Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

RISET

Riset atau penelitian sering dideskripsikan sebagai suatu proses investigasi yang dilakukan dengan aktif, tekun, dan sistematis, yang bertujuan untuk menemukanmenginterpretasikan, dan merevisi fakta-fakta. Penyelidikan intelektual ini menghasilkan suatu pengetahuan yang lebih mendalam mengenai suatu peristiwatingkah lakuteori, dan hukum, serta membuka peluang bagi penerapan praktis dari pengetahuan tersebut. Istilah ini juga digunakan untuk menjelaskan suatu koleksi informasi menyeluruh mengenai suatu subjek tertentu, dan biasanya dihubungkan dengan hasil dari suatu ilmu atau metode ilmiah. Kata ini diserap dari kata bahasa Inggris Research yang diturunkan dari bahasa Perancis yang memiliki arti harfiah “menyelidiki secara tuntas”. (wikipedia)

Kegiatan Riset/ Research meliputi pengumpulan, pengolahan, analisis, penyajian data yang dilakukan secara sistematis dan objektif yang bertujuan untuk memecahkan suatu masalah.Riset/ penelitian merupakan kegiatan dalam koridor keilmiahan yang harus sesuai dengan bidang akademika/ keilmuan.

Riset merupakan suatu kegiatan yang didasarkan pada objek pembahasan tertentu, kajian yang berlatar belakang keilmuan dari objek tersebut, penggunaan fakta sebagai dasar kajian, penggunaan metode ataupun teknik-teknik tertentu, terdapat hasil yang mempunyai dasar & terkaji, diperoleh dari kesimpulan akhir. (pengertian.com)

Sebagai seorang sarjana teknik, saya memahami dan mempraktekkan rumus-rumus yang awalnya di hapal di SMA ketika menempuh pendidikan di Universitas. Apa yang menjadi sebuah teori di SMA di aplikasikan dalam praktek nyata ketika kuliah. Sebagai contoh, Ketika SMA kita ketahui rumus kimia Etanol adalah C2H6O dan juga rumus reaksi kimia untuk membentuk etanol. Ketika kuliah etanol tersebut bisa diwujudkan di Laboratorium, reaksi kimia yang tadi hanya dalam bentuk tulisan berubah menjadi nyata. Bahkan kemudian dari skala Laboratorium berubah menjadi skala lebih besar yaitu merancang prabrik etanol.

Awalnya kita mengulang penelitian atau riset para ilmuan zaman dulu di dalam laboratorium, kemudian nanti baru kita membuat penelitisan sendiri dan menghasilkan hal yang baru. Seluruh negara maju memberikan prioritas utama kepada Riset agar negaranya semakin maju, begitu juga sebuah perusahaan, akan terus bisa berinovasi berkat adanya lembaga riset di dalam perusahaannya.

Sama halnya dengan ilmu eksak, ilmu agama juga membutuhkan riset atau penelitian untuk bisa mendapatkan hasil sesuai dengan yang dijanjikan atau yang diinginkan. Tujuan akhir beragama adalah mendapat keselamatan dari dunia sampai akhirat. Keselamatan itu tidak di dapat dengan serta merta tapi harus dengan segala upaya. Allah SWT menurunkan para Nabi dan Rasul untuk membimbing segenap manusia menjalankan rumus-rumus yang telah ditetapkan Allah SWT, dipraktekkan dengan metodologi yang tepat sehingga memberikan hasil yang sama.

Tapi sayangnya ilmu agama khususnya Islam hanya dipahami sebagai ilmu sosial sehingga dalam rentang waktu 1400 tahun terjadi kebuntuan, tidak ada lagi hal yang harus di teliti. Memang kalau bicara fiqih kita sudah mengalami perkembangan puncak sejak abad pertengahan yang lalu. Tapi kalau berbicara ilmu eksak di dalam Islam maka tidak akan pernah bisa selesai.

Sebagian besar dari ummat Islam hanya mengetahui Nabi Musa AS diberi mukjizat oleh Allah membelah laut, Nabi Isa AS menghidupkan orang mati. Tapi…jarang sekali ada yang meneliti atau meriset bagaimana cara Nabi Musa AS bisa membelah laut, atau apa yang dilakukan Nabi Isa AS sehingga orang mati bisa menjadi hidup kembali. Padahal al Qur’an adalah kitab yang Maha Hebat dan bisa mengeluarkan energi tak terhingga untuk mewujudkan mukjizat-mikjizat yang diceritakan di dalamnya. Coba simak Surat Ar-Rad ayat 31

“Dan sekiranya ada suatu bacaan (kitab suci) yang dengan bacaan itu gunung-gunung dapat digoncangkan atau bumi jadi terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara, (tentulah Al Quran itulah dia)..”

Apa yang harus dilakukan oleh ummat Islam sehingga bisa merealisasikan ayat-ayat al-Qur’an seperti surat Ar-Rad ayat 31 tersebut, sehingga dengan sebuah bacaan ayat al-Qur’an saja bisa menggoncangkan gunung bahkan bisa menghidupkan orang mati.

Selama ini kita hanya fokus kepada bacaan al Qur’an (tilawah) dengan merdu sehingga kita lupa bahwa ayat al Qur’an bukan sekedar di alun-alunkan tapi di praktekkan sehingga bisa mewujudkan janji-janji Allah di dalam Al-Qur’an.

Andaikata Al-Qur’an Kami turunkan di atas bukit/gunung, maka engkau akan melihat bahwa gunung itu tunduk dan terbelah karena takut terhadap Allah, dan perumpamaan itu Kami jadikan untuk manusia agar mereka memikirkannya” … (QS Al-Hasyir 21).

Apakah pernah kita coba letakkan al Qur’an di atas bukit dan melihat sebuah bukit bisa hancur? Kalau al Qur’an yang dicetak berwujud buku itu diletakkan di atas bukit, 1 truk jumlahnya tidak akan membuat gunung hancur bahkan kitab al-Qur’an itu yang hancur karena hujan dan panas. Lalu al-Qur’an mana yang bisa mewujudkannya?

Jawaban semua pertanyaan itu ada di dalam TAREKATULLAH (Jalan Kepada Allah) yaitu sebuah metodologi warisan Rasulullah SAW untuk bisa melaksanakan ajaran-ajaran Islam yang Maha Hebat ini sehingga sesuai apa yang dijanjikan oleh Allah SWT. Di dalam Tarekat ada Guru Mursyid yang ahli, seorang Master yang mampu mengaplikasikan rumus-rumus rahasia warisan Nabi agar ummat ini mendapat kemenangan dunia akhirat.

Ummat Islam hanya mengetahui tentang peristiwa Israk Mikraj Nabi yang sangat luar biasa, namun jarang sekali ada yang bertanya, “Bagaimana Nabi melakukannya?” atau bertanya, “Kalau Nabi harus melakukan Mikraj untuk bisa sampai kepada Tuhannya, apakah ummat bisa sampai kepada Tuhan tanpa Mikraj?”

Bersambung….

Single Post Navigation

9 thoughts on “RISET

  1. Al Fakr abdul Ganiiy on said:

    Sami’na wa ato’na, kami tunduk dan patuh dengan segala ketentuan dari Allah dan RasulNya meskipun itu diluar akal an-nafs, karena akal logika an-nafs tidak akan pernah mampu untuk mencerna apa yang diperintahkan maupun yang dilarang oleh Sang Maha Pencipta Penguasa langit dan bumi. Banyak ayat-ayat dalam AlQuran yang mengulas tentang makrifatus Dzat (akidah), dan syariat ibadah, maupun qashas (kisah mukjizat para nabi), harus menunggu minimal seribu tahun di bumi, baru Allah bukakan tabir kalamNya sehingga disaat sebuah riset menemukan satu saja fakta ilmiah barulah manusia menyadari bahwa Alquran sudah lebih dahulu membuktikannya 1000 tahun yang lalu.
    segala bentuk kejadian alam baru bisa dijelaskan secara ilmiah oleh akal an-nafs.
    Jadi bagi kita yang merasa ilmuwan jangan paksakan akal anda untuk menguak ketetapan-ketetapan tabir duniawi yang sudah diputuskan Ilahi sejak zaman azali. Seperti halnya perlakuan orang-orang atheis yang melampaui batas.
    WaAllahu Ta’ala Alam bii showaf..

  2. Abidin kanna on said:

    terima kasih Sodaraku,..telah dan selalu memberikan pencerahan pada kami yang papa ilmu ini

  3. Assalamualaikum Wr Wb, terima kasih Bang SM atas tulisanya,
    sy jadi teringat masa kanak kanak saat dimana sandiwara radio SATRIA MADANGKARA sangat di gemari oleh kalangan anak2, mulai dari ajian seratjiwa tingkat 1 sampai tingkat 10 benar2 menempel di benak para pendengar, begitu dahsatnya ajian seratjiwa tersebut, sehingga sering terlihat anak2 sambil bermain juga seolah2 mengeluarkan jurus2 ajian seratjiwa. namun tentunya ajian seratjiwa yg dimiliki anak2 itu hanya dalam khayalan saja dan sangat berbeda dengan ajian sertjiwa yg dimiliki oleh BrahmaKumbara dan singkat cerita ajian serat jiwa masih dapat dikalahkan oleh ilmu LampahLumpuh dengan berpuasa selama 40 hari.
    sesungguhnya beruntunglah orang2 yg selalu membersihkan dirinya dengan metodologi Tarekatullah yg muktabaroh di bawah bimbingan Mursyid yg Kamil Mukamil, dan mereka senantiasa berZikir dan mendirikan Sholat.
    Salam

  4. jonnihasibuan on said:

    Alhamdulillah,terimakasih abangda.

  5. Heri Susanto on said:

    Kebanyakan umat mengamati hanya dari satu sisi saja, padahal ada satu sisi yang harus diperhatikan..Mikrajnya Rasul artinya itulahadalah suatu perintah dari Allah
    terhadap diri kita terhadap Allah seperti yang dicontohan oleh RasulNya. Hakikatnya Mikraj itu adalah pertemuan rohani dengan rohani yang tanpa penghalang..asalkan ikhlas dan mengosongkan diri seperti yang dicontohan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

  6. Ping-balik: Riset..! | Hsn T. Rahmat Fajar, SE ( Ajay )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: