Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat itu SATU

Saya seringkali dapat pertanyaan lewat email tentang hubungan antara syariat dan hakikat. Pada kesempatan ini saya ingin sedikit membahas hubungan yang sangat erat antara keduanya. Syariat bisa diibaratkan sebagai jasmani/badan tempat ruh berada sementara hakikat ibarat ruh yang menggerakkan badan, keduanya sangat berhubungan erat dan tidak bisa dipisahkan. Badan memerlukan ruh untuk hidup sementara ruh memerlukan badan agar memiliki wadah.

Saidi Syekh Muhammad Hasyim Al-Khalidi guru Mursyid dari Ayahanda Prof. Dr. Saidi Syekh Kadirun Yahya MA. M.Sc mengibaratkan syariat laksana baju sedangkan hakikat ibarat badan. Dalam beberapa pantun yang Beliau ciptakan tersirat pesan-pesan tentang pentingnya merawat tubuh sebagai perhatian utama sedangkan merawat baju juga tidak boleh dilupakan.

Imam Malik mengatakan bahwa seorang mukmin sejati adalah orang yang mengamalkan syariat dan hakikat secara bersamaan tanpa meninggalkan salah satunya. Ada adagium cukup terkenal, “Hakikat tanpa syariat adalah kepalsuan, sedang syariat tanpa hakikat adalah sia-sia.” Imam Malik berkata, “Barangsiapa bersyariat tanpa berhakikat, niscaya ia akan menjadi fasik. Sedang yang berhakikat tanpa bersyariat, niscaya ia akan menjadi zindik.Barangsiapa menghimpun keduanya [syariat dan hakikat], ia benar-benar telah berhakikat.”

Syariat adalah hukum-hukum atau aturan-aturan dari Allah yang disampaikan oleh Nabi untuk dijadikan pedoman kepada manusia, baik aturan ibadah maupun yang lainnya. Apa yang tertulis dalam Al-Qur’an hanya berupa pokok ajaran dan bersifat universal, karenanya Nabi yang merupakan orang paling dekat dengan Allah dan paling memahami Al-Qur’an menjelaskan aturan pokok tersebut lewat ucapan dan tindakan Beliau, para sahabat menjadikan sebagai pedoman kedua yang dikenal sebagai hadist. Ucapan Nabi bernilai tinggi dan masih sarat dengan simbol-simbol yang memerlukan keahlian untuk menafsirkannya.

Para sahabat sebagai orang-orang pilihan yang dekat dengan nabi merupakan orang yang paling memahami nabi, mereka paling mengerti akan ucapan Nabi karena memang hidup sezaman dengan nabi. Penafsiran dari para sahabat itulah kemudian diterjemahkan dalam bentuk hukum-hukum oleh generasi selanjutnya. Para ulama sebagai pewaris ilmu Nabi melakukan ijtihad, menggali sumber utama hukum Islam kemudian menterjemahkan sesuai dengan perkembangan zaman saat itu, maka lahirlah cabang-cabang ilmu yang digunakan sampai generasi sekarang. Sumber hukum Islam itu kemudian dikenal memiliki 4 pilar yaitu : Al-Qur’an, Hadist, Ijmak dan Qiyas, itulah yang kita kenal dengan syariat Islam.

Untuk melaksanakan Syariat Islam terutama bidang ibadah harus dengan metode yang tepat sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah dan apa yang dilakukan Rasulullah SAW sehingga hasilnya akan sama. Sebagai contoh sederhana, Allah memerintahkan kita untuk shalat, kemudian Nabi melaksanakannya, para sahabat mengikuti. Nabi mengatakan, “Shalatlah kalian seperti aku shalat”. Tata cara shalat Nabi yang disaksikan oleh sahabat dan juga dilaksanakan oleh sahabat kemudian dijadikan aturan oleh Ulama, maka kita kenal sebagai rukun shalat yang 13 perkara. Kalau hanya sekedar shalat maka aturan 13 itu bisa menjadi pedoman untuk seluruh ummat Islam agar shalatnya standar sesuai dengan shalat Nabi. Akan tetapi, dalam rukun shalat tidak diajarkan cara supaya khusyuk dan supaya bisa mencapai tahap makrifat dimana hamba bisa memandang wajah Allah SWT.

Ketika memulai shalat dengan “Wajjahtu waj-hiya lillaa-dzii fatharas-samaawaati wal-ardho haniifam-muslimaw- wamaa ana minal-musy-rikiin..” Kuhadapkan wajahku kepada wajah-Nya Zat yang menciptakan langit dan bumi, dengan keadaan lurus dan berserah diri, dan tidaklah aku termasuk orang-orang yang musyrik. Seharusnya seorang hamba sudah menemukan chanel atau gelombang kepada Tuhan, menemukan wajahnya yang Maha Agung, sehingga kita tidak termasuk orang musyrik menyekutukan Tuhan. Kita dengan mudah menuduh musyrik kepada orang lain, tanpa sadar kita hanya mengenal nama Tuhan saja sementara yang hadir dalam shalat wajah-wajah lain selain Dia. Kalau wajah-Nya sudah ditemukan di awal shalat maka ketika sampai kepada bacaan Al-Fatihah, disana benar-benar terjadi dialog yang sangat akrab antara hamba dengan Tuhannya.

Syariat tidak mengajarkan hal-hal seperti itu karena syariat hanya berupa hukum atau aturan. Untuk bisa melaksanakan syariat dengan benar, ruh ibadah itu hidup, diperlukan metodologi pelaksanaan teknisnya yang dikenal dengan Tariqatullah jalan kepada Allah yang kemudian disebut dengan Tarekat. Jadi Tarekat itu pada awalnya bukan perkumpulan orang-orang mengamalkan zikir. Nama Tarekat diambil dari sebuah istilah di zaman Nabi yaitu Tariqatussiriah yang bermakna Jalan Rahasia atau Amalan Rahasia untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Munculnya perkumpulan Tarekat dikemudian hari adalah untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman agar orang-orang dalam ibadah lebih teratur, tertib dan terorganisir seperti nasehat Syaidina Ali bin Abi Thalib kw, “Kejahatan yang terorganisir akan bisa mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir”.

Kalau ajaran-ajaran agama yang kita kenal dengan syariat itu tidak dilaksanakan dengan metode yang benar (Thariqatullah) maka ibadah akan menjadi kosong hanya sekedar memenuhi kewajiban agama saja. Shalat hanya mengikuti rukun-rukun dengan gerak kosong belaka, badan bergerak mengikuti gerakan shalat namun hati berkelana kemana-mana. Sepanjang shalat akan muncul berjuta khayalan karena ruh masih di alam dunia belum sampai ke alam Rabbani.

Ibadah haji yang merupakan puncak ibadah, diundang oleh Maha Raja Dunia Akhirat, seharusnya disana berjumpa dengan yang mengundang yaitu Pemilik Ka’bah, pemilik dunia akhirat, Tuhan seru sekalian alam, tapi yang terjadi yang dijumpai disana hanya berupa dinding dinding batu yang ditutupi kain hitam. Pada saat wukuf di arafah itu adalah proses menunggu, menunggu Dia yang dirindui oleh sekalian hamba untuk hadir dalam kekosongan jiwa manusia, namun yang ditunggu tak pernah muncul.

Disini sebenarnya letak kesilapan kaum muslim diseluruh dunia, terlalu disibukkan aturan syariat dan lupa akan ilmu untuk melaksanakan syariat itu dengan benar yaitu Tarekat. Ketika ilmu tarekat dilupakan bahkan sebagian orang bodoh menganggap ilmu warisan nabi ini sebagai bid’ah maka pelaksanaan ibadah menjadi kacau balau. Badan seolah-olah khusuk beribadah sementara hatinya lalai, menari-nari di alam duniawi dan yang didapat dari shalat itu bukan pahala tapi ancaman Neraka Wail. Harus di ingat bawah “Lalai” yang di maksud disana bukan sekedar tidak tepat waktu tapi hati sepanjang ibadah tidak mengingat Allah. Bagaimana mungkin dalam shalat bisa mengingat Allah kalau diluar shalat tidak di latih ber-Dzikir (mengingat) Allah? dan bagaimana mungkin seorang bisa berdzikir kalau jiwanya belum disucikan? Urutan latihannya sesuai dengan perintah Allah dalam surat Al ‘Ala, “Beruntunglah orang yang telah disucikan jiwanya/ruhnya, kemudian dia berdzikir menyebut nama Tuhan dan kemudian menegakkan shalat”.

Kesimpulan dari tulisan singkat ini bahwa sebenarnya tidak ada pemisahan antara ke empat ilmu yaitu Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat, ke empatnya adalah SATU. Iman dan Islam bisa dijelaskan dengan ilmu syariat sedangkan maqam Ihsan hanya bisa ditempuh lewat ilmu Tarekat. Ketika kita telah mencapai tahap Makrifat maka dari sana kita bisa memandang dengan jelas bahwa ke empat ilmu tersebut tidak terpisah tapi SATU.

Tulisan ini saya tulis dalam perjalanan ziarah ke Maqam Guru saya tercinta, teringat pesan-pesan Beliau akan pentingnya ilmu Tarekat sebagai penyempurnaan Syariat agar mencapai Hakikat dan Makrifat. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi renungan dan memberikan manfaat untuk kita semua. Amin!

Single Post Navigation

457 thoughts on “Syariat, Tarekat, Hakikat dan Makrifat itu SATU

  1. bocah angon on said:

    memang tidak mudah meyatukan syariat dan hakikat secara bersamaan dalam ibadah kita..

  2. السلام عليكم ورحمه الله وبركاته

    Bilahatiku gelisa dan risau itu itu karena dosa-dosaku, tiada yg bisa menenangkan kecuali zad yg berkecimpun di hati ini. Aku sangat bersyukur bisa mendapatkan blog ini, yg bertuliskan Sufi Muda. Rasa terimakasihku padamu , semogah Allah selalu merahmatimu, berlimpahkan barokatullah dan selalu diberikan Ilham dan hidayatullah.

    امي اللهم امين

  3. suami sy jadi rajin berdzikir setelah ikut majelis dzikir,mungkin dia juga uda deket sama allah, tapi sholatnya jadi jarang,apa allah uda membolehkan dia ngjarangin sholatnya y? mungkin krn ud deket sm allah swt..

    • Lebih cocok anda tanyakan langsung ke suaminya dari pada bergunjing ke media sosial yg dosa nya sudah jelas apalagi yg di gunjingkan suami sendiri.

      • Mista7up on said:

        Maaf sufimuda.. dimana salah nya mawar?? Malu bertanya sesat jalan..

        • Ruslianto on said:

          pertanyaan yg spotong-spotong dipastikan tidak menemui jawaban yg menyeluruh.Sang [bunga] Mawar tidak bersalah bertanya maka ia pun tak perlu malu-malu, saat ini udah canggih dengan GPS orang tak sesat lagi,… Jalan ke Tuhan banyak orang sesat. maka ia perlu bimbingan mursyid kamilmukamil. namun sayangnya dizaman canggih ini banyak yg ngaku-ngaku diri jadi mursyid.

    • hal itu sama seperti yang saya alami pada bapak saya, dan bapak saya memberi tahu kenapa jarang sholat ” le, bapak bukan meninggalkan sholat, sholat itu memang wajib, kamu tau sholat itu apa..?” “sholat itu menyembah yang maha kuasa pak” “nah, apa sholat harus memberi tau kepada semua orang, apakah sholat harus gerakannya seperti itu..?,, bapak itu sebenarnya ingin sekali sholat, tapi ketika sholat, itu akan terdengar suara yang mengingatkan bapak, susah menjelaskannya kepada orang syariat, nanti kamu tau sendiri kalau kamu mengkaji apa yang bapak lakukan saat ini” setiap waktu saya di beri penjelasan tentang apa yang di pelajari bapak saya, awalnya saya pikir semuanya itu syirik, tapi setelah saya pikir lagi, saya pelajari lagi, saya pikir betul betul, dan semuanya itu betul.
      mungkin bisa membantu mbak mawar.

      • wow …
        kita diperinthkn shalat, puasa, zakat dll apapun alasannya wajib kita laksanakan.

      • Hati2 terhadap bisikan atau suara dimaksud, jika bertentangan dgn syariat mgkin saja bisikan jin, yg menimbulkan dihati kita rasa diri telah smpai kepdaNya namun sesungguhnya suara yg asalnya tdak dpat dipertanggungjwabkan jika bertentangan dgn syariat, agar hati kita lepas dri aqidah dan timbul sang aku

      • ilham saraan on said:

        Salam saudari…benar yg dikatakan bapak anda..tapi ingat sembahyang itu fardhu ain (syariat-tarikhat=ilmu syariatun. hakikat-makrifat=ilmu hakikatun )ini ibarat lingkaran tidk terputus.

    • Slamat untuk anda yg belum masuk kuialifikasi istri sholehah,sebab anda bangga mempublis aib suami sendiri orang yg meniduri & memberi nafkah anda,bukankah suami itu pakaian anda ? Brarti anda lagi buka aurat dong ?

    • Muhammad Rizki Mulyawan on said:

      Taukah anda Pemikiran orang itu seperti rumput gk semuanya sama,,Sudah dijelaskan Syariat tanpa Hakikat itu fasik dan Hakikat tanpa syariat itu zindik…Klo emg pda kenyataannya suami anda jarang sholat bukan berarti dekat dgn Allah swt,,Mungkin dia salah pemahaman aja,,Orng yg lebih deket dgn Allah yaitu Rasulullah dan para Wali Allah aja tetap solat,,

    • agung sedayu on said:

      Sholat itu tiang rumahmu(jiwa) perintahnya pun langsung dari ALLAH melalui isra’,bukan dari wahyu,malaikat jibril maupun yg lainnya,,dlm keadaan apapun tdk boleh di tinggal(jika tdk mampu berdiri,sambil duduk,tdk mampu sambil berbaring,tdk mampu dgn kedipan mata dst,,)seharusnya semakin dekat dgn ALLAH,ibadah sholatnya semakin istiqomah semakin betah berlama2 dlm sholat(merasakan nikmat dekat dgn ALLAH) seperti ketika anda kepingin ice cream,mendapakannya,pastilah ingin berlama2 menikmatinya bahkan terasa kurang bukan jika telah habis??demikian jg halnya ketika sholat,,,berzikir itu sebuah amalan untuk mengisi kekosongan diantara 2 waktu sholat spy hati tetap tersambung Kpd ALLAH,, semoga suami anda mendapatkan jln yg mudah untuk kembali,,salam,,

    • Hidup tanpa cinta
      Bagai taman tak berbunga
      Hidup bukan cari pahala
      Meski jiwa bertumpuk dosa

      Mawar melati kau pilih mana
      Liat bangkai langsung dimakan
      Belum tentu bangkai ikan
      Yang Halalan Thoyyiban

      Rukun Islam ada lima
      Belimbing bintang sisi lima
      Puasa termasuk yang ke empat
      Yang kenal empat itu orang Ma’rifat

      Agama bukan tebak-tebakan
      Islam tidak hanya jasmani badan
      Ada Sunni juga ada Syi’ah
      Semuanya mengharap berkah

      Jubah darwis Wali Allah
      Sufi ialah Ahlus Suffah
      Banyak pula jadi Ahlullah
      Wahhabi benci mengapa entah

      Lelaki wanita mulia mana
      Abdul Qadir Sang Wali Akbar
      Abu Yazid tak kalah besar
      Ada juga sufi wanita

      Anak ke empat itu Rabi’ah
      Rabi’ah cantik Al-Adawiyyah
      Cantik jelita Wali Shufiyyah
      Mawar pun kalah merekah

      Mawar itu bangkai makannya
      Duri bikin sakit menahan
      Gunjing suami itu buktinya
      Hidup jadi tidak barokah

      Kita bandingkan sama Rabi’ah
      Lahir batin mempesonah
      Semua melamar hati berdarah
      Walau gitu ngga ada yang marah

      Rabi’ah sungguh cantik jelita
      Al-Adawiyyah sebutannya
      Walau ditolak sakit rasanya
      Namun siapa juga yang meminta

      Rabi’ah cakep Rabi’ah sayang
      Parasnya membuat terbayang-bayang
      Siapa orangnya bisa meminang
      Bayang-bayang jadi terang benderang

      Rabi’ah manis baik sifatnya
      Ini bukan segi parasnya
      Kalo paras ngga ada yang nanya
      Pasti sudah tau katanya

      Rabi’ah melebihi Mulan Jameela
      Sekali pandang api menyala
      Jatuh cinta tergila-gila
      Meskipun wanita merajalela

      Rabi’ah bukan Luna Maya
      Ia tak suka cowok buaya
      Apalagi pria setengah baya
      Lelaki alim pun baginya berbahaya

      Rabi’ah memang bukan wanita
      Dianggap pria tidaklah tampan
      Baginya cukup Tuhan bertahta
      Dia tak mau punya simpanan

  4. muhammad aldi alfiansyah on said:

    arti syahadatkan aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa nabi Muhammad utusan Allah
    yang sya tnya it saya bersaksi, bersaksi it kan secara nyata harus melihat dengan mata kepala sendiri nah bgaimna it
    mhon jawaban.a terimaksih ass.mw.mb

    • muslim ahza on said:

      Lha selama ini kemana aja kmu?lha nda’ kelihatan ta kmu gunung segitu besarnya, tanaman segitu banyaknya, manusia bertebaran dmn2,,,itulah saksi kmu bahwa Allah itu ada Allah Maha Pencipta Allah Maha Segalanya, trus lha sholat mu sapa yg ajarin klo bukan Rasul,,,lha apa masih kurang kesaksiannya,,,?apa semua itu tidak bisa dilihat dengan mata,,,?

    • ilham saraan on said:

      Wahai sahabat aldi alfiansyah…Rasulullah Muhammad bin Abdullah berkata ” sekali engkau bersyahadat haram bagimu neraka” timbul pertanyaan bersyahadat spt apa..burung beo sendiri pun bila diajarkan bersyahadat bisa mengikuti, kan kita ngk mau disamakan dgn burung beo, mari kita bahas, hilangkan kata bersaksi (ashadu)karena itu tambahan aja..ambil yg pokok/wajib yaitu ” LA ILLAHA ILLA ALLAH” (sahadat tauhid) dari empat kata itu mana yang di nafi-kan mana yg di isbat-kan. MUHAMMAD RASULULLAH (syahadat rasul) fahamlah bahwa muhammad rasulullah bukanlah humammad bin abdullah,..klw ingin kita bertukar fikiran dalam cerita ini alangkah baiknya langsung ke email sy (i_saraan@yahoo.com).Salam alaika ya Rasulullah.

  5. Klo menurut sya pribadi jika sudah meninggalkan solat itu sudah tidak benar.maaf klo sya slah menafsirkannya

    • betul mas hendri, shalat dengan aneka bentuk gerakannya dalam syari’at dilakukan INTINYA untuk MENGINGAT ALLAH!

      “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS.Thaha(20):14)

      di level syari’at menurut saya itu masih BANYAK LALAINYA karena cuma INGAT TUHAN hanya 5x dlm sehari. anggap aja paling lama shalat 5 menit x 5 = 25 menit. trus yang 23jam 35 menit NGAPAIN?!

      klu di level thariqat kita diajarkan online 24 jam Mengingat Allah, malah diajarkan bagaimana bisa Mengingat Allah DALAM TIDUR (tidur hakekatnya mati)

      Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri (terjaga), di waktu duduk dan di waktu berbaring (tidur). Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.
      (An Nisa 103)

      jangan bangga cuma ingat Allah 25 menit/hari (dalam shalatmu yang belum tentu khusuk).

      • ilham saraan on said:

        Satu pertanyaan buat anda saudara Anbu ” siapa yg menyembah dan siapa yang menyembah. siapa yg ada dan siapa yg tiada” salam.

    • ilham saraan on said:

      Bung SM Apa itu dosa bagaimana bentuknya siApa yg berdosa…….jangan hanya tau membilangkan tapi ngk ada penjelasan…

      • Ahli baca suka berdebat tentang makna2 untuk memuaskan ego nya, ahli hakikat menikmati rasa.
        Biasanya orang yang sudah paham tidak akan bertanya.
        Silahkan tanya ke ustad disamping rumah anda ttg dosa, mudah2an ada jawaban.
        Disini kami sedang menikmati rasa berTuhan…

        • ITACHI on said:

          bg ilham saraan yg senang bahas gituan biasanya orang qadariyah, tampaknya anda dr qadariyah ya? kenapa ga Jadi Mursyid aja bg? ngapain pula ngurusin postingan 😀

          • qadiriyah itu untuk yang hatinya keras jadi metode dzikirnya harus teriak2

            itu bagus kan hanya metode, biasanya mental preman cocok banget buat metode ini, nanti kalu sudah halus (hati, akhlak dan budi pekerti) harus ke naqsabandiyah kalau tidak ya kaya abang …. ini hasilnya he he (belum halus halus) 😀 Piiiiissss

          • i_saraan@yahoo.com on said:

            Bg Itachi yg bingung dan kebingungan …apa dasar menyebut sy spt itu karadariah apalah itulah sok taunya abg..kalau ngk tau belajar ma SM wkkk…becanda…pintar kaji karena diulang…tak perlu ego dalam mengetahui kebenaran.

            • musafir lalu lewat lagi on said:

              Jangan Sombong dan ‘Ujub Wahai Jiwa…
              Engkau ini Belumlah “Apa-Apa”

              Hei kamu.. iya kamu, yang bernama jiwa manusia…Kamu merasa sudah lama mengaji, banyak ilmu yang dikuasai, berasa otak cerdas sekali…
              berduyun-duyun orang bertanya padamu sana-sini…Lalu kamu ingin memuji diri?

              perbandingan madzaahib apa sudah semuanya kau kuasai? Atau kau merasa ilmumu sepantaran Imam Al-Bukhari dan An-Nawawi? Hingga kamu merasa pintar sendiri? Kemudian kau membuat orang merasa bodoh dengan sikapmu yang “sok tinggi”.

              “… dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Maha Mengetahui.” (Qs. Yusuf: 76)

              “Rendah hatilah…jadilah laksana bintang bercahaya yang tampak di bayangan air yang rendah, padahal sebenarnya dia berada di ketinggian. Jangan menjadi laksana asap, yang membumbung tinggi dengan sendirinya di lapisan udara yang tinggi, padahal sebenarnya dia rendah.”

              Kamu, yang mengaku ahli …..
              Coba lihat akhlakmu ini! Mulut kotor penuh hujatan, mencela, dan memaki! Mana sajakah dari akhlak mereka yang kau tepati? Coba kau hitung dengan jari! Pandai mengaku tapi tak jua baik budi!

              “Semua orang mengaku punya hubungan cinta dengan Laila, namun Laila tak membenarkan pengakuan mereka.”

              Janganlah demikian…
              Pengakuan itu tidak hanya sekadar di lisan belaka, namun harus dibuktikan dengan amalan yang nyata wahai yang bernama jiwa…

              Kamu, si pintar dari universitas ternama…
              Apa sih sumbangsihmu bagi negara dan agama? Tak usahlah kau jadi besar kepala! Kalaupun kau sudah menyumbang manfaat bagi sesama, belum tentu itu kan berbuah pahala. Iya, karena tendensimu ternyata tak lebih dari perkara dunia semata, bukan karena ikhlas mencari ridha-Nya.

              Kamu, yang bisa baca kitab dan berbahasa arab…
              Mengapa hal itu membuatmu begitu tinggi hati? Kesalahan wajar pemula kau caci maki. Bercerminlah terhadap diri, Apakah dahulu engkau tak pernah tersalah dalam belajar sama sekali?

              Kamu, yang (katanya) berjihad di jalan Allah menegakkan agama-Nya…
              Klaim mu telah “mengorbankan segalanya“. Belum tentu amalanmu diakui di sisi-Nya. Iya, karena dengan amalanmu, kamu berbuat ‘ujub dan riya!

              “Tiga perkara yang membinasakan: rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri” (HR. At-Thabrani dalam Mu’jam Al-Ausath)

              Kamu, penulis nasihat yang (katanya) bijak dan disukai…
              Apa kau pikir tulisanmu itu paling cemerlang sendiri? Lalu kamu jadi berbangga hati? Merasa sudah jadi penasihat sejati? Amboi, berkacalah diri.. jangan-jangan kamu bak lilin yang membakarmu sendiri. Sudah menasihati tapi tak dijalani.

              Kamu.. kamu… kamu… jangan sombong wahai jiwa…
              Kamu.. kamu… kamu… jangan merasa ‘ujub dan riya duhai manusia…

              • Kalau belum sarapan silahkan sarapan dulu biar hati lebih tentram dan damai.
                Hanya orang sombong yang fokus kepada orang sombong sedangkan orang rendah hati yang dilihat di dunia ini semua rendah hati.
                Jadi dunia ini ibarat cermin, kalau anda melihat banyak yg sombong coba lihat kedalam diri, krn semua itu adalah pancaran dari diri sendiri.

                “Kenal dirimu maka engkau kenal Tuhanmu”

                Hamzah Fanshuri menasehati, “Kembalilah menjadi diri agar lebih berarti”

                Salam damai

              • “hanya orang sombong yang ngurusin orang sombong” WAH BARU TAU SAYA!!!

                trimakasih untuk bg Ilham saraan, oleh karena sy ngurusin anda sy baru sadar masih ada ego pada diri saya.

                Tuhan berkata:
                “TIADA AKU CIPTAKAN SEGALA SESUATU DENGAN SIA-SIA”

                trimakasih juga buat bg SM yg berkenan menyampaikan aib (kekuranganku) yang tidak dapat saya lihat

                seperti kata pepatah:
                “Kuman di Ujung lautan Nampak, Gajah di pelupuk mata tak tampak”

                trimakasih n wassalam

                Piiiiiiiiisssssssss

        • i_saraan@yahoo.com on said:

          Kenapa SM ini ngelantur tiap memberi penjelasan dan terkesan Arogan…tapi ya sudah itu suatu rahmat buat SM…dan apakah pantas yg super faham spt SM ini memberi jawaban tanpa fikir berdasar pada ilmu…Belajarlah menerima mendengar pendapat lain.

  6. Sdh lbh dr cukup klo bs memahami isi smua yg di atas,bershyukur dlm usia muda sdh di sucikan Alloh,,amin

  7. Berbagi trs om,,mksh

  8. Imam Hidayatullah on said:

    Tidak bersaksi dgn mata, melainkan bersaksi dgn hati, rasa, dan penciptaan-Nya.. Allah maha Ar-Rohman Ar-Rohim (maha pengasih lagi maha penyayang). Contoh: maha Rohman (pengasih) kita diberi tangan, maha Rohimnya (penyayang) tangan itu bisa di gunakan dlm keseharian kita. Di beri mata maha Rohman, mata dapat melihat sekeliling kita, itu maha Rohimnya. Tingkatkan terus iman dan keyakinan kita terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya

  9. Aditya Zura on said:

    ada (banyak) yg sulit dijelaskan, namun hrs “dialami” oleh orang itu sendiri.. sehingga tau dan mengenal lewat “suara” dari Sang Penyingkap tabir..

    • Ruslianto on said:

      Ass.
      Kisah nyata (ini) pernah saya kirim pada Blog Sufi Muda pada tgl. 18 Juli 2011, yaitu kisah seorang mualaf yang menurut saya sebuah pengalaman rohani dan keimanan luar biasa dan insya Allah dapat memberikan suatu dorongan untuk menyikapi suatu kebenaran;
      Sekitar Tahun 1989 waktu itu saya berkenalan seorang Mualaf di Kota Medan, namun saat itu beliau tidak menceritakan sebab musabab ia mendapat hidayah memeluk agama islam, dan sudah 7 tahun berlalu sambil terus mendalami islam dengan ilmu ilmu syare’at, fikih – tauhid, dll-membaca Al Qur’an mempelajari dari buku-buku tentang islam, dan kelihatan ta’atnya seperti ta’atnya Beliau sewaktu memeluk agama Non Muslim kala itu, …. namun Beliau berkata,… (Yang membuat saya terenyuh,…) “Bahwa ia menyatakan tidak ada merasakan “perbedaan” pada iman-nya dari kepindahan agama itu (maksud nya sama saja imannya sejak mualaf dengan agama nya yg dulu),… Padahal katanya ; “ Saya telah menjadi mualaf selama 7 tahun dan telah mempelajari semua ilmu fikih dan Alhamdulillah, fasih membaca Qur’an, serta mempelajari pula ilmu al-hadist “.
      Lalu Beliau melanjutkan ; “Pada suatu hari ada seseorang teman mengajak saya masuk tarekat; (Tharekat Naqsyahbandi Pimpinan Ayahanda Guru di Kota Medan) dan sejak saat itulah rasakan peningkatan dorongan iman yang luar biasa, dan Ini baru muslim yang saya cari cari itu,” Luar biasa katanya, “Ini suatu cara pendekatan kehadirat Allah dengan cara yang benar.“.
      Untuk sebuah renungan bagi kita semua atas pengalaman beliau ini, ibaratkan satu motivasi bagi saya dan kita semua bahwa suatu pengalaman bathin (empiris) itu penting juga untuk meningkatkan iman kita menjadi taqwa. (amiinn) .

      Wass.sMoga bermanfaat.

  10. Syareat itu berdiri dalam shalat-tarekat itu rukuk dalam shalat- hakikat itu sujud dalam shalat-makrifat itu duduk dalam shalat- BUKAN BERSATU-BUKAN MENYATU- TAPI SUDAH ESA/SATU – DALAM SHALAT …SAUDARAKU SUFI MUDA PENGASUH BLOG JANGAN BERHENTI MENGUPAS TUNTAS DAN SUNGKAN BERKATA BENAR SUDAH SAATNYA UMAT BAGINDA MUHAMMAD SAW MENGETAHUI ISLAM ORIGINAL YANG DIANGGAP SEBAGIAN DANGKA…BERSAMA ALLAH BERSAMA RASULULLAH BERSAMA PARA SAHABAT NABI BERSMA GURU GURU PEWARIS MUTLAK ILMU DAN SIR BAGINDA NABI…WAJIB KITA BERJIHAD MEMPERBAIKI KESADARAN DIRI SENDIRI AKAN HAKIKAT KALIMAT ISLAM KAFFAH LAHIR BATIN…ISLAM RAHMAT SELURUH ALAM LAHIR BATIN…KASIH SAYANG SESAMA MAHLUK CIPTAAN ALLAH PERANTARA NUR BAGINDA MUHAMMAD SAW WAL AWWALU WAL AKHIRU LAHIR BATIN BY BUBU JAKARTA

  11. muhammad yazid zulkifeli on said:

    alhamdulillah…allah menemukan sy dengan sufi muda.bimbing la sy kejalan yg d redhoi alla taala

  12. ekobudipriyono03 on said:

    Subhanalllah membuat rindu kepada Ayah yg selalu membimbing ke jalan Allah dan RasulNya

  13. subhanallah.. saya sangat senang dengan pembahasan antara syariat dan haqiqat, selama ini saya selalu di bingungkan oleh orang2 yg mengaku sdh di tingkatan haqiqat namun mereka2 lupa akan syariat yg sebenarnya, mengaku dirinya ki ageng wali dsb , namun sholat 5 waktu mereka meninggalkan dengan tanpa ada dosa

  14. ada sesuatu yang istimewa dalam perjalanan sufi muda, insyaallah ada sesuatu yang istimewa dalam sholawatul wahidiyah dan bimbingan pengajarannya, menurut saya akan lebih “istimewa” apabila panjenengan mau meluangkan waktu untuk “melihat sholawatul wahidiyah… matur nuwun atas artikel yang “istimewa”….

  15. asry hastuti on said:

    Tarekat,hakekat dan makrifat itu sebenarnya terletak pada dasarnya yaitu sareat.mantapkan sareat,dengan tetap berpegang pada lehawlewele kuwataillabillah.hidup hanya milik Allah.

  16. kalau ngaji agama yang tuntas kang….
    kalau tanggung bisa nyasar apalagi sampai nyasarin orang. na’udzu billah….

    • Betul pak. Sangat rawan mengajarkan ilmu makrifat lewat dunia onlain. Karna susah untuk melihat tingkatan batin sang murit. Pada makom mana sang murit harus diajarkan tingkatan2nya. Karna dalam membimbing sang salik agar sampai pada tingkatan mengenal tuhan. Dan sang murit siap secara pikiran mental dan sikap. Dalam menjalani jalan kemakrifatan.

  17. Ping-balik: Bukan Empat Mata Oktober 2015My Blog | My Blog

  18. Ping-balik: Bukan Empat Mata Oktober 2015 | Saling Share

  19. Ping-balik: Bukan Empat Mata November 2015My Blog | My Blog

  20. Ping-balik: Bukan Empat Mata Desember 2015My Blog | My Blog

  21. pengetahuan yg mengesankan.

  22. pengetahuan yg mengesankan. trims

  23. KHALIFAH RIDHO HARUN ARASYID on said:

    SUBHANALLAH,,, maha besar ALLAH yg tlah menciptakan manusia dgn sempurna,, menyembunyikan sebagian,, agar manusia dpt mencari tahu,,, itulah yg terkandung dlm surah Al alaq ayat 1 sbgai perintah prtama oleh ALLAH kpd seluruh umat manusia,, yaitu BACALAH!!!!!!!!

    • Ruslianto on said:

      Maka itulah,.. orang ber-syariat (itu) mulai belajar “membaca” , sedangkan pengamal thareqat “merasakan” apa-apa yang dibaca.

  24. Intisari al quran hanya dua perkara punya iman dan perbuatan baik menurut Allah jdi Islam itu tdk rumit bro

    • سُبْحَانَ اللّهُ. Hanya kepadanya kita berserah diri!

    • Ruslianto on said:

      intisari al qur’an hanya dua ? terlalu sedikit mas Andy. Allah SWT menggambarkan sekiranya seluruh pohon dibumi bahkan ditambah lagi-pun tak cukup buat penanya dan tujuh samudera untuk jadi tintanya tak cukup untuk jadi menterjemaahkan ilmu al qur’an, apa lagi intisarinya waou.

  25. kalau mau belajar ilmu Menghimpun Syariat dan Hakikat yg Sempurna silahkan ke Kalimantan Selatan karena ada Gurunya yg masih hidup.. karena ” Tuntutlah ilmu walaupun kenegeri Cina ( maksudnya tuntutlah ilmu dari buaian sampai mau meninggal)”…ke kalimantan selatan ini dekat saja , tidak seperti ke cina…

  26. Bukankah yang sudah masuk zona hakekat akan semakin kuat memegang hakikat ? mohon pencerahannya..terimakasih,,
    Mohon maaf sy sering lupa dengan materi yg telah sy baca..

  27. Izin share ya sodaraku

  28. Hendra on said:

    Kunci mempelajari tarekat hakekat dan ma’rifat adalah syari’at dan syari’at ini harus kokoh dulu barulah pelajari tarekat dan seterusnya krn ini adalah hal ghaib yg diperlukan bimbingan khusus dari musyid yang paham..krn syaitan selalu ada dialam ghaib kita (QOLBU) jika tarikat hakikat dan ma’rifat kita bertentangan dengan syari’at maka itu sia sia….ingat jika kita ingin buat buat rumah maka dasarnya harus kokoh itulah syari’at dinding atas dan hiasannya itulah tarekat hakekat dan ma’rifat jika ingin kita perbangus tampak indah semuanya maka perlu kita dalami lagi ilmu ini…begitu juga dengan atap dinding dan hiasan rumah maka harus lebih giat lagi cari uang…..(smga bermanfaat tp ingatlah dalam kehidupan kita sehari tanpa kita sadari yang namanya sayari’at itu sering sekali berjalan dngan tarekat hakekat dan ma’rifat hanya saja kita tdk pernah menyadarinya))) SMGA kita mendapat ridho allah swt..aamiien

    • ilham saraan on said:

      awaluddin makrifatullah—-bukan syariat bung hendra sy rasa anda terkeliru..salam.

    • sebenarnya bung Hendra tidak keliru….

      mempelajari syariat, tarekat, hakikat dan makrifat itu konkrit nya adalah dengan praktek. dan praktek nya ada di dalam tarekat.

      saya yakin jika bung Hendra mempraktekan tarekat, dia akan mengerti mana yang fundamental di dalam agama Islam ini….

      sebagaimana yang dijelaskan Bang SM di atas:

      “…. ilmu Tarekat sebagai penyempurnaan Syariat agar mencapai Hakikat dan Makrifat…..”

      salam…

      • ilham saraan on said:

        jika dimulai dari syariat, mana syariat allah…yg kelak dipertanggung jawabkan…..kemana amal ibadah mu kau tujukan jika engkau hanya tau nama namun tak tau yg empunya nama….wahai saudara kenal lah Allah yg Ahad.

      • ilham saraan on said:

        kalau lah anda tak terkeliru …mana yg namanya Syariat Allah kelak kemudian hari dipertanggung jawabkan….klw yg di kerjakan itu namannya perbuatan syariat….mana syariat allah..???? salam.

  29. kandangan on said:

    Saya org yg tidak pernah dipercaya org disekitar saya,, dan saya merasa dizolimi oleh mereka.. setiap saya butuh modal buat usaha,, mereka selalu menanyakan usaha apa yg ingin saya lakukan,, lalu saya cerita jujur,, tetapi mereka tidak percaya sama saya,, tidak lama berselang bisnis yang saya ceritakan kepada mereka,, mereka yg menjalankan,, padahal ide dari saya.. dan mereka selalu sukses setelah mengambil ide saya.. namun mereka masi saja tidak mau meminjami saya modal.. padahal mereka hidup dengan kecukupan dengan ide bisnis yang saya beri tahu.. apa anda peecaya memberikan saya modal,,?

  30. lenyap artinya melebur menjadi satu. seperti halnya orang yg melakukan shalat dia khusuk tapi hanya badanya saja sedangkan hatinya belum khususk nah, bagaimana agar hatinya khususk, jawabanya adalah ilmu hakekat. sejatinya shalat itu hanyalah gerakan yg tidak bermakna manakalah tidak ada ruh di dalamnya. dan ketahuilah bahwa RUH itulah haket dari shalat yg sebenarnya. jadi kesimpulanya jika kita renungkan dengan teliti bahwa di dalam shalat yg kita kerjakan selau mengandung 2 Unsur keilmuan yaitu Syariat dan Hakekat dan keduanya harus lenyap/lebur menjadi SATU.

  31. Muhammad Rizki Mulyawan on said:

    Saya baru msuk Thareqat dan merasakan perubahan,,krna slalu mengingat Allah swt,,Karna saya baru msuk saya mw bertanya,,Gimana Pemahaman dari Ziarah keMakam Ayahanda Guru,,klo pemahaman saya ketika Ziarah kemakam beliau itu kita seperti Sungkem kpd beliau,dan gmna yg salah pemahaman pada saat Ziarah?

  32. DIDIK SURYADI on said:

    Alhamdulillah , Bang Sufi Muda Ajari saya tentang ilmu tarekoh ini…bagaimana cara khusuk dalam sholat apa yang harus dibayangkan waktu sholat…

    • ilham saraan on said:

      bung SM mana yang sebenarnya Syariat Allah…kalau kita hanya menyebut2x bukankah itu hanya sebutan…sekali lagi mana sebenarnya Syariat Allah.

      • Ruslianto on said:

        ‘Kalau tidak karena Engkau Ya Muhammad, tidak kujadikan dunia dan segala isinya.

        • ilham saraan on said:

          Siapa muhammad..itu muhammad yg mana….

          • Ruslianto on said:

            Dijum’at terakhir bulan RAJAB seorang ulama tasauf meng-anjurkan agar membaca ‘Ahmadurasulullah Muhammadurasulullah sebanyak-banyaknya agr menghilangkan RASA EGO dan merasa paling benar sendiri’
            sMOGA BERmanfaat’ Wass.

            • ilham saraan on said:

              Ulama tasauf yg mana anda maksud jangan asal jeplak aja..apakah manusia yg punya rasa…berarti anda belum faham sebenarnya beserah diri..inilah efek yg tau cuma baca menyebut2x namun tak tau apa kemana parkirnya.

              • Ruslianto on said:

                oh, si ilham saraan [ini] tukang parkir rupanya, pantaslah begitu,.. tukang parkir he he he. anda salah parkir nih mas disini.

              • Ruslianto on said:

                Do’a Akhir Jum’at Bulan Rajab
                ===========================
                Al-Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi ra memberikan ijazah kepada Habib Umar bin Muhammad Maulakhela untuk membaca: Ahmadur rosuulullooh Muhammadur rosulullooh (Artinya: Ahmad adalah Rasulullah. Muhammad adalah Rasulullah) sebanyak 35 kali di hari Jumat terakhir bulan Rajab ketika khotib sedang duduk di antara 2 khutbah (berkhutbah).

                Beliau ra berkata, “Barang siapa membaca kalimat di atas pada Jumat terakhir bulan Rajab, ketika khotib sedang duduk di antara 2 khutbah (berkhutbah), maka selama setahun tangannya tidak akan pernah kosong dari rezeki.”

              • Bg itachi blog ini bnyk yg membaca termasuk sy ,wajar sy berkomentar…atw di larang sm sm ya…wajar si sm keberatan la sy bertanya jwbannya ngk nyambung. Salam

              • @ruslianto tak apa lah tukang oarkir spt yg anda sebutkan…itu krn kekesalan anda yg ngk bisa menjawab pertanyaan sy, yah sdh sy skrg faham akan kedangkalan cara berfikir anda itu jg merupakan rahmat buat anda. Salam.

              • itachi on said:

                bg Ilham / kesehatan141
                Sy juga pernah menimba ilmu di Qadariyah, metode pengajarannya cuma Pengajian/mengkaji saja, yang ujung semua bahasan yang dikaji akan bermuara ke Allahu SWT (berhakikat). dan metodenya ya cuma Dzikir Zahar saja dan hanya begitu doang.

                jadi jawaban untuk semua pertanyaan (kemarin/nanti/masa yang akan datang) anda = ALLAH!!!

                bagi yang mata hatinya sudah terbuka, pertanyaan anda itu kelihatan banget, bahwa anda tidak bertanya

                jadi kalau Bg SM tidak mau meladeni anda sy rasa wajar dan sy pun demikian.

                nasihat saya, Amalkan saja apa apa yang anda fahami

                Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi (ego).” (HR. Muslim no. 91)

                Dari Abu Hurairah ia berkata, Rasulullah bersabda:
                “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbutan kalian.” (HR. Muslim)

                wassalam

          • @ bung Ilham Saraan:

            dugaan saya sekilas, anda juga seorang pengamal tarekat….saya mau kasih saran utk anda ini…

            kalo kita sudah biasa makan bersama dalam satu meja, pastinya segala sesuatu mengenai piring, gelas, sendok, garpu, dan lainnya yg ada di atas meja sudah bukan lagi sesuatu yg menarik untuk dibahas…

            kecuali anda punya sesuatu niat lain yg bukan sekedar bertanya.

            • ilham saraan on said:

              Tak baik menduga-duga…tak perlu jalan berliku jika ada jalan yg lurus.

              • syukurlah kalo begitu….. 🙂

                jadi selanjutnya saya tidak perlu repot menanggapi komentar anda….

                mohon maaf jangan tersinggung, bukan saya punya masalah dg anda pribadi…. tapi lebih karena orang model seperti anda banyak…. dan memang tidak perlu ditanggapi….

            • ilham saraan on said:

              Sy bertanya kalau anda merasa sy punya niat lain itu hak anda…sembari bertanya ..apa itu NIAT…bukankah satu perbuatan amal ibadah batal jika tidak ada niat…yg mana Niat. Apa syariat itu..yg mana dikatakan Syariat Allah.

  33. iwan papua on said:

    Bung karno sdh menjelaskan,BHINEKA TUNGGAL IKA
    Silahkan artikan maka anda akan tau siapa itu yg punya HIDUP

  34. iwan papua on said:

    Bung karno sdh menjelaskan BHINEKA TUNGGAL IKA
    kalau saudara sdh bisa mengerti hakikatnya maka saudara sdh kenal dengan sang punya hidup

  35. Atah adol on said:

    Untuk yg ngerti ya djln kan,untuk yg belum ya di pelajari aja,,dan saya yakin org yg udah mengenal torekat itu adalah org2 PILIHAN

  36. Atah adol on said:

    Bang sufmud,,tolong kasih tau cara nya agar balanc dalam ngejalanin ibadah lahir batin,,hatur nuhun

    • Ruslianto on said:

      Dengan meng-idolakan zhohir, naif bagi ulama sufi,…. karena diujung perjalanan sang jasad pasti dimakan cacing,…. ruhmu ruh yang melekat pada jasadmu, itu nanti yang akan menyeberang dialam baka,… usahakan ruhmu tidak babak belur selama didunia ini, dan sertakan ia dalam amal ibadahmu,…dan Allah SWT pun dalam Qur’an mengajari orang beriman agar berdzikir didalam hati,… itulah diantara maknanya, ruhmu,..ruhmu,…ruh yang ada pada dirimu,
      Maaf,…saya mendahului Bg.SM karena [mungkin] beliau sedang sibuk [suluk] bulan Rajab.
      Wass, smoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan ke mawar Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: