Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Setelah Shalat Subuh (13

Semoga Allah SWT Yang Maha Rahman dan Maha Rahim senantiasa membimbing dan menuntun kita semua agar selalu berada di jalan-Nya mendapat rahmat dan karunia-Nya dari hayat hingga akhir kalam. Pada pagi yang berbahagia ini saya akan membahas tentang HIJAB dan ini merupakan tulisan yang ke-13 dari “Setelah Shalat Subuh” yang saya tulis setelah selesai shalat subuh.

Secara sederhana Hijab artinya batas, penghalang atau penutup. Kita bukan membicarakan tentang Jilbab, kerudung, cadar atau penutup aurat wanita yg lain. Hijab yang kita bahas adalah batas atau penghalang antara diri kita dengan Allah SWT. Ini hal yang sangat pokok dalam agama karena ketika antara hamba dengan Tuhan masih terhalang, maka hamba tidak mengenal sama sekali Tuhannya dan kondisi ini menyebabkan dia juga tidak bisa menyembah apalagi mengabdi kepada Allah.

Hijab bisa kita maknai sebagai pintu yang membatasi kita dengan Sang Pemilik Rumah, ketika pintu itu dibuka maka kita akan bisa berjumpa dengan Tuan Rumah, yang membuka bukan yang mengetuk pintu tapi Tuan Rumah yang berada di dalam.

Rasulullah SAW berpesan kepada Abu Dzar, “Ketika engkau sedang melakukan shalat, anggaplah dirimu sedang mengetuk pintu gerbang rumah seorang raja, setiap orang yang banyak mengetuk pintu raja itu, maka pintu itu akan dibukakan untuknya.”

Hijab itu bertingkat: ada hijab Nafsu untuk kalangan awam, karena nafsu dan perbuatan buruk menyebabkan dia terhalangi dengan Allah. Ada hijab Ilmu dikalangan ulama, karena sudah merasa banyak ilmu (syariat) sehingga dia tidak lagi mencari orang yang bisa membimbing jasmani dan rohaninya menuju Allah SWT. Imam al Ghazali, Syekh Izzudin adalah contoh ulama yang telah berhasil melewati hijab ilmu sehingga mereka membuang jubah ulama dan berguru dengan takzim kepada seorang Guru Mursyid yang atas doanya bisa mengangkat hijab ilmu tersebut.

Kemudian yang paling halus ada Hijab Cahaya, ini dimiliki oleh para penempuh jalan kebenaran, orang-orang yang sudah mempunyai pembimbing tapi terhalangi dengan sangat halus lewat amalan-amalan ibadanhnya. Mareka masih meyakini amalan zikir mereka bisa memberikan manfaat untuk dirinya. Hijab cahaya juga membuat orang-orang yang memiliki kekeramatan lalai dan terlena sehingga lupa melanjutkan perjalanan.

Hijab juga menghalangi manusia untuk mengenal Nabi dan ulama pewaris Nabi. Para Nabi diberikan Hijab Bashariyah, dengan ini manusia tidak semua bisa mengenal dan mengakui Nabi karena keseharian Nabi yang tidak ada beda sama sekali dengan manusia pada umumnya.

Orang Kafir Qurays tidak mau mengakui Muhammad sebagai utusan Allah karena mereka melihat Nabi berjalan di pasar dan makan seperti mereka makan. Muhammad anak yatim dan hidup miskin, bagaimana mungkin dia utusan Allah?

Hijab Bashariyah juga berlaku untuk seorang Ulama Pewaris Nabi, seorang Auliya Allah. Manusia terhalangi karena penampilan Beliau nampak sebagai orang awam. Hijab manusia dengan Wali sangat halus sehingga manusia tidak akan mungkin bisa mengenal Wali kecuali atas petunjuk dari Allah.

Ketika engkau menemukan Guru seorang Wali Allah maka langkah mu tinggal sedikit lagi untuk bisa mengenal Allah. Seperti ucapan Syekh Abdul Qadir Jailani, “Makrifat kepada Wali Allah adalah Mukhadimah (Awal/pembuka) makrifat kepada Allah”.

Demikian…

Single Post Navigation

14 thoughts on “Setelah Shalat Subuh (13

  1. Al Fakr abdul Ganiiy on said:

    Assalamualaikum wa rohmatullohi wa barokatuh.
    bagi ikhwan yang masih tertutup hijab dri kefahaman hakekat maka jangan bertaklid macam-macam ttg makrifat, atau antum bisa kepleset pada kefahaman yang salah.
    Fahami-dakwahkan-praktikkan tuntunan syariat kitabullah & sunnah dari baginda nabi & para sahabat, termasuk akhlak/adab sehari-hari didlamnya.
    Afwan. Wassalam.

    • Heri Susanto on said:

      Ketahuilah sahabat..Rasul diperintahkan membaca Al Qur’an secara tartil dan tidak terburu-buru..agar dapat memaknainya dan memahami.
      Sama seperti halnya yang dilakukan oleh Sufi Muda..menyuruh kita untuk membaca secara tartil..memaknai, memahami..dan menjalani sesuai kemampuan diri kita masing-masing..

  2. Daripada mengikuti melalui internet seperti ini dan seperti setengah jalan berhenti nunggu kapan2 ada sambungannya, kenapa gak ditulis buku saja, jadi bisa dibaca terus sampai selesai.
    Atau, tolong kalo sudah ada terbitan2 buku2 mengenai topic ini, apa judulnya, harga berapa dan dimana bisa beli/ order ?

  3. Assalamu’alaikum, Ketika sudah menemukan tanda2 seorang wali dan kita ingin berguru dengannya, bagaimana adab yang baik agar bisa mendekatinya sementara yang saya ketahuai seorang wali lebih cenderung menutup diri ?

  4. Pahmi hidayat on said:

    Salam ta’zim selalu untuk bg sufi muda dan abangda yg lain, setiap membaca tulisan abg ada getaran yg tdk mungkin utk diungkapkan dg kata, mencintai yg dicintai tuhan kepercikan juga bg rasa cinta, terima kasih selalu mengirimkan getaran cinta sang maha cinta melalui tulisan abg. Salam cinta dan rindu utk abg dari jambi. Wassalam

  5. sayyid on said:

    Assalamualaikum wr.wb,
    60. Bukankah Aku telah memerintahkan kamu[1] wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan[2]? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu[3],
    61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku[4]. Inilah jalan yang lurus[5],”
    62. Dan sungguh, ia (setan itu) telah menyesatkan sebagian besar di antara kamu. Maka apakah kamu tidak mengerti[6]?
    yg menjadi hijab antara anak cucu adam Allah adalah hawa nafsu mereke sendiri sehingga mereka menyombongkan diri dimuka bumi Allah ini.
    selagi anak cucu adam masih mencintai hawa nafsunya dan tidak mencoba menundukkanya, hijab tidak akan terbuka.
    wassalamualaikum wr.wb,
    ustadz sayyid habib yahya

  6. terkadang seseorang mengetahui bahwa seorang itu wali dari kata k kata , mungkin dari kita percaya bisakah kita sampai k makrifat nya Allah

  7. ifan junaedi on said:

    Terima kasih atas segala perhatian dan tauziahnya, sangat bermanfaat untuk menyadarkan diri akan makna hijab.
    Salam Takzim.

  8. Alhamdulillah saya merasakan siraman rohani yg sejuh membaca artikel ini mas sufi muda

  9. InshaAllah Ustad Abdul Somad memberikan tanda-tanda untuk menuju derajat ke-Walian. Semoga Beliau istiqomah dalam dua hal, ilmu fiqh untuk ke-ummat dan tasawuf untuk ke-diri sendiri. Amien…

  10. jonnihasibuan on said:

    Terimakasih abangda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: