Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Dunia Sufi Yang Misteri (Bagian 4)

Saat ini kita sedang hidup di dunia pasca modern dimana orang-orang sudah jenuh dengan kehidupan materi dan mulai mencari pencerahan jiwa. Kesadaran manusia modern mulai meyakini bahwa kesenangan materi itu tidak mampu memenuhi kehausan jiwa karena memang kebutuhan berbeda. Seluruh dunia sedang bergerak kepada usaha untuk memberikan kesenangan jiwanya. Maka Yoga atau meditasi menjadi salah satu alternatif untuk memberikan ketenangan kepada jiwanya. Orang-orang Islam pun mulai bergerak kembali kepada dasar agama yaitu Tasawuf, kelompok yang selama ini menolak tasawuf kemudian menggunakan istilah lain yaitu Tazkiyatun Nafs (penyucian jiwa), intinya manusia modern sedang bergerak kepada nilai-nilai spiritual.

Berdebat tentang tasawuf apakah benar atau bid’ah bukan lagi masanya karena dunia Islam semakin sadar akan bahaya ajaran yang hanya berpegang kepada fiqih semata. Hasil dari belajar agama hanya dengan syariat akan melahirkan orang-orang yang merasa alim sendiri kemudian suka menyalahkan orang lain.

Fenomena kembalinya tasawuf di hati umat Islam juga menyisakan sedikit kekhawatiran dimana nanti orang belajar tasawuf seperti belajar fiqih, membaca kitab atau mendengarkan uraian tentang kitab lewat seseorang, kemudian sudah merasa bertasawuf.

Tasawuf sebagai ruh Islam (Ihsan) bukan ilmu yang dihapal atau dipelajari lewat membaca atau mendengarkan kajian-kajian, akan tetapi tasawuf di dapat lewat bimbingan Mursyid yang ahli di dalam bidang tersebut, mampu membimbing rohani muridnya sehingga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh generasi awal Islam yaitu Nabi SAW dan para sahabat Beliau.

Jika tasawuf dipelajari seperti orang belajar fiqih nanti akan muncul orang-orang yang berperilaku sama, yaitu merasa hebat dan pintar sehingga dia tidak lagi mencari Pembimbing Rohani untuk membawa dia kepada ilmu yang dia baca. Orang sangat hapal istilah-istilah dalam tasawuf tapi tidak akan sampai kepada hakikatnya. Ibarat orang hapal resep masakan tapi tidak mampu menghadirkan masakan apalagi sampai membacanya.

Untuk menjadi seorang sufi tidak di dapat lewat banyak membaca dan mendengar pengajian tasawuf tapi lewat bimbingan, setahap demi setahap menapaki maqam demi maqam sehingga mencapai makrifatullah. Guru Pembimbingnya minimal harus seorang Kakasih Allah sehingga benar-benar bisa membimbing muridnya kehadirat Allah.

Guru Mursyid itu terkadang terhijab dari pandangan manusia dan tidak dikenal sama sekali. Kabel listrik yang baru dibeli di pasar nampak bagus dan indah namun tidak memiliki arus sama sekali. Terkadang kabel yang lusuh selama mengalirkan listrik kita akan terus bisa memanfaatkan energi listrik lewat kabel tersebut.

Bisa jadi seorang pembimbing rohani itu adalah orang yang tidak pandai tulis baca sama sekali tetapi ruhani nya tersambung dengan Rasulullah SAW dan senantisa mendapat ilmu dari sisi Allah SWT (Laduni).

Imam Abdul Wahab asy Sya’rani memiliki seorang Guru yang ummi, tidak baca tulis. sehingga musuh-musuhnya mempertanyakan keilmuan gurunya, Syekh Ali Al Khawash. Gurunya ini menjadi bahan permusuhan pribadi, bukan karena perbedaan pendapat maupun mazhab. Syekh Ali Al Khawash dianggap hanya seorang pedagang kurma kemasan, yang sebelumnya juga pernah menjadi tukang cukur, dan tak bisa baca-tulis. Karena inilah Asy Sya’rani diserang dan dipertanyakan sisi keilmuannya.

Al-Khawwash bukanlah satu-satunya ulama yang buta huruf. Sidi Muhammad Wafa, Syekh Abdul Aziz al-Dabbagh sang penulis al-Ibriz, Ajam bint al-Nafis al-Baghdadiah yang mensyarah al-Masyahid karya Ibnu ‘Arabi dalam jilid yang termanuskrip. Bahkan sekelas Imam Al Ghazali pun ‘takluk’ di hadapan Guru adiknya yang hanya berprofesi tukang sol sepatu. Mereka semua buta huruf dan ulama besar yang memiliki kontribusi amat berharga dalam dunia spiritual Islam.

Begitu misteri dan sulitnya menemukan Guru Mursyid yang Kamil Mukamil maka Imam al-Ghazali berkata, “Menemukan Guru Mursyid yang kamil mukamil itu lebih mudah menemukan sebatang jarum yang disembunyikan di padang pasir gelap gulita”.

Jika Nabi secara terang-terangan menyatakan dirinya sebagai Nabi, sedangkan wali sebaliknya, hanya dikenali oleh orang sejenis (sesama wali) dan orang-orang yang ditakdirkan oleh Allah mendapat berkah darinya (menjadi muridnya). Nabi pun ditolak orang karena persepsi manusia saat itu tentang Nabi berbeda dengan kenyataan, tentu seorang Wali Allah lebih mudah lagi di tolak dakwahnya oleh orang-orang awam.

Jika kita ingin memasuki dunia sufi, hendaknya kita tanggalkan segala prasangka, persepsi dan angan-angan kita tentang dunia sufi karena itu akan menjadi hijab penghalang kita dalam belajar. Balajar dengan seorang Wali sangat berbeda dengan belajar dengan seorang ustad, mengkaji kitab tasawuf. Bisa jadi seorang Wali tidak pernah sama sekali membahas isi kitab apalagi sampai membaca dan menguraikan kepada murid-muridnya. Wali Allah memporoleh ilmu dari sisi Allah lewat Rasulullah SAW, bersambung silsilahnya sampai kepada Guru terakhir sehingga ilmu itu benar-benar terjaga kemurniannya.

Perintah Allah kepada Nabi Musa as ketika hendak mendekatkan diri kepada-Nya adalah “Hai Musa, tinggalkan dirimu, datanglah kepada-Ku”. Artinya segala persepsi yang muncul dari pikiranmu, ego dan kecerdasan mu tidak bisa engkau pakai untuk dekat kepada-Ku hai Musa, karena Aku terbebas dari itu semua dan Aku diluar jangkauan akal mu. Nabi Musa datang kepada Allah dalam kekosongan, dalam kefanaaan seorang hamba, barulah bisa Allah dikenali dan didekati.

Jalaluddin Rumi memberi nasehat, “Hijab terbesar antara manusia dan Tuhan adalah Ego”. Selama ego itu ada dan hadir, maka selama itu pula kita terhijab dengan Dia. Pengalaman Hamzah Fanshuri yang mencari hakikat Tuhan sampai ke Mekkah pun akhirnya menemukan yang dia cari di dalam dirinya sendiri, tentu atas bimbingan Guru Mursyidnya. Hamzah Fanshuri berkata, “Pergi ke Mekkah mencari Allah, pulang ke rumah bertemu Dia”, akhir perjalanan Hamzah Fanshuri dalam bermusafir sampai ke tahap hadirnya Allah di dalam hatinya sebagai Baitullah.

Mencari sesuatu yang tidak kita kenali dan tidak ada contoh tentu mustahil tanpa bimbingan. Ketika orang mendapatkan info bahwa Nabi Khidir hidup di laut sebagaimana kisah di dalam al-Qur’an, maka orang memaknai laut itu sebagai harfiah. Bagaimana mungkin seorang Guru dari Para Wali hidup terus menerus di dalam laut. Namun ketika kita pahami laut itu sebagai simbol ilmu, Lautan Ilmu maka persepsi kita tentang Nabi Khidir pun berubah. Itu salah satu cantoh dari sekian banyak misteri di dalam dunia sufi.

Maka tidak cukup dengan membaca buku untuk bisa sampai kehadirat-Nya, harus dibimbing oleh orang yang telah benar-benar kenal dan sampai pula kehadirat-Nya.

Demikian…

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: