Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Jangan Menilai Saat Sulit

Seorang ayah menyuruh keempat anaknya melihat pohon pir di dalam hutan pada empat musim yang berbeda. “Pohon pir itu pohon jelek, tidak berdaun, kering dan bengkok pula batangnya,” komentar anak pertama saat musim dingin.

“Pohon pir itu menggembirakan dan penuh dengan kuncup-kuncup hijau yang menjanjikan,” komentar anak kedua pada musim semi. “Pohon pir itu pohon yang cantik yang dipenuhi oleh bunga-bunga bermekaran yang berbau harum,” komentar anak ketiga ketika musim panas. Anak keempat tidak setuju dengan pendapat ketiga saudaranya.

“Bahwa pohon itu dipenuhi oleh buah-buah ranum, harum, dan enak,” ujar anak yang keempat pada musim gugur. Sang ayah berkata bahwa mereka semua benar, hanya saja mereka melihat pada waktu yang berbeda. Dan sang ayah berpesan, ”Mulai sekarang jangan pernah menilai kehidupan hanya pada suatu masa yang sulit.

”Ketika kita sedang menghadapi sesuatu masa yang sulit, segalanya menyedihkan, banyak kegagalan dan kekecewaan. Jangan cepat menyalahkan diri sendiri atau orang lain, bahkan berkata kita tidak mampu, bodoh dan bernasib sial.

“Di tangan Tuhan hidup kita.“ Berarti tidak ada istilah nasib sial bagi orang yan beriman. Kerjakan apa yang menjadi bagian kita dan percayalah Allah SWT akan mengerjakan bagianNya.

Jika kita tidak bersabar ketika berada dalam musim dingin, maka kita akan kehilangan keindahan musim semi yang cantik, kehangatan musim panas yang menjanjikan harapan. Dan kita tidak akan memanen hasil pada musim gugur. Kegelapan malam tidak selamanya bertahan, esok akan ada fajar yang mengusir kegelapan . Ada harapan ada kegembiraan, dan tersenyumlah. (KAK MER)

Sumber : http://www.Baitulamin.org

Single Post Navigation

6 thoughts on “Jangan Menilai Saat Sulit

  1. setelah baca ini, merasa malu saya…ane izin copas ya

  2. Ruslianto on said:

    Jika melihat dengan mata zhahir,.. seperti anak “surau” dan khadam-khadam seorang Wali Allah,.. dalam kehidupan nyata bertahun-tahun maka terlihat-lah keadaan (mereka) menjadi sulit dengan masa depan/menjalani kehidupan didunia dan mau menjadi apa ? bahkan tidak mungkin di-antaranya “sulit” berumah tangga karena keadaan ekonomi,
    Apakah dengan (melihat) mata bathin, sikap ubudiyah Para Anak Surau, adalah dalam upaya suatu solusi “menenangkan” kejolak nafsu dunia yang ada ?

    Inilah kehidupan nyata, perlu menjadi renungan bersama.

    Wass.

  3. Mantap ni postingannya.

    Thank AB SM

  4. dee yahu nurullah on said:

    Yes,begitulah rata-rata kita dlm menyimpulkan alur kehidupan ini. Terlalu cepat dn terlalu sempit dlm memandang,dgn mengabaikan sudut pandang yg lain yg mgkin kita terlupa atw blm sama sekali melihat sisi lain dr pandangan kita atw pandangan saudara kita…
    Terkadang lucunya pandangan demikian dipaksakan utk diterima semua orang,begitulah egoisnya manusia dgn akalnya…
    Padahal ibarat mendaki sbuah bukit kita memandang keidahan tdk dr puncak,kita baru berada dipertengahan salah satu sisi bukit, yg berarti jg kita belum melihat dr sisi bukit yg lainya yg mgkin punya keindahan berbeda..
    ‎​​‎​hehe ….,begitulah kita…

  5. Baedowi Ershadi on said:

    Baru sadar..
    menilai di saat sulit selalu bikin sensi

  6. dengan balance nya kehidupan dunia dan akhirat membuat kehidupan bermaknanya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: