Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Menghargai Manusia Dengan Keunikannya (2)

tipe-manusiaCoba anda bayangkan di dunia ini tidak ada amuba, golongan yang tugasnya menghabiskan sisa sampah apapun tanpa dipilah dan dipilih, semua dilahapnya. Tanpa mereka maka dunia dalam sebulan akan dipenuhi dengan sampah dan tidak bisa diuraikan. Berkat kehadiran mereka, sisa makanan yang anda buang dan hewan pun tidak sanggup menghabiskan dengan senang hati dilahap sampai habis oleh amuba atau bakteri penghancur makanan.

Apakah kerja amuba itu mulia? TIDAK karena memang itu hal yang disenanginya. Sama halnya dengan ulat WC yang kerjanya menghabiskan kotoran manusia, itu hal yang menyenangkan bagi dia, sesuatu yang mustahil dilakukan oleh manusia. Tuhan telah menempatkan sesuatu di ala mini sedemian teratur sesuai hukum-hukum yang telah Dia tetapkan. Ulat WC sangat cocok tempatnya di WC, akan sangat mengganggu apabila dia berada di meja makan.

Manusia pun demikian, dengan segala jenis karakter berbeda akan sangat hebat dan mulia apabila dia berada di tempat yang tepat dan saat yang tepat pula. Jika anda seorang pemimpin, tugas anda adalah bisa melihat karekter-karakter berbeda tersebut dan anda harus bisa menempatkan ke tempat yang sesuai dengan bakat dan kemampuan masing-masing.

Ketika anda salah menempatkan mereka maka potensi hebat dalam diri mereka tidak akan keluar, malah dia akan merasakan beban terus menerus. Manusia ada yang cenderung kepada kebendaaan ada pula yang cenderung kepada manusia. Para penemu, orang-orang sains, mekanik, montir, ahli komputer adalah orang-orang yang lebih cenderung kepada kebendaan. Itulah sebabnya terkadang orang jenis ini dalam keseharian kurang disukai, kurang pandai bergaul. Kalau istilah anak sekolah Kuper. Mereka sangat betah dengan benda-benda.

Sementara artis, penyanyi, olahragawan, motivator adalah contoh orang-orang yang senang dengan manusia. Saya punya teman yang suara nya tidak enak di dengar tapi setiap ada acara selalu dengan PeDe dia nyanyi, nyanyian nya sering kali menyakitkan telinga pendengar. Teman saya ini jenis orang yang cenderung suka kepada manusia dan suka diperhatikan.

Mekanik, montir, ahli komputer para penemu jangan anda suruh mereka sebagai penerima tamu ketika ada acara, itu hal yang sangat berat bagi mereka. Kalau pun mereka senyum dengan senyum yang tidak alamiah. Sementara ada orang yang sangat senang dijadikan pusat perhatian, orang-orang seperti ini kalau disuruh menyambut tamu dengan senang hati dan semangat melakukan tugasnya dengan baik.

Diam adalah Emas” adalah motto yang di ciptakan oleh manusia sejenis Mahatma Gandi dan bagi mereka bicara hanya seperlunya dan hal-hal penting saja. Motto ini tidak akan cocok untuk pemimpin seperti Bung Karno, Beliau punya motto sendiri, “Penyambung Lidah Rakyat”, artinya Beliau harus banyak bicara dimana dan kapanpun agar suara rakyat bisa di dengar keseluruh dunia.

Gantunglah cita-cita mu setinggi bintang di langit” adalah semboyan yang cocok untuk Bung Karno dan orang-orang sejenis. Bung Karno bicara tentang Visi, pandangan jauh ke depan. Semboyan itu akan terasa aneh di telinga manusia yang suka dengan hal-hal detail dan teliti, para menemu, ahli sains, ahli IT. Bagi mereka semboyan itu harus yang masuk akal, jangan buat semboyan yang aneh-aneh.

Biar Lambat Asal Selamat” inilah semboyan paling popular ketika saya sekolah dulu, segala sesuatu harus dikerjakan dengan teliti dan cermat. Semboyan ini tidak cocok untuk Bapak Wapres kita  yang energik penuh semangat, Jusuf Kala, Beliau senang yang cepat, “Lebih Cepat Lebih Baik!” Semboyan “Biar Lambat Asal Selamat” juga akan membuat Ahok menjadi gerah, segala sesuatu harus dikerjakan dengan cepat!.

Karena manusia memiliki karakter berbeda maka kita harus bisa menerima perbedaan-perbedaan tersebut tanpa memaksakan prinsip kita kepada orang lain. Setiap manusia diciptakan dengan keunikan tersendiri, tugas dia adalah menyadari dan mengenal potensi dirinya kemudian dia bisa menepatkan diri sesuai kemampuan dan bakat yang dimilikinya.

Manusia yang telah mengenal potensi diri dan menempatkan kepada tempat yang tepat akan dikenal sebagai manusia unggul atau manusia pilihan. Kalau dia sebagai pemimpin akan menjadi pemimpin yang hebat dan disukai banyak orang, kalau sebagai atlit akan menjadi atlit yang hebat begitu juga kalau dia menjadi karyawan akan menjadi karyawan hebat pula.

Bersambung…

Single Post Navigation

3 thoughts on “Menghargai Manusia Dengan Keunikannya (2)

  1. Rudi Iskandar on said:

    Sulit untuk mengutarakan segala yang ada di benak saya.hanya mohon doa dari guru semoga saya bisa istiqomah.doakanlah wahai guru..

    Dikirim dari Yahoo Mail pada Android

  2. Hehe… Subhanallah. ,,,

  3. Ruslianto on said:

    Keunikan sebuah cincin emas bermata berlian

    Bebarapa ratus tahun yang lalu di negeri Mesir hidup seorang Sufi yang terkenal kezuhudhannya bernama Zun Nun, Seorang pemuda mendatanginya dan berkata ; ‘Tuan, Saya belum faham mengapa orang seperti Anda mesti berpakaian apa adanya dan amat sangat sederhana, Bukankah di zaman sekarang ini berpakaian modern sangat perlu, Bukan hanya untuk penampilan namun juga untuk tujuan banyak hal lain’.

    Sang Sufi hanya tersenyum lalu, ia lalu melepaskan cincinnya dari salah satu jarinya, lalu berkata ; ‘Orang muda, akan kujawab pertanyaanmu, tetapi lebih dahulu lakukan sesuatu hal untukku’. Ambillah cincin ini dan bawalah ke Pasar di seberang sana, Coba,.. bisakah kamu menjualnya seharga 1 keping emas, Melihat cincin Zun Nun yang kotor, pemuda tadi mencibir bibirnya dan merasa ragu, ‘Satu keeping emas , Saya tidak yakin cincin ini bisa dijual seharga itu’. ….’Coba-lah dulu orang muda,..’Siapa tau kamu berhasil menjualnya’.

    Pemuda itu bergegas ke pasar diseberang jalan tempat mereka berbincang, Ia menawar cincin itu kepada pedagang kain, pedagang sayur, penjual daging dan ikan, serta kepada yang lainnya. Ternyata tak seorangpun yang berani menawar harga cincin tersebut 1 keping emas, Mereka hanya menawar 1 keping perak- Tentu saja si pemuda tadi tidak berani menjualnya, Ia kembali menemui Zun Nun dan melaporkan ; ‘ Tuan tak seorang pun yang berani menawar lebih dari 1 keping perak’, dengan kesalnya, seakan merasa dipermainkan..

    Zun Nun sambil tersenyum arif, berkata ; ‘Sekarang pergi-lah engkau ke kedai emas di belakang jalan ini, Cobalah perlihatkan kepada pemilik kedai atau tukang emas di sana , Jangan buka harga , Dengarkan saja , bagaimana ia memberikan penilaian tentang cincin itu’.

    Pemuda itu-pun pergi ke kedai emas yg dimaksud, Ia kembali kepada Zun Nun dengan raut wajah yang lain, Ia kemudian melapor; ‘Tuan ternyata para pedagang di pasar tidak tau nilai sesungguhnya dari cincin ini,
    Pedagang emas menawar 1000 [seribu] keeping emas, Rupanya nilai cincin ini seribu kali lebih tinggi daripada yang ditawar oleh Para Pedagang di Pasar’.

    Zun Nun tersenyum sambil berujar lirih, ‘Itulah jawaban atas pertanyaan mu tadi orang muda, Seseorang tidak bisa dinilai dari pakaiannya, Hanya para pedagang sayur,ikan,dan daging di pasar, yang menilai demikian, Namun tidak bagi ‘pedagang emas’.

    Emas dan Permata yang ada didalam jiwa[ diri ] seseorang, hanya bisa dilihat dan dinilai- jika kita mampu ‘melihat’ dari dan ke kedalaman jiwa, dan agar diingat [pula] ‘Perlu kearifan untuk menjenguknya’.

    Dan itu memerlukan proses,… Wahai anak muda, Bahwa kita tak’ bisa menilainya hanya dengan tutur kata [semata] dan sikap yang kita dengar dan lihat, sekilas, Sering disangka Emas ternyata besi biasa, dan karena kedangkalan ilmu yang kita miliki, Yang kita lihat sebagai besi biasa ternyata emas ’.

    Demikian, sebagai bahan renungan, sMOGA bermanfaat .
    Wass.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: