Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

RISET (Bag 2)

Bagi yang beragama hanya pada tataran kulit atau Syariat sangat aneh menerima pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut. Sama halnya dengan pendidikan sebelum universitas, disana hanya ada dogma saja, meyakini tanpa harus perlu susah payah membuktikan. Hapal semua rumus-rumus kemudian diberi ujian berupa rumus hapalan itu juga, tanpa pernah membuktikan kebenaran rumus tersebut.

Bagi yang beragama hanya pada tataran kulit atau Syariat sangat aneh menerima pertanyaan-pertanyaan kritis tersebut. Sama halnya dengan pendidikan sebelum universitas, disana hanya ada dogma saja, meyakini tanpa harus perlu susah payah membuktikan. Hapal semua rumus-rumus kemudian diberi ujian berupa rumus hapalan itu juga, tanpa pernah membuktikan kebenaran rumus tersebut.

Tarekat ibarat pendidikan universitas, kelanjutan dari pendidikan Dasar dan Menengah. Di Universitas tidak lagi berlaku dogma-dogma, keyakinan tanpa bisa dibuktikan. Seorang Mahasiswa harus bisa menemukan kebenaran dari setiap teori yang telah di hapal di sekolah. Untuk bisa membuktikan kebenaran teori itu harus dibimbing oleh seorang Profesor ahli yang telah berulang kali melakukan riset sehingga nanti hasilnya bisa sama dengan teori tersebut.

Kita ketahui bahwa ketika Albert Einsten mengemukakan Teori Relativitas, di dunia ini hanya 10 orang saja yang mempercayai dan memahami terorinya sampai kemudian ada sekelompok orang yang bisa membuktikan kebenarannya lewat bom atom yang dijatuhkan di hirosima dan nagasaki, barulah seluruh dunia mempercayai terori dia. Ucapan Profesor Einsten saja hanya bisa dipahami oleh 10 orang diseluruh dunia, bisa anda bayangkan bagaimana Firman Allah SWT yang terkandung di dalam al Qur’an, tentu lebih sulit lagi untuk dipahami.

Maka kebanyakan ummat Islam hanya memahami al Qur’an dari segi bacaan, sangat jarang dan masuk kategori sangat langkah yang bisa mempraktekkan Teknologi yang terkandung didalamnya karena memang Ahli Bidang tersebut sangat langka. Kita tidak akan pernah kekurangan ahli tafsir, ulama-ulama syariat yang terus menerus memberikan tafsir terhadap al Qur’an namun kita PASTI kekurangan seorang master yang bisa mempraktekkan kandungan al Qur’an, Master yang bisa mengajarkan bagaimana mengeluarkan energi Maha Dahsyat dari dalam al-Qur’an sehingga bisa dimanfaatkan untuk kemenangan umat Islam.

Einsten telah mengeluarkan teori dan dikemudian hari dikembangkan menjadi senjata nuklir, namun harus di ingat bahwa Teknologi Al Qur’an jauh di atas nya yang bisa memadamkan sekalian nuklir di dunia ini. Tapi…tentu saja nuklir itu tidak padam hanya dengan di baca ayat-ayat al-Qur’an sebagaimana yang dilakukan oleh ummat Islam selama ini.

Al-Qur’an menjadi obat bagi segala penyakit, itu yang kita yakini sebagai janji Allah SWT. Namun pernahkah kita meriset, menganalisa lebih jauh bagaimana cara agar al-Qur’an menjadi obat bagi segala jenis penyakit? Sebagian menulis ayat-ayat tertentu dalam al-Qur’an di atas piring kemudian dimasukkan air dan di minumkan, sebagian lagi membaca ayat-ayat tertentu dan diyakini menyembuhkan penyakit. Tapi apakah ada orang yang memberikan garansi kalau kita membaca ayat-ayat al-Qur’an PASTI menyembuhkan penyakit-penyakit berat seperti Kanker, HIV/AIDS dan lain-lain? Jawaban adalah TIDAK. Bukan al Qur’an nya yang salah tapi cara memakainya yang salah.

Allah SWT memberikan jaminan keselamatan bagi orang-orang yang memeluk Agama Islam, keselamatan di dunia dan akhirat. Tapi kita saksikan hari ini, negara-negara timur tengah yang penduduknya mayoritas Islam terpecah dan porak poranda. Mesir, Irak, Suriah dan juga Yaman penduduknya berada dalam kehancuran, tidak ada keselamatan sama sekali disana. Ribuan nyawa melayang dan orang-orang di sana hidup dalam ketakutan. Belum lagi kita bicara tentang Palestina yang di cengkram Israel. Seluruh ummat Islam mengutuk Israel lewat doa-doa, tapi Israel bukan hancur tapi bertambah kuat, dimana letak kesilapannya?

Letak kesilapan seluruh ummat Islam adalah karena mereka melupakan hal pokok dari ajaran Islam yaitu Tasawuf yang di praktekkan dengan metodologinya yaitu Tarekatullah. Apakah di negara-negara yang kami sebutkan tadi tidak ada pengamal tarekat? Tentu ada tapi bisa jadi ibarat listrik, kabel dan instalasinya lengkap, tapi arus listriknya telah terputus dan tidak ada orang yang mampu menyambungkan arus itu ke pusat segala sumber energi yaitu Allah SWT.

Islam telah lebih 100 tahun dilumpuhkan oleh sebuah gerakan anti Tasawuf terutama Tarekat beserta tradisi didalamnya, ziarah, wasilah, tabaruk dan tawasul. Ummat Islam lewat kampanye orientalis berhasil diperdaya, pusat-pusat Tarekat di dunia dihancurkan, dimulai dari Mekkah, Madinah, Turki, India dan menyebar keseluruh dunia.

Pada kesempatan lain nanti saya akan menulis khusus tentang kerancuan-kerancuan yang dilakukan oleh ummat Islam. Sebagai contoh, seluruh ummat Islam mengharapkan Ridha dari Allah SWT tapi tarekat dianggap sesat dan bid’ah. Lewat Tarekat manusia setahap demi setahap mengenal Allah SWT, bukankah sangat rancu mengharapkan Ridha tapi tidak mengenal?

Sebagian kecil ummat Islam mengharapkan tegaknya Khilafah agar ummat Islam menjadi kuat tapi yang aneh pencetus gerakan menegakkan khilafah anti tasawuf dan anti tarekat. Mereka lupa kalau Kekhalifahan Islam itu tegak karena dibentengi oleh Tasawuf lewat praktek tarekat. Kita tahu bahwa seluruh wilayah Kekhalifahan Turki Ustmani dihidupkan dengan Tarekat untuk membina ummat Islam menjadi kuat dan menang dalam segala hal. Kemenangan-kemenangan dalam perang diperoleh karena bathin mereka tidak pernah putus dengan Allah Yang Maha Menang.

Sebagaimana yang sering kami sampaikan, bahwa ilmu Tarekat adalah pelaksanaan teknis dari Tasawuf dan tentu juga pelaksanaan teknis dari Al Islam itu sendiri. Karenanya di dalam ilmu Tarekat yang diperlukan adalah pelaksanaannya bukan kajiannya. Kalau banyak mengkaji nanti akan kembali lagi ke Syariat, hanya berupa hapalan dan tafsiran. Ilmu Tarekat adalah realisasi dari kehebatan al Islam yang tidak bisa dikalahkan oleh apapun karena senantiasa beserta dengan Allah SWT. Makin banyak beramal dan berubudiyah maka akan semakin NYATA hakikat ilmu itu di dalam diri.

Imam Ghazali dalam kitabnya yang berjudul “al-Munqidz Minadl Dlolal”, hlm.128, mengatakan :

وَهَذِهِ الطَّرِيْقَةُ لاَ تُفْهَمُ اِلاَّ بِالتَّجْرِبَةِ (المنقذ من الضلال ص ١۲۸)

Thareqat ini tidak bisa dimengerti kecuali dengan diriset atau diuji coba. (al-Munqidh Min ad-Dholaal, hlm. 128)

Riset berarti mempersiapkan sejumlah amalan tertentu untuk membuktikan kebenaran pernyataan-pernyataan atau janji-janji dari al-Qur’an dan Hadis. Selanjutnya imam Ghazali memberikan alasan sebagai berikut :

ِلاَنَّ عُلُوْمَ اْلاَنْبِيَاءِ عَلَيْهِمُ السَّلاَمُ كُلَّهَا كَانَتْ مِنْ هَذَا الطَّرِيْقِ, لاَ مِنْ طَرِيْقِ الْحَوَاسِ…وَهُوَ طَرِيْقُ الصُّوْفِيَةِ فِى هَذَا الزَّمَانِ…وَهَذَا الدَّرَجَةُ الْكَبِيْرَةُ مُحْتَصَرَةٌ مِنْ طَرِيْقِ النُّبُوَّةِ, وَكَذَالِكَ عِلْمُ اْلاَوْلِيَاءِ, (المنقذ من الضلال. ص ١۲۵). اَمَّا طَرِيْقَةُ التَّعْلِيْمِ فَهُوَ طَرِيْقَةُ اْلعُلَمَاءِ

Bahwa semua ilmu nabi-nabi itu mereka peroleh dari jalan ini (metode uji coba dengan cara berdzikir) bukan didapat dari pintu indera. Dan jalan itulah jalan yang dipakai oleh orang sufi pada zaman ini untuk memperoleh ilmu ladunni dari Allah SWT. Dan ini merupakan derajat yang sangat tinggi dari segi keilmuan. yang tersimpan dalam ilmu kenabian. Demikian juga ilmu kewaliannya. (al-munqid Minad Dholal, hlm.125.) Adapun yang dilakukan para ulama untuk memperoleh ilmu pengetahuan (keagamaan) adalah dengan cara pembelajaran.

Riset atau uji coba untuk membuktikan ilmu itu hanya berlaku di tingkatan Mahasiswa, di kalangan SD ilmu itu diyakini demikian saja atau hanya sampai ke tahap Dogma. Maka beragama pun demikian, Tarekat ibarat pendidikan akhir, tahap Mahasiswa, disanalah dibuktikan kebenaran al-Qur’an sebagai Kalam Allah dan Kebenaran al Hadist sebagai ucapan Nabi.

Ummat Islam sudah saatnya memberikan perhatian serius terhadap Tarekat, meriset ilmu ini agar memperoleh kemenangan dalam segala hal. Kita sibuk mengajak orang melaksanakan shalat 5 waktu tapi kita lupa hal pokok yaitu KHUSYUK. Tanpa Khusyuk maka kita tidak akan memperoleh kemenangan. Seluruh training shalat khusyuk tidak akan membuat anda menjadi khusuk karena disana hanya diajarkan anda konsentrasi seperti yoga. Khusyuk bukan konsentrasi karena konsentrasi itu masih berada di tahap akal, sedangkan khusyuk adalah ketika Allah SWT hadir di dalam hatinya. Kunci utama adalah mengenal Allah dan tidak mungkin bisa mengenal Allah tanpa melalui tarekat.

Saya sudahi dulu tulisan ini, besar harapan kepada siapapun yang membaca untuk bersungguh-sungguh menekuni Tarekat sebagai ilmu yang sangat berharga. Rahasia untuk bisa mengungkapkan kehebatan Kalimah Allah yang terkandung di dalam al Qur’an terletak kepada kemampuan seorang Master yang mendapat ilmu dari Master sebelumnya terus bersambung kepada Rasulullah SAW. Tanpa ini maka tarekat akan menjadi ritual ritual kosong, kaji-kaji yang hanya enak di dengar tapi tidak memiliki energi sama sekali. Akhirnya ilmu begitu dahsyat ini kembali menjadi syariat saja, sebagaimana juga Islam di awalnya begitu berjaya kemudian menjadi kosong, tarekat pun demikian.

Semoga Tulisan di sore Jumat Penuh berkah ini memberikan manfaat untuk semua…

Single Post Navigation

4 thoughts on “RISET (Bag 2)

  1. Budisufi on said:

    Terima kasih

  2. Pahmi hidayat on said:

    Ass. Mantap bang. Terima kasih. Salam sayang dan cinta untuk abangda.

  3. Semoga usaha Tuan Guru ini merupakan langkah untuk membumikan Tarekat. Semoga pembaca web ini diberikan guru Mursyid yang akan membimbing kepadaNya sehingga bisa beragama batin zahir. Amin….

  4. esa iskandar on said:

    amin.. terima kasih bangda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: