Sufi Muda

Menemukan Tuhan Dalam Keseharian

Energi Al-Qur’an

Oleh : Maulana Ahmad Robi Darmawan

 

Membahas tentang sesuatu yang tidaklah kasat mata sebagaimana bahasan tentang energi memang sangatlah rumit. Hal ini dikarenakan sebagian besar umat manusia selalu ingin melihat pembuktian melalui panca inderanya. Sementara kita memahami bahwa panca indera kita memiliki keterbatasan yang pastilah tidak akan mampu untuk mendeteksi keberadaan sesuatu yang di luar ambang batas toleransi panca indera kita.

Sebagai contoh kita tidak akan mampu mendeteksi atau menerima pancaran frekwensi televisi atau radio hanya dengan panca indera kita. Maka pastilah dibutuhkan suatu mekanisme tertentu yang kemudian diwujudkan dalam piranti peralatan sehingga mata ataupun telinga kita mampu menerima pesan-pesan yang ada dalam frekwensi televisi atau radio tersebut.

“Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, tetapi mereka berpaling daripadanya (tidak mau memikirkannya)” … (QS Yusuf 12 :105).

Maka demikian juga dengan Al-Qur’an yang sebenarnya bukan hanya yang termaktub di dalam kitab yang dibukukan saja. Tetapi kalau kita melihatnya dengan kacamata ilmu pengetahuan maka sebenarnya Al-Qur’an dari awal dunia berkembang sampai akhir dunia nantinya tetap menggema di seluruh alam semesta. Yang menjadi permasalahan adalah bagaimanakah caranya supaya kita mampu menerima frekwensi Al-Qur’an yang konon katanya sangatlah dahsyat energinya.

“Dan kami menurunkan dari sebagian Al-Qur’an yaitu sesuatu yang merupakan obat dan rahmat untuk orang-orang mukmin” … (QS Al-Isra’ 17:82).

“Kalau sekiranya dengan Al-Qur’an dapat diperjalankan gunung-gunung (memindah-mindahkan gunung) atau dibelah-belah bumi atau orang mati diajak berbicara/dapat berbicara (niscaya mereka tiada juga mau beriman)” … (QS Ar-Ra’du 13:31).

“Andaikata Al-Qur’an Kami turunkan di atas bukit/gunung, maka engkau akan melihat bahwa gunung itu tunduk dan terbelah karena takut terhadap Allah, dan perumpamaan itu Kami jadikan untuk manusia agar mereka memikirkannya” … (QS Al-Hasyir 59:21).

Dari ayat-ayat di atas jelaslah sudah bahwa begitu dahsyat energi yang dibawa oleh      Al-Qur’an tersebut. Dan diterangkan juga bahwa hanya hati hamba Allah yang tenang, lunak, dan damai saja yang mampu untuk menerimanya. Jadi hanya manusia saja yang diizinkan oleh Allah yang sudah barang tentu dengan dilengkapi piranti-piranti yang telah ditanamkan oleh Allah di dalam manusia tersebut.

Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah mengapa saat ini Islam sudah tidak lagi berenergi apabila Al-Qur’an sebagai senjatanya ? Pasti ada yang salah dalam mengurai Al-Qur’an sehingga pada akhirnya salah dalam tata cara pelaksanaannya. Energi Al-Qur’an saat ini hanya dirasakan oleh segelintir orang yang memang dengan sungguh-sungguh mau merisetnya.

Marilah kita awali dengan memandang Al-Qur’an (kitab) sebagai buku petunjuk untuk menguak rahasia yang lebih luas dari hakikat Al-Qur’an sebagai bentuk energi yang sangat dahsyat.

Perumpamaan :

Buku atau kitab Einstein yaitu KITAB TEORI ATOM. Kitab tersebut mempunyai energi yang dahsyat hingga mampu meluluhlantakkan kota Hiroshima dan Nagasaki dalam perang dunia ke 2. Lalu bagaimana caranya mengeluarkan energi dari KITAB TEORI ATOM tersebut ?

Maka yang harus dilakukan adalah :

  1. Membacanya sebagai awal untuk mengambil informasi yang terdapat dalam kitab tersebut dan menganalisa serta mengambil intisari makna dari kitab tersebut sehingga akhirnya didapatkan rumusan-rumusan dari yang sederhana sampai yang kompleks yang sudah barang tentu harus didampingi oleh ahlinya(tahap ILMUL YAQIN).
  2. Menguji coba rumusan-rumusan tersebut dengan serentetan proses kimiawi sehingga menghasilkan suatu hasil yang dinamakan bom nuklir (tahap AINUL YAQIN).
  3. Meledakkan bom tersebut sehingga mendapatkan pembuktian tentang kedahsyatan energi KITAB TEORI ATOM (tahap HAQQUL YAQIN).

Maka apabila kita memakai model pendekatan yang sama terhadap Al-Qur’an maka pastilah kita akan mencapai apa yang dinamakan tahap HAQQUL YAQIN (bukan katanya tapi kataku). Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 komponen dalam mengurai energi Al-Qur’an yaitu :

  1. Buku panduan yaitu Al-Qur’an (kitab).
  2. Pendamping yang merupakan pakar Al-Qur’an yaitu Ulama Ahli Dzikir (Pembimbing).
  3. Periset yang menyelidiki bahasan tersebut di atas yaitu Murid.

Pertanyaannya kenapa ahli dzikir ?

“Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kamu sekalian tidak mengetahui. Kami utus mereka itu dengan membawa keterangan dan kitab-kitab” … (QS An-Nahl 16:43-44).

Jadi apakah inti permasalahan yang dapat kita cermati dengan contoh di atas adalah bahwa selama ini ada kesalahan dalam memperlakukan Al-Qur’an. Bukan tak ada gunanya membaca bahkan dengan lagu yang indah-indah. Tetapi lebih daripada itu bahwa sebenarnya ada hal yang lebih penting yaitu mengerjakan apa yang diperintahkan dari bacaan tersebut sehingga sampailah kita pada fase akhir yaitu membuktikan sendiri kedahsyatan energi Al-Qur’an. Al-Qur’an berisi perintah-perintah kerja dan petunjuk-petunjuk teknis bagaimana cara berhubungan dengan Allah.

“Wahai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada-Ku dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Ku dan bersungguh-sungguhlah pada jalan itu, maka kamu pasti menang” … (QS Al-Maidah 5:35)

Sehingga benarlah bahwa Al-Qur’an membawa energi yang begitu dahsyat karena ternyata yang akan kita dapatkan adalah kedekatan dengan dzat yang Maha Perkasa Allah SWT yang hasilnya akan membawa kemenangan demi kemenangan di muka bumi. Menurut hemat saya tiada urusan yang lebih penting dibandingkan urusan kedekatan kita dengan Allah, karena hanya dengan mendekat kepada Allah adalah kunci keselamatan dunia dan akhirat kita. Tiada kamus kalah bagi Allah dan para hamba-Nya.

Selanjutnya marilah kita kupas bersama bahasan tentang bagaimana petunjuk-petunjuk teknis yang terdapat dalam Al-Qur’an. Dalam firman-Nya disebutkan bahwa diperintahkan atas kita untuk bertanya kepada ahli dzikir apa-apa yang tidak kita ketahui.

Dan di berbagai ayat disebutkan juga tentang perintah Allah untuk mencari manusia yang dipilih Allah sehingga beliau bisa kita jadikan ikutan dan pemberi petunjuk berdasar pengalamannya. Sesuai dengan firman-Nya :

“Bertanyalah kepada ahli dzikir apabila kamu sekalian tidak mengetahui. Kami utus mereka itu dengan membawa keterangan dan kitab-kitab” … (QS An-Nahl 16:43-44).

“Allah memberi cahaya langit dan bumi. Umpama cahaya-Nya, seperti sebuah lubang di dinding rumah, di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam gelas. Gelas itu seperti bintang yang berkilauan …… Cahaya berdampingan dengan cahaya. Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Allah menunjukkan beberapa contoh untuk manusia” … (QS An-Nur 24:35).

“Mereka itulah orang-orang yang telah ditunjuki Allah, sebab itu ikutilah petunjuk mereka itu” … (QS Al-An’am 6:90).

“Kami jadikan di antara mereka itu beberapa orang ikutan untuk menunjuki           manusia perintah Kami dengan sabar serta yakin dengan keterangan Kami” …                             (QS AS-Sajdah 32:24).

“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberikan Allah nikmat kepada mereka, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Alangkah baiknya berteman dengan mereka itu” … (QS An-Nisa’ 4:69).

“Tunjukilah (hati) kami jalan yang lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang telah Engkau beri kenikmatan sedang mereka itu bukan orang yang dimurkai dan bukan jalan orang-orang yang sesat” … (QS Al-Fatihah 1:6-7).

Maka semakin teranglah sudah bahwa petunjuk teknisnya adalah mencari manusia sebagai pembimbing yang dapat memberikan penjelasan lebih rinci tentang petunjuk teknis yang sudah termaktub dalam Al-Qur’an. Karena yang akan kita riset adalah sesuatu yang tidak kasat mata maka bila tanpa pembimbing niscaya kita akan dibimbing oleh bisikan hati kita yang meragukan nilai kebenarannya sebagaimana firman-Nya :

“Aku berlindung kepada Tuhan ….. dari pada kejahatan bisikan syetan. Yang membisikkan dalam hati manusia …” … (QS An-Naas 114:1-6)

Sebelum kita bahas lebih mendalam maka ada baiknya kita urai dulu unsur manusia sehingga masalah akan semakin mudah kita teliti bersama. Seperti termaktub di dalam Al-Qur’an bahwa manusia tersusun atas 3 komponen dasar yaitu :

  1. Jasad
  2. Jiwa / Nafs
  3. Ruh

Ayat-ayat yang berhubungan :

“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya Ruh-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, tetapi kamu sedikit sekali bersyukur” … (QS As-Sajdah 32:9).

“Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya” … (QS Asy-Syam 91:7-10)

Dari ayat-ayat di atas jelaslah dari ke 3 komponen tersebut memiliki dzat yang berbeda-beda tetapi menjadi dalam satu wadah yaitu jasad. Bagimana memahaminya ? Sebenarnya mudah saja dengan meneliti ayat di bawah ini :

“Allah memberi cahaya langit dan bumi. Umpama cahaya-Nya, seperti sebuah lubang di dinding rumah, di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam gelas. Gelas itu seperti bintang yang berkilauan …… Cahaya berdampingan dengan cahaya. Allah menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya kepada cahaya-Nya itu. Allah menunjukkan beberapa contoh untuk manusia” … (QS An-Nur 24:35).

Maka dipakailah cahaya sebagai gambaran. Ruh adalah cahaya yang ditiupkan Allah hanya ke dalam tubuh manusia. Maka berawal qolbu manusia adalah Baitullah. Karena di qolbulah ditiupkan ruh tersebut. Qolbu digambarkan sebagaimana gelas yang berada di dalam rumah atau tubuh. Apabila gelas tersebut berada di dalam lautan jiwa yang bersih dan bening berkilauan maka cahayanya akan memancar ke seluruh tubuh dan pada akhirnya akan memancar keluar dari tubuh. Maka jiwa-jiwa yang lain akan melihat pancaran cahaya tersebut dengan bentuk sama dengan tubuh yang dihuni.

Sebagaimana cahaya yang tak berbentuk, tetapi apabila cahaya tersebut berada di dalam lampu neon maka kita akan melihat bentuk cahaya itu seperti lampu neon.

Maka itulah pentingnya keberadaan sang pembimbing yang akan menjadi tolok ukur kita dalam membedakan mana cahaya iblis dan mana cahaya Allah dalam usaha kita untuk mendekatkan diri kepada Allah. Sehingga kita tidak tersesat dengan mengikuti bisikan setan yang menghembus dari dalam hati. Karena jelaslah bahwa wajah rasulullah dan para pewarisnya tidak akan mampu ditiru oleh iblis, setan ataupun jin. Karena setiap unsur di dalam tubuhnya telah tersinari oleh cahaya Ruh yang suci yang pada firman-Nya disebutkan sebagai ruh-Nya.

Maka sebenarnya setiap manusia didalam qolbunya telah tertanam ruh-Nya yang merupakan satu-satunya komponen di dunia ini yang bisa menghubungkan kita dengan Allah. Tetapi dalam proses dari lahir sampai remaja hingga dewasa qolbu tersebut terhijab oleh lautan jiwa yang kotor sehingga cahaya-Nya semakin tertutup dan akhirnya redup. Maka apabila jiwa yang telah rusak tadi sering berkumpul dengan jiwa yang telah tenang/suci (sang pembimbing), maka lambat laun jiwa yang kotor tersebut akan menjadi suci sehingga cahaya ruh yang terhijab tadi kembali bersinar dan siap untuk menyinari jiwa-jiwa yang lain atau menjadi rahmat bagi sekitarnya. Sebagaimana kawat biasa apabila bersentuhan dengan kawat berlistrik maka kawat biasa tersebut bisa menyengat. Tapi apabila dipisahkan maka kawat tersebut akan menjadi kawat biasa.

Maka dapat disimpulkan selama jiwa-jiwa tersebut tidak memutuskan tali dengan jiwa sang pembimbing yang telah tenang/suci maka  cahaya Allah akan selalu terpancar di setiap sel tubuh kita dikarenakan hanya jiwa yang tenang/suci yang bisa mengimbaskan ketenangan/kesucian.

“Hai jiwa (nafs) yang tenang (suci). Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan (hati) ridha dan diridhai (Tuhan). Maka masuklah kamu dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan masuklah kalian ke dalam surga-Ku” … (QS AL-Fajr 89:27-30)

Hubungan tersebut tidak terputus walau sang pembimbing telah berpulang. Karena tiada yang mati bagi para pejuang sabilillah. Dengan syarat sang murid pernah bertemu secara lahir dengan sang pembimbing di saat masih hidup.

“Janganlah kamu katakan mati orang-orang yang terbunuh pada sabilillah, bahkan mereka hidup, tetapi kamu tiada sadar” … (QS Al-Baqarah 2:154).

 

Dan dalam sebuah riwayat Rasulullah menyatakan bahwa kondisi dzikir Abu Bakar yang merupakan perang terhadap hawa nafsu adalah perang jantan dan kondisi Ali yang mengikuti perang badar adalah perang betina.

Dari uraian di atas semoga dapat membangkitkan semangat kita bersama untuk semakin memperkuat  keyakinan dan harapan kita akan hari perjumpaan kita dengan-Nya. Karena tiada lagi yang bisa kita perbuat selain menggantungkan harapan kita kepada Allah dan sehingga pada saatnya nanti kita akan dipertemukan dengan utusan-Nya yang akan membimbing kita kehadirat-Nya.

“Barangsiapa menta’ati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu bersama orang-orang yang diberikan Allah nikmat kepada mereka, yaitu nabi-nabi, orang-orang yang benar, orang-orang yang syahid dan orang-orang yang sholeh. Alangkah baiknya berteman dengan mereka itu” … (QS An-Nisa’ 4:69).

Dan semoga apabila Allah telah berkenan untuk mempertemukan kita dengan utusan-Nya maka kita diberikan kekuatan untuk bersabar di jalan tersebut. Sehingga pada akhirnya terciptalah umat percontohan yang benar-benar mengamalkan Al-Qur’an tanpa paksaan dikarenakan ketiga komponennya sudah harmonis dengan ruh-Nya yang pada gilirannya akan menampilkan sosok-sosok manusia yang menyandang sifat-sifat Allah. Maha benar Allah dengan segala firman-Nya dan Allah tiada pernah mengingkari akan janji-Nya.

Single Post Navigation

38 thoughts on “Energi Al-Qur’an

  1. Plok..plok..plok…
    artikel yang tak terbantahkan mas..
    Te Op Pe Be Ge Te deh…

    ^_^V
    PiiSS

  2. Alhamdulillah……………..
    kan luar biasa…
    dengan adanya blog ini, orang-orang tidak perlu lagi mengeluarkan biaya yang besar untuk mengenyam pendidikan Agama Islam sampai kejenjang Universitas… hampir semua diberikan secara gratis dengan tujuan Da’wah menghidupkan kembali sendi-sendi Islam yang sudah hampir punah, dengan tujuan agar kita mau kembali menggali kaidah-kaidah islam yang hampir kita lupakan…
    dengan kata lain “mengembalikan Sirih ke tampuknya”..

    Rasulullah dalam hadistnya mengatakan ” nanti yang aku takutkan diakhir zaman banyak orang yang menjual ayat-ayat suci Al-qur’an”….
    dan ini sudah terjadi, berapa banyak orang-orang yang mau berdakwah apakah itu dimesjid, di media elktronik yang meminta bayaran, itupun kalau amplopnya tidak tebal dia ga mau datang, pada hal dia hanya menyampaikan satu dua ayat saja,…

    sehingga blog ini membuka jalan bagi siapapun orangnya yang hendak mencari kebenaran didalam islam….

    dan apa yang disampaikan disini merupakan hasil riset yang sudah dijalankan dan memperoleh hasil yang nyata….bukan sekedar omong kosong belaka…

    sebab ilmu yang kita sampaikan kepada seseorang, apabila kita sendiri belum melaksanakannya atau belum merisetnya berarti kita sendiri telah menipu orang lain,…. apalagi ilmu mengenai Agama…….
    :::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

  3. maaf kata……

    kalaulah ada orang yang berbicara tentang allah sedangkan malaikat aja dia tidk kenal,.. ya ga usah ngomong tentang Allah…..

    wong dengan pegawainya aja dia ga kenal apalagi dengan Allah…..
    dalam Al-qur’an sudah dijelaskan “Awaluddini ma’rifatullah” = berawal agama adalah mengenal Allah..
    jadi kita baru dikatakan berawal agama kalau sudah mengenal Allah…..

    jadi jangan mengatakan engkau sudah beragama apabila kamu sendiri belum kenal dengan allah,..
    yang dijelaskan didalam Al-qur’an itu seperti gunung-gunung, makhluk-makhluk kecil yang susah dilihat oleh mata telanjang langit, planet yang tidak berbenturan,… itu semua hanyalah makhluk allah, bukan Allah….

    Allah itu maha melihat berarti Allah punya mata, dan masih banyak lagi sifat-sifat Allah yang ada dalam Al-qur’an,….
    sehingga dari semua sifat-sifat Allah itu berarti Allah itu bisa dilihat, dan Dia bersembunyi ditempat yang terang bagi yang ditunjuki jalan…….

    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

  4. BISMILLAHIRCMANNIRROCHIM
    @ sufi muda

    dari artikel yang di posting di atas manusia dapat di tarik kesimpulan bahwasanya manusia = jasad sedangkan ruh NYA = ALLOH dong? ALLOH gitu lho?
    tapi ya tidak RUHULLOH aja khan?

    tapi bagi yang sudah di kehendaki oleh ALLOH untuk bertemu dengan sang MURSYID sehingga cocok dengan AL-QUR”AN itu sendiri tho
    INNA QUR”AN DHOHIRON WA BHATINAN
    “sesungguhya di dalam AL-QUR”AN terdapat dhohir dan bathinya” jadi sesuai dengan fitrahnya manusia itu sendiri bukankah kita juga terdapat dhohir dan bathin NYA

    salam

  5. BISMILLAHIRCMANNIRROCHIM
    @ SUFI GAUL

    jangan anda memutuskan tali hubungan dari pada alloh dengan sang pecintanya sebab tingkat keyakinan saudara -saudari kita berbeda beda kasihan mereka yang belum mengenal ALLOH saya takutkan nantinya malah menjadikan beliau putus asa dalam pencarianya
    demikian koreksi dari saya mohon maaf apabila ada kata-kata saya yang kurang berkenan

    salam SUFI………………(10)

  6. anak tuhan on said:

    setuja sekali sama sufi muda. daripada jauh2 belajar di kairo mending baca aja blog ini, dasyat man.

  7. Buat 10,.. Boleh 10 tengok lagi artikel tentang ‘ilmu tebu’ barangkali bisa menghilangkan kekhawatiran 10. Maaf ya 10… Buat sufi gaul: pinter beneer..

  8. @10
    bedakan mana cahaya matahari mana matahari … ruh adalah cahaya Allah bukan Allah …. jadi unsur yang berbeda …. tapi yang dinamakan manusia adalah seluruh unsur tadi sebagai satu kesatuan …. tanpa jasad bukan manusia yaitu mahluk ghaib ….. tanpa jiwa bukan manusia yaitu benda mati ….. tanpa ruh bukan manusia yaitu hewan dan tumbuhan … jadi hanya manusia yang mempunyai 3 unsur yaitu jasad jiwa dan ruh …. tapi ada manusia yang jiwa dan ruhnya tidak berhubungan sehingga tidak mengenal Tuhannya … maka kenalilah diri sebenar benar diri maka engkau akan mengenal Tuhan dengan amat nyata
    ciri manusia seperti ini adalah yang memperturutkan kemauan otaknya bukan kemauan qolbunya, mereka yang tunduk kepada keinginannya bukan keinginan Allah … apaan tuh Qolbu ? letaknya aja anggak tahu … makanya belajarlah

  9. Luar biasa kupasan sang maulana Ahmad Robi. Sangat benar adanya, dan sangat betul ulasan pemikirannya. Cuman ada pertanyaan mendasar.

    Apakah al-quran benar-benar sudah menjadi rahmatan lil alamin.

    satu fakta yang ingin saya sampaikan pada sang maulana.
    1. Negeri yang berkomplik di Dunia ini negeri yang ber Al-Quran. Mungkin minus Arab saudi. Tapi okkey, bagaimana moral masyarakatnya di sana yang katanya setiap detik selau ada suara membaca al-quran yang bergitu tartil.
    2. Al-Quran sebagai obat, baiklah itu benar karena memang begitulah bunyinya sebagaimana sang maulana telah menyampaikannya. tapi bagaimana faktanya, Apakah ummat Islam telah menjadikan Al-quran sebagai obat dan penawar. Termasuk sang maulana Ahmad Robi.
    3. Al-Quran jika ditulis dr ranting kayu dan tintanya dari samudra tidaklah cukup untuk menulisnya. Bagaimana menjelaskan ini sedangkan mesin penulisnya sekarang bisa di buat di Taiwan atau buatan german. tak perlu ranting dan air di samudra.
    4. Jika alquran di letakkan di atas bukit maka bukit itu akan hancur. wow begitu powerfullnya al-Quran itu yaa sang maulana. bagaimana anda menjelaskan ini. Karena secara fakta segudang al-quran bahkan di tumpuk dengan setumpuk gunung tak akan mampu menghentikan letusan gunung.

    Tuan Maulana, jelaskan saya secara fakta yang benar, dengan bukti yang nyata, jangan dengan logika dan alasan sebagaimana para ulama klasic dan entahlah apalah namanya membuat sejuta argumen yang sesungguhnya mereka juga tidak tahu. mereka juga tidak paham, terkecuali pintar mengutak ngatik alasan dengan dalil dalil pembanding yang tidak memiliki dasar fakta dan sangat spekulatif.

    Anda jugabisa jelasakan ke email saya <>

    Bung Maulana Ahmad Mari kita berbagi, membuktikan kehebatan dan ke powerfulan alquran, itu.

    Wassalam.

  10. BIsmillahirochmannirochim
    @ sufi gila
    mengenai tanggapan saudara ku
    ciri manusia seperti ini adalah yang memperturutkan kemauan otaknya bukan kemauan qolbunya, mereka yang tunduk kepada keinginannya bukan keinginan Allah … apaan tuh Qolbu ? letaknya aja anggak tahu … makanya belajarlah
    ==========================================
    saya faham dgn maksud saudara.
    nah pertanyaanya?
    manusia terdiri dari jasad,jiwa dan ruh
    jasad diterdiri dari apa aja?
    jiwa terdiri dari apa aja?
    QOLBU sendiri ditempati ruh apa?
    berasal dari apa,and dalil nya
    ruh itu sendiri terdiri dari apa aja dan bertempat dimana aja tentunya ada fungsi dari masing ruh,jelasin donk?
    APAKAH yang menghubungkan jiwa dan ruh sehinnga anda katakan satu kesatuan?
    apa aja dalilnya ini yang namanya diskusi?
    kalo anda menganggap ini rahasia bisa anda kirim ke email saya:
    jhnpratama@yahoo.com
    segala KEYAKINAN harus di sertai dengan PEMAHAMAN baru di katakan AINUL YAKIN or HAQUL YAKIN
    saya tunggu.

    wasalam

  11. Wahai para neter, jangan terjebak pada pemikiran yang bersumber pada filsafat Empirisme.
    Kata-kata, seperti:
    Apa dalilnya, apa dasarnya, apa dasar logikanya. Itu sebuah pemahaman usang yang masih dipertahankan sampai kini oleh kalangan Islamolog, dan kalangan pengguna dalil-dalil.

    Dalam Quantum Ficys, sekarang telah terjadi lompatan pandangan yang polatilitinya sangat amat tinggi. Apa dalil, apa dasarnya, adalah sebuat doktrin al-as ariyah yang telah usang namun di jadikan idiologi pembenaran oleh kalangan wahabian dan neo salafi. Makanya orang Islam selalu menjadi masyarakat yang terbelakang dan pada kondisi tertentu sangat kanibal. Pada saat kini ia sangat santum, dengan segala predikatnya dan simbulnya. Berjenggot, dahi di bikin hitam secara instan sehingga memperoleh ligitamasi ahli sujud dan ahli Ibadah. Dan pada saat bersamaan ia menjadi kurop yang menjijikkan.

    Saya teringat ungkapan senior dan mentor saya cak. Noer Almarhum. Ia mengatakan Islam di Indonesia itu adalah di atas 85% dari total penduduk Indonesia. dan 93% sebagai pejabat dan pegawai pemerintahan.

    namun negeri Indonesia sangta korup dan lambat cara pandangnya. Nah siapa itu ??? yang menjadi gambaran Indonesia. Etnis china apa ia, wong tidak sampai 5%, mau bilang agama kresten wong tidak sampai 20%, mau bilang etnis minoritas kok berlebihan. GAMBARANNYA INDONESIA ADALAH ISLAM. dan itu adalah kita sendiri.
    Mengapa begini karena kita terjebak pada pola pandang yang usang, kaku, kasar dan anti kemapanan.

    kalau ingin mengetahui sebuah fakta kebenaran, selami ia, dalami konsepnya dan lakukan. Jika ada rasa dan emosi muncul itulah spirit kebenaran.

    Tidak perlu anda mempelajari listrik, mempelajari bola lampu, untuk menghidupi lampu.

    Untuk menjalankan mobil yang anda miliki, tidak perlu anda pelajar tekhink mesin, bagaimana mesin itu berjalan, mengapa dan mengapa. Maka anda tidak akan terjebak pada pemikiran dan paham teologi usang.

    Allahu’aklam bis sawwaf.
    Wassalam.

  12. @ ardi..
    bagi Musa, Al Qur’an itu bisa membelah lautan
    bagi Isa, bisa menghidupkan orang mati
    bagi Umar, beliau bisa menjadi orang ke tiga akhlaknya, (setelah mengubur bayi perempuannya hidup2)
    Tentu ayat itu bukan sekedar harfiah.
    Tentu kita juga bisa dalam bidang nya masing2, setelah mendapatkan energi Al-Quran.
    Buka kacamata hitam nya.
    Tuhan tidak mendiskriminasi hamba2 Nya.
    Siapa yg betul semua, dapat “seratus”.
    Siapa yg benar metode dan keikhlasan nya..pasti dapat. Kadang untuk ikhlas kita perlu bermetode/berguru.

  13. Cut Nanda Keumala on said:

    Pada zaman kekhalifahan Umar bin Khatab terjadi kekeringan luar biasa di Mesir sampai sungai Nil kering kerontang. Gubernur Mesir melaporkan kepada Umar. Kemudian Umar menulis sesuatu di atas kertas untuk dilemparkan ke dalam sungai. Ajaibnya sungai Nil itupun mengalir lagi seperti biasa.
    Isi Tulisan Umar di atas kertas itu adalah :
    “Wahai Sungai Nil, Kalau engkau berhenti mengalir karena Allah, maka sekarang Umar perintahkan engkau mengalir kembali”
    Kata-katanya lebih kurang seperti di atas, namun ada juga dalam versi lain dimana dalam surat itu umar meminta sungai nil mengalir atas nama Allah.
    Menarik untuk di kaji, kenapa sungai Nil bisa mengalir lagi atas permintaan umar?
    “kalau engkau berhenti mengalir karena Allah, sekarang Umar perintahkan engkau mengalir”
    Berarti Umar lebih hebat dari Allah donk?
    Atau Umar selalu beserta Allah, atau Umar telah mengasai Al-Qur’an yang bathin?
    Mohon penjelasan dari kawan-kawan semua…..

  14. @Cut Nanda Keumala
    firman yang berbunyi “Bukan kau yang melempar,melontar,memanah berkarya ya Muhammad melaikan aku ALLAH” para khalifah-khalifah Allah tidak pernah mereka merasa bahwa, semua kekeramatan hanya milik Allah semata, dan mereka cuman di TUMPANGI lewat aja,..
    contoh Kabel listrik cuma dilalului oleh arus listrik, dimana-mana kabel ini tidak pernah menghasilkan arus listrik, tapi setelah dia dilalalui oleh arus listrik barulah kabel menghasilkan listrik…
    “ada engkau tiada Aku, Ada Aku tiada engkau”
    “engkau datang sejengkal aku datang sedepa,engkau berjalan Aku(ALLAH) berlari, lama-lama Aku(ALLAH) tidak mau jauh-jauh dari kau lagilah”…
    “kau memegang, Tanganku kok, kau berjalan KakiKu kok, kau berdo’ a Akukabulkan”…
    ini lah hubungan antara Allah dengan kekasihnya…..
    jadi saidina UMAR RA itu tidak pernah merasa hebat dari Allah, cuma pada saat itu saidina UMAR RA sedang beserta dengan Allah…
    “Kunfayakun” tidak ada yang tidak mungkin dengan seizin Allah…tentu saja bagi mereka yang sudah berjumpa dengan Allah.
    ::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

  15. Sufi Gila on said:

    @ardi
    sekedar informasi bahwa cak noer almarhum adalah salah seorang penganut tasawwuf yang bersembunyi dalam jubah kaum rasionalis …. beliau adalah murid kyai zarkasyi pendiri gontor yang beraliran tasawwuf dan bertharikat …. sehingga dalam akhir hayat cak noer beliau sempat berkata pada istrinya dan dimuat dalam media jawa pos bahwa akan ada manusia suci yang akan menjemputku … sang istri pun bertanya siapa ? dan dijawab kyai zarkasyi … dan setelah itu beliau meninggal …. saya nggak tahu apakah yang seperti itu dianggap usang ? bagi saya yang penting jelas tolok ukurnya yaitu ada sosok manusia yang kita yakini beserta Allah yang nantinya akan menuntun kita saat kematian menjelang

    sedangkan fakta yang anda sebutkan semakin menguatkan ulasan di atas bahwa memang ada yang salah dengan cara kita memperlakukan Al-Qur’an yang selama ini kita jadikan mantra2 atau lagu2 ataupun bacaan semata tanpa pernah diriset …. dan ilmu eksakta dipakai sebagai pendekatan adalah supaya otak kita teredam dan tidak bertanya2 lagi dengan ilmu tauhid yang rumit sehingga dibilang nggak masuk akal

    kelanjutannya praktekkan dan lakukan sampai berhasil nyata

  16. Sufi Gila on said:

    @10
    kalau boleh saya bertanya frekwensi itu nyata apa nggak ? trus terbuat dari apa trus bagaimana dan bagaimana …. udahlah sesuai dengan ulasan di atas cari aja manusia yang bisa ngebimbing anda untuk mengenal itu semua dan bukan dengan mata fisik tapi dengan mata hati … karena itulah yang termaktub dalam Al-Qur’an … sebenernya cuman itu aja kok maunya si Maulana Ahmad ini …. hehehehhe

    trus kalau udah ketemu belajarlah dan ikuti instruksinya dengan baik dan benar …. dan kalau ditanya apakah bung maulana ini udah bisa begini bisa begitu ? pastilah jawabannya “ah aku nggak bisa apa2 tanpa ridho Allah ”
    jadi menurut saya ya rasakan sendiri dengan metode yang tepat yaitu hubungkan diri ruhanimu dengan diri ruhani manusia yang dikehendaki Allah …. itu baru awal lho

  17. Sufi Gila on said:

    @Cut Nanda Keumala
    saat ruhani itu sudah diaktifasi dan mulai menyinari seluruh tubuh sampai bergetarlah seluruh sel2 kita … maka hilanglah kesadaran jasad sehingga muncullah kesadaran spiritual … sama seperti saat kabel dialiri listrik maka hilanglah sifat kabel dan larut dalam sifat2 listrik … maka terucaplah kata2 yang tiada disadari oleh manusia yang bernama Umar yang sebenarnya Allah lah yang berkata2 ….
    kata radio bukan aku yang bicara tapi studio karena radio sudah terhubung dengan studio melalui teknologi … kata Umar bukan aku yang memerintah tapi Allah karena aku sudah terhubung dengan alam Rabbani melalui teknologi/metode atau tharikatullah

    • Awas hati2 dengan manusia ini,, ngomong dengan mengutarakan isi hati,, tp lari semua apa yang dijelaskan bisa keluar dari agama.. Nama nya sudah sufi gila,, berhati2 lah.. Temui ustadz dan kyai setempat saja yg memang dinamakan seorang demikian

      • ayo segera temui ustad Faisal alfikri, bukan begitu? 🙂

      • Bismillahirrohmanirrohiim. Kurang lebih 1438 thn yg lalu, setiap hari Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam keluar dari rumahnya untuk memberikan makanan dgn cara menyuapi seorang pengemis yahudi buta, dengan penuh keikhlasan dan kesabaran disuapinya pengemis itu, tdk berharap balasan dari makhluk, tidak butuh puja puji dan sanjungan makhluk, tidak butuh pengikut, tidak mengharapkan balasan dunia dan akhirat, diam, gerak, dan berdirinya hingga nafas seaatpun tdk diakui kepunyaan pribadi. Setiap hari itu pula Baginda Nabi mendapatkan hujatan, cacian, makian, direndahkan, disesatkan dlsb.Tetapi Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah sekalipun membalas dgn mengatakan sesat, kafir, syirik, musyrik dlsb kpd pengemis yahudi tsb, karena penglihatan, perkataan, pendengaran dan penciuman beliau sdh menjadi rahmat bagi seluruh semesta alam. Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Akhlak kpd diri sendiri, akhlak kpd sesama manusia, akhlak kpd Alloh Ta’ala, hingga menjadi akhlakul karimah. Sumber kebaikan adalah Baginda Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam. Sumber keburukan adalah iblis.

        • Hanya orang kafir lah yang mengatakan sufi ( ajaran ) gila, yang dibawa nabi muhammad SAW.
          Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, . . .” (QS. Al-Fath: 29)
          Hikmah :
          Jikalah kamu merasakan mampu seperti nabi Muhammad SAW maka cobalah, namun orang yang bersama nya ( orang yang mengikuti Rasul Allah ), keras terhadap orang kafir, tetapi berkasih sayang terhadap sesama mereka ( muslim ).
          Belajar lah..

        • sayyid on said:

          Assalamualaikum wr.wb,
          Tepat sekali pencerahanmu adikku Yahya.
          Bagaimana kita mencintai Allah jika kita tidak mencintai sesama manusia dan gimana kita dapat mencintai sesama manusia apabila kita sendiri tidak mencintai diri kita sendiri?
          kenalilah dirimu dahulu (perbaiki akhlak burukmu ) lantas cintailah sesamamu barulah kamu dapat mencintai yg memiliki cinta itu.
          Tidak ada kebaikan pada iblis.
          wassalamualaikum wr.wb,
          ustad sayyid

  18. @sufi gaul
    benarkah jika kita belum kenal malaikat blm boleh ngomong tentang Allah?

    btw thank ya komentarnya memotivasi aku uk segera mengenal malaikat 🙂 salam kenal

  19. sufi baru on said:

    @ cha

    sebenarnya itu hanya kiasan aja,, karena di ibaratkan seperti itu,,dalam alquran banyak allah mengadakan perumpamaan2 dalam menjelaskan ayat2nya….

    “untuk jumpa Allah harus jumpa malaikatnya dulu”

    itu ada benarnya juga karena
    malaikat itu kan adalah petugas allah dan telah mempunyai tugas masing2..

    ibarat kita ,mau masuk ke suatu kantor ingin menjumpai pimpinannya..tetapi sebelum kita bisa menjumpai pimpinan kantor tersebut tentu kita terlebih dahulu harus jumpa dengan sekuritinya..baru kita di bawanya ke ruang pimpinan tersebut… nggak bisa kita langsung masuk dan nyelonong aja ,,,pasti kita akan di hadang oleh sekuritinya dan di tanyain,,. benar nggak..

    kecuali kalau kita datang dengan “orang” yang sudah kenal baik dengan pimpinan tersebut…pasti pihak sekuriti tadi tidak akan menanyai kita lagi karena dia pun kenal dengan orang yang membawa kita tersebut.
    malah sekuriti tadi akan segera minggir dan dengan sopannya akan melayani kita karena segan dengan orang yang telah mengantarkan kita tadi…karena orang itu kenal baik dengan pimpinannya…

    nah begitu juga dengan berketuhanan….tak ada yang bisa sampai ke allah,,,kecuali NURnya sendiri..
    ibarat matahari..: tak ada suatu zat apapun yang bisa sampai ke matahari kalau tidak cahayanya sendiri..

    nah itulah yang di maksudkan dengan “wasilah”
    dalam surat al maidah :35 yang berbunyi..”hai orang2 yang beriman bertaqwalah kepada allah dan carilah”wasilah”/penghantar yang menghubungkan engkau kepada ALLAH dan berpegang teguhlah terhadapnya niscaya engkau akan akan mendapat kemenangan..”

    dalam hadits juga dikatakan

    ” jadikanlah dirimu beserta Allah ,kalau engkau belum bisa menjadikan dirimu beserta Allah maka jadikanlah dirimu beserta dengan ORANG yang sudah beserta ALLAH karena ORANG itulah yang akan menghantarkan engkau kepada allah..”(riwayat abu daud,thabrani)

    jadi untuk menuju ke ALLAH kita harus ikut dengan orang yang yang sudah bolak balik kembali ke ALLAH itu sendiri….
    Dalam Surat lukman ayat 17 : ” ikutilah jalan orang yang TELAH KEMBALI kepadaku….”

    dan orang yang telah ke ALLAH tentulah orang yang sudah memiliki NUR Allah itu sendiri…karena tak ada yang bisa sampai ke allah kecuali Nur Nya sendiri dan Nur itu hanya di berikan ole ALLAH kepada orang yang di tunjukinya saja..
    “NURUN ALA NURIN” YAHDILLAHU LINURIHI MAYASSA”U (An-nur : 35)

    pada zaman sekarang ini…itulah MURSYID…

    jadi kalau sudah menjumpai mursyid yang kamil mukamil khalis muchlisin… maka kalau kita ingin ke tuhan maka ikutlah denganNYA maka para malaikat pun akan minggir itu saking takutnya dan segan nya pada sang MURSYID tadi….ibarat sekuriti tadi…bener lho..buktiin aja sendiri he he..

    semoga berkenan….

  20. BIsmillahirochmannirochim
    @ sufi gila

    mengenai frekwensi utu nyata tergantung dari orangnya udah nyampe belum pelajaranya ke situ tp kalo saya pribadi “Alhamdulillah sampai saat ini masih saya bawa kemana mana tuch sich frekwensi tadi, jadi walaupun tidur jasadku masih mengandung frekwensiNYA” tapi sesuai dengan coment saya yang pertama bahwasanya ruhani tidak hanya satu tapi terdiri dari banyak kesatuan begitu kiranya sedangkan cahayaNYA itu menempati ruangan yang berbeda lagi
    ===========================================================
    dan kalau ditanya apakah bung maulana ini udah bisa begini bisa begitu ? pastilah jawabannya “ah aku nggak bisa apa2 tanpa ridho Allah ”
    ===========================================================
    koq kaya’nya itu ungkapan syech AL-BUSTOMI ya ?”

    ah udahlah bung yang penting kita udah ketemu dengan mursyid masing-masing sama koq, saya juga orang toriqho…
    jadi ndak ada yang lebih pinter karena hakekatnya orang pinter,ngerti juga nggak ada

    salam sufi……(10)

  21. @cha. untuk kenal dengan malaikat, bisik2lah dengan orang2 yg sering menyebut2 ‘malaikat’..Minta tolonglah untuk dkenalkan dg malaikat..dst.. Insya Allah akan dkenalkan.. Salam

  22. artikel yg sangat bagus…….. bagus sekali karena sangat mirip dengan rumusan yang diajarkan oleh Syaikh Mursyid kami………
    ngomong2 sufi muda thariqatnya apa?

  23. Ahmad Ramadhan on said:

    Assalamu’alaikum wrwb.
    Subhanallah walhamdulillah…
    Artikel2nya bagus2…

    Menyambung Alfaterix, hal yg sama saya dapatkan dari penjabaran2 guru saya.. tetapi apabila diperkenankan , ada yang ingin saya sampaikan..sedikit koreksi saja,

    “Kalau sekiranya dengan Al-Qur’an dapat diperjalankan gunung-gunung …..” … (QS Ar-Ra’du 13:31).

    “Walaw anna qur’anan suyyirat bihi’l jibalu…”
    tidak terdapat ‘alif lam’ disana yang berarti bukanlah “Al Qur’an” yang dimaksud, tetapi Qur’an (bacaan) yang bermakna lebih luas, termasuk ilmu2 pengetahuan… disinilah ‘energi’ /’daya kekuatan’ yang seyogyanya dimiliki/dicapai/diraih oleh mukminin untuk menjalankan tugas khalifatul ardh nya bagi kemashlahatan…karena “bal lillahi’l amru jami’a
    (berbicara dalam konteks ‘energi’ tentunya…)

    Most of all… rujukan pemahaman dan arahan guru2/mursyid kita (saya yakin) sama..
    salam kenal dari saya, Akhi..
    Wassalam.

  24. Sarip Sukandi on said:

    Ass.
    Syukron akhi, ana baru bisa buka blog antum hr ini ternyata setelah ana telaah…wah ruaar biasa…ana tersentuh dan terpesona sebegitu hebatnya pengaruh energi al-qur’an terhadap hidup dan kehidupan qt…

    Wassalam

  25. janganlah menjadi umat yg ”ngeyel” spt umatnya nabi Musa. Jika ada ilmu yang baik segeralah diamalkan. Jng terlalu banyak bertanya apa lg membantah. Banyak ilmu tanpa amal hanya akan mmbuat seseorang memiliki derajat spt gedung perpustakaan atau disket leptop yg milyaran GB.

  26. dalam pembahasan ini boleh saja kita menurutkan akal, tetapi perlu diingat bahwa akal juga mempunyai keterbatasan dalam menjangkaunya……
    sehingga dengan ini kita mencoba menggunakan keyakinan yang ada dalam Qolbu kita….karena ada sesuatu yang gak bs diterima oleh akal hanya yg pernah merasakan n gelombang yg sama yang memahami n memberikan pemahaman satu n lainnya, bukan berarti menegasikan temen2 lainnya ttp ini mungkin menjadi tambahan semangat tuk mempelajarinya dan mencari guru yang dianggap bs membimbing dan mengarahkan….

  27. Ruslianto on said:

    Manusia “awam” (maaf) jelas tidak akan “ngerti/paham” menerima Al Qur’an dengan hanya mempelajari buku-buku, kitab-kitab atau bahasa arab saja, atau hukum-hukum fikih atau syara’ yang hanya dapat mengatur cara hidup dan cara beribadah, secara zahir semata-mata, Oleh karena itu,.. Al Qur’an di jadikan Allah sebagai ‘Nur’ ,..maka hanya dengan Nur Illahi sahajalah kita dapat sampai kepada Al Qur’an .
    Ibarat dengan matahari yang boleh “sampai” kepada matahari melain kan cahayanya sendiri.
    Qur’an yang dibaca oleh orang awam dengan mata kepala merupa kan kulit-nya saja, yang intinya jauh tersembunyi dan tersirat disebalik apa yang tersurat, Inti Al Qur’an (yang) inilah “tidak dapat” dicuri atau di sentuh oleh , orang-orang kafir,orang-orang musyrik dan yang “belum” disucikan sesuai dengan Firman Allah SWT; Suraah Al Waqiah ayat 77-81 :
    Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, dalam kitab yang terpelihara tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang di sucikan. Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam. Maka apakah kamu menganggap remeh sahaja Al Qur’an ini ?

    Wahai Sobatku,…carilah Mursyid bagimu yang Kamil mukamil dan dari-Nya mendapat gransi, dapat mensucikan (ruh) kamu.

    • Yuk di Share info ini…
      Anda Bingung mau Sekolah S1 yang Gratis, Hubunggi nomor:081298916292 (Bpk. Budi, SH).
      Profil Kampus Buka: wwww.stipai-maghfirah.com
      Kuliah Berkualitas, Beasiswa 100% dan Lulus langsung Bekerja

  28. Ruslianto on said:

    Dan,..Allah SWT (Dalam Hadist Qudsi) berfirman : Tak dapat memuat zat-Ku, bumi dan langit-Ku, yang dapat ialah hati Mukmin Ku Yang lunak dan tenang.
    Allah SWT telah juga berfirman dalam suraah An Nur ayat-35 :
    Cahaya diatas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki.
    Nur itu diberinya pada manusia yang dikehendaki. Dari ayat Suraah Asy-Syuura ayat 52 :
    “Dan Kami jadikan dia (Al Qur’an) Nur, Kami tunjuki dengan dia sesiapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami”.
    Al Qur’an itu diberinya pada manusia yang dikehendaki. Yaitu Al Qur’an yang tidak berhuruf dan bersuara itu. Al Qur’an ini tidaklah boleh dikelirukan oleh kitab yang dicetak di atas kertas dan dibukukan yang boleh dibaca oleh siapa saja dan dimana saja. Malah ada orang-orang kafir Yahudi yang menafsirkan ayat-ayat “cetakan” tersebut.

    Jadi,.. Qur’an cetakan manusia itu dapat (saja) dibaca dan disentuh oleh siapapun juga, yang mau membaca dan menyentuh.
    Tetapi Al Qur’an yang “dituang” dalam dada Rasulullah, adalah hanya untuk tertentu dan terpilih (Lihat Firman diatas), sepertimana Nabi Muhammad SAW terpilih.

    Al Qur’an yang diwahyukan kedalam dada Rasulullah ini mempunyai tenaga kekuatan yang maha dasyat, Inilah yang dimaksud oleh Allah SWT, dengan firmanNYA di dalam Suraah Al Hasyir ayat 21 :
    “Andaikata Al Qur’an ini Kami turunkan di atas sebuah Gunung, akan kamu lihat gunung itu tunduk dan pecah berantakan demi takutnya kepada Allah. Perumpamaan itu Kami adakan agar manusia berfikir”.
    Al Qur’an inilah yang kesemuanya dicurahkan oleh Rasulullah sebelum Beliau wafat kedalam dada Saidina Abu Bakar, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah :
    “Apa-apa yang Allah curahkan kedalam dadaku telah aku curahkan pula kedalam dada Abu Bakar”.

    Wahai Sobatku,…carilah Mursyid bagimu yang Kamil mukamil dan dari-Nya mendapat gransi, dapat mensucikan (ruh) kamu.
    Wass.

  29. MBOLOGBATMAN on said:

    Kalo mau ketemu Mursyid di sekita Bandung… hubungi siapa ya ??

  30. Ping-balik: Energi Al-Qur’an | Deas ciamis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: