Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

ZUHUD YANG SEBENARNYA

Sulthanul Aulia Ahli Silsilah ke-36 yang

mendapat gelar “Master Dunia Akhirat” mengatakan:

Hanya orang bodoh dan orang gila yang tidak ingin kaya

Syahdan, ada seorang syaikh yang hidup sederhana. Dia makan sekedar kebutuhan untuk bertahan-hidup saja. Karena profesinya nelayan, pagi-pagi dia memancing ikan. Setelah mendapat banyak ikan, dia membelah ikan-ikan itu menjadi dua: batang tubuh ikan itu dibagi-bagikan kepada tetangganya, sementara kepalanya dia kumpulkan untuk dimasak sendiri. Karena terbiasa makan kepala ikan itulah sehingga ia diberi julukan syaikh kepala ikan. Dia seorang sufi yang memiliki banyak murid.

Salah seorang muridnya hendak pergi ke Mursia, sebuah daerah di Spanyol. Kebetulan syaikh kepala ikan ini mempunyai seorang guru sufi besar disana (Syaikh Al-Akbar). “Tolong kamu mampir ke kediaman guruku di Mursia, dan mintakan nasihat untukku,” pesan syaikh kepada muridnya. Si muridpun pergi untuk berdagang. Setibanya di Mursia, dia mencari-cari rumah Syaikh Al-Akbar itu. Dia membayangkan akan bertemu dengan seorang tua, sederhana, dan miskin. Tapi ternyata orang menunjukkannya pada sebuah rumah besar dan luas. Dia tidak percaya, mana ada seorang sufi besar tinggal di sebuah bangunan yang mewah dan mentereng, penuh dengan pelayan-pelayan dan sajian-sajian buah-buahan yang lezat. Dia terheran-heran: “Guru saya hidup dengan begitu sederhana, sementara orang ini sangat mewah. Bukankah dia gurunya guru saya?” Dia pun masuk dan menyatakan maksud kedatangannya. Dia menyampaikan salam gurunya dan memintakan nasihat untuknya. Syaikh pun bertutur, “Bilang sama dia, jangan terlalu memikirkan dunia.” Si murid tambah heran dan sedikit marah, tidak mengerti. Syaikh ini hidup sedemikian kaya, dimintai nasihat oleh orang miskin malah menyuruh jangan memikirkan dunia. Akhirnya dengan kesal ia pulang.

Saat gurunya mendengar nasihat yang diperoleh melalui muridnya dia hanya tersenyum dan sedikit sedih si murid mengernyitkan kening tambah tidak paham. Apa maksud nasihat itu? Guru itu menjawab “Syaikh Akbar itu benar. Menjalani hidup tasawuf itu bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting hati kita tidak terikat oleh harta kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah SWT. Bila jadi orang miskin harta, tapi hatinya terus memikirkan dunia. Saya sendiri ketika makan kepala ikan, masih sering membayangkan bagaimana makannya daging ikan yang sebenarnya?

Kisah ini menunjukkan dua hal: menjadi orang kaya itu tidak mesti jauh dari kehidupan sufi dan menjadi orang miskin tidak otomatis mendekatkan orang pada kehidupan sufistik. Syaikh Al-Akbar yang disebut diatas adalah Muhyiddin Ibn ‘Arabi, salah satu sufi besar dan cemerlang dalam sejarah perkembangan tasawuf.

Sulthanul Aulia Ahli Silsilah ke-36 yang mendapat gelar “Master Dunia Akhirat” mengatakan: “Hanya orang bodoh dan orang gila yang tidak ingin kaya”. Beliau selalu menganjurkan  murid-muridnya agar selalu berusaha, jangan malu dalam mencari nafkah asalkan halal dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadist serta aturan-aturan negara. Agar bisa berhasil harus mencoba sampai 7 jenis usaha, Beliau mengistilahkan 7 sumber mata air. Beliau berusaha mengubah pandangan keliru terhadap tasawuf, bertasawuf tidak identik dengan kemiskinan, tapi justru dengan bertasawuf mengubah orang bodoh menjadi pandai, orang miskin menjadi kaya namun hatinya tetap bisa terus berzikir memuja Allah SWT.

Syaikh Nasiruddin Ubaidullah Al Ahrary As Samarqandi bin Mahmud bin Sihabuddin QS Salah satu Wali Qutub yang amat kaya. Kekayaannya pernah menutup hutang-hutang kerajaan Samarqan, membantu kerajaan Mugol India keluar dari krisis keuangan. Setiap tahun berzakat 60.000 ton gandum.

Seorang sufi lain mengatakan, kehidupan tasawuf adalah membiarkan tanganmu sibuk mengurusi dunia dan membiarkan hatimu sibuk mengingat Allah SWT.

Iman Ghazali mengatakan, jiwa harus merawat tubuh sebagaimana orang mau naik haji harus merawat untanya. Tapi kalau ia sibuk dan menghabiskan waktunya untuk merawat unta itu, memberi makan dan menghiasinya, maka kafilah (rombongan) akan meninggalkan ia. Dan ia akan mati di gurun pasir. Artinya, kita bukan tidak boleh merawat yang bersifat fisik, tapi yang tidak boleh adalah kita tenggelam didalamnya. Imam Al-Ghazali bertanya ”apakah uang itu membuat mu gelisah? Orang yang terganggu oleh uang belumlah menjadi seorang sufi”. Jadi persoalannya bukan kita tidak boleh mempunyai uang. Justru, bagaimana kita mempunyai uang cukup, tapi pada saat yang sama hati kita tidak terganggu dengan harta yang kita miliki.

Menurut Ibn ‘Arabi, dunia ini adalah tempat kita diberi pelajaran dan harus menjalani ujian. Ambillah yang kurang dari pada yang lebih didalamnya. Puaslah apa yang kamu miliki, betapapun yang kamu miliki itu kurang dari pada yang lain. Tapi dunia itu tidak buruk. Sebaliknya, ia ladang bagi hari akhirat. Apa yang kamu tanam didunia ini, akan kamu panen di akhirat nanti. Dunia adalah jalan menuju kebahagiaan puncak, dan karena itu baik, layak di puji dan dielu-elukan untuk kehidupan akhirat. Yang buruk, lanjut ‘Arabi, adalah jika apa yang kamu perbuat untuk duniamu itu menyebabkan kamu buta terhadap kebenaran oleh nafsumu dan ambisi terhadap dunia.

Nabi Muhammad SAW. Suatu kali ditanya, apa arti keduniawian itu? Rasulullah menjawab, “Segala sesuatu yang menyebabkan kamu mengabaikan dan melupakan Tuhanmu”. Kegiatan-kegiatan duniawi tidaklah buruk pada dirinya sendiri, tapi keburukannya terletak pada yang membuat lupa kepada Allah SWT.

Disamping Ibn ‘Arabi, konon banyak sufi yang hidup makmur. Fariduddin Al-Atthar, yang terkenal mengarang Al-Manthiq Al-Thair (Musyawarah Burung-Burung) itu, di gelari dengan al-Atthar karena perkerjaannya menjual minyak wangi. Junaid Al-Baghdadi dikenal sebagai al-Qawariri, penjual barang pecah belah. Kemudian Al- Hallaj al-Khazzaz, pemintal kapas: dia mencari nafkah dengan memintal kapas. Adalagi Sari as-Saqati, penjual rempah-rempah. Dan banyak lagi yang lain. Ini hanya gambaran bahwa sufi tidak harus menjauhi dunia.

Abu Zaid mengatakan bahwa seorang sufi yang sempurna bukanlah zahid yang tenggelam dalam perenungan tauhid. Bukan seorang wali yang menolak muamalat dengan orang lain. Sufi sejati adalah mereka yang berkiprah di masyarakat. Makan dan tidur bersama mereka. Membeli dan menjual di pasar. Mereka punya peran sosial, tapi tetap ingat kepada Allah SWT. Dalam setiap saat. Inilah hakikat zuhud yang sebenarnya.

 

 

Single Post Navigation

64 thoughts on “ZUHUD YANG SEBENARNYA

Navigasi komentar

  1. Mirip-mirip berdosa jika kita tidak memiliki semangat Kaya pakai raya dg rukun syaratnya sebagai murid Waliallah Saidi Syekh Muhammad Syukur Mangaraja Parlindungan.
    Setuju 1 triliun % u/ mas sufimuda.
    salam dari kami yg terus berjuang di negeri Jiran.
    Jika berkenan membuat buku dong mas Sufimuda yg isinya dari blog ini. Agar kami yg dipelosok dunia yg tdk terjangkau internet bisa membaca tulisan mas Sufimuda.

  2. sufimuda on said:

    Terimakasih untuk saudaraku quantumillahi atas komentarnya.
    Sekiranya isi blog ini dianggap bermanfaat dan memiliki kualitas untuk diterbitkan dalam bentuk buku, mudah2an akan segera terwujud…
    Mari kita terus membesarkan nama-Nya dengan segala daya dan kekuatan yang kita miliki..

  3. Aykal Alex on said:

    seMOGA tulisan ini dapat membuka pikiran user yang lain

  4. hamba'79 on said:

    Doa hamba’79..
    Ya Tuhan..berikanlah Guru hamba Kekayaan yang tidak pernah Engkau berikan kepada siapapun di dunia ini sebelum dan setelah nya…..
    Ya Tuhan..berikanlah hamba kekayaan yang karenanya hamba tidak dapat melupakan-Mu sedetikpun..
    Ya Tuhan..berikanlah hamba kekayaan yang karenanya hamba dapat membesar-besarkan dan mengagungkan nama-MU dan Kekasih-MU…
    Ya Tuhan..berikanlah hamba kekayaan yang karenanya hamba menangis untuk-MU….
    Ya Tuhan..berikanlah hamba kekayaan yang karenanya hamba semakin dekat dengan-MU…
    Ya Tuhan…berikanlah hamba kekayaan yang karenanya hamba dapat beserta dengan-Mu…
    Ya Tuhan..berikanlah hamba kekayaan yang karenanya hamba dapat terus menerus melihat-MU…
    Ya Tuhan…kabulkan lah Ya Tuhan…
    dari hamba -MU…
    yang bodoh..tolol..hina..daif…lagi papa…

  5. Musafir Tajir on said:

    artikel yg Passs…..Sedaaap…. Menambah semangat…. Maju terus Bang Sufi….. Ini jadi “terminal” saya untuk koreksi diri…
    Terimakasih

  6. … semoga kita menjadi orang kaya raya….
    … sufi moderninasi, kaya harta, kaya ilmu dan juga sang sufi pasti kaya hati…

    …. salam damai dari awe… 😉

  7. yudistira on said:

    amin ya rabbal ‘alamin………..

  8. Rindu Damai on said:

    menjadi sufi tidak harus miskin, begitu kah?

  9. sufimuda on said:

    begitulah adanya…

  10. salam kenal Rindu Damai..

    Jadi sufi tak harus miskin., karena sang sufi tidak dekat dengan kemiskinan, akan tetapi kehidupan sang sufi yang sederhana dilihat sebagai sebuah kemiskinan, sebenarnya sang sufi punya banyak harta benda, tanah yang luas, permata yang di simpan, bahkan intan dan berlian., wong namanya juga sufi, gitu kepengen pasti dia dapati

    akan tetapi tak pernah di perlihatkan untuk khalayak ramai…. kenapa para ulama dulu punya sawah yang luas, kebun yang luas., bahkan berdagang dan berniaga, mereka para penganut tasawuf……

    apa lagi di jaman modern sekarang ini, sufi bukan naik unta, tapi naik mercedez benz, sufi bukan jalan kaki, tapi duduk dalam lamborgini… sufi bukan berdiri di terik mentari, akan tetapi nyatai di CFC….. 🙂

    apa bila ada sufi yang masih jalan kaki, itu bukan lah kemiskinan, akan tetapi sang sufi lagi olah raga untuk kesehatan.. supaya dalam beribadah untuk membesarkan nama ALLAH tetap sehat dan bugar…..

  11. budiamin on said:

    Untuk membahas tentang sufiisme tak perlu menjadu sufi kan ?. Sebaik – baik manusia adalah yang berguna bagi orang lain, semoga kita termasuk di dalamnya.

  12. abdul shafar thariq on said:

    barokalloh amman syiwak..

  13. Saya pernah berada disatu titik bahwa dunia bukan lagi tujuan hidup saya … pada saat saya merasa memiliki segalanya maka dunia hanya hiasan.

    Kini ALLAH mengambil semua yang saya miliki.. untuk meletakan jiwa saya pada tujuan akhirat.

    Jadi Zuhud itu apa yah kesimpulannya?

    • Assalaualaikum.. Zuhud banyak fersinya intinya sebenrnya gini,,, Sehalal2 nya harta di DUNIA akan DI hisab di hari akhir nanti, jd bisa kah kita menjaga agar harta yg kt miliki itu tidak ada sedikitpun kesan Haram nya ?? dan bisakah kita menjamin dgn hati kita kl kita sudah Kaya kita tidak akan bs melupakan diri Nya walau sesaaat, Ingat ,, Iblis Menggoda Manusia khusunya kaum Pria dari 3 Hal : 1 Harta, 2.TAHTA, 3,Wanita = sanggup kah kita melewatinya kl kita sanggup silahkan saja, tp kl tak sanggup jgn coba2 sebab akan merugikan diri kita sendiri.

  14. sufimuda on said:

    Zuhud itu kaya harta kaya hati 🙂
    menurut saya zuhud itu adalah hati kita tetap bersama Allah dalam keadaan apapun, apakah kaya atau miskin apakah senang atau susah…

    Seorang yang zuhud hati nya tidak lagi di pegaruhi oleh dunia, tidak menilai seseorang dari materi…

    Mudah2an kita semua bisa jadi zuhud ya 🙂

  15. Rosulluloh pernah bersabda : LAA BA’SA BIL GHINAA LIMANITAQOO artinya ” Tidak membahayakan kaya bagi orang yang bertaqwa” jadi intinya adalah TAQWA bukan yang lain,jadi kaya tidak akan membahayakan bagi orang yang bertaqwa coba di renungkan ORANG KAYA yang merasa masih kurang KAYA bukankah dia juga di namakan SI FAKIR kalo yang miskin ya wajar kalo di katakan SI FAKIR tapi keduanya dapat menjadikan kufur bagi yang tidak BERTAQWA

  16. Achmad Yusuf on said:

    Ghautsul ‘Adzhom Syech Abu Muhammad Abdul Qodir Al-Jaelani pun penah berkata :

    “Dunia boleh engkau raup sebanyak-banyaknya, Harta, Uang boleh engkau kantongi sebanyak-banyaknya tapi jangan sampai itu semua masuk kedalam hatimu, cukuplah Hatimu hanya Allah yang memiliki segala sesuatu”.

  17. Yang dimaksud Ahli Silsilah yang ke-36 itu…

    Bpk. H. Iskandar Zulkarnain, SH, MH…

    ya mas?

  18. mas…?????

  19. ajak-ajak on said:

    Mohon Ampun Tuhan.
    Minux, tentunya yang ke – 36 itu dari yang ke – 35. Silahkan menghatur pertanyaan kehadapan yang ke -35. Ikuti rukun syaratnya, pasti terjawab. Sudah banyak kok contohnya.

    Salam

  20. Mohon maaf mas sufimuda…

    kok pertanyaan sy tdk dijawab?
    padahal anda posting judul baru…NASEHAT GURU***

    sedemikian sulitkah apa yg saya tanyakan?

  21. #
    ajak-ajak, di/pada September 5th, 2008 pada 5:57 am Dikatakan:

    Mohon Ampun Tuhan.
    Minux, tentunya yang ke – 36 itu dari yang ke – 35. Silahkan menghatur pertanyaan kehadapan yang ke -35. Ikuti rukun syaratnya, pasti terjawab. Sudah banyak kok contohnya.

    Salam

    maksudnya bagaimana ya ajak-ajak?
    takut salah sangka saya.

    apakah maksud ajak-ajak

    berdasarkan statemen yang dikemukakan oleh ahli silsilah yang ke-36, apabila ada pertanyaan silahkan haturkan kepada ahli silsilah yang ke-35 kah?

    jadi gak nyambung kan? sekali lagi mohon pencerahan.

  22. Mas Minux…
    Mohon maaf kalau pertanyaannya tidak bisa saya jawab.
    Karena sufimuda bukan forum untuk menentukan siapa Mursyid sebenarnya….
    Sisilah ke-36 itu penerus dari Silsilah ke-35, kalau menurut petunjuk Tuhan kepada anda yang menjadi ahli silsilah ke-36 itu Buya H. Iskandar Zulkarnain, SH, MH sekarang di teruskan oleh Abi H.Abdul Khalik Fadjuani, silahkan saja…
    Kemudian ada orang lain yang memilih kepada salah seorang Khalifah dari Ahli Silsilah-35 juga tidak ada salahnya.
    Setelah Guru Mursyid tiada, kita boleh berguru kepada Mursyid adat (anak kandung) bisa juga kepada Mursyid Adab….

    Kemudian, dikalangan pengamal Thariqat Haqqani yang juga bagian keluarga besar Naqsyabandi, silsilah ke-36 adalah Abu Ahmad as-Sughuri q.s. (sudah meninggal) dan yang menjadi Mursyid sekarang adalah guru ke-40, mereka mengistilahkan Silsilah dengan Rantai EMas…

    Dikalangan Naqsyabandi lain, ada yang silsilah sekarang sudah sampai ke-43.

    Thareqat Qadiriah wan Naqsyabandiah di suryalaya angka silsilahnya juga beda…

    Maka di sufimuda saya tidak mengatakan siapa silsilah-36, tidak menyebutkan nama agar tidak menyinggung perasaan yang lain…
    Biarlah ini menjadi forum bersama, para pengamal thareqat, tidak perduli apa thariqat nya dan siapa Guru Mursyidnya…
    Kalau anda ingin mengetahui siapa Guru saya, dan ingin berguru kepada Beliau, silahkan hubungi saya lewat email.

    Makasih mas minux dan sekali lagi saya mintak maaf jika jawaban ini kurang berkenan di hati..
    salam

  23. Afwan mas sufimuda, akhirnya direspon.

    sayapun tidak terlalu mempermasalahkan seorang salik harus me-rabithah kemana, karena mungkin sesuai gerak hatinya lebih berat kepada siapa, dan itu merupakan hak asasi

    permasalahannya yang agak ganjel di saya, karena anda menulis untuk umum alangkah baiknya jangan menggunakan urutan angka seperti yang ke-36, 37, …, yang secara langsung orang akan mencari sebuah nama.

    karena dapat menimbulkan fitnah dihalayak umum mas, bukankah merupakan tugas seorang murid untuk menjaga nama baik gurunya?

    bukankah para Wali Allah. SWT itu adalah rahmat bagi seluruh ummat? tidak terlepas pada setiap manusia di luar pengamal Thoriqoh.

    mohon maaf bila tidak berkenan, sekali lagi terimakasih atas posting2an-nya yang menjadi perantara kepada Sang Waliyam Mursyidana Nurun Alan Nuuri Nur Muhammad SAW.

    Salam Khalish kepada Mursyid anda, dan salam kenal kepada anda dari anak murid yang tetap tahkik kepada Mursyidnya.

  24. Coba dibaca dibagian TENTANG KAMI, disitu jelas sekali salah satu misi sufimuda adalah untuk menyempaikan dakwah tasawuf seluas-luasnya kepada masyarakat jadi tidak membatasi diri kepada salah satu thareqat atau Mursyid

    Masing2 Mursyid sudah punya situs khusus, disitu dibahas tentang ajaran2nya, metode zikir dan komunitas mereka masing2.
    Di kolom sebelah kiri sufimuda adalah situs thare yang bisa di akses dari sufimuda.

    Tidak ada murid yang tidak ingin mengenalkan Guru nya, tapi tentu cara berdakwah kan masing2.
    Setiap tindakan yang dilakukan punya sisi manfaat dan mudharat. Kita tinggal menimbang besar manfaat atau mudharatnya.
    Setelah saya menimbang, dan atas masukan dari saudara2 saya seguru dan mengingat apa yang saya tampilkan di sufimuda kadangkala merupakan pengalaman pribadi yang nanti bisa terjadi multi tafsir dan akan menimbulkan salah paham maka ada baiknya saya tidak mengatas namakan Mursyid.

    Banyak orang yang tertarik dan sungguh2 kemudian belajar kepada Guru saya setelah membaca sufimuda, mereka biasanya kontak dengan saya lewat email.

    Bagi saya, Mursyid itu adalah sesuatu yang sakral, dan bukan dijual murah dengan iklan di blog…
    Blog ini hanyalah sebagai penyampai pesan Beliau, kalaupun ada yang sungguh2 lewat do’a dan munajat dia ke Tuhan, pastilah sampai kepada Mursyid kamil mukamil…

    dan sufimuda itu adalah nama untuk semua, siapa yang baru belajar Thariqat/tasawuf disebut sufimuda dan sebaliknya orangtua yang baru belajar tasawuf juga sufimuda, dan mas minux juga sufimuda 🙂

    Salam kenal kembali, dan selamat bergabung disini, di sufimuda 🙂

  25. dwi aquaristanto budi sanjaya on said:

    ass wr wb
    sesungguhnya tujuan hidup sebagi seorang sufi adalah mendapatkan hadiah terbesar dari allah yaitu meninggal secara khusnul khotimah dan rahasia untuk itu sudah ada dari jaman dahulu ,sekarang dan yang akan datang yaitu barang siapa yang meninggal dengan mengucapkan kalimat laa illa ha illallah muhammadar rasulllullah maka surgalah tempatnya.
    dari itu semua tujuan hidup adalah mati.
    jangan pernah tanyakan baik,buruk,dosa,haram dan halal sehingga jalani aja langkah pasti hanya semata mata allah yang dituju insyaallah rahmat dan karunia akan turun dengan sendirinya.
    sesungguhnya allah meminta kepada hamba allah bahwasanya yakinlah dan yakini akan keyakinan yang engkau yakini karena sesungguhnya sangka allah sebagaimana sangka hambany dan aku sudah beritakan melalui al quran dan engkau sudah diajarkan melalui al hadits maka rubahlah nasibmu dengan keyakinanmu yang semata mata akulah yang engkau cari maka seluruh perjalan yang ada di dunia ini hanyalah media kamu beribah kepadaku. sesungguhnya aku maha pengampun (demikian kira2 yg harus dipahami maksud dan tujuan untuk sampai kepada allah)

    allah
    ar rahman
    ar rahim
    allahu akbar
    allahu ahad
    allahu somad
    lam yalid walam yulad
    walam yakulahu kufuan ahad
    laa illa ha illallah
    muhammadar rasullullah
    subhanallah wabihamdihi
    astagfirullah wa atubu ilaihi
    la haula wala quwata illa billahi aliyyil adzim
    inna lillahi wa inna lillahi rojiun
    subhanallah wal hamdullillah wa laa illa ha illallah huwallahu akbar
    allahu akbar walillah ilham
    alhamdullillahirabbil alamin

    wassalamualaikum warah matullahi wabarakatuh

  26. @saudara ku sufi muda
    saya boleh nambahinkan
    seorang yang “zahid” belum tentu “abid” dan seorang “abid” belum tentu “zahid” dan seorang yang “arif” sudah pasti “zahid” dan “abid”. Karena “arif” adalah orang yang selalu memusatkan perhatiannya kepada al haq (kebenaran). Itulah dasar sufi sejati. Sedangkan kebenaran dapat di rasakan,di lihat dan di pelajari secara analis dengan memahami syariat secara rasional, itulah langkah awal seorang sufi yang memulai suluknya dalam perjalanan tasawuf. Sehingga kokohlah setiap langkah walau tidak mengenakan nama kesufian. Dunia ini bukan tempat penghukuman sehingga kita membencinya tetapi dengan dunia ini kita merasakan kenikmatan dalam penghambaan. Mohon maaf kalau salah,… Keterbatasan milik diri ini dan kebenaran adalah kepunyaanNYA.

  27. Berpikir lha yang rasional dan sehat, pakai akal yang diberi Allah pada – Mu.
    Kalau dengan perut lapar, tidak ada ibadah yang khusyu’. Dengan Kefakiran akan jadi kekafiran lambat laun.
    Ingat lha, pepatah…..
    “Beribadah seperti besok akan mati, berjuang seperti akan hidup 1000 tahun”
    Lihat. Tidak ada para pembesar Islam yang miskin dan melarat termasuk Rasulullah dan Para Sahabat.

  28. Ass.
    Wah-wah,sepertinya banyak banget yang mengaku ahli silsilah.
    Gini aja dech, siapa yang merasa dirinya ahli silsilah, coba buktikan apakah kemampuannya sama seperti ahli silsilah sebelumnya, baik secara kepintaran, maqam ibadah, karomah, kebijaksanaan dan yang lain-lain.
    Burung beo pun bisa kok ngomong, “aku ahli silsilah,aku ahli silsilah” hehehe…..maaf.

  29. KRONOLOGIS KEJADIAN
    BAHWA
    YMM. AYAHANDA TIDAK PERNAH MENUNJUK KELUARGANYA
    SEBAGAI AHLI SILSILAH – 36

    Sebelumnya saya mohon ampun pada Allah dan mohon maaf yang sebesar-besarnya pada YMM.Ayahanda Guru karena membuka cerita ini dan saya juga minta maaf pada para Abang – Kakak yang merasa tersinggung karena hal ini. Sebenarnya saya menceritakan ini hanya karena kasihan pada Abang – abang dan Kakak – Kakak Ikhwan yang selama ini keliru menganggap bahwa Ahli Silsilah – 36 itu berasal dari Keluarga dan Ikhwan Tua (Alm.Iskandar Zulkarnain – Alm.Sandap).
    Tepatnya pada bulan Mei – 2001, saat itu kondisi kesehatan YMM.Ayahanda Guru semakin kian memburuk dan kemudian Para Keluarga YMM.Ayahanda membawa Beliau untuk dirawat di rumah sakit PERTAMINA – Jakarta. Ketika menjelang berlindung YMM.Ayahanda Guru terus mengucapkan Kalimah Tahlil (Laa ILaaha ILallah…..)terus menerus, waktu YMM.Ayahanda Guru ingin mengatakan siapa Ahli Silsilah – 36 (Itu adalah saya, karena semasa beliau hidup beliau amat mengasihi saya walaupun beliau tidak menunjukkannya di depan para Keluarga dan Ikhwan Lain, saya masih menyimpan bekas potongan kuku / rambut dan Sejadah pemberian YMM.Ayahanda yang berwarna Hitam yang diberi YMM.Ayahanda pada tahun 1995 di Batugingging pada saya, waktu itu YMM.Ayahanda menyuruh saya memanjat pohon jambu air di Ayunda Arafah untuk cucunya beliau menyuruh saya mengantarnya ke dalam Mihrab / Kubah Beliau, sejak itu saya terus akrab dan sering bertelefon dengan YMM.Ayahanda) tapi waktu itu seperti di taqdirkan Allah, para Anak-anaknya dan Keluarga Lain sibuk keluar dari ruang rumah sakit, dan setelah mereka kembali ternyata YMM.Ayahanda sudah berlindung. Spontan saja para Anak dan Keluarga YMM.Ayahanda kaget dan sedih juga tidak sempat mendengar amanah terakhir beliau. Beberapa Hari setelah YMM.Ayahanda berlindung mulailah terjadi keributan antara keluarga Ummi dan Bunda (ribut untuk memegang mahkota dan tongkat silsilah) waktu itu Alm.Iskandar Zulkarnain dan Bang In-Malik membentak Bunda dengan keras untuk meminta Mahkota Silsilah dan penengahnya adalah Alm.Sandap, akhirnya bersepakatlah kedua Keluarga bahwa yang Memegang Tongkat Silsilah adalah Alm.Iskandar Zulkarnain dan yang memegang Mahkota adalah Alm.Sandap. Karena mereka berdua (Alm.Iskandar dan Alm.Sandap) tentu saja mereka tidak “SANGGUP” memegangnya karena YMM.Ayahanda tidak pernah menunjuk mereka. Inilah cerita yang sebenarnya yang selama ini ditutup-tutupi oleh yang Tua-tua dan diselewengkan para Petoto yang tidak jujur.
    Disini ada saya lampirkan foto di Hongkong – Kowloon, istri saya yang berjilbab dan adik ipar saya (cantik kan istri saya) dan dibelakang mereka ada sebuah surau kecil berwarna hijau adalah surau yang saya dan para murid disini bangun untuk tempat kami beramal. Saya sangat kasihan ya dengan para Ikhwan yang selama ini salah sangka dengan siapa penerus YMM.Ayahanda. Bila ‘Channel’ nya salah apa gunanya kita beramal,wirid dan suluk (tidak akan sampai pada sisi Allah). Tapi saya bukan bermaksud mematahkan semangat para Ikhwan, teruslah beramal dan ber-Rabithah pada Saya, Insya Allah akan Sampai dan tidak akan sia-sia.

    Tertanda,
    AL-Muqarram AL-Haj Saidi Syechk L.Sulaiman Ibnu Achmad Yusuf Muhammad Amin.QS

    • Murid seorang Mursyid on said:

      saya mohon ampun kepada Allah SWT
      Sebelumnya saya mohon maaf kepada pihak yang merasa tersinggung dengan perkataan saya ini. Yang saya tahu Mursyid manapun itu tidak pernah mengatakan bahwa dialah Mursyid yang sebenarnya, Mereka hanya berkata carilah seorang guru mursyid yang benar-benar Kamil Mukamil dan tidak pernah memaksakan atau mengatakan kepada ikhwan lain bahwa mmereka telah salah memilih guru Mursyid dan mengklaim bahwa dirinya adalah mursyid yang sesungguhnya.

  30. daniel gafaro on said:

    Wadduh kok ada lagi yang ngaku silsilah ke 36?! seru bgt tuh jadinya. tapi biar ga ribut2+berantem berebutan jd mursyid. mending di buat 36a 36b 36c sampai seterusnya :->)……. kalo ga cukup juga … yaaa gabung aja ama caleg gagal di tempat kongkow2nya… siapa tau jadi mursyid ke 37 buat mereka gimana ??? salam damai n ga usah di komentari.

  31. Sarjana itu bukan satu tapi banyak 🙂

  32. Hamba Allah on said:

    mohon petunjuknya semoga dengan ada nya Blog ini menjadikan kita semakin rindu akan kematian dengan berbekal kecintaan akan Pencipta dan Rosul NYA ..dan janganlah blog ini dijadikan wahana untuk saling menyalahkan ,dan semoga kita semua dapat lindungan dari Pemilik kita semua.

    Amin

  33. TUHAN ALLAH NYATA BERPERI, SETIAP INSAN HARUS DIBERI, ASALKAN TUAN SUDI MENCARI, TUHAN ALLAH DIDALAM DIRI.

    PAYAH PAYAH MENCARI BILLAH, BILLAH ADA DIDALAM BULUH, PAYAH PAYAH MENCARI ALLAH, ALLAH ADA DIDALAM TUBUH.

    BIAR ALIM DALAM DUNIA, TAQLID BUTA HIDUP PERCUMA, KALAU SEMBAHYANG MENCARI BALASANNYA,TANDA MUNAFIK NAMPAK KELIHATANNYA.

  34. Masya Allah, seperti inikah? aku berlindung kepada 4JJ dari segala kesalahan dan kekeliruan. wallahualam bisawab.

  35. aneh..aneh…dunia memang sudah mau kiamat..
    semua orng berebut menjadi ahli silsila…
    musuh yg nyata (syetan) trtawa trbahak2..

    forum brsama menjadi ajang perebutan
    forum brsama menjadi ajang tuding benar atau salah
    hadap kpd sang wali yg mursyid ditiadakan..
    hadap kpd keluarga wali yg mursyid ditiadakan
    hadap kpd saudara seakidah ditiadakan..
    musuh yg nyata (syetan) trtawa trbahak2

Navigasi komentar

Tinggalkan Balasan ke AL-Muqarram Ahli Silsilah - 36 Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: