Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Iman, Islam dan Ihsan dalam Bimbingan Kakasih-Nya

Mencapai tahap Makrifatullah (mengenal Allah) sehingga kita bisa menyembah Allah yang Maha Nyata dengan benar bukanlah persoalan yang mudah, memerlukan proses yang panjang, sekian banyak pengorbanan dan tentu saja harus ada pemandu jalan sehingga tidak tersesat. Kalau hanya sekedar menyembah Allah Yang Maha Gaib, meyakini bahwa Allah ada dan Dia mengetahui apa yang kita perbuat, itu tidak memerlukan Guru secara khusus, pelajaran-pelajaran seperti itu akan mudah kita dapatkan dimana saja, baik lewat ceramah di mesjid maupun lewat buku-buku yang jumlahnya sangat banyak.

Ada 3 hal penting dalam hubungan manusia dengan Allah yaitu Iman, Islam dan Ihsan. Rukun Iman dan Rukun Islam telah kita pelajari sejak kecil dan tentu saja esensi Iman dan Islam itu tidak bisa dipelajari dengan begitu saja. Disana ada faktor keyakinan dan keyakinan itu ada dalam hati. Itulah sebabnya ada orang yang begitu mahir pengetahuan tentang Islam tetapi dia tidak sampai ke tahap Iman, tidak menjadi muslim sepenuhnya. Artinya orang yang mempunyai pengetahuan banyak tentang Agama Islam (contohnya orientalis) belum tentu dia meyakini bahwa Islam sebagai agama yang paling benar. Kemudian ada juga orang yang pengetahuan Islamnya pas-pasan atau ala kadarnya, karena dia terlahir dari orang tua Islam maka dia meng-imani Islam dengan sepenuh hati. Ketika agamanya direndahkan maka jiwanya akan terpanggil untuk membelanya.

Dalam keseharian dia tidak pernah melaksanakan shalat 5 waktu dan puasa Ramadhan pun sering bolong-bolong, tapi kalau Nabi nya dihina, agamanya direndahkan maka nyawapun mau dijadikan taruhan untuk membela agamanya. Kenapa? Karena dalam hatinya telah tertanam keimanan dan kecintaan kepada Agama.

Kalau dia kemudian belajar Agama Islam lebih dalam maka rasa cintanya semakin dalam dan fanatisme nya semakin tumbuh dan terkadang kalau tasfir Agama yang di dapat salah maka tanpa sadar dia menjadi ekstrim masuk kepada kelompok-kelompok garis keras yang hanya fokus kepada Nahi Munkar.

Kemudian ada orang yang dasar pengetahuan agamanya bagus, kemudian dia belajar agama islam ke negara-negara sekuler yang disana Agama hanya semata-mata sebagai ilmu dan tidak dibahas dari sudut keimanan. Mengkaji islam dari segi ilmu dan memisahkan dengan keimanan ini dikenal sebagai Islam Liberal. Positifnya kita akan lebih realistis memandang agama, tidak hanya sebagai dogma semata tapi melihat dari sudut pandang ilmiah. Kekurangannya adalah tanpa sadar kita mengkritik nilai-nilai yang sudah baku dalam agama dan tentu saja menyakitkan bagi sebagian besar ummat Islam dan tentu saja tidak semua dalam agama itu bisa dikaji oleh akal. Kalau sekedar hanya memakai akal maka akan kita temui hal-hal aneh dalam ibadah agama sebagai contoh, kita akan aneh melihat orang keliling ka’bah, sebuah bangunan batu, apalagi ada kewajiban mencium Batu Hitam, dimana letak ilmiahnya? Tapi itulah Agama, Tuhan memerintahkan manusia dengan tujuan tertentu dan akal tidak akan bisa menjangkaunya.

Pilar ke-3 yang paling penting dalam hubungan dengan Allah adalah Ihsan, ilmu yang secara khusus menjelaskan hubungan manusia dengan Allah. Kalau Islam dan Iman ada rukunnya maka Ihsan tidak memiliki rukun, disana hanya ada rasa. “Shalatlah engkau seolah-olah melihat Tuhan dan jika engkau belum melihat Tuhan maka yakinlah Tuhan melihat dirimu”. Dalam sebuah tafsir lain kata “seolah-olah” itu bermakna juga “sebenar-benarnya”, jadi “Shalatlah kamu dengan sebenar-benarnya melihat Tuhan” maka sambungan kalimat akan menjadi benar yaitu “Jika engkau belum sebenar-benarnya melihat Allah maka yakinlah Allah melihat dirimu”.

Saya disini tidak membahas tentang apakah Tuhan bisa dilihat atau tidak karena nanti kalau saya bahas panjang lebar akan terjadi perdebatan panjang yang tidak ada gunanya. Bagi saya Tuhan itu Nyata dan Dia disembah dengan nyataNya. Kita disuruh mengingat Allah, coba fikir dalam-dalam, bisakah kita mengingat sesuatu yang tidak pernah dilihat? Bisakah kita mengingat sesuatu yang abstrak, tidak terfikirkan? Itu hal hal yang sangat mustahil. Maka ketika seseorang mencapai tahap Marifatullah maka dia bisa mengingat karena sudah melihat dengan mata bathinnya.

Cara yang paling mudah untuk mengenal dan menjumpai Allah bukan dengan membaca tapi dengan mendekati orang yang telah pernah berjumpa dengan Allah. Siapakah orang yang telah pernah berjumpa dengan Allah? Tentu saja Beliau adalah Rasulullah SAW, kekasih-Nya, penutup para Nabi.

Nabi Muhammad SAW telah lama wafat, lalu bagaimana cara kita berguru kepada Beliau? Dengan cara berguru kepada orang yang pernah berjumpa dengan Rasulullah SAW yaitu para sahabat-sahabat Beliau yang sangat memahami Beliau. Karena sahabat telah tiada maka berguru kepada orang yang pernah berjumpa langsung dengan sahabat, seterusnya sambung menyambung sampai kepada Ulama yang mempunyai jalur keguruan (Tali Silsilah) bersambung langsung dengan Rasulullah SAW sehingga ilmu yang kita terima tanpa keraguan sedikitpun.

Membaca Al-Qur’an, hadist dan buku-buku agama itu sangat bagus, tapi harus disadari bahwa kita tidak cukup hanya dengan membaca saja, kita tidak akan pernah bisa berjumpa dengan Allah lewat bacaan karena bacaan hanya sampai kepada otak/akal fikiran sedangkan akal fikiran bersifat baharu (berubah), bagaimana mungkin yang baharu bisa sampai kepada Qadim (Allah)? Semakin banyak kita membaca maka akan semakin banyak bantahan-bantahan yang keluar dari akal kita, dan akal meyakini  bahwa Allah bisa dijumpai semasa kita hidup di dunia ini karena memang hanya sampai disitu saja kemampuan akal.

Allah SWT dengan sifat-Nya yang Pengasih dan Penyayang mengutus sekian banyak Nabi dan Rasul dengan tujuan agar manusia bisa mengenal dan menjumpai-Nya setiap saat, mendengar suara-Nya yang Agung dan bisa memandang wajah-Nya yang Maha Indah. Salah satu sifat Allah adalah Kalam (berkata) dan Dia akan berkata-kata sampai akhir zaman, diperlukan telinga bathin yang terlatih untuk bisa mendengarkan kata-kata-Nya yang Agung, diperlukan mata bathin yang tajam untuk bisa memandang wajah-Nya yang Mulia dan diperlukan hati yang telah disucikan agar bisa merasakan kehadiran-Nya setiap saat.

Semoga Allah SWT berkenan memperkenalkan kepada kita seorang kekasih-Nya, orang yang dekat dengan-Nya yang bisa membimbing kita mengenal-Nya dengan baik dan bisa mendekatkan diri kepada-Nya dengan cara yang dikehendaki-Nya. Lewat bimbingan kekasih-Nya itulah kita akan bisa masuk menyeluruh kedalam Iman, Islam dan Ihsan secara sempurna.

Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Single Post Navigation

55 thoughts on “Iman, Islam dan Ihsan dalam Bimbingan Kakasih-Nya

  1. gley board on said:

    amin.moga kita dapat bertemu Guru yg bener” mampu irsyad luar dalam kepada kita.

    ihsan menempati poisisi yg amat penting.tentunya tanpa mengabaikan islam dan iman.
    ihsan sebagai cikal bakal tasawuf…

  2. Assalamualaikum wrwb..
    salam kenal bang sufimuda..
    apa yg anda tulis sngat benar, “muslim” bukanlah sbutan utk mereka yg berKTPkan islam. Tp “muslim” adalah julukan tertinggi dr ALLAH utk mereka yang benar benar bisa mrasakan rasanya islam, untuk mereka yang selalu merasakan kehadiran ALLAH didalam kehidupan mereka..! ALLAHU AKBAR.. Salam kenal bang sufimuda dari bondowoso kota kecil di jawatimur..

  3. Amin……Ya Rabbal ‘alamin..

  4. Subhanallah.. Tuhan ku perkenankan aku ut dpt bertmu kekasihMU yg dpt mnghantarkan aku kehadiratMU.. Amin.

  5. islamhakikat on said:

    Kalau saya boleh menannggapi, ada beberapa yg perlu :
    1). Mencium Hajar Azwad, bukanlah suatu kewajiban, tapi sebagai sunnah…artinya kalau tidak memungkinkan cukuplah dengan isyarat saja.
    2). Bukanlah seorang muslim dlm perilakunya, seharusnya malah selalu dalam pembenaran kendali akalnya? Artinya akallah yg harus menjadi indikator pembenaran utama, dehingga akal tidak pernah melakukan kesalahan (walau akal berkembang sesuai umur dan intelektualnya), yang salah adalah fikirnya yg tidak mau sejalan/menentang akalnya, kerena terkontaminasi oleh nafsunya.
    3). Sering kita tidak paham/menyadari mana yg akal dan mana yg fikir, sehingga yg fikirpun kita anggap akal.
    4) Sesungguhnya Allah Swt. menghinakan seorang muslim yg tidak menggunakan akalnya (QS.10:100)

    • Terimakasih atas tanggapannya.
      Allah menganjurkan kita untuk berfikir dan menggunakan akal. Berulang kali Allah mengingatkan dalam al-Qur’an tentang pentingnya berfikir. “Apakah kamu tidak berfikir?” atau “perumpamaan ini hanya untuk berfikir”.
      Fikiran adalah hasil dari penggunaan akal. Ketika akal tidak digunakan maka tidak ada fikiran.
      Saya tidak mungkin menulis disini kalau tidak menggunakan akal fikiran sebagai suatu anugerah dari Allah.

      TAPI..akal fikiran itu hanya bisa digunakan untuk hal-hal selain Allah. Sedangkan berhubungan dengan Allah maka AKAL akan buntu.
      Firman Allah dalam hadist Qudsi, “Fikirkanlah ciptaan-Ku dan JANGAN engkau fikir Dzat-Ku”.
      Silahkan gunakan akal untuk segala yang ada di alam ini tapi untuk berhubungan dengan Allah. akal, fikiran dan sejenisnya tidak bisa diandalkan.
      Itulah sebabnya makrifat tidak ada hubungan dengan kecerdasan

      Demkian

      • WujudKhayal on said:

        Mas SufiMuda izin nambahin ya, maaf juga klo ga dilengkapi dengan
        sanadnya.

        Nabi saw bersabda : “Apa-apa yang diakalkannya dengan akalmu dan apa-apa yang dipikirkannya dengan pikiranmu, maka Allah yang diperoleh dengan akal pikiran itu adalah bersalahan keadaannya yang demikian itu, karena sesungguhnya yang diperoleh daripada akal pikiran keadaannya baharu jua seperti kamu”.

        “Berfikirlah kamu tentang kejadian makhluk dan jangan kamu berfikir tentang yang menjadikan makhluk, maka sesungguhnya, kamu tidak akan sanggup memikirkan Allah sampai ketemu”.

      • hapal kaji karna di ulang …apa bisa kita mengartikan ayat ayat ALLAH tanpa kecerdasan trus ilmu kita bertambah satu demi satu sampai suatu masa kita menjadi islam yang sejati sampai puncak makrifat

      • Itulah sebabnya banyak mereka yg kehilangan akalnya.Lalu tenggelam dalam hayalnya ‘merasa paling tahu akan Islam,PADAHAL CUMA TEMPE DOANG.

  6. Benar, akal dan fikiran hanya dpat digunakan untuk mncpai segala sesuatu yang berhubungan dg hamba (ciptaanNYA), Bukan untuk mencapai ALLAH.. @ Bang sufimuda, bolehkah hamba jg menjadi teman bang sufi walau hanya lewat email? hamba ingin berbagi ilmu, alhamdulillah hamba jg seorang murid dari seorang AuliyaALLAH..

  7. iman fhatoni on said:

    asalamualaikum wr wb…syukur alkhamdulillah kehadirat Allah swt,,yang telah menuntun hati sufi muda untuk berbagi tulisan yang sangat bagus,s,moga bermanfaat.!!dan mampu menjawab keragu raguanku selama belajar beragama dalam naungan torekoh..terima kasih sufi muda,..salam persaudaraan dari pyong taeek korea.

  8. “…Bagi saya Tuhan itu Nyata dan Dia disembah dengan nyataNya. Kita disuruh mengingat Allah, coba fikir dalam-dalam, bisakah kita mengingat sesuatu yang tidak pernah dilihat? Bisakah kita mengingat sesuatu yang abstrak, tidak terfikirkan? Itu hal hal yang sangat mustahil. …”

    mungkin ini benar. otak manusia itu ternyata tidak punya daya imajinasi. contoh paling mudah adalah mimpi. ketika tidur, kita tidak akan memimpikan sesuatu hal yang tidak pernah ditangkap/ diserap oleh panca indera kita sebelum nya. otak kita tidak akan membuat sesuatu image yang tidak ada di dalam database. misalkan: kita tidak akan pernah bermimpi bertemu orang yang tidak pernah kita kenal atau kita lihat. jadi mimpi itu hanya ilusi otak kita aja.

    • Benar, itulah sebabnya kalau ada orang bermimpi didatangi Rasulullah SAW tanpa terlebih dahulu diperkenalkan kepada Rasulullah di alam Rohani oleh Guru Mursyid maka bisa dipastikan sosok yang mengaku sebagai Rasulullah itu adalah bukan Rasulullah. Banyak orang tergelincir disini. Itulah sebabnya Syekh Abu Yazid memberikan nasehat bijak, “Barangsiapa menuntut ilmu tanpa Syekh (Guru/Pembimbing) maka wajib setan Syekh (Guru/Pembimbing) nya
      Terimakasih komentarnya yang mencerahkan,
      salam

      • Walaupun kalau di tampakan pada kita tanda kenabian(Khataman nubuhwah) baginda SAW?

        • nah, itu dia…
          tulisan saya di atas itu hasil penelitian modern. (maaf, sumber info nya dari tv, discovery, jadi tidak ada link nya di internet).
          mimpi sering dikaitkan dg aktivitas jiwa/ruh kita di alam sana. padahal visualiasi mimpi itu hanya ada di dalam benak kita dan tidak pernha keluar dari situ.

          kalo begitu, apakah kita akan mempertanyakan keabsahan mimpi Ibrahim untuk mengorbankan anak nya?

          atau sama juga dg penampakan tanda kenabian itu ?

      • “itulah sebabnya kalau ada orang bermimpi didatangi Rasulullah SAW tanpa terlebih dahulu diperkenalkan kepada Rasulullah di alam Rohani oleh Guru Mursyid maka bisa dipastikan sosok yang mengaku sebagai Rasulullah itu adalah bukan Rasulullah”….bukannya setan tidak bisa menyerupai Rosulullah?

        • Setan tidak bisa menyerupai wajah Rasulullah tapi setan dengan wajah yg tidak kita kenal bisa dengan mudah mengaku sebagai Rasulullah.
          Nabi hidup 1400 tahun yang lalu dan kita tidak pernah lihat wajah Asli Beliau maka dgn mudah setan mengaku ngaku.
          Jangankan setan, manusia pun ada yang mengaku sebagai Nabi…

      • Bang Sufi Muda. Sepengetahuan saya, setan tak bisa menyerupai Rosululloh.
        Kalau ulama’2 masih bisa.

        • Kenapa setan tidak bisa menyerupai Rasulullah SAW karena ada Nur Muhammad di dalamnya, Nur Muhammad itu yg diwariskan terus menerus sambung menyambung sampai hari ini. Siapapun ulama yg mewarisinya maka wajahnya juga tidak bisa dituru setan.
          Itulah sebabnya seorang murid selalu menghadirkan wajah Guru Mursyid di dalam dzikir

  9. Ping-balik: Hubungan Manusia Dengan Tuhan « Marsoedi Oetomo

  10. Assalamualaikum wr.wb. Ngelmu yang bermanfaat ini saya share di blog saya masbro…. Terima kasih, meski ini ndak perlu izin, tapi saya tetap minta izin share. Wassalamualaikum wr.wb

  11. Muhammad Basori on said:

    Assalamualaiku…
    Alhamdulillah ini bahasan yg seger…nggak pake debat2an…he..he..kalo urusan bagaimana kita lebih dgn Allah dgn berbagai pendekatan dalam perbuatan sehari-hari…karena yg sehari-hari kt lakukan itu sebuah kebiasaan…jadinya jk setiap kebiasaan kita karena Allah (dgn tuntunan ajarana Islam yg bener…mf masalah guru yg mursyd..he..he..ini yg terlalu sulit…didapet…mslhnya dgn juriat dan silsilah yg bener “…” jg tdk menjamin sepenuhnya kita dpt yg kita harapkan dri mereke (mf..liat kondisi sekarang)…tp yg penting biasa berbuat karena Allah…mk kita juga terbiasa dekat dgn Allah…ungkap seolah-olah kita melihat…ini juga jd paradigma…he..he..maklum kemampuan manusia…macem2….tp semoga forum ini selalu memberikan inspirasi dan improvisasi kita untuk tetap dekat …selalu dekat…dengan Allah…Amin
    Wassalam

  12. ajipamuji on said:

    Assalamu’alaikum bang sufi muda,
    Teramat sangat bersyukur Saya atas pencerahan ΐηΐ, betul sekali, tanpa bimbingan guru tanpa berpegang Kepada tali اَللّهُ tak akan mungkin manusia bisa mengenal اَللّهُ apalagi bersama اَللّهُ, karena Islam akal, Islam fikiran, Islam perilaku tidak akan menghantarkan Kepada-Nya, karena اَللّهُ berada pada dimensi Чάπƍ berbeda dimensi Чάπƍ maha tinggi, sehingga hanya ruh Чάπƍ telah ϑΐ Islamkan lah Чάπƍ akan bisa bersama-Nya tentunya dengan metodologi dari bimbingan syeikh atau mursid.. Mohon koreksinya bang..

    Wassalam.. Salam kenal bang, ajipamuji_115@yahoo.co.id

  13. Itulah guna akal teman,Bacalah sejarah Rasullullah,pahamkan ciri2nya.Danyg terpenting simak pesan2nya dengan akalmu lalu bandingkan dengan Al Qur’an.Jgn cuma rasa2kan tapi gunakan akal menafsir dan memahami.

    • mas Logos belum paham juga ya …….

    • @Logos;
      sebenarnya tulisan Sufimuda di atas tidak bermaksud merendahkan pengunaan akal manusia. hanya saja ada beberapa hal dalam hidup beragama ini yang tidak bisa dijelaskan secara logika. akal selalu bekerja pada prinsip logika.
      seperti dicontohkan, mencium hajar azwad. why do we do that? mungkin untuk tataran syariah awam, cuma ada 1 kata, Patuh. Rasul mengajarkan itu, kita patuh. selesai masalah.
      tapi kalo mau dicari dengan logika, gak bakal ketemu. apa alasan Rasul melakukan hal itu. apa manfaat nya?

  14. Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. (7:172)

    Astagfirullah,….
    mencoba berbagi,… maaf kalo salah maksud….

    itulah janji kita di alam ruh,…..
    dari penyataan diatas jelaslah bahwa tiap2 jiwa memang pernah bertemu Allah,…
    makanya perintah mengingat selalu disampaikan,..
    kata2 ingat adalah apa yg sudah pernah kita temui atau jumpai,.. atau rasakan,.. atau alami,… tidak mungkin kita dipaksa untuk ingat sesuatu yg tidak pernah kita ketahui,…

    contoh atau analogi yg jauh dari sebenernya,… kita disuruh ingat dengan si fulan,.. tapi kita tidak pernah bertemu dengannya,.. yg terjadi adalah kita akan membentuk2 si fulan ini,… akan ada yg mengatakan bahwa si fulan berkulit hitam,.. bermata sipit dan berambut keriting,…. tapi apakan bener? sesuai dengan karakter si fulan???? sedangkan kita tidak pernah bertemu dengannya,…
    yg kita sampaikan hanya memaksa diri untuk membentuk2 karena kita belum pernah bertemu,… (apakah harus seperti ini kita mengingat Allah),…..

    sehingga tidak mungkin kita suruh ingat yg tidak kita ketahui,.. atau sesuatu yg pernah terjadi,… Allah maha sempurna,….
    tidak mungkin perintah Allah salah,… ya mungkin dari kelemahan kitalah dan belum mendapat petunjuk pastinya kalo kita belum bisa ingat seperti perintahNya,…

  15. “…itulah janji kita di alam ruh,…..dari penyataan diatas jelaslah bahwa tiap2 jiwa memang pernah bertemu Allah,…”

    pernah bertemu, berkenalan terus lupa…kira2 seperti itu yha?

    menurut surat Al fajr:27-28, yang cuplikan bunyi nya kurang lebih: “…Yaa Ayyatuhan nafsul muthmainnah…irji’i…”, bisa dipersepsikan hanya jiwa/ruh tertentu yang dimaksud dalam ayat itu yg bisa kembali ke Pemiliknya. tidak berlaku untuk sembarang jiwa/ruh.

    berarti ada kualifikasi tertentu untuk jiwa/ruh kita agar bisa mengenal kembali Tuhan nya dan akhir nya bisa benar2 kembali.

    • iya,… tentunya seperti itu,….
      kembali kei zikir (ingat),….
      kita pernah mengalami masa remaja,… masa anak2,… masa bayi,… masa dalam kandungan,…..tentunya masa alam ruh juga
      seberapa jauh kita ingat masa2 itu,….. ya itulah titik kesadaran kita,….
      hhehhehee maaf deh jadi sok2an,….
      ya saya juga baru berteori belum tau juga mpe dimana titik ingatan yang saya bener2 sadar,…
      ya menurut akal saya ya seperti itu,….

      untuk sampe kepada ingatan seperti yg kita,.. khususnya saya,… dan menurut yg saya fahami adalah menghilangkan kerja akal,… kembali pada sebab awal yg tidak disebabkan oleh sebab lain,…karena akal selalu bertanya sebab,… sebab ini karena itu sebab itu,… sebab itu karena ini,….
      selama masih ada akal atau yg termasuk hijab kita sulit untuk sampe pada kebenaran hakiki, yang semua orang setuju bahwa hal itu bener tanpa ada bantahan,… atau yg saya fahami sebagai kebeneran nurani,…

  16. Ruslianto on said:

    Irwan, berkata : Astagfirullah,….
    mencoba berbagi,… maaf kalo salah maksud….

    itulah janji kita di alam ruh,…..
    dari penyataan diatas jelaslah bahwa tiap2 jiwa memang pernah bertemu Allah,…
    makanya perintah mengingat selalu disampaikan,..
    kata2 ingat adalah apa yg sudah pernah kita temui atau jumpai,.. atau rasakan,.. atau alami,… tidak mungkin kita dipaksa untuk ingat sesuatu yg tidak pernah kita ketahui,…

    contoh atau analogi yg jauh dari sebenernya,… kita disuruh ingat dengan si fulan,.. tapi kita tidak pernah bertemu dengannya,.. yg terjadi adalah kita akan membentuk2 si fulan ini,… akan ada yg mengatakan bahwa si fulan berkulit hitam,.. bermata sipit dan berambut keriting,…. tapi apakan bener? sesuai dengan karakter si fulan???? sedangkan kita tidak pernah bertemu dengannya,…
    yg kita sampaikan hanya memaksa diri untuk membentuk2 karena kita belum pernah bertemu,… (apakah harus seperti ini kita mengingat Allah),…..

    sehingga tidak mungkin kita suruh ingat yg tidak kita ketahui,.. atau sesuatu yg pernah terjadi,… Allah maha sempurna,….

    Al Qur’an (menjawab) :
    Fa iza Qadaitum manaasikakum fazkurullaaha kazikrikum abaa’akum au asyadda zikraa(n),…
    Apabila kamu telah menyelesaikan Ibadah Hajjimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut dan mengingat-ingat dengan membangga-banggakan nenek moyangmu,.. atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu.
    (Surah Al Baqarah ayat 200)

    Wass.

  17. bner bgt apa yang dibilang bang sufi muda cuma saya bingunf gmana cara menyampaikan kpada seseorang yg blum mnemui kekasih ALLAH..

  18. Memandang bila tak mengerti maka tak akan paham
    Kalau tak kenal, tiap saat kita lihatpun tak akan kita pedulikan
    Maka berkenalanlah dulu, baru mengerti dan memahami

  19. asslmkm.ustadz saya mo tanya..berhubung saya kan masih tingkat ilmu syariat,
    Saya membaca dari ilmu.tentang sifat2 Allah(wujud qidam,baqo dst..)
    Trus dari fiqih ttg rukun2 dlm ibadah syarat2 dsb.
    Nah saya kan jadi tau sifat Allah asma Allah scara hapalan.
    Trus saat ini jika saya ingat Allah.nah
    Jenis tingkatan apa peng ingatan saya terhadap Allah saat ini??
    Kan Allah itu laisakmislihisyaiun..
    Saya cuma mikir Allah melihat saya.kalo saya melihat Allah mah belum bisa.. saya belum hapal bahasa Alquran, kan pake bahasa arab.ilmu hplan hadis ga hapal semua.jadi saya blum tau diluarkepala Alquran dan hadis2.(hukum2)
    Nah saya masih tingkat belajar syariat belum ke tarikat,apalagi hakekat,terus makrifat masih jauh.gmna neh.

  20. Maaf mau tanya bisakah Tanpa pernah belajar ilmu agama lewat pondok tidak bisa baca qur’an (syariat belum menguasai)pernah belajar tauhid belum selesai(ada kejadian yg membuat berhenti belajar tauhid) tapi keinginan ingin berusaha mendekatkan diri pada allah melaksanakan sholat wajib disertai usaha memperbaiki segala sesuatu dikit demi sedikit belajar ilmu serta mengamalkan prilaku yg baik secara perlahan,yg ditanyakan adakah bahayanya…?

  21. Assalamuallaikum wr wb,mau nanya bahayakah orang yg ingin mendekat pada allah tanpa belajar ilmu di pondok tdk bisa baca qur’an,syareat belum menguasai tapi ada keinginan ingin mendekat kepada allah dgn cara merubah dikit demi sedikit termasuk merubah prilaku yg buruk menjadi baik serta ikut istighosah, tahlil sholat masih bolong bolong,saya pernah ikut ngaji tauhid dulu beserta saudara tanpa menguasai ilmu syareat,sekarang sudah tidak ikut dikarenakan ada kejadian pada saudara yg membuat berhenti ngaji.dan saya mengakui kesalahan saya dulu saya ceroboh sampae sekarang saya masih awam tapi ingin merubah dikit demi sedikit. Adakah bahayanya jika saya ingin mendekat kepada allah tapi melalui proses belajar dikit demi sedikit,

  22. mohon ijin untuk di share bang.. sekiranya boleh..

  23. terima kasih abangnda
    Insya Allah bermanfaat sekali buat saudara saudara kita
    amien yaa Rabb

  24. kastoprastowo on said:

    di tunggu tulisan selanjutnya bang sufi muda
    mohon maaf ko email saya belum di balas?
    terima kasih

  25. Ewab.

    Belajar Agama dg baik, kemudian mohon petunjuk Allah swt, dan jalankan perintah,sunah dst. Selama kamu berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah Nabi saw maka tidak akan sesat, InsyaAllah.
    Lillahi Taala, Billahi Taala dan hanya mengharap RidhoNya, dengan sepenuh cinta InsyaAllah akan makrifatbillah. Amien

    • Ruslianto on said:

      Assalamu’a-laikum WrWbr.
      Al Kisah Doeloe , yakni di Zaman manusia pertama diciptakan (Nabi Adam a.s) dan Al Qur’an pun kala itu belum diturunkan kebumi palagi Sunnah Nabi, karena Nabi Muhammad – pun belum dilahirkan kedunia, Kala itu Adam a.s sangatlah gundah gulana, rasa sedih tak karuan,.. terpisah dengan isterinya diturunkan ke bumi sebab dosanya, dan 300 tahun do’a Beliau tidak di-ijabah oleh Allah, untung Nabi Adam a.s BERWASILAH dengan “Nama Muhammad” yang dilihatnya ditiang ‘arasy,… dan do’a-nya detik itu juga dijawab Allah SWT .(Dosanya diampuni dan bertemu dengan isterinya kembali di Jabbal Rahmah) (Riwayat ini dikutip dari Hadits Qudsi). Dan lihat (juga) Al Qur’an An Naml ayat 62, dan Al Baqarah ayat 36,37.

      Ini membuktikan bahwa “Wasilah” adalah salah satu metode kuno dan yang paling menjanjikan bagi Nabi Adam a.s dan Bani Adam sampai akhir zaman.
      Tuntutan agar berwasilah ini – pun diingatkan Allah SWT dalam FirmanNya pada Al Qur’an Suraah Al Maidah ayat 35. Agar manusia tetap “berwasilah” untuk berhampir diri kepada Allah. (Ma’rifatbillah ?),…….

      Karena Allah SWT Maha Mengetahui batas-batas kemampuan / kesanggupan seorang manusia dan Maha Mengetahui pula atas dasar ketidak-mampuan manusia itu sendiri “memahami seluruh Al Qur’an dan seluruh Sunnah Nabi Muhammad s.a.w”…….. ibarat / seperti suatu pelajaran dari pertanyaan Sayidina Ali r.a kepada Nabi Muhammad s.a.w ; Ya Rasul semua hukum dan pelajaran telah aku ketahui darimu , namun jika kuingat yang satu yang lain menjadikan aku lupa,.. berilah aku satu pelajaran jika aku amalkan dapat merangkum semua ilmu yang kuketahui , Rasul menjawab; Ya Ali tongkatkan lidahmu kelangit-langit,… dst”.
      Semoga ini semua renungan, bagi kita semua Allahu-a’lam bissawab.

      Wass,..salam kangen buat Sufi Muda.

  26. Ruslianto on said:

    Al Qur’an Suraah Al Baqarah ayat 36 dan 37 :
    Fa azallahumasy syaitanu ‘anhu fa akhrajahuma mumma kana fihi wa qulnahbitu ba’dukum liba’din ‘aduww(un), wa lakum fil ardi mustaqarruw wa mata’un ila hin(in)

    Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman ; “Turunlah kamu! sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan”.

    Fa talaqqa adamu mir rabbihi kalimaatin fa taba ‘alaih(i), innahu huwat tawwabur rahim(u).

    Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

    Al Qur’an Suraah An-Naml ayat 62 :
    Amman yujibul mudtarra iza da’ahu wa yaksyifus su’a wa yaj’alukum khulafa’al ard(i), a ilahum ma’allah(i), qalilam ma tazakkarun(a).

    Atau siapakah yang memperkenankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepadaNya dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi ? Apakah di samping Allah ada tuhan (yang lain)?. Amat sedikitlah kamu dzikir kepadaNya.

    Al Qur’an Suraah Al Maidah ayat 35 :
    Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah pada Allah carilah Washilah/Jalan/Cara/Methode untuk menghampirkan diri pada Allah dan berjihad (Sungguh-sungguh di jalan itu) Supaya kamu menang (beruntung).

  27. Bangda SM, sy mohon izin untuk menyimak semua tulisan di blog ini semoga menjadi penawar yang lagi kehausan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: