Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Archive for the category “Jejak Cinta”

Jika Kau Bertanya Tentang Cinta…

30-CintaJika kau bertanya tentang hakikat Cinta kepada-Nya, tidak ada kata yang bisa mewakilinya karena cinta adalah “rasa”.

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, rasanya nyawa pun tidak lah cukup untuk diberikan kepada Sang Kekasih, bukanlah nyawa mu juga pemberian-Nya?

Jika Kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, ada gelora untuk memberi tanpa meminta karena itulah hakikat Cinta.

Jika kau bertanya tentang Cinta kepada-Nya, pernahkah air mata mu tumpah tak terbendung hanya dgn mengingat-Nya?

Dan kau pun menghapus air mata itu dari hadapan makhluk karena cukup kekasih saja yang boleh tahu.

Baca selengkapnya…

Lewat Karya kusampaikan Rinduku Pada-Mu”

Ingin ku ingat nama ku sendiri, tapi tak bisa…

Telah lama nama ku hilang dalam memori ini, hilang bersama dengan keabadian nama-Mu.

Bagaimana mungkin aku bisa mengingat diri ku sendiri setelah Engkau membunuh ku dengan kasih-Mu?

Aku coba lihat kembali ke dalam diri ini sekali lagi, disana hanya ada diri-Mu saja

Baca selengkapnya…

Episode Cinta V

Tuhanku..

kiranya tiada henti Cinta Kau kirim mendentum Rasa

dalam pinta

dalam dera

dalam bahgia

dalam rindu membara

Kau buatku menangis dalam tertawa

Kau belai membuai

Kau mengelus jiwa

Kau merayu mendayu

Kau mengalun-alunkan rasa

Kau jadikan isak menjadi tawa

Sungguh

kasmaran ini membuatku gila

Baca selengkapnya…

Aku Hanyalah…

;”>Aku hanyalah sebutir debu beterbangan kemudian hinggap di kaki-Mu yang Agung dan Engkau Maha Bijaksana mengizinkan aku sejenak untuk menempel akrab di sela-sela jari kaki-Mu, dengan itu pula aku merasa menjadi bermakna dibandingkan debu-debu lain. Aku menjadi lebih bahagia dengan perasaan “merasa” dekat yang aku miliki dan belum tentu Engkau mengakui kedekatanku dengan-Mu. Akupun merasa jadi bermakna, ketika Engkau masih mengizinkan diri yang hina ini untuk bersujud kepada-Mu di depan altar kemuliyaan-Mu.

;”> Baca selengkapnya…

Engkau Wahai Guruku…

Dulu, aku hanyalah seorang anak muda putus asa akibat patah hati, hidup tidak punya arah dan nyaris ingin mengakhiri hidup, kemudian aku  datang kepadamu menyerahkan diri untuk dibimbing menjadi orang yang berguna. Datang dengan niat untuk mengobati luka hati yang tercampakkan oleh dunia yang kejam. Masih aku ingat malam itu, Engkau wahai Guruku membentakku dengan keras karena aku tidak setuju dengan Tarekat karena bagiku Tarekat itu sebuah kata yang tabu, sebuah aliran yang penuh bid’ah dan kesesatan. Hampir saja Engkau mengusirku dan syukur sekali malam itu aku bertahan dan tidak keluar dari Suraumu. Mengingat kenangan itu, aku ingin selalu menangis, air mataku mengalir tanpa bisa tertahan, syukur kepada Tuhan yang Maha Pemurah telah memperkenalkan dirimu wahai Guruku, kekasih Allah dimuka bumi. Sungguh, andai malam itu aku merajuk dan keluar dari suraumu, saat ini aku tidak tahu menjadi apa. Menjadi hamba setan  dan Yang pasti aku menjadi orang yang menyembah Tuhan tanpa pernah kenal dengan Tuhan yang disembah. Seperti sindiranmu kepadaku, “menyembah tuhan kira-kira”.

Baca selengkapnya…

Sembilan Bulan SUFI MUDA

Waktu terlalu cepat berlalu melewati hari melintas bulan tanpa disadari telah 9 bulan Sufi Muda hadir dalam dunia tidak nyata, dunia maya yang memberikan kebebasan kepada siapapun untuk berkarya  menumpahkan pikiran dan perasaannya untuk dibaca oleh manusia diseluruh dunia tanpa dibatasi oleh sekat-sekat wilayah.

Sufi Muda di awal kehadirannya tidak lain untuk mengisi spasi kosong dari tulisan-tulisan tentang tasawuf yang telah begitu banyak ditulis oleh penulis-penulis hebat dan bermutu. Apa yang disampaikan oleh Sufi Muda hanya perulangan dari kajian-kajian tasawuf yang telah banyak beredar di internet. Sufi Muda hanya membahas dari sudut pengalaman pribadi dalam berguru kemudian menyelaraskan dengan teori-teori dasar tasawuf yang sudah mapan dan lahirlah tulisan-tulisan yang saudaraku sekalian baca.

Baca selengkapnya…

PUISI

Oleh : Abu Hafidzh Al-Faruq*

 

bunga-sufiPuisi adalah bahasa yang paling jujur yang pernah saya ketahui. Puisi adalah ungkapan perasaan yang sangat dalam yang lahir dari persinggungan perasaan seseorang terhadap sesuatu dan dituangkan dalam suatu bahasa yang sarat makna, oleh karena itu puisi tidak mungkin dibuat asal-asalan. Puisi adalah bahasa yang singkat dan padat, begitulah defenisi yang saya ingat dalam pelajaran bahasa Indonesia bab sastra pokok bahasan puisi, pada suatu hari ketika saya kelas 3 SMP dulu.

Baca selengkapnya…

Post Navigation