Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Darimana Kita Harus Memulai?

Jika kita amati perkembangan dunia Islam saat ini, khususnya negara-negara yang mayoritas penduduk muslim, terasa sangat lamban pengetahuan berkembang disana apalagi yang berhubungan dengan teknologi. Pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berada di negara non muslim meskipun sebagian orang-orang Islam ikut terlibat di dalamnya.

Di Timur Tengah, sebagai induk ummat Islam hanya fokus kepada ilmu-ilmu agama. Kita mengenal al-Azhar sebagai universitas yang mengkaji ilmu agama, bukan tentang perkembangan teknologi. Sementara itu negara Islam lain (masih di Timur Tengah) yang berkembang pesat justru pembangunan dengan segala kemewahannya. Negara Islam menyerap teknologi yang diproduksi negara-negara barat. Dubai dan tidak lama lagi akan merambat ke Arab Saudi tumbuh menjadi kota modern, sebagai penyalur hasrat konsumtif yang terlebih dulu telah muncul di kalangan ummat Islam.

Jauh sebelumnya, ketika 100 tahun sebelum Kekhalifahan Ustmaniah runtuh, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hampir-hampir tidak ada disana. Diseberangnya negara-negara Eropa muncul revolusi Industri sementara di negeri-negeri Islam dibawah Ustmaniyah masih menolak ilmu modern. Universitas yang mempunyai fakultas teknik akhirnya harus di tutup karena ditolak oleh kalangan ulama. Ilmu baru dianggap sebagai ilmu kalau itu berhubungan dengan agama sementara ilmu duniawi dianggap tidak bermanfaat. Jadi Kekhalifahan Turki runtuh bukan karena diserang dari luar tapi memang sudah hancur dari dalam.

Zaman keemasan Islam (Bani Abasyiah) yang sering menjadi bahan cerita di era sekarang ini sebenarnya juga tidak muncul secara mendadak. Ada tradisi keilmuan yang dibangun selama bertahun-tahun sehingga ilmu pengetahuan mendapat tempat di kalangan ummat Islam. Dukungan dari beberapa penguasa saat itu sangat mendukung untuk perkembangan ilmu. Apakah kemudian kita hanya puas berkata bahwa Islam pernah menjadi pelopor pengetahuan?

Apakah kita seperti anak-anak ketika melihat perkembangan zaman sekarang selalu mengatakan bahwa itu hasil penemuan ilmuan muslim di masa lalu? Terus menerus menyenangkan diri bahwa komputer itu sebenarnya penemuan Islam di masa lalu, orang barat hanya meneruskan saja, sampai kapan kita memuaskan diri dengan hal-hal seperti ini?

Pertanyaan awal yang menarik untuk dijawab, kenapa ummat Islam mundur seperti ini dan pertanyaan berikutnya, jika ingin maju dari mana kita harus memulainya?

Dalam karyanya tentang ekonomi dan filsafat (1844), Karl Marx pernah memperkenalkan istilah Buruh yang terasing. Dalam relasi sosial kapitalisme, menurut Marx, buruh terasing dari apa yang ia buat karena sistem produksi yang terorganisir dan berskala besar membuat buruh memproduksi tidak untuk dirinya sendiri, tapi untuk perusahaan. Sebagai gantinya, ia mendapatkan upah berdasarkan apa yang ia buat.

Marx menyebut fenomena ini sebagai ‘alienasi’: semakin buruh bekerja, semakin ia menjadi asing dari apa yang ia buat, karena kemampuan dirinya telah ia berikan untuk pabrik dan perusahaan yang mengeksploitasi dirinya. Buruh menjadi asing dengan dirinya dan kemampuannya dalam bekerja.

Saya pribadi jadi berfikir, jangan-jangan kondisi ummat Islam saat ini memang didesain sedemikian rupa seperti buruh itu, hanya mengambil peran di dalam perkembangan peradaban dunia namun tidak bisa menikmatinya apalagi menjadi pelopor.

Barat sudah sedemikian maju ke depan sehingga ketika Muhammad Abduh sang pembaharu dari Mesir mengunjungi Paris, dia kaget karena melihat justru nilai-nilai Islam lebih terasa disana dari pada di negara-negara Islam sendiri.

Ummat Islam sendiri masih memelihara tradisi buruk di masa lalu dimana Eropa telah menyelesaikannya di abad pertengahan. Kita masih berkutat diantara bid’ah dan sunnah, diantara murtad dan muslim diantara beriman dengan kafir dan ini menguras energi sangat banyak sehingga membuat otak kita jadi tumpul untuk berfikir lebih hebat lagi.

Satu sisi ummat Islam “disuruh” membenci budaya barat satu sisi lagi kita tidak mampu keluar dari budaya barat yang kita benci tersebut. Tidak ada barang yang kita pakai bisa terlepas dari produksi barat bahkan sifat-sifat kita pun mengikuti budaya barat sadar atau tidak sadar.

Pertanyaan tentang dari mana kita memulai agar ummat Islam ini maju tiba-tiba saja muncul dalam fikiran setelah shalat Ashar tadi, mudah-mudahan pertanyaan ini bisa menjadi fenomena Apel nya Newton yang melahirkan Teori Gravitasi bagi ummat Islam. Siapapun yang membaca tulisan ini mari kita lompati cara berfikir dari sekedar menyatukan ummat Islam lewat ukhwah Islamiyah dan silaturahmi kepada berfikir bagaimana ummat Islam bisa melompati peradaban yang ada saat ini.

sMoga Bermanfaat!

Single Post Navigation

One thought on “Darimana Kita Harus Memulai?

  1. Alhamdulillah, Terimakasih atas pencerahannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: