Sahabat Nabi

Perlombaan antara Umar dan Abu Bakar

Bismillahir rahmanir rahiem

"Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka ber-lomba2-lah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allahlah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan." (QS 5:48)

Umar bin Khaththab (ra) meriwayatkan, "Suatu ketika [1] Rasulullah (saw) memerintahkan kami untuk bersedekah."

"Waktu itu aku memiliki sedikit harta kekayaan. Akupun merenung, betapa hingga saat itu Abu Bakar (ra) selalu membelanjakan hartanya lebih daripada yang aku belanjakan di jalan Allah. Lalu aku berharap dengan karunia Allah, semoga kali ini aku dapat membelanjakan hartaku lebih daripadanya, karena saat itu aku mempunyai harta yang cukup untuk aku belanjakan. Aku pulang ke rumah dengan perasaan gembira sambil membayangkan buah pikiran tadi. Selanjutnya, segala yang ada di rumah aku ambil setengahnya."

Melihat betapa banyaknya harta yang diberikan Umar ((ra) maka, Rasulullah (saw) bertanya, "Apa ada yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, ya Umar?"

Jawab Umar (ra), "Ya, ada yang aku tinggalkan buat mereka, ya Rasululllah."

Rasulullah (saw) bertanya lagi, "Berapa banyak yang telah kamu tinggalkan?"

Jawab Umar (ra), "Aku telah tinggalkan setengahnya."

Tidak berapa lama kemudian, Abu Bakar (ra) datang dengan membawa harta bendanya.
Umar (ra) berkata, "Aku mengetahui kemudian bahwa dia telah membawa seluruh miliknya sebagaimana yang aku dengar dari pembicaraannya dengan Rasulullah."
Rasulullah (saw) bertanya, "Apakah yang kamu tinggalkan untuk keluargamu, ya Abu Bakar?"

Jawab Abu Bakar (ra), "Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan rasul-Nya."
Lalu Umar (ra) berkata, "
Sejak saat itu aku mengetahui bahwa se-kali2 aku tidak dapat melebihi Abu Bakar." Subhanallah.

 

Sumber : imanyakin.modblog.com

94 Comments

  • padimuda

    Benar-benar kecintaan para sahabat terhadap Allah dan RasulNya melebihi dari cinta pada diri sendiri atau keluarganya. Para sahabat menyadari bahwa Rasulullah SAW sebagai Nabi sekaligus Guru dan pemimpin mereka akan menyelamatkan segala urusan kehidupan baik di dunia maupun akhirat. Dengan menyerahkan segalanya kepada Rasulullah SAW (Guru para sahabat) sama seperti menyerahkan kehidupan mereka kepada Allah SWT, Sang Pemilik Kehidupan, Yang Maha Hidup. Tidak ada kekhawatiran ataupun keraguan terbesit dalam benak Para Sahabat, sebab kalau mereka ragu kepada Allah, maka Allah pun ragu pada mereka.

    Nice story bang sufimuda. Thanks for brighting my holiday 🙂

  • sufi baru

    CERITA YANG SANGAT MENYENTUH HATI..
    SEMOGA BISA MENAMBAH IMAN DAN MEMPERKUAT UBUDIYAH KITA KEPADA-NYA..

    MAJU TERUS ABANG DA SUFIMUDA…

  • avatar

    …………sungguh menyentuh kisah-kisah yang di suguhkan……….!!!!!!!!!!!!! smoga langkah abang sufi muda layaknya sang Abu Bakar amien…. 🙂

  • logic

    teah terbit buku :
    “Cara mandi Rasullullah” dan “Cara bercanda Rasulullah”….
    Segera beli untuk menambah kecintaan anda terhadap rasul…..

  • seliparmalaysia

    mau jadi umar atau abu bakar??? mana satu lagi bagus ya…?

    Dua2 pun bagus, yang penting dapat redha-NYA… disamping sikap terpuji abu bakar, sikap umar juga tidak dapat ditolak memandangkan beliau iri hati dengan cara positif.Bukan dengan cara negatif !

    Wajib dicontohi !

  • sufimuda

    Semoga Tuhan melimpahkan ke dalam hati kita rasa Ikhlas sehingga mampu untuk mengikuti jejak Abu Bakar dalam mengabdikan diri kepada Rasulullah dan kejayaan Islam

  • zal

    ::Sufimuda, Assalamu’alaikum, menurut sufimuda, kira-kira Apa yang membedakan kualitas yang disajikan Abu Bakar dengan Umar, dalam melakukannya…, padahal masalah keberanian Rasulullah pernah memuji Abu Bakar, “bahkan setan akan memilih jalan yang lain, jika harus berpapasan dengan Abubakar”..
    Saya kira kisah diatas lebih kepada qualitas rasa berani melakukannya,…bagaimana menurut sufimuda

  • sufimuda

    @Bang Zal
    Setiap sahabat Nabi sebagai manusia punya kelebihan dan kekurangan, dan kelebihan Nabi Muhammad adalah pandai meramu kelebihan dan kekurangan itu menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat sehingga mampu menjadikan Islam menjadi agama yang jaya di kemudian hari.

    Dari segi Keberanian sebenarnya Abu Bakar dan Umar sama2 sosok pemberani, namun setelah memeluk Islam Keberanian (keras dan tegas) lebih dinampakkan oleh Umar.

    Menurut saya, yang membedakan mereka adalah dari segi Ibadah. Maksudnya Umar cenderung lebih kepada semangat dalam bermujahadah sedangkan Abu Bakar lebih kepada kelembutan dan hubungan mesra dengan Tuhan. Sehingga Nabi mengatakan bahwa Umar adalah “Kemegahan Islam”.
    Sebagai contoh, suatu ketika Umar shalat dengan dan berdoa dengan suara keras dan ketika ditanya kenapa dia melakukan seperti itu, Umar berkata, “Aku ingin mengusir rasa kantuk”.
    Ketika Abu Bakar shalat dan berdo’a dengan suara pelan dan orang bertanya kenapa dia berbuat demikian, Abu Bakar menjawab, “Ya Ku ajak berbicara adalah Maha Mendengar”

    Sahabat Nabi yang lain seperti Ali karena saat itu usia Beliau lebih muda cenderung mewarisi amalan-amalan yang bersifat keras, dan ini bisa kita amati dari amalan2 tarekat yang jalur silsilahnya melalui Ali.
    Amalan tarekat Naqsyabandi yang turun dari Abu Bakar cenderung lebih banyak kepada Zikir kafi (zikir tidak terdengar) dari pada zikir zahar.

    Kisah di atas, menurut saya lebih kepada keikhlasan, karena walaubagaimanapun punya keberanian tanpa keikhlasan belum tentu mau mengorbankan seluruh harta untuk Nabi 🙂

    Demikian bang Zal jawaban saya, kalau kurang tolonglah abang tambahkan biar jadi mantap 😀

  • zal

    ::agaknya, sudah memasuki gerbang khalifatullah nich…sufimuda..Insya Allah ya..
    pada tiap-tiap orang pasti ada tanda pengenal, yang tidak dapat dipalsukan bukan begitu sufimuda…?
    salah satu pengenal, bagi yang fisiknya sudah tiada, adalah perkataannya yang dicatat..
    ::Abubakar pada saat dikatakan kepadanya tentang Muhammad sudah gila, dia mengatakan kalau melakukan isyra’ mi’raj, lalu Abubakar berkata, dia berkata demikian…??? aku percaya…, bisakah seseorang yang tidak pernah mengalami hal yang sama mempercayai sesuatu yang pasti sangat musykil saat itu…apakah sufimuda mau mempercayai sesuatu tentang ‘man arofa nafsuhu…”

    :Umar, sewaktu akan mencium azarul aswad bertanya kepada Ali, tentang mengapa harus dicium, .. lalu Umar mencium dan berkata “kalau Rasulullah engga menciummu, akupun tak sudi menciummu…

    Masalah mengenal, dan tingkat yang dikenal itulah perbedaan tentang keberanian…
    Abu Bakar mengenal Al-Razzaq, umar sepertinya belum…lalu dimana takutnya Abu Bakar jika dia memberikan keseluruhan…jika kerja Al-Razzaq jelas dalam pandangannya…

    ini pula yang mengistimewakan Abu Bakar, sehingga Rasulullah berkata :”seandainya ada yang Allah izinkan bagiku seorang sahabat, maka Abu Bakar yang aku ambil sebagai sahabat, bukan lantaran banyak shalatnya atau banyak puasanya, namun sesuatu yang dibalik dadanya itu” hadist ini saya temukan di tafsir Ilmu katsir buku I…:

  • sufimuda

    Ya, Iman Abu Bakar demikian sempurnanya, sehingga Rasulullah SAW`seumur hidupnya hanya mempercayakan Abu Bakar menjadi Imam…
    Apa yang diucapkan oleh Nabi semua dibenarkan oleh dia, kenapa? karena dia pun sampai disana…. 🙂

    Ucapan Nabi, “Tidak ada yang tersisa dalam dadaku ini kecuali aku tumpahkan ke dada Abu Bakar” bukan sekedar ucapan akan tetapi itu merupakan bukti bahwa misi Kerasulan dari Muhammad selanjutnya di emban oleh Abu Bakar…
    Dan Tuhan telah menentukan bahwa Abu Bakar yang meneruskan Silsilah Kerohanian yang kemudian diteruskan lagi oleh sahabat nabi Salman al-Farisi dan sampai sekarang ini. Tentu saja hubungan dengan Tuhan tidak ditentukan oleh keturunan. Kalau Bapaknya seorang Imam dan alim belum tentu anaknya langsung bisa jadi Imam dan alim, bukan begitu bang zal?

    “man arofa nafsuhu…, barang siapa yang mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya…
    Ya, Tuhan itu adalah dalam diri, tentu saja bukan serta merta langsung ada dalam diri akan tetapi melalui proses. Harus dititipkan terlebih dulu Nur itu kedalam dada. Sebagaimana Rasulullah menitipkan Nur tersebut kepada Abu Bakar dan sahabat yang lain.

    Surat Al-Ikhlas menggambarkan Tuhan itu ahad, dan…
    “Tidak Seorangpun menyerupai-Nya”
    Kata tidak seorangpun menyerupainya ini sangat menarik untuk dikaji, apakah Tuhan sangat dekat dengan orang/Manusia? atau mirip atau seperti ucapan nabi bahwa Tuhan itu ada dalam Qalbu. Bagaimana menurut Bang Zal tentang hal ini?

  • zal

    ::tidak seorangpun atau apapun yang menyerupaiNYA, namun apakah salah jika DIA berkehendak menyerupai apapun…., bukankah DIA Maha Pembentuk Rupa…., dekat..apakah harus selalu persamakan dengan jarak…???

  • sufi baru

    wah udah tinggi juga neh maqomnya bang zal…..

    saat nya kebangkitan dunia tasauf kepermukaan …
    marilah kita para sufi bersama2 berjihad di jalanNya …

    “sebaik baik berniaga adalah berniagalah dengan ALLAH”
    marilah kita terus berjuang dan berdakwah untuk mengangkat kembali kejayaan islam mulia raya ini lewat jalur tareqatullah ini…

    teruslah berjuang saudaraku…..

  • sufi baru

    saya jadi teringat cerita “sang GURU”…ttg SETAN

    Setan itu lulusan UNIVERSITAS LANGIT umurnya ribuan tahun…bisa keluar masuk sorga…Adam pun digoda nya waktu di dalam sorga,bukan di pasar malam itu…
    dia bisa meniru apa saja..dan bisa masuk ke mana saja..masuk ke gunung jadi gunung dia..masuk ke batu jadi batu,,masuk ke kayu jadi kayu..masuk ke kerbau jadi kerbau,,masuk ke kambing jadi kambing..
    masuk ke manusia jadi manusia dia….
    seluruh wajah bisa di tiru oleh setan.kecuali wajah nabi dan wali2Nya..

    setan saja sebagai makhluk punya kemampuan seperti itu…

    apalagi ALLAH sang maha pencipta..Dia pun bisa berkehendak sesukanya…..

    allah maha berkehendak terhadap segala sesuatu…dan allah maha kuasa atas segala2nya..termasuk dia mau menyerupai apapun atau siapapun..itulah kehendak Allah sendiri..dan kita sebagai makhluknya tak ada hak sedikitpun untuk memprotesnya ..benar begitu abangda sufi muda…

  • sufi gila

    salam cinta dan damai saudaraku

    sekedar tambahan semoga jadi bahan perenungan … kata seorang Guru pada murid2nya, ” Si Polan itu bukan aku lagi yg diundangnya tetapi sudah Nurun ala nurin itu sendiri.”

    berarti tahap tertinggi dari pengenalan terhadap Allah bukan lagi wajah tapi hakikat dzat Allah sendiri …. Dia yg tidak bersuara dan tidak berhuruf dan tidak berbentuk bagaikan bertemu dengan lautan air sebagai sumber air bagaikan bertemu dengan matahari sebagai sumber cahaya ….

    dalam diam … diam …. diam …. tiada lagi wajah …. tiada lagi khayali …. tiada lagi persangkaan …. tiada lagi perumpamaan …. walau semua berawal dari sebuah pintu yaitu kuhadapkan wajahku pada wajahMu …. Sungguh Muhammad Rasulullah beserta para ahli silsilah adalah pintu menuju hadirat Allah

    mohon koreksi kalau salah

  • Asese

    Subhanallah….. Pasti Guru….Eh… Allah….Eh…..Oh… Tersenyum mendengar ucapan abang2 sufi semua… Salut..Salut…

  • Ahmad Ramadhan

    @sufi baru
    …hey.. kok redaksi ceritanya kayak yg kenal ya?

    “saya jadi teringat cerita “sang GURU”…ttg SETAN

    Setan itu lulusan UNIVERSITAS LANGIT umurnya ribuan tahun…bisa keluar masuk sorga…Adam pun digoda nya waktu di dalam sorga,bukan di pasar malam itu…”

    tapi kalo liat tanggal postingnya, sama dengan waktu ‘pengajian’ ane..
    mungkin dapet ceritanya di tempat yang lain ya (bukan di tempat yg sama…)
    salam kenal aja deh ya..
    wass

  • Enang.tangerang

    Assalamu ‘alaikum… Saudaraku sufi muda,kearifan anda dalam memunculkan tauladan sangat membuat saya tercengang. Diantara sahabat-sahabat rasulullah yang tabi’in adakah diantara mereka yang hidup bergelimang harta kemewahan setelah nabi wafat. Saya akan sebut beberapa tabi’in yang dimaksud antara lain, amirul mukminin Ali bin abi tholib ka, beliau adalah orang yang paling miskin diantara para sahabat bahkan beliau menjadi seorang petani korma. Jika anda suka dengan kisah perjuangan nabi maka anda akan mendapati ali sebagai seorang yang tidak pernah lepas dari nabi. Peperangan selalu di tentukan oleh pedang ali. Dimanakah abu bakar dan umar? Pada perang khandak umar dan abu bakar adalah sahabat yang pertama kali kabur dari peperangan. Dan nabi pada waktu itu hampir tewas karena di kepung oleh pasukan quraisy,sedang yang menjadi tameng nabi hanya lah ali dan pamannya yang kemudian tewas. Kemudian anda tau ali tewas di penggal oleh kaum muslimin saat ia menjadi khalifah. Kemudian abu dzar adalah sahabat yang nabi sendiri pernah bersabda andai kalian tau orang yang kejujurannya tidak akan pernah mampu di tampung bumi adalah abu dzar,ia tewas di penggal oleh kaum muslimin. Dan apakah anda lupa putri nabi fatimah azzahra ra, yang menderita sampai ia meninggal karena seorang abu bakar dan umar telah merampas hak nya atas warisan nabi yaitu sebuah kebun di madinah dan juga merampas hak khilafah suaminya yaitu ali ra. Sedangkan abu bakar dan umar adalah pahlawan yang pedangnya tidak pernah menebas seorang musuh pun dalam peperangan. Terlebih lagi umar saat ia menjadi khalifah,ia banyak mengkorup baitul mal sehingga orang yang berhak terabaikan. Mungkin banyak lagi,andai saya ungkap disini tak mungkin cukup,lebih baik saya merekomendasikan anda untuk membaca buku yang berjudul akhirnya ku temukan kebenaran karya Attijani. Semoga Allah melindungi kita semua dari kebohongan yang sudah menyelimuti umat islam berabad-abad. Wassalam.

  • SufiMuda

    Kang Enang
    Kalau kita menguraikan kesalahan dan kekeliruan para sahabat juga tidak sedikit, sayang nya dalam tradisi agama kita Islam, selalu dianjurkan kita untuk menulis dan menceritakan hal-hal baik. Kalau dalam Al Kitab diceritakan Para Nabi apa adanya, ada Nabi yang berzina dan sebagainya, maka dalam tradisi Islam, Al Qur’an menceritrakan dari pandangan yang positif.

    Rasulullah SAW` menganjurkan kita untuk tidak membuka aib saudara kita sendiri baik masih hidup maupun sesudah meninggal apa lagi iab dari para sahabat Nabi.

    Saya tidak melakukan pembelaan atas apa yang anda sampaikan dengan cara mengangkat dalil-dalil atau menunjukkan kesalahan2 dari sahabat lain misalkan Imam Ali kerena ini justru akan menciptakan suasana yang kurang bagus.

    Saya sebagai pengamal Tasawuf, dianjurkan selalu melihat para sahabat nabi yang mulia dari sisi yang baik, meskipun saya sering membaca literatur luar tentang kebobrokan Islam tapi tidak mengurangi kekaguman saya terhadap Islam

    Salam

  • AutoSufi

    @sufimuda

    Jawaban anda buat kang Enang sangat mulia, tidak semua orang bisa memberikan jawaban/ respon yang demikian arif. Tidak terpancing dengan ajakan untuk menjelekkan sahabat Rasul, yang pasti lebih mulia dari kita.
    Beginilah sikap pengamal tasawuf yang mulia..

    Salam

  • Enang.tangerang

    @sufi muda @auto sufi.
    Terima kasih atas tanggapannya,kehadiran saya di sini tidak lain hanyalah seorang tamu,karena silahturahmi dalam islam adalah sebuah ibadah. Tanggapan anda sangat membuat saya simpatik sehingga saya ingin berlama lama di tempat anda. Aib adalah milik manusia tidak terkecuali sahabat,dan juga kita. Tapi sungguh dalam hati saya tidak terbesit untuk melakukan apa yang anda utarakan, dalam opini saya yang lalu terdapat baris kalimat yang berbunyi kebohongan sudah menyelimuti umat islam berabad abad. Bukti dari hal itu adalah terpecahnya umat islam dalam beberapa golongan,terlebih lagi nabi menegaskan dalam sabdanya umat ku akan terpecah menjadi 73 golongan. Dalam hal ini nabi bukan menganjurkan untuk kita membuat golongan golongan melainkan untuk berhati hati agar tidak terjebak dalam golongan yang menipu karena nabi meneruskan sabdanya yaitu hanya satu yang selamat. Ungkapan saya dalam opini terdahulu bukan untuk menyudutkan sahabat,melainkan ingin membuka wacana yang menyebabkan kita terpecah, karena sepanjang sejarah kita sudah di bodohi oleh kaum penguasa. Yang membuat sejarah untuk kepentingan kekuasaannya. Anda semua adalah ahli hikmah kiranya sudilah anda kembali membuka lembaran lembaran buku sejarah dari berbagai pandangan. Karena Allah SWT berfirman dalam s al Alaq ayat 1 yaitu bacalah dengan nama tuhanmu. Terima kasih wassalam.

  • SufiMuda

    @Enang
    Kang Enang
    Sebagai orang yang hidup di zaman modern ini, setiap kita didik untuk bersikap kritis terhadap segala hal termasuk masalah agama.
    Saya bukanlah orang yang dengan serta merta menerima cacat sejarah dari Agama kita, menganggap semuanya suci seperti golongan kaum Islamis lainnya.
    Karena dalam keseharian saya lebih suka membaca sejarah Islam apa adanya yang di karang secara Ilmiah oleh pengarang Barat daripada sejarah yang ditulis dengan “bumbu-bumbu” yang tidak perlu oleh pengarang timur tengah.

    Buku “HISTORY OF THE ARABS; From the Earliest Time to The Present” karya Philip K. Hitti yang menjadi bacaan wajib pasca sarjana IAIN terutama jurusan Pemikiran Islam, menceritakan sejarah Islam apa adanya dan sangat menarik untuk di baca.
    Atau kalau kita baca buku Sejarah Nabi Muhammad karya Karen Amstrong misalnya, disana kita akan menemukan cerita lain dibalik sejarah Islam yang berbeda dengan yang kita pelajari di bangku sekolah atau di pasantren. Bahkan kalau kita baca buku “The Great Transformation” karya Karen A atau “History of God” malah bisa menghilangkan “rasa” beragama kita.

    Kalau kita membaca literatur barat pasti banyak hal yang kita pertanyakan seperti apakah benar Perang Badar itu perang agama, peristiwa pergantian khalifah dan berdirinya dinasti dan banyak sekali kejadian2 penting yang luput dari perhatian sejarawan Islam.

    Dari Kalangan Muslim sendiri banyak karangan2 yang berani mengkritik dengan terang-terangan ajaran Islam. Dalam buku “Beriman tanpa rasa takut” karya Irshad Manji seorang penganut Islam Liberal banyak hal2 tabu dengan sangat berani di ungkapkan membuat orang terkejut. Nasr Hamed Abu Zeid seorang Profesor Universitas Kairo Mesir pernah menulis sebuah buku yang beragumen bahwa makna2 teks suci bisa menjadi “lebih manusiawi” bahkan ketika ayat2nya tidak berubah. Pemikiran kritis dia menuai masalah karena Ulama mesir menyatakan dia murtad bahkan kafir akhirnya dia hijrah ke Belanda.

    Ada pengalaman menarik, ketika saya meminta surat rekomendasi kepada seorang Profesor sebagai syarat untuk bisa kuliah di pasca sarjana IAIN jurusan Pemikiran Islam, Nasehat pertama yang di ajukan profesor kepada saya adalah, “Sebaiknya anda pertimbangkan lagi niat anda untuk mengambil jurusan ini, lebih baik anda mengambil jurusan lain saja, karena kuliah di sini akan bisa membuat akidah anda hilang kalau anda tidak punya dasar berfikir bebas, apalagi anda seorang pengamal Tarekat Naqsyabandi yang semua aturan disana sudah baku dan tidak boleh dikritik sama sekali”.
    Saya jawab, “Prof, sebelum saya kemari, telah saya perhitungkan itu semua, kalau hari ini profesor mengatakan Tuhan itu tidak ada pun saya tidak terkejut lagi”
    Setelah lama berdiskusi dan saya ceritakan pemikiran2 saya tentang Islam dari sudut pandang lain, barulah profesor itu memberikan saya surat rekomendasi dan dia mengatakan “Baru pertama kali ini saya menemukan pengamal Tarekat yang punya pemikiran bebas seperti anda” 

    Namun demikian Kang Enang, karena Sufi Muda lebih mengkhususkan membahas tentang Tasawuf maka apabila kita membahas tentang kekhilafan para sahabat di sini secara terbuka saya kawatirkan akan mengajak perdebatan panjang dua aliran besar yaitu Syiah dan Sunni.

    Oleh kerena itu, saya sangat senang kalau Kang Enang berkenan berdiskusi dengan saya lewat email : sufimuda@gmail.com, dan mari kita bahas hal2 sensitif ini secara pribadi, bukankah itu lebih menyenangkan? 🙂

    Makasih Kang atas kunjungan dan komentarnya di Sufi Muda, di tunggu komentar di tulisan2 yang lain.

    Wasalam

  • Zulkad

    Salam kenal bang Sufi Muda, bolehkan saya berkunjung kesini sekedar melepas lelah dan dahaga, (soalnya disini tempatnya sejuk, banyak makanan dan minumanya lagi). Wah banyak sekali makanan yang Abang hidangkan, saya jadi bingung mana dulu yang mesti saya santap. -eee iya lupa, bolehkan saya cicipi-.OW rupanya Abang tak mau kalah, ikut berlomba juga ya . Salam kenal juga pada semuanya yang ada di cafe ini . Salam .

  • SufiMuda

    @Zulkad
    Slamad datang di Sufi Muda 🙂

    @zal
    Yang bertanya lebih mengetahui dari yang ditanya,
    Wah suka bicara mistik lewat angka nich 🙂
    orang pada umur 73 berarti memasuki masa cobaan sama dengan umur 37.
    Angka 1 simbol dari Tuhan sedangkan angka 0 simbol dari ketiadaan.
    Jika kita mengalami cobaan, tidak ada tempat yang membuat kita selamat kecuali kembali kepada SATU.

  • Sandi

    Salam kenal Sufimuda

    Menarik sekali tanggapan anda untuk kang Enang dengan mengatakan bahwa anda lebih tertarik kepada karangan ilmiah pemikir barat. Yang jadi pertanyaan adalah apakah pemikir barat tsb seorang muslim dan mukmin?

    Dan ternyata anda juga adalah pengamal tarekat yg punya pemikiran bebas. Sampai sejauh manakah kebebasan pemikiran anda bila dilihat dari sudut pandang Al Qur’an dan Hadis. Juga sang Profesor IAIN tsb. Mohon penjelasannya.

    @Enang tangerang

    Salam kenal. Dari komentar2 anda dan yang menjadi pertanyaan saya adalah

    1. sabda Nabi SAW “umat ku akan terpecah menjadi 73 golongan, satu yg selamat” Siapakah yg selamat itu?

    2. kebohongan sudah menyelimuti umat islam berabad abad. Siapakah yg berbohong itu?

    3. sepanjang sejarah kita sudah di bodohi oleh kaum penguasa. Siapakah penguasa itu?

    mohon penjesalannya.

    Salam

  • Sandi

    @Enang tangerang

    Satu lagi pertanyaan saya pada komentar anda di/pada Januari 9th, 2009 pada 4:55 pm

    Dimanakah abu bakar dan umar? Pada perang khandak umar dan abu bakar adalah sahabat yang pertama kali kabur dari peperangan. Dan nabi pada waktu itu hampir tewas karena di kepung oleh pasukan.

    Kenapa seorang pengecut seperti abubakar dan umar menjadi khalifah? dan dalam tarekat ini dijadikan rujukan spt judul tulisan tsb diatas perlombaan antara abubakar dan umar. Apakah periwayatan hadis tsb shahih?

    Salam

  • padimuda

    Kadang2 kalo kelamaan berada didalam rumah, kita sering tidak sadar bahwa halaman rumah kita sudah penuh belukar, dinding rumah sudah kotor, atap sudah banyak yang rusak, dsb. Padahal kalau kita mau keluar rumah sebentar saja, kita akan bisa tau mana2 yang tidak indah dilihat. Mana2 yang membuat orang enggan mampir kerumah kita, mana2 yang bikin sarang nyamuk dan serangga, dsb, dsb.
    Keluar dari rumah sejenak bukan berarti kita tdk menjadi penghuni rumah itu lagi. Bukan berarti kita mau mencari rumah yang lain. Bukan pula berarti kita mau membongkar rumah dengan pondasi yang baru. Tapi berusaha untuk membantu memperbaiki/memperindah pemandangan rumah jika dilihat dari luar.
    Repotnya, kadang2 penghuni rumah sudah merasa nyaman dan aman dalam rumah, dan merasa kalau rumahnya tentulah indah dilihat dari luar. Kalau ada tetangga bilang: halamannya berantakan pak! atapnya sudah bolong tuh! pagarnya kok reot sih? jawaban kita selalu: “tidak mungkin,, Cuma rumah saya yang paling indah di daerah sini. ”
    Lantas konsultasilah dia dengan ayah/ibu/adik/kakak/pembantu/ dll yang memang tinggal dirumah yang sama. “tetangga kita bilang rumah kita sudah tidak bagus dilihat dari luar, dasar tetangga yang sirik dan jail.” dijawab pula : “iya tuh. Apa mereka pada ga tau sejarah kali ya? Dulu kan rumah kita diakui sebagai rumah yang paling indah, paling bagus, paling kokoh, serba paling lah! Emang mereka siapa seenaknya kasih komentar tentang rumah kita?”

    Yah.. semacam itulah…

  • Sandi

    Mungkin maksud kang Enang untuk memperbaiki rumah yg ruksak dari dalam maupun dari luar. biar rumah tsb kembali menjadi paling indah, paling bagus, paling kokoh, serba paling pokoknya. Di dalam maupun diluar. Yah begitulah…

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Sufi Muda

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca