Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Tragedi Penyaliban Al-Halaj

Eksekusi al-Hallaj, seorang tokoh sufi adalah sejarah penyiksaan yang paling brutal. Setelah dikurung lebih delapan tahun, sebelum dieksekusi ia dicambuk 1000 kali, dipukuli, disayat-sayat, dimutilasi, kemudian disalibkan.

Karena malaikat maut tak kunjung menjemput, esok hari lehernya dipenggal. Tubuh tanpa kepala itu disiram minyak dan dibakar. Abu jenazahnya dibawa ke menara pengintai, ditabur-taburkan agar dibawa lari angin dan jatuh hanyut ke aliran deras sungai Tigris.

Kepala tanpa tubuh dikirim ke Khurasan, sebuah kawasan pengikut setia ajaran al-Hallaj. Peristiwa horor ini dilakukan di arena publik, di gerbang kota Baghdad yang selalu ramai sebagai pelintasan penduduk Baghdad atau pun para pendatang.

Sejenak kita bisa bertanya, apa yang dilakukan oleh al-Hallaj sampai ia disiksa dan dihukum mati dengan sadis? Bagi pengikut setia al-Hallaj, ia dibunuh karena aktivitas politiknya. Ia dituduh misionaris Qaramithah — sebuah kelompok yang melancarkan kudeta terhadap Dinasti Abbasi — oleh karena itu bentuk hukuman al-Hallaj seperti mereka yang dituding musuh politik penguasa, disebut “hirabah”, ”bughat” dan pengacau sosial (al-fasad). Mereka dieksekusi, dipancung, dan disalib.

Bagi murid-muridnya ajaran al-Hallaj mengajarkan tauhid paling tinggi. Al-Hallaj mengalami wahdatu al-syuhud (kesatuan penyaksian) — di mana dan kapan pun bisa melihat Allah, karena dirinya telah sirna (fana) dalam hakikat Tuhan. Diriwayatkan dari al-Hallaj berkata, “aku melihat Tuhanku dengan mata hatiku, kusapa Dia “siapa Kamu?” Dia menjawab “kamu”.

Pun pengaruh ajaran dan politik al-Hallaj membawa kekhawatiran dua kubu di penguasa pemerintah Abbasi. Pertama, kubu politik Dinasti Abbasi yang takut pengaruh al-Hallaj akan membawa bentuk pembangkangan baru, setelah sebelumnya pemerintahan ini didera pelbagai pembangkangan politik seperti “Revolusi Negro”, Qaramithah, rongrongan Dinasti Fathimi yang beraliran Syiah Ismailiyah di Tunisia.

Mereka memiliki prasangka yang buruk terhadap al-Hallaj yang dikenal memiliki latar belakang keluarga dan pengikut yang masuk dalam kelompok oposan terhadap penguasa.

Kondisi politik dan ekonomi pemerintahan Abbasi saat itu sedang kacau, akibat pemberontakan di mana-mana yang menggerus kas negara. Salah satu usaha yang dilakukan adalah menarik upeti dari rakyat dengan harga yang mencekik dan tak jarang melalui perampasan.

Kedermawanan al-Hallaj yang langsung membantu dan membagikan uang pada rakyat tanpa menyerahkannya ke kas negara (baitul mal) membuat penguasa marah.

Kelompok kedua adalah ulama fiqh yang hidup dengan menyusu pada penguasa, yaitu ulama fiqh Maliki dan Dhahiri. Mereka pun melihat ajaran al-Hallaj mengancam doktrin agama dan sumber kehidupan mereka.

Al-Hallaj bersama kalangan sufi lainnya mementingkan ”makna batin” dari teks dan ajaran agama, sedangkan kalangan fiqh berusaha menjelaskan ”makna lahir’ dari teks agama.

Dua kubu yang korup ini bersatu untuk menghancurkan al-Hallaj yang dituding bisa mengancam eksistensi mereka. Cara yang paling efektif untuk memojokkan al-Hallaj dengan dua tuduhan: ia murtad dan zindiq yang berarti musuh agama, ia penganjur ajaran Qaramithah yang berarti ia musuh kerajaan.

Tahun 297 H / 909 M keluar fatwa dari Muhammad bin Dawud ulama madzhab Dhahiri yang mengafirkan al-Hallaj atas tuduhan dia telah bersatu dengan Allah. Al-Hallaj ditangkap dijebloskan ke penjara. Namun Ibn Suraij seorang ulama besar dari madzhab Syafii memberikan pembelaan dengan kata-katanya yang terkenal

Aku melihatnya orang yang hafal al-Quran, dan memiliki pemahaman yang baik terhadapnya. Ia mahir dalam ilmu fiqh, ilmu hadis, sejarah, dan biografi, ia berpuasa di siang hari, dan shalat di malam hari… ia menangis dan berkata dengan ucapan yang tidak aku pahami, tapi aku tidak menganggapnya sebagai orang kafir

Pendapat Ibn Suraij ini mampu membantah pendapat Bin Dawud. Untuk sementara, al-Hallaj selamat dari eksekusi. Setelah Ibn Suraij wafat, maka pembela al-Hallaj dari kalangan ulama fiqh yang berpengaruh sudah tidak ada. Kekacauan ekonomi dalam pemerintahan Abbasi menyebabkan krisis politik yang berujung bongkar-pasang kabinet menteri.

Seorang menteri penjilat dan penarik upeti yang kejam diberi wewenang yang besar dalam keputusan politik. Ia bernama Hamid bin al-Abbas. Eksekusi yang gagal terhadap al-Hallaj dirancang kembali.

Hamid menyusun makar untuk menggelar sebuah pengadilan agama untuk ajaran al-Hallaj yang dipimpinnya sendiri. Seorang ulama madzhab Hanbali bernama Ibn Atha’ yang simpati pada al-Hallaj dipukuli sampai sekarat, setelah itu dipulangkan ke rumahnya dan meninggal.

Hamid dibantu Abu Umar bin al-Hamadi ulama fiqh dari Madzhab Maliki yang diketahui memiliki ambisi untuk menduduki posisi hakim-agung (qadli al-qudlat). Seorang ulama dari madzbab Hanafi Ibn Bahlul yang tampak enggan mengikuti persidangan diganti dengan hakim Hanafi lain yang mau bekerjasama. Sedangkan ulama dari kalangan madzhab Syafii dan Hanbali memboikot persidangan ini.

Mudah ditebak, akhirnya jatuh vonis hukuman mati untuk al-Hallaj, tanggal 25 Dzul Qa’dah 309/26 Maret 922. Vonis dari sebuah pengadilan yang penuh rekayasa berasal dari aliansi kotor penguasa yang pengecut dan korup serta ulama yang jahat.

Di kayu salib, al-Hallaj berseru: O Tuhan, lihatlah hamba-hamba-Mu berkumpul menginginkan kematianku, karena ingin membela agama-Mu dan dekat dengan-Mu. Ampuni mereka. Karena apabila engkau menyingkap (Kebenaran) pada mereka seperti yang Kau singkap untukku, mereka takkan melakukan tindakan ini, dan apabila Engkau menutupiku (atas Kebenaran) seperti yang Kau tutupi pada mereka, maka, aku tidak akan diberi cobaan seperti yang aku alami sekarang.

Dalam proses penyiksaan al-Hallaj mengadu O Tuhanku, Engkau mengasihi orang yang menyakitimu, bagaimana Engkau tidak mau mengasihi orang yang disakiti karena-Mu?

Kutipan-kutipan tadi hanya keluar dari orang yang benar-benar merasa dekat, intim, dan menyatu pada Tuhannya.

Sumber : BeritaSatu.Com

Single Post Navigation

83 thoughts on “Tragedi Penyaliban Al-Halaj

Comment navigation

  1. laksa Satriya on said:

    Untuk Saudara2 FB di Sufi Muda apabila ada kalimat atau redaksi yang kurang berkenan dan kurang santun ,saya mohon Maaf dan kita jalin ukhuwah dan kasih sayang untuk kemenangan yang hakiki, selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan Bathin.

    • Ruslianto on said:

      Nah,..itu baru yang namanya “bersudara”,… kesantunan berbicara itu dapat menyejukkan telinga bathin dan meresap dalam jiwa.
      Selamat idul fitri 1433H khusus buat Yth. Laksa S
      Wass.

    • Lareangon on said:

      mantep kangmas…bergetar hati ini menatap kata-demi kata yg kangmas gambarkan..
      terus berkarya kangmas…smg Tuhan slalu memberkati _/\_

  2. ku berkata diri sufi
    ku aku hati dah suci
    napa masih ada benci
    napa masih iri…

    hidup abadi
    mati suri
    mati dikafani
    mati ditimbuni
    napa dipikiri

    mati dijalan berlumpur
    mati dikamar tidur
    mati dikasur impor
    mati di hospital tenar
    mana yang soor

    mati diterjang pelor
    mati dalam tidur
    mati terbakar
    mati ya mati brur
    napa gembor gembor

    ku kata diri sufi
    ilmu dah mumpuni
    Hllaj n Jenar mati
    mau mati dikuliti
    mau mati dicubiti
    mau mau diciumi
    mau mati dikeloni bidadari
    ITULAH KETENTUAN DIRI

    sufi benaran
    makhrifat beneran
    hakikat beneran
    iklas beneran
    HARAM PROTES KEBENARAN

    dia yang menghidupkan
    dia yang mematikan
    dia yang pilih cara kematian
    dia yg tentukan tempat kematian
    dia yang skenariokan
    dia yang tetapkan
    dia juga yang lakukan
    napa dipolemikkan

    mana diri sufi yg di’fanakan’
    mana sufi yg di’baqakan’
    mana sufi yg di’kasyafkan’
    napa masih ada penolakan
    napa ada ketakpuasan

    Hallaj telah ditetapkan
    Jenar telah ketentuan
    jadikan saja pelajaran
    jaga diri jaga kalam
    jaga hati dalam maqam

    Hati geram kerna ketentuan
    akal kalut dalam ketetapan
    nyata diri masih insan
    insan lemah dalam iman

    bila ada kebenaran
    hallaj tebus kelalain
    jenar bayar kesilapan

    bila itu kesalahan
    napa jadi ketetapan

    dia sumber kebenaran
    dia kebenaran
    dia yang membenarkan

    setiap yg dia kerjakan
    dia jadikan kebenaran
    setiap yg dia putuskan
    dia jadikan kebenaran
    setiap yang dia nyatakan
    dia jadikan kebenaran
    kematian Hallajpun
    dia jadikan kebenaran
    kesudahan Jenarpun
    dia jadikan kebenaran
    SANG SUFI PASTI MAFUM

  3. Gombal rusuH on said:

    Dunia seperti meja catur,
    maklhuk TUHAN seperti bidak catur.
    terserah TUHAN mau bermain menyerang atau bertahan,
    tidak ada yang perlu dikuatirkan….
    kebaikan berawal dari keburukan,
    kepandaian berawal dari kebodohan,
    tidak ada kematian jika tidak ada kehidupan,
    tidak ada gelap jika tidak ada terang,
    tidak ada yang perlu dipermasalahkan,
    semuanya hanya karena sudut pandang…
    PISS…

  4. al-ghazali on said:

    setelas al-halaj di bunuh telah berlaku bala dari tuhan atau banji atau bah besar di sungai tigris, itulah kata al-halaj kepada ku

  5. Aku adalah Aku…
    Dia adalah Dia…
    Aku hanya Manusia biasa…
    Dan dia (ALLAH) Adalah Sang Maha Pencipta…
    Aku tercipta dari air hina setetes Mani…
    Dan dia adalah Dzat yang Maha Tinggi…
    Bagaimana mungkin Aku dapat menyatu dengan-Nya…
    Apalagi untuk Berkata Aku adalah kebenaran yg tertinggi…
    Dia tidak bisa dicapai dah dilihat oleh Mata…
    Rasulullah Sendiri tidak pernah Melihat Allah swt.
    Bagaimana mungkin seorang sufi bisa melihat Allah setiap Hari??
    Apakah derajat Sufi lebih tinggi dari Rasulullah Muhammad SAW???

    • tobirama on said:

      Sufi Modern say “Bagaimana mungkin seorang sufi bisa melihat Allah setiap Hari??

      begini mas brow, Tidak semua Sufi bisa melihat-Nya (yg belum dibukakan mata hatinya).

      Ketahuilah… melihat tidak harus dan melulu dengan mata, mata adalah salah satu indra untuk mendeteksi dan mengenali objek.

      Tahukah anda jika kelelawar melihat dengan kupingnya, kalau ga tau coba tanya ma mbahmu (Google)? orang buta melihat dengan kuping dan indra perabanya.

      “Banyak yang punya mata tapi pada hakekatnya Buta”

      Barangsiapa Yang Buta (Hatinya) di Dunia Ini, Niscaya di Akhirat (Nanti) Ia Akan Lebih Buta (Pula) dan Lebih Tersesat dari Jalan (Yang Benar) (QS al-Isra’ [17]: 72)

      nick anda “Sufi Modern” emang selama ini yang anda lihat itu apa saja???

      Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. [Ali ‘Imran/3:190-191].

      mohon maaf… Mata anda (yang fisik memang tidak buta) tapi melalui komentar anda di post ini sy nyatakan bhw mata hati anda yang msh buta, jadi obatnya, anda harus berthariqat, klu anda sudah berthariqat mengingat nick anda pky nama “Sufi Modern” sy sarankan anda coba thariqat yang lain krn mata (hati) anda blom sembuh2 (ga bisa lihat), carilah Guru Pembimbing yang Expert dan haq (kamil mukamil), semoga nanti dengan syafaatnnya (guru yang kamil mukamil), Tuhan berkenan membukakan mata (hati) anda, ini nasihat yang baik lho, itu jika anda mau mengikuti nasihat ini, klu ga mau ya sudah, up to you.

      mengenai “Rasulullah Sendiri tidak pernah Melihat Allah swt.”

      Sewaktu nabi Muhammad Isra’ mi’raj beliau bertemu Tuhan langsung, disinilah bedanya Nabi kita Muhammad dengan Musa, Nabi Muhammad lebih TAU DIRI beliau langsung sujud dihadapan Allah. kenapa?, klu bahasa kite2 “masa kurang/blom yakin itu Tuhan?, beda dengan Nabi Musa yg ngotot pingin liat Tuhan (padahal sudah diajak bicara ma Tuhan), maklum lah musa kan orang berdarah Yahudi dan anda tau sendirilah gimana sifat2 kaum yahudi itu, sampe2 Nabinya juga begitu.

      klu ada kata yng kurang berkenan sy mohon maaf n dimaafkan, wassalam

  6. “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhirat maka berkatalah yang baik, atau (jika tidak), diamlah “. (HR. Bukhori dan Muslim)

    Rasulullah SAW bersabda (yang artinya):”Semoga Allah merahmati seseorang yang berbicara kebaikan maka dia beruntung, atau diam dari kejelekan maka dia selamat

    “.Dan banyak riwayat yang sampai kepada kita tentang bahaya lidah ini, diantaranya, hadits Rasulullah saw (yang artinya):
    “Dan tidakkah nanti seseorang akan diseret ke neraka dengan wajah-wajah mereka (di tanah), terkecuali itu karena ulah lidah-lidah mereka”. (HR. At Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim).

    menurutku al-hallaj belum sampai maqam kamil mukamil dan Ulama/guru pembimbing macam itu tidak bisa dijadikan Guru Pembimbing (mursyid) kehadirat Allah, ilmunya masih untuk dirinya, dan belum bisa menyelamatkan yang lain
    (Al-hallaj tidak bisa menjaga lidahnya, walau nenek guru Al-Junaid sudah memperingatkannya).

    Al-hallaj yang sudah sehebat itu saja (karomah) tidak layak jadi guru pembimbing (mursyid) apalagi mau ke Tuhan sendirian.

    kata Cak Lontong “MIKIRRRRRRRR…..”

    Marilah ber thariqat…
    jangan cuma menghayal (masuk syurga),
    dan bernyanyi doang (baca mushaf qur’an ga tau artinya, uda tau ga
    diamalkan pula, al-kahfi;17 kita disuruh cari guru pembimbing yg mursyid).

Comment navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: