sangka kepada mereka.” Allah berfirman, “Sungguh Aku telah melakukannya. Yang memutuskan hubungan antara engkau dan mereka adalah kesibukanmu mencintai dunia. Maka keluarlah dari kesibukanmu mencintai dunia dengan suka rela sebelum engkau keluar dari dunia dengan penuh kehinaan. Aku telah melimpahkan kepadamu cahaya-cahaya dari sisi-Ku Yang Maha Suci.” Aku bangun dengan penuh gembira. Lalu aku mendatangi Syekh-ku, Yusuf an Nasaj, dan menceritakan tentang mimpiku itu. Dia tersenyum sambil berkata, “Wahai Abu Hamid, itu hanyalah lembaran-lembaran yang pernah kami peroleh di fase awal perjalanan kami. Jika engkau tetap bergaul denganku, maka matahati mu akan semakin tajam.”

Pengalaman Imam Al Ghazali berjumpa dengan Allah dalam mimpi atas bimbingan Guru Mursyidnya menyebabkan beliau sangat yakin dengan ilmu tasawuf yang selama ini tidak menjadi perhatiannya. Pengalaman yang tidak pernah Beliau alami sebelumnya walaupun telah hapal Al Qur’an, ribuan hadist dan berbagai karya ulama-ulama besar. Dan dari keterangan Guru Mursyid beliau ternyata perjumpaa dengan Allah dalam mimpi yang dialami oleh Imam Al Ghazali itu hanyalah fase awal dari perjalanan rohani. Tentu saja pengalaman-pengalaman spiritual yang dialami oleh Imam al Ghazali bisa juga dialami oleh orang lain asal memenuhi rukun dan syaratnya.

Imam al Ghazali berpendapat bahwa sangat penting bagi seseorang yang menempuh perjalan rohani mempunyai seorang Guru Mursyid yang membimbing agar tidak tersesat sebagaimana yang beliau kemukakan :

“Di antara hal yang wajib bagi para salik yang menempuh jalan kebenaran adalah bahwa dia haru mempunyai seorang Mursyid dan pendidikan spiritual yang dapat memberinya petunjuk dalam perjalanannya, serta melenyapkan akhlak yang tercela. Yang dimaksud pendidikan di sini, hendaknya seorang pendidik spiritual menjadi seperti petani yang merawat tanamannya. Setiap kali melihat batu atau tumbuhan yang membahayakan tanamannya, maka dia langsung mencabut dan membuangnya. Dia juga selalu menyirami tanamannya agar dapat tumbuh dengan baik dan terawat, sehingga menjadi lebih baik dari tanaman lainnya. Apabila engkau telah mengetahui bahwa tanaman membutuhkan perawat, maka engkau akan mengetahui bahwa seorang salik harus mempunyai seorang mursyid. Sebab Allah mengutus para Rasul kepada umat manusia untuk membimbing mereka ke jalan lurus. Dan sebelum Rasulullah SAW`wafat, Beliau telah menetapkan para Khalifah sebagai wakil Beliau untuk menunjukkan manusia ke jalan Allah. Begitulah seterusnya, sampai hari kiamat. Oleh karena itu, seorang salik mutlak membutuhkan seorang Mursyid.”

Menurut Imam al Gahazali, pada umumnya manusia tidak bisa melihat penyakit-penyakit jiwa mereka sendiri kecuali orang-orang yang telah terbuka hijabnya dan telah tercerahkan lewat bimbingan Mursyid. Seseorang hanya dapat melihat korotan saudaranya tapi dia tidak bisa melihat kotorannya sendiri. Seorang Mursyid atas karunia Allah mengetahui penyakit-penyakit hati manusia. Oleh karenanya kata Imam Al Ghazali apabila menusia ingin mengetahui penyakit-penyakit jiwanya hendaknya dia duduk dihadapan Mursyid yang mengetahui penyakit-penyakit jiwa  dan menyingkap aib-aib yang tersembunyi. Dia harus mengendalikan hawa nafsunya dan mengikuti petunjuk Mursyidnya itu dalam melakukan mujahadah. Inilah sikap seorang murid terhadap mursyidnya atau sikap seorang pelajar terhadap gurunya. Dengan demikian, Mursyid atau gurunya akan dapat mengenalkannya tentang penyakit penyakit yang ada dalam jiwanya dan cara mengobatinya.

Zaman sekarang orang menyibukkan diri dengan mempelajari ilmu-ilmu yang tidak berhubungan dengan dirinya sendiri dan melupakan tentang ilmu mengenal diri. Tasawuf adalah ilmu untuk penyucian hati dan ilmu untuk mengenal diri agar bisa mengenal Tuhan. Tasawuf bukan sekedar ilmu yang dibaca dan dihapal lalu dipraktekkan menurut selera masing-masing. Tasawuf pada intinya adalah ilmu kerohanian yang membutuhkan seorang Master yang ahli untuk membimbing manusia kepada Tuhan. Dialah Mursyid yang bukan hanya mengatakan bahwa Allah itu Esa dengan segala sifat-sifat-Nya tapi juga bisa mengantarkan muridnya langsung bertemu dengan Allah sebagaimana pengalaman Imam Al Ghazali diantarkan kehadirat Allah oleh Guru Mursyidnya.

Saya selalu bersyukur kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya yang tidak terhingga dengan diperkenalkan saya dengan salah seorang Auliya-Nya. Beliau lah yang membimbing saya kehadirat Allah SWT menemukan cahaya dalam kegelapan hati. Tanpa Mursyid, sungguh saya hanyalah seorang hamba baca yang merasa tahu tanpa bisa merasakan apa-apa.

Semoga Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim akan selalu mengekalkan kita dalam karunia-Nya bersama dengan kekasih-Nya di muka bumi, memberikan kesempatan untuk terus menyaksikan keindahan wajah-Nya, mengizinkan kita untuk terus mendengar firman-Nya yang Maha Menggetarkan. Semoga!

 

 

208 Comments

  • asep

    Bergabung dengan kalangan sufi adalah fardhu ‘ain. Sebab tidak seorangpun terbebas dari aib dan kesalahan kecuali para Nabi. (Imam Al-Ghazali)

    Pendapat tersebut diatas sangat kontradiksi dengan Ithrah Ahlulbait Nabi saw yang disucikan dalam QS Al Ahzab : 33

    Wassalam

  • hati-hati

    @tolong

    1. Hanya Rasulullah SAW yang pernah bertemu dgn Allah SWT. Yang lain tidak. Jika engkau bertemu dengan sesuatu, itu bukanlah Allah, itu syaitan atau jin yang coba menipumu!!

    Kita hanya bisa menjumpai Allah jikalah kita telah di syurga sana (kalau dgn rahmat Allah kita dimasukkan-Nya ke syurga).

    2. Hah?!?! Shalat itu jelas-jelas Allah perintahkan. dari mana sodara mendapat pengajaran bahwa sholat itu sama sekali tidak diperintahkan?!?!

    shalat itu adalah rahmat Allah yang sangat besar untuk umat Rasulullah SAW!!! Shalat itu adalah mikrajnya orang mukmin. shalat adalah waktu kita bercakap-cakap dengan Tuhan. Tuhan beri kita shalat agar kita bisa berhubung langsung dengan-Nya!! Besarnya kasih sayang Tuhan pada kita dengan memberi shalat.

    Shalat itu tujuannya adalah untuk melahirkan rasa hamba. Sifat hamba ini contohnya: rasa tidak ada punya kuasa melainkan pertolongan dari Allah, rasa gentar kepada Allah, rasa cinta pada Allah, rasa hina dihadapan Allah, rasa ingin mendapatkan kasih sayang dan rahmat Allah, dan lain sebagainya.. dari rasa hamba inilah sebagai buahnya melahirkan akhlak-akhlak mulia nan sejati di dalam diri manusia.

    Diakhirat nanti, shalatlah yang ditanya lebih dahulu!! Jika shalat ditolak, amalan lain yang menggunung skalipun tidak ada gunanya!!!

    Shalat itu tiang agama, siapa yang tidak shalat meruntuhkan agama!!

    Shalat itu juga menghapuskan dosa, membaharui ikrar, menguatkan iman, mendekatkan hati pada Allah, meningkatkan taqwa dan mengelakkan diri dari perbuatan keji dan mungkar. Itulah keuntungan shalat di dunia dan di akhirat Allah menganugerahkan pahala syurga yang penuh kenikmatan.

    Merasa takut kepada neraka, mengharapkan surga Allah itu adalah amalan bathin yang kita DIPERINTAHKAN untuk melakukannya! sesat darimana?!? yang tidak takut akan neraka Allah, yang tidak mengharap surga Allah itu yang tersesat!

    3. Tuhan adalah segala-Nya.
    kehilangan Tuhan berarti kehilangan segala-Nya.
    Dapat Tuhan berarti dapat segala-galanya.
    Siapa yang menghindarkan engkau dari mara bahaya?
    siapa yang memberi makan ketika lapar?
    siapa yang menyembuhkan ketika sakit?
    siapa yang melindungi kita dari kesusahan?
    tiap tarikan nafas Dia yang punya.
    tiap detikan hati Dia yang punya.
    Apa yang tidak dalam kuasa Tuhan??

    Mengapa manusia hidup?
    Hanya untuk mengabdi kepada Tuhan…

  • Didiet513

    @Mas hati hati
    Hati hati jawab point 1, kita memang bisa jumpa Allah disyurga dengan kebesaran rahmat-Nya tapi bukan berarti tempat jumpa Allah di syurga.

    Trus untuk point 3, yang ditanyakan sama Mas Tolong, “apa yang kita cari terhadap Tuhan” maka sudah pasti pertanyaannya bukan “untuk apa Tuhan menciptakan manusia?”

    wassalam

  • ajak-ajak

    @tolong
    Ma’af sebelumnya.
    Kalau boleh saya sharing sedikit yang saya tahu
    1. – Allah lebih dekat dari urat leher kita
    – Allah ada di dalam diri mukmin yang sejuk dan tenang
    – Allah ada dimana-mana
    – Lihatlah ke timur dan ke barat, wajah Allah ada disana
    – dll. dll.
    Kata hati-hati:
    Hanya Rasulullah SAW yang pernah bertemu dgn Allah SWT.
    sampai sini saya setuju.
    Para sahabat pun kalau mau bertemu Allah ya harus melalui rasulullah SAW dulu sebagai mursyid mereka. Sebagaimana Jibril yang mengantarkan Rasulullah SAW menghadap Allah, Rasulullah lah yang mengantar para sahabat bertemu Allah SWT. Allah pun berkenan karena yang bawa mereka kekasihNYA, orangNya, channelNya dimuka bumi. Seluruh manusia yang mau bertemu dengan Allah di dunia, tentunya harus melalui kekasihNYA/channel NYA dulu.
    Allah Maha SUCI, kita maha hina.
    “Besertalah dengan Allah. Atau besertalah dengan orang yang beserta dengan Allah (KekasihNYA), dialah yang akan menyampaikan mu padaNYA”.

    2. Sholat itu tiang agama. Kalau kita hendak beragama secara kokoh dan berkeyakinan kuat, sholatlah amalannya. Kalau sholatnya tidak sempurna, beragamapun tidak kaffah. Sholat yg bagaimana? ‘sholatlah seperti aku sholat’ kata Baginda nabi SAW.
    LAHIR BATIN.
    Kalau cuma lahirnya saja (gerakan dan bacaan sholat saja), anak kecil yg di bangku SD atau SMP pun bisa. Tapi Imam Ghozali (kalau tidak salah) baru bisa sholat sempurna setelah 40 tahun. Berarti setelah sempurna solat lahir, kita perlu menyempurnakan sholat bathin kan. Bagaimana? Ya mencontoh nabi.
    Apa ibadah Nabi dan para sahabat sebelum menerima perintah sholat? Kalau sudah ketemu dan bisa menjalankan dengan baik, barulah sholat kita terasa lahir-batin. Dan itupun kita lakukan semata2 karena disuruh ALLAH, untuk menggapai ridhaNYA. Sebagai hamba, tentunya sudah menjadi tugas kita untuk mengerjakan yang disuruh majikan.

    3. Yang kita cari terhadap Tuhan adalah ridhaNya. Itu saja. Bukan agar terhindar dari neraka atau supaya bisa masuk syurga.
    Gimana cara menggapainya? Allah sendiri yang membuat aturan main didalam Al Quran dan dijelaskan melalui sunnah kekasihNya Muhammad SAW dan diteruskan oleh wali-waliNYA hingga akhir zaman.

    Mudah2an bisa membantu

    Salam

  • ajak-ajak

    @hati-hati
    di point 1 anda menyatakan :
    Hanya Rasulullah SAW yang pernah bertemu dgn Allah SWT. Yang lain tidak. Jika engkau bertemu dengan sesuatu, itu bukanlah Allah, itu syaitan atau jin yang coba menipumu!!

    Kita hanya bisa menjumpai Allah jikalah kita telah di syurga sana (kalau dgn rahmat Allah kita dimasukkan-Nya ke syurga).
    ————

    sementara di point 2 anda menyatakan:
    Shalat itu adalah mikrajnya orang mukmin. shalat adalah waktu kita bercakap-cakap dengan Tuhan. Tuhan beri kita shalat agar kita bisa berhubung langsung dengan-Nya!
    ———-

    Anda sendiri yang menyatakan sholat itu mikrajnya mukmin, bukannya hanya mikrajnya Nabi.

    Kalau seorang yang mengaku mukmin tidak mikraj saat sholat, apakah berarti dia belum mukmin, atau dia belum sholat?
    Bagaimana seorang mukmin bisa mikraj saat sholat? Kalau menurut saya ya harus sama seperti Nabi.

    Setahu saya mikrajnya Nabi itu ya menghadap Allah, bertemu Allah. Prosesnya, dihantarkan oleh Jibril (channel NYA, selaku Mursyidnya Nabi Muhammad waktu itu) setelah sekian lama belajar bermunajat kepada Allah (sholat belum ada).
    Setelah Nabi mikraj, barulah Beliau mengajarkan dan mengantarkan para sahabat agar bisa mikraj disaat sholat.
    Artinya para sahabat pun bisa bertemu dengan Allah didunia.

    Tapi teteup, harus melalui channel Nya.
    Semoga berkenan dan bisa membantu.

    Salam

  • hati-hati

    Bingung ya….

    Karena hal inilah, belajar agama itu harus ada guru (Mursyid). Kalau mau diterjemahkan sendiri kata-kata Rasulullah SAW, 1000 orang bisa 1000 pendapat…. Kalau ada guru mursyid, dia bisa menerangkan semuanya.

    Anta telah bertareqat??

    Anda seorang ahlussunnah wal jamaah? Dalam Aqidah ahlussunnah wal jamaah, semua yang anda bilang diatas, tidak seperti itu adanya. Rasulullah SAW bilang shalat itu mi’rajnya orang mukmin bukan berarti sama dengan mi’rajnya Rasulullah. Rasulullah ucap seperti itu untuk menunjukkan betapalah shalat itu sangatlah penting dan utama. Karena diwaktu shalat itu kita sama saja dengan bercakap-cakap dengan Tuhan. Lihatlah arti bacaan shalat itu.

    Kata-kata orang sufi bisa diterjemahkan salah oleh orang yang tidak mengerti sufi. Mereka bilang bertemu Allah bukan berarti benar-benar bertemu dalam artian yang sebenarnya sperti 2 orang yang bertemu. Orang yang telah ‘sampai’ kepada Allah bukan berarti dia telah sampai di suatu tempat dimana Allah berada. (Allah juga tidak bertempat). Semua ini bersifat maknawi.

    Jadi untuk mempelajari ilmu tasawuf, Ilmu Aqidah/tauhid/usuluddin harus telah mantap dahulu agar tidak salah-salah mengartikan ini dan itu.

    Pokoke panjang ceritanya nih. Saya punya referensi bagus bagi sodara tuk banyak bertanya-tanya. coba anda buka http://kawansejati.ee.itb.ac.id atau http://ikhwantoday.com atau untuk soal Aqidah ahlussunnah wal jamaah coba sodara baca di http://ikhwan-global-locus.info/?module=aqidah atau bisa baca buku Aqidah ahlussunnah wal jamaah karangan Sirajudin Abas.

    Di 2 website awal diatas, sodara bisa bertanya pada mereka.

    mohon maaf jika saya kurang bisa menjawab/menjelaskan.

  • hati-hati

    @ajak-ajak

    Islam itu:

    1. Tauhid(Aqidah/usuluddin)
    2. Syariat (feqah)
    3. Tasawuf

    Ketiga-tiganya adalah satu kesatuan. jika hanya tasauf saja, bukan islam namanya. jika hanya syariat saja, bukan Islam. Jika hanya tauhid saja, atau hanya 2, ketiga-tiganya tidak diambil, itu bukanlah Islam. dalam mengamalkan Islam ketiga-tiganya harus dilaksanakan serentak.

    perkara yang sodara bahas ini adalah perkara aqidah. Imam ghazali, Imam Syafi’ie, Imam Hanbali, Imam Maliki, Imam Hanafi beraqidah ahlusunnah waljamaah, atau bermahzab Imam Abu Hasan Ashaari di bidang Tauhid/Aqidah/Usuluddin.

    Menurut aqidah ahlusunnah waljamaah, yang pernah bertemu Allah itu hanya Rasulullah SAW. Jika Rasulullah mengatakan mi’raj orang mukmin ketika shalat, bukanlah maknanya bertemu secara lahiriah dengan Allah. Namun mi’raj disini artinya seorang mukmin itu benar-benar merasakan Allah melihatnya (ihsan). Sehingga seorang mukmin itu seolah-olah mi’raj bertemu dengan Allah.

    Jika anda berpendapat berbeda (ikut aqidah selain aqidah wal jamaah atau belum mengetahui perkara-perkara diatas) dan ingin mengetahui lebih lanjut, cobalah anda cari buku pegangan ahlussunnah waljamaah yang mengikut pada Imam Abu hasan Al Asyaari.

    Semua pertanyaan Anda akan terjawab.

    Tuk bang sufi muda,

    sebanarnya perkara-perkara tasauf ini tidak bisa hanya diceritakan dari satu sisi, tasauf saja. Sebaiknya bang sufi muda juga tak ketinggalan membahas tauhid dan syariat.

    Dengan begitu semuanya jelas. Jika ada yang bingung karena belum mengetahui, semua ada jawabannya di bab tauhid ataupun feqah. Jika ada yang mencoba menentang (tidak setuju lantaran bukan berpegang pada ahlussunnah wal jamaah), pertanyaan mereka akan lebih mudah dijawab karena mereka pertentangkan itu adalah perkara yang jelas didalam ahlussunnah waljamaah.

  • tolong

    @mas hati-hatipoint 1.sepertinya anda ingin mengatakan kepada saya bahwa seorang hamba akan berjumpa tuhannya apabila masuk surga, yang masuk neraka tidak akan berjumpa dengan tuhan, kalau memang demikian dimana letak keadilan Tuhan..? padahal yang masuk neraka juga adalah mahluk ciptaan-Nya.dan saya pun yakin, kalau Allah menghendaki didunia pun kita bisa berjumpa dengan-Nya.(tidak harus di surga seperti apayang anda katakan..)point 2.tentang sholat,kalau anda meyakini bahwa sholat adalah perintahNya, saya bisa menebak bahwa sodara mengkaji kitab suci Al-quran hanya melalui artinya saja, tanpa makna.begini saja..maaf sebelumya, lebih baik anda lebih dahulu mengetahui arti dari surat Al-Baqarah ayat pertama ” Alif Lam Mim” dan kemudian pelajarilah maknanya, apabila anda sudah mengetahuinya saya yakin anda akan mempunyai keyakinan seperti saya.”sholat sama sekali tidak merupakan perintah-Nya..dan apabila anda meninggalkan sholat, sangatlah besar kerugian yang akan anda terima..”saya bertanya lagi..pada sodara,pada saat anda mendirikan sholat, Allah yang mana yang anda sembah..hati-hati, sholat yang maknanya belum diketahui akan menimbulkan kesesatan..ingat “Sholat karena sorga adalah sesat..takut masuk neraka karena tidak sholat juga sesat..”point 3.saya sependapat dengan sodara Ajak-ajak,sepertinya Sodara Ajak-ajak ini sudah mengetahui apa yang saya maksud.hanya RIDHA NYA saja yang kita cari dari Allah. bukan sorganya Allah..karena sorga adalah balasan atau janji Allah..begitu pula dengan nerakanya Allah.

    ” Semoga kita termasuk golongan hamba yang di ridhoi-Nya. Amin..” 

  • Didiet513

    @Mas hati hati……. tu khan makanya hati-hati. Saya udah curiga, ternyata benar aja, Mas Tolong ini cuma mau nguji orang lain aja.
    Hehehehe……… ati-ati

    wassalam…….

  • tolong

    mohon petunjuk lagi..

    sekarang tentang Sorganya Allah..”

    ada yang tau ngga’ kira2 nikmat sorganya Allah itu seperti apa..
    dan bagaimana sih, kehidupan di sorga itu..

    mohon petunjuknya..

    “semoga kita termasuk golongan hamba yang di ridhoi-ya. Amin..”

  • hai-hati

    @tolong

    Saya mengikut pada l’tiqad Ahlussunnah wal jamaah. Sepertinya anda bukan orang ahlussunnah waljamaah?. Maaf saja, semua point-point yang anda sebutkan itu bersalahan dengan i’tiqad ahlusunnah wal jamaah. Saya tidak akan berdebat dengan anda.

    Jika anda bertanya dengan maksud ingin lebih mengetahui bagaimana menurut i’tiqad ahlussunnah wal jamaah tentang perkara-perkara diatas, saya atau mgkin rekan-rekan yang lebih faham dan mantap ilmunya akan berusaha memenuhi keingintahuan anda.

    Saya ini memang masih saaaangat kurang ilmu. Terima kasih sekali kedatangan sodara telah mengingatkan saya tuk terus menggali ilmu fardhu ‘ain ini.

    Tentang kehidupan surga, setahu saya banyak diceritakan di quran, terutama QS al waqi’ah (apakah saya benar?). Keliatannya sodara lebih paham quran daripada saya. saya heran kenapa sodara bertanya? mgkin benar kata mas didiet513.

    wassalam.

  • adefadlee

    @ Bung tolong
    1.Dalam mendalami ilmu agama, kita harus punya guru.Tidak bisa kita kaji-kaji sendiri menurut akal fikiran kita, karena akal kita ini terbatas, ada perkara yang rumit yang akal kita tidak mampu menelaahnya, karena itu dalam dalam Islam ada 3 Ilmu yang wajib dipelajari, yaitu ilmu tauhid, ilmu tasawuf,dan ilmu feqah/syariat.

    2.Amin.dan semoga kita pun jadi hamba yang redha dengan segala ketentuan ALLAH SWT kepada kita. tentang syurga Allah, di Al-Quran sudah banyak ALLAH ceritakan tentang syurga ALLAH. Mula-mula
    kita bandingkan nikmat dunia dan Akhirat.
    1. Rumah
    Rumah yang kita idam-idamkan di dunia, paling besar ada 2000 buah mungkin sebesar Istana Raja Brunei yang bilik. Dibuat dari batu-bata dengan hiasan marmar dan rumah di Akhirat yang ALLAH,
    beratap genting. Tetapi sediakan untuk orang-orang yang bertaqwa ialah mahligai
    emas, permata, seluas langit dan bumi, dibuat daripada cahaya, atapnya intan berlian
    dinding berkilau-kilauan yang tidak terkata indahnya dan nikmat berada
    di dalamnya. Di dunia, sebuah kota itu adalah kepunyaan saja memiliki bersama tetapi di Akhirat, seorang berpuluh-puluh buah kota. Peralatan-peralatan dalam rumah pula yang kita gila
    gilakan di dunia ialah kasur empuk, kursi empuk, tv, lemari es dua pintu, mobil mahal, karpet tebal,mewah, pinggan mangkuk moden dan bermacam-macam lagi. Manakala di Akhirat, rumah dilengkapi dengan Kasur, permata, hiasan sutera halus buatan Akhirat,lain-lainnya, yang
    sungguh indah dan mempesonakan. Sembilan puluh sembilan kali lebih canggih dari buatan dunia yang mudah rusak itu.
    Peralatan mewah di Akhirat tidak akan rosak dan musnah. Bahkan makin dipandang semakin cantik, semakin terasa nikmat. Sekali pandang lain cantiknya, dua kali pandang, lain pula cantiknya. Pandang kali ketiga, lain pula cantiknya. Demikianlah kalau 1001 kali pandang, maka 1001 kalilah pula cantiknya. Dan lagi, tidak akan jemu bila menggunakannya dan juga tidak akan rusak untuk selama-lamanya. Sedangkan perhiasan dunia itu baru setahun sudah bosan, masuk dua tahun sudah mulai
    rusak.

    lebih lengkap nya nanti saiya posting di blog saya.Wassalam

  • Didiet513

    Ass wr wb

    Kata sebuah hadits yang pernah saya baca bahwa ketawa itu bisa melepaskan keimanan seseorang karena ketawa bisa membuat orang lupa dengan Allah (lepas Dzikrullah).

    Tapi saya mau ketawa sambil dzikrullah dulu ah……..

    Hahahahah……….heheh…………hihihi………!!

    Memangnya ada yang lucu?? Barangkali, terlebih buat saya. Makanya saya mau cek sekali lagi judul diatas…….

    “Pendapat Imam Al Ghazali Tentang Pentingnya Mursyid”

    ya……..ya…. judul inilah membuat saya tertawa. Judulnya tidak salah, semua commentnya bagus. Tapi dimulai dari 3 buah pertanyaan dari Mas @lanang, mendadak saja alur fokus berbalik (terserah berapa derajat). Terjebak dalam adu argumen yang tidak menyentuh judul dan isi diatas.
    Membaca postingan kayak begini sungguh membosankan jadi.

    Mohon ma’af kepada semuanya kalau tidak berknan dihati…

    Wass wr wb

  • adefadlee

    Pernyataan bung ajak-ajak:
    _______________________________________________
    – Allah lebih dekat dari urat leher kita
    – Allah ada di dalam diri mukmin yang sejuk dan tenang
    – Allah ada dimana-mana
    – Lihatlah ke timur dan ke barat, wajah Allah ada disana
    – dll. dll.
    _______________________________________________

    Jangan dibayangkan secara fisik. ALLAH itu tidak mengambil tempat dan waktu seperti makhluknya (jisim). Karena tempat dan waktu itu sendiri adalah ciptaan ALLAH. Mustahil ALLAH sama dengan maklhluknya. Kalau ALLAH ada dimana-mana, JANGAN pula diartikan ALLAH itu BANYAK. maksudnya adalah, Pandangan dan Pendengaran ALLAH itu tidak ada batasnya, sehingga dimana pun KITA berada, ALLAH selalu mengawasi kita. Sehingga sepatutnya muncul rasa malu dan takut pada diri kita atas Kuasa ALLAH.

    Belajar Tauhid yang benar, semakin kita belajar, semakin kita tidak tahu bagaimana zat ALLAH itu. MAKA, CARA MENGENAL ALLAH ADALAH MELALUI SIFAT-SIFATNYA.

  • adefadlee

    @ Mas Tolong
    1. saya meyakini bahwa tuhan itu ada, dilihat dari keyakinan saya terhadap diri saya, namun dimanakah saya akan menjumpai tuhan saya?
    ==> Setiap Makhluk pasti akan bertemu dengan ALLAH, tapi itu selepas kita mati. Di dunia ini, yang kita perlukan adalah Rasa BerTuhan, yaitu:
    – Kita rasakan Tuhan itu penjaga kita
    – Kita rasakan Tuhan itu Maha Berkehendak sehingga kita ini tidak ada apa-apa, melainkan dalam genggamannya
    – Kita rasakan bahwa Tuhan itu pembela dan Pemyelamat Kita
    – Rasa-rasa ini yang akan mendorong kita merasa kuat dengan-Nya, karena Pelindung dan Pembela kita itu Maha Gagah dan Maha Perkasa
    – dengan rasa-rasa ini, walaupun pangkat kita tinggi dan kaya, kita akan merasa semua makhluk sama saja dengan kita. Tidak mempunyai daya dan kuasa apa-apa. Di hadapan Tuhan sama saja.
    – Dengan rasa-rasa inilah, baru kita tegas dan berani menegakkan kalimah dan syariat ALLAH, itulah perlunya rasa Bertuhan

    RASA BERTUHAN INI LEBIH MUDAH KITA DAPATKAN KALAU KITA BERTAREQAR DAN MEMPUNYAI GURU MURSYID.

  • ajak-ajak

    @kang adefadlee

    Pemahaman kita sudah sama kok. Saya mau tambahkan sedikit
    Belajar Tauhid yang benar, semakin kita belajar, semakin kita MENGENAL bagaimana zat ALLAH itu. MAKA, CARA MENGENAL ALLAH ADALAH MELALUI SIFAT-SIFATNYA.
    Dan melalui KekasihNya.

  • ajak-ajak

    @kang adefadlee
    Mohon ma’af sebelumnya mengkomentari uraian akang ke mas Tolong.

    Memang sedari kecil sampai saya kuliah, demikianlah pengenalan rasa berTuhan kata orangtua, ustad, kiyai, dsb.
    Dan bahkan uraian diatas juga pernah saya dapatkan dari diskusi dengan kawan saya yang beragama nasrani dan atheis (tidak beragama, bukannya tidak berTuhan).
    Malah saya pun sempat merasa semi-Atheis karena Yakin seyakin-yakinnya akan keberadaan Allah, tapi ibadah ala Islam yang saya jalankan terasa hampa. Sebab hampir semua konsepnya juga ada di agama lain, hanya berbeda dalam teknisnya saja (saya tetep percaya Islam sebagai peyempurna agama2 terdahulu)

    kang ade menekankan:
    RASA BERTUHAN INI LEBIH MUDAH KITA DAPATKAN KALAU KITA BERTAREQAR DAN MEMPUNYAI GURU MURSYID,
    Saya SANGAT – SANGAT setuju. Dan menurut logika saya memang begitulah seharusnya.

    Setelah bertemu Guru Mursyid, barulah saya dibimbingnya memahami rahasia semua ibadah dalam Islam. Barulah saya dituntunnya merasakan nikmatnya Sholat, puasa, sedekah, zikir, dan ibadah2 lain. Barulah saya ditunjuki cara membedakan yang haq dengan Bathil, Barulah saya dihantarkan sampai kehadirat ALLAH SWT didunia ini.

  • tolong

    Untuk Bung adefadlee..

    terima kasih banyak sebelumnya karena sudah membantu saya untuk mengenali sorganya Allah,

    bung ade f,
    mohon petunjuk lagi,

    apakah di dalam sorga itu, manusia tidak ada yang sakit, miskin, merana,atau pun melarat..?

    mohon petunjuknya..

  • tolong

    untuk Bung Didiet513,

    mohon maaf sebelumnya,

    mengenai tema,

    “Pendapat Imam Al Ghazali tentang pentingnya Mursyid ”

    dan tentang koment saya terhadap tema diatas
    mungkin anda benar..mungkin juga anda salah..
    kembalikan lagi kehati nurani sodara..

    apasih tujuan tema diatas..mengapa Imam Al Ghazali menekankan Pentingnya Mursyid,
    saya yakin anda sudah tau.

    tentang koment saya, bukankah salah satu cara untuk mengenal Allah adalah dengan cara mempelajari dan mengenali segala ciptaan-Nya.
    termasuk sholat, sorga dll..

    kalaupun saya banyak bertanya, mohon maaf sbb ilmu agama saya sangatlah dangkal.

    terimakasih kepada anda atas kritiknya, semoga kita semua di berikan penerangan hati untuk meniti jalan kesisi-Nya dan selalu diridhoi..amin.

  • adefadlee

    @bung tolong
    Jawabannya:
    di dalam sorga itu, manusia TIDAK ADA yang sakit, miskin, merana,atau pun melarat..Semuanya diberi kesehatan, kecatikan, ketampanan yang abadi dan kekayaan yang melimpah ruah sebagai kasih sayang dan rahmat dari ALLAH SWT.

    Kalau sakit di dunia, masih banyak rumah sakit untuk mengobati sakit-sakit ringan apalagi sakit berat. Sebab orang sangat takut dengan berbagai penyakit.

    Maka Sepatutnya kita sangat berhati hati dengan sakit di Akhirat. Karena di sana tidak ada Rumah Sakit lagi. Sedangkan sakitnya maha dahsyat dari yang sakit terhebat yang pernah kita rasakan di dunia ..

    Waliyazubillah

  • adefadlee

    @bung tolong
    tentang perkara masuk syurga, sudah saya posting di blog saya:
    http://adefadlee.wordpress.com/2009/02/16/masuklah-syurga-dengan-rahmat-allah/

    pertanyaan mas tolong:
    2. sebenarnya makna sholat itu apa?
    ==> Ini sebenarnya memerlukan jawaban yang panjang ringkasnya:
    – dalam ssolat, kita menyuburkan rasa kehambaan kita. Kita harus rasa kita memohon dan meminta, merendah diri dan menghina diri di hadapan Tuhan, Dengan rasa-rasa inilah perangai kita bisa berubah
    – dengan sholat kita diingatkan bahwa Tuhan lah yang menjadikan kita. Tuhan yang menentukan rezeki kita. Tuhan yang mentakdirkan kita miskin atau kaya. Yang menentukan senang dan susah di sepanjang hidup kita.
    – Sholat adalah pertemuan resmi dengan RAJA SEGALA RAJA. Ibu segala Ibadah,Ibadah resmi dari ALLAH kepada hamba-hambanya seluruhnya. patutnya kita rasa takut, tapi kita ini lebih takut bertemu dengan raja dari kalangan manusia daripada bertemu dengan RAJA DARI SEGALA RAJA.
    – Kebaikan seorang hamba itu bertitik tolak dari sembahyangnya, jika sholatnya baik lahir dan bathinnya. Apa logikanya, jika seseorang berhadapan dengan Tuhan saja tidak takut, tidak ada rasa tawadhu;, rasa cinta dan kasih sayang, bagaimana dia dapat berkasih sayang, dapat tawadhu’ dengan manusia biasa?
    – Sholat adalah ajang percintaan ALLAH dengan hamba-Nya

  • adefadlee

    Pertanyaan bung tolong no.3:
    “apa sih sebenarnya yang kita cari terhadap Tuhan?”

    Saya tampilkan disini sebuah sajak dari guru saya:

    MARILAH bersama mencari Tuhan
    Bersama-sama mencari Tuhan tidak ada saingan
    Lebih-lebih lagi tidak ada pertarungan dan peperangan
    Marilah bersama-sama mencari keredhaan-Nya
    Ia akan berlaku tenang menenangkan,
    bahagia membahagiakan
    Rebutlah Tuhan!
    Tidak ada yang kecewa dan kecundang
    Tapi rebut harta, pangkat, betina dan kekayaan ada saingan
    Bahkan akan ada perlawanan dan akhirnya ada permusuhan
    Dan akan berlaku ada yang kecundang dan kekecewaan
    Merebut keredhaan Tuhan membawa ketenangan
    Jiwa lapang
    Merebut dunia membawa keresahan dan jiwa tidak tenang
    Sama-sama mencari Tuhan membawa orang
    berukhwah dan berkawan
    Sama-sama mencari dunia
    membawa pecah-belah dan permusuhan
    Mengejar dunia, fikiran berserabut dan kusut
    Mengejar Tuhan, fikiran lapang, tenang menenangkan
    Carilah keredhaan Tuhan, tidak ada yang kecewa
    Mazmumah hilang, orang senang
    Mencari keredhaan orang, kita akan kecewa bahkan terhina
    Mazmumah makin menebal, orang pun benci pula
    Kejarlah Tuhan, jalan luas dan lapang,
    selamat dan menyelamatkan
    Kejar dunia jalan sempit, himpit-menghimpit
    dan memudharatkan

  • tolong

    untuk bung adefadlee..

    terimakasih ulasannya mengenai kehidupan manusia di sorga,

    tapi maaf, sepertinya saya ingin slalu bertanya..

    apabila di sorga manusia tidak ada yang sakit, miskin,merana atau pun melarat..atau dengan kata lain sorga adalah tempat penuh dengan kenikmatan..

    yang jadi pertanyaan adalah..

    1. dimanakah letak kenikmatan itu, padahal sebagai tolak ukur batas kenikmatan adalah sifat2 sebaliknya..
    seperti didunia, si A dikatakan kaya harta karena si B miskin, Si A dikatankan senang karena si B sedang dilanda kesedihan..
    nah, bagaimana anda bisa mengatakan bahwa sorga itu penuh dengan kenikmatan padahal disana tidak ada manusia yang melarat..?

    2. antara nikmat sorga dan nikmat dunia lebih nikmat mana..?
    dan apa yang di jadikan dasar sebagai tolak ukurnya..?

    didunia saya pernah merasakan senang, gembira,dll ataupun sebaliknya susah,sedih,merana dan lain2..
    tapi itu adalah anugrah tuhan yang tak terhingga rahmatnya..dan itu adalah kenikmatan sesungguhnya.

    jika anda mengatakan sorga itu penuh dengan kenikmatan..apakah anda akan merasakan sakit, merana, miskin dll..apabila di sorga..!!

    saya yakin, manusia di sorga akan iri dengan manusia yang ada di bumi..
    karena manusia dibumi bisa merasakan segalanya, sedangkan di sorga hanya merasakan kesenangan saja..

    mohon petunjuknya…

  • adefadlee

    1. Kalau kita sudah pernah merasakan nikmat di dunia seperti apa dan susah di dunia seperti apa, maka kita bisa mengukur, nikmat di syurga itu yang berkali-kali lipat itu seperti apa. Kalau anda masih penasaran juga, berdoalah kepada ALLAH SWT agar anda bisa masuk syurga…

    2. jawabannya sudah jelas. Sebelumnya sudah saya katakan, nikmat di syurga itu tidak ada habisnya. Itu adalah anugerah Tuhan juga yang tak terhingga rahmatnya.

    Di syurga kita tidak akan merasa sakit, merana.Hanya bahagia saja. Manusia syurga hanya merasakan kesenangan saja adalah BENTUK KASIH SAYANG DAN RAHMAT ALLAH, orang yang masuk syurga pasti akan menerima itu dengan penuh kesyukuran, padahal mereka merasa sebenarnya mereka tidak layak masuk syurga, tapi ALLAH masukkan juga mereka ke syurga yang penuh kenikmatan dan tidak ada penderitaaan. jadi kenapa harus iri dengan manusia yang ada di Bumi? Karena penduduk syurga itu semuanya sudah melalui Ujian dari ALLAH yang berat-berat, artinya hidup mereka di dunia sudah penuh dengan penderitaan dan ujian dari ALLAH SWT, karena itu ALLAH beri penduduk Syurga ganjaran yang luar biasa dan kekal abadi.

    Kalaulah di syurga masih ada penderitaan, bagaimana ALLAH memberi ganjaran dan kemuliaan pada hamba-hamba -Nya yang sangat mencintai dan taat kepada-NYA??

    Dalil-dalil Al-Quran dan Hadits:

    Rasulullah bersabda:
    Terjemahannya: Barang siapa mencintai dunia, nescaya membawa kepada binasa di Akhirat. Dan barang siapa mencintai Akhiratnya, nescaya beroleh keuntungan di dunia. Maka utamakan apa yang kekal, atas apa yang fana (lenyap binasa).
    (Riwayat Ahmad, Al Bazzur dan Afh Thabrani)

    Sabda Rasulullah lagi:
    Terjemahannya: Apa yang aku ketahui, jikalau kamu ketahui nescaya kamu akan tertawa sedikit dan menangis banyak.. Pada kamu dunia sudah jadi hina dan kamu akan memilih Akhirat.
    (Riwayat Afh Thabrani)

    Sabda Rasulullah lagi:
    Terjemahannya: Tidaklah dunia pada bandingan Akhirat melainkan seumpama seseorang yang memasukkan anak jarinya ke dalam laut. Maka perhatikan berapa banyak yang lekat padanya?
    (Riwayat Muslim)

    Rasulullah juga bersabda:
    Terjemahannya: Hai Fatimah! Teguklah kepahitan dunia, unfuk mendapat kenikmatan abadi.

    Dan ALLAH SWT berfirman:
    Terjemahannya: Dan sesungguhnya Kampung Akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya kalau mereka mengetahui. (Al Ankabut: 64)

    ALLAH juga berfirman:
    Terjemahannya: Dan pasti kehidupan Akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya.
    (AI Israk: 21)

    Firman-Nya lagi:
    Terjemahannya: Kampung Akhirat itu Kami berikan kepada mereka yang tidak hendakkan sanjungan tinggi dan tidak juga berbuat bencana di muka bumi.
    (Al Qasas: 83)

    ALLAH juga berfirman:
    Terjemahannya: Katakanlah, kesenangan dunia ini hanya sebentar saja.
    (An Nisa’: 77)

    Firman ALLAH lagi:
    Terjemahannya: Barang siapa yang ingin kepada keuntungan Hari Akhirat, Kami berikan tambahan kepada keuntungannya itu. Dan barang siapa yang ingin kepada keuntungan dunia ini, akan Kami berikan sebahagian keuntungan itu kepadanya tetapi dia tidak nempunyai bahagian lagi di Hari Akhirat.
    (Asy Syura: 20) .

  • (Orong-orong)Njebluk's

    mo nanya sedikit ni…@adefadlee
    apabila di sorga manusia tidak ada yang sakit, miskin,merana atau pun melarat..atau dengan kata lain sorga adalah tempat penuh dengan kenikmatan..
    Pemahaman saya “Puncak kenikmatan itu di saat berjumpa dengan Allah”
    “surga yang paling nikmat disitu kita bersama dengan guru2,bersama dengan rosulullah dan di situ ada Allah”
    kalo gak salah Surga itu kan gak cuman 1.
    1. Apakah penghuni surga bisa berkumpul dengan allah?
    seandainya Singgasana Allah di tingkat 7,orang yang di t2. ingkat 1-6 bagai mana rasanya ya….?

  • adefadlee

    Mudah-mudahan dengan berkat guru saya, saya diizinkan oleh ALLAH SWT untuk menjawab pertanyaan mas njebluks, sebatas yang saya mampu. Minta izin juga pada mas Sufimuda karena topik ini sudah agak menyimpang dari tulisan sebenarnya….

    – Firman Allah:
    Artinya: “Beberapa muka dihari itu bercahaya gilang gemilang, melihat kepada Tuhannya (Al Qiyamah : 22 – 23)”

    – dalam Hadits Nabi dikatakan :
    Artinya: “Bahwasanya kamu -kata Nabi- akan melihat Tuhanmu senyata-nyatanya” (Riwayat Imam Bukhari. Sahih Bukhari juzu’ IV hal.200)

    Pendeknya, banyak sekali hadits-hadits ahih yang menyatakan bahwa Tuhan akan dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat nanti, sebagai tambahan upah bagi orang yang beramal shaleh, karena melihat Tuhan sangat lezat dan itulah yang dicita-citakan oleh sekalian ahli syurga.

    – walaupun kita melihat ALLAH dengan mata kepala kita, tapi kita tidak dapat mengetahui hakikat ZAT TUHAN, walaupun mata kepala itu dapat melihat-Nya .

    – syurga, manusia, segala penduduk syurga, tempat, dan waktu adalah makhluk (ciptaan TUHAN). JANGAN SAMAKAN ALLAH DENGAN MAKHLUK. ALLAH TIDAK TERPAUT DENGAN TEMPAT DAN DENGAN WAKTU. Jangan dibayangkan di syurga kita bersama-sama guru, dll, lalu ada ALLAH, seakan-akan ALLAH mengambil tempat. MAHA SUCI ALLAH DARI MENYERUPAI MAKHLUKNYA (termasuk tempat dan waktu adalah makhluk/ciptaan ALLAH). termasuk mengatakan seandainya singgasana ALLAH ada di tingkat 7. Maha Suci Allah dari memerlukan ruang dan waktu (makhluk-NYA).

    – tentang bagaimana nanti caranya manusia melihat ALLAH itu, kita serahkan saja kepada Tuhan bagaimana caranya, tapi yang pokoknya, kita wajib mengi’tiqadkan bahwa Tuhan bisa dilihat dan akan dilihat dengan mata kepala di hari akhirat dalam syurga jannatunna’im

    – kalau kita ada guru mursyid, dia boleh menolong kita nanti di akhirat, selain Syafaat dari Rasulullah SAW. Maka segeralah mencari guru mursyid..!!

    untuk lebih jelasnya mengenai masalah bertemu ALLAH ini, silahkan cari buku karangan KH.Siradjuddin Abbas, 40 Masalah Agama Jilid IV. Wal’iyadzubillah

  • 10

    BISMILLAHIRROCHMANIRROCHIM
    @adefadlee

    mengenai pendapat anda koq bertentangan dengan hadist anda sendiri,anda katakan:
    – dalam Hadits Nabi dikatakan :
    Artinya: “Bahwasanya kamu -kata Nabi- akan melihat Tuhanmu senyata-nyatanya” (Riwayat Imam Bukhari. Sahih Bukhari juzu’ IV hal.200)
    ==========================
    koq anda katakan lagi
    walaupun kita melihat ALLAH dengan mata kepala kita, tapi kita tidak dapat mengetahui hakikat ZAT TUHAN, walaupun mata kepala itu dapat melihat-Nya
    ======================================
    pertanyaannyaadalah:
    1.yang di lihat nyata-nyata itu apanya?
    2.koq melihatnya pake mata kepala berarti surga itu juga tempatnya jasmani tha?
    3.kalo surga tempate jasmani berarti masih terkena hukum mati dong?
    mohon petunjuknya mas agar kami tidak buta mengenai kebenaran yang haq dan mohon maaf aklo kata2saya menyinggung saudara

    salam 10X12

  • adefadlee

    maaf kalau kommen saya ada yg krg jelas, ini memang berasal dari kelemahan saya..

    1. YANG DILIHAT ITU ALLAH. analoginya:kita melihat matahari tetapi kita tidak bisa tahu persis hakikat zat matahari itu seperti apa. Kita bisa melihat ALLAH di syurga nanti, tapi bagaimana “zat” ALLAH itu sesungguhnya kita tidak tahu.

    2.jasmani/jasad kasar kita sudah tidak ada, tidak ada lagi mati. yang ada di syurga / neraka adalah ruh kita, kekal abadi.

    3.Maaf, istilah “mata kepala” ini untuk membedakan I’tiqad Ahlussunnah dengan kaum mu’tazilah yang berpendapat “ALLAH tidak bisa benar-benar kita lihat, tapi hanya dilihat dengan mata batin saja”

    bedanya:
    – melihat dgn mata batin : tidak benar2 dilihat, hanya semacam perasaan saja,
    – melihat dgn mata kepala : kita benar2 melihat yang kita lihat tersebut.

    Maaf kalau masih meragukan…

  • adefadlee

    maaf klarifikasi dari pernyataan saya:

    – jasad kita di dunia ini memang tidak ada lagi, namun ketika di padang mahsyar dan di syurga, maka jasad kita, tempat bersemayamnya ruh kita itu diganti lagi dengan yang baru, dan kekal abadi.

    dalil:
    Firman Allah:
    artinya : Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?. Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. (Al-Qiyaamah : 3-4)

    Firman Allah:
    Artinya:(Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan semula?Apakah (akan dibangkitkan juga) apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan.” Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.
    (An Naazi´aat : 10-14)

    – kalau penghuni syurga, dia akan muda selalu. Penghuni neraka, kalau tubuhnya diazab sampai hancur lebur, akan diganti lagi dengan yang baru, lalu diazab lagi, demikian seterusnya…

  • salafysudahgila

    Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya. Maha Suci Tuhan daripada serupa dengan makhluk-Nya. (Bahkan apapun yang terfikir oleh pikiran kita tentang bagaimana Tuhan, Tuhan tidak seperti itu).

    Bagaimana mungkin seekor gajah bisa dimasukkan ke dalam sebutir telur ayam? Tidak akan muat. Begitu juga dengan keterbatasan fikiran kita diciptakan oleh Tuhan, tidak mungkin lah kita mampu memikirkan zat Tuhan yang kuasa-Nya tidak berhingga sedangkan kita hanya terbatas? tidak akan mungkin terfikirkan oleh kita.

    Di syurga kita tidak berkumpul dengan Tuhan. Karena jika bisa berkumpul dengan Tuhan maka berarti Tuhan mengambil tempat, sedangkan Tuhan tidak mengambil tempat, tidak serupa dengan makhluk-Nya.

    Bagaimana ‘wajah’ Allah itu? Hanya Dia-lah yang tahu. Kita hanya diperintahkan untuk wajib meyakini seyakin-yakinnya bahwa Tuhan akan memperlihatkan ‘wajah-Nya’ disurga nanti, bukan memikirkan bagaimana zat-Nya yang mana hal ini dilarang oleh-Nya.

    Begitulah menurut i’tiqad ahlussunnah wal jamaah.

    Tolong dikoreksi kalau ada kata-kata saya yang salah.
    CMIIW.

    wassalam

  • orong- orong (njebluk)

    manusia tidak ada yang sakit, miskin,merana atau pun melarat..atau dengan kata lain sorga adalah tempat penuh dengan kenikmatan..
    brarti intinya di surga kita sama ya……….
    mendapatkan kenikmatan,…..dan semuanya berjumpa dengan allah.
    begitu ya mas…?

  • 10

    BISMILLAHIRROCHMANIRROCHIM
    @adefadlee & @ salafysudahgila

    kalo boleh saya menyarankan jangan memakai golongan kalo anda ingin mengetahui dzat alloh karena alloh beserta surganya bukan milik kaum mu’takzilah dan ahlu sunnah waljamma’ah kan mas? di situlah nantinya tidak akan terbentuk satu ukwah islamiyah kalo anda berbicara menurut golongan masing2,bukan begitu khan mas???

    yakinilah/LIHATLAH tuhan alloh menurut ilmu tauhid dan tasawuf anda masing2 tentunya dengan bimbingan musyid anda! karena ukuran bisa melihat Tuhan ALLOH tolak ukurnya adalah hanya ALLOH dan diri anda saja yang mengetahui, ya khan mas?
    dan untuk mengexploitaskan hasil penemuan anda melihatTuhan ALLOH akan berjalan otomatis,
    NUR ALLOH yang ada pada diri anda tidak hanya menerangi bathiniah anda sendiri tetapi dapat menerangi hati manusia yang lainnya,dan alam semesta raya
    jika hal ini tercapai jangankan teman anda, musuhpun mengakui bahwasanya andalah mukmin sejati, insyaALLOH begitu mungkin ya mas?
    saya sendiri lebih suka memakai dalil:
    “IQRO’ KITABAKA BINAFSIKA”
    ARTINYA :bacalah kitabmu cukup dengan tingkah lakumu
    pertanyaanya adalah:
    1. dimana letak KITAB anda? apakah AL-QUR’AN itu?
    2.sudahkah anda tulisi dengan lafadz2NYA?
    dalilnya: MAN AROFAH NAFSAHU FAKOD AROFAH ROBBAHU
    mungkin mas-masnya udah tau artinya,maaf kalo ada peryataan saya yang menyinggung diri anda
    @ njebluk
    kalo mas njebluk bertanya mengenai surga berarti anda sudah siap denagn neraka dong? he…he…he..
    udah nemuin kuncinya surga belum mas, kalo belom gimana anda bisa memasukinya?
    sori ya boss kalo bikin nyelekit dikit aja?

    salam 10X12

Tinggalkan Balasan ke hati-hatiBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca