ALLAH MAHA NYATA (AD-DZAHIR )
Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendidingi Allah,
padahal Dia-lah yang mendhahirkan sesuatu
Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendidingi Allah,
padahal Dia-lah yang tampak pada segala sesuatu
Bagaimana mungkin Allah dapat didindingi oleh sesuatu,
padahal Dia lebih nyata dari segala sesuatu
Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendidingi Allah,
padahal kalau tidak ada Dia, tidak ada sesuatu
Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendidingi Allah,
padahal Dia Maha Nyata sebelum segala sesuatu
(Al-Hikam)
Kata-kata diatas saya rangkum dari Al-Hikam, saya mengambil kata-kata yang menunjukkan bahwa Allah itu benar-benar nyata, tanpa terselubung oleh apapun kecuali oleh nafsu dan disesatkan oleh akal pikiran kita sendiri. Dalam Asmaul Husna salah satu nama Allah adalah AD-DZAHIR artinya Maha Nyata. Silahkan artinya sendiri menurut keinginan masing-masing kita. Kalau anda mengartikan makna Maha Nyata itu bahwa Allah telah menciptakan alam beserta isinya, dengan adanya alam ini menunjukkan Maha Nyata nya Tuhan maka sampai disitulah pemahaman anda.
Beberapa tulisan di sini telah pernah membahas tentang apakah Allah bisa dilihat antara lain bisa di baca Bisakah Melihat Allah beserta dalil-dalilnya dan disini saya tidak lagi mengajak kita semua untuk terus berdebat tentang bisa tidaknya Allah dilihat. Saya menganggap orang yang membaca tulisan ini sudah selesai dengan dalil-dalil berserta tafsirannya, sudah selesai dengan debat yang tidak berujung pada akhirnya akan semakin membingungkan diri sendiri. Saya menganggap anda adalah orang yang telah dibimbing oleh seorang Guru Mursyid, dengan demikian pertanyaannya bukan lagi apakah Allah bisa dilihat di dunia ini akan tetapi pertanyaannya menjadi kapan saya bisa melihat Allah? Lalu jalan apa yang saya tempuh agar Allah bisa memperlihatkan diri-Nya kepada saya?.
Pertanyaan itu jauh lebih bermanfaat daripada anda terus menerus tidak mengakui bahwa Allah itu tidak bisa dijangkau oleh apapun, tidak bisa dilihat sama sekali dikarenakan Dia Maha segala-galanya. Disinilah letak kekeliruan besar yang selama ini tidak kita sadari. Kita menempatkan Tuhan itu disebuah menara yang tidak bisa dijangkau oleh apapun, Hampir seluruh agama menempat Tuhan di langit seagai tempat tertinggi karena tidak ada tempat yang lebh tinggi di dunia ini selain dari langit. Kemahakuasaan Dia kita wujudkan dalam bentuk sulit dijumpai, semakin sulit kita jumpai akan semakin nampak bahwa Dia Maha segala-galanya. Kalau kita menempatkan Dia sebagai sesuatu yang Maha segalanya, jangan kita lupa bahwa Dia juga Maha Nyata, lebih nyata dari apapun. Dengan demikian maka kita semua diberi kesempatan untuk melihat Zat Yang Maha Nyata, sebagai bagian dari karunia-Nya.
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”. Tuhan menciptakan makhluk supaya mengenal Dia dengan sebenar-benar kenal, berhubungan dengan mesra, terus menerus berdialog dengan Tuhan agar kita terus terbimbing kejalan-Nya.
Dimana Allah?
Pertanyaan itu yang harus kita jawab terlebih dahulu sebelum kita bertanya bagaimana cara melihat Allah. Hampir disemua web/blog beraliran syariat (wahabi) memberikan jawaban bahwa Allah itu ada di Arasy, arasy itu berada dilangit dan harus diingat pula pengertian langit ini bisa terjadi multitafsir lagi, apa langit yang dimaksud itu yang sering kita lihat diatas kita berwarna biru kalau cerah kemudian berupa berwarna kelabu kalau mendung dan menjadi gelap kalau sudah malam. Kaum sufi tidak mengartikan langit itu dalam pengertian zahir seperti yang kita lihat, akan tetapi lebih kepada pengertian ruhani, sebagai kiasan maqam yang harus dilewati, sebagai 7 tempat atau 7 titik yang harus dibersihkan di dalam iktikaf/suluk lewat zikir secara kontinu (Istiqamah). Dalam dalil lain disebutkan bahwa Allah itu ada dimana-mana, lalu bagaimana hubungan Allah yang berada di arasy dengan keberadaannya dimana-mana?. Bagaimana Dia yang lebih dekat dari urat leher?
Untuk menjawab semua pertanyaan itu kita mulai dari dalil yang menyatakan rumah Tuhan adalah Qalbu (hati) orang mukmin sebagaimana Allah berfirman dalam hadist Qudsi:
“Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”
Kalau ingin anda mencari Allah jangan cari di gunung, di laut, di gereja, di mesjid atau ditempat-tempat lain, sudah pasti anda tidak akan menemukan Allah disana. Carilah dalam hati orang mukmin, disanalah Rumah Allah yang sesungguhnya. Kalau dalam hati anda telah bersemayam Allah, telah berdialog dengan Allah dan telah Nyata Allah dalam kehidupan anda maka dimanapun anda berada maka disitu anda akan menemukan Dia karena sesunguhnya Allah itu ada dimana-mana.
Kemudian anda bertanya, saya kan punya hati kerena semua manusia diciptakan Allah memiliki hati kenapa saya tidak melihat Allah?
Kalau itu persoalannya saya akan tanyakan satu hal kepada anda. Dirumah anda kan punya TV, kalau TV tidak dihidupkan apakah bisa anda bisa menonton acara TV? Menyaksikan pertandingan sepakbola secara langsung, melihat wajah SBY? Apakah semua bisa anda lakukan kalau TV ada mati? Jawabnya TIDAK. Sama dengan hati anda, kalau anda tidak bisa melihat Allah berarti hati anda mati. Kalau menghidupkan TV memakai energi listrik lalu menghidupkan hati pakai apa? Menghidupkan hati harus menggunakan Nur Allah melalu zikir dengan memakai Thariqat (metode) yang tepat dan dibawah bimbingan seorang yang Ahli (Mursyid).
Pengertian Allah lebih dekat dari urat leher karena tempat bersemayam Allah itu berada didalam hati orang mukmin, sangat dalam dan sangat dekat. Lewat hatilah kita bisa berhubungan terus menerus dengan Dia yang berada di Arasy. Logikanya, suatu saat jika presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pemimpin tunggal Indonesia dan tidak satupun yang menyerupai pangkatnya di Negara kita ini berpidato di TV, maka akan ada jutaan SBY disaksikan oleh masyarakat Indonesia lewat TV bahkan bisa milyaran ditonton oleh masyarakat seluruh dunia, apakah SBY itu jutaan jumlah nya? Tentu tidak, Beliau itu satu tetapi berada dimana-mana, berada di dalam TV yang dihidupkan.
Dan pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita bisa melihat Allah?
Dalam sebuah hadist Nabi bersabda, “Matilah dirimu sebelum kamu mati”. Dan seorang sufi bernama Abu Mu’jam mengatakan: “Barangsiapa yang tidak merasa mati, niscaya dia tidak dapat melihat/bermusyahadah kepada Al-Haq”
Kunci seseorang bisa berjumpa dan melihat Allah adalah setelah merasakan mati. Tentu mati yang dimaksud disini bukan nafas berhenti kalau hal ini terjadi maka para nabi dan para wali tidak akan pernah berjumpa dengan Tuhan di dunia. Mati yang dimaksud disini adalah kematian rasa kemanusian kita setelah tenggelam dalam zikir, setelah mengalami 4 tahap mati yaitu : Mati Tabi’I (Zikir Qalbi), Mati Ma’nawi (Zikir Lathifatul Ruh), Mati Suri (Zikir Lathifatus Sirri) dan Mati Hissi (Zikir Lathifatul Kullu Jasad).
Semua pengalaman mati itu hanya bisa didapat lewat Thariqatullah (jalan kepada Allah) sudah ada sejak zaman nabi yang dikenal dengan Thariqatussiriah (Jalan Rahasia). Kenapa disebut Jalan Rahasia? Karena lewat jalan itulah kita bisa menuju kepada pemilik segala Rahasia, dengan jalan itulah kita bisa menemukan sesuatu yang Maha Nyata. Kalau anda belum menemukan jalan itu, segeralah mencari karena Allah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kita untuk bisa berjumpa dengan-Nya. Tuhan tidak pernah menghalangi seluruh manusia untuk berjumpa dengan-Nya. Namun terkadang manusia merasa terlalu pandai dengan akalnya, terlalu bangga dengan logika sendiri yang pada akhirnya akan menyesatkan diri sendiri tanpa disadari. Imam Al-Ghazali memisalkan orang yang mencari Tuhan lewat logika dan filsafat itu ibarat seorang yang mempunyai kaki dari kayu, rapuh dan mudah patah.
Tulisan saudara T. Muhammad Jafar, SHI Apa Yang Salah Dengan Tarekat hendaknya menjadi bahan renungan kita bersama, terutama untuk kaum yang sangat anti dengan Tarikat. Setelah kita membuang tarekat, kita bid’ahkan bahkan kita sesatkan, padahal ini merupakan metode yang digunakan oleh para Wali dan para Nabi dari sejak dahulu kala dan sudah terbukti kebenarannya. Kemudian setelah kita tuduh tarekat sebagai pembuat bid’ah dan dengan serta merta mencampakkan sebagai suatu aliran yang “sakit” maka yang terjadi kemudian adalah kita semua akan dibuat bingung dengan keberadaan Allah dan sudah pasti dengan segala argumen kaum yang tidak memakai Metode (thariqat) yang benar tidak akan bisa menjawab dimana keberadaan Allah, semua sepakat dengan suara bulat mengatakan bahwa Allah itu tidak bisa dijumpai, ya jelas saja karena mereka sudah membuang metodenya.
Kalau sampai saat ini anda masih memahami Allah itu Maha Gaib maka sekali lagi saya menganjurkan carilah ilmu yang bisa membawa anda menuju kepada Maha Nyata, bersungguh-sungguhlah anda dijalan itu dan pasti anda akan mencapai kemenangan (Al-Maidah-35). Saya tutup tulisan ini dengan mengutip sebuah iklan: Hari gini Allah masih gaib, apa kata dunia!
96 Comments
moonlight
waaa sufimuda rupanya penggemar iklan juga ya?
uda punya NPWP sufimuda? 😉
Sufi bali
Salam kenal dari bali sufimuda………..
Gmana Tuhan yang maha SUCI mau memperlihatkan diri kalo kita mrasa suci………….. Gimana Tuhan yang maha Hebat mau meperkenalkan diri kalo kita mrasa hebat……Btul ndak bang sufimuda………………
sufimuda
Salam Kenal kembali untuk Sufi Bali…
Trimakasih udah mampir dan kasih komentar
Ya, untuk mendekati yang Maha Suci maka rohani kita mesti disucikan terlebih dahulu, baru bisa berjumpa….
Harus hina daif papa dan merendahkan diri dengan serendah-rendahnya dihadapan ZAT YANG MAHA PERKASA, barulah Dia berkenan menghampiri kita…
Seperti dalam ilmu Fisika mendekati Positif harus dengan negatif agar arus nya nyambung begitu juga dalam ilmu METAFISIKA, mendekati YANG MAHA POSITIF harus dengan negatif pula..
dinda
Ka’bah=baitullah=rumah Allah, klo ngak salah dulunya itu rumahnya Nabi Ibrahim. bagaimana ini? Ilmu apa yg dpt menjelaskannya, mengapa rumah Nabi Ibrahim bisa jadi rumah Allah?
Setiap tulisan di SUFIMUDA menjalaskan pada kita pentingnya ilmu Thariqat, menurut saya ilmu inilah rahasia untuk sukses dunia akirat. 🙂
Tiada sanggahan lagi, dengan ilmu Thariqat dan dengan bimbingan Mursyid yg kamil mukamil lah yg dpt menyingkap hijab tersebut, terjawab semua rahasia dan menjadi teranglah segalanya.
Terima kasih Ab SUFIMUDA, tulisan Mu mencerahkan kami:-)
sitijenang
kalo istilah jawanya, “mati sakjeroning urip” atau mati dalam kehidupan. tujuannya supaya bisa mendapati “urip sakjeroning pati” atau sejatinya kehidupan dalam kematian. katanya begitu.
pengembarajiwa
Assalamu’alaikum……
Jika kita menyimak uraian di atas, sepertinya kita mulai naik kelas selanjutnya. Dan tentu untuk memahaminya, jiwa harus sudah siap dalam kesuciannya. Karena yang di tuju yaitu Allah Swt itu Maha Suci. Dengan kesucian Jiwa maka engkaupun akan bertemu dengan Sang Maha Suci. Tatkala memandang kepada Allah yang Maha Suci pastinya tidak ada lagi yang lain yang Nyata senyata-nyatanya selain Allah Swt yang Maha Nyata.
Jika Nyata Allah Swt bahkan Nyata senyata-nyatanya……., lalu dimanakah posisi kita? dimanakah posisi alam? dimanakah posisi hamba?dimanakah posisi makhluk dimanakah posisi semuanya ini?
Tentu jawabnya bagi yang sudah bertemu dengan Allah Swt yang Nyata, akan mengatakan segala sesuatu itu (Ma siwa Allah) tidak ada.
Tidak ada maknanya Kosong, Kosong maknanya Rahasia dan rahasia itu maknanya GAIB.
Berarti simpul akhir pengembaraan jiwa dalam perjalanan menuju kepada Allah Swt yang Maha Nyata itu, titik terangnya adalah :
ALLAH yang MAHA NYATA
dan KITA lah yang GAIB
Akan tetapi dipandang dari Segi Ilmu :
YANG AWAL YANG AKHIR YANG ZAHIR DAN YANG BATIN segala sesuatunya diliputi/meliputi.
Ma’af Sufi Muda, kalau saya boleh ikut menyisipkan sedikit pada kata-kata : “Tuhan ada dimana-mana”
Sebenarnya sih! tidak masalah dengan kata-kata tsb, akan tetapi Konotasinya bagi Orang awam seolah2 jika di katakan Tuhan ada dimana2 berarti Tuhan itu Banyak. Padahal, Tuhan yang Haq itukan Allahu Ahad (Esa)
Jadi menurut analisa Saya, kita ganti perkataan itu dengan kata yang lebih halus lagi dan tidak mengundang pertanyaan yaitu Allah itu bukan dimana2 tetapi Allah itu meliputi Ruang dan Waktu ibarat Roti yang dicelupkan pada Air, bukan Air ada dimana2 pada roti melainkan air itu telah meliputi roti zahir batin.
Karena itulah Allah mengatakan Allahu Ahad (Allah itu Esa)
Esa itu bukan Satu bukan juga banyak(dimana2) melainkan Esa itu maknanya adalah meliputi tiap tiap segala sesuatu. Ibarat Bola dimanapun kita tunjuk maka disitulah pusatnya/tengahnya, walau kita putar bola itu berulang kali, tetap saja dimana kita tunjuk maka disitulah pusatnya/tengahnya.
Mohon Ma’af! Semoga berkenan
Wassalam
Achmad Yusuf
Itulah Rahasia Allah Swt yang Maha Agung yang tidak kan dibukakan kecuali kepada mereka yang dekat dengan Nya.
sebagaimana contoh : Es Batu.
Yang diketahui adalah Es Batu pada hakikatnya adalah Air
Air dan Es Batu tidak bisa terpisahkan akan tetapi dari segi pandangan bisa saja berbeda tergantung dari segi mana memahaminya.
Yang tampak adalah Lautan, Gelombang dan Buihnya pada Hakikatnya adalah Air semata-mata.
begitupun yang diketahui si “pengembara jiwa” tapi pada Hakikatnya Achmad Yusuf itu Ia.
yang diketahui si “Sufi Muda” tapi pada Hakikatnya Ahmad R S itu Ia.
itulah yang membuktikan bahwasanya :
yang diketahui dan dikenal adalah Muhammad Rosulullah tapi pada Hakikatnya adalah ……………………………………….
“Ana Ahmadun bila Mim”, “Ana ‘Arobiyun bil ‘ain” “Famanro’ani Faqod’ ro ‘al Haq”
Ampuni Daku Ya Robb………..
Atas semua kelancangan ini………………..
Adinata
yup, dan baru bisa merasakan tiada keindahan selain memandang ‘wajahMu’. Ibarat kata, Dinerakapun gapapa, yang penting bisa memandang-Nya, bisa bersentuhan denganNya.
sufi arco
assalamu’alaikum…
saya merasa tertarik dan merasa terwakili dengan blog anda. saya ikut thariqat pimpinan YML . Ayahanda Kadirun Yahya sejak tahun 1994 dan alhamdulillah istiqomah sampai sekarang.
teruskan berdakwah dan bersyiar tentang thariqatullah….sesuatu yang dipinggirkan oleh umat Islam sendiri. padahal disinilah segala rahasia kehebatan umat Islam disalurkan demi kemashlahatan umat. Allahu akbar !!!!
sufimuda
Wa’alaikum salam…
Trimakasih bang Sufi Arco telah mampir disini dan terima kasih atas dukungannya…
Terimakasih untuk semua yang telah memberikan komentar.
sufimuda
Sebagai tambahan….
Makna Tuhan ada dimana-mana itu seperti ilustrasi yang saya gambarkan. Ketika SBY berpidato disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun TV dan ditangkap oleh masing2 TV dirumah, bukan berarti SBY itu banyak, akan tetapi tetap satu. Yang kita lihat dirumah itu adalah pancaran cahaya SBY yang berbentuk gelombang elektromagnetik.
Allah itu Esa, akan tetapi cahaya-Nya meliputi langit dan bumi. Tidak ada satupun yang bisa mendekati matahari kecuali cahayanya sendiri. Begitu juga dengan Allah, hanya bisa didekati lewat cahaya-Nya..
Siaran Radio itu meliputi seluruh wilayah yang dijangkau oleh gelombangnya. Dimanapun kita menghidupkan radio apabila masih dalam jangkauan gelombangnya dan memakai frekwensi yang sama dengan pusat radio misal 105 FM maka kita dapat mendengar apapun yang disiarkan oleh radio. Namun walaupun radio kita letakkan disamping penyiar (sangat dekat), kalau tidak dihidupkan atau gelombangnya salah maka siarannya tidak bisa didengar. Ada persamaan dengan keberadaan Allah, sangat dekat dengan urat leher, akan tetapi karena hati kita mati maka sudah pasti kita tidak bisa menangkap cahaya-Nya
Terima kasih atas komentar Abang Ahmad Yusuf dan Pengembaraan jiwa yag mencerahkan
Salam
esensi
hehe… anda mulai “radikal”, mas sufi. well, saya setuju sekali. dan metode anda akan saya coba laksanakan.
.
Allah lebih dekat dari urat leher.
Dan yang dekat dengan urat leher, adanya di sebelah samping belakang kepala, yang mana bila mendapat tekanan sedikit saja, maka berangkatlah ia ke alam baka. Berarti, kita dekat dengan kematian, maka dekat pula dengan-Nya.
.
Salam,
hamba'79
setau saya ALLAh itu MAHA NYATA kok…hehehe..
sorry yang masih gaib…
ntar yang lainnya gaib juga donk…
mengutip mas sufimuda…hare gene masih gaib…punya NPWP donk…
Acuy
Assalamu alaikum bang sufi muda. Aku pernah dengar bahwa yesus berkata :aku adalah kebenaran dan hidup. Apakah yesus juga seperti al halaj ? Apakah yesus juga sufi? Mohon d jelaskan! Mohon maaf sebelumnya.
awe
Salam saudaraku…
Salam Bang Sufimuda… mantapppppppppp banget Bang artikelnya… sangat menyentuh bagi yang benar2 tersentuh dan memahami… karena hal-hal yang di anggap tabu dan di jadikan doktrin selama ini, sekarang terkupas secara jelas dan blak-blakan… sangat menarik..
awe sangat berterimakasih atas artikel dan ilmu yang telah disebarkan semoga syiar Bang Sufimuda akan terus dapat berkembang… amin…. 😉
ALLAH MAHA NYATA.. /Dimanakah ALLAH sekarang ini… ???… sungguh luar biasa Bang Sufimuda… mantappppppppppppp banget….
salam semuanya…
IbnuHajar Al-Batawie
Di pagi Hari tadi
seperti biasa Ku membaca Al-Quran
yang menurutku akan hatam ..
hingga akhirnya aku mendadak menangis ketika
membaca surat al-ikhlas…
istri ku terkejut melihat diriku menangis amat mendalam.di kiranya ada sesuatu yang mengganggu ku.
padahal sesungguhnya yang kurasakan dalam hatiku adalah kerinduan yang sangat begitu besar. Aku menikmati tangisanku walau dapat menghentikanku membaca al-Qur’an…….
Begitu Rindu Berjumpa Dengan Mu…
Allah Yaa Rob..
yudistira
=============================================
Allah lebih dekat dari urat leher.
Dan yang dekat dengan urat leher, adanya di sebelah samping belakang kepala, yang mana bila mendapat tekanan sedikit saja, maka berangkatlah ia ke alam baka. Berarti, kita dekat dengan kematian, maka dekat pula dengan-Nya.
.=============================================
belum tentu bos……..
kok yakin kali kalo berangkat ke alam baka terus dekat dengan -NYA.
abu jahal dan abu lahab udah lama tuh ke alam baqa.
saya yakin 100% dia kagak dekat dengan-NYA.
mau spekulasi ya …………………………
heeeeeeeee
peace:-)
Robert Manurung
sedang blog walking, salam kenal aja…
nitip link ya :
http://ayomerdeka.wordpress.com/2008/09/16/foto-foto-tragedi-zakat-di-pasuruan/
achoey sang khilaf
Alloh itu ada
Aku yakin akan adanya
Dan ini adalah kenyataan
komala
mohon mencantumkan no ayat dan nama surahnya atau hadits dengan periwayat dan no atau judul kitabnya , agar mudah mencarinya . terima kasih
secret love
ehehehe ada kok, nyata lagi, yang blom jumpa aama TUHAN di dunia , siap2 aja, tzr di akhirat dijamin 100 % pasti bakal ga kenal yg mana TUHAN, na looo… kalo ga caya tanya aja ama bang SUFIMUDA
dari gaya bahasa n tekstur tulisannya, gw yakin Beliau udah berjumpa ama TUHAN
peace
\
love U my Lord
Gozali
Salam Kenal untuk semuanya……. juga Ananda Sufi Muda
Perkenankanlah Saya ikut memberikan sedikit masukan di sini, semoga Allah Swt memberkati dan Ridho pada kita semuanya.
Sungguh! Sangat Benar sekali jika dikatakan bahwa Allah sangatlah nyata bahkan nyata senyatanya. Akan tetapi untuk mengetahui seseorang itu sudah melihat/berjumpa dengan Allah tidak bisa hanya diungkapkan dengan teori ilmu, ucapan kata-kata maupun rasa.
Bukankah mengenal Tuhan yang sebenarnya itu harus bisa mentauhidkan-Nya?
Dan tauhid itupun tergantung dari pemahaman masing orang.
Jenjang Tauhid itu yaitu :
Tauhidul Af’al
Tauhidul Asma’
Tauhidus Shifat
Tuhiduz Zat
Nah…! sekarang posisi seseorang itu mengatakan kenal apalagi berjumpa dengan Tuhan itu, sudah ada pada jenjang yang mana?
Sebatas Af’al, Asma’, Sifat atau Zat.
Dan ketahuilah bahwa Tauhid Zat, Sifat, Asma, Af’al itu pun sesungguhnya masih awal perjalanan untuk bertemu dengan Tuhan yang sebenar2nya Tuhan.
Jadi jangan sampai terjebak oleh rasa. Karena rasa itu pun bisa menipu seseorang. Karena Rasa itu masih tergolong Sifat.
Bagi seseorang yang benar2 mengenal apalagi bertemu dengan Tuhan tentu ia mengerti dan tahu berdasarkan yang Haq tentang : “Sebelum ada apa2, segala sesuatu belum ada, bahkan yang dikatakan Nur Muhammad itu juga belum ada, Dan Tuhan pun belum ber Jabatan Tuhan, belum ada juga nama Allah. Sendiri Ia ada tanpa ada yang serta-Nya, hening, kosong dan belum ada hukum di dalamnya”.
Mereka yang sampai kepada maqom tsb telah sampai kepada Kesatuan Tauhid. bukan lagi Tauhid Zat, Sifat, Asma, Af’al karena itu masih dalam perjalanan. Tetapi ia telah naik lagi kepada kesatuan “TauhiduZatiyah, Tauhidul Makaniyah dan Tauhiduzzamaniyah”.
Di dalam Kesatuan Tauhid yang tiga itu Tuhan berkata: “Jika Aku Tuhan mana Hamba-Ku, Jika Aku Hamba mana Tuhan-Ku”. Diposisi ini tidak ada Tuhan dan tidak ada Hamba. Inilah sebenar2nya “Kamil Mukamil”
Sedangkan Tauhid yang empat yaitu Zat, Sifat, Asma, Af’al, di posisi ini ada Tuhan dan ada Hamba.
Jika Ananda2 semuanya tahu tentang Rahasia tsb, barulah Ananda2 benar2 mengenal dengan Tuhan yang Baqo’ tapi jika itu saja belum mengetahui berarti Ananda2 masih mengenal Tuhan yang Fana’, jika demikian berarti Ananda2 harus banyak belajar dan menuntut lagi kepada yang mengetahui akan Rahasia tsb.
Seseorang Mursyid yang “Kamil Mukamil” seperti yang sudah saya baca di blog Sufi Muda ini sesungguhnya bukan lah yang sakti dan berkaromah akan tetapi yang sudah sampai kepada Maqom Rahasia yang saya sebutkan di atas tadi yaitu sebelum ada apa2……….
Jika Ia belum mengetahuinya juga berarti belumlah Kamil Mukamil hanya baru di “Kamil”.
Mereka yang sudah sampai di “Kamil Mukamil” mereka itu bersifat “Al-Malamatiah” dan telah merdeka. Mereka telah melepaskan segala atribut, Pangkat, Gelar, Jabatan dll yang melekat di dirinya. Dan tidak takut apapun juga.
Baginya tidak ada Iblis, Syaiton, Jin, Malaikat, Manusia dll.
Bagaimana mungkin ia bisa ditipu dengan Iblis, Syaiton, dan Jin sedangkan itu semuanya tidak ada dalam pandangannya. Bagaimana ia akan dicabut nyawanya oleh malaikat dan ditanya di dalam kubur sedangkan itu semuanya tidak ada dalam pandangannya.
Baginya tidak ada bedanya langit dan bumi, siang dan malam, dunia dan akhirat, surga dan neraka, tuhan dan hamba, kafir dan agama.
Itulah Maqom Tuhan/Robbanii yang sebenar2nya.
Baginya tidak ada lagi Syari’at, Tarikat, Hakikat dan Ma’rifat karena Ia telah tenggelam kepada yang sebenar2nya Syaria’at, sebenar2nya Tarikat, sebenar2nya Hakikat dan sebenar2nya Ma’rifat.
Dia lah sesungguhnya yang dikatakan Tuhan bahwa akan Ku turunkan Utusanku setiap 100 tahun sekali untuk menegakkan agama yang Haq dan ia itu berlidah lacur artinya apa yang di sampaikan nya tajam dan tidak ada yang ditutupi untuk menyampaikan kebenaran yang sejati dan ia tidak takut walau mati sekalipun.
Dialah yang disebut sebenar2nya Waliyullah Gautsul A’dzom Qutuburrobbanii.
Jika ada yang mengatakan si “anu” itu qutub si “ini” qutub si “fulan” qutub tetapi tidak memiliki kretaria yang saya sebutkan tadi berarti ia bukan “qutub”.
Ma’afkan jika terlalu buka2an, sungguh kebenaran itu sangat pahit tetapi ibarat jamu ia akan menyehatkan bagi yang meyakininya.
Semoga Berkenan,………………..
sufimuda
Salam kenal kembali untuk Bapak Gozali
Penjelasannya memberikan pencerahan kepada saya, terimakasih banyak…
Demikianlah hakikat Tuhan itu,
Hamba yang sempurna (insan kamil) adalah perwujudan Tuhan yang Maha sempurna….
Banyak Guru yang mengaku Mursyid Kamil Mukamil, tetapi masih bingung ketika muridnya bertanya “yang mana Tuhan?”….
Sesungguhnya Mursyid yang Sempurna itu akan bisa menzahirkan Tuhan Yang Maha Sempurna….
Demikianlah Karunia Tuhan yang telah menciptakan rupa-Nya sebagaimana rupa hamba-Nya
Sekali terimakasih saya ucapkan kepada Bapak Gozali, kami yang muda2 ini banyak belajar dari penjelasan Bapak,
Wasalam
Sufi wanita
Assalamu alaikum wr, wb
Apa yang di katakan bapak benar adanya dan tidak di ragukan lagi , terkadang manusia tersilap oleh ilmu yang mereka pakai
Di beri limu tetapi dia tidak mempergunakanya dengan baik Di beri pengetahuan tetapi manusia sombong dengan pengetahuan itu .
Di beri petunjuk tetapi karena kesombangan manusia yang terlalu merasa tinggi ilmunya, mereka tidak menyadari bahwa mereka telah di beri petunjuk.
belum merasakan tetapi mereka seolah -olah sudah pernah mersakan , bahkan mereka sudah berani untuk mencoba merasakan.
Bukan begitu bapak Gozali ?
salam hormat dari wanita yang fakir .
salam hormat dari saya wanita yang fakir
komala
bp Gozali menuliskan :” Baginya tidak ada lagi Syari’at, Tarikat, Hakikat dan Ma’rifat karena Ia telah tenggelam kepada yang sebenar2nya Syaria’at, sebenar2nya Tarikat, sebenar2nya Hakikat dan sebenar2nya Ma’rifat”.
bila kita harus berguru kepada seseorang yang kriterianya bp sebutkan diatas ,siapa sajakah yang telah mencapai tahapan tersebut?
terima kasih
Ibnu Hajar Al-Batawie
” Baginya tidak ada lagi Syari’at, Tarikat, Hakikat dan Ma’rifat karena Ia telah tenggelam kepada yang sebenar2nya Syaria’at, sebenar2nya Tarikat, sebenar2nya Hakikat dan sebenar2nya Ma’rifat”
Hati-Hati Jadi Gila..
Gozali
Ass, Wr, Wb.
Semoga Allah membukakan Hijab/Tirai ke Ego an di diri kita lalu memancarkan Nur Hidayah-Nya kepada Kita semuanya, sehingga dapat memahami dan mengerti akan Hakikat sesuatu yang samar maupun yang nyata.
Sungguh! Hanya bagi-Nya kebenaran yang Haq itu, dan segala sesuatu itu akan binasa kecuali Wajah Allah yang Maha Agung.
=============================================== ” Baginya tidak ada lagi Syari’at, Tarikat, Hakikat dan Ma’rifat karena Ia telah tenggelam kepada yang sebenar2nya Syaria’at, sebenar2nya Tarikat, sebenar2nya Hakikat dan sebenar2nya Ma’rifat”
Hati-Hati Jadi Gila..
===============================================
Di dalam pernyata’an itu terdapat suatu makna tersembunyi yang tidak dapat diketahui oleh mereka yang masih terhijab/terdinding oleh diri mereka sendiri.
Wajar bagi mereka yang masih memandang dengan Matanya akan tertipu dengan pandangannya yang terbatas, mereka yang masih mencari kebenaran lewat akalnya akan keliru menafsirkannya, mereka yang masih merasakan dengan hatinya akan keliru untuk memaknainya, sehingga bagi mereka yang sebatas melihat dengan matanya, menafsirkan dengan akalnya dan memaknai dengan hatinya akan mengatakan orang yang duduk pada martabat itu dengan sebutan Gila, Sesat, Kafir dll. Karena Mata, Akal, dan Hati bersifat baharu yang tidak akan mungkin menjangkau Qodim nya Allah Ta’ala.
Bukankah Rosulullah Saw juga dikatakan Gila dan sesat oleh orang-orang kafir? Karena orang2 kafir hanya melihat dengan matanya, menafsirkan dengan akalnya dan memaknai dengan hatinya.
Tatkala lebur dirinya Fana di dalam Allah maka ia akan melihat dengan pandangan Allah, menafsirkan dengan Ilmu-Nya Allah dan memaknai dengan Nur-Nya Allah, lalu terurailah baginya Kenyataan Allah yang Maha Nyata itu dengan tidak ada yang ada selain Allah.
Setelah itu akan lenyap pulalah baginya Syaria’at, tarikat, hakikat dan ma’rifat karena yang ada baginya adalah Allah yang meliputi tiap2 sesuatu.
Jika seseorang bergantung kepada Syari’at, Tarikat, Hakikat dan Ma’rifat pasti akan timbul perselisihan dan pertentangan serta perdebatan di sana sini.
Tahukah Anda wahai “Ibnu Hajar Al-Batawie” dan “Ananda2 yang lain” kenapa banyak sekali perselisihan, perbedaan dan bahkan hujat menghujat di dalam tubuh Islam itu?
Karena mereka bergantung kepada Syari’at sehingga timbullah kefanatikkan lalu mempertahankan pendapatnya masing2 yang menimbulkan perselisihan dan perpecahan. Ada berapa banyak sudah aliran di dalam “Syari’at”? Tanyakan dirimu!
begitupun mereka yang bergantung kepada Tarikat sehingga timbullah kefanatikkan lalu mempertahankan apa yang sudah di dapat dan diyakininya, merasa lebih benar dari yang lain, begitu juga yang lain akan merasa lebih benar dari yang lainnya lagi, lalu saling mempertahankan keyakinan, itupun akan menimbulkan perbedaan, perselisihan dan perpecahan.
Ada berapa banyak sudah aliran di dalam Tarikat?
Tanyakan Dirimu!
Begitupun mereka2 yang bergantung kepada Hakikat yang sudah diketahuinya dan dipahaminya serta dirasakannya akan menumbuhkan kefanatikkan yang lebih dahsyat dari pada kefanatikkan Syari’at dan Tarikat. Merasa hanya dia lah yang sudah sampai kepada Allah, merasa dialah yang sudah melihat Allah, merasa dialah yang sudah bertemu denga Allah. Bukankah yang demikian itu juga akan menimbukan perselisihan dan perpecahan?
Ada berapa banyak sudah aliran di dalam Hakikat?
Tanyakan Dirimu!
Kemudian bagi sebagian orang di Syari’at ada yang mengklaim dirinya sudah mencapai Ma’rifat melalui dalil2 dan hafalan Ayat maupun Hadits, mereka yang di Tarikatpun mengklaim dirinya sudah mencapai ma’rifat melalui zikir dan Mursyid dan mereka yang di Hakikatpun mengklaim dirinya sudah mencapai Ma’rifat dengan jalan merasakan. Lalu masing2 dari mereka mempertahankan apa yang sudah diyakininya, apakah ini juga tidak menimbulkan perselisihan, perbedaan, bahkan hujat menghujat? Jika sudah demikian! Benarlah Allah dan Rosul-Nya selalu mengingatkan agar kita jangan bercerai berai.
Karena itulah Syari’at apapun apabila menimbulkan perselisihan dan pertengkaran yang menyebabkan perpecahan maka Syari’atnya itu “BATIL” dan “FANA”
Tarikat apapun apabila menimbulkan perselisihan dan pertengkaran yang menyebabkan perpecahan maka Tarikatnya itu “BATIL” dan “FANA”
Begitu juga dengan Hakikat dan Ma’rifat yang menimbulkan perselisihan dan pertengkaran yang menyebabkan perpecahan maka Hakikat dan Ma’rifatnya itu “BATIL” dan “FANA”
Lalu carilah Sebenar2nya Syari’at yang tidak ada perselisihan.
carilah sebenar2nya Tarikat yang tidak ada perselisihan.
Carilah sebenar2nya Hakikat dan Ma’rifat yang tidak ada prselisihan.
Itulah sebenar2nya jalan yang lurus yaitu jalan tidak ada perselisihan dan pertikaian.
Itulah sebenar2nya Syari’at, sebenar2nya Tarikat, sebenar2nya Hakikat dan sebenar2nya Ma’rifat.
Semoga Allah Swt Ridho terhadapa kita semuanya. Aaamiin.
Jika ada yang kurang puas atau belum memahami apa yang saya tulis ini saya mohon ma’af sebesar2nya karena Bagi Allah lah segala kebenaran itu.
Silahkan jika ada yang mau menanyakan lebih detail mengenai komentar saya beberapa hari yang lalu, kirim email ke : imamalgozali@yahoo.com
komala
klo hakikat kehidupan itu apa ya ?
pengembarajiwa
Hakikat kehidupan itu adalah Nur Muhammad sebagai cerminan dari pada Zatullah Yang “Laisa Kamislihi Syai’un”
Ibnu Hajar Al-Batawie
Terimakasih ku kepada Bapak Gozali
sebanyak butiran huruf yang anda tulis,
dan sebanyak makna yang saya fahami.
tidak ada hati yang bersinar hingga dia Bersih.
tidak ada hati yang Bersih hingga dia selalu menerima kebenaran.
tidak ada kebenaran kecuali milik Allah.
kita hanya hamba Allah yang selalu memohon petunjuk…
tulisan ini terdiri dari Tujuh kalimat,
semoga Allah memberi rahmat
komala
ada lagi yang tahu hakikat hidup itu apa ?
Iman Al Pahyubi
Assalamu Alaikum
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT atas nikmat dan anugrah iman dan islam..salam dan shalawat semoga selalau tercurah kepada Nabi Mahammad SAW beserta kelurga dan seluruh umatnya hingga akhir zaman..
topik mengenai Allah yg Maha Nyata adalah salah satu topik yg paling byk didebatkan oleh manusia hingga akhir zaman nanti..untuk itu sangat ingin berkomentar jika dipersilahkan..
Bagi saya yg awam ini dr ilmu tariqat, syariah, hakikat apalagi makrifatullah kemaha nyataan Allah sebenarnya tidak perlu lagi kita bahas atau pertentangkan jika memang kita mengaku muslim dan percaya pada Allah SWT..mengapa begitu karena salah satu dasar utama kenapa saya memilih islam sebagai agama saya karena bagi saya Allah Tuhan yg paling nya dibandingkan dgn semua “tuhan” agama lain..bukan karena islam punya ajaran yg bagus atau yg lainnya..jadi jika kita memang mengaku muslim maka hal ttg kemaha nyataan Allah sudah seharusnya tidak perlu kita pertanyakan lagi sebab jika kita masih bertanya mohon maaf jika sy mengatakan anda blmlah islam krn Allah tp hanya krn anda hanya sj kbtlan lahir di keluarga muslim sekali lagi maaf..bukankah Rasulullah SAW mengajarkan pertama kali ttg ttg Islam adalah Tauhid atau iman kepada Allah sblm mengajarkan yang lain..adapun untuk mengenal Allah memang ada banyak jalan dan Insya Allah saya yakin apapun jalan yg akan ditempuh jika memang kita ingin mengenal Allah maka kita akan mengenal-Nya..
untuk bpk Gozali saya sgt setuju pendapat anda yaitu “Lalu carilah Sebenar2nya Syari’at yang tidak ada perselisihan.
carilah sebenar2nya Tarikat yang tidak ada perselisihan.
Carilah sebenar2nya Hakikat dan Ma’rifat yang tidak ada prselisihan.
Itulah sebenar2nya jalan yang lurus yaitu jalan tidak ada perselisihan dan pertikaian.
Itulah sebenar2nya Syari’at, sebenar2nya Tarikat, sebenar2nya Hakikat dan sebenar2nya Ma’rifat.”
karena jalan yg masih ada perselisihan dan pertikaian Insya Allah tidak akan membuat kita mengenal Allah secara penuh..
Maaf jika didalam komentar ini ada hal yg salah atau menyinggung karena saya tidak lepas dari salah dan lupa..
Semoga Allah berkehendak kepada kita semua untuk dapat lbh mengenal-Nya dgn segala Kemahaan-Nya..Aamin
Wassalamu Alaikum
Iman Al Pahyubi
Assalamu Alaikum
Assalamu Alaikum
Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT atas nikmat dan anugrah iman dan islam..salam dan shalawat semoga selalau tercurah kepada Nabi Mahammad SAW beserta kelurga dan seluruh umatnya hingga akhir zaman..
Mohon maaf..mau meralat pd komentar sebelumnya yaitu :
Ralat pada kata “nya” dalam kalimat dibawah ini
“mengapa begitu karena salah satu dasar utama kenapa saya memilih islam sebagai agama saya karena bagi saya Allah Tuhan yg paling nya dibandingkan dgn semua “tuhan” agama lain..bukan karena islam punya ajaran yg bagus atau yg lainnya..”
Seharusnya seperti kalimat dibawah ini :
“mengapa begitu karena salah satu dasar utama kenapa saya memilih islam sebagai agama saya karena bagi saya Allah Tuhan yg paling nyata dibandingkan dgn semua “tuhan” agama lain..bukan karena islam punya ajaran yg bagus atau yg lainnya..”
sekali lagi mohon maaf..
Wassalamu Alaikum
Ibnu Hajar Al-Batawie
komala bertanya :
klo hakikat kehidupan itu apa ya ?
Al-Qur’an menjawab :
Q : Tidaklah Ku ciptakan Jin dan Manusia melainkan untuk Berhamba Kepada Ku.
Q : Akan Ku Utus Manusia Sebagai Khalifah di muka bumi ini.
Q : Sesungguhnya didalam diri Rosululloh tedapat tauladan yang baik.
Q : Tidakkah Aku biarkan Orang-orang yang beriman sehingga Aku Uji ke Imanan mereka.
Q : Harta dan Keluarga adalah Kesenangan di dunia tapi sesungguhnya Akherat jauh lebih baik dan kekal.
dan masih banyak lagi ….yang Allah lebih mengetahuinya
Dikarenakan saya Bukan Juru dakwah maka, Mohon maaf bila tidak memberikan penjelasan dan kurang lengkap…
komala
kalau tauhid Uluhiyah pada hakimiyah itu apa akh al batawi?
Suhatman
Assalamu Alaikum Wr Wb,
Alhamdulillah Robbil Alamiin, segala puji bagi Allah Yang Maha Kuasa Seru Sekalian Alam.
Dengan Nama ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG.
Salam kenal untuk para sahabat,
Topik mengenai ALLAH MAHA NYATA Menggugah hati kami untuk berbagi pengalaman dalam proses mencari Kebenaran yang sejati dalam hidup dan kehidupan ini.
Sungguh kami sangat kagum dengan tulisan atau pandangan dari sahabat kami Gozali yang menyatakan bahwa :
“Bukankah mengenal Tuhan yang sebenarnya itu harus bisa mentauhidkan-Nya?”
Karena menurut pandangan kami, kalimat itu merupakan kata kunci untuk membuka ruang rahasia dari Kebenaran yang Sejati.
Ruang rahasia dari kebenaran yang sejati ada didalam hatimu sendiri, yaitu Qalbu.
Perhatikanlah disekitar kita, betapa banyak mereka yang mengaku islam tetapi mereka tidak mengerti makna ajaran tauhid yang sebenar-benar nya.
Hanya mereka yang telah mengenal Jati dirinya yang akan merasakan hikmah dari Ajaran Tauhid’ , dan ingatlah tidak ada seorangpun dan petunjuk apapun yang dapat mengenalkan kamu dengan dirimu sendiri, kecuali dengan rasa cinta dan kasih sayang mu sendiri untuk lebih mengenal siapa dirimu yang sebenarnya, renungkanlah !.
Perhatikan dan baca dirimu !, maka kamu akan mengenal Siapa kamu yang sesungguhnya, dan “Siapa yang telah menciptakan Kamu”
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1429 H
Semoga kita termasuk golongan mereka yang bertakwa kepada ALLAH YANG MAHA KUASA SERU SEKALIAN ALAM.
Amiin.