Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

TASAWUF BUKAN BERASAL DARI ISLAM?

Dalam sejarahnya, tasawuf tak pernah lepas dari hujatan orang. Menurut mereka, tasawuf adalah bid’ah, mengada-adakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dala agama. Bahkan, tasawuf adalah suatu aliran yang sesat dan menyesatkan, baik karena kejahilan, motif menutupi ketidaksetiaan mereka kepada syariat, maupun malah untuk menghancurkan agama sendiri dari dalam. Apa yang menyebabkan sikap-sikap bermusuhan seperti ini terhadap tasawuf? Yang pertama adalah keyakinan tasawuf bahwa selain syariat, ada thariqah dan hakikat. Keyakinan inilah yang menyebabkan penolakansecara total terhadap tasawuf. Sedang yang kedua adalah adanya kepercayaan-kepercayaan tertentu yang diungkapkan sebagian sufi, seperti hulul,ittihad,wahdah al-wujud, dan sebagainya. Keberadaan-keberadaan kepercayaan yang heterodoks (nyeleneh) dan rumit seperti ini menyebabkan para penentangnya hanya mempersoalkan kepercayaan-kepercayaan ini tanpa mesti menolak keseluruhan tasawuf-kecuali sekelompok orang yang memang cenderung mengafir-ngafirkan kelompok lain yang bukan kelompoknya.

Mengenai sebab yang pertama, kaum sufi memang percaya bahwa syariat-dalam makna melaksanakan kewajiban-kewajiban keagamaan secara lahiriah dengan kriteria fiqh semata, dan bukan dalam makna agama itu sendiri-tak akan mampu membawa seorang Muslim kepada tujuan puncak keberagamaannya. Tujuan ini, menurut kaum sufi adalah hakikat (haqiqah), sesuatu yang besifat batiniah dan pada akhirnya berpuncak pada hilangnya ego (nafs) dalam Tuhan secara total,serta menyatunya (tauhid) manusia kembali (ma’ad) dengan Tuhan yang juga sumber- awal (mabda’)-Nya. Untuk mencapai tingkat ini orang harus menjalani thariqah, yakni maqamat dan ahwal yang merupakan esensi tasawuf itu sendiri. Seperti “syariat” juga, istilah thariqah bermakan “jalan”. Hanya saja, jika “syariat” berarti jalan raya, “thariqah” berarti jalan kecil atau sempit. (Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa menempuh thaiqah jauh lebih sulit ketimbang menempuh “syariat”). Nah, dalam konteks ini, syariat “hanyalah” kendaraan untuk thariqah, dan thariqah, pada gilirannya, adalah kendaraan untuk mencapai hakikat. Nah, sebagai konsekuensi keyakinan seperti ini, terkadang-dalam segala kesetiaannya kepada syariat- kaum sufi memiliki pendapat yang berbeda mengenai fiqh dengan pendapat para ulama fikih itu sendiri.

Untuk membuktikan ketidak-islaman tasawuf, biasanya orang menggunakan dua cara. Pertama, istilah atau ilmu yang bernama tasawuf itu tak terdapat, baik dalam Al-Quran maupun Sunnah. Kedua, banyak diantara kepercayaan tasawuf bisa ditunjukkan sebagai berasal, atau setidak-tidaknya sama, dengan sumber-sumber lain di luar islam-baik sumber Yunani, Kristen, Hindu, Buddha, maupun Persia.

Menanggapi pandangan-pandangan seperti itu, para pendukung tasawuf biasanya mulai dengan menyatakan bahwa penamaan tasawuf hanyalah sekadar suatu cara untuk menampilkan ciri-ciri khas kelompok ini. Persis seperti Rasul dan para sahabatnya dulu menjuluki Bilal si orang Etiopia dengan Al-Habsyi, atau Shahiba atau Suhail Al-Rumi (orang Romawi), atau Salman Al-Farisi (orang Persia). Bahkan Al-quran tak cukup menyebut orang-orang Mukmin yang baik-baik dengan hanya menyebut mereka sebagai Mukmin, melainkan terkadang menyebut sebagian di antara mereka al-ta’ibin, atau sebagian yang lain al-mutashaddiqin, al-abidin, al-hamidin, al-shalihin, dan banyak lagi lainnya. Lagi pula, kenapa kenapa hanya penamaan Shufi saja yang diperdebatkan padahal dalam sejarah kaum Muslim, umat ini di kelompokkan di bawah nama-nama Mu’tazili, Asy’ari, Maturudi, Salafi, Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali dan tak terhitung nama-nama lainnya. Selanjutnya, jika asal kata tasawuf itu dipersoalkan karena tidak terdapat di dalam Al-Quran, maka kita dapati banyak sekali ilmu yang tidak disebut di dalam Al-Quran tapi tak pernah dianggap sebagai bid’ah. Tentu saja kita harus memulai dari fiqh karena, meskipun kata ini dipakai di dalam Al-Quran, ia tak pernah dipakai untuk menunjuk tentang ilmu hukum-hukum ibadah seperti yang kita kenal sekarang ini. Lalu ada ushul al-din, musthalah al-hadits, ilmu tafsir, ilmu nahwu (tata bahasa), ilmu al- kalam, dan sebagainya. Apalagi jika argumentasi ini kita perluas hingga ke ilmu-ilmu non-agama yang, dalam sejarah islam awal diterima luas oleh kaum Muslim, seperti ilmu falak, ilmu kedokteran, ilmu kimia, dan sebagainya. Argumentasi seperti ini sekaligus menunjukkan bahwa sesuatu ilmu bisa saja berkembang melewati apa yang secara eksplisit terkandung dalam Al-Quran an Al-Sunnah, tanpa harus dianggap sebagai bid’ah atau malah sesat.

Untuk menjawab keberatan orang mengenai asal-usul tasawuf, para pendukungnya cukup sigap untuk menunjukkan sumber-sumber Qurani pahamini. Tapi, sebelum itu kiranya mudah dipahami bahwa adanya kesamaan antara ajaran-ajaran tasawuf tertentu dengan ajaran agama Kristen, Hindu, Buddha, bahkan pemikiram Yunani sama sekali tak otomatis berarti bahwa ajaran-ajaran tasawuf itu sesat. Karena, jika argumentasi seperti ini dibenarkan, maka hukum fiqih tertentu yang ternyata sama dengan hukum Kristen haruslah dianggap sesat pula. Padahal kenyataan seperti ini amat banyak terjadi. Demikian pula dengan kesamaan-kesamaan pandangan dalam ilmu Kalam dengan teologi Kristen. Dan seterusnya. Lagipula, bukan hanya penganut pandangan tasawuf yang berpendapat bahwa sesungguhnya hikmah itu tercecer di mana-mana. Bukankah Rasulullah sendiri bersabda bahwa “Hikmah adalah barang kaum Mukmin yang hilang” dan bahwa kita diperintahkan untuk memungutnyadi manapun ia kita ketemukan? Belum lagi jika kita memercayai bahwa, sampai batas tertentu, ajaran-ajaran agama itu bahkan mungkinjuga pemikiran Yunani tertentu adalah perintah peninggalan para Nabi dan Rasul yang diturunkan Allah kepada berbagai bangsa. Apalagi agama Kristen, yang jelas-jelas pada awalnya adalah memang merupakan wahyu Allah, sebagaimana juga agama Yahudi dan agama-agama samawi lainnya.

Ada lagi yang bersikap anti tasawuf karena dalam tasawuf terdapat paham-paham atau pandangan-pandangan yang dianggap sesat. Terhadap keberatan seperti ini, pendukung tasawuf akan balik bertanya: apakah kita harus membuang hadis hanya karena di dalamnya menyusup hadis-hadis palsu, atau mencampakkan ilmu tafsir karena di dalam sebagiannya terkandung issra’iliyyat, atau ilmu fiqih karena adanya upaya manipulatif dalam bentuk perumusan berbagai hilah yang sering kali mengada-ada, tidak bertanggung jawab, bahkan melecehkan syariat itu sendiri? Bahkan pun jika para pendukung tasawuf sepakat mengenai kesesatan-kesesatan yang ada dalam sebagian paham atau pandangan dalam tasawuf, maka yang perlu dilakukan adalah membersihkan tasawuf- persis seperti yang kita lakukan terhadap ilmu-ilmu laind ari kesesatan-kesesatan, dan bukan mencampakkannya sama sekali.

 

Sumber : BUKU SAKU TASAWUF, karangan Haidar Bagir,2005

Single Post Navigation

77 thoughts on “TASAWUF BUKAN BERASAL DARI ISLAM?

Comment navigation

  1. abu_taqiyyuddin on said:

    lakum diinukum wa liyadiin….

    allahumma fasyhad… allahumma fasyhad… allahumma fasyhad…

  2. @Aria, Setuju banget..
    jadi inget dulu ada tayangan Uka-Uka, Dunia Lain, dsb yang isinya uji nyali. Peserta disuruh nunggu satu malam di tempat yang katanya angker.
    Banyak peserta yang menunggu sambil zikir: Subhanallah, astaghfirullah, la ilaaha illallah, allahu akbar, dsb. Tapi banyak dari mereka yang jelas2 berzikir malah menyerah ketakutan. Lah? kalo memang zikirnya benar, tentu yang dipanggil (ALAH) akan hadir dan beserta dia donk? Dan so pasti si setan/hantu ga akan berani ganggu lagi. Tapi kenyataannya begitulah, banyak yang berzikir tidak dengan hatinya, hanya sampai di mulut dan otak. Kata syetan: halah manggil Tuhan gombal, ga takuuuuuut.
    Hehehhe…
    Coba kalo Tuhan yang dipanggil jelas dan pasti (ALLAH), tentu sudah pasti pula menang. Jangankan digoda/diganggu/diserang setan yang Ghoib, setan yang Zahir pun ga akan bisa ngalahin.
    bukan begiru Arya?

    • Allah hanyalah Nama
      Yang punya Nama lebih jelas dan pasti.
      Cuma tahu Nama ?,
      Untuk apa Tahu Nama tetapi gak kenal Yang Punya Nama.

      • m.syafii rangkuti on said:

        sabelumnya assalamualaikum wr wb buat mas gifar paling utama dan tak lupa salam kenal terlebih dahulu.dari saya sesama muslim
        menanggapi hal ini saya juga ingin bertanya skarang banyak org tahu nama tapi tak kenal barang atau benda ataw juga yg punya nama.tapi itu jg bisa dalam tanda kutip,tapi banyak kenal yg punya nama tapi gak bisa nyebutin dgn baik dan benar jg bisa jadi paranormal,contoh qori dan qoriah ga bisa merekam suaranya di dalam segelas air putih utk ngobati seseorang tp seseorang yg ga fasih bahasa arab malah dapat meyembuhkan org sakit.gimana tuh.sementara klau dihadist qudsi berbunyi lam ya ju’ lam ya’rif gimana tuh.kemudian saya mau nanya nih tentang sahadat rasul gimana artinya smentara sampai dgn saat ini saya blm pernah jumpa sama muhammad apalagi nabi. klau mhd syafii saya tau itu nama saya tapi yg mana namanya mhd syafii saya bingung nih tlg mas dijelasin dong

    • Allah hanyalah Nama
      Yang punya Nama lebih jelas dan pasti.
      Cuma tahu Nama ?,
      Untuk apa Tahu Nama tetapi gak kenal Yang Punya Nama.
      Bukan begitu ??

  3. @abu_taqiyyuddin

    lakum diinukum wa liyadiin…itu ditujukkan kepada orang kafir, harusnya watawaa showbi haq watawaa showbi shobr, kalau sesama muslim.

  4. Benar Kang Asep…
    Walaupun pemahaman berbeda kita masih di ikat dalam satu Keyakinan bahwa Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu utusan-Nya.

    Semoga Allah melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua, amin

  5. waktu aku kecil,sangat besar inginku untuk merubah dunia ini agar menjadi lebih baik..menangi setiap medan perang..agar tiada lagi yg berani berperang…tentraaaaam dunia ini..setiap orang hanya sibuk memuja dan memuji-NYA …indahnya bila dapat tercapai citaku…

    tapi hingga aku beranjak remaja,dunia ini makin panas..makin banyak peperangan terjadi..maka kuperkecil niatku..agar lebih mudah ku wujudkan citaku..”aku ingin habisi setiap pelaku kejahatan dinegaraku” sehingga tak ada lagi setan yg berbisik dihati anak negri untuk melakukan kejahatan…agar damai sejahtera negri ini..

    akupun beranjak dewasa…makin kacau negri ini…kejahatan seakan jd kebutuhan..hampir tak terlihat kasih sayang..maka kuperkcil lg niatku,agar lebih mudah kucapai..”aku ingin benahi keadaan di masyarakatku”,,akan kuberi pelajaran setiap orang yg melanggar norma2 masyarakat dan agama di kota ini..agar tentram sekelilingku..

    tapi ternyata….hingga kini aku sudah tua renta….berjalan k kamar mandipun aku tak mampu bila tanpa pertolongan tongkat bambuku..merubah keluarga sendiri agar jd lbh baikpun belum mampu kuwujudkan,,membuang kotoran yg ada dalam perut sendiripun aku sulit…aku hanya bisa terbaring d ranjang reot ku…dan renungi……………………….

    “seandainya dulu yg pertama kali ku rubah adalah diriku..dan ku kalahkan setan dalam perutku sendiri dulu,seperti apa yg dikatakan GURU….mungkin aku bisa mnjadi individu yg lebih baik dan d contoh oleh keluargaku,dan kemudian dibawa ke masyarakatku..dan masyarakatku akan membawa contoh baik untuk negri ini…dan kemudian akan di ikuti oleh semua negara didunia ini…dan semua……akan menjadi lebih baik…….

    tapi kini aku tak bisa berbuat apa2…hanya bisa kutonton lwt TV…perang…perang….dan…..perang…….pembunuhan..demi pembunuhan.

  6. @padimuda
    setuju banget 🙂 masak TUHAN dikalahin ma setan, jangan2 bukan TUHAN yang di dzikirkan, tapi hantu 😀

  7. @aria

    hehehe, iya. Kalau cuma ngusir ayam atau kucing mungkin dengan mengacung2kan tangan sambil berseru ‘Hush.. Hush… ” aja bisa. Tapi kalau mau ngusir babi, ular, beruang, macan, singa, serigala, dsb masak cuma ngacung2kan tangan kosong sambil nge-Hush hush in? Bisa2 kita yang dimakan.
    Kalau Tuhannya kira-kira, syetanpun akan merajalela. Bawa Tuhan yang amat nyata, syetan akan pilih jalan yang lain untuk ke Roma (seperti cerita syetan takut papasan sama Sayyidina Umar hehehe).

  8. @A’au
    hihihiihihi,, nonjok banget tuh.
    tapi kini aku tak bisa berbuat apa2…hanya bisa kutonton lwt TV…perang…perang….dan…..perang…….pembunuhan..demi pembunuhan.

    Banyak orang yang cuma ngerti bahwa fisik harus dilawan dengan fisik meskipun mereka faham betul bahwa fisik itu ga ada artinya. Contoh real nya ya saya sendiri. Dulu sebelum dibimbing Guru, saya sempat aktif dalam gerakan2 jihad. Baik yang ngakunya mendukung perjuangan saudara2 Muslim diluar maupun dalam negeri. Sibuk ngurusin syetan2 orang lain tapi lupa kalo syetan dalam diri sendiri lebih ganas dari perbuatan orang lain.
    Btw, udah serenta apa dikau? hehehehe.. 😛
    Mari kita yang sudah PERNAH mati ini sama2 jadi pembantuNya tuk menjadi rahmat di alam raya ini dengan JIHAD melawan Syetan dalam diri kita sendiri.

  9. young sufi on said:

    Peace, love, unity and respect

    Dengan damai kita bisa saling mengenal
    Dengan cinta kita bisa saling sayang
    Dengan bersatu kita bisa saling membantu
    Dengan kepedulian kita bisa saling menyatukan

    Marilah kita berjihad di jalan Allah yaitu dengan berjihad yang sebenar – benarnya yang artinya perang melawan syetan2 yang ada didalam diri kita sendiri yang sudah bertahun2 terus menggoda kita dengan sgala tipu dayanya, ada satu kalimat dari guru yang patut kita renungkan ” jangan kau berpikir bisa mengalahkan setan yang ada diluar sana sementara setan yang ada didalam dirimu saja tak mampu kau kalahkan “.

  10. Asy - Syafiie on said:

    Ass..
    Salam kenal buat sahabat sufi semua, terutama buat sufi muda.
    Sekedar merefresh, u/ kembali ke pembahasan awal. Ilmu tasawuf adalah ilmu tentang ma’ani asma ulhusna (Tauhidul Asma) seperti sabar, ridho, ingat mati, syukur… dst. Apabila ilmu tasawuf dikatakan bid’ah atau yg sejenisnya, berarti sama dengan meniadakan asma2 Allah. Terus bagaimana cara kita marifat terhadap asma2 Allah sesuai dengan surah Al-Alaq.
    Dan apabila seseorang tidak bertasawuf berarti orang tersebut telah kurang dalam beragama karena Syahadat itu punya rukun sbb : 1. Mengisbatkan Zat Allah, 2. Mengisbatkan Sifat Allah, 3. Mengisbatkan Asma Allah, 4. Mengisbatkan Af’al Allah. Seperti disebutkan Tauhidul asma adalah Rukun ketiga Syahadat, kala kita tertinggal rukun/syarat dalam sholat tentu tidak sah sholatnya, bagaimana jikalau tertinggal rukun/syarat syahadat ????
    Banyak yg tidak tau bahwa syahadat itu punya rukun dan syarat, karena banyak mengatakan bahwa kitab – kitab kuning perukunan ilmu tauhid orang2 terdahulu itu sudah tidak medern lagi tidak sesuai dengan perkembangan zaman sekarang, yg serba canggih sehingga sekarang hilanglah hal-hal yg terpenting dalam beragama. Sholat itu adalah tiang agama, agamanya ialah syahadat, tidak akan timbul iman seseorang jikalau dia tidak belajar tentang isi syahadat (seperti disebutkan org terdahulu kita yaitu Aji Kalimahsodo).

    Dalam konteks lain : Tentang istilah sufi juga banyak yg membi’ahkan. Didalam doa Kanjul Aras, disebutkan bahwa kalimah kerasulan Nabi Adam, as adalah Lailahaillallah Adamsufiullah. Dan doa tersebut dirawikan oleh Imam Ahmad.

    Dalam konteks lain lagi : Tentang istilah Rasul, mohon u/ dirubah tidak lagi menggunakan arti/istilah utusan, sebab Arti rasul itu sangatlah tinggi nisbatnya pemangku risalah Allah, dan Rasul itu tanggung jawabnya sampai negri akhirat, sedangkan utusan itu setelah selesai tugasnya sebagai utusan PBB misalnya, maka selesailah tugasnya, jadi mohon u/ direnungkan.
    Demikian, Salah hilaf mohon dimaafkan.

    Ass, wr, wb.
    Hamba Allah yg Faqir.

  11. Asy - Syafiie on said:

    Ass..

    Satu konteks lagi : Mengenai hadits Rasulullah, 73 Firkah, Poin dasar hadistnya ialah ma’ana alaihi wa’ashabi : beragamalah seperti aku dan para sahabat. Dari golongan mana yg sering mencontoh Rasulullah dan para sahabat??????
    Dikatakan bahwa org2 sufi yg memotong2 dalil dan sunnah Rasul, tapi dia tidak sadar membacakan hadist Nabi, dia sendiri yg membuka kedok sebagai ahli tukang potong, seperti : Sebaik umat itu adalah kurunku yaitu para sahabatnya, generasi tabi’in, dan generasi tabi’u-t-tabi’in.

    Ini hadist Nabi persi lengkapnya :
    Dari Abdullah Ibnu Mas’ud dari pada Rasulullah SAW bersabda : Sebaik-baik umat itu kurunKu, kemudian mereka yang mengikuti mereka itu, kemudian mereka yang mengikuti mereka itu, kemudian adalah segolongan manusia mendahului iman mereka itu oleh syahadat mereka dan mereka menyatakan syahadat mereka sebelum diminta (pertanggung jawaban) syahadat mereka. (HR. BUKHARI MUSLIM).

    Mereka hanya mengatakan umat yg terbaik hanya kurun ketiga saja setelah Rasulullah, sungguh sangat2 keliru. Bagaimana dengan orang2 yg pertama kali menyebarkan Islam di bumi tercinta kita ini, bagaimana dengan orang2 yg bermimpi bertemu Rasulullah seperti yg dikatakan dalam Hadist beliau. Bagaimana lagi dengan hadist yg lain ttg umat nabi yg tidak sezaman dg nabi/tidak pernah melihat Nabi tapi imannya sangatlah kuat. Terus lagi bagaimana dengan hadist nabi ttg Allah akan memelihara islam setiap 100 tahun sekali ada imam mujadid yg meluruskan kembali islam yg terombang-ambing seperti ditengah lautan yg terkena badai dan gelombang.

    Untuk umat yg sekarang dan yg akan datang saya berikan kabar gembira buat kita semua dengan hadist Nabi : Selalu ada segolongan dari ummatKu yang tetap atas kebenaran sampai hari qiamat dan mereka tetap atas kebenaran. (HR. BUKHARI).

    Demikian salah hilaf mohon dimaafkan.

    Wassalam
    Hamba Allah yg Faqir

  12. sufi baru on said:

    setuju……..

    mudah2an kita termasuk di dalam golongan itu…amin

    hadist : islam itu awalnya asing,,akhirnya akan kembali menjadi asing.maka berbahagialah kalau dikatakan orang asing…

  13. @Asy – Syafiie dan saudara2 ku yang lain…
    Ada kaum tertentu yang terlalu ingin bernostalgia kepada masa lalu, dan menganggap semakin dekat ke masa lalu akan semakin asli dan semakin islami. Padahal Islam itu kan berkembang dan fleksible.

    Mengikuti Nabi dari segi budaya dan tata cara kehidupan sangat bagus namun yang lebih penting bagaimana kita bisa berhubungan dengan Tuhan sebagaimana Beliau berhubungan dengan Tuhan sehingga gelombang kita dengan Nabi bisa sama.
    Kalau gelombang tidak sama maka mencontoh nabi mirip dengan Beo aja, mengulang kata tanpa bisa menghayatinya.

    Ketika orang menuduh kaum sufi memenggal hadist tanpa sadar mereka juga malah memenggal banyak sekali ayat untuk kepentingan diri dan kelompoknya tanpa ada perasaan bersalah.

    Kaum sufi menurut saya bukan memotong hadist, akan tetapi menyempaikan inti penting dari sebuah hadist sehingga orang lebih tahu di bagian mana dari hadist itu yang menjadi pokok atau intisarinya.

    Begitu agung nya ayat2 Al-Qur’an sehingga setiap ayat mempunyai banyak tafsiran. Disinilah dibutuhkan kearifan kita untuk bisa menerima perbedaan diantara kita tanpa memaksakan tafsiran tunggal kepada yang lain.

    Terimakasih Asy – Syafiie atas kunjungan dan komentarnya, semoga Allah selalu melimpahkan Rahmat dan Karunia-Nya kepada kita semua, amien

    Salam

  14. sufi baru on said:

    memang banyak yang menganggap bahwa kaum sufi hanya memahami ayat/hadist secara sepotong2…
    tapi saya setuju dengan sufimuda..bahwa dalam dunia tasauf itu sesungguhnya kita memahami inti dari ayat /hasdist tersebut…

    sebagai perumpamaan.
    sewaktu kita masih di sekolah di SD dulu..kita belajar membaca sebuah cerita /wacana dan kita selalu di suruh oleh guru kita untuk mengambil apa inti dari paraghraf tersebut bukan kita di suruh untuk menghapal cerita secara keseluruhan…
    misal nya dari sekian banyak kalimat di alinea/paragraf terebut pasti ada kalimat intinya….

    demikian juga dengan quran/hadist tersebut ,,dari sekian banyak kata2/cerita dalam ayat tersebut ..pasti ada intinya….dan dalam dunia tasauf intinya itu lah yang di pelajari….jadi bukan memahami dari yang tersurat lagi tapi dari makna yang tersiratnya…

  15. sufi gila on said:

    salam cinta dan damai

    bertanya pada anak SD apa matematika itu ? maka pasti dijawab tambah kurang bagi kali
    bertanya pada anak SMP apa matematika itu ? maka akan ditambah trigonometri
    bertanya pada anak SMA apa matematika itu ? maka akan ditambah kalkulus

    maka saat anak sma bercerita tentang kalkulus pada anak SD maka si SD akan bilang dasar sesat nggak ada kalkulus di matematika

  16. As.Wr.wb
    mohon izin dari hamba yang miskin ilmu ini, bolehlah gontok2an tapi klo bisa hati tetap dingin. Kata2 klo dirangkai terkadang buat bingung bikin hati panas yang terucapun memperturutkan hawa nafsu beda klo bunga sedep dipandang bikin fresh pikiran. hati tetap jernih. dengan sendirinya sikap tingkah dan perilaku tetep adem ayem. Apakah ada yang tau amal ibadah kita diterima? pokoke dua2nya sing rukun. Mohon maaf lahir batin atas ucapan yang kurang berkenan
    Wss.Wr.Wb

  17. tawajuh on said:

    Assalamualaikum ww,
    Kalo bicara tasawuf…emang pasti banyak yg bakalan menentang.
    Karena tasawuf ini secara garis besarnya berisikan suatu tujuan untuk mengalahkan ego/nafsu yang udah jadi fitrahnya manusia..makanya begitu dengar tasawuf…langsung dech egonya ngamuk.
    Seperti si om abu taqiyuddin itu (Insya Allah segera mendapatkan hidayah)…nyebut Rasulullah aja dengan seenaknya…Muhammad (pake huruf kecil lagi.Kelihatan bahwa tujuan penurunan/penciptaan agama oleh Allah swt pada umat manusia ini belum sampai kepada beliau…yaitu belum terperbaikinya akhlak beliau…masak kepada Rasulullah hanya menyebutkan nama,sedang untuk idnya dia pakai kata abu (klo gak salah artinya bapak),jadi mari kita doakan beliau agar mendapatkan hidayahNya.
    Kata guru saya…inti ajaran tasawuf itu singkat aja yaitu…kenalilah dirimu,maka engkau akan mengenal Tuhanmu.
    Yang artinya/maksudnya(menurut beliau)…kenalilah,akuilah,sadarlah bahwa engkau adalah seorang hamba,ciptaan yang tidak memiliki kemampuan apapun untuk berbuat atau mendapatkan apapun.Dan Allah adalah Tuhanmu yang memilikimu,yang memberi kekuatan padamu dan penguasa seluruh alam…sehingga barulah engkau berhak mengucapkan tiada daya dan upaya saya melainkan atas izinMu ya Allah.
    Itulah basicnya tasawuf menurut beliau,dan saya baru diajarin segitunya.
    Untuk om sufimuda….terima kasih atas tulisannya,Insya Allah akan mendapatkan ganjaranNya (walau saya yakin oom cuma cari ridhaNya aja hehehe )

  18. Kebenaran itu… dia tidak dua, tiga, dan seterusnya….
    Kebenaran itu hanyalah satu…..

    Sekali lagi saya katakan….

    Kebenaran itu… dia tidak dua, tiga, dan seterusnya….
    Kebenaran itu hanyalah satu…..

    Coba pahami pernyataan logika ini:
    ============================================
    Jika ada 2 pihak berseteru, tidak mungkin kedua-duanya benar.

    Kemungkinannya:
    hanya salah satunya yang benar, atau
    kedua-duanya salah!!

    Tidak mungkin kedua-duanya benar kemudian saling berlawanan.
    ============================================

    Sebenarnya penafsiran hadis harusnya sama. Kalaulah ada perbedaan, perbedaan itu hanya pada perkara ranting/cabang. Pada perkara yang utama/pokok, semuanya akan sama. (Ajaran Islam, secara ilmu dikelompokkan menjadi: Tauhid, Fiqih, dan Tasawuf. Namun Islam itu satu kesatuan. Dalam menjalankannya harus dilaksanakan ketiga-tiganya sekaligus. INI SALAH SATU PERKARA YANG POKOK/UTAMA DALAM ISLAM)

    Seperti diantara 4 imam mahzab: Imam Maliki, Imam Syafi’ie, Imam Hanafi, Imam Hambali, untuk perkara Tauhid atau usuluddin, mereka berpegang pada satu aqidah yakni Aqidah Ahlusunnah wal jamaah. Bagitu juga dengan Imam Ghazali, imam Suyuthie, dan Imam-Imam besar lainnya. Mereka tidak bertentangan satu dengan yang lainnya.

    =======================================

    Kalau kita hendak memahami AlQuran dan hadis sendiri-sendiri, 1000 orang mencoba menafsirkan , akan ada 1000 pendapat. Tidak bisa begitu….

    Hadis-hadis Rasul saw begitu banyak jumlahnya. Dan dari yg kita semua sama-sama telah ketahui, 1000 orang mencoba menafsirkan sebuah hadis, akan ada 1000 pendapat.

    Quran mempunyai makna-makna yg tersurat dan tersirat. Tersirat dibalik tersirat, ada makna dibalik makna. Teramat luas makna dan tafsiran Quran. Untuk itu, ada Rasul SAW (ada hadis) yang menerangkannya. Ketika beliau masih hidup, orang-orang bisa bertanya langsung kepadanya. Jika ada perbedaan, orang-orang akan merujuk kepadanya. Namun, kini Rasul saw telah tiada. Apakah kepemimpinan Rasul saw sampai disitu saja? Kita ini kan umatnya. Apa Rasul saw tidak memimpin kita lagi setelah kewafatannya?

    Lalu, kita sebagai umatnya menemukan masalah ini:

    Dengan berjalannya waktu, ajaran ISLAM makin ke akhir zaman ini makin rusak, telah terkurang dan tertambah. Baik itu dirusakkan oleh musuh-musuh Islam ataupun disebabkan oleh kelalaian umat Islam sendiri. Sangat susah bagi kita untuk menemukan mana ISLAM yang benar (dikarenakan umat Islam saat ini telah jauh dari Islam itu sendiri). Ada yang tertanya: tasawuf itu ajaran Islam? dan lain-lain pertanyaan yang membingungkan umat Islam saat ini.

    Solusinya:

    Harusnya selalu ada seseorang yang Tuhan berikan untuk umat manusia dari zaman ke zaman yang kita jadikan tempat rujukan yang membawa manusia kepada-Nya. Jika ada perbedaan, dialah yang menjadi tempat bertanya. Harusnya selalu ada pemimpin yang Tuhan berikan kepada hamba-hamba-Nya. Bukankah begitu?

    Pemimpin kita adalah Rasulullah saw.

    Namun, sekali lagi: kini Rasul saw telah tiada. Apakah kepemimpinan Rasul saw sampai disitu saja? Kita ini kan umatnya. Apa Rasul saw tidak memimpin kita lagi setelah kewafatannya?

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++++

    Allah SWT berfirman di dalam al Quran:

    “Dan bagi setiap generasi ada yang memberi petunjuk”
    (Ar Raad 7)

    Petunjuk yang dimaksudkan dalam ayat ini adalah rasul-rasul dan nabi-nabi. Artinya setiap zaman, Allah pasti akan mendatangkan orang-Nya yang menjadi petunjuk kepada manusia.

    Di zaman ada rasul maka rasul membawa syariat baru dari Allah. Di zaman tiada rasul, nabi-nabi didatangkan untuk menyampaikan syariat rasul yang sebelumnya. Tapi disegi aqidahnya tetap sama, yakni setiap rasul datang untuk mengenalkan Allah sebagai Tuhan kepada manusia. Hanya syariatnya saja yang berbeda.

    Sepanjang umur dunia, allah telah mengutus 313 orang rasul. Ada juga yang mengatakan 314 atau 315 orang rasul semuanya. Adapun jumlah nabi sebanyak 124 ribu orang. Nabi-nabi ini datang diantara atau di celah-celah kedatangan rasul. Ada juga yang datang bersama-sama dengan kedatangan rasul.

    Nabi Muhammad SAW adalah nabi yang terakhir. Setelah itu tidak ada lagi nabi atau rasul sebab baginda ialah nabi akhir zaman. Setelah kewafatan baginda SAW, dunia bersambung untuk 15 kurun (abad) lagi sebelum Kiamat. Artinya selama 1500 tahun, manusia mempunyai nabi yang telah wafat. Apa artinya ini?

    Rasulullah Terus Memimpin.

    Kewafatan Rasulullah SAW bukan berarti berakhirnya misi baginda sebagai seorang rasul dan nabi. Bahkan ketika saat kematiannya baginda menyebut, “Ummati, ummati…” Tangisan baginda mengenang nasib umatnya itu membawa arti bahwa bagindalah yang akan menyelamatkan umatnya dengan izin Allah. Sebagai rasul, tentu Allah ada cara-Nya untuk menjadikan seorang yang sudah wafat supaya dapat berperanan menyelamatkan orang yang hidup.

    Hal ini bukanlah suatu yang mustahil. Dalam kitab-kitab terdapat banyak kisah-kisah menceritakan bagaimana orang mati (roh orang soleh) dapat membantu orang yang hidup. Kalau orang solehpun dapat membantu secara roh, tentulah hal ini Tuhan izinkan terjadi juga kepada Rasulullah SAW setelah kewafatannya dalam memikul tugas sebagai nabi dan rasul akhir zaman. Bahkan sebelum kelahirannya, roh atau nur Muhammad yang suci itu telah berperanan. Nabi Adam A.s pernah bertawasul dengan Rasulullah Saw ketika melihat nama Muhammad disandingkan dengan nama Allah di Syurga.

    Setelah kewafatan Rasulullah Saw, bumi telah mengadu kepada Tuhan mengapa tidak ada lagi nabi yang berjalan di atasnya sesudah nabi Muhammad Saw. Amirul Mukminin Sayidina Ali Kw. Juga telah berdoa: “Ya Allah, ya Tuhanku! Biarlah bumi ini tidak sepi dari penegak agama-Mu dengan hujah baik itu secara terang-terangan ataupun secara sembunyi.”

    Walau bagaimanapun, dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT, bumi ini tidak pernah lengang dari para ulama yang hak dan para kekasih Allah dari kalangan wali Autad dan Abdal yang membawa manusia kembali kepada tuhan.

    Rasulullah Saw bersabda:

    “Bahwa para ulama itu ialah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tiada mewariskan umatnya harta benda, tetapi mereka mewariskan umatnya ilmu pengetahuan.”
    (Hadis diriwayatkan dari Anas, tersebut dalam kitab Al Jamius Shoghir)

    Dalam hadis yang lain, rasulullah bersabda:

    Para ulamaku sama seperti para nabi Bani Israil.
    (Menurut Fakhrurrazi, Ibnu Qudamah, Al Baziri dll)

    Nabi-nabi Bani Israil yang dimaksudkan dalam hadis diatas, mereka muncul dicelah-celah terputusnya kelahiran para rasul Bani Israil. Contohnya Nabi Samuel AS yang muncul di waktu kekosongan rasul yaitu setelah berlalunya zaman nabi Zulkifli AS dan sebelum kedatangan nabi Daud AS. Manakala setelah keafatan Rasulullah SAW, tidak ada lagi nabi sesudahnya. Lalu Rasulullah SAW mengibaratkan para ulama yang haq dikalangan umatnya ini sebagai pewarisnya dan menggantikannya dalam tugas memikul tanggung jawab meneruskan seruan agama Allah SWT. Begitulah nabi sangat memuliakan ulama dikalangan umatnya dari segi peranan menyampaikan seruan, bukan dari sudut pandang kenabian.

    Begitu juga dengan rahmat Allah SWT, disepanjang zaman hingga saat ini di dunia tidak pernah putus dari adanya wali Autad dan wali Abdal yang karena ketaqwaan merekalah Allah menurunkan rahmat-Nya ke muka bumi. Hanya mereka tidak dikenali oleh umum. Tapi bagi para mujaddid yang berperanan di setiap awal kurun, kepemimpinan mereka lebih menonjol dibandingkan dengan ulama-ulama lain. Ini karena mereka adalah ulama berwatak rasul (yakni mereka mendidik dan memimpin manusia menuju Tuhan). Oleh karena itu menjadi tanggung jawab umat Islam di setiap awal kurun untuk mencari mujaddid dikurunnya karena hal itu adalah kabar gembira dari Rasul.

    Kepemimpinan Rasulullah melalui Mujaddid
    Nampaknya teknik yang digunakan oleh Allah untuk memudahkan Rasulullah SAW terus memimpin umat setelah kewafatan beliau itu dapa dibaca dalam sabda Rasulullah SAW yaitu:

    Dari Abu Hurairah RA, katanya bahwa Rasullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus pada umat ini di setiap awal seratus tahun seorang (mujaddid) yang akan memperbaharui urusan agama mereka.”
    (Riwayat Abu Daud)

    Jadi berdasarkan hadis tadi, jelas bahwa di setiap awal kurun (Hijriah), Allah mengutus seorang mujaddid.
    Mujaddid artinya orang yang membawa pembaharuan. Di dalam bahasa Inggris dikatakan reformer yang berarti pembaharu. Tugas mujaddid adalah untuk memperbaharui urusan agama. Mujaddid datang bukan membawa agama baru atau memperbaharui isi Al Quran. Mereka tetap membawa isi Islam seperti yang dibawa Rasulullah SAW. Hanya penafsiran tentang isi Al Quran dan Hadis itu diperbaharui melalui ilham dari Tuhan yang mana penafsiran itulah yang paling tepat dan sesuai untuk diamalkan di zamannya.

    Roh Rasulullah SAW diizinkan Allah untuk hadir (yaqazah) mengajarkan melalui ilham yang “jatuh” ke hati para mujaddid. Hakikatnya Rasulullah-lah yang melakukan tugas sebagai Nabi akhir zaman untuk menghidupkan agama Islam atau al Quran dan Sunnah setiap seratus tahun sekali.

    Rasulullah-lah yang memonitor setiap mujaddid sehingga mereka bukan hanya mampu menafsirkan Al Quran dan Sunnah tetapi juga mengamalkannya dalam diri, keluarga, jemaah, dan perjuangannya. Sehingga jadilah mujaddid yang lahir di setiap awal kurun itu ibarat Al Quran bergerak di kurun tersebut. Keindahan Islam yang dibawa dan diperjuangkannya berjhasil menjadi contoh atau role model, sehingga hasilnya manusia jatuh hati kepada Tuhan dan syariat-Nya.

    Mengapa Tuhan memilih kaedah ‘mujaddid’ sebagai saluran untuk Rasulullah berperanan?

    Karena Allah mau menunjukkan kuasa-Nya yang Maha Agung terhadap Nabi Muhammad SAW, yang mana nur Muhammad itu adalah lebih dominan dari pada fisiknya. Ia kekal wujud dan berperanan sejak pertama kali ia diciptakan sebagai ciptaan yang apling utama. Ia akan terus berperanan walaupun terhadap makhluk paling akhir yang akan dimatikan.

    Jasad Rasulullah SAW yang kekal tidak rusak, yang ada di bumi Madinah itu pun merupakan suatu kekuatan simbolik umat Islam. Ditambah lagi dengan roh baginda yang sangat kuat dan aktif bekerja sesudah wafatnya adalah suatu kekuatan tersirat kedua yang menjadi kekuatan juga bagi umat Islam.

    Ajarannya terus menguasai dan akan bangkit sekali lagi untuk memerintah dunia seluruhnya. Grand design oleh Allah dan rasul ini adalah pencaturan paling hebat, membuat musuh-musuh-Nya akhirnya menyerah diri kepada Allah dan menerima agama Muhammad.

    Kepemimpinan Mujaddid

    Tercatat dalam sejarah, jemaah dipimpin oleh mujaddid dengan kepemimpinan yang luar biasa. Allah membantu mereka dengan membekalkan ilmu, kemampuan dan kegigihan yang luar biasa sehingga para pemerintah di zamannya segan dan takut dengan jemaah dan pimpinannya. Allah membekalkan ilmu ilham dan karomah kepadanya dalam memperjuangkan agama Allah.

    Mereka sangat berwibawa karena ketaqwaan mereka. Para pengikut mereka pun walaupun sedikit, sangat taat dan setia, kuat beramal dan dapat membangunkan kesyumulan Islam dalam jemaah.

    Para mujaddid yang telah diutus

    Sudah ada sekurang-kurangnya 13 mujaddid yang datang di setiap awal kurun Hijriah yang sudah berlangsung selam 14 kurun sejak kewafatan Rasulullah SAW. Mereka itu ialah (menurut susunan kedatangan mereka):

    1. Khalifah Umar Ibnu Aziz (mujaddid pertama, datang pada awal kurun kedua Hirjiah)
    2. Imam Syafie
    3. Imam Abu Hasan Ashaari dan Ibnu Suraij Al Iraqi
    4. Imam Al Baihaqi dan Syeikh Abdul Hamid Isfaraini Asy Syafie
    5. Imam Al Ghazali
    6. Imam Fakhrurrazi
    7. Ibnu Daqiqi ‘Id
    8. Al Baqini
    9. Imam As Sayuti
    10. Imam Muhammad Ar Ramli
    11. Abdullah Salim Al Basri
    12. Ad Dardiri
    13. Asy Syarkawi

    Khalifah Umar Ibnu Aziz: Kedatangannya untuk memperbaharui sistem pemerintahan yang sudah rusak di zamannya. Keadilan dan ketaqwaannya mampu menundukkan manusia kepada Allah bahkan kambing dan serigala pun dapat berkawan pada masa itu.

    Imam Syafie: Beliau datang untuk mengaktifkan kembali amalan syariat dengan memperkenalkan kaedah ijtihad dan bagaimana meng’istinbat’ hukum. Dari beliaulah lahirnya penemuan kaedah-kaedah baru untuk menghidupkan agama di zamannya. Pendekatan secara ijtihad ini adalah khusus untuk umat Islam di zaman itu. Penemuan kaedah ini janganlah kita anggap hasil fikiran atau hasil pengkajian Imam Syafie di zamannya. Sebenarnya apabila Allah dan Rasul mengisytiharkan adanya mujaddid di awal kurun, artinya mujaddid itu dipantau oleh Allah dan Rasul. Apa yang datang dari mereka itu adalah buatan dan ciptaan Allah dan Rasul.
    Imam Ghazali: Menyatukan kembali syariat, tasawuf, dan tauhid yang sudah terpisah-pisah. Gabungan tiga ilmu yang dibuat dalam Al Quran dan Hadis oleh Allah dan Rasul terpecah-pecah dalam beberapa kurun kemudian. Lalu tanggung jawab Allah dan Rasul-lah membetulkan kembali kerusakan dengan cara mengutus orang-Nya sebagai mujaddid.

    Imam Abu Hasan Ashaari: mengeluarkan kaedah pengajaran ilmu tauhid secara falsafah berdasarkan dalil aqli dan naqli. Terkenal kaedahnya sebagai ilmu sifat 20.

    Imam Fakhruddin Ar Razi: menguraikan cara bagaimana kaedah mentafsirkan Al Quran dan bagaimana menguraikan maksud-maksud yang halus dan tersirat dari ayat Al Quran.

    Imam Sayuti: menguraikan bagaimana imam mujtahid berijtihad.

    Demikianlah diantara karamah-karamah besar yang Allah rezekikan kepada para mujaddid untuk membangunkan atau menghidupkan kembali agama di setiap awal kurun. Disini kita dapat berfikir, masakan Allah dan Rasul tidak berhubungan dengan orang-Nya, sedangkan misi mujaddid ialah misi Allah dan Rasul. Ini juga adalah mukjizat Nabi Muhammad yang sangat besar yang terjadi selepas kewafatan baginda. Sebenarnya roh mujaddid-mujaddid itu senatiasa bersama roh Rasulullah SAW.

    Para mujaddid sebenarnya adalah umpama para nabi di zaman ada nabi. Yaitu peranannya bukan membawa syariat baru. Mereka menyampaikan syariat Rasulullah untuk setiap seratus tahun sekali supaya umat sepanjang seratus tahun itu mendapatkan sentuhan Nabi mereka melaui mujaddid. Demikianlah rahmat dan keadilan Allah supaya setiap orang diberi kesempatan atau peluang untuk selamat dari api neraka. Oleh sebab itu siapa saja yang hidup di zaman adanya petunjuk baik itu rasul, nabi, atau mujaddid tapi tidak mengikuti petunjuknya maka dia tidak akan selamat hidupnya di dunia maupun di akhirat.

    NAH, SIAPAKAH MUJADDID DI KURUN INI? TAK INGINKAH KITA BERTEMU DENGANNYA? SUDAHKAH KITA MENCARINYA? BERDOALAH PADA ALLAH AGAR KITA DIPERTEMUKAN DENGANNYA. AGAR KITA TIDAK BINGUNG LAGI.

    Maaf ya, Bang Sufimuda. Ada artikel dalam komen.
    Ampun maaf..

  19. m.h.d.syafii.rkt on said:

    pendapat dari mirah delima, di/pada Juli 18th, 2008 pada 11:25 am bisa juga dikatakan benar tetapi hendaklah juga kiranya saya coba menerangkan sedikit ilmu yg mungkin bisa sama-sama kita pahami dan renungkan.Allah SWT menciptakan dunia beserta isinya ini selalu berpasang-pasangan seperti siang malam,pagi sore,atas bawah,kiri kanan,dan Allah itu tetap maha segalanya tetapi pernahkah kita memahami bahwa alqur an itu juga sepasang datangnya yaitu zahir dan yang batin.pertanyaanya yang mana yang zahir dan yang mana yang batin.dan jgn sekali-kali kita menyalahkan kaji orang lain.krn kaji org belum tentu salah dan kaji kita belum tentu benar.yang utama sekarang kita kaji siapakah kita,karena ditubuh kita yang kasar ada 3 yaitu yang mana diri yang diri,yang mana diri yang terperi,dan yang mana diri sebenarnya diri.karena kaji ada 3 tingkatan yaitu kaji tersirat,tersurat,dan tersuruk,maka ketahuilah itu dahulu baru amalkan secara pribadi.semoga bermanfaat.assalamu’alaikum wr wb.

  20. Almoed ( Non Sufi) on said:

    Saya setuju dengan pendapat “sufi gila”, memang benar tatkala istilah ilmu & pelajaran tingkat atas dan universitas di sampaikan kepada anak SD yang taklid(pikiran yang terdindingi), maka anak SD idealis bahwa dalam pemahaman dan pengetahuannya tidak terdapat hal tsb.

    Nah SD & SMP dalam mencari kebenaran matematik & aljabar masih di uraikan ke samping dan kebawah, itupun terkadang isinya masih salah namun dapat nilai karena penguraianya benar. Ini sebuah pengalaman nyata, bahwa yang paling parah adalah penguraiannya soal aljabar salah, isi & jawabannya malah makin tersesat, maka tidak dapat nilai, alias 0(zero zeblog).

    Bagi tingkat SMA & universitas soal-soal tsb sudah mampu diluar kepala alias yakin, karena tidak perlu otak lagi karena yakin adalah produk hati, sedang polemik dan sanggahan, perbedaan, kelompok, golongan, adalah produk dari otak yang terbatas, sehingga tidak ada perkembangan jiwa alias terhambat. Sedangkan agama adalah tuntunan jiwa melalui kekuatan hati yang akan memimpin lahir bathin. Bila keyakinan tsb merupakan input dari fikiran saja, maka hal tsb tergantung kepada kuat & lemahnya fikiran dalam berilmu.

    Sedang menurut Alquran, bahwa Alquran yang sesungguhnya (Alqurannul adhim) adalah yang ada di dalam dada orang-orang yang berilmu, bukan di dalam otak. Alquran yang ditulis dan dicetak hanyalah merupakan petunjuk saja(hudan), dimana hal tsb merupakan input otak untuk awalnya, selanjutnya manusia harus mencari bukti dari apa yang telah ditunjukan oleh Alqur’an.

    Kemudian dalam Alqur’an demikian pula, bahwa :
    “dibumi terdapat atnda-tanda(ayat-ayat) bagi yang meyakini, begitu pula pada dirimu, mengapa kamu tidak perhatikan ???”

    Maka kata “tasauf” hanyalah sebuah identitas bagian disiplin ilmu agama, yang paling penting adalah esensinya dalam membuka tabir kehidupan beragama dengan ketajaman mata hati untuk menemukan benarnya sebuah kebenaran(hakiki), hingga jelas dan nyata serta terasa yakin (hatta,sidiq). Sebab yang menjadi tujuan hidup adalah sesuatu yang “Abstrak”(ghoibul ghoib), dan mereka yang beriman adalah yang percaya kepada yang Ghoib/abstrak(Qs.2).

    metode populernya : Iman adalah diyakini di hati, diucapkan dengan lisan dan di kerjakan oleh anggota badan, sedangkan untuk mencapai “Hatta & Sidiq”, maka metode tsb dibalik yaitu : dikerjakan oleh anggota badan, diucapkan dengan lisan dan dibenarkan oleh hati. Maka Keimanan itu adalah sebuah amal perbuatan(syar’i), yang dikerjakan(thoriq), untuk mencapai kebenaran yang sebenar-benarnya(Haq), hingga kita tahu & mengenal kebenaran tsb(ma’rifah).

    Istilah-istilah tsb yang selalu ditentang oleh kalangan yang hanya pandai menghafal ayat & hadits, bahwa kata & istilah tsb tidak terdapat dalam Alqur’an. Jelas mereka tidak akan menemukannya karena hanya dibaca & dihafal sepintas lalu dan diterjemahkan dalam bahasa indonesia yang miskin arti & makna. Cobalah pecahkan ayat-ayat Alquran tsb dengan tata bahasa Alqur’an yang benar (nahwu sharaf), ilmu mantiq(alat), dengan tingkat tertentu(alfiah), maka tafsir & kandungan Alquran terdapat dibalik itu semua dan tersirat di alam kehidupan jagat raya dan seisinya termasuk diri kita sendiri.

    Jadi secangkir kopi susu badalah : air, bubuk kopi, susu, dan gula serta gelas, bila hal itu hanya dibaca & dilihat, tetapi tatkala di minum maka kita akan mendapatkan sebuah rasa lain lain dan sangat berbeda dari berbagai paduan tsb. Maka orang yang hanya bisa melihat membaca dan menghafal secangkir kopi susu secara kongkrit tanpa pernah meminum & merasakannya, tidak akan mampu sedikitpun sampai akhir hidupnya untuk memahami dan mengetahui nikmatnya kebenaran yang nyata dari rasa kopi susu.

    Orang tidak pernah memfungsikan & mengolah hatinya dan hanya mengolah fikirannya saja, maka tidak akan mendapatkan penglihatan dari mata hatinya. Dan sesungguhnya Tuhan berfirman bahwa yang buta bukanlah matanya tetapi mata hatinya, dan yang tuli bukanlah telinganya tapi pendengaran hatinya.

    Dan Tuhan berfirman bahwa:
    yang buta terhadap Aku dunia maka kelak akan lebih buta terhadak Aku diakhirat.

    Sedangkan Allah tidak terhijab dari sesuatu apapun, tetapi manusialah yang terhijab, dan hijab manusia adalah kebodohan dan ke-jailiah-annya. Maka menuntut ilmu adalah wajib(fardhu) bagi yang beriman. Maka Alqur’an dan sunnah bukanlah hanya dihafal, sebab tahu & mengetahui bukanlah karena hafal di otak, tapi tahu & mengetahui adalah setelah adanya proses ta’aruf, hingga ma’rifah.

    Sebab rasa “Cinta” & “kasih sayang” Tuhan hanya bisa dirasakan dengan Qolbu (jantung & hati) karena hal tsb adalah abstrak, bukan oleh otak dan fikiran, karena fikiran tidak mampu mengkongkritkan cinta & kasih sayang. Kesempurnaan iman adalah mencintai Allah dan Rasul Nya, melebihi cintanya terhadap diri sendiri(hadits).

    Bila banyak kalangan ahli hafalan menyebutkan, bahwa tasauf adalah sebuah prinsip bid’ah, mistik dan tersesat, padahal kita semua tahu bahwa yang tersesat di luar tasauf pun lebih buanyak dari kalangan tasauf bahkan berlipat ganda.

    Sebut sajalah, para koruptor, maling, garong, copet, penceramah yang mengharap angpau, ustad-ulama yang mencari kepopuleran nama dan menumpuk kekayaan, kasus depag korupsi dana umat, penyelewengan dana haji, penyalah gunaan dana zakat infaq dan shodaqoh, kaum taqlid buta yang melaksanakan agama hanya ceremonial, menyembah tidak tahu yang disembah, shalat hanya menggugurkan kewajiban, puasa hanya memindahkan jadwal makan, perayaan idulfitri hanya baru pakaianya bukan baru jiwanya karena fitrah, kelompok & golongan yang selalu betengkar faham agama, menegakan agama dengan merusak, melukai & membunuh. Sedangkan tidak pernah dalam sejarah Ahli tasauf & para ahli Ma’rifah gontok-gontokan rebutan Tuhan,.dan tidak pernah sedikitpun bertengkar dan berpolemik.

    Belum lagi istilah & indentitas kelompok & golongan serta organisasi serta partai yang semua itu tak terdapat namanya dalam Alqur’an. Baik itu NU, Muhamadiyah Persis, Ahmadiyah, Jabariyah Mutazilah, Syiah, dll mencapai 73 golongan menurut hadits.

    Jadi selama agama itu hanya dijadikan produk fikiran saja, maka “agama” yang artinya “tidak kacau”, malah makin kacau, dan ilmu agama tanpa tahu ilmu benarnya kebenaran(hakiki), maka akan rusakh !!

  21. budak angon on said:

    SALAM ROHMATTAN LIL ALAMIN saudara2ku

    al-quran terdiri dari 6666 ayat, 1000 ayat mengenai pahala 1000 ayat mengenai ancaman,1000 ayat mengenai perintah 1000 ayat mengenai larangan ,1000 asal usul dan kejadian yang akan datang 1000 ayat mutsyabihat,500 ayat menngenai halal haram,100 ayat nasik mansuk,66 aya mendenai dzikir dan goa serta shalawat, itu menjadikan ushul fiqh ( wajib ,sunat,makruh,haram,mubah)dikembangkan lagi jadi ilmu fiqh.ada 4 mazhab yang di kenal,di kembangkan lagi jadi ushul talajik.di kembangkan lagi jadi ilmu tasawuf,kirang langkung kulo nyuwun pangapunten, cara dan tatacara bertasawuf dipersilahkan masing2 .

    tabe pun ingsun

    heulang mapakkeun jangjangna

  22. Apa yg kau pandang baik, belum tentu baik menurut Alloh.
    Apa yg kau pandang buruk, belum tentu buruk menurut Alloh.

    Janganlah menebar fitnah, berprasangka baiklah.
    Jika kita berprasangka baik, ternyata yg kita sangka itu salah, Yakinlah kita tdk akan rugi karena kita dpt pahala berprasangka baik.

    Jadilah pembela sunnah, tapi janganlah memecah belah
    tetap pererat mahabbah dan ukhuwah, karena q’ta satu ummah.

    uhibbukum fillaah

    (Ya Alloh ampunilah hamba, jka yg di tulis ini baik dlm pndanganku tpi ternyata tidak bermutu dlm pandanganMu)

  23. Assalaamu’alaikum…

    Untuk menyatukan pemahaman bahwa Tasawuf adalah bukan bid’ah dlm agama. Didalam Tasawuf kita mengenal istilah maqam (tingkatan) diantara Ma’rifat yaitu Syari’at, Tharikat dan Hakikat.

    Ma’rifat adalah sebagai dasar (landasan) dari ke-tiga tingkatan (maqam) tsb, maka dari itu ada istilah Awwaluddin Ma’rifatullah = Syahadat/Musyahadah/Penyaksian.

    Dan kata lain untuk ke-tiga maqam (tingkatan) tsb adalah sbb:

    1. Syari’at = Akal/’Ilm al-Yaqin/Hukum Allah/Fiqih.
    2. Tharikat = Jasad/Jiwa/Lahir/’Ain al-Yaqin/Riyadhah.
    3. Hakikat = Rukh/Qalb/Bathin/Haqq al-Yaqin/Mukasyafah.

    Ke-tiga Maqam tsb merupakan satu kesatuan yg utuh dalam Ma’rifat. Seseorang yg telah menjalankan maqam Syari’at, tentu saja secara otomatis menjalankan pula maqamThariqat dan Hakikat. Yg membedakannya adalah kadar Ilmu dan ke-Iman-an seseorang.

    Jadi yg mengatakan Tasawuf bukan dari Islam adalah keliru. Yg perlu digarisbahawi adalah hanya beda istilah saja.

    Wassalaamu’alaikum…

  24. assalamualaikum
    cuma mau nambahin, tasawuf itu kategori ilmu khusus ya harus belajar secara khusus kepada orang yang khusus secara khusus..masuklah thoriqoh.
    salam cinta Indonesia

  25. SantriGendeng on said:

    Yth.kang sufi muda dan para musyawirin yg saya hormati,

    terimakasih banyak, atas semuanya ,dgn adanya wahana ini , menambah wawasan bagi saya utk bgaiamana seharus mengenali ALLAH ta,ala.

    blog ini ibarat mata air, yg bisa kita ambil manfa,atnya, jika kita haus bisa minum, jika badan kotor bisa mandi, dlln.
    mudah 2 han kita diakui sebagai ummat MUHAMMAD SAW.
    dan mendptkan syafa,atnya,

    Santri :org yg selalu dan selalu belajar, Gendeng : pada sang KHOLIK .
    salam kenal buat saudara semua.

  26. Hanya orang yg tdk paham tasawuf lah yg menganggap semua tasawuf itu sesat. Yang sesat itu tasawuf yang TIDAK mengikuti tuntunan qur’an dan sunnah Nabi. bukankah nabi SAW pun bertasawuf. jika Anda mencintai nabi ikutilah sunnahnya (salahsatunya adalah bertawasawuf), tpi ingat bertasawuflah sesuai tuntunan beliau SAW. JIka ada org brkata :’tapi kan istilah tasawuf tdk dikenal d zaman nabi ?’, jawab :’apa arti sebuah nama yang penting isinya/ajarannya/amalannya sesuai dengan tuntunan quran & sunnah nabi’.

    ilaahii anta maqshuudiii wa ridhooka mathluubii a’thinii mahabbataka wama’rifataka.

  27. Mungkin karena kurang belajar atau bagaimana, kok saya tidak pernah memperdulikan tingkatan atau klasifikasi, abangan, sufi atau apa, kok terlewatkan dari diri saya Ya…
    atau mungkin pemahaman Islam yang terpatri dalam diri saya yang terlanjur berprinsip, Amalkan ilmu Agamamu yang sedikit, Niscaya Allah melimpahkan mutiaranya padamu, janganlah kamu sibuk menikmati mutiara itu, tapi sibuklah dengan Allah.

  28. batist on said:

    maaf beribu maap,klo bs jng mengoreksi ajaran orang lain.
    Amalkan aja yang saudara yakini,semoga amal saudara d terima oleh Alloh SWT,amien.

  29. tuhan menciptakan manusia berbangsa bangsa dengan bahasa yang berbeda,manusia pun diberikan akal sesuai dengan kadarnya masing masing.mudah mudahan dengan adanya blog blog semacam ini tidak menjadikan laknat tapi rahmat bagi kita semua.menurut para arif bilah jangan menolak adanya perbedaan,tapi dengan adanya perdaan akan membawa kita pada wawasan yang lebih luas khususnya bagi orang orang yang berpikir(tafakkur).

  30. bagus bageur on said:

    lihatlah mutiara ditengah lautan dalam..dia siap dicari dan diambil bagi yang mau mengambil….karena mutiara tetaplah mutiara meskipun indah dia tidak pernah berteriak “aku adlah mutiara”

    salam hangat buat sufisme….

  31. syukron Jazilan atas penjelasan n hadis2nya yg begitu lengkap. Sy jd tambah paham

  32. Sangat setuju. Boleh kepada mereka yang menyesatkan tasawuf kita berikan tambahan komentar:
    Kalau Anda tidak atau belum belajar tasawuf jangan mudah menyalah-nyalakan. Jangan Anda hanya melihat dengan mata kepala, tetapi lihatlah dengan mata batin. Apa sih yang bisa Anda lihat dengan mata kepala? Paling yan ada di depan Anda dan teks yang Anda baca. Apakah Anda tahu ada apa di balik terks yang tertulis? Terlalu banyak hal yang tidak bisa Anda lihat. Jangan karena Anda tidak tahu, lalu Anda merasa paling benar. Pepatah Arab mengatakan:
    المرء دائما عدو ما يجهل

    Salam
    Saifuddin

  33. Dari kaca mata saya sendiri mengatakan bahwa aliran faham ideologi tasawuf ini! bukan termasuk dari syariat/tauhid dalam islam. sebab ajaran serta pemahaman nya tidak lah berdasarkan sumber dalil naqly yang sahih. nabi muhammad saw bersabda islam terbagi 73 golongan akan tetapi hanya 1satu agama yang benar-benar di akui dan di ridhoi allahswt yaitu islam. selebih nya adalah agama islam yang telah d’beri sekte oleh para provokator…!

    • Makanya kita dilarang memahami agama hanya dengan kaca mata sendiri, sebab lebih banyak salah dari benar. Diperlukan bimbingan Ulama agar pemahaman Islam menjadi benar

  34. Ruslianto on said:

    TIGA PILAR UTAMA AGAMA ISLAM

    Dari Sayyidina Umar bin Khatab r.a; beliau berkata, “Pada suatu hari ketika kami bersama-sama Rasulullah SAW, datang seorang laki-laki berpakaian putih dan rambut hitam, tertapi tidak nampak tanda-tanda bahwa dia orang musafir dan kami tidak seorang pun yang kenal dengan orang itu.
    Dia duduk berhadapan dengan Nabi dengan mengadu lututnya dengan lutut Nabi dan meletakkan tangannya di atas pahanya, lalu ia bertanya , “Wahai Muhammad, coba ceritakan kepadaku tentang Islam. Nabi menjawab, “Islam ialah engkau akui bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad itu Rasulullah, engkau kerjakan shalat, engkau bayar zakat, engkau lakukan puasa bulan Ramadhan, engkau naik haji kalau kuasa”.
    Laki-laki itu menjawab, “Benar”.
    “Kami heran”, kata Umar bin Khatab. Dia yang bertanya dan dia pula yang membenarkan.
    Lalu dia bertanya lagi, “Coba ceritakan tentang Iman !”
    Nabi menjawab, “Iman ialah supaya engkau percaya kepada Allah, malaikat-Nya, Rasul-Nya, Hari akhirat dan percaya dengan takdir baik dan buruk lainnya.
    Dia menjawab, “Benar !”
    Dia bertanya lagi, “Apa ihsan itu ?”
    Nabi menjawab, “Bahwa engkau menyembah Tuhan seolah-olah engkau melihat-Nya, tetapi kalau engkau tidak dapat melihat-Nya maka Dia melihat akan engkau”…………………….
    Kemudian laki-laki itu berjalan (berlalu), kata Sayyidina Umar.
    Tidak lama kemudian Nabi bertanya kepada kami, “Hai Umar, tahukah engkau (siapa) orang yang bertanya itu ?”
    Jawab saya, “Tuhan Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu”.
    Nabi menjelaskan, “itulah Malaikat Jibril, dia datang untuk mengajarkan tentang agamamu”. (H.R Imam Bukhari dan Muslim,-Syarah Muslim I hal 157-160).

    Dua Pilar utama (islam dan iman) saya yakin Sdr. Rizky pernah dengar sewaktu sekolah di Madrasah doeloe , Nah rukun Ihsan,… apakah anda pernah dengar ? – Padahal rukun ihsan itu wajib anda ketahui, karena Rasulullah s.a.w mengatakan “bahwa itulah berkaitan dengan pengajaran tentang Agamamu”

    Sayapun menjadi yakin kini sekiranya Sdr.rizky walaupun memakai kaca mata Haji Lulung sekalipun masih belum bisa mempelajari ilmu Ihsan (itu).

    Ihsan itu sasarannya adalah batin ruhaniah. Batin ruhaniah seseorang yang beribadah harus bersih sehingga membuahkan ubudiah yang ikhlas dan akhlak yang mulia. Ilmu yang membahas tentang itu adalah Ilmu Tassawuf dan Tharekat. Didalam hadits tsb, Ihsan itu artinya kita beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat Allah berada di hadapan kita, atau kita merasakan dan mengi’tikadkan bahwa Allah selalu melihat dan memperhatikan kita (bahkan senantiasa Allah dekat dan memperhatikan setiap gerak-gerik kita).
    Termasuk dalam kajian Tasawuf adalah segala usaha dan ikhtiar untuk berakhlakul karimah, beribadah yang kusuk, dengan cara mujahadah terus menerus dengan cara atau metode tertentu (tharekat), sehingga diri rohani kita menjadi bersih, dapat dekat kepada Allah SWT, guna memperoleh ridla dan Nur Uluhiyah-Nya.
    Ihsan yang pelaksanaannya melalui Tasawuf dan metode tarikatullah dijadikan sebagai “moto utama” oleh Para Sufi. Tasawuf semata bertujuan untuk mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah melalui akidah (keimanan), pengamalan syariat Islam, dan berakhlakul karimah. Gitu lho mas Rizky !

    Jadi (maaf) Sdr.rizky agar memakai kacamata yang benar, biar tau apa “ihsan” itu.

    Wass.

Comment navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: