Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

ULAMA YANG MEMPERDAGANGKAN AGAMA

Kita sering dibuat bingung melihat agama dan keberagamaan. Ketika terjadi peperangan, terorisme dan lain-lain, kita sering menuduh agama sebagai penyebabnya. Padahal agama hanyalah kumpulan doktrin-doktrin tentang kebenaran yang bersifat mutlak karena diturunkan oleh Yang Maha Sempurna. Karena agama diturunkan oleh Yang Maha Sempurna, maka agama pun sempurna dan paripurna. Agama tidak pernah salah.

Tapi, dalam alam riil, yakni bagaimana agama diterapkan dalam peri kehidupan, kita sering melihat ketimpangan dan jurang antara agama yang mengajarkan keramahan dengan kenyataan kebringasan, agama yang menyerukan keadilan dengan korupsi yang membudaya, agama yang menyuruh menciptakan kedamaian dengan tindak-tindak kekerasan.

Sesungguhnya yang beringas, korup, kejam, dan lain-lain bukanlah agama, tapi para pemeluk agamanyalah yang beringas, korup, kejam, dan lain-lain. Para pemeluk agamanya yang kadang salah memahami pesan-pesan agama. Mereka membuat tafsiran-tafsiran sendiri tentang ajaran agama. Padahal tafsiran-tafsiran agama bisa saja salah karena dibuat oleh manusia.

Dan yang lebih parah lagi kalau tafsiran-tafsiran itu dibuat tidak dari dorongan hati nurani yang ikhlas dan penuh tanggungjawab, tapi malah pesanan. Maka yang terjadi kemudian adalah plintiran agama.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Batam mengeluarkan surat rekomendasi untuk sebuah yayasan yang menaungi peramalan zikir dengan metode Thareqat Naqsyabandiyah Al-Khalidiyah Al-Aminiyah, dalam surat itu dinyatakan bahwa seluruh amalan zikir yang dikerjakan oleh Yayasan tersebut adalah benar sesuai Al-Qur’an dan Al-Hadist. Dua tahun setelah surat itu dikeluarkan, saat Gubernur Kepulauan Riau ingin meresmikan Spiritual Islamic Traning Centre milik Yayasan di Komplek Perumahan Cendana Batam Centre, kebetulan karena sangat sibuk dan waktunya yang amat mepet, panitia lupa mengundang bapak-bapak ulama dari MUI, dan tentu saja sebagai ulama mereka merasa tersinggung merasa tidak dihargai, lantas dari kalangan MUI memberikan masukan kepada Gubernur untuk tidak meresmikannya dengan alasan amalan Yayasan itu diidentifikasikan sebagai aliran sesat, atas pengaduan masyarakat.

Hampir saja Gubernur tidak jadi meresmikan pusat pelayanan masyarakat yang sangat berguna bukan saja sebagai tempat zikir semata tapi juga sebagai pusat rehabilitasi orang-orang kecanduan Narkoba, menyembuhkan penyakit-penyakit kronis termasuk HIV/AIDS, leukimia, kangker, dan lain-lain. Syukur sekali Gubernur adalah seorang yang arif bijaksana tidak termakan provokasi bapak-bapak yang menamakan dirinya ulama tapi terkadang lupa dengan gelar ulamanya, Gubernur tetap meresmikan, akan tetapi MUI Batam yang telah mengeluarkan surat rekomendasi menyatakan mencabut surat rekomendasi dengan alasan mereka dulu salah mengeluarkan surat.

Dalam kasus lain, pada tahun 90-an terjadi geger, berdasarkan penelitian seorang peneliti dari UNIBRAW, Malang, namanya Dr. Susanto, menyampaikan bahwa ada sebuah merek dagang, yakni susu, yang disinyalir mengandung lemak babi. Karenanya, barang itu diduga merupakan barang haram.

Tapi kekuasaan dan uang punya tangannya sendiri untuk menyetempel logo Halal”.

Beberapa hari kemudian, mereka- orang-orang MUI dan POM (Pengawas Obat-obatan dan Makanan)- diterbangkan ke pabrik pembuatan susu. Setelah berkeliling-keliling dan ramah tamah kemudian mereka beriklan minum susu rame-rame. Tentu saja iklan “ulama” yang didampingi orang-orang POM itu menjadi berita hangat.

Kata seorang teman yang dekat dengan “ulama” yang katanya bukunya berlemari-lemari dan menguasai ilmu alat (Maksudnya bahasa Arab dan Tata Bahasanya) dia pernah wawancara dengan ulama itu, dan dia pernah berkata: “Anda mau fatwa yang mana? Yang halal atau yang haram? Semua ada dalilnya.” Menarik bukan?

Jadi, fatwa itu tidak lebih dari sebuah pesanan atau orderan untuk menyetempel produk atau masalah semata.

Perilaku-perilaku keagamaan semacam inilah yang kemudian diistilahkan dengan model keberagamaan ekstrinsik, sebuah bentuk keberagamaan yang memperdaya orang-orang dengan pura-pura tampil sebagai orang yang shaleh dan berwawasan, tapi ujung-ujungnya hanya memelintir agama hanya untuk kepentingan pribadi, Jabatan atau uang.

Sedangkan model keberagamaan instrinsik, sebentuk keberagamaan yang seorang memperdalam ajaran agamanya dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan karena semata-mata ingin menjadikan dirinya pribadi yang benar-benar shaleh, berjuang memperbaiki diri untuk dapat hidup sesuai denan tuntutan ajaran agama.

Dan ketika orang berkuasa, ada potensi dan kecenderungan menjadikan keberagamaan hanya sebuah model dan barang dagangan. Fenomena ini benar-benar dengan mudah dapat kita saksikan pada nama depan para calon legislatif yang di depannya ditambahkan gelar “Haji”. Juga photo mereka yang berpeci.

Nah, kalau sudah begitu, betapa malang nasib agama itu. Dan betapa lebih kasihan para awam, orang-orang yang tidak memiliki wawasan untuk bisa mengakses ajaran agama karena tidak memiliki cukup ilmunya. Sementara mereka hanya bisa meniru.

Tapi, yang lebih menyedihkan lagi adalah ketika melihat kenyataan riil beragama orang-orang yang alim, mereka juga bingung sendiri, kenapa mereka yang alim justru melakukan tindakan-tindakan bodoh. Sebuah paradoks!

Single Post Navigation

41 thoughts on “ULAMA YANG MEMPERDAGANGKAN AGAMA

Comment navigation

  1. Ruslianto on said:

    Ulama yg Populer BEDA dengan Ulama yg Melegenda,… Yang Populer Lebih sering muncul di media (tulis/electronik) dan Lebih banyak mengumbar kaji tentang syariat, dan Lebih kepada ego dan kedudukan,.. Ulama Tasauf pada umumnya melegenda karena kharismanya, serta banyak mencerahkan ttg sikap perilaku yg benar dan banyak menceritakan tentang fungsi hati/jiwa dan hanya di kenal (khusus) oleh kaumnya (sendiri).

    Pertanyaannya : Ulama manakah yg dikenang Lebih lama, Yang Populer atau Yang Melegenda ?

  2. afair tulo on said:

    ulama adalah pewaris para nabi…ulama yang bagaimanakah yang dimaksud? bukankah begitu banyak yang disebut ulama…bagaimana menilai bahwa seseorang ulama itu adalah pewaris para nabi? pastinya orang syariat akan menilai sesuai dengan pernyataan dalam al-qur”an dan hadist,akan tetapi banyak orang tertipu dengan melihat prilaku seorang ulama yang biasanya tidak sesuai dengan syariat,karena dibalik perlakuan seorang ulama pewaris nabi tersimpan,terkandung maksud2 tertentu yang hanya ia yang mengetahuinya,oleh orang syariat biasanya mengganggap prilaku ulama tersebut menyimpang dari syariat…contoh ceritanya adalah antara nabi musa yang ingin berguru nabi khidir,karena perlakuan nabi khidir yang ganjil,nabi musa slalu bertanya tentang apa yang dilakukan nabi khidir yang tdk sesuai dgn syariat…Mhn maaf baru belajar menulis komentar.

Comment navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: