Tasauf

Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat itu SATU

Saya seringkali dapat pertanyaan lewat email tentang hubungan antara syariat dan hakikat. Pada kesempatan ini saya ingin sedikit membahas hubungan yang sangat erat antara keduanya. Syariat bisa diibaratkan sebagai jasmani/badan tempat ruh berada sementara hakikat ibarat ruh yang menggerakkan badan, keduanya sangat berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan. Badan memerlukan ruh untuk hidup sementara ruh memerlukan badan agar memiliki wadah.

Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi guru Mursyid dari Ayahanda Prof. Dr. Saidi Syekh Kadirun Yahya MA. M.Sc mengibaratkan syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan. Dalam beberapa pantun yang Beliau ciptakan tersirat pesan-pesan tentang pentingnya merawat tubuh sebagai perhatian utama sedangkan merawat baju juga tidak boleh dilupakan.

Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya. Ada adagium cukup terkenal, “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia.” Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik.Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah berhakikat.”

Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi untuk dijadikan pedoman kepada manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal, karenanya Nabi yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami Al-Qur’an menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan Beliau, para sahabat menjadikan sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadist. Ucapan Nabi bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya.

Para sahabat sebagai orang-orang pilihan yang dekat dengan nabi merupakan orang yang paling memahami nabi, mereka paling mengerti akan ucapan Nabi karena memang hidup sezaman dengan nabi. Penafsiran dari para sahabat itulah kemudian diterjemahkan dalam bentuk hukum-hukum oleh generasi selanjutnya. Para ulama sebagai pewaris ilmu Nabi melakukan ijtihad, menggali sumber utama hukum Islam kemudian menterjemahkan sesuai dengan perkembangan zaman saat itu, maka lahirlah cabang-cabang ilmu yang digunakan sampai generasi sekarang. Sumber hukum Islam itu kemudian dikenal memiliki 4 pilar yaitu : Al-Qur’an, Hadist, Ijmak dan Qiyas, itulah yang kita kenal dengan syariat Islam.

Untuk melaksanakan Syariat Islam terutama bidang ibadah harus dengan metode yang tepat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilakukan Rasulullah SAW sehingga hasilnya akan sama. Sebagai contoh sederhana, Allah memerintahkan kita untuk shalat, kemudian Nabi melaksanakannya, para sahabat mengikuti. Nabi mengatakan, “Shalatlah kalian seperti aku shalat”. Tata cara shalat Nabi yang disaksikan oleh sahabat dan juga dilaksanakan oleh sahabat kemudian dijadikan aturan oleh Ulama, maka kita kenal sebagai rukun shalat yang 13 perkara. Kalau hanya sekedar shalat maka aturan 13 itu bisa menjadi pedoman untuk seluruh ummat Islam agar shalatnya standar sesuai dengan shalat Nabi. Akan tetapi, dalam rukun shalat tidak diajarkan cara supaya khusyuk dan supaya bisa mencapai tahap makrifat dimana hamba bisa memandang wajah Allah SWT.

Ketika memulai shalat dengan “Wajjahtu waj-hiya lillaa-dzii fatharas-samaawaati wal-ardho haniifam-muslimaw- wamaa ana minal-musy-rikiin..” Kuhadapkan wajahku kepada wajah-Nya Zat yang menciptakan langit dan bumi, dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang musyrik. Seharusnya seorang hamba sudah menemukan chanel atau gelombang kepada Tuhan, menemukan wajahnya yang Maha Agung, sehingga kita tidak termasuk orang musyrik menyekutukan Tuhan. Kita dengan mudah menuduh musyrik kepada orang lain, tanpa sadar kita hanya mengenal nama Tuhan saja sementara yang hadir dalam shalat wajah-wajah lain selain Dia. Kalau wajah-Nya sudah ditemukan di awal shalat maka ketika sampai kepada bacaan Al-Fatihah, disana benar-benar terjadi dialog yang sangat akrab antara hamba dengan Tuhannya.

Syariat tidak mengajarkan hal-hal seperti itu karena syariat hanya berupa hukum atau aturan. Untuk bisa melaksanakan syariat dengan benar, ruh ibadah itu hidup, diperlukan metodologi pelaksanaan teknisnya yang dikenal dengan Tariqatullah jalan kepada Allah yang kemudian disebut dengan Tarekat. Jadi Tarekat itu pada awalnya bukan perkumpulan orang-orang mengamalkan zikir. Nama Tarekat diambil dari sebuah istilah di zaman Nabi yaitu Tariqatussiriah yang bermakna Jalan Rahasia atau Amalan Rahasia untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Munculnya perkumpulan Tarekat dikemudian hari adalah untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar orang-orang dalam ibadah lebih teratur, tertib dan terorganisir seperti nasehat Syaidina Ali bin Abi Thalib kw, “Kejahatan yang terorganisir akan bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”.

Kalau ajaran-ajaran agama yang kita kenal dengan syariat itu tidak dilaksanakan dengan metode yang benar (Thariqatullah) maka ibadah akan menjadi kosong hanya sekedar memenuhi kewajiban agama saja. Shalat hanya mengikuti rukun-rukun dengan gerak kosong belaka, badan bergerak mengikuti gerakan shalat namun hati berkelana kemana-mana. Sepanjang shalat akan muncul berjuta khayalan karena ruh masih di alam dunia belum sampai ke alam Rabbani.

Ibadah haji yang merupakan puncak ibadah, diundang oleh Maha Raja Dunia Akhirat, seharusnya disana berjumpa dengan yang mengundang yaitu Pemilik Ka’bah, pemilik dunia akhirat, Tuhan seru sekalian alam, tapi yang terjadi yang dijumpai disana hanya berupa dinding dinding batu yang ditutupi kain hitam. Pada saat wukuf di arafah itu adalah proses menunggu, menunggu Dia yang dirindui oleh sekalian hamba untuk hadir dalam kekosongan jiwa manusia, namun yang ditunggu tak pernah muncul.

Disini sebenarnya letak kesilapan kaum muslim diseluruh dunia, terlalu disibukkan aturan syariat dan lupa akan ilmu untuk melaksanakan syariat itu dengan benar yaitu Tarekat. Ketika ilmu tarekat dilupakan bahkan sebagian orang bodoh menganggap ilmu warisan nabi ini sebagai bid’ah maka pelaksanaan ibadah menjadi kacau balau. Badan seolah-olah khusuk beribadah sementara hatinya lalai, menari-nari di alam duniawi dan yang didapat dari shalat itu bukan pahala tapi ancaman Neraka Wail. Harus di ingat bawah “Lalai” yang di maksud disana bukan sekedar tidak tepat waktu tapi hati sepanjang ibadah tidak mengingat Allah. Bagaimana mungkin dalam shalat bisa mengingat Allah kalau diluar shalat tidak di latih ber-Dzikir (mengingat) Allah? dan bagaimana mungkin seorang bisa berdzikir kalau jiwanya belum disucikan? Urutan latihannya sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al ‘Ala, “Beruntunglah orang yang telah disucikan jiwanya/ruhnya, kemudian dia berdzikir menyebut nama Tuhan dan kemudian menegakkan shalat”.

Kesimpulan dari tulisan singkat ini bahwa sebenarnya tidak ada pemisahan antara ke empat ilmu yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat, ke empatnya adalah SATU. Iman dan Islam bisa dijelaskan dengan ilmu syariat sedangkan maqam Ihsan hanya bisa ditempuh lewat ilmu Tarekat. Ketika kita telah mencapai tahap Makrifat maka dari sana kita bisa memandang dengan jelas bahwa ke empat ilmu tersebut tidak terpisah tapi SATU.

Tulisan ini saya tulis dalam perjalanan ziarah ke Maqam Guru saya tercinta, teringat pesan-pesan Beliau akan pentingnya ilmu Tarekat sebagai penyempurnaan Syariat agar mencapai Hakikat dan Makrifat. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi renungan dan memberikan manfaat untuk kita semua. Amin!

461 Comments

  • Muhammad Tahir dg Tojeng

    Kebanyakan hamba Allah (kita) dalam ibadah hanya sekedar melakukan shalat belum mendirikan, bagi yg mendirikan pun belum tentu melaksanakan shalat dengan khusyuk, karena khusyuk dalam shlat bukan pekerjaan (shalat) biasa……. Yg bisa mengetahui khusuk salat seseorang hanya Allah……..
    Terimakasih atas penjelasan2nya bang Sufi Muda, paling tidak saya mendapat pencerahan rohani……

      • Pesantren Al jannah

        Pelaksanakan dan mendirikan dilihat dari bhss jelss beda, yg mlksanakn blum tntu mndirikn. Slama ini kita baru bisa melaksanakn sja alias shalat bru sbatas ritual belum bisa menegakan, kalau sdah bisa menegakan maka akan tercapai visi sholat ‘tanha anil fahsyai wal munkar’ knp kemungkaran masih merajai di tengah2 kita? karena solatnya belum aqimu (menegakan) baru if’alu (mengerjakan) wallohu a’lam bishshawab…

  • none

    Alhamdulillah..benar sekali sdrku.. syariat, tarekat, hakikat, makrifat adalah satu, ibarat buah syariat adalah kulitnya, tarekat adalah tangkainya, hakikat adalah isi/daging buahnya, dan makrifat adalah rasa dan baunya, dan buah tersebut merupakan hasil dari pohon selama kita bersyahadat didunia ini dan kita juga yang akan menikmatinya kelak sebagai Rahman dan Rahimnya Allah SWT..misalkan buah didalam sholat adalah gerakan yang sesuai tuntunan Nabi merupakan kulit/syariat, Ikhlas karena Lillah dan Billah merupakan tangkainya/tarekat, memandang kesempurnaanNya merupakan daging/hakikat, dan mengenal dengan sebenar-benarnya adalah rasa/bau/makrifat..Bisa kita bayangkan sholatnya orang mukmin sejati akan terasa sekali nikmatnya karena buah syahadatnya sempurna baik kulit,tangkai,daging, rasa,baunya..dan setiap perbuatan manusia baik yang beriman maupun kafir akan mendapatkan balasan yang sesuai..orang mukmin akan mendapatkan buah yang baik sedangkan orang kafir yang ingkar kepada Allah akan mendapatkan buah yang buruk ..

  • hairul imani

    saya ingin mempelajari semu 4 tingkatan itu tpi saya tidak tahu bagai mana cara untuk menyelesaikan tau mencapai tingkatan itu dan apa yg harus aku kerjakan atau di amalka untuk mencapai tingkatan itu. . . .

  • abdulah

    “FIRMAN ALLAH swt”
    “Janganlah kamu mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keada’an mabuk, sehingga kamu mengrti apa yg kamu ucapkan…

    “Nah! Mabuk yg menurut ALLAH itu yg bagaimana sebenarnya?

    Sedangkan kebanyakan orng yg skrg itu banyak melakukan shalat, baik dia mabuk menurut kita, karna minum khamar’ atau tdk mabuk karna itu, sebenarnya sama saja (mabuk) karna dia sebnarnya tetap blm faham dan mengrti, apa yg dia ucapkan, hanya hafal sebatas lisan, hati blm memahami, perintah ALLAH blm dimengrti, pelaksana’an dan takwanya blm trbukti.
    Lalu apa yg akan ALLAH swt’ balaskan atas pekrja’an org2 ini dalam shalat, yg banyak janji2 dan ikhrar2 yg hrs ditepati? (waiill)
    Jangankan mendapat balasan pahala yg baik’ dari sisi ALLAH swt.
    Mendekatinya saja sbnarnya sudah jelas dilarang oleh ALLAH swt.

    Ber’arti apa yg ia lakukan hanyalah gerakan kosng saja tanpa dimengrti.
    Harusnya belajarlah dulu untuk mengrti baca’anya.(nilai belajar ALQUR’AN ini adalah jihad fisabililah)
    Karna, Didalam shalat adalah wajib ada ayat dari Alqur’an yg hrs dibacanya.
    Jika ia sdh mengrti ucapanya!!.. Benarkah ia sudah meyakininya bahwa ucapan itu benar?!!.. Jika ia sudah benar2 yakin dalm hati!
    Maukah ia meng’aplikasi’kanya scara nyata dalam setiap sisi kehidupan shari-harinya untk benar2 hanya mengabdi kpd ALLAH swt?..

    Hidup yg bukan hanya 5waktu sehari semalm x10,nenit paling bantr! yg digunakan untk mengingat ALLAH??..
    Akan tetapi 24jam adanya.
    Dan inilah ma’na sesungguhnya jika shalat yg benar adalah sbuah pelaksana’an yg berat, sebagai barometer amal sese’orang di akhirat nanti,
    “AMAL PERTAMA YG AKAN DIHISAB DI AKHIRAT NANTI ADALAH SHALAT!. JIKA BAIK SHALATNYA, MAKA BAIKLAH SELURUH AMALANYA, JIKA BURUK SHALATNYA, MAKA BURUKLAH SEMUA AMALANYA” karna akn mendapatkan Ketentuan nilainya yg setimpal dgn amalanya, baru akan trlihat benar dgn jelas stlah ma’nanya di praktekan dalm kehidupan.
    Bkn hanya gerakan kosong yg diharapkn dapat pahala angan2 belaka.
    “ALLOOHU’AKB “FIRMAN ALLAH swt”
    “Janganlah kamu mendekati shalat, sedangkan kamu dalam keada’an mabuk, sehingga kamu mengrti apa yg kamu ucapkan…

    “Nah! Mabuk yg menurut ALLAH itu yg bagaimana sebenarnya?

    Sedangkan kebanyakan orng yg skrg itu banyak melakukan shalat, baik dia mabuk menurut kita, karna minum khamar’ atau tdk mabuk karna itu, sebenarnya sama saja (mabuk) karna dia sebnarnya tetap blm faham dan mengrti, apa yg dia ucapkan, hanya hafal sebatas lisan, hati blm memahami, perintah ALLAH blm dimengrti, pelaksana’an dan takwanya blm trbukti.
    Lalu apa yg akan ALLAH swt’ balaskan atas pekrja’an org2 ini dalam shalat, yg banyak janji2 dan ikhrar2 yg hrs ditepati? (waiill)
    Jangankan mendapat balasan pahala yg baik’ dari sisi ALLAH swt.
    Mendekatinya saja sbnarnya sudah jelas dilarang oleh ALLAH swt.

    Ber’arti apa yg ia lakukan hanyalah gerakan kosng saja tanpa dimengrti.
    Harusnya belajarlah dulu untuk mengrti baca’anya.(nilai belajar ALQUR’AN ini adalah jihad fisabililah)
    Karna, Didalam shalat adalah wajib ada ayat dari Alqur’an yg hrs dibacanya.
    Jika ia sdh mengrti ucapanya!!.. Benarkah ia sudah meyakininya bahwa ucapan itu benar?!!.. Jika ia sudah benar2 yakin dalm hati!
    Maukah ia meng’aplikasi’kanya scara nyata dalam setiap sisi kehidupan shari-harinya untk benar2 hanya mengabdi kpd ALLAH swt?..

    Hidup yg bukan hanya 5waktu sehari semalm x10,nenit paling bantr! yg digunakan untk mengingat ALLAH??..
    Akan tetapi 24jam adanya.
    Dan inilah ma’na sesungguhnya jika shalat yg benar adalah sbuah pelaksana’an yg berat, sebagai barometer amal sese’orang di akhirat nanti,
    “AMAL PERTAMA YG AKAN DIHISAB DI AKHIRAT NANTI ADALAH SHALAT!. JIKA BAIK SHALATNYA, MAKA BAIKLAH SELURUH AMALANYA, JIKA BURUK SHALATNYA, MAKA BURUKLAH SEMUA AMALANYA” karna akn mendapatkan Ketentuan nilainya yg setimpal dgn amalanya, baru akan trlihat benar dgn jelas stlah ma’nanya di praktekan dalm kehidupan.
    Bkn hanya gerakan kosong yg diharapkn dapat pahala angan2 belaka.
    “ALLOOHU’AKBAR”AR”

    • Abdullaah

      Yang di maksud dengan mabuk di sini adalah mabuk karna minuman keras, namun mabuk di sini dapat di qiyas seperti sakau dll. Tingkat sholat seseorang sesuai dengan tingkat ilmunya dalam hal sholat . Tetapi seorang islam selalu di tuntut untu selalu belajar sehingga kualitas ibadahnya terus meningkat, contohnya seperti seseorang yang cuma hanya tahu gerakannya saja, maka sholatlah maka sholatnya sah,tetapi wajib belajar agar sholatnya semakin sempurna

    • SufiMuda

      Wa’alaikum salam wr. Wb
      Saya belum tahu tentang kafiyat 10.
      Yang saya tahu hanya kafiyat sebagai kunci untuk zikir dan kunci dari segala amalan tarekat.
      Tanpa menetahui kafiyat atau kifiyat maka amalan zikirnya batal.
      Kalau yang lain saya tidak mengtahuinya, mungkin sahabat2 yg lain ada yg bisa menjawab?

      • muhammaddthebjo@gmail.com

        terimakasih BANG ,,,!!!
        klau boleh tau gimana kafyat kunci tarekat untuk melaksanakn zikir,,,?

        BANG JU2r saya orang awan yg belajar tarekat sangat bingung,,,!!!
        karna ada yg bilang menghadir kan mursid itu sirik,,,!!!
        saya mohon mf yg sebesar2 ny bila saya salah bicara,,,!!!

        pertanya’an saya apa kah menghadirkan mursid itu sirik,,,???

        terimakasih,,,
        M.dodo

        • SufiMuda

          Kafiyat masing2 tarekat itu pada dasarnya sama. Intinya bagaimana bisa menyambungkan tali rohani dgn Rasulullah saw lewat rohani mursyid.
          Tentang kafiyat bisa ditanyakan kepada Guru yang mengajarkan anda zikir, saya tidak mengajarkan disini, itu biasanya khusus diajarkan oleh Guru atau khalifah Guru yg telah mendapat izin ketika mulai belajar zikir. Kifiyat itu pula yg terus dipakai sampai ajal menjemput.

          Menghadirkan Mursyid dalam ibadah itu tidak syirik, itu sebagai latihan bagi murid dalam mencapai tahap makrifat.

          Lebih bagus menghadirkan mursyid dari pada dalam ibadah terbayang wajah orang yg tidak kita kenal, atau menghayal ttg hal2 yg tidak bermanfaat.

          Imam al-Gazali dan banyak ulama menganjurkan bahkan mewajibkan terutama dalam zikir agar tidak tersesat.

          Orang yang mengatakan menghadirkan mursyid adalah syirik krn mrk tidak mengetahui ttg ilmu tarekat.

          Dari semua uraian, kuncinya kita harus memiliki Guru Mursyid agar terus mendapat bimbingan.

          Demikian

          • Murnikan Akidah dengan Al-Qur'an

            Hablum minallah itu adalah hubungan langsung antara hamba Nya dengan Allah. Jadi hakikat ibadah sholat, dzikir, doa itu langsung kepada Allah. Tidak boleh ada perantara apapun dari makhluk. karena Allah itu dekat bahkan lebih dekat dari pada urat leher kita. Ihsan itu bisa menghadirkan pemahaman tentang sifat Allah di dalam kehidupan sehari-hari. Cara mengaplikasikan Nya didalam kehidupan yang terpenting. Contoh: Ya Sami'(Maha Mendengar). Kita memahami sifat Allah maha mendengar. Maka hindarkan lisan dari ucapan yang tidak perlu yang mengundang dosa atau menyakiti orang lain. Isi lah lisan kita dengan pujian kepada Allah. Alhamdulillah. Itu menurut pemahaman yang saya pelajari dari Al-Qur’an. Prinsip nya setiap ajaran yang menyelisihi Al-Qur’an maka wajib untuk ditinggalkan. Berdzikir untuk mengingat Allah. Apakah pantas kita mengganti wajah dzat yang Maha segala-segala nya itu dengan wajah seorang Mursyid? Sangat lah tidak pantas. Maka sebelum beramal pahami dulu ilmu nya di dalam Al-Qur’an. Pahami dalil nya di dalam Al-Qur’an. Cukup lah Allah yang menuntun kita kepada hidayah Nya.

            • fadli

              Umat Islam sejak jaman rasul sudah baiat pada imam bro, setelah rasul dilanjutkan ke sahabat dan seterusnya. sepele aja bro pada masing masing kita ada malaikat yg dekat yg selalu mencatat amal baik dan buruk apa sudah kenalan kita dengan mereka? terus kenapa pula harus ada namanya malaikat jibril sebagai perantara Allah mengantarkan wahyu pada rasul, bro. kalo katanya kita yg orang biasa ini dekat dengan Allah kira-kira rasulullah itu dekatnya sudah seperti apa bro?
              bro, rata-rata umur penggali tasawuf itu diatas umur 40 an bro ……orang yg sudah semakin dekat dengan ajal (idealnya kan umur sampai 60an aja bro, lain lg klo bicara maut yg bisa datang kapan saja ya) ….nah apa dengan mudahkah ente mengatakan orang-orang itu tidak mengkaji lebih dahulu seperti yg ente kaji..hehehe menggelikan,

              bro inikan ceritanya begini diibaratkan orang sufi bilang melalui metode ini kita bisa mengetahui dan menyaksikan dibalik suatu tembok ada kodok, nah ente datang nimbrung langsung nyeplos klo dibalik tembok itu kagak ada kodok padahal ente sendiri main tebak-tebakan saja mengenai ada/tidaknya kodok dibalik tembok tsb. ini nggk fear namanya bro ……..!!!

              kesimpulannya pengamal tasawuf itu ya sumbernya Al-Quran dan Sunnah juga bro …..
              dan klo cerita masalah siapa kira kira yg masuk surga nanti, bukankah pnh diceritakan seorang pelacur saja gara-gara menolong seekor anjing dapat award surga bro. Ingat Award itu berlapis lapis alias bertingkat-tingkat…..nah Award dari Allah yg diinginkan kaum sufikan hanya semata-mata mengharap Ridho ALLAH dan inilah Award yg paling tinggi tingkatannya.

              KALO KITA NGGK PERCAYA DENGAN OMONGAN ORANG………………YA KITA SENDIRI YANG PERGI MEMBUKTIKAN DAN MENYAKSIKAN LANGSUNG MENGENAI KEBENARAN OMONGAN ORANG TSB………….AFTER THAT ………BILA ADA MAKA ADALAH, BILA TAK ADA MAKA TAK ADALAH …………ngunu wae kok repot……bro …..bro

              Klo ane pribadi, ane percaya itu yg namanya Insan Kamil Mukamil Ada!!! …………Alam diatas sadar itu ADA !!!

  • M.dodo

    BANG terimakasih atas penjelasan & pelajaran ny,,,,!!!
    berarti boleh menghadir kan mursid saat kita menjalan kn sholat,,,?
    bang kalau boleh tau apa yg dimaksud merabit mursid,,,?

  • Ruslianto

    Ass.
    Hm,..Maaf Bg.Sufi Muda,.. saya numpang lewat dikit,… ada penomenal Cerita unik tentang Kaifiyat (doeloe) Masih dikala (itu) YMM AYAHanda Guru (Silsilah ke-35 TN) dan (masih) Khalifah Rasul (kala itu) ,.. Beliau menyapa para muridnya,… ” Kalimat apa itu yang kalian salin itu..?” para murid menjawab : “Kaifiyat,. Ayahanda Guru” Lalu Ayahanda Guru, melihat bacaan tulisan,.. “Hm,.Kalimat yang bagus,..” dan ikut pula Beliau menyalin kaifiyat tsb.
    Hm,.. Allahua’lambisawwab.
    sMOGA Bang Sufi Muda berkenan memberikan pncerahan ttg makna (dibalik tabir) cerita (sebenarnya) ini.
    Wass. Mohon Maaf.

    • SufiMuda

      Wa’alaikum salam.
      Kaifiyat itu yang diajarkan ketika pertama sekali menerima dzikir dari Guru, sebagai pembuka sebelum kita melakukan dzikir.
      Kaifiyat dengan urutan bacaan yg sudah teratur, no5 ke bawah biasanya di izinkan untuk ditulis dengan tujuan agar bisa dihapal.
      Kaifiyat yang dimaksud sebagai kunci dzikir bukan sekedar hapalan itu, lebih dalam lagi hakikat kaifiyat adalah hubungan rohani antara murid dengan Guru.
      Guru Sufi mengatakan, “Kaifiyat itu mulai-mulai dihapal, nanti lama2 dia (kaifiyat) akan duduk di dalam dirimu”.
      Kenapa hakikat dari kaifiyat bukan yang dihapal karena Ayahanda Guru sampai Beliau menjadi seorang Guru Mursyid tidak pernah menghapal kaifiyat, Beliau hanya diajarkan kaifiyat pendek oleh Gurunya yaitu baca 1 al-Fatihah, 3 al-Ikhlas, hadiahkan, selesai.
      Ketika Yahya Senawat (Khalifah tertua) Beliau menteraketkan di bukit tinggi dan mengajarkan kayfiyat panjang barulah Beliau tahu kalau selama ini belum tidak mengetahui kaifiyat panjang tsb. 🙂
      Itulah sebabnya hakikat dari kaifiyat itu sendiri adalah rohani tersambung dengan rohani Rasulullah SAW.
      Ucapan Beliau yang menarik adalah, “Ayah koq ndak tahu ada “ateh bawah ateh bawah” dalam kaifiyat, tapi Ayah sudah jadi Syekh nich, ooo… intinya bukan di bacaan itu tapi bagaimana hubungan dia dengan gurunya!”
      Demikian yang bisa saya jelaskan..

      • Ruslianto

        Alhamdulillah,..mantap-lah SaudaraKu dan terimakasih sayapun tercerahkan sMOGA begitu juga yg laen, bertambah-lah ilmu “rasa” pada keilmuan Thareqat yang halus dan dalam.
        Wass.

    • SufiMuda

      Cerita yang Bang Ruslianto sampaikan itu benar adanya. Ayah Guru mengetahui kaifiyat di kemudian hari. Karena Beliau satu-satu nya orang yang di izinkan ikut tawajuh padahal belum masuk tarekat. Karena buru2, datang menjelang wirid, Syekh Hasyim mengajarkan 1-3 saja, dan itu lah yang dipakai selamanya…

    • baxooljelly

      apa gak lebih baik belajar kpd rosululloh SAW melalui pemahaman para sahabat…. mas……daripada sama kalijogo yg nungguin tongkat dikali sampe bertaun2……gak sholat,gak baca qur’an,gak zakat,gak makan,gak minum,pa ga kblet EE juga ya…..mau mas kaya gitu….hehehe….

  • athor subroto

    Bagus. Sangat ptg utk dibaca olh kaum muslimin d muslimat agar wawasan agama bs lbh luas lg. Trima ksh.

  • ninjafar

    subhanallah sekali, mantap ulasannya. saya sedang mencari hakekat dan makrifatullah ketemu blog ini.

    karena bagaimana mungkin kita solat kalo belum mengenal tuhannya (allah)
    maka dari itu selayaknya manusia yg beriman harus mengenal Tuhan dan Rosulnya yaitu Allah dan Nabi Muhammad SAW.

  • ninjafar

    penjelasannya mantap, subhanallah. saya ingi nmendalami ilmu makrifatullah agar mengenal betul Allah SWT.
    karena bagaimana mungkin kita bisa khusuk beribadah kalo tidak mengenal Tuhan Semesta alam.

    salam
    cinta Allah dan Rosul

  • afandi

    tarekat tanpa sare’at kurang sempurna, hakekat tanpa tarekat kurang sempurna, ma’rifat tanpa hakekat juga kurang sempurna,
    aq sngt setuju n yakin bila sari’at , tarekat, hakekat, ma’rifat , tu jdi satu,

  • darmuji

    Assalamu alaikum ……salam kenal untuk semua terutama untuk Sufi Muda…..saya snagat tertarik dengan dengan blog ini dan uraian dari para pengikutnya……..Alhamdulillah marilah kita ucapkan….karena semua ini adalah karuniaNya………Syariat Tarikat Khakikat Makrifat….,,mohon maaf sebelumnya dan mohon saran bila menurut saudara2 pendapat saya kurang pas……Kalau boleh dikatakan “tingkatan” pada dasarnya keempatnya hanyalah proses…ujung2nya adalah pemahaman kita tentang jati diiri manusia sebagai manusia dengan Tuhan seebagai Khalik…. Kalau kita paham jati diri kita dan Allah memberikan hidayah pada tingkatan dibukakan tabir ….maka semuanya jadi jelas…..semoga Alloh memberikan kita semua hidayah..

  • Rum Haidar Fauzan

    ALHAMDULULLAH 😀 , PATUT DIKUNJUNGI. POSTINGAN MENUJU SURGA NIH, PESAN DARIKU “CEPATLAH DIBAE’AT”
    WASSALAAMU’ALAIKUM

  • Rustam Hasan

    Bang apa arti mimpi di berikan buah anggur oleh Rasulullah SAW.?
    teman saya pernah bermimpi, dia bertemu Rasulullah, kemudian Rasul memberi anggur dua kali yaitu anggu yang matang (rasanya manis) dan anggur belum matang (rasanya asam)

  • dwi kurniawan

    makanya banyak orang sholat tp masih menggunjing orang,kikir,iri hati dll.
    mungkin pd wktu sholat gerakan dan hati tidak satu tujuan yaitu kpd rob pencipta.

  • M.dodo

    as-salamu’alakum wrh wbr.
    bang terimakasih atas pelajarannya,
    sungguh sangat berharga bagi pripadi,& bagi semuanya,
    ILAHI ANTA MAQSUDI
    WARIDHOKA MATLUBI.:
    ya ALLAH engkau lah tujuan qu & keridhonmulah tujuanku
    ATINI MAHABBATAKA WA MA’RIFATAKA:
    berilah aq kemampuan mencintai mu ma’rifat kepadamu.

  • suganda

    Melakasanakan ibadah itu ada tingkatannya,habblum minaallah dan habblum minannas,dari tingkatan itu mejadi 4 antara lain Ambiya,Aulia,Ulama.Awam.Pada umumnya syariat kepada tingkat awam,(umum).Sedangkan tingkat Tarekat,ma’rifat,hakikat,bisanya tingkatan para nabi,aulia(wali),ulama.

  • ahmad nur sitat

    emang bnar semua itu brkaitan,jgn hrp bs mnemukan hakikat ataupun ma’rifat klw tdk mgenal sari’at,tarikat sbnrx msuk golongan ilmu tasawuf,ilmu in bs d ktkan jg ilmu laduni, laduni hnyalah nm atau simbol,pahamilah dan kenalilah makhluk2 cipta’an q,jk engkau mau mgenal dan memahamiq.

Tinggalkan Balasan ke zaenuriemhaBatalkan balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca