Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Belajar Terakat Harus Umur 40 Tahun?

sujud1Saya membaca ulang tulisan berjudul Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat adalah SATU yang saya tulis 25 April 2013 dan ingin melanjutkan pembahasan tentang isi tulisan tersebut karena ini merupakan hal yang pokok di dalam kita menjalankan agama.

Sebagian kita pernah mendengar nasehat tentang kehati-hatian di dalam melaksanakan tarekat dan hal-hal yang berhubungan dengan mistisme Islam. Sebagian memberikan nasehat agar kita mencukupkan umur dulu sampai 40 tahun baru kemudian menekuni tarekat agar lebih serius dalam menjalankannya sementara ada yang berpendapat seseorang harus sempurna terlebih dahulu syariatnya baru kemudian dia menekuni tarekat agar dalam melaksanakan amalan tarekat tidak menyimpang dari ajaran Agama.

Nasehat pertama tentang umur saya sendiri pernah mendengarnya dan sampai saat ini saya belum menemukan dalil kenapa harus berumur 40 tahun baru belajar tarekat. Bisa jadi ini dikaitkan dengan umur Nabi menerima wahyu atau bisa jadi umur 40 tahun adalah umur yang dianggap sudah matang seperti yang disampaikan Ibn ‘Abbas: “Dibangkitkan Rasulullah s.a.w pada usia 40 tahun” (riwayat al-Bukhari). Tentang umur 40 tahun Allah SWT berfirman :

Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukkanlah aku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang soleh yang engkau redhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (al-Ahqaf: 15)

Ayat ini menjelasakan bahwa seseorang yang telah berumur 40 tahun hendaknya serius atau fokus bertaubat dengan memperbanyak mengerjakan amal shaleh. Salah satu tujuan menekuni tarekat adalah agar kita bisa melaksanakan taubat nasuha, meningggalkan perbuatan-perbuatan tercela kemudian melangkah kaki untuk menggapai jalan-Nya (Thariqatullah).

Berbicara tentang taubat tentu kita tidak ingin berspekulasi menunggu umur 40 tahun baru kemudian bertaubat karena tidak ada manusia yang mengetahui dengan pasti kapan Allah akan mengambil nyawanya. Taubat dilakukan saat sekarang tanpa menuda-nunda artinya mengamalkan ajaran tarekat harus dari sekarang, harus saat ini!

Saya sendiri belajar tarekat ketika umur 21 tahun dan sampai saat ini tetap berguru, belajar dan terus belajar. Hal positif menekuni tarekat di usia muda adalah kita memiliki kesempatan yang banyak, waktu luang yang banyak sehingga kita bisa mengabdikan diri sepenuhnya untuk belajar tarekat. Dzikir dalam tarekat sebagaimana yang kita ketahui jumlahnya banyak tentu kalau dilakukan dalam usia muda sangat bagus.

Tentang umur 40 tahun Guru saya pernah berkata, “Ilmu ini (Tarekat) akan jadi ketika usia mencapai 40 tahu”. Artinya ilmu tarekat akan berbekas dalam diri seseorang ketika dia berusia 40 tahun, tentu saja bukan berarti kita menekuni tarekat umur 40 tahun, karena berbekas atau berkembang ilmu tersebut memerlukan proses yang panjang.

Tentang proses yang panjang ini, Guru saya berkata, “Ilmu ini ibarat tanaman tua, seperti menanam kelapa, 7 tahun baru berbuah dan setelah berbuah akan terus berbuah selamanya”. Belajar tarekat diperlukan ketekunan karena disini tidak ada batas waktu dan tidak ada istilah tamat berguru, kita berguru sepanjang hayat di kandung badan.

Tentang nasehat bahwa kita harus sempurna dulu syariat baru kemudian belajar tarekat dalam hal ini saya sepakat, itulah sebabnya dikalangan pasantren tradisional yang mengajarkan tarekat, pelajaran ini dapat setelah 6 tahun belajar syariat (fiqih dll). Namun bagaimana dengan orang yang tidak pernah belajar di pasantren, tidak mempunyai waktu untuk belajar disana. Menurut saya kalau dia ingin belajar terekat silahkan saja karena belajar tarekat pada hakikatnya dalah bertaubat dan dalam hadist Rasulullah salah satu dari 3 hal yang harus disegerakan adalah taubat.

Seorang yang sudah mengerti melaksakan rukun Islam terutama shalat, bisa melaksanakan shalat sesuai dengan rukun syaratnya sudah bisa belajar terekat dan nanti seiring berjalannya waktu dia bisa menyempurnakan ilmu syariatnya. Dan sepengetahuan saya belajar syariat juga tidak ada batasnya, tidak ada sempurnanya, begitu banyak yang harus dipelajari.

Kesimpulan dari tulisan ini, bagi anda yang ingin belajar tarekat dan mendapat bimbingan dari Guru Mursyid maka segera laksanakan niat anda karena kita tidak tahu kapan ajal akan menjemput. Jangan perdulikan usia anda dan jangan perdulikan ilmu yang anda ketahui, serahkanlah semua kepada Allah dan nanti Insya Allah, anda akan dibimbing langsung oleh Allah SWT.!

Single Post Navigation

24 thoughts on “Belajar Terakat Harus Umur 40 Tahun?

  1. Allahu akbar…
    Assalamualaikum yg akhi..
    Sufi muda
    salam kenal dan up plus utk akhi…
    Saya terus mengikuti perkembangan sufi muda…hingga detik ne
    tapi saya baru berani mengirim pesan skrg
    oh ya saya harap akhi mau memberikan info tentang guru mursyid yang ada didaerah dumai (riau)
    sukses terus dan terima kasih

  2. Saya dulu sampai skrg masih berpikir bahwa ntik lh umur 40 thn belajar ilmu tarekat..
    Tp setelah membaca tulisan akhi..ne
    hati saya bergemuruh ingin rasanya hari juga saya berguru dengan guru mursyid…
    Tapi sayang dan sayang kan
    tentang kemursyid..yg ada didaerah saya ( dumai )
    sungguh sungguh sangat sulit untuk mencari tahu kebaradannya…
    Saya harap akhi sufimuda
    benar benar dapat membantu saya…atas perhatian akhi saya ucapkan trima kasih..

  3. Syofyan Riau on said:

    Mari kita bertaubat atas kelalaian diri yg selama ini mengaku mampu untuk beribadah ataupun maksiat. Inilah kemusyrikan yg nyata tetapi terselubung didalam diri.

  4. samarsamarindah on said:

    Mskasih

    Sent from Samsung Mobile

  5. Abdul Muis Usman on said:

    Betul. Belajar diwaktu muda sangat baik karena kekuatan, kesempatan dan keberanian masih tetap gagah perkasa. Kakak Sufi Muda saya belajar tarekat sejak masuk kuliah tetapi seiring perjalanan rohaniku, keyakinanku berubah mengenai shalat. Dulu SD-SMA saya berkeyakinan jika tidak shalat adalah dosa dan jika melakukan pasti dan pasti dapat pahala. Tetapi ketika aku menjalani tarekat keyakinanku tentang shalat berubah contohnya jika shalat tidak khusyuk percuma dan tidak dapat pahala bahkan diancam neraka karena tidak khusyuk bahkan terkadang saya meremehkan shalat. Saya lebih mementingkan zikir (syahadat) dari pada rukun ke 2 islam yaitu shalat. Bagaimana Sufi menanggapinya.

    • Sebagaimana Firman Allah dalam surat Al-‘Ala, fungsi dzikir adalah agar kita bisa melaksanakan shalat dengan benar. Apakah kalau shalat belum khusyuk kita tidak mengerjakan shalat? jawabannya shalat tetap dilaksanakan sementara dzikir terus dilaksanakan, nanti keduanya akan bertemu dalam satu kesempurnaan. Tidak bisa salah satunya ditinggalkan. Ibarat melatih bela diri, kesempurnaan diperoleh karena sering latihan, demikian juga dengan shalat.

  6. Saya juga pertam kali beranjak dari filsafat menuju sufism di umur 21. Beberapa teman2 saya juga cerita, mereka mulai ‘penasaran’ di umur2 selesai kuliah. Munngkin memang trgantung awareness masing2 ya. Tapi senang, tau ada banyak orang yang perjalanannya hampir serupa.. 😀

  7. Hussin on said:

    Assalam Tuan Sufi Muda, apakah zikir asas untuk pelajar yg baru ingin belajar/mengamal tarekat sekiranya belum berjumpa Tuan mursyid yg bisa membimbing kita kerana sukar untuk menemui dan mengenali mursyid yg sentiasa bersifat tawaduk dan tidak suka menonjolkan diri?

    • Wa’alaikum salam
      Lebih baik belajar syariat, mengerjakan ibadah-ibadah yang diperintahkan Allah dan tentu shalat hajat berdoa kepada Allah untuk dipertemukan dengan Guru Mursyid, pembimbing menuju kehadirat Allah.

  8. malzak on said:

    saya baru belajar agama pd usia 44 tahun …….. terlalu rugi melepaskan dahulu, banyak yg tidak tahu……… bergaul dgn maksiat dosa besar … harap pembaca muda jgn lalaikan diri dari mempelajari ilmu agama ………… maaf saya terlalu jahil ttg semua ilmu …

  9. Ruslianto on said:

    Dalam Ensiklopedia Islam : K H A L W A T

    Khalwat dapat diartikan menyendiri, mengasingkan diri dan memencilkan diri. Menyendiri pada satu tempat tertentu, jauh dari keramaian dari orang banyak, hal ini dilakukan selama beberapa hari untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui shalat dan amalan tertentu lainnya.

    Kalangan sufi, diantaranya al Ghazali, berpendapat berkhalwat merupakan wujud meneladani Nabi Muhammad SAW yang pernah melakukan khalwat di Gua Hira. Yakni sebelum menerima wahyu pertama dan Jabal Saur sesudah menjadi Rasul.
    Khalwat Nabi SAW di Gua Hira adalah tafakur tentang segala makhluk ciptaan Allah SWT, sedangkan khalwat Rasulullah SAW setelah menjadi rasul adalah memohon kepada Allah SWT agar wahyu kembali turun setelah terputusnya beberapa waktu karena Nabi SAW berjanji menjawab pertanyaan seorang musyrik mengenai hakikat roh tanpa mengatakan “insyaAllah”.

    Disebut juga oleh Imam al Ghazali pernah melakukan khalwat tiga kali, masing-masing selama 40 hari. Dalam Awarif al Ma’rif (Ahli ilmu pengetahuan) kaum sufi, ia menasehatkan untuk berkhalwat selama 40 hari setiap tahun dan menjalaninya shalat dan puasa.

    Khalwat yang dinamai al Aba’iniyah (sifat empat puluh) tersebut mempunyai tujuan etis (khuluqiyah), yaitu penyucian jiwa dan penyingkiran tabir-tabir hijab jasmani, Khalwat ini bukan untuk mencapai mukasyafah atau meminta suatu keluarbiasaan dan keajaiban yang (mungkin) kadang -kadang muncul.

    Seorang murid tharekat yang berkhalwat hendaklah melepaskan diri (pikirannya) untuk sementara dari alam sekitar, seluruh pernak-pernik kehidupan dan harta miliknya , keluarganya serta tidak meninggalkan khalwatnya kecuali untuk shalat jama’ah atau shalat jum’at.
    Dengan keadaan seperti ini ia harus terus menerus mengingat Allah SWT dan tidak memperhatikan apa yang didengar dan dilihatnya agar dirinya tidak terganggu. Selama itu ia harus tetap bersuci dengan wudhu, tidak tidur kecuali bila amat letih, dan tidak putus-putusnya berdzikir.

    Wass, Demikian…….sMoga bermanfaat.
    Sumber: Ensiklopedia Islam,cetakan 2, Ichtiar Baru van Hoee, 1994

  10. Alhamdulillah
    artikel yang bagus. bisa digunakan untuk referensi yang masih bingung & ragu untuk belajar tharekat.
    salam bang sufi muda.

  11. Assamu alaiku
    saya pingin sekali belajar islam tapi saya banyak habiskan waktu
    dg bekerja untuk menapkahi anak istri. Dan yg lebih merisaukan saya kerna saya bekerja di perhotelan, sedangkan di hotel sering di jadikan tempat maksiat. tolong bimbinganya !

  12. Setuju sekali…….. Dan walaupun dulu saya tidak masuk pesantren Dan hanya mengaji di rumah guru ngaji….. Beliu juga pernah menyampaikan tentang umur 40 tahun….. Dan dalam perjalanan perantauan saya , اَللّهُ memberikan bimbingan-bimbingan-NYA Melalui guru-guru mursyid yang saya temui……. Dan اَلْحَمْدُلِلّهِ insha’ اَللّهُ akan istiqomah…… Karena dengan Cara-Cara اَللّهُ lah yang membawa kita kepada اَللّهُ , Aamin……

  13. zafran on said:

    Bagalimana menurut sufi muda ajaran thoriqoh abuya syekh amronwaly

  14. disurga ada air sungai “arak” yg manis yg apabila diminum tdk memabukan
    oooohh…..bilakah itu kembali terasa??? kan ku rengkuh sampai aku tepar…wkwkwkwkwkwk……rindu….rindu….rindu….

  15. aku banyak membaca dari kisah sufi muda,…….bahkan aku alami sendiri……….hai sufi muda……aku melihat dengan mata kepalaku sendiri….dan Hak…..atas ijin Allah…ada jangkar raksasa….arahnya dari Langit…menuju ke bumi…..dan jangkar itu berupa sinar putih….yang..arahnya menuju…ke kuburan………dan lama kelamaam arah itu menuju ke setiap manusia………..dan sampai saat ini akau berusaha untuk menghilangkan tapi tidak dapat, bahkan..pada suatu ketika…aku juga diijinkan mendengarkan suara…di kubur. Dan Hak demi Allah aku mendengar…….justru aku lewat di areal perekuburan….atau…link ini…..silahkan untuk bertanya jika…para sahabt juga ingin…mendengar…..keterangan…..dari penulis ini…

  16. ya,,,kt berdo,a dan berusaha agar semua keinginan kta dapt terujut,,,namun semua itu,,,di awali dengan niat,,yakinkan lah,,,di situ sumbersemua nya itu……

  17. apapun keinginan qt menuju Ridho ALLAH, ingatlah satu hal wahai saudaraku.. tetaplah menjalankan syariat.. hati2 dg bisikan dr jin.. janganlah qt sampai bersekutu dg jin.. krn akan membuat qt smakin berdosa.. ttp membaca AL-Qur’an dan artinya.. smoga ALLAH memberikan jalan yg lurus, jalan yg di ridhoi ALLAH. bukan jalan yg salah.. kbanyakan beberapa dr kawan yg saya kenal.. selalu memproklamirkan kalau dia belajar tarekat.. namun selalu berkomunikasi dg mahluk halus… dan merasa mengetahui akan kejadian2 kdepan… padahal tidak ada mahluk d bumi dan d langit mengetahui masa depan kcuali yg di curi oleh Jin… jika qt membenarkan ada jin muslim… tolong qt lebih mengkaji di Al – Qur’an.. tidak ada jin yg masuk ke dalam surga.. dan jin sudah jelas2 keturunan iblis. dan jelas pula iblis adalah musuh yg nyata.. mohon maaf jika ada kesalahan yg saya sampaikan..

  18. Nyimak,,,,semmoga mendapat barokah ilmu dari kak SM & kak Ruslianto beserta para guru mursyidnya,,amiin,,

  19. Hukmuddukhul Fithoriqothi fardhu ain kassholati, kama qwoola imam romli fil jauharoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: