Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Siapa Yang Memberikan Kalian Wewenang Quota Haji

Sultan Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil Haqqani qs

Syekh nazimBismillahirrahmaanirrahim

Siapa yang Memberikan Kalian Kewenangan Quota Haji untuk membatasi jumlah orang untuk mengunjungi Ka`aba yang suci? Ketika Allah SWT membuka Rumah-Nya, Dia memerintahkan Sayyidina Ibrahim (as), “Bangun rumah bagi-Ku yang akan menjadi rumah Tuhan. Ketika kau telah menyelesaikan Baitullah panggil hamba-hambaKU untuk mengunjungi-Ku.”

Itu adalah perintah suci. Apa yang kita lakukan sekarang? Mereka mengatakan bahwa tahun ini, kuota untuk haji sudah penuh sekarang, bahwa mereka tidak bisa memberikan lebih banyak visa untuk orang berangkat haji. Mereka mengatakan Mesir dapat mengirimkan 70.000 jamaah saja, tidak lebih, dan Turki dapat mengirimkan 100.000 jamaah haji, Suriah dapat mengirimkan 25.000, Pakistan dapat mengirimkan 200.000.

Apakah dengan menghalangi orang pergi haji kalian menjadi munkar atau tidak? Wahai ulama-ulama Salafi! Mengapa kalian tidak mengatakan ini untuk Rajamu? Mengapa? Siapa yang memberikan kewenangan untuk membuat quota pribadi untuk mengunjungi Ka`bah yang suci? Inilah kebodohan orang yang munkar. Allah SWT tidak pernah senang kalian membatasi jumlah quota pada tamu-tamu-Nya!

Allah SWT mengatakan, “Datang dan kunjungi rumah-Ku.” Mengapa kalian menempatkan begitu banyak batasan? Untuk apa? Siapa yang memberikan perintah itu? Apakah kau memiliki otoritas itu? Wahai Ulama Salafi dan Wahabi kalian tidak mengatakan kebenaran! Allah SWT mengatakan untuk pergi mengunjungi Rumah Tuhan, Baytullah Sharif, dan kalian membatasi bahwa hanya satu atau dua juta jamaah haji yang dapat mengunjungi tahun ini. Apakah itu?

Aku berada di Mekah lebih dari 70 tahun yang lalu, setelah Perang Dunia ke II. Pertama mereka membuka jalan untuk mengunjungi Kabah Kudus dan ada sekitar satu juta atau 1,5 juta jamaah haji, karena waktu itu tidak ada yang akan ke Makkah, Hijaz karena ada perang. Tahun pertama aku berada di sana dan hampir dua juta jamaah haji datang di sana, dan itu bangunannya seperti sebelumnya, belum ada perubahan, bangunan lama Baytullah. Saya menyaksikannya, karena saya bersama dengan mereka dan saya melihat dan semua orang-orang yang baru saja memasuki Masjidil haram, berdoa, solat dan tawaf, minum air ZamZam abu-Syarif, dan melakukan sa’i.

Begitu banyak orang yang berkerumun di sana, tapi mereka melakukan semua perintah manasik Haji begitu mudah, di Arafah, Mina, dan di Mekkah-Mukarrama, sesuai dengan perintah suci Allah SWT. Lalu mereka berkata, “Kita perlu memperluas Masjid Suci.” Masyaa-Allah. Siapa yang memberi izin itu untukmu, untuk membuat Masjidil Haram lebih luas?

Ketika orang mengunjungi rumahmu, kalian tahu persis kapasitas rumahmu dan Anda mengundang 10, 20, 50, atau 100 orang. Di luar jumlah itu, kalian tidak akan mengundangnya. Jika Allah SWT memanggil hamba-hamba-Nya, apakah Allah tidak tahu kapasitas rumah-Nya? Apakah Allah swt mengatakan, “Hanya 1,5 juta yang boleh datang, tidak boleh lebih” Dia adalah Allah Jalla Jalaaluh! Tetapi mereka mengatakan, “Kita harus membuatnya lebih besar untuk para peziarah.” Apakah itu?

Dia adalah Allah! Wahai ulama-ulama Salafi! Mengapa kalian tidak mengatakan kepada Rajamu, “Dia adalah Allah! Dia mampu mengundang semua ummat Muhammad (saw) “(Mawlana Syekh berdiri dan duduk). Rumah Allah bisa menampung seluruh Umat dari Nabi Penutup para nabi (saw) dan Dia bisa menempatkan mereka semua dalam rumah-Nya.

Bagaimana kita percaya bahwa Dia adalah Qul huwa `alaa kulli shayin Qadir? Kenapa kita melakukan batasan itu? Kalian menghancurkan segala sesuatu yang selama ratusan tahun mereka tidak pernah membatasi setiap orang untuk naik Haji, untuk ke Hijaz. Berapapun orang yang datang maka tempat itu akan cukup bagi mereka! Dan Anda katakan, “Kita harus membuatnya lebih luas.” Itu berarti kalian mengatakan, “Allah SWT tidak bisa membawa semua hamba-Nya, jadi kami harus membantu-Nya.”

Pergilah dan lihat. Berapa yang datang mungkin tiga juta atau lima juta dan ummat Nabi Muhammad (saw) mungkin berjumlah lima miliar. Alhamdulillah, jika 3 miliar yang akan datang, uqsam billah, saya bersumpah, sumpah saya, bahwa jika Allah ridho, Tuhan Surgawi dapat menempatkan seluruh umat Nabi (saw) dalam sepuluh kali sepuluh wilayah Jadidu imaanikum billah.

Perbarui iman kalian kepada Allah.” Wahai Raja Saudi, wahai ulama-ulama kalian harus tahu, jadidu imaanikum billah. Kalian harus percaya:!. Qul huwa `alaa kulli shay’in Qadir, Dia Allah yang memiliki Qudrah, Absolut, Kemampuan Mutlak. Mengapa kalian membuat pembatasan? Dan sekarang kalian membuat rumah semakin besar namun itu tidak pernah cukup untuk jamaah haji. Apa yang bisa kalian katakan sekarang?

Allah SWT memanggil hamba-Nya untuk mengunjungi Rumah Tuhan. Begitu banyak jutaan manusia ingin pergi Haji, namun kau mengatakan, “Tidak ada lagi tempat, quota sudah habis, sudah sampai batasnya.” Dan Anda tidak memberikan tangan Anda untuk orang-orang miskin, mengatakan, “Anda juga datang.” Allah SWT mengatakan, Fa ta`awanu `ala al-Birri wat-takwa. Ini adalah perintah suci, “Berikan bantuanmu untuk mereka yang membutuhkan.” Bahkan jika datang 50 juta orang, atau mungkin 50 miliar di tempat yang sama, itu akan cukup karena Tuhan Surgawi dapat melakukan apapun yang Dia inginkan.

Wa min Allah at Tawfiq

Sumber : Mistikus Sufi

Single Post Navigation

33 thoughts on “Siapa Yang Memberikan Kalian Wewenang Quota Haji

  1. ALLAHU AKBAR

  2. arifuddin on said:

    Keagungan Tuhan tidak akan pernah sebanding dengan akal pikiran kita. Ketika perintah itu adalah seruan secara langsung oleh Allah SWT kenapa kita hambanya selalu menyangsikan kemahakuasaannya. Oleh karena itu perbaharuilah iman kita semua untuk meyakini bahwa segaka sesuatu yang tidak mungkin bahwa bagi Allah Maha nyata. salam sufi muda

  3. yang nulis gimana coba pemikirannya

    Haji di quota kan supaya ada kontrol jumlah orang yang ada di makkah dan madinah. Bayangin aja kalau ga di kontrol, bisa2 jamaah berebut megang hajar aswad dempet2an sampai mati.

    jangan samakan haji dahulu dgn sekarang. Kalau sekarang Penduduk dunia udah terlalu banyak, kalau ga di kntrol dengan kuota, bukannya pengen ibadah dengan tenang malah ibadah dempet2an abis itu mati dah..

    Coba penulis kalau belum smpet Haji, coba aja ikut Haji. biar bikin artikel ini itu mikir masalah kondisi disana aja di kuota aja udah rame sampai haji pun terasa padat. Padat sekaliiiiiiiii. Gimana mau ubadah dengan tenang. Wong udah keramean.

    Ini bukan masalah wahabi atau salafi atau sufi atau apalah, karena emang Quota Haji aja udah banyak bgt. Sesek bgt Mekkah dan Madinah dari penduduk setempat apalagi penduduk pendatang??? . Penduduk bumi udah terlalu banyak. Coba mikir ya..

    • Mas dadang

      Syekh Nazim itu udah gk terhitung banyak nya Beliau berhaji, jadi kenapa Beliau berkata spt itu berarti ada sesuatu.
      Setelah perang dunia ke 2 dgn luas mesjidil haram sangat terbatas pernah di kunjungi 1,5jt orang, aman2 aja.
      Tragedi mina dan pembatasan quota menunjukkan ketidakmampuan saudi dlm mengurus masalah haji.
      Sudah lama seluruh ummat Islam maklum dgn kondisi yg disebut, mungkin saat nya diserahkan ke pihak lain yg lebih mampu.
      Jamaah Tabligh sekali ngumpul sampai 2 juta aman2 aja
      Syiah berkumpul di karbala sampai 30 juta aman2 aja.
      Jadi, bukan masalah jumlah manusia, karena Penambahan jumlah manusia juga kehendak Allah, jadi Allah pasti menyiapkan segalanya termasuk tentang berkunjung ke rumah-Nya.
      Bagus Haji tidak diurus lagi oleh saudi, diserahkan kan kepada persatuan negara2 Islam, dibentuk badan otonomi khusus.
      Ini hanya sebuah ide

      • Boleh minta buktinya jamaah tablig kumpul 2 juta aman2 saja? dan Syiah berkumpul di karbala 30 juta aman2 saja? silahkan share linknya. Jangan membuat berita provokatif kalau tidak punya bukti yang kuat. Lalu kalau kerajaan Arab Saudi tidak bisa kontrol? Siapa yang diberikan wewenang? kaum Sufi? atau ummat Muslim di dunia? Saya yakin semua akan tambah lebih parah lagi. karena Islam sendiri banyak versinya dan masing2 Islam punya amalan sendiri termasuk pelaksanaan haji. Mungkin ada yang nangis2 di kuburannya Rasul atau amalan lain yang bisa menyendat arus haji. Dan semua membuat aturan sendiri ketika urusan haji diserahkan pada semua ummat muslim di dunia.

  4. Allahu Akbar… bagi kami yang menunggu, semoga Allah belum mengirimkan malaikatNya untuk memanggil kami sebelum kami bisa memunaikan ibadah haji krn begitu lamanya kami mununggu…sabar…sabar…

  5. ditempat admin, daftar hari ini naik tahun 2027, lamanya ga ketulungan,,

  6. Abang….

    boleh bertanya tentang ini:

    “…..Lalu mereka berkata, “Kita perlu memperluas Masjid Suci.” Masyaa-Allah. Siapa yang memberi izin itu untukmu, untuk membuat Masjidil Haram lebih luas?….”

    apakah ada aturan dari Rasul mengenai batas atau radius orang melakukan tawaf?

    saya pernah baca bahwa;
    Rasul mencontohkan cara tawaf dengan radius sangat dekat dengan ka’bah, hingga Rasul bisa mencium hajar aswad…
    Lalu Rasul menngajarkan cara tawaf dengan berjalan agak jauh dari ka’bah, hingga Rasul cukup melambaikan tangan ke arah ka’bah…
    Rasul pernah juga tawaf dari atas punggung kuda/unta, yang tentu nya berjarak lebih jauh lagi dari pusat ka’bah.

    jika demikian, apakah hal tersebut yg dijadikan alasan rezim Saudi memperluas Masjidil Haram?

  7. belajar sufi on said:

    Subhaanallaah…Ty SM…atas tulisannya

  8. Membatasi quota pergi haji untuk setiap negara bertujuan agar pelaksanaan ibadah lebih tertib, bayangkan jika tidak ada batasan maka milyaran orang akan berkumpul ditempat terbatas, masing” ingin mencari yang terbaik dengan mencari yang terdekat dengan ka’bah-misalnya-maka yang terjadi adalah kericuhan mengingat watak dan ahlak manusia berbeda2 meskipun semuanya muslim. seperti tulisan diatas “Ketika orang mengunjungi rumahmu, kalian tahu persis kapasitas rumahmu dan Anda mengundang 10, 20, 50, atau 100 orang. Di luar jumlah itu, kalian tidak akan mengundangnya. Jika Allah SWT memanggil hamba-hamba-Nya, apakah Allah tidak tahu kapasitas rumah-Nya? ” pembatasan quota haji hanya merupakan sebab akibat, syariatnya. Hakikatnya ya Dia belum ngundang, ga sedikit kok yang daftar belakangan lebih cepat perginya dari yang terdahulu, tergantung iman dan taqwanya, dan pastinya panggilan-Nya, undangan-Nya. Bukankah begitu pemikiran sufi?

  9. Munculnya antrian sampai puluhan tahun, justru muncul karena adanya propaganda bahwa pergi haji sudah mengantri begitu lama, “Kalo gak daftar sekarang, ya mau nunggu sampai kapan?”. Propaganda inilah yang memicu terjadinya “ledakan minat” orang untuk mendaftar haji. Sebuah strategi “marketing” ala jahiliyah. Padahal jumlah manusia di seluruh dunia tidak berkurang dan tidak pula bertambah. Orang yang mengantri akan terus bertambah, bertambah, dan bertambah (5 th, 10 th, 15 th, 30 th…., dst).

    Cobalah disadari dan renungkan; “andaikan tidak diberlakukan quota, apakah akan memicu “ledakan minat” orang untuk berangkat haji? Dan apakah akan terjadi kemacetan dan kekacauan?”. Menurut keyakinan saya, TIDAK SAMA SEKALI. Mengapa demikian? Karena minat orang untuk berangkat haji telah benar-benar terseleksi untuk tujuan ibadah, bukan karena takut pada antrian yang begitu panjang dan lama. Di situlah berlaku Qudratullah; bahwa mereka yang berhaji adalah benar-benar orang “terpilih” dengan kekuatan iman dan keikhlasan niat.

    Adanya pembatasan quota, justru memicu orang untuk terus mendaftar hingga terjadilah antrian yang begitu panjang dan lama. Sedangkan memperluas masjid, baik Nabawi atau Haram, dengan segala “pembangunan membabi buta” akan fasilitas-fasilitas mewah di sekitarnya, justru merupakan tindakan yang berlebihan. Faktanya, dari zaman ke zaman, adanya perbaikan manajemen dan fasilitas haji di Arab Saudi tidaklah mengurangi jumlah korban harta dan nyawa. Bahkan justru di zaman modern ini, yang katanya fasilitasnya semakin mudah dan mewah, jumlah korban jamaah haji semakin besar. Sungguh ironis. Mengapa demikian?

    Saya berkeyakinan, bahwa ibadah haji dengan segala peninggalan-peninggalan bersejarah dan jejak-jejak kaki para Nabi dan orang-orang shaleh, telah “dikeringkan” oleh sebuah orientasi materialistik. Nilai-nilai spiritual yang seharusnya muncul dari tekad “tazkiyatun-nafsi” dan dari tadabbur napak tilas sejarah para Nabi dan orang-orang shaleh telah tergradasi oleh kenikmatan-kenikmatan dan kemudahan-kemudahan fasilitas di sekeliling masjid. Sungguh, perbuatan membatasi quota dan membangun fasilitas mewah bagi jamaah haji dengan “membumi-hanguskan” situs-situs sejarah adalah tindakan congkak dan ujub, seraya telah menghina Syi’arullah dan mengenyampingkan Qudratullah.

    Allaahumma sallimnaa wal muslimiin min aafaatid-dunya wad-diin… aamiin…

    • Uraiannya Sempurna, terimakasih

    • @ bung Wira;
      “….Padahal jumlah manusia di seluruh dunia tidak berkurang dan tidak pula bertambah…..”

      mungkin tepatnya, penduduk dunia, terutama yang muslim, makin lama makin bertambah, namun tidak significant jumlah nya dengan yang mendaftar haji…

      perlu diuji secara statistik juga…

  10. assamata on said:

    Emm
    Aq nyimak saja diskusi kalian berhubung ilmuku belum nyampe.. Hehehe..

    Apapun it berdiskusilah dengan santun
    Gunakan hati kendalikan nafsu dan bertabayyun hehehe..

  11. ustadz…jangan dipersamakan dengan berkumpulnya 30jt orang di Karbala dengan berjumpulnya jutaan orang haji.

    apa ustadz bisa mengatur 30jt orang untuk thawaf? 30jt orang melempar jumrah? 30jt orang sa’i?

    pakai logika aja deh. kalau jamaahnya hanya 5jt aja udah makan banyak korban, maka apalagi jamaahnya 30jt.

    eh maaf, jumlah kaum muslimin di dunia ada milyaran. katakanlah 2 milyar. di antara mereka yang mampu berhaji kita ambil 10% saja, yaitu 200jt.

    ustadz mampu mengatur dan melayani 200jt jamaah haji?
    bisakah memberi garansi pelayanan yang memuaskan, aman dan nyaman tanpa 1 orang pun meninggal dunia karena kecelakaan?

    • ummat Hindu berkumpul 100juta di sungai gangga, tertib dan teratur.
      Allah menurunkan agama dgn ritual nya tentu sudah menyiapkan segalanya termasuk haji. Gunakanlah akal yg diberikan Allah!

      Jangan terlalu percaya dgn kuota, jawaban gampang atas ketidakmampuan Arab Saudi dalam mengelola haji.

      Kalau Arab Saudi gk mampu ya serahkan ke seluruh negara Islam untuk memikirkannya, tapi kan saudi gk mau, karena disana ada hubungan dengan finansial…

    • @bung Rofi;

      saya ikuti pendapat anda, ini statistik bodo-bodoan aja,
      pertumbuhan populasi penduduk dunia itu antara 1% s/d 2% per tahun. pertumbuhan muslim di dunia berkorelasi positif dg world population itu, jadi persentasenya kurang lebih sama.

      sebagai contoh:
      jumlah penduduk dunia th 1920 an sekitar 1.8 trilyun orang, berkembang menjadi 7.3 trilyun di th 2015 atau meningkat kurang lebih 400% (data dari wikipedia)

      sedangkan data jamaah non lokal (foreign pilgrim) di tahun 1920 adalah 58,584 jamaah, meningkat menjadi 1,712,962 di tahun 2012, itu berarti melonjak kurang lebih 2,800% (data dari wikipedia)

      apakah menurut anda relevan?

      ini sekaligus menyambung komentar saya atas pendapat @Wira di atas….

      berarti kemungkinan benar, ada sesuatu yang memicu “ledakan minat” orang untuk pergi haji karena itu tidak berkorelasi kuat dengan pertumbuhan populasi dunia khususnya umat muslim.

      • Uraian cerdas
        Dalam ilmu marketing, Arab Saudi sedang menerapkan Hukum Keterbatasan.

      • antara sebab dengan akibat terbalik 180 derajat.

        ledakan minat itu terpicu oleh perkembangan teknologi yang memudahkan orang melakukan perjalanan ribuan mil, bahkan antar benua. dahulu, orang naik haji naik kapal butuh waktu berbulan-bulan untuk perjalanannya. sekarang dengan naik pesawat bisa ditempuh hanya 1-2 hari.

        kemerdekaan beberapa negara islam di asia dan afrika juga menjadi pemicu ledakan minat, karena praktis setelah negara merdeka, mereka bisa menjalani kegiatan ibadah lebih mudah dan aman.

        jadi, ledakan minat untuk berhaji itu lebih dahulu terjadi dan menjadi sebab pemberlakuan quota haji oleh pemerintah Saudi.

        • begini bung Rofi;
          dari awal saya jelaskan ini statistik bodo-bodoan…

          saya hanya ingin memberi wawasan lebih luas pd anda bahwa lonjakan jamaah haji bukan hanya karena faktor population growth…spt yg dituturkan @Wira…

          lalu anda tulis ttg kemajuan teknologi transportasi, kemerdekaan, kesejahteraan kaum muslim, dsbnya…yg menjadi faktornya… ya, itu bisa saja, dan boleh jadi masih banyak faktor yg lain…

          tapi kenapa anda menolak bahwa sistem kuota Saudi termasuk dlm salah satu faktor?
          apa anda punya statistik bego-begoan juga?

          • maaf pak arkana

            kenapa pemberlakuan quota haji tidak saya masukkan sebagai faktor pemicu ledakan minat haji adalah karena anda terbalik memahami mana yang menjadi sebab dan mana yang menjadi akibat.

            pemberlakuan quota haji itu justru disebabkan oleh adanya ledakan minat. dan ledakan minat itu terjadi disebabkan oleh beberapa faktor yang saya sebutkan di atas.

            statistik bego-begoan anda hanya memperhatikan faktor pertumbuhan populasi, tanpa memperhatikan faktor pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan daya angkut alat transportasi.
            andaikata saat ini belum ada pesawat dan kita belum merdeka, niscaya sepesat apapun pertumbuhan populasi tidak akan berpengaruh signifikan terhadap minat berhaji.

            coba pake logika sederhana aja deh.
            dahulu alat transportasi hanya dengan kapal yang mungkin hanya mampu memuat maksimal 2000 penumpang.
            biaya haji pun sangat mahal dan sangat sedikit orang yang mampu.
            boro-boro naik haji, lha wong sekolah aja pada gak mampu, makan lauk ayam gak pernah, baju dan celana cuma punya sepasang.

            sekarang alat transportasi pakai pesawat yang mampu memuat maksimal 250 penumpang dikalikan puluhan kali penerbangan.
            perekonomian semakin meningkat sehingga jumlah orang yang berkemampuan finansial untuk berhaji semakin meledak.

            • bung Rofi….

              coba tulisan saya di atas anda simak lagi…
              saya setuju dg pendapat anda bahwa teknologi, modernisasi, informasi, welfare, dll, itu membawa pengaruh pada jumlah jamaah haji… saya percaya itu…
              meski lebih bagus kalo anda bisa sajikan data ilmiah nya… (setidaknya dg statistik bego-begoan…)

              nah, yg saya ngga ngerti kenapa anda keukeuh menolak sistem quota Saudi?
              apa anda udah uji secara ilmiah?

              saya tidak yakin ulama selevel Syaikh Nazim Adil Haqqani itu asal saja menulis artikel di atas, jika memang tidak ada fakta nya…

              mungkin benar yang dikatakan Bang SM di atas… kalo udah terlanjur kena propaganda Saudi, jadi susah menerima kebenaran….

              • mungkin kebalik ya akhi, karena terkena propaganda anti-Saudi atau anti-Wahabi, jadinya setiap apapun kebijakan yang dilakukan pemerintah Saudi selalu salah.

                saya memang tidak punya statistik, baik yang valid maupun bego-begoan.
                tapi saya mengajak anda untuk menggunakan logika, jika masih berfungsi dengan baik.

                seperti yang saya bilang kemarin, statistik bego-begoan anda hanya memperhatikan 1 faktor saja, yakni pertumbuhan populasi.
                tidak mau memperhatikan faktor pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi yang efektifitasnya terhadap ledakan minat lebih signifikan daripada faktor pertumbuhan populasi.

                bukannya saya menolak sistem quota Saudi, tapi anda terbalik meletakkan antara sebab dengan akibat.
                emangnya anda sendiri pernah menguji secara ilmiah?

                Syaikh Nazim Adil Haqqani hanya manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. tapi anda juga harus memperhatikan bahwa kebijakan quota itu didukung oleh ulama masyaikh juga.

                mungkin para ulama tersebut anda tolak, karena mereka adalah ulama Wahabi
                maka benarlah, kalau sejak awal alasannya adalah anti-Wahabi atau anti-Saudi, maka setiap apapun kebijakan yang dilakukan pasti dianggap salah.

              • bang Arkana
                bagusnya di akhiri aja diskusi ini karena susah ngajarin orang yang sudah cinta mati dgn wahabi, apapun yang dibuat tetap gk bisa di terima.
                Ada nasehat bijak dari Guru, “Jangan mengajari kerbau, nanti kau bisa di tanduknya”
                Sy udah merasakan di tanduk ama bung Rofi, beberapa komentar dia memaki maki tidak sy approve krn sy anggap sampah.

                Saya sarankan ke bung Rofi, biar anda aman damai, carilah blog yg sesuai dgn hati anda, ini kan jelas2 sufimuda sudah pasti tidak mungkin membela musuh Islam, membela wahabi yg tidak lain adalah yahudi yg menyusup ke jantung Islam.

                Percayalah bung rofi, andai anda sedikit membuka mata maka anda akan paham ttg bahaya wahabi.
                Kalau andai tidak bisa terbuka mata, mudah2an anda sempat melihat kejadian 3-4 tahun lagi tentang kehancuran wahabi dan saudi.

                Setuju atau tidak, diskusi ini diakhiri saja demi kedamaian kita semua

                Salam Damai

              • mohon maaf bang admin, sama sekali tidak ada niatan saya memaki-maki anda.
                tapi kalau kata-kata saya itu anda anggap sebuah makian, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

                yang jelas, poin yang ingin saya sampaikan adalah bahwa tanpa pemberlakuan quota, maka bencana yang terjadi dalam prosesi ibadah haji akan semakin besar.
                tidak hanya ratusan orang yang meninggal, mungkin jutaan orang.
                kalau pun tidak meninggal, maka minimal bencananya adalah mereka tidak terlayani dengan baik, aman dan nyaman. wallahu ‘alam

                wassalaamu ‘alaikum

              • mohon maaf bg rofi,,,masalah jutaan orang meninggal dunia di saudi sana itu bukan urussan manusia ,,melainkan urusan allah,,memang sudah itulah jalan nya orang2 yg meninggal di tanah suci dia sebelum berangkat ke tanah suci ia sudah pasrah mengenai apa yg terjadi pada dirinya saat ia menunaikan ibah haji tersebut baik hidup sampai ia pulang ketanah airnya maupun meninggal di makkah ia sudah pasrah kepada allah tuhanya,,,,,,,,tak perna saya mendengar ada orang yg meninggal di tanah suci mekkah komplen keluarga nya meningga saat melaksanakan haji,,,,,karna kalau kita islam kita berkesimpulan bahwa mati itu urusan allah dan tiada yang mengetahui siapapun dia…..dimana pun kapan pun kita bisa saja mati…..

  12. Dadang Gurnitha on said:

    Assalamua’laikum warokhmatullohi wabarokaatuh.

    Mohon ijin sy mengucapkan … Alhamdulillah sebagai ungkapan rasa syukur kepada Alloh plus rasa kagum n hormat … kepada beliau Sulton Auliya rohimahulloh …

    beginilah Ulama harus dg jujur menyampaikan kebenaran dg bahasa yg sngt santun disertai dalil dari al Quran …

    mohon maaf tanpa bermaksud mengoreksi apalagi menggurui … mungkin hanya salah ketik saja … tp cukup menggelitik …

    yaitu pada awal kalimat di alinea ke empat dari atas …

    terdapat kata … ” Alloh SWT mengatakan … dst” … sy berpendapat … yg lebih tepat …
    ” Allo SWT berfirman …dst “.

    terma kasih. Wassalamua’likum..

  13. hamba allah on said:

    hanya allah yang tahu

  14. Reblogged this on Glycerine and commented:
    Very interesting, dengan begitu tidak ada lagi orang orang yang tertunda ibadah hajinya karena persoalan tidak kebagian kuota haji. Bagaimana jika orang yang tertunda hajinya tidak mampu hidup sampai waktu keberangkatannya, tentu ia akan sangat kecewa karena belum sempat mengunjungi rumah suci Allah Ta’ala )))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: